-Kim Taehyung-

Di suatu sore yang cerah, saat burung-burung kembali ke sarangnya, Love Shooters masih beterbangan kesana-kemari untuk mencari sasaran. Sayap mereka yang sewarna salju mengepak-ngepak di udara. Tanpa makan dan tidur, Love Shooters terus bekerja 24 jam dalam sehari. Bagaimanapun juga mereka menanggung beban besar dalam menangani kehidupan percintaan manusia. Coba saja tidur selama satu menit, maka akan ada 10 pasangan putus cinta saat mereka terbangun. Bayangkan jika mereka tidur 8 jam dalam sehari seperti manusia. Kurang lebih akan ada 4800 pasangan yang putus cinta dalam satu hari. Dari balik awan, V menunggu targetnya dengan bosan. Wajahnya mengkerut kesal, mahkota yang terbuat dari daun dafnah diletakan sekenanya di atas kepala. Ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya, dan sebuah layar transparan secara ajaib muncul di hadapannya. Di layar tersebut profil sasaran V ditampilkan secara lengkap. Mulai dari nama, tempat tanggal lahir, riwayat hidup, dan yang terpenting, orang yang disukainya tertera di layar tersebut. Sasarannya kali ini adalah seorang mahasiswa bernama Mark Tuan. Mark adalah pria tampan dan kaya yang dikenal sebagai playboy kelas kakap. Tapi sejak bertemu juniornya di kampus yang bernama Park Jinyoung, Mark perlahan-lahan berubah dan mulai menyukainya.

Persentase rasa suka Mark pada Jinyoung berada pada level 49,9%. Itu sudah naik banyak sekali sejak terakhir kali V memeriksanya. Persentase rasa suka adalah kadar rasa suka seseorang terhadap orang lain yang dinyatakan dalam bentuk persen. Persentase rasa suka merupakan pedoman bagi Love Shooters dalam membidik sasaran. Asal kalian tahu saja, Love Shooters tidak sembarangan menembak manusia agar jatuh cinta. Setiap manusia memiliki persentase rasa suka yang terlihat di layar status yang muncul di atas kepala mereka dan layar status ini hanya bisa dilihat oleh Love Shooters. Persentase rasa suka dimulai dari skala 0-100%. Jika seseorang memiliki persentase rasa suka antara 0-49%, maka bisa dikatakan bahwa perasaan mereka masih berada dalam tahap 'suka', dan saat persentasenya mencapai 50%, saat itulah Love Shooters bertugas untuk melepaskan anak panah mereka pada sasaran. Jika selama ini manusia selalu menganggap bahwa cinta terjadi karena Cupid menembakan anak panahnya, itu tidak sepenuhnya benar. Pada dasarnya cinta terjadi berdasarkan kehendak manusia itu sendiri. Bukan pengaruh mantra maupun pihak ketiga. Fungsi dari panah-panah Cupid bukanlah untuk membuat seseorang jatuh cinta, tetapi memberikan dorongan kepada manusia-manusia yang sekiranya memiliki persentase rasa suka yang tinggi untuk menyatakan perasaannya pada orang yang disukainya.

"Tinggal 0,1%, dan aku akan membidik dadamu Mark. Tunggu saja!"

Lima belas menit kemudian Mark terlihat di taman depan kampusnya sambil menyenandungkan lagu-lagu cinta yang sedang trend akhir-akhir ini. V meraih busurnya dan segera menukik turun. Ia berdiri di dahan sebuah pohon besar di taman. Sebuah layar peringatan muncul secara tiba-tiba dan mengeluarkan bunyi getar yang mengejutkan V sehingga ia hampir terjatuh dari dahan pohon. Di layar itu, sebuah foto dari Mark Tuan dengan border hati yang menyala mengerjap-ngerjap. Hal ini terjadi setiap kali persentase rasa suka manusia telah mencapai 50%, tujuannya untuk memperingatkan Love Shooters untuk segera membidiknya. V seharusnya sudah terbiasa dengan hal ini, tapi peringatan itu selalu saja muncul ketika V sedang dalam keadaan tidak siap. Dengan kesal V buru-buru menekan tombol close yang terletak pada sisi kanan atas layar. Kalau bisa ia ingin mematikan sistemnya untuk selamanya, tapi itu tidak mungkin. Seberapa bencinyapun V, yang bisa ia lakukan hanyalah menyumpah-nyumpah dalam bahasa yang tidak dimengerti orang lain selain dirinya sendiri. Sementara V sibuk dengan sumpah serapahnya, Mark sudah tak lagi berada di tempatnya. Hanya dalam hitungan detik saja Mark menghilang entah kemana. Jika V diperbolehkan untuk menyamakan sasarannya dengan hewan, maka V akan memilih menyamakan Mark dengan belut, mereka sama-sama sulit untuk ditangkap. Tubuh V melorot ke dahan pohon. Ia tidak pernah selelah ini sebelumnya. Meski masih kesal, V memposisikan dirinya untuk terbang menyusul Mark. Bagaimanapun juga ia harus bersikap profesional dan segera mengakhiri urusannya dengan belut yang berwujud seperti pangeran tampan itu.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil Mark berhenti di sebuah sekolah seni. Entah apa yang dilakukannya disini, V tidak peduli. V mendarat di atap salah satu gedung sekolah, cukup dekat dengan posisi Mark sekarang. Tempatnya cukup strategis untuk membidik sasaran. V memposisikan busur di depan badannya. Bersiap untuk melepas anak panah pada sasaran. 1.. 2.. BRUK! Seseorang menabrak V dari belakang. Badannya terpental ke depan. Dengan sigap, kedua sayapnya langsung mengepak dan menerbangkannya ke udara. Di belakangnya sesosok makhluk dengan pakaian serba hitam terkekeh geli. Sayapnya hitam mengkilap seperti baru dipoles.

"Rap Monster? Apa yang kau lakukan disini?"

V tergagap. Ia tidak tahu jika dirinya akan bertemu lagi dengan musuh bebuyutannya di tempat seperti ini. Rap Monster adalah seorang Love Breaker, mahkluk-makhluk yang tugasnya berbanding terbalik dengan Love Shooters. Mereka mematahkan hati manusia dan selalu berusaha menghalang-halangi tugas Love Shooters. Jumlah Love Breakers tidak sebanyak Love Shooters, tapi satu Love Breaker saja sudah cukup merepotkan. V pernah beberapa kali bertemu mereka—lebih tepatnya diganggu oleh mereka, mereka benar-benar mengacaukan tugas-tugas V. Jujur saja, V tidak pernah ingin bertemu dengan mereka lagi, bahkan untuk minum teh sekalipun.

"Melakukan tugasku, tentu saja. Apa ini caramu menyambut sahabat lama? Dan ini!" Rap Monster menunjukan busur dan panah milik V. Ia mencurinya saat menubruk V dari belakang. "Apa aku boleh meminjamnya sebentar? Punyamu terlihat lebih bersinar daripada punyaku." Rap Monster memelas. Mungkin dalam hatinya ia merasa dirinya terlihat seperti anak anjing maltese.

V melihat wadah panahnya. Seharusnya ada dua anak panah yang tersisa, tetapi berapa kalipun V menghitungnya, hanya ada satu anak panah lagi. Anak panah yang satu lagi mungkin sudah terlepas saat V mencoba membidik Mark tadi. Tidak apa-apa, pikir V. Selama anak panah itu mengenai sasaran, tugasnya hari ini sudah selesai.

"kembalikan panahku sekarang juga, atau aku akan—"

Sebelum V sempat menyelesaikan kalimatnya, Rap Monster terbang secepat kilat membawa panah milik V. Spontan, V langsung menyusulnya. Tapi Rap Monster terlalu cepat. Saat V tiba di atap gedung lain, Rap Monster telah berada dalam posisi untuk membidiknya. Dan yang lebih buruknya lagi, Rap Monster menggunakan panah milik V untuk menyerangnya. V tahu anak panah Cupid tidak akan membunuhnya, tetapi kalau ia terkena anak panah itu pasti akan ada efek sampingnya. V tidak tahu apa, ia tidak pernah ingin membayangkannya. Ia tidak pernah membayangkan akan terkena panah miliknya sendiri. V dan panahnya telah bersama-sama dalam waktu yang lama. Tentunya ia tidak mau mengalami yang namanya 'senjata makan tuan'. V mengumpulkan tenaganya. Mengambil ancang-ancang dan terbang sekuat tenaga menuju Rap Monster. Maksud hati ingin menjatuhkan musuhnya untuk membalas apa yang terjadi sebelumnya, tapi sayang ia kalah cepat. Sebelum V sempat merebut panahnya, Rap Monster telah menyerangnya lebih dulu. Anak panah miliknya tertancap tepat di jantungnya. Rasa sakit dan ngilu menjalari tubuhnya. Dalam hatinya V terus merapal doa. Aku tidak akan mati. Tidak, aku tidak akan mati. Tidak boleh mati. Kelopak matanya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Matanya perlahan mulai menutup, dan kesadarannya pun hilang.


Badan V terasa remuk. Bahkan untuk menggerakan jemarinya pun ia tidak sanggup. Badannya melayang, tapi ia tidak terbang. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Pandangannya terlihat samar seolah ada kabut yang menghalangi. Tapi V bisa melihat bahwa kedua tangannya memeluk erat leher seseorang. Kulit lehernya terasa lembut di pipi V. Aroma yang menyeruak dari tubuh orang itu begitu segar dan menenangkan. Apa ini mimpi? Tidak. Love Shooters tidak pernah bermimpi. Bahkan tertidur sekalipun tidak pernah. Apa ini surga? Mungkin saja. Mungkin perkiraannya salah. Senjatanya mungkin memang bisa membunuhnya. Tetapi jika ini surga, bagaimana V menjelaskan orang yang sedang menggendongnya saat ini? Ia tidak ingat kalau di surga seseorang akan menggendongmu kemana-mana. Pandangannya berputar-putar. Kepalanya terasa ditusuk jarum. V tidak bisa menahannya, jadi ia putuskan untuk kembali memejamkan matanya.


-Jeon Jungkook-

Jungkook tidak pernah tertidur di kelas. Seorang murid teladan sepertinya tidak akan pernah tertidur saat pelajaran berlangsung. Tidak, tidak pernah sebelumnya, sampai hari ini. Lagipula bukan salah Jungkook jika ia tertidur di kelas. Semua itu semata-mata karena guru sejarahnya. Suaranya yang lembut dan kecil terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Seberapa kerasnyapun usaha Jungkook untuk menahan rasa kantuknya, akhirnya ia tertidur juga. Guru perempuan itu memang tidak pernah menegur siapapun yang tidur di kelas, dengan syarat nilainya harus bagus saat ulangan. Tidak sulit. Jungkook menempati posisi 10 besar dalam peringkat nasional. Tertidur satu kali tidak akan membuat peringkatnya merosot begitu saja, kan? Jungkook tertidur dengan lelap, ia bahkan tidak sadar saat pelajaran sudah usai. Saat Jungkook terbangun, seisi kelasnya telah kosong. Sepertinya semua orang sudah pulang tanpa repot-repot untuk membangunkannya. Jika bukan karena ponselnya yang bergetar terus-menerus karena telpon dan sms masuk, mau tidak mau Jungkook mungkin harus menginap di sekolah itu. Jungkook melihat layar ponselnya. Lima belas sms dan 30 missed calls dari Jimin. Sahabatnya itu pasti khawatir karena Jungkook tak kunjung pulang. Jungkook buru-buru memasukan alat tulisnya dan pulang.

Jungkook membenci sekolahnya. Jarak antara gedung sekolah ke gerbangnya dibuat jauh sekali. Belum sampai ¾ jalan, Jungkook sudah kelelahan. Jarak ini juga merugikan bagi orang-orang yang sering kesiangan. Walaupun Jungkook bukan salah satunya, ia merasa prihatin juga pada mereka. Ponsel Jungkook bergetar-getar di dalam saku menyadarkan Jungkook dari renungan kecilnya. Telepon dari Jimin. Jujur saja Jungkook sangat menyukai betapa Jimin selalu perhatian padanya. Tapi jika Jimin terus-terusan menelponnya seperti ini, ia agak kesal juga.

"Ya, hyung?" Kata Jungkook dengan nada malas-malasan. "Jeon Jungkook! Dimana kau? Kenapa belum pulang? Lihatlah jam berapa ini? Apa terjadi sesuatu? Apa aku perlu menjemputmu?" Jungkook menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara Jimin yang melengking bisa-bisa merusak gendang telinganya. Begitulah Jimin. Saat ia sedang khawatir akan sulit mendapatkan kesempatan untuk bicara. Diinvestigasi polisi rasanya lebih menyenangkan daripada ditanya-tanya oleh Jimin. "Hyung, katakan satu-satu! Kau membuatku bingung. Aku baik-baik saja. Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Tunggu saja di rumah. Aku akan segera pul—" Jungkook menjatuhkan ponselnya. Rasa nyeri menyerang dadanya secara tiba-tiba. Rasanya seperti ditusuk oleh jarum. Otot-ototnya dalam tubuhnya serasa dialiri listrik. Jungkook menepuk-nepuk dadanya. Ia tidak ingat kalau dirinya punya riwayat penyakit serius. Hanya dalam hitungan detik, Jungkook kembali normal. Dadanya tidak terasa nyeri lagi. Jungkook meraih ponselnya yang tergeletak dengan mengenaskan di tanah. Ponselnya kembali bergetar, dan sebuah pesan masuk dari tertera di layar.

Dari: Kim Yugyeom

Jeon! Kau masih di sekolah? Maaf aku tidak sempat membangunkanmu. Aku buru-buru =P Oh ya, bisa tolong bawakan sepatu olahragaku yang tertinggal di lapangan bola? Aku lupa membawanya. Tolong ya.. Aku mencintaimu Jeon 333'

Oh yeah. Itulah yang namanya teman. Mengingatnya ketika kau sedang membutuhkan. Jungkook menyimpan ponselnya ke saku, dan beranjak dari tempatnya. Di sekolah, Jungkook tidak pernah dekat dengan siapapun. Jungkook selalu bersikap tertutup dan dingin pada semua orang. Tidak masalah jika ia tidak memiliki teman. Itu justru akan membantunya lebih fokus dalam belajar. Karena sikapnya itu, tidak heran jika tidak ada yang mau berteman dengannya. Jungkook bahkan mendapat julukan si pintar yang kesepian. Tetapi entah kenapa akhir-akhir ini Kim Yugyeom selalu menempel padanya seperti lintah yang sulit untuk dimusnahkan. Meski Jungkook terus bersikap dingin, Yugyeom selalu kembali dan menempel lagi padanya.

Jungkook berjalan tersaruk-saruk menyusuri lapangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sepatu Yugyeom dimanapun. Ia merasa dirinya mungkin sedang dipermainkan. Jungkook bersumpah, jika Yugyeom berani mempermainkannya, ia tidak akan segan untuk membunuhnya. Matahari sore yang berwarna jingga menyoroti kulitnya yang kering. Jungkook berhenti sebentar untuk melihat matahari yang akan terbenam. Indah sekali, pikirnya. Suatu objek besar bersayap secara tiba-tiba terbang melintasi langit sore. Jungkook tidak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya matahari menyilaukan matanya. Bentuknya seperti burung, tapi jauh lebih besar.

BRUK!

Sesuatu terjatuh tepat di belakang Jungkook membuatnya terlonjak dan menjerit seperti seorang gadis. Jungkook menengok ke sekitar dengan panik, berharap tidak ada yang melihatnya. Di belakangnya, seseorang dengan pakaian yang aneh terbaring tidak sadarkan diri. Apa dia baru saja melompat dari atap gedung? Jungkook buru-buru menghampirinya. Orang itu baru saja terjatuh dari tempat yang tinggi, tapi anehnya ia tidak memiliki luka atau goresan sedikit pun. Jungkook mengguncangkan tubuhnya dengan sangat hati-hati, tapi ia tetap tidak bergerak. Jungkook memeriksa nadinya. Masih ada. Dia masih hidup. Jungkook mengeluarkan ponselnya dan menelpon 911. Suhu tubuh orang itu semakin menurun. Tangannya sedingin mayat. Jungkook menarik tubuh orang itu ke punggungnya, menggendongnya menuju gerbang. Ia tidak bisa diam saja sementara sementara ambulance masih dalam perjalanan.


***Terimakasih untuk teman-teman yang sudah follow, fav, dan memberikan review untuk fanfic ini. Jangan ragu untuk memberikan kritik dan saran! Aku cinta kalian~^^