Tara Note :Hohoho... Chapter kemarin reader banyak yang bingung ya...? Gini ya minna~ Akan Tara jelasin dikit #Bukan Spoiler lho yaa
Jika efek retaknya jimat itu di tahun 1614 adalah 'Sasuke yang hilang ingatan sementara semua orang disana tidak' Tapi dampak yang terjadi di tahun 2014 adalah 'Semua orang tidak ingat dan hanya Naruto yang ingat'.
Di tahun 2014, ingatan semua orang berganti dengan kejadian 'baru' kecuali ingatan Naruto.
Chapter 11.
Mrs Tara Fujitatsu
The Time 400 Years Ago
1614.
Sasuke berjalan dengan gagahnya menuju ruang pertemuan, Sasuke sudah memakai baju kebesaran seorang pangeran Uchiha untuk menemui kaisar uchiha yang juga merupakan tou-sama nya.
"Yang mulia...! Pangeran Uchiha Sasuke sudah datang"
"Masuk" terdengar suara berat dari dalam sana.
Greeek.
Pintu geser dibuka, Onyx Sasuke langsung mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan besar itu, rasanya sudah lama dia tidak mengikuti pertemuan kerajaan seperti ini.
Sasuke dapat melihat kakaknya, Uchiha Itachi yang duduk disamping ayahnya sedang tersenyum simpul padanya, Sasuke kemudian masuk dan berjalan untuk menghadap sang kaisar.
"Duduklah ditempatmu pangeran, Kau sudah berjuang sejauh ini..." Hanya itu ucapan Tou-sama nya setelah melakukan kesalahan memberikan hukuman padanya. Sasuke hanya mengangguk sesaat dan berjalan menuju kursi disamping anikinya, Dia memang tidak berharap banyak untuk mendapat permintaan maaf dari sang Tousan.
Tapi dari pandangan Kaisar Uchiha itu, Sasuke tau bahwa Tousan-nya itu menyesal karena perbuatannya.
Sasuke tau... Karena dia juga seorang Uchiha...
"Kenapa wajahmu pucat seperti itu pangeran...?" Tanya Fugaku Uchiha.
"Pangeran mengalami sakit hingga hilang ingatan Yang mulia" Lapor Itachi kepada ayahnya.
"Apakah benar Sasuke...?"
"Benar yang mulia... Saya tidak dapat mengingat kejadian 2 bulan yang lalu, anda jangan terlalu khawatir" Jawab Sasuke masih dengan sopannya.
Sebagian orang disana yang ikut menghadiri pertemuan pagi itu menghembuskan nafas lega karena hilangnya ingatan sang pangeran bungsu, dan Madara Uchiha termasuk dalam orang-orang itu.
"Pangeran Sasuke... untuk menebus kesalahana tuduhan kemarin, bagaimana jika kau dapat menyunting putri tunggal Meteri pertahanan Kizashi Haruno, Haruno Sakura"
Sang menteri yang merasa namanya disebut langsung terkejut. "Putri saya tidak cukup pantas untuk seorang pangeran seperti Pangeran Sasuke yang Mulia"
"Jangan merendah Kizashi... Kabar mengenai kecantikan putrimu itu sudah terkenal diseluruh konoha"
"Kalau begitu, Hamba akan menerimanya dengan senang hati yang mulia..."
"Putri Kizashi memang sangat cantik dan sangat pantas jika disandingkan dengan Pangeran Sasuke" Setuju salah satu mentri disana.
Sementara Sasuke kelihatan sekali merasa tidak nyaman bahkan sepanjang pertemuan itu dia tidak fokus memperhatikan.
The Time 400 Years Ago
2014
Naruto sedang mengetikkan sesuatu didalam laptopnya, Break syuting dimanfaatkan Naruto untuk mencari informasi di Internet, sementara Hinata sedang pergi untuk membelikannya minuman.
"U-chi-ha Sa-su-ke" Selesai mengetikkan itu Naruto dengan kostum Hoko Heika Mikoto-nya dengan antusias membaca artikel-artikel sejarah yang muncul.
"Putri tunggal Kizashi Haruno memiliki kecantikan yang tidak terbantahkan dengan keelokan wajahnya membuat Sakura Haruno terkenal seantero Konoha. Kaisar Uchiha mengatakan bahwa ini adalah perjodohan yang sangat bagus" Naruto membaca artikel dilaptopnya dengan kening berkerut, semakin lama membaca emosi Naruto semakin lama semakin memuncak.
"Naru-Chan ini minumanmu" Mendengar kedatangan Hinata, Naruto buru-buru menutup laptopnya langsung. Naruto langsung berpura-pura membaca naskah adegan berikutnya ketika Hinata sudah berada didepannya.
"Ini Jus jerukmu Naru..." Hinata meletakkan jus jeruk Naruto diatas meja.
"Hari ini hanya tinggal beberapa adegan saja Naru... Tadi aku sudah menanyakan kepada Hatake-san"
"..."
Hinata memandang Naruto ketika tidak kunjung mendapat responnya.
"Apa ada sesuatu yang salah Naru...?"
"Tidak" Jawab Naruto cepat, Naruto juga membolak-balik naskahnya dengan cepat.
"Ya, ada yang salah!" simpul Hinata.
Sret.
"Sebenarnya apa yang kau baca tadi"
"Eh... Jangan Nee-chann"
Terlambat..! Hinata sudah membuka laptop Naruto dan menemukan laman yang dibukanya tadi. "Kau masih membaca artikel-artikel seperti ini Naru...?" Tanya Hinata tidak percaya. "Aku kira terapimu berhasil, ternyata—"
"Aku hanya membaca artikel sejarah Nee-chan, lagi pula aku juga perlu mempelajarinya untuk aktingku Nee-chan" Bantah Naruto dengan bibir yang sudah mengerucut kesal.
"Itu akan bermanfaat jika kau tidak hanya membaca sejarah tentang seseorang bernama Sasuke Naru... Lihat kau membaca artikel tentangnya lagi bukan" Tunjuk Hinata pada layar laptop Naruto.
Naruto hanya diam karena memang apa yang diucapkan Hinata adalah benar. "Nee-chan akan lihat apa yang kau baca tentangnya hari ini" kemudian Hinata ikut membaca artikel di layar laptop Naruto.
"Ada apa dengan 'dia' hari ini...? Kenapa kau sangat kesal seperti itu Naru..."
"Kaisar Uchiha menjodohkannya dengan putri tunggal menteri pertahanan" Balas Naruto dengan kekesalan yang sangat nampak.
"Apa...?" Hinata mengalihkan perhatiannya untuk menatap wajah Naruto.
"Sebuah perjodohan antara putri menteri dan pangeran Uchiha, Dan 'dia' harus bersedia bukan Nee-chan..? Jika tidak dia akan dicap sebagai pengkhianat" Naruto malah merengek kepada Hinata.
"Aku tau bahwa perjodohan kerajaan itu pasti terjadi, Aku sudah menduganya dari awal. 'dia' pasti bahagia sekali mendapat calon istri yang kecantikannya tidak tertandingi seperti itu" Naruto terus mengeluah akan artikel yang dibacanya. Dia sangat tidak terima sekali lagi. SANGAT TIDAK TERIMA.
"Naru~"
Naruto membalas pandangan Hinata kepadanya "Haah~ Aku tau ini memang mimpi Nee-chan, Jadi jangan berpikir untuk membawaku ke psikiater lagi, Tapi... meskipun ini hanya mimpi tapi aku merasa kesal Nee-chan"
"Tapi Naru..."
"tidak bolehkah aku kesal seperti ini Nee-chan. Orang yang membaca novel ataupun menonton drama pasti memiliki khayalannya sendiri bukan dia juga akan merasa kesal jika akhir yang terjadi tidak sesuai keinginannya bukan"
Hinata memijit pelipisnya bingung untuk menghadapi Naruto."Baiklah-baiklah..."
"Jadi jangan menatap aku seperti itu Nee-chan" Rajuk Naruto lagi.
"Ha'i, jadi Si Sasuke itu akan menikah dengan anak tunggal menteri pertahanan...?"
Naruto menggelengkan kepalanya sehingga hiasan rambut dikepalanya ikut bergoyang. "Aku tidak tau Nee-chan, belum ada catatan mengenai hal itu"
"Hmm Mungkin saja dia akhirnya tidak menikah, Dia memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup karena tidak bisa melupakanmu" Dengan tersenyum Hinata mencoba menenangkan emosi Naruto.
Naruto berpikir sejenak kemudian dia berucap lagi
"Tapi... Mungkin karena dia bukan putera mahkota kerajaan jadi pernikahannya tidak dicatat dalam sejarah" Raut wajahnya menjadi sedih lagi.
"Aiish... Lagi pula tidak ada hubungannya jika dia menikah atau tidak. Aku tidak peduli" Naruto mengucapkan hal itu untuk meyakinkan Hinata bahwa dia sudah bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.
"Scene 20 akan dimulai 5 menit lagi" Seorang staf dalam drama ini masuk keruang istirahat Naruto untuk memberitahu.
"Ayo cepat keluar, Nee-chan tunggu diluar" Setelah Hinata keluar, Naruto memandang laptopnya yang terbuka. Laptopnya masih tetap menampilkan artikel perjodohan tadi.
Brak..!
Naruto menutupnya dengan keras. "Dasar Teme..!, Playboy...!, Pengkhianat...!" Teriak Naruto kesal.
The Time 400 Years Ago
1614.
Sementara orang yang diteriaki pengkhianat itu sedang berdiri dihalaman istana memandangi matahari terbit dengan tangan yang berada dipunggung.
Sasuke menghirup udara pagi dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi.
"Yang mulia Ratu Mikoto datang~"
Sasuke langsung menoleh kesamping dan melihat sang ibunda yang datang bersama beberapa dayang yang mengikuti dari belakang.
"Kalian bisa tinggalkan saya sediri..!" Kemudian para pelayan berjalan menjauh sekitan 15 meter dari Ratu Mikoto.
"Sasuke~ Bagaimana keadaanmu selama ini...?"
"Saya, baik-baik saja Kaa-sama"
"Apakah... Kabar mengenai hilang ingatannya dirimu adalah benar...?"
Sasuke mengangguk menjawab pertanyaan Mikoto. "Maafkan Kaa-sama yang tidak berada disampingmu Sasuke... Kau pasti mengalami banyak kesulitan selama ini" Ucap Mikoto sedih
"Jangan terlalu khawatir Kaa-sama"
"Yang mula Fugaku Uchiha tiba~"
"Yang mulia~" Sapa sang ratu pada suaminya.
"Kau sudah melihat keadaan putra kita...?"
"Sudah yang mulia, Pangeran Sasuke tampak sudah baik-baik saja..."
"Syukurlah kalau begitu, Apa kau setuju dengan perjodohan putra kita Mikoto...? Menteri pertahanan selalu sesumbar mengenai kecantikan putrinya"
Sasuke tidak mengikuti perbincangan kedua orangtuanya, dia melihat kearah Kaa-samanya, kemudian ingatan mengenai seseorang yang berpakaian seperti ibunya muncul.
'Hiasan rambut itu...'
'Kimono yan dipakai itu...'
'Sepertinya aku pernah bertemu seseorang seperti itu...'
"Sasuke... Pangeran Sasuke...!"
"Ah.. Ada apa yang mulia"
"Apakah kau tidak mau menikah...? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku" sepertinya sewaktu Sasuke sedang melamunkan seseorang sang kaisar Uchiha menanyakan kesediaan Sasuke untuk mengikuti perjodohan yang dibuatnya.
"Yang Mulia... Anda tidak perlu terburu-buru"
"Apakah putri menteri kizashi kurang cantik untukmu Sasuke...?"
Sasuke terdiam mendengar pertanyaan ayahnya itu."Saya juga merasa itu masih terlalu dini Yang Mulia... Pangeran Sasuke masih ingin melakukan sesuatu yang besar untuk Konoha ini"
"Apakah kau berpikir seperti itu Ratuku...? Kalau begitu aku akan menurutimu, aku sudah berjanji untuk tidak melawan kata-katamu bukan.."
Sepanjang percakapan mereka berlangsung, Ingatan mengenai seseorang yang memakai pakaian seperti ibunya terus bermunculan, Tapi tidak dengan wajah orang tersebut. Sasuke hanya mendapat ingatan mengenai, rambut orang itu yang disanggul, Hiasan rambut yag dipakai, Tangan lembut yang menggenggam tangannya.
Sasuke memejamkan matanya dan menggeleng pelan berusaha menyingkirkan bayangan-bayangan yang muncul.
Setelah pertemuan pagi itu dia kembali ke gedung barat istana,Ruangannya. Ketika dia kembali ternyata Juugo sudah menunggunya didepan, tanpa menunggu waktu lagi, Sasuke langsung membawa Juugo masuk kedalam ruang pribadinya.
"Bagaimana hasilnya, Apakah kau menemukannya Juugo...?"
"Maafkan hamba yang mulia, saya sudah mencarinya dimanapun, akan tetapi jimat itu belum juga ditemukan"
"Bagaimana dengan pencarian di daerah dimana aku ditemukan terluka...?"
"Hamba dan para pengawal berencana akan menyusuri hutan itu pangeran." Sasuke mengangguk puas mendengar ketangkasan pengawalnya ini.
"Bagaimana dengan biksu Tsunade...?Apakah biksu itu memiliki informasi tentang jimat itu...?"
"Biksu Tsunade tidak bisa ditemui pangeran, beliau sedang melakukan perjalanan dan akan kembali setengah bulan lagi"
Sasuke tampak resah, dia harus menemukan jimat itu sesegera mungkin. "Juugo"
"Ya.. Yang mulia"
"Mungkin pertanyaanku sedikit tidak masuk akal, tapi apakah mungkin ada seseorang yang memakai pakaian sorang ratu...?"
"Mana mungkin yang mulia..."
"Bagaimana jika itu mungkin...?"
"Jika itu terjadi maka itu adalah sebuah pengkhianatan Yang mulia... Hukuman mati sangat pantas untuk seseorang yang memakai pakaian Ratu jika dia bukanlah seorang ratu"
Sasuke mengangguk membenarkan.
"Juugo, sebenarnya apa yang sudah aku lakukan beberapa bulan ini...?" Terdapat nada putus asa disana.
"Apa yang mulia...?" Tanya Juugo tidak mengerti
"Haa~ Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan selama ini...? Apa aku benar-benar sudah salah minum obat?"
Juugo hanya diam tidak mengerti kalimat Sasuke. "Ah benar! Kau tidak mengerti ungkapan itu Juugo" Ucap Sasuke kemudian.
"Yang mulia... Sepertinya anda sangat lelah hari ini, Apa perlu saya ambilkan air dengan campuran madu?"
"Tidak apa-apa. Kau boleh pergi Juugo".
Juugo meninggalkan Sasuke dengan kening yang berkerut bingung. Setelah Juugo keluar Sasuke langsung masuk kedalam kamar, bukan untuk tidur tapi untuk memikirkan kembali kilasan ingatan yang muncul tadi.
"Jika itu bukan Kaa-sama, maka siapa yang berani memakai baju ratu seperti itu..."
"Dan juga kenapa dalam ingatan itu aku sedang mencium sosok berpakaian ratu, Kenapa juga dalam ingatan itu wajah 'wanita' itu tidak tampak" Sasuke mendesah frustasi ketika tidak menemkan titik terang akan masalahnya.
The Time 400 Years Ago
2014
Malam ini Naruto sedang berdiri di balkon apartemennya, Naruto beruntung karena dia memiliki balkon yang luas seperti ini.
Dari tempat dia berdiri, Naruto dapat melihat mobil Audi A8 nya yang terparkir dibawah, melihat mobil itu entah mengapa Naruto teringat akan sesuatu.
"Terakhir pindah alihkan" Dan kunci mobil yang semula berada ditangan Sasuke sekarang sudah berada di tanganku.
"Naruto terimalah mobil ini, mobil ini sebagai balasan karena kau selalu berbuat baik selama ini" Ucap Sasuke sambil menepuk kepalaku pelan.
"Aku mendengar bahwa kau sangat ingin memiliki mobil ini dan kau menabung untuk membelinya, Jadi aku menghadiahkan ini untukmu. Tadi aku belajar kilat cara mengemudi dan ternyata tidak terlalu buruk. Ini lebih mudah daripada menunggang kuda" Tambah Sasuke lagi,.
Ketika menyadari aku tidak menjawab apapun Sasuke langsung melihat kemanik biruku intens. "Kau ingin mencobanya?" tawar Sasuke. Sedangkan aku hanya memandang Sasuke tidak percaya.
"Kenapa kau selalu melakukan hal ini Teme" Ucapku pelan. "Kau selalu mengejutkanku seperti ini"
"Temanmu bilang kau akan suka dengan prilaku 'klasik' seperti ini..." Jawab Sasuke masih tetap memandangku intens. "Kau tidak suka..?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
Aku tersenyum manis kearah Sasuke. "Tidak suka...? Apa kau bercanda Teme... Aku suka, Saangaaaat SUKAAA" Teriakku senang sambil mengelilingi mobil yang ada dihadapanku ini.
Naruto tersenyum ketika mengingat kenangan itu, Jantungnya selalu berdegup lebih kencang ketika mengingat hal-hal manis yang dilakukan oleh Sasuke untuknya, 'walaupun hal itu hanya ada dalam mimpi'
.
.
.
.
Naruto sedang menikmati pemandangan malam di Kota Konoha dengan senyum yang terkembang ketika sepasang lengan kekar memeluk pinggangnya posesive.
"Ahh..!" Naruto terlonjak kaget karenanya. Buru-buru Naruto menoleh untuk melihat siapa 'kurang ajar' yang memeluknya itu.
"Shika... Kau mengagetkanku..!" Protes Naruto sambil berusaha melepaskan pelukan Shikamaru dipinggangnya.
"Hehehe Gomen Sayang~, Aku hanya ingin memberimu kejutan tadi" Shikamaru tidak melepaskan pelukannya tapi hanya melonggarkannya saja hingga Naruto dapat berbalik untuk menghadapnya.
"Haah~ Aku kira tadi ada seorang stalker atau sejenisnya..." Naruto masih memegangi dadanya karena terkejut. "Kenapa kau bisa disini...?"
"Aku meminta Kiba untuk membelikan makan malam, tiba-tiba saja aku ingin makan bersamamu Naru~" Shikamaru menatap manik biru Naruto intens, Tapi Naruto justru mencoba menghindar.
"Kenapa kau selalu menghindari kontak mata denganku Naru...? Lihatlah aku"
"Aku melihatmu" Jawab Naruto, tapi dia menunduk. "Apa yang kau lihat sebenarnya Naru...?"
"Sepatumu~" Jawab Naruto polos.
"Ck! Benar-benar" Shikamaru melepaskan pelukannya kemudian menunduk mensejajarkan mukanya dengan muka Naruto.
"Apa yang kau lakukan...?" Tanya Naruto merasa terganggu. Sedangkan Shikamaru terus saja mensejajarkan tubuhnya agar dia bisa kontak mata dengan Naruto.
Shikamaru terus mendekat hingga jarak mereka semakin dekat, Secara reflek tangan Naruto langsung terangkat ke dada untuk memberi jarak.
"Kenapa Naru...? Bukankah wajar untuk setiap pasangan saling berciuman"
"T..tapi" Naruto berjalan mundur ketika wajah Shikamaru semakin dekat.
'Cup' Naruto berdiri mematung ketika tiba-tiba Shikamaru mencium bibirnya cepat, Bahkan mungkin ciuman itu tak lebih dari 1 detik. Tapi tetap saja Naruto mengalami shock dan membatu ditempat.
"Haa~ akhirnya semua kembali seperti semula"
Naruto masih mematung tak percaya,apa yang dilakukan Shikamaru tadi padanya 'menciumnya...?'.
"Aku harus menunggu satu bulan hanya untuk sebuah ciuman... Kenapa ekspresimu seperti itu Naru...?"
"A..aku...?"
"Hmm,,... bagaimana jika kita mencobanya sekali lagi...? Kali ini akan menjadi lebih dalam" Usul Shikamaru membuat Naruto mengernyit tidak setuju, belum sempat dia berkata apa-apa Shikamaru sudah berjalan satu langkah kedepan,Wajahnya sudah ditundukkan untuk menyesuaikan dengan tinggi Naruto. Wajah Shikamaru pun sudah mendekat. Sementara Naruto sudah menjauhkan mukanya dengan susah payah karena telapak tangan Shikamaru yag berada ditengkuknya.
"Makan malam sudah siap...!"
"Aish... Dasar pengganggu" Rutuk Shikamaru kepada Kiba yang telah mengganggu aktivitasnya, berbeda dengan Naruto yang sudah menghembuskan nafas leganya. "Kita lanjutkan nanti Naru~, sekarang ayo kita makan"
Shikamaru sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkannya sendirian berdiri di balkon. Naruto tersenyum sedih mengingat kejadian tadi
"Maafkan aku... Sasuke~"
.
.
.
Shikamaru baru saja pulang bersama managernya, Kiba. Mendengar pintu depan ditutup Naruto langsung berlari menuju kamar mandi.
Naruto menyalakan keran air di washtaffle miliknya dengan derasnya, kemudian Naruto mengambil sejumlah air dalam tangannya.
Sret
Sret
Sret
Bibir Naruto yang sudah berwarna merah alami semakin merah ketika Naruto menggosok bibirnya kasar.
Sret
Sret
Digosoknya sekali lagi untuk menghilangkan bekas ciuman tadi. Naruto tau bahwa Shikamaru adalah kekasihnya tapi untuk melakukan ciuman...? Naruto seperti telah megkhianati Sasuke ketika ada orang lain yang menciumnya.
Setelah beberapa menit Naruto berada dikamar mandi akhirnya dia keluar juga yang langsung disambut oleh tatapan khawatir dari Hinata.
"Apakah kau sakit Naru...? Sewaktu makan malam tadi kau juga menjadi sangat pendiam...?"
Naruto duduk disamping Hinata, dia merebahkan kepalanya dipundak Hinata pelan.
"Nee-chan... Sepertinya aku tidak sanggup lagi~" Ucap Naruto dengan suara lirihnya,kontras sekali dengan sifat Naruto yang biasanya ceria itu.
"Aku..Aku sudah mencoba untuk menerimanya, Tapi setiap dia berada didekatku aku merasa sangat tidak nyaman, Aku tau Shikamaru adalah kekasihku tapi setiap bersamanya aku seperti telah mengkhianati seseorang Nee-chan"
Hinata mengelus punggung Naruto pelan. "Pada awal rujuknya hubungan kalian, Nee-chan pernah bertanya kepadamu Naru... Apakah hal ini akan baik-baik saja...?"
"Benarkah...?" Tanya Naruto yang langsung duduk tegap menghadap Hinata.
"Ha'i, Dan saat itu Naru berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, Shikamaru telah berubah dan Naru mau memaafkan segala kesalahannya dahulu. Tapi ada apa dengan sekarang...?" Tanya Hinata dengan lembut.
Naruto menggeleng bingung. "Aku juga tidak mengerti Nee-chan"
"Apakah ini semua karena Sasuke...? Karena seseorang dalam catatan sejarah itu...?"
"..."
"Naru..~ Nee-chan akan mendukung hubunganmu dengan 'Sasuke' itu, jikalah memang sosok itu Nyata, Tap—"
"Naru mengerti Nee-chan, Sasuke hanya sosok dalam mimpi. Semua bilang sosok itu hanya ada dalam mim...mimpiku" Suara parau Naruto terdengar diseluruh ruangan yang sepi itu. Hinata diam mendengarkan Naruto
"A-aku aku merasa sosok itu ada... D..dia pernah ada. Nee-chan pasti berpikir aku sudah gila bukan...?" Naruto sudah berdiri membelakangi Hinata, Setetes air mata jatuh ketika Naruto mengatakan hal tersebut. "Aku.. Akan berusaha lebih keras lagi" Kemudian Naruto berbalik menghadap Hinata dengan senyum lemahnya.
Hinata dapat melihat bahwa meskipun bibir itu tersenyum tapi tidak dengan mata Naruto. "Naru... Naru tau bukan jika saja... Jika saja Sasuke itu nyata, Nee-chan akan berada dipihakmu dan mendukungmu. Selalu. Nee-chan tentu tidak akan melakukan hal ini padamu..." Ucap Hinata lembut.
"Aku mengerti Nee-chan~" Jawab Naruto.
"Sekarang jangan besedih lagi Naru... Apa-apa an dengan mata bengkak seperi ini hmm...?"
Gyuut.
"I..ittai Nee-chan" Naruto mengeluh sakit ketika kedua pipinya ditarik oleh Hinata.
"Bibir ini harus tersenyum lebar besok" Ucap Hinata tanpa melepaskan cubitannya pada pipi gembul Naruto.
"Besok...?"
"Besok adalah acara penghargaan terbesar di jepang Naru... Dan kau diundang bersama Shikamaru-kun untuk menghadiri acara tersebut. Nee-chan sudah memilihkan pakaian yang akan kau kenakan besok. Kau harus tau Naru bahwa Nee-chan bingung memilihnya dari sekian banyak sponsor"
"Benarkah...?"
Hinata mengangguk sekali lagi " Jadi sebaiknya sekarang kau istirahat" Setelah memeluk Naruto selama beberapa detik, Hinata langsung menggiring Naruto untuk masuk kedalam kamarnya.
.
.
.
Hari sudah semakin larut,Lampu di apartemen Naruto juga sudah dipadamkan. Dikamarnya Naruto masih berbaring diatas kasurnya dengan mata yang masih terbuka.
400 tahun lalu— Diwaktu yang sama Sasuke juga sedang berbaring diatas futonnya. Seperti biasa Sasuke akan tidur dengan tenangnya, tapi malam itu sang pangeran Uchiha masih terjaga sambil memandangi jendela kamar yang terbuka.
Naruto tampak gelisah, terbukti dengan tidurnya yang terus bergerak-gerak. Sesaat lalu Naruto berbaring menyamping sesaat kemudian Naruto akan berpindah posisi menjadi terlentang.
400 tahun lalu— Sasuke bergerak untuk tidur menyamping, Onyx malamnya bergerak gelisah karena memikirkan sesuatu. Kemudian Sasuke bergerak lagi hingga tidur terlentang. Sasuke mengehela nafas beratnya. Kemudian dia langsung duduk karena merasa percuma jika dipaksakan untuk tidur.
Sret..! Naruto menyingkap selimutnya kemudian dia bangkit untuk berjalan keluar menuju balkon yang ada di apartemennya. Udara konoha malam ini tidak begitu dingin jadi Naruto tidak memerlukan jaket untuk keluar seperti ini. Naruto memandangi langit malam konoha dalam diam. Bulan sedang purnama saat ini, tapi Naruto tidaklah melihat keindahan bulan saat itu, tapi dia sedang memikirkan hal lain.
Sasuke berjalan menuju jendela, malam ini langit dikerajaannya sedang cerah, tampak bulan purnama serta bintang yang menghiasi langit malam saat itu.
Dan tanpa dua insan itu sadari, mereka sedang melihat langit yang sama... Bulan yang sama... Di Waktu yang berbeda
The Time 400 Years Ago
1614
Tap Tap Tap
Sasuke menuntun kudanya berjalan keluar gerbang istana, Prajurit yang menjaga saat itu menunduk hormat kepada Sasuke. Jalanan konoha masih sepi karena matahari masih belum terbit saat ini.
Drap Drap Drap...
"Tuanku~"
"Karin...?"
"Anda mau kemana pagi-pagi sekali tuanku...?"
"Biksu Tsunade sepertinya sudah kembali dari perjalanannya, aku akan menemuinya dikuil"
"Apa ini mengenai jimat itu, Tuanku..?" Tanya karin sopan. "Semuanya sudah berjalan dengan baik, Kenapa tuan masih ingin mencari jimat itu...? Meskipun Tuan tidak mengingat masalalu tetapi asalkan tidak terjadi masalah hamba rasa tidak apa-apa"
"Aku rasa kenangan yang aku lupakan tidak akan bisa membuatku untuk terus melanjutkan hidup seperti biasa Karin... Aku harus mengingatnya oleh karena itu aku akan pergi kekuil hutan itu"
Karin menunduk sedih ketika Sasuke tetap bersikeras untuk mencari keberadaan jimat itu. "Hamba takut jimat itu akan membuat Tuan menjauh,. Hamba hawatir... Karena semuanya telah baik-baik saja"
"Aku mengerti maksudmu Karin... Tapi kau tenang saja aku pasti akan baik-baik saja, sebaiknya kau masuk kedalam"
Karin menghela nafas berat ketika dia gagal mencegah tuannya untuk tidak mencari jimat tersebut, Sebersit perasaan menyesal telah memberikan sebuah jimat yang justru memberi celaka pada Tuannya.
.
.
.
Tok Tok Tok
Kreeeet.
"Lama tidak berjumpa biksu" Orang yang membukakan pintu yakni Tsunade tersenyum kepada Sasuke seolah-olah Tsunade sudah mengerti akan kedatangan Sasuke sebelumnya.
Tsunade mempersilahkan Sasuke untuk duduk sebelum memulai pembicaraan.
"Apakah kedatangan pangeran pagi ini mengenai jimat itu...?" Tebak Tsunade. Sasuke sempat terkejut karena ternya ta Tsunade mengerti mengenai jimat yang dicarinya.
"Anda tau tentang jimat itu...?"
Tsunade menganggguk mengiyakan pertanyaan sang pangeran. "Pangeran sendiri yang bercerita mengenai jimat yang dapat membawa anda kesurga itu, Bahkan anda pernah berkata bahwa anda bertemu dengan salah satu malaikat Kami-sama yang memiliki wana mata sewarna dengan langit"
"Benarkah...? Seharusnya aku menemuimu sejak awal biksu" Ada nada kelegaan disana. Akhirnya Sasuke bertanya mengenai segala hal tentang jimat itu dan Tsunade akan menjawab sesuai dengan penjelasan Sasuke dahulu ketika Sasuke belum hilang ingatan. Mulai mengenai kekuatan jimat itu serta bagaimana cara menggunakannya.
"Apakah saya pernah bercerita mengenai 'Hoko Heika Mikoto'...?"
"Hmm.. Sepertinya tidak pangeran, Anda hanya pernah berkata telah bertemu dengan seseorang dengan iris langitnya serta kebaikan hati orang tersebut"
Entah mengapa, Sasuke merasa bahwa dia sedang diawasi, Sasuke menoleh kearah pintu dan melihat sebuah bayangan bergerak dibawah sana.
"Maafkan saya biksu sepertinya ada seseorang yang mengikuti saya kesini" Tsunade memandang Sasuke tidak mengerti, kemudian Sasuke menunjuk bayangan yang bergerak dibawah pintu.
Sasuke kemudian berdiri mengendap-endap menuju pintu... Kemudian.
BRAKKK...!
Sasuke menendang pintu kuil hingga pintu itu terbua lebar, memaksa 2 orang yang sedang mendengarkan pembicaraan terpental jatuh ketanah.
Sasuke mengeluarkan pedangnya kemudian Dia bergerak cepat menuju salah satu mata-mata tersebut. Salah seorang mata-mata ikut mengeluarkan pedangnya ingin menyerang Sasuke.
Sasukepun langsung bergerak cepat menghindari sabetan pedang yang mengarah tepat kearahnya, kemudian dengan keahlian pedang yang dimilikinya Sasuke berhasil melumpuhkan seorang mata-mata tanpa melukainya. Ketika melihat kesekitar salah seorang mata-mata ternyata sudah kabur meninggalkan temannya yang menjadi tawanan Sasuke.
.
.
.
.
"Jadi begitu cara kerjanya... Cih jika saja kita tau dari awal tentang biksu itu, kita pasti tidak akan menunggu lama untuk mengetahui fungsi jimat ini" Kabuto tersenyum licik setelah selesai mendengar laporan salah satu mata-matanya.
Kabuto sedang bersembunyi didalam hutan dengan beberapa pengawal setianya. Kabuto membolak-balik liontin kalung itu kemudian dia memutuskan untuk mencoba kalung tersebut.
"Pegang ini...! dan berdiri disana...!" Kabuto memerintahkan salah satu pengawalnya untuk membawa jimat itu kemudian memintanya untuk berdiri didekat pohon yang berjarak sekitar 5 meter dari Kabuto berdiri.
Setelah pengawalnya berdiri ditempat itu, Kabuto mengambil busur panah yang berada didekatnya,Ditariknya anak panah dengan kuat. "Tetap disitu...! Jika memang jimat ini berguna kau pasti akan selamat" Sang pengawal yang semuala akan berlari menjauh langsung mengurungkan niatnya.
Syuut. Hingga anak panah dilepaskan dan langsung mengenai jantung sang pengawal. Sang pengawal yang ternyata juga mata mata yang memebrikan informasi tadi langsung tumbang dengan jimat yang masih berada ditangan serta darah yang mulai mengucur.
"Informasi itu palsu.." Gumam Kabuto
Tap.
Tap
Tap.
Kabuto menoleh, dan melihat sang pangeran Uchiha sedang membawa salah satu anak buahnya dengan pedang yang hampir memutus urat nadi dilehernya.
"Diam ditempat..! Atau aku bunuh orang ini" Desis Sasuke tajam, yang membuat beberapa pengawal Kabuto tidak jadi melayangkan serangannya.
"Ck ck ck... Lihat siapa yang datang" Ejek Kabuto pada Sasuke.
"Ternyata kau adalah tuan dari mata-mata ini...? Apa maksudmu dengan menyuruh orang-orangmu ini ha..?"
Kabuto hanya terseyum mengejek tanpa menjawab pertanyaan Sasuke. "Apa kau ingin membunuhku...?"
"Cih... Jika aku berniat membunuhmu pasti aku sudah membunuhmu dipulau Nara dulu..." Kemudian Kabuto membungkuk diatas mayat pengawalnya kemudian mengambil jimat yang masih berada dalam genggaman mayat itu.
Kabuto bangkit berdiri menghadap Sasuke dan menyeringai keji. "Mencari ini eh pangeran...?"
Mata Onyx Sasuke menajam ketika melihat benda yang berada ditanan Kabuto. 'jimatnya'.
"Bagaimana jimat itu bisa berada ditanganmu...?"
"Khukhukhu... Kau tidak mengingatnya pangeran...? " Tawa Kabuto semakin terdengar memuakkan. "Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu pangeran... Bagaimana cara kerja jimat ini...? Aku tidak mengerti apakah biksu itu membohongimu atau tidak tapi aku sudah mencoba metode yang diberikan oleh mata-mataku tadi, Dan kau lihat sendiri...!" Kabuto menendang mayat pengawalnya mrnunjukkan bahwa dia adalah 'percobaan yang gagal'
"Selain itu mas—"
DUG
Sandra yang dimiliki Sasuke baru saja jatuh pingsan ketika Sasuke memukul kuat tengkuknya, Sandra yang dimiiki Sasuke mengetahui 'semua' informasi yang berguna untuk memunculkan kekuatan pada jimat.
"Hmm... Sepertinya informasi yang aku miliki tidaklah lengkap,. Aku isa saja membunuhmu dan meminta informasi pada biksu yang erada dikuil, Tapi karena takhtamu sekarang sudah kembali aku tidak ingin memprovokasi Istana lebih dari ini"
"Jadi sebaiknya kita kerja sama saja, Takhtamu sudah kembali dan kau tidak perlu untuk kembali kedunia 'itu' lagi bukan...? Jadi beritau aku sisa informasi yang tidak aku miliki kemudian aku akan melepaskanmu dengan selamat."
Sasuke menoleh kearah 3 pengawal yang kesemuanya sedang mengacungkan pedang kearahnya.
Sasuke tampak berpikir serius.
'Hoko Heika Mikoto... Hoko Heika Mkoto, Apakah pantas kupertaruhkan hidupku demi sosok itu...? Haruskah aku mengambil resiko untuk bertemu dengannya'
"Kalau begitu, anda belum bertemu dengan orang itu...?"
"Orang itu...?"
"Dia adalah alasan kepergian anda waktu itu, Anda memberitau saya bahwa anda ingin membalas budi baik Orang itu"
.
.
.
"Pangeran sendiri yang bercerita mengenai jimat yang dapat membawa anda kesurga itu, Bahkan anda pernah berkata bahwa anda bertemu dengan salah satu malaikat Kami-sama yang memiliki warna mata sewarna dengan langit"
.
.
.
"Aku akan memberitahumu bagaimana caranya, sebelum itu tolong kau suruh pengawalmu ini untuk menurunkan senjatanya"
"Pilihan yang tepat pangeran... Turunkan senjata kalian, pangeran kita ini sudah menyerah"
"Pertama-tama Tutup kedua matamu kemudian suruh pengawalmu untuk menembakkan anak panah kearahmu, maka kau akan langsung menghilang"
"Hmm...? Semudah itu... Baiklah lakukan apa yang dia perintahkan...!"
Busur panah sudah ditarik, tepat ketika anak panah telah dilepaskan Sasuke langsung merebut jimat yang berada ditangan Kabuto sehingga anak panah itu menembus bagian bahu Kabuto dengan dalamnya.
"Brengsek..! Serang dia...!" Perintah Kabuto murka, dirinya tidak dapat membantu apapun karena rasa panas yang mulai menjalar dari luka dibahunya.
3 orang pengawal Kabuto menyerang Sasuke bersamaan, Salah seorang pengawal tiba-tiba menyerang Sasuke dari belakang, untunglah Sasuke dapat cepat menghindar akan tetapi jimat yang sedari tadi dipegangnya terlempar keudara.
Sasuke segera bangkit dan mendongak keatas untuk memperkirakan posisi jatuhnya jimat itu. Kelengahan Sasuke dimanfaatkan para pengawal Kabuto untuk menyerang Sasuke, dan tepat ketika pedang sudah diayunkan saat itu juga Sasuke dapat menangkap jimat tersebut.. dan...
Hilang
The Time 400 Years Ago
2014
Tap.
Sasuke membuka kelopak matanya, Onyx malamnya melihat kesekeliling dengan awas. Sepi. Tidak ada orang satupun, termasuk kabuto dan pengawal-pengawalnya. Gelapnya hutan juga telah berganti dengan tempat yang sangat terang.
Walaupun langit didunia ini sama dengan langit ditempatnya. Malam.
Sret..
Sasuke menyentuh tembok beton disampingnya.
Tap...
Tap...
Tap...
Kaki jenjangnya secara otomatis berjalan kedepan, hingga Sasuke tidak sadar bahwa dia telah berlari.
Sasuke berhenti ketika dia tiba disebuah jalan yang sangat besar dan ramai. Banyak benda besi bergerak lalu lalang. Bangunan-bangunan tinggi juga berada dihadapan Sasuke.
Sasuke masih diam, memperhatikan dunia baru ini. Iris Onyxnya berbinar antusias karena dia telah berhasil, Kemudian iris itu terpaku pada sebuah layar besar yang menampilkan gambar bergerak disana.
" Saksikan Hoko Heika Mikoto" Sasuke membaca tulisan yan berada dilayar besar tersebut sebelum layar itu menampilkan sebuah gambar close up, sang Hoko Heika Mikoto.
Deg.
Bagaikan film rusak yang diputar ulang kembali, seperti itulah gambaran mengenai ingatan Sasuke saat ini.
Awal pertemuan mereka
Dia yang dianggap sebagai stalker karena berada didalam kamar rawat Naruto.
Naruto yang membantunya mencari buku diperpustakaan kota
Ciuman sebagai salam perpisahan
Naruto yang menolongnya dipulau Nara.
Kejadian dipesawat bersama Shikamaru
Hingga ciuman yang dilakukannya didalam mobil serta janji yang diucapkannya pada Naruto.
Sasuke menunduk sambil tersenyum lembut ketika ingatan-ingatan itu saling bermunculan, Didongakkan kepalanya lagi untuk melihat potret Naruto dilayar besar dengan menggunakan baju kebesaran seorang Hoko Heika.
.
.
.
.
Siang hari disalah satu salon ternama Konoha.
"Benarkah kau akan menghadiri acara penghargaan bersama Shikamaru-san, Naru...?" Tanya salah seorang penata rambut ternama pada Naruto.
"Ha'i, Itu undangan dari panitia penyelenggara Nee-chan"
"Hmm... Bahkan panitia acara tau tentang hubunganmu dengan Shikamaru-kun... Aku benar-benar sangat menyukai drama kalian, dan ketika berita kalian sedang menjalin hubungan aku sangat senang sekali"
Naruto hanya tersenyum pada penata rambutnya. Bagaimana bisa Naruto membalas 'aku juga senang dengan hubunganku ini' jika kenyataannya tidaklah demikian.
Tiba-tiba smartphone Naruto berbunyi. "Nee-chan... tolong angkat teleponnya" Pinta Naruto pada Hinata karena dia sedang berada diposisi tidak boleh bergerak.
Alis Hinata berkerut melihat nomor asing yang sedang menelepon Naruto "Nomornya tidak dikenal Naru..."
"Angkat saja Nee-chan, siapa tau itu penting."
"Moshi-moshi..."
"..."
"Ha'i, Ini Handphone Namikaze Naruto, Naruto sedang sedikit sib—"
"..."
"Aku manager Naruto, Hyuga Hinata, Dengan siapa ini...?"
"..."
"APAA...?" Hinata tidak sadar bahwa dia telah berteriak tadi, Hinata langsung menatap Naruto meminta izin untuk berbicara diluar
"Moshi-moshi, Kau bilang siapa namamu tadi...? Sa-su-ke...?" Tanya Hinata dengan volume suara yang kecil agar Naruto tidak mendengar percakapan mereka.
.
.
.
Sasuke sedang berada didalam telepon umum yang berada ditaman, Tampak dia sedang mengulas senyum ketika berbicara dengan seseorang disana.
"Sudah lama tidak bertemu, Hinata"
"K-kau benar-benar S-sasuke san...?"
"Ha'i, Aku Sasuke. Ada ap—"
Tuut
Tuut
Tuut
Sasuke memandang bingung kearah gagang telepon yang sambungannya sudah terputus. Kemudian Sasuke mencoba menelepon sekali lagi.
"M-moshi..moshi... Apa benar kau adalah S-sasuke-san..?"
"Ha'i... Bukankah kita saling mengenal..?"
"A-aku tidak mengenalmu... Mmm dimana tempat kau menelepon saat ini Sasuke-san..?"
"Di Taman"
Sasuke dapat mendengar tarikan nafas Hinata yang terkejut mendengar kata 'taman' yang dikeluarkannya tadi.
"A..apakah itu taman d..dimana kau berjanji dengan Naru-chan dulu..?"
"Benar"
"Mmmm ano... saat ini Naru-chan sedang tidak bisa menerima telepon, dia sedang sibuk. Aku akan memberitahunya nanti untuk balik menelepon Sasuke-san sesegera mungkin"
"Hn! Baiklah kalau begitu"
.
.
.
Sementara itu Hinata yang berdiri mondar-mandir didepan gedung salon sedang bingung dengan apa yang terjadi. "Jadi Sasuke yang dikatakan oleh Naru-chan adalah 'nyata'...? Apa yang harus aku lakukan..."
"Jadi... selama ini yang dikatakan oleh Naru-chan bukanlah mimpi... Apa aku harus memberitahunya..? Tapi jika aku memberitahunya sekarang anak itu pasti akan... Aish...! Aku bingung harus berbuat apa"
.
.
.
"Siapa yang menelepon tadi Nee-chan..?" Tanya Naruto ketika Hinata baru duduk disampingnya. "Hanya orang iseng Naru... Jika nomor itu menelepon lagi jangan diangkat..!"
"Kenapa..?"
"Nee-chan bilang dia hanya orang iseng, dia tadi menawarimu untuk bermain di salah satu film hentai tentu saja Nee-chan langsung menolaknya"
"Apa..? Film hentai..?"
"Ha'i, oleh karena itu jika nomor itu meneleponmu maka jangan diangkat."
"Iya Hina-nee"
.
.
.
Sasuke menunggu dengan sabar didalam telepon umum, Ingatan-ingatan tentang Naruto diputarnya lagi.
"Bukankah aku keren...? Aku adalah seorang Hoko Heika Mikoto, Sasuke"
"Aku adalah artis terkenal.. Dasar Teme..!"
"Sasuke... Pasti kau adalah seorang 'playboy' diduniamu sana..!"
"Baiklah, Satu bulan lagi aku akan menunggumu ditaman ini, dan kita akan berkencan selama sehari penuh"
Sasuke mencoba menelepon Naruto sekali lagi karena hari sudah mulai gelap tapi tidak ada tanda-tanda Naruto akan meneleponnya, maka Sasuke berinisiatif untuk menelepon terlebih dahulu.
Tuut
Tuut
Tuut
PIP
Sambungan telepon dimatikan bahkan sebeleum dering ke-empat terdengar. "Apa kau marah padaku Dobe...?" ucap Sasuke bermonolog. Kemudian Sasuke langsung berjalan pergi meninggalkan taman ini, entah dimana lagi tujuan Sasuke kali ini.
.
.
.
Cklek
"Woah... Naru sayang, kau benar-benar sangat 'cantik' hari ini" Puji Shikamaru yang baru masuk kedalam mobil yang akan membawa mereka berdua menuju red carpet. Naruto yang memakai jas semi formal berwarna putih dengan rambut yang ditata rapi tidak seperti biasa membuat Shikamaru sempat terpaku ketika melihatnya
"Jangan berlebihan Shika..." Balas Naruto tak terpengaruh akan pujian Shikmaru.
"Apakah aku harus mengumumkan hubungan kita di red carpet nanti...?" Tanya Shikamaru dengan seringai jahilnya, Shikamaru idak sadar bahwa pujiannya tadi hanya dibalas datar oleh sang kekasih.
"Jangan..! Kau tidak akan melakukannya bukan...?" Balas Naruto panik.
"Hmm...? Kita lihat saja nanti."
Mobil sudah dilajukan, hanya butuh waktu 10 menit hingga mobil itu berhenti tepat didepan red carpet.
Shikamaru turun terlebih dahulu yang langsung disambut blitz-blitz foto serta teriakan para fans. Setelah turun Shikamaru mengulurkan tangannya untuk membantu Naruto turun dari mobil.
Mengetahui Shikamaru datang bersama sang Namikaze Naruto, teriakan para fans semakin nyaring terdengar. Shikamaru membawa lengan Naruto untuk melingkar dilengannya. Mereka berdua berjalan pelan dengan sesekali melambaikan tangan kearah para fans serta paparazi yang menanti moment mereka berdua.
"Waah... Sang Raja dan Ratu Uchiha dalam Drama terbaru yang populer saat ini hadir secara bersamaan" Terdengar suara MC acara yang menyambut mereka dn dibalas dengan teriakan fans yang sangat bersemangat.
Naruto melambaikan tangannya kearah para penggemarnya, Naruto juga memberikan senyum terbaiknya kepada para penggemar yang rela berdesak-desakkan menunggu dipinggir red carpet hanya untuk mendukungnya.
Iris birunya mengedar kesekeliling. Hingga Naruto membalikkan pandangan kearahnya melihat tadi. Bibir sewarna cherry itu membuka tidak percaya, Iris birunya juga melebar terkejut. Naruto tidak sadar bahwa tautan tangannya dengan Shikamaru telah terlepas.
Naruto masih melihat kearah para fansnya tepatnya salah seorang yang berdiri paling belakang dari kerumunan penggemarnya.
"Sasuke~"
To Be Continue
Peluk dan cium Tara untuk orang – orang yang berbaik hati mau meluangkan waktu untuk memberi sebuah jejak ini
ARIGATO^^
(Maaf kaau salah dalam penulisan nama atau yang lupa tidak tercantum^^)
Kirei-Neko, Arum Junnie, alta0shapphire, Hyull, Dark , istiartika, Namikaze Otorie, zadita uchiha, gyumin4ever, Snlop, 85, Jasmine DaisynoYuki, mifta cinya, sini r, hanazawa kay, Ara Uchiha, aprilyarahmadani, versetta, UcihayanA, Tyateukie13, atika chan, sukmawindia, Mimo Rain, InmaGination, , oka, IchaByun,NaruChan, Anya18
Okiniiri-Hime, meyy-chaan, choikim 1310, IfUchiha, Yuu-chan Namikaze, Dewi15, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Call Me Mink, versetta, Ryuusuke583, Reiasia95, gyumin4ever, mifta cinya, rei diazee, Aiko michisige, hanazawa kay, uzumakinamikazehaki, ykaoru32, 85, saphire always for onyx, Vianycka Hime, kirei-neko, Snlop, oka, Angel Muaffi, Ichijo Sena, amour-chan, Afh596, Arum Junnie, Yamada Kim Naho-chan, Guest, Uchiha Naruto, HildamarElf, Xianie, Aprieelyan, Fitriani Rahma, Yuiko Narahashi, Shirube Hikari, , Aya Putri, Guest, Yami, Riv (Yang tebakan tentang pane-name Tara bener sekali...^^), Serrara Tan
