Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warn: BL. Shounen

SasuNaru, ShikaNaru,SasuKarin

THE TIME 400 Years Ago

Update Kilat 5K+

Previous Chapter

Naruto terus tersenyum didalam mobilnya sambil mengendarai mobil membawanya menyusuri jalan pagi di konoha yang masih sepi, Senyum mentari Naruto semakin lebar ketika mengingat kejadian tadi malam.

Flashback On:

"Jadi dalam satu bulan kedepan kita akan bertemu...? Kita akan bertemu dari pagi hingga malam, Kita akan berkencan seharian Teme~" Usul Naruto dengan semangat.

"Apa itu kencan...?" Tanya Sasuke serius.

"Bagaimana bisa seorang pria tidak mengerti apa arti kencan...? Hmmb Pada saat kita bertemu satu bulan lagi aku akan menjelaskan kepadamu apa arti 'kencan' itu..."

Flashback Off

.

.

.

Chapter 10 – The Pain

Normal POV

Naruto tetap mengendarai mobilnya dengan senyum yang selalu bertengger manis,. Cuaca kota Konoha seolah turut mendukung suasana hati Naruto yang cerah.

Syuut~

Tiba- tiba kepala Naruto terasa sakit dan pandangannya mulai berputar, .

"Apa ini~" Gumam Naruto pelan

Pedang itu secara tidak sengaja telah berhasil membelah bandul kalung Sasuke menjadi dua.

Naruto memejamkan matanya sesaat untuk mereda sakit kepalanya, dan ketika sapphire itu terbuka—.

"AAAAA...!" Naruto berteriak terkejut karena ada mobil yang berhenti mendadak didepannya, karena dilanda panik dan juga sakit kepala yang semakin menjadi Naruto tidak sempat menginjak rem, Naruto langsung membanting stir kearah kanan,untuk menghindari tabrakan dengan mobil didepannya ban mobil berdecit sangat nyaring dijalan sepi Konoha.

BRAKKK...!

Mobil Audi A8 itu menghantam pembatas jalan dengan sangat keras, untungnya dibahu jalan tidak ada pejalan kaki yang melintas hingga tidak ada korban tapi tidak untuk sang pengendara. Naruto sudah tidak sadarkan diri dengan kepala yang menghantam stir mobil, dan darah yang mulai mengalir dari kepala pirang Naruto.

RS KONOHA

Naruto POV.

Aku membuka kelopak mataku pelan, dimana ini... Kuedarkan pandanganku diseluruh ruangan. Ohh aku berada di rumah sakit,,

Cklek

"Ohh ternyata anda sudah sadar,. Apa ada yang anda perlukan?" Ternyata seorang perawat yang masuk, Perawat itu langsung mengganti cairan infusku. "Aku tadi mengalami kecelakaan bukan?" Tanyaku kepada sang suster.

"Benar, anda tadi mengalami kecelakaan, untungnya Kami-sama masih melindungi anda Namikaze san, Anda hanya menderita luka ringan dikepala dan memar saja. Anda diharuskan istirahat di rumah sakit ini hingga 3 atau 4 hari kedepan" Nasihat atau emm.. perintah suster itu kepadaku.

"3 atau 4 hari suster..? tapi besok aku harus syuting" jawabku langsung.

"Itu tidak diperbolehkan Namikaze san, anda akan tetap beristirahat minimal sampai 3 hari kedepan, Doktar akan segera kesini untuk memeriksa kondisi anda" Sebelum suster itu pergi aku menanyakan dimana Hinata-nee berada dan teryata Hinata nee sedang mengurus biaya administrasi, itu yang suster katakan tadi.

Aku melirik kearah Nakas dan benda yang aku cari berada disana. Handphone. Segera setelah mengambil handphone aku menekan angka '2' pangilan cepat yang langsung terhubung dengan Neechan.

.

.

.

End Naruto Pov

Normal POV

"Moshi-Moshi"

"Moshi-Moshi neechan"

"Naru-Chan..? Kau sudah sadar...? bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Kenapa justru menelpon neechan? Kenapa tidak istirahat saja"

Sedangkan Naruto terkikik pelan mendengar rentetan pertanyaan dari Neechannya. "Satu-satu Neechan... Aku baik kok, hanya sedikit pusing saja. Neechan apakah masih lama..?"

"Nee-chan masih mengantri Naru, antriannya panjang sekali . Selesai ini Neechan akan langsung kekamarmu"

"Ha'i.. Ano.. Neechan bagaimana dengan mobilnya?"

"Tentu saja dibawa ketempat reparasi mobil Naru... bagian depan mobil sedikit lecet , mungkin 2 hari lagi bisa diambil. Dan kenapa kau tambah mengkhawatirkan mobilnya Naru..."

"Aahh~ Syukurlah mobil itu baik-baik saja... Jika sampai rusak aku tidak enak dengan yang memberinya Nee-chan"

"Yang memberinya..?"

"Oh iya neechan, kata suster tadi aku akan beristirahat dirumah sakit ini minimal tiga hari" Ucap Naruto tanpa menyadari pertanyaan Hinata tadi.

"Itu memang harus Naru.. Tubuhmu butuh istirahat juga"

"Tapi aku merasa tidak enak kepada Kakashi san nee-chan, Ini sudah kedua kalinya aku dirawat dirumah sakit dan menunda proses syuting"

"Kedua kalinya..? kau tenang saja Naru, Neechan akan meminta pengertian kepada Kakashi san mengenai ketidak hadiranmu nanti, kesehatanmu itu lebih penting. Neechan seperti mengalami serangan jantung tadi pagi ketika ditelepon oleh polisi yang memberitau bahwa kau mengalami kecelakaan Naru~"

"Gomenne Neechan, Naru tidak berhati hati ketika menyetir tadi, pandangan Naru tadi pagi tidak fokus, jalan raya tadi nampak ada dua neechan"

"Sudah tidak apa-apa... Nee-chan tutup dulu teleponnya, sebentar lagi Nee-chan keatas"

Tut tut tut

Dan sambunganpun terputus, Naruto melemparkan telepon genggamnya asal.

'Cklek'

Pintu terbuka dan langsung mengalihkan perhatian Naruto kepada siapapun orang yang membukanya. "Hallo Namikaze-san~" Kiba, manager Shikamaru masuk dengan membawa sebuket bunga dan buah-buahan segar ditangan. Diikuti dengan Shikamaru yang masuk dibelakang Kiba.

Shikamaru berjalan hingga berdiri tepat disamping ranjang Naruto, Naruto memandang Shikamaru bingung karena Shikamaru hanya berdiri diam sambil melihat Naruto penuh arti.

GREP

"Eh..."

"Jangan buat aku khawatir Naruto~ Jangan berbuat seperti itu lagi.. Jangan pernah"

"Tunggu sebentar... Shika... lepaskan pelukanmu! Kau bisa membuat orang-orang salah paham". Naruto menggeliat pelan mencoba melepaskan pelukannya, Naruto memandang Kiba dengan pandangan 'jangan salah faham dengan ini'

Shikamaru melepaskan pelukannya dan memandang Naruto bingung "Ada apa Naru...? Apakah ada yang sakit?" Tanya Shikamaru bingung tapi tidak menghilangkan nada lembut yang digunakannya.

"Jangan bertindak kurang ajar Shika ! Aku sudah punya kekasih ! Dan juga kau jangan membuat skandal lain".

Shikamaru dan Kiba sangat terkejut dengan penuturan Naruto. "Kekasih..? Siapa..?" Tanya Shikamaru tak percaya.

"Sasuke!" Ucap Naruto langsung "Kita kemarin makan siang bertiga, apa kau tidak ingat..?"

Shikamaru dan Kiba saling bertatapan bingung. "Sudah bertemu dengannya..? Aku...?"

"Ada apa dengannya ini...?" Tanya Naruto mulai kesal kepada Kiba, Sedangkan Kiba hanya menatap Shikamaru sambil membisikkan "Mungkin Namikaze-san mengalami efek pasca kecelakaan" Bisik Kiba kepada Shikamaru, sedangkan Shikamaru hanya mengangguk menyetujui.

"Apa yang kalian berdua lakukan" Tanya Naruto curiga melihat Kiba dan Shikamaru saling berbisik-bisik.

"Ehm... Ano... aku akan keluar mengambil air sebentar", Kiba langsung keluar ruangan sambil terburu-buru. Diluar sana Kiba langsung berlari menuju dokter yang menangani Naruto.

"Sebaiknya kau berbaring saja Naru... Mungkin kepalamu sedikit sakit bukan..?" Shikamaru mengucapkan hal itu sambil menuntun Naruto untuk berbaring

"Hanya sedikit pusing saja.. Dan Shika... Tolong jangan bersikap seperti ini" Naruto merasa risih dengan semua perhatian dari Shikamaru yang dirasa berlebihan

"Oh— Tadi siapa yang kau bilang,ehm.. Sasuke..? Apa pekerjaannya...?"

"Dia seorang Mahasiswa"

"Jadi... Kekasihmu itu bernama Sasuke. Dan dia seorang Mahasiswa" Ulang Shikamaru bermonolog, Shikamaru memperhatikan setiap ekspresi yang ada pada Naruto tapi tidak ada keanehan disana.

Cklek.

"Namikaze-san" Sapa seorang dokter yang baru masuk dengan sedikit terburu-buru, Rupanya alasan kepergian Kiba tadi adalah untuk memanggil dokter ini.

Belum sempat Naruto menjawab sapaan dokter, Shikamaru tiba-tiba langsung menyeret dokter itu keluar bersamanya.

Sedangkan Naruto hanya memandang keduanya bingung. Dia mengambil handphonenya dan mengutak-atiknya untuk membunuh kebosanan.

Tiba-tiba keningnya berkerut bingung "Ini Apa...?".

Terdapat puluhan panggilan yang dia lakukan kepada nomor yang sama. "Rusa-ku, Siapa dia..." Gumam Naruto, kemudian dia mencoba melakukan panggilan ke nomor tersebut.

Tuut

Tuut

Cklek

"Ada apa...?" Shikamaru masuk sambil bertanya kepada Naruto. Naruto yang tidak mengerti hanya menatap Shikamaru bingung.

Mengerti akan kebingungan Naruto, Shikamaru kemudian mengangkat teleponnya, di Smartphone milik Shikamaru terdapat panggilan masuk dari Naruto yang masih belum diterima.

"Apa kau tidak bermaksud meneleponku, Naru?" Tanya Shikamaru sambil tersenyum lembut kepada Naruto, Naruto memandang kearah layar smartphonenya. Dan ternyata disana terdapat foto Shikamaru yang memeluknya dari belakang mesra.

"..."

"Aku akan kembali sebentar lagi" Kemudian Shikamaru menutup pintu kamar Naruto setelah sebelumnya Shikamaru menyunggingkan sebuah senyuman kepada Naruto.

"Apa-apa an ini... Apa ada yang bermain dengan handphoneku,... Jika itu benar, aku akan memarahinya habis-habisan, aku akan menanyakan kepada Hinata-Nee nanti, bagaimana mungkin ada panggilan sesering ini kepada Shikamaru, lagipula bagaimana mungkin nama Shikamaru menja— " Naruto berhenti marah-marah sendirian ketika tiba-tiba sebuah ingatan asing muncul.

"Nara Shikamaru...? Kenapa tidak bagus sama sekali, aku akan menggantinya"

"Menggantinya...?"

"Hmmm Bagaimana dengan 'Kekasihku tercinta'..?"

"Hihihi itu norak sekali Shika..."

"Mmb, Bagaimana dengan 'My Love'..."

"Hihihi itu sama noraknya! Dasar Rusa.."

"Rusa...? Bagaimana jika dengan 'Rusa-ku'...? "

"Hmm.. Better..." Dan senyum manis terkembang di wajah tan Naruto.

.

.

.

"Bagaimana dengan keadaannya Dok..?" Tanya Shikamaru khawatir, Shikamaru sedang berada didepan kamar rawat Naruto bersama Kiba untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan kekasihnya.

"Tidak ada luka yang serius Nara-san"

"Tapi dokter lihat sendiri bukan...? Naruto sedikit... ehm..."

Sang Dokter tersenyum maklum melihat kekhawatiran Shikamaru. Siapa yang tidak mengerti pasangan paling populer dijepang saat ini, Pasangan paling romantis dan selalu berdua kemanapun mereka pergi "Mungkin hal itu hanya trauma pasca kecelakaan, biasanya hal ini hanya berlangsung sementara"

"Kasihan sekali Namikaze-san... Dia tidak mengingat hubungannya denganmu, kau juga harus kuat Shika" Ucap Kiba mencoba menenangkan.

Shikamaru menghela nafas berat sambil melihat pintu kamar rawat Naruto prihatin.

.

.

.

Didalam kamar Naruto sudah tidak bisa berbaring lagi, Naruto justru mondar-mandir didalam kamar. Masalah ini begitu mengganggunya. Pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala kuningnya.

'Kenapa dia dan Shikamaru bisa sedekat itu ?'

'Ingatan apa yang muncul tadi, apakah itu hanya ingatan dalam mimpi ?'

'Dimana Sasuke ?'

'Sebenarnya ada apa dengannya ?'

Shapphirenya memandang ke layar smartphone yang terus menampilkan beberapa pesan mesra dirinya dan Shikamaru.

Cklek

"Ada apa tadi menelepon hmm...?" Tanya Shikamaru lembut, dia berjalan mendekat kearah Naruto.

"..."

"Kenapa sudah berjalan-jalan...? Berbaringlah ! Kau belum sembuh benar" Perintah Shikamaru masih dengan pandangan lembutnya kearah Naruto.

"..."

"Kau kenapa Naru...?" Shikamaru mencoba menyentuh pipi Naruto lembut, tapi belum juga jari jemari Shikamaru menyentuh pipi tan Naruto, Tangannya sudah ditepis oleh Naruto cepat.

"Jangan sentuh aku Shika..!" Tanpa sadar Naruto sudah meninggikan suaranya, dia begitu bingung hingga tanpa sadar membentak Shikamaru.

"Kau kenapa Naru...?" Shikamaru mencoba menenangkan Naruto dengan membawanya kepelukannya, tapi sama seperti tadi. Naruto langsung menolaknya.

"Aku butuh berpikir sejenak" Suara Naruto bergetar, dan Shikamaru menyadari itu.

Naruto berjalan bahkan hampir berlari menuju pintu dan tepat saat itu pintu itu terbuka. Kiba dan sang Dokter berhadapan dengan Naruto.

Mengurungkan niatnya untuk keluar, Naruto langsung berlari menuju kamar mandi yang berada didalam kamar dan menguncinya dari kamar.

.

.

.

"Kau apakan Namikaze-san Shika?" Tuduh Kiba, dan lagi-lagi tatapan sendu Shikamaru membuat Kiba terdiam.

Didalam sana Naruto sedang duduk di toilet duduk, Jika dilhat lebih dekat kita akan tau bahwa tubuh mungil Naruto sedang bergetar pelan.

"Sebenarnya ada apa denganku...?" Lirih Naruto

TOK TOK TOK

"Namikaze-San..."

"Namikaze-san... Tolong buka pintunya...!"

"Naru... Buka pintunya, apa kau baik-baik saja?"

TOK TOK TOK.

"Aku... aku baik-baik saja. Beri aku waktu 5 menit saja... Please~" Naruto menjawab teriakan-teriakan dari luar.

"Aku hanya sedikit bingung". Lirih Naruto lagi, Shikamaru dapat mendengar nada kekalutan dari suara Naruto, dan itu membuatnya semakin cemas.

"Bagaimana mungkin aku sangat sering meneleponnya...?" Naruto masih tidak percaya, dia melihat riwayat panggilannya sekali lagi.

"Tapi—"

Cklek.

Hinata masuk ke kamar Naruto untuk memastikan bahwa adiknya itu sudah terlelap. Tapi yang ditemukannya malah Naruto sedang berbicara dengan seseorang ditelepon dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Naru... kau sudah bertemu dengan Shika-kun di lokasi syuting tadi"

Naruto menolehkan kepala kuningnya kearah Hinata yang bersandar di pintu kamar. "Nee-chan~ Dilokasi Syuting tadi kita hanya berbicara sebentar"

"Ya...Ya...Ya... Lanjutkan saja Naru~, Tapi ingat! Jangan tidur malam-malam, besok kau syuting pagi"

"Ha'i Neechan"

"Ugh... ingatan apa itu tadi... Apa aku yang melakukan itu semua..? " Naruto mengacak-acak rambut blonde nya frustasi.

Jari lentiknya kemudian mengetikkan namanya dan nama Shikamaru disebuah situs pencarian didalam Smartphonenya.

"Apa ini...?" Naruto menemukan banyak artikel yang membahas tentang hubungan mereka, bahkan tidak sedikit artikel yang juga menyertakan sebuah foto maupu video kencan mereka.

"Bagaimana mungkin~ Aku tidak pernah memiliki ingatan seperti itu, tapi... tapi kenapa aku mendapat kilasan ingatan seperti ini..." Naruto menundukkan kepalanya,dia begitu bingung. Naruto merasa dia seperti orang asing yang memasuki tempat baru,dan itu membuatnya sangat frustasi.

Tes

Tes

Tidak terasa air mata Naruto mulai berjatuhan membasahi pipinya.

"Sasuke... Hiks... Apa yang harus aku hiks... lakukan..."

"Naru... Ini Nee-chan..! Buka pintunya. Naru..."

"Naru... Jika kau tidak ingin bertemu dengan kami..., setidaknya biarkan Hinata masuk sayang~" Pinta Shikamaru lagi, mendengar isak tangis Naruto dari dalam, membuat dirinya merasa tidak berguna. Dia kekasihnya dan saat Naruto menangis seperti itu dia tidak dapat melakukan apapun.

5 menit berlalu ketika Shikamaru dan Kiba meninggalkan kamar rawat Naruto ketika terdengar pintu kamar mandi yang terbuka.

Buru-buru Hinata langsung masuk sebelum pintu itu dikunci lagi.

Mata lavender Hinata melebar karena terkejut melihat kondisi Naruto yang kacau, Naruto duduk meringkuk diatas toilet dengan bekas air mata yang masih membasahi pipinya, masih terdengar sesenggukan lirih dari Naruto

"Naruto~" Dengan perlahan Hinata berjongkok didepan Naruto. "Ada apa hmm...?" Tanya Hinata lembut.

Naruto mengangkat kepalany untuk menatap Hinata "Semuanya membingungkanku~ Ada apa denganku Nee-chan...Hiks"

"Apakah aku benar-benar berhubungan lagi dengan Shikamaru? Shikamaru benar-benar p..pacarku...?" Tanya suara parau Naruto.

"Tentu saja Naru... Semua orang di Jepang tau tentang hubungan kalian kenapa Naru menanyakan itu...Bahkan fotomu dan Shikamaru ketika berkencan sudah banyak beredar di Internet"

"Hiks... Benarkah...? B..bagaimana dengan Sasuke...?"

"Sasuke...?" Tanya Hinata bingung.

"Nee-Chan tidak ingat Sasuke...?" Dan tangis Naruto kembali pecah melihat jawaban Hinata.

"Nee-chan kemarin makan siang dan menghabiskan waktu seharian dengannya..Hiks... Dulu kita juga ke pulau Nara bertiga... Hiks Nee-chan pertama kali bertemu dengannya di perpustakaan kota" Dengan putus asa Naruto menjelaskan kenangan-kenangan tentang Sasuke kepada Hinata.

"Naru... Nee-chan tidak ingat itu semua. Naru yakin itu bukan mimpi Naru...?" Tanya Hinata hati-hati.

Naruto menggeleng putus asa. "Bahkan kemarin Nee-chan mengantarkan S..sasuke membeli mobil"

"Mobil..? mobil apa Naru...?"

"Audi R8 Nee-chaaan~"

"Mobil itu kau beli sendiri Naru... Nee-chan yang mengantarkanmu membeli mobil itu. Apa kau tidak ingat? Kau membintangi sebuah iklan TV dan uang yang kau dapat kau belikan mobil itu"

"Hiks... Nee-chaan"

THE TIME 400 YEARS AGO

1614

Sasuke menunggangi kudanya perlahan menuju ibukota. Mereka menuju Ibukota dengan melewati hutan untuk mempersingkat waktu. Dibelakangnya banyak pengawal yang berjalan sambil membawa senjata waspada. Sementara Juugo berkuda disampingnya sambil sesekali bercakap-cakap mengenai kejadian yang sudah dilupakan oleh Sasuke.

"Dulu Sasuke-Sama selalu menghilang secara tiba-tiba, membuat saya bingung mencari tuan"

Sasuke menoleh kearah samping. "Benarkah? Bagaimana aku menghilang...?"

"Saya tidak tau tuan"

"Tapi jika yang kau katakan benar Juugo, aku dapat menghilang dan menghindari serangan para pemberontak serta anak panah, serta berpindah di wilayah ke wilayah lain dengan cepat, pasti aku sudah menjadi raja saat ini"

"Jika tuan tidak percaya padaku, tuan bisa bertanya pada Karin, Tuan bisa mempercayai kata-katanya bukan. Oh iya apakah Sasuke sama sudah tau kegunaan jimat itu?"

"Jimat...?"

"Sasuke-Sama selalu memegang jimat yang diberikan oleh Karin, Bahkan Sasuke-sama pernah memberitahu bahwa jimat itu sangat luar biasa"

"Tuanku... Bawalah kalung ini"

"Kalung apa ini karin...?"

"Itu bukan hanya sekedar kalung tuanku,tapi itu juga berupa jimat yang saya dapatkan ketika berdoa dikuil, saya berdoa agar jimat itu bisa melindungi tuan dari segala marabahaya"

"Hn! Teimakasih karin..."

"Hng? Kalung itu, apa kau membawanya Juugo...?"

"Saya tidak menemukan kalung itu Sasuke-sama, sewaktu saya mengemasi barang-barang tuan kalung itu sudah tidak ada."

"Aneh sekali"

Tanpa rombongan itu sadari Kabuto sedang bersembunyi dibalik semak-semak.

SRET.

Kabuto mengeluarkan kalung yang dibawanya. Terdapat retakan besar di liontin itu jika dilihat lebih jeli lagi.

"Bagaimana cara kerja kalung ini"

.

.

.

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

2014

Shikamaru POV

"Moshi-Moshi"

"Moshi-Moshi Shikamaru-kun"

"Apa Naru sudah selesai melakukan terapi Hinata...?"

"Belum, Naru-chan masih belum pulang. Mungkin ini adalah terapinya yang terakhir" Aku menghela nafasmendengar ucapan Hinata. "Apa dia sudah mau menerimaku...?"

"Nng...?" dari nada ragu-ragu Hinata aku sudah tau pasti apa jawabannya.

"Kau harus bersabar Shikamaru-kun, mungkin saat ini Naru-chan sedang bingung, dia membutuhkan sedikit waktu lagi"

"Ya... Terimakasih atas informasinya Hinata, jika ada apa-apa dengan Naruto tolong segera hubungi aku."

"Ha'i"

Tuut

Tuut

Tuut

Saat ini sedang Break Syuting, Biasanya kami saat ini sedang makan siang berdua tapi... Dia bahkan tidak mau bertemu denganku. Oleh karena itu aku lebih memilih berdiri di balkon seperti ini,Sedikit udara segar mungkin akan membuat pikiranku kembali fokus.

"Ini Kopimu" Aku menerima segelas kopi dari Kiba dan meminumnya pelan.

"Bagaimana perkembangan Namikaze-san...?"

"Hari ini Naru menjalani terapi terakhirnya, aku ingin sekali menemaninya tapi dia selalu menolak. Dia bahkan menghindari ku!"

"Jangan pesimis Shika. Semoga saja terapi Namikaze-san dapat mengembalikan ingatannya"

Aku mengacak rambutku putus asa

"Kiba... Aku sungguh tidak habis pkir, kenapa aku harus berkompetisi dengan seseorang dalam mimpinya.. Bahkan sosok itu tidaklah nyata. Hanya gara-gara sosok dalam mimpinya dia memintaku menunggu. Apa itu masuk akal ha.?"

"Aku sangat mengenalmu Shika, selama ini aku tau bahwa hubunganmu dengan orang lain tidaklah seserius hubunganmu dengan Namikaze-san. Kau jatuh cinta dengannya hmm? Bersabarlah untuk itu Shika, itu hanya efek samping dari kecelakaan waktu itu"

Hmm Kiba selalu benar, Setelah membicarakan ini dengannya aku jadi sedikit tenang, tapi aku masih marah dengan sosok tak nyata itu.

"Setidaknya sosok itu haruslah nyata Kiba, bukan sosok dalam mimpi. Jadi aku bisa memberinya pelajaran karena mempengaruhi pikiran Naru-ku. Sa-Su-Ke SIALAN..!"

Shikamaru POV END

.

.

.

Normal Pov

"Bagaimana Namikaze-san..? Apakah kau sudah dapat membedakan mimpi dan kenyataan" Tanya seorang psikolog kepada Naruto yang duduk nyaman disofa yang berada didepannya.

"Mm... Mungkin. Tapi tidak semuanya."

"Kebingungan yang terjadi ini dimulai dari konferensi pers drama terbarumu bukan Namikaze-san?"

Naruto mengangguk tidak pasti. "Dalam mimpiku waktu itu aku tidak menghadiri karena aku pingsan dan dalam kenyataannya aku menghadirinya"

Sang psikolog tersenyum mendengar itu, Naruto mulai dapat menerima kenyataan-kenyataan yang ada bukan meyakini mimpi-mimpinya seperti dalam sesi pertama terapi yang mereka lakukan.

"Saat itu Shikamaru banyak memberikan perhatiannya kepadaku dalam konferensi pers tersebut hingga pada saat syuting drama baru beberapa hari dimulai—"

"Shika... Apa-apa an ini, kenapa kau menarikku seperti ini, Ini masih waktu syuting...!" Naruto berteriak sepanjang jalan karena Shikamaru terus saja menariknya menuju belakang istana Uchiha yang digunakan sebagai lokasi Syuting. Bahkan kostum Kaisar dan permaisuri Uchiha masih lengkap mereka gunakan.

Naruto bahkan sempat tersandung karena kimono berlapis-lapis yang dia kenakan.

Bruk.

"Maafkan aku Naruto"

"Eh..?"

Shikamaru sudah berhenti menarik tangan Naruto, dan sekarang Shikamaru sedang berlutut dihadapan Naruto.

"Tolong maafkan aku Naruto, waktu itu aku begitu bodoh memperlakukanmu seperti itu, aku sangat menyesal"

"Apa maksudmu..? Kau dulu berselingkuh dariku Shika dan kau bahkan menyebarkan gosip bahwa ak—"

"Sssh... Maafkan aku Naruto,Aku benar-benar menyesal. Kau boleh menghukumku jika perlu "

"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Shika...?"

"Karena aku mencintaimu Naruto, maukah kau menerima cintaku lagi Namikaze Naruto? Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama" Dengan posisi yang masih sama Shikamaru meminta Naruto untuk kembali padanya. Mata kuacinya memandang Naruto penuh harap.

"Karena dia sangat bersi keras maka aku menerimanya saat itu. Ditengah film Hoko Heika Mikoto, aku juga menerima tawaran iklan, dari uang yang aku dapat diklan tersebut aku membeli sebuah mobil ditemani oleh Hinata-nee, dan mobil itu bukanlah pemberian S..Sasuke. Selama kami berpacaran Shikamaru selalu memperlakuanku dengan sangat baik, bahkan 10 kali lebih baik dari hubungan kami dahulu."

"Shikamaru akan memberikan aku bunga atau mengajakku bekencan setiap satu minggu sekali, itu kenyataannya bukan..?"

"Ha'i, dan itu membuat semua orang iri padamu Namikaze-san"

"Haah...! Ingatan tentang 'kenyataan' ini mulai bermunculan, tapi dokter..."

"Ha'i ?"

"Kenapa.. Kenapa mimpi itu begitu jelas...? bahkan setiap kata 'orang itu' aku dapat mengingatnya. Dan perasaanku kepadanya... Aku... Aku dapat selalu mengingatnya. Selalu. Apakah mimpi dapat begitu jelas seperti itu?"

"Anda merupakan artis yang sangat berbakat Namikaze-san, anda sangat mendalami peran anda dalam drama yang anda bintangi hingga, anda merasa kebingungan untuk membedakan keduanya. Hal ini sangat lumrah dialami oleh para aktor, jadi jangan khawatir"

"Jadi menurut dokter aku adalah artis yang hebat karena aku dapat masuk kedalam karakter Hoko Heika Mikoto...?" Untuk pertama kalinya, senyum itu telah kembali.

"Tentu saja. Bahkan anakku termasuk penggemarmu. Sewaktu berita Namikaze-san terkena kecelakaan dia bahkan merengek ingin menjenguk anda.."

"Benarkah...?" Tanya Naruto antusis. "Sampaikan salamku kepadanya kalau begitu, Jika ada waktu luang aku ingin menemuinya"

"Ha'i. Anda sangat baik Namikaze san... Hmm Karena anda sudah dapat membedakan sebuah mimpi dan kenyataan maka ini merupakan sesi terakhir kita."

"Ha'i Arigato atas semuanya dokter"

"Ha'i. Jangan memaksakan diri dilokasi syuting, sesekali anda harus berkumpul dengan teman atau keluarga anda agar jarak antara keduanya semakin nyata."

Naruto mengangguk "Arigato-nee " ketika ingin berbalik dan membuka pintu ruang terapi mereka Naruto tiba-tiba teringat sesuatu.

"Nee Dokter, Dalam mimpiku, 'orang itu' mengajakku untuk berkencan tepat satu bulan setelah dia mengatakannya dan itu adalah hari ini,Mmm apakah... apakah jika aku menemuinya ditaman hari ini aku harus memulai terapi lagi..?"

Sang dokter langsung tersenyum maklum kepada Naruto. "Pergi dan lihatlah Namikaze-san"

"Benarkah...? Aku boleh pergi..?" Tanya Naruto antusias

Sang dokter mengangguk "Itu akan membantu untuk menyadari secara pribadi apakah hal tersebut merupakan mimpi maupin kenyataan"

"Mmm jadi menurut dokter 'dia' tidak akan datang...?" Tanya Naruto kecewa.

"Bukankah hal itu hanyalah mimpi?"

"Ah... Betul. Meskipun kau bilang aku boleh pergi tapi aku tidak akan pergi, Jadwalku hari ini sangat sibuk jadi aku tidak akan menemuinya" Ada Nada ragu-ragu dalam ucapan Naruto ini.

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

1614

"Tuanku... Kita akan menginap di daerah sini, besok pagi baru kita akan pergi ke Istana"

"Hn! Lagipula para pengawal sudah kelelahan"

"Juugo, kau tau dimana pedangku...?" tanya Sasuke

"Oh... Pedang anda berada didalam peti yang dibawa para pengawal Sasuke-sama. Pedang itu sempat menghilang tapi untunglah saat ini sudah dapat ditemukan."

"Menghilang...?"

"Iya Tuan, tapi anda tidak usah khawatir. Pedang itu sudah aman sekarang. Apa saya perlu membawanya kesini...?"

"Hn! Nanti saja Juugo, aku akan beristirahat terlebih dahulu saat ini"

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

2014

Naruto sedang mengendarai mobilnya, dia dalam perjalanan pulang saat ini. Ingatan-ingatan tentang Sasuke saling bermunculan. Silih berganti. "Apakah mungkin orang dalam mimpi memiliki intelektual yang lebih dari pada aku...?"

"Aku bahkan tidak mengerti beberapa kalimat yang dikatakannya" Sepanjang perjalanan Naruto bermonolog sendiri tapi hal itu tidak mengurangi fokusnya dalam berkendara, Naruto tidak ingin jika dia harus mengalami insiden yang sama lagi.

"Kita akan bertemu satu bulan lagi dari sekarang"

"Butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikan semuanya menjadi seperti semula. Setelah semuanya selesai, saat itu juga aku akan langsung pergi menemuimu"

"Tapi kau tidak punya alasan untuk kembali kesini Teme~"

"Cintaku ada disini... Apakah itu bukan merupakan suatu alasan?"

"Aku sudah mengatakan bahwa aku akan mencoba menjadi kekasih yang baik bukan"

"Tentu saja, jika kau juga menyutujuinya, Hingga aku tidak salah paham menangkap semua sikapmu sekaligus 'ucapan salam perpisahanmu' Naruto"

Naruto menggigit bibir bawahnya cemas, dia memandang lampu yang masih menunjukkan warna merah itu.

"Bagaimana jika dia benar-benar datang...? Apa yang akan dia lakukan..."

Ckiiiit

Terdengar bunyi decitan ban karena Naruto memutarkan mobilnya. Tekatnya sudah bulat saat ini. NARUTO AKAN MENEMUINYA.

Mobil Audi itu dilajukan dengan kecepatan diatas rata-rata hingga tidak lama kemudian, mobil mewah tersebut sudah terparkir di dekat taman kota dimana Sasuke dan dia pernah berjanji untuk bertemu disana.

Naruto keluar dari mobil, Untuk menghindari kekacauan maka Naruto hanya memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan identitasnya.

Banyak anak kecil yang bermain ditaman itu, karena cuaca sangat mendukung untuk kegiatan diluar rumah. Naruto berdiri ditepi taman didekat tempat telepon umum berada. Dia menunggu dengan sabar disana. Sesekali dia akan menggigit bibir bawahnya karena cemas.

'Apa dia akan datang..?'.

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

1614

Sasuke berdiri didekat jendela penginapan. Memandangi tetes air hujan yang mengguyur kota dengan derasnya. Entah apa yang dipikirkan Sasuke saat ini, Bahkan hawa dingin mulai masuk ke dalam kamar inap Sasuke.

Tok Tok Tok.

"Tuan ini perlengkapan tuan, mungkin sedikit basah karena terkena air hujan, apakah saya perlu untuk mengeringkanya terlebih dahulu"

"Tidak perlu." Sasuke memandangi orang yang baru memasuki kamarnya intens, Seorang gadis yang hanya mengenakan pakaian yang sangat sederhana dengan tetes-tetes air hujan membasahi rambutnya.

"Apa ini kau Karin...? Kenapa dengan penampilanmu..? Bukankah kau seorang Geisha yang aku kenal... Aku bahkan hampir tidk mengenalimu"

Karin tersenyum malu kepada Sasuke. "Hamba sudah berhenti bekerja di tempat itu tuan, Hamba ingin menjadi wanita biasa saja, lagipula pakaian budak seperti ini membuatku merasa nyaman"

Sasuke memandang Karin lembut. "Pilih salah satu, aku akan mengambulkan satu permitaanmu Karin, kau telah bayak membantuku selama in"

"Kau dulu adalah seorang Geisha yang sangat terkenal di Konoha, kau bisa ikut denganku tapi bukan sebagai budak tentunya"

"A..apa makud tuan...?"

"Kau bisa menjadi istriku Karin"

Karin membatu ditempatnya, dia tidak menyangka bahwa seorang pangeran seperti Sasuke melamarnya seperti ini.

"I..itu tidak mungkin tuan~" Balas Karin sendu.

"Apakah karea batasan-batasan kerajaan? Kau jangan khawatir Karin, aku akan melindungimu selama sisa hidupku. Aku ingin membalas budi baikmu selama ini. Dan aku rasa menikahimu bukanlah hal yang buruk"

"Apa maksudmu tuanku, Aku hanya seorang mantan Geisha. Didunia ini seorang mantan Geisha tidak mungkin dapat bersanding dengan seorang pangeran seperti anda. Jika memang ada dunia seperti itu tolong bawa aku bersama ada tuan. Tapi saya tau, dunia itu tidaklah ada."

"Saya tau anda sudah menganggap saya selayaknya keluarga sendiri, tapi untuk seorang i..istri.? Saya rasa saya tidak pantas"

"Apakah aku melukai harga dirimu Karin?"

"Tidak.. Tidak Tuan, jangan pernah berpikir seperti itu" Balas Karin cepat.

"Kau sudah dengar bukan, Aku kehilangan ingatanku, Jadi aku tidak ingat dimana tempat yang aku katakan baik itu, Jika saja aku tau aku pasti akan membawamu kedunia itu"

"Kalau begitu, anda belum bertemu dengan orang itu...?"

"Orang itu...?" Tanya Sasuke tidak mengerti.

"Dia adalah alasan kepergian anda waktu itu, Anda memberitau saya bahwa anda ingin membalas budi baik Orang itu"

Sasuke tampak memikirkan siapa 'orang itu' yang dimaksud Karin, Sasuke merasa dia adalah seseorang yang penting tapi... Kenapa dia tidak dapat mengingatnya.

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

2014

Sudah hampir 1 jam Naruto menunggu, dia melirik kearah jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Tinggal 5 menit lagi dan ini sudah tepat satu jam Naruto menunggu.

"Maaf"

Deg

Deg

Dengan perlahan Naruto berbalik, Tapi setelah berbalik senyum Naruto menghilang, Dia bukanlah orang yang sedang Naruto tunggu.

"Ano... apakah anda adalah artis Namikaze Naruto?"

"Ah.. Bukan, memang banyak yang bilang kami mirip, tapi saya bukanlah Namikaze Naruto"

"Maaf kalau begitu saya salah orang, tapi anda memang benar-benar mirip"

Naruto menghembuskan nafas lega ketika orang yang mengenalinya tadi sudah berjalan pergi.

Tiba-tiba terdengar suara guntur, langit yang semula cerah juga sudah berubah menjadi gumpalan awan hitam. Dan benar saja tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya.

Orang-orang yang berada ditaman itu berlarian untuk mencari tempat untuk berteduh, Tak ingin tubuhnya lebih basah daripada ini Naruto langsung berlari masuk kedalam tempat telepon umum yang berada disampingnya.

Tubuhnya sedikit menggigil karena udara dingin yang masuk. Kemeja tipis yang dia gunakan juga tidak banyak membantu. Naruto memeluk tangannya sendiri untuk mengurangi rasa dingin itu.

"Cepatlah datang, Sasuke~"

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

1614

Setelah Karin pergi Sasuke masih tetap memandangi hujan dari jendela kamarnya. Pikirannya berkelana, mencoba mengingat-ingat siapa 'orang' yang disebut karin. Hatinya merasa gelisah karena tidak dapat mengingatnya.

Sreet.

"Tuan memanggilku?"

"Juugo perintahkan semua pengawal untuk mencari kalung jimatku yang hilang, Aku merasa benda itu sangat penting dan juga dapat membantuku untuk mengingat ingatanku yang hilang"

"Baik Tuan..!"

Sebelum Juugo berbalik pergi Sasuke sudah memanggilnya kembali "Juugo, apakah kau mengenal seseorang yang sangat penting untukku..."

"Seseorang yang sangat penting? Apakah tuan memiliki kekasih...?" Tanya juugo tidak percaya.

"Aku tidak tau Juugo, aku tidak mengingatnya, tapi aku merasa orang itu sangatlah penting"

"Apakah ini yang membuat Karin menangis...? Tuan memberitau Karin bahwa tuan sudah mempunyai orang yang penting dihati tuan"

"Karin menangis...?"

"Benar tuan, Tapi dia tidak mengakuinya, dia hanya bilang bahwa itu adalah tetesan hujan. Sasuke-sama anda jangan mempermainkan hati seseorang" Nasehat Juugo.

"Aku tidak pernah memainkan hati seseorang Juugo,aku bukanlah seorang playboy"

"PlayBoy...? Kata apa itu Tuanku? Aku tidak dapat memahaminya"

Sasuke sendiri juga terkejut dia dapat mengeluarkan kalimat aneh yang dia sensiri juga tidak mengerti.

"Apa aku mengatakan kalimat itu? Tapi aku tidak mengetahui apa arti kalimat 'Playboy' tersebut"

"Itu sangat aneh tuan, anda mengatakan sesuatu yan tidak berada didalam kosakata jepang"

"Hn! Mungkin karena aku kelelahan, lupakan perkataanku tadi Juugo. Cari kesemua tempat untuk menemukan jimat itu" Perintah Sasuke lagi.

"Baik Tuan, Apa yang akan anda lakukan setelah ini"

"Aku akan menemui HOKO HEIKA MIKOTO setelah semuanya selesai"

"Hoko Heika Mikoto...? Kenapa anda memanggil ibu anda sendiri dengan panggilan rakyat biasa kepada ratunya tuan...?"

"Apakah aku baru saja berkata demikian...?" Tanya Sasuke bingung.

"Mungkin anda sebaiknya beristirahat saja"

"Benar... Mungkin aku sudah salah minum obat"

"Salah minum obat? Apakah tabib itu memberi anda obat yang salah?" Tanya Juugo panik.

"Hn? Bukankah 'salah minum obat' merupakan perumpamaan orang yang sudah gila?" Melihat kebingungan dimata Juugo, Sasuke menyadari bahwa 'salah minum obat' merupakan kata yang juga asing ditelinga Juugo.

"Sudahlah lupakan! Kau pergilah mencari Jimat itu! Sekarang!"

'Sepertinya aku melupakan sesuatu yang benar-benar penting'

Mrs Tara Fujitatsu

THE TIME 400 Years Ago

2014

Masih berada didalam tempat Telepon Umum Naruto menunggu. Baik itu menunggu kemunculan seseorang ataupun menunggu hujan untuk segera reda.

Kepala kuningnya disandakan di dinding kaca telepon umum. Tangannya semakin dieratkan karena udara dingin yang semakin menusuk, Ingin Naruto kembali menuju mobilnya tapi... Bagaimana jika dia datang dan tidak mengetahui keberadaannya, maka dari itu Naruto tetap menunggu dengan sabar ditempat itu.

Dikejauhan Naruto dapat melihat seseorang laki-laki tegap berjalan kearahnya,menembus hujan. Naruto mencoba untuk menajamkan penglihatannya tapi wajah laki-laki terssebut tertutup payung yang dikenakannya. Senyum manis Naruto sudah terkembang walaupun warna bibir itu tidak lagi semerah biasanya.

Semakin dekat...

Hingga laki-laki tersebut sudah berada dihadapan Naruto. Payung itu diangkat.

Dan senyum Naruto menghilang saat itu juga.

"Kenapa kau hujan-hujanan seperti ini Naru...?"

"Kenapa kau bisa tau... Aku berada disini Shika...?" Tanya Naruto.

"Aku menelepon doktermu, dan dia bilang kau pergi menemui laki-laki dalam mimpimu itu!, Lihat bagaimana kau sekarang! Dia tidak datang bukan"

"S..shika..." Naruto sudah berkaca-kaca karnanya, bibirnya semakin membiru karena kedinginan, tubuh mungil itu bahkan sudah menggigil hebat.

Shikamaru mengehela nafas. "Ayo kita pulang Naru~" Ajak Shikamaru dengan nada yang lebih lembut daripada sebelumnya, Shikamaru mengulurkan sebelah tangannya untuk diraih Naruto.

Belum juga Naruto meraih tangan itu, dia sudah ambruk kearah Shikamaru.

Dengan refleks yang bagus, Shikamaru langsung menangkap tubuh pingsan Naruto, dilupakannya payung yang sedari tadi dibawanya.

Dengan cekatan Shikamaru menggendong Naruto dikedua lengannya. "Dasar bodoh" gumam Shikamaru sebelum membawa tubuh Naruto berlari menembus hujan. Sementara itu 400 tahun yang lalu, Seorang pangeran sedang tidur dengan raut yang tidak tenang. Didalam tidurnya sang pangeran itu menggumamkan sebuah nama...

"Naru~"

To Be Continue

Tara Note : Untuk yang menunggu 'Just Friend Maybe' akan diupdate paling lambat 3 hari lagi

Peluk dan cium Tara untuk orang – orang yang berbaik hati mau meluangkan waktu untuk memberi sebuah jejak ini

ARIGATO^^

(Maaf kaau salah dalam penulisan nama atau yang lupa tidak tercantum^^)

Ryuusuke583, Kirei-Neko, IfUchiha, Arum Junnie, choikim 1310, alta0shapphire, Hyull, Dark , Vianycka Hime, istiartika, Namikaze Otorie, uzumakinamikazehaki, Call Me Mink, zadita uchiha, gyumin4ever, Snlop, 85, saphire always for onyx, Jasmine DaisynoYuki, Dewi15, mifta cinya, sini r, hanazawa kay, Ara Uchiha, aprilyarahmadani, versetta, Aiko michisige, UcihayanA, Tyateukie13, atika chan, sukmawindia, Mimo Rain, InmaGination, Reiasia95, oka, IchaByun,NaruChan, Anya18