-Jeon Jungkook-

Jungkook tidak suka rumah sakit. Ke ruangan manapun ia pergi, bau obat-obatan selalu mengikuti. Di sekitarnya orang-orang mengeluh kesakitan. Ia ingin segera keluar dari tempat itu. Tapi tidak bisa secepat itu. Ia terlanjur menjerumuskan diri sebagai wali pria aneh yang jatuh dari atap gedung sekolahnya. Tidak ada ponsel ataupun dompet. Pria itu benar-benar jatuh dengan tangan hampa. Setidaknya kalau ia mau bunuh diri, ia harus menelpon keluarganya untuk mengucapakan selamat tinggal. Jungkook mengamatinya dengan seksama. Dokter bilang orang itu baik-baik saja. Selain shock dan kelelahan, tidak ada luka serius. Pakaian yang dikenakannya sangat aneh. Bajunya adalah linen putih seperti gaun sepanjang lutut ala orang-orang Yunani Kuno. Mahkota dari daun dafnah menghiasi rambut coklatnya. Melihat penampilannya, Jungkook agak waswas. Seharusnya ia tidak berpikiran macam-macam, tapi Jungkook harap yang digendongnya ke rumah sakit adalah orang waras dari kelas teater yang sedang memainkan peran. Namun merasa depresi karena tidak bisa menghapalkan naskahnya, lalu memutuskan untuk menjatuhkan diri dari gedung berlantai tiga. Bukannya orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa dan melompat karena mengira lapangan sekolah Jungkook adalah taman bunga yang terhampar luas. Ya, semoga.

Sudah 3 jam sejak mereka berada di rumah sakit, tapi orang itu tak kunjung sadar. Sebenarnya Jungkook bisa saja meninggalkannya. Toh mereka tidak punya hubungan apa-apa. Tapi sampai saat ini belum ada juga yang mencari orang ini. Jungkook ingin segera pulang. Jimin sudah mengiriminya puluhan sms memintanya untuk segera pulang. Tapi Jungkook tidak mau jadi menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Setidaknya Jungkook akan menungguinya sampai sadar. Sementara Jungkook melamun, si orang aneh menggeliut di kasurnya. Menguap dan meregangkan tangannya lebar-lebar. Daripada terlihat seperti orang yang baru terjatuh dari tempat tinggi, ia justru terlihat seperti baru bangun di pagi hari setelah menikmati mimpi indahnya. Ia tersenyum lebar pada Jungkook seolah tak terjadi apa-apa. "Apa aku di surga?" Kata orang itu dengan wajah polosnya. Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa aku terlihat seperti malaikat?" orang aneh itu tersenyum. Entah bagaimana caranya tapi bibirnya jadi berbentuk kotak. "Kau tidak punya sayap. Kau terlihat seperti manusia." Gawat! Rupanya Jungkook memang menyelamatkan orang gila. Jungkook menyesal karena tidak meninggalkannya saja dari tadi. "Kau bicara seolah-olah bukan manusia." orang itu membeku. Perkataan Jungkook sepertinya menamparnya untuk terbangun dari mimpi. Dengan panik ia memutar kepalanya ke belakang. Meraba-raba punggungnya dengan panik. Jungkook takut kalau-kalau orang itu mematahkan kepalanya. Ia berteriak-teriak histeris sampai-sampai membangunkan seisi rumah sakit. Jungkook berusaha menenangkannya, tapi ia terus saja mengatakan tentang kehilangan sayapnya. Matanya bergerak mengitari ruangan. Ia tampak terkejut saat melihat semua orang.

"Hey! Kumohon tenanglah." Jungkook memeluknya. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan orang aneh itu. Apa yang hilang? Sepertinya itu sangat berharga. Jungkook tahu betul bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Pelukan Jungkook mungkin terasa menenangkan. Pria aneh itu sudah berhenti berteriak sekarang. Dadanya naik turun karena kelelahan.


Jungkook tidak pernah membiarkan orang lain masuk ke rumahnya. Jimin adalah pengecualian. Bagi Jungkook membawa orang lain ke rumahnya sama saja membuka peluang bagi orang-orang untuk mengetahui sisi lemahnya. Tapi disinilah ia sekarang, membawa seorang pria aneh yang hobinya melamun sepanjang waktu sambil memeluk kedua lututnya. Jungkook menanyakan tentang keluarganya, tapi ia malah meracau tentang hal-hal aneh yang tidak mengertinya. Entah ia seorang alien atau memang sudah gila, yang jelas Jungkook tidak nyaman kalau harus menghabiskan malam dengannya. Jungkook ingin menyerahkannya pada polisi, tapi pria aneh itu malah merengek seperti bayi.

"Hati-hati dengan pikiranmu, Tuan Jeon! Aku mungkin aneh, tapi tidak gila." Jungkook tersentak. Pria aneh itu bisa membaca pikirannya. Jungkook menyilangkan tangannya di dada, membentuk pertahanan. Ia harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. "K-kau! Kau bisa membaca pikiranku? Bagaimana kau tahu namaku?" "Aku bukan orang biasa, Tuan Jeon. Aku Love Shooter." Pria itu menatap Jungkook. Eyeliner membuat matanya yang tajam terlihat begitu mengintimidasi. Jungkook balik menatap matanya. Kenapa ia terlihat sangat bersungguh-sungguh? Ia harap satu detik kemudian pria itu akan melompat dari sofa sambil meneriakan "APRIL MOP! KENA KAU! HAHAHA" Tapi ia tetap saja tak bergerak. Ada yang tidak beres dengan kepalanya. Mungkin ia terbentuk sesuatu yang keras. Seharusnya dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh agar tidak terjadi hal-hal seperti ini. "Maafkan aku Tuan Siapapun Namamu. Sepertinya kau harus istirahat. Aku akan meninggalkanmu disini." Jungkook berlari ke kamarnya, menguncinya beberapa kali untuk memastikan orang itu tidak berkelayapan ke kamarnya saat ia tertidur. Sebenarnya Jungkook juga tidak yakin ia bisa tertidur saat di rumahnya ada orang aneh yang bisa membaca pikiran. Jungkook agak menyesal membawanya ke rumah. Jungkook meringkuk di bawah selimut. Hari ini terasa seperti mimpi buruk baginya. Satu menit kemudian ia tertidur.


-Kim Taehyung-

Malam berganti siang. V masih belum beranjak dari sofa empuk di rumah Jeon Jungkook. Rumahnya begitu besar, tapi tidak memiliki kehangatan atau cinta. Semua itu membuatnya menggigil. Setelah sempat kehilangan kesadaran, V terbangun di sebuah rumah sakit manusia. Sayap yang biasanya menempel di punggungnya menghilang entah kemana. Mungkin itu adalah efek samping dari anak panahnya. Rap Monster sialan. V menyumpah-nyumpah dalam hati. Rahangnya mengeras. Ia begitu marah. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kehilangan hampir seluruh kemampuannya. Yang tersisa hanyalah kemampuannya dalam membaca pikiran dan menyembuhkan diri. Beruntung V diselamatkan oleh seorang siswa yang bernama Jeon Jungkook. Meskipun Jungkook memandangnya sebagai orang aneh, V tahu kalau ia adalah manusia yang baik. Dari hawanya yang dingin, V bisa menebak kalau Jungkook tidak menerima cinta sebanyak yang dibutuhkannya. Lupakan tentang anak bernama Jeon. V tidak punya waktu untuk itu. Mengurusi dirinya sendiri saja ia tidak tahu bagaimana.

Pukul 7.30 pagi kunci pintu kamar Jungkook dibuka. Jungkook keluar tanpa menggunakan atasan, menampakan otot perutnya yang masih dalam masa pembentukan. Latihan sedikit lagi, maka ia akan mendapat perut batangan coklat seperti model-model minuman pembentuk otot. Badannya cukup bagus untuk anak seusianya. Rambutnya acak-acakan, tapi tetap terlihat tampan. "Selamat pagi, Tuan Jeon." Jungkook tersentak. Ia hampir saja menubruk lemari kaca di ruang tengah satu setengah meter. Dengan sigap, ia menutupi dadanya yang terekspos secara gratis di hadapan orang baru. "Reaksimu berlebihan. Aku hanya menyapa." Jungkook yang panik kembali ke kamarnya. Pintu kamarnya dibanting dengan keras sehingga menimbulkan bunyi bum yang menggemparkan satu kompleks. Tak lama kemudian ia kembali dengan kaos merah kebesaran. Rambutnya sudah disir dengan rapi. Rasanya V tidak berbuat macam-macam, tapi Jungkook selalu menanggapinya berlebihan.

Jungkook pergi ke sebuah ruangan, yang V kira sebagai dapur, karena saat ia kembali tangannya membawa sebuah nampan yang diisi dengan dua cup ramyeon, dua botol susu strawberry, dan semangkuk besar nasi hangat. Jangan bilang kalau Jungkook bermaksud menyuguhinya makanan. V tidak pernah merasakan yang namanya makan. Tidak bohong, melihat pasangan yang berbagi cinta saja sudah membuatnya kekenyangan. "Aku tidak punya makanan. Hanya ini yang bisa ku berikan." Jungkook memberikan satu cup ramyeon pada V. V tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada Jungkook. Ia bahkan sudah menganggapnya seperti orang gila semalam. V melihat-lihat ke sekitar ruangan. Tidak ada foto keluarga terpampang. V juga tidak melihat tanda-tanda keberadaan orang tua Jungkook. "Jadi kau tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Jungkook terkejut. Matanya mendelik tajam pada V. V cukup pintar untuk memahami bahwa itu adalah topik sensitif. "Begitulah." Jungkook mengaduk-aduk ramyeonnya yang sudah matang. "Kau bahkan tidak bisa memasak. Kenapa tidak memiliki asisten rumah tangga?" Jungkook mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia agak kaget bisa membicarakan topik yang normal setelah kejadian semalam. "Sepertinya kau sudah sembuh." V meletakkan ramyeonnya. Ia tidak peduli Jungkook akan mempercayainya atau tidak. Tapi ia tidak suka dianggap seperti orang gila. Kalian bisa memanggilnya aneh, tapi tidak gila. "Pertama-tama, ijinkan aku memperkenalkan diri. Namaku V. Huruf ke-22 dalam alfabet." Jungkook jelas-jelas menahan tawanya. "Namamu... agak unik." V mengerucutkan bibirnya. "Aku tahu. Apakah kau pernah mendengar tentang Cupid?" Jungkook mengangguk tak yakin. "Aku adalah salah satu asistennya. Aku seorang Love Shooters. Aku bertugas untuk membidik manusia dengan panah agar mereka merasakan cinta." "T-tunggu dulu!" Jungkook meletakan cup ramyeonnya dan menyeruput susu strawberry-nya. Kerongkongannya terasa perih karena tersedak air ramyeon yang pedas. Matanya menatap V dengan tidak yakin. V bisa merasakan keraguan di hati Jungkook. Jungkook sangat tidak menyukai lelucon murahan. Tapi sayangnya ini bukan lelucon. "Lihat ini!" V membalikan badannya membelakangi Jungkook. Ia menarik bagian atas bajunya hingga melorot sampai pinggang. Bukan pemandangan yang bagus. Dua bekas luka yang cukup besar menghiasi punggungnya seperti tato yang mengerikan. baju V begitu terbuka, tapi kenapa Jungkook tidak menyadari bekas luka itu. "Ini adalah bekas sayapku. Aku harusnya memiliki sayap. Tapi karena ulah seseorang, sekarang mereka menghilang." V melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan banyak hal, termasuk perkelahiannya dengan Rap Monster. Semula Jungkook menatapnya dengan ragu, tapi ia mendengarkan cerita V dengan baik. "Jadi, Tuan Jeon, kalau boleh aku ingin tinggal di rumahmu untuk sementara, setidaknya sampai aku bisa menemukan cara untuk kembali." V memelas. Sebisa mungkin menunjukan wajah polosnya meminta belas kasihan dari satu-satunya manusia yang dikenalnya. Ekpresi wajah Jungkook melunak. Dari matanya, V bisa melihat kalau keraguannya mulai berkurang. Meski masih ada keraguan di hatinya. "Aku akan bekerja sebagai asisten rumah tanggamu. Kau tidak perlu memberikan gaji. Aku tidak akan merepotkanmu, Tuan Jeon. Aku janji" V meraih tangan Jungkook, mengelus-eluskannya pada pipi seperti seekor kucing. "O-oke, oke, baiklah." Jungkook merebut tangannya. Wajahnya semerah tomat masak. Aku tidak biasa tinggal bersama orang lain. Tapi karena aku sedang baik hati, kau boleh tinggal. Asalkan kau mengganti bajumu yang aneh itu." V memandangi pakaiannya. Tidak ada yang aneh. Ketampanannya juga tidak berkurang walau pakaiannya seperti itu. "Ini bukan baju aneh Tuan Jeon. Namanya khiton*" Jungkook mendengus. "Terserah." "...dan berhentilah memanggilku Tuan. Panggil saja Jungkook." V menunjukan senyum berbentuk kotaknya lagi. Jika dilihat lebih dekat, Jungkook terlihat manisa juga. "Kenapa nama-nama kalian sangat aneh? V? Rap Monster? Apa dia dinamai begitu karena dia terlihat seperti monster dan pandai rapping? Atau dia menyerang musuhnya dengan rap yang tajam dan mematikan?" V tertawa lepas. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu sebelumnya. Love Shooters dan Love Breakers hanya dinamai secara acak tanpa memperdulikan artinya. Sudut bibir Jungkook sedikit terangkat. V kira itu adalah sebuah senyuman. Kenapa kau bisa begitu polos Jeon Jungkook?

*khiton: kain dari wol atau linen yang dililitkan di tubuh dengan bagian bawahnya mencapai lutut.


-Jeon Jungkook-

Jungkook biasanya selalu sendiri. Rumah besarnya selalu sepi. Sejak orang tuanya bercerai rumahnya tidak terasa hangat lagi. Ibunya sibuk bekerja di luar kota. Ayahnya kembali ke kampung halamannya di Busan dan mengurusi bisnis disana. Sebagai anak tunggal, Jungkook mau tidak mau harus hidup sendirian. Asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh ibunya diberhentikan oleh Jungkook lebih dari satu tahun yang lalu dengan alasan masakannya tidak enak. Padahal yang Jungkook butuhkan hanyalah waktu untuk sendiri. Tapi sekarang ia sudah terlalu lama sendiri. Rumahnya yang besar kadang terasa begitu mencekam saat Jungkook sedang kesepian. Hari ini untuk pertama kalinya, rumahnya dipenuhi oleh teriakan dan tawa dari orang lain, selain dirinya dan Jimin. V hanya menonton One Piece di TV, tapi tawanya begitu lepas dan tulus. Jungkook iri padanya. Seandainya kebahagian Jungkook bisa datang sesederhana itu.

Jungkook tidak pernah menyangka kalau orang pertama yang akan dibawanya ke rumah adalah seorang pria aneh yang mengaku sebagai Love Shooter. Harus Jungkook akui, semua ceritanya tidak bisa begitu saja dipercaya. Love Shooter? Di era seperti ini? Tidak mungkin. Jungkook jelas-jelas tidak bisa mempercayainya, tapi ia juga tidak bisa untuk tidak mempercayainya. Berapa kalipun Jungkook mencari kebohongan dari matanya, ia tidak pernah mendapatkannya. Jungkook bisa merasakan kejujurannya. Mungkin memang benar. Mungkin Love Shooter memang nyata. Itulah mengapa ia tidak terluka sedikitpun meski terjatuh dari gedung setinggi itu. Jika ia manusia normal, tulangnya pasti sudah patah, kepalanya remuk, atau yang lebih buruk lagi, meninggal. V bilang mereka punya kekuatan untuk bisa menyembuhkan diri sendiri. Kekuatan untuk menyembuhkan sudah tertanam dalam dirinya seperti mesin yang di-setting otomatis. Bukankah itu luar biasa?

Ding Dong. Bel pintu menyadarkan Jungkook dari lamunannya. Jungkook tidak biasanya mendapat tamu. Selain Jimin, hanya pengantar makanan atau paket saja yang datang ke rumahnya. Walaupun malas, Jungkook beranjak juga dari sofanya. Lagipula ia tidak mungkin menyuruh V membukakan pintu untuknya. Kalau ternyata itu Jimin, Jungkook pasti akan diinterogasi habis-habisan. Jungkook mematung. Seorang pria tampan berdiri di depan pintu, membawa sebuah kotak di tangannya. Badannya tinggi tegap, bahunya lebar. Sweater merah muda dan jeans hitam ketat terlihat pas di badannya. "J-J-Jin Hyung?" Kim Seokjin, tetangganya sejak kecil terlihat semakin tampan sejak ia pulang dari luar negeri. "Hari ini aku dan ibu mampir ke toko kue." Jin memberikan kotak kue yang dijinjingnya pada Jungkook. Senyuman di wajahnya tidak pernah hilang sejak Jungkook membukakan pintu. Wajah Jungkook memanas seketika. Mungkin karena cuaca. Jungkook membuka mulutnya untuk mengucapkan terimakasih, tapi suara yang keluar justru terdengar seperti cicitan tikus yang terjepit. Jin menatapnya dengan aneh. Jungkook jadi salah tingkah. Ini buruk, pikirnya. "H-Hyung a-aku—" Bukan. Jin tidak menatapnya, tapi ke belakang Jungkook. Di belakangnya, V yang entah sejak kapan berada disana menggeliang-geliut seperti cacing kepanasan. Kedua tangannya diletakkan di kepala—membentuk hati. Wajah Jungkook serasa terbakar karena malu. Jungkook memutar badannya dengan kaku. Tidak jauh beda dengan robot-robot buatan Jepang. "Si-siapa?" bisik Jin. Jungkook panik. Apa yang harus dikatakannya? V bukanlah siapa-siapa. Tapi kalau Jungkook bilang begitu, Jin pasti akan menganggapnya sebagai remaja liar yang membawa sembarangan pria ke rumahnya. Kalau ia bilang teman, Jin mungkin tidak akan percaya. Jungkook tidak pernah membawa temannya ke rumah, selain Jimin. Jin pasti cukup tahu kalau Jungkook tidak pandai bersosialisasi. Jungkook juga tidak mungkin bilang kalau V adalah Love Shooters "Oh, ituloh! Dia yang suka melepaskan panah asmara." Jin pasti akan menganggapnya sudah gila. "SEPUPUKU!" Jin tersentak karena Jungkook tiba-tiba berteriak. Mengakui V sebagai sepupunya mungkin ide terbaik yang pernah dipikirkannya. "Iya, sepupu! Namanya..." Jungkook memutar otaknya. Nama V pasti akan terdengar aneh di telinga Jin. Lebih baik jika ia menggantinya agar terdengar lebih Korea. Sinar matahari di kejauhan menyilaukan matanya. Memberikan sebuah ide untuk Jungkook. "Tae.. Hyung.. Kim?" Eja Jungkook "Kim Taehyung?" Jin mengangkat alisnya. "Y-ya. Taehyung, ini tetangga kita, Jin Hyung." Jungkook mengisyaratkan V untuk memberikan salam. Seperti seorang anak yang baik, V menurut dan memperkenalkan diri. Syukurlah ia memperkenalkan diri dengan cara yang normal. Setelah Jin pergi, di sampingnya, V tiba-tiba berdiri begitu dekat dengannya. Memerankan peran sepupu yang sesungguhnya, V dengan santai menyampirkan lengannya di bahu Jungkook. "Aku suka Kim Taehyung." Bisik V di telinganya. Jungkook merinding. Ia melepaskan diri dan berlari ke kamar. Aku lama-lama bisa gila.


** Halo, halo, teman-teman! ^^ Aku udah baca semua komentarnya :D terimakasih atas respon baik kalian \bow/

Oh ya, sebenernya aku belum mutusin soal siapa top/bottomnya? Jadi, kalau boleh aku mau minta saran kalian baiknya siapa yang top dan siapa yang bottom.

Jangan segan untuk memberikan kritik dan saran :D

Aku cinta kalian~^^**