-KIM TAEHYUNG-
Kim Taehyung. V sangat menyukai nama itu. fakta bahwa Jungkook memberikan nama itu dengan penuh pemikiran dalam waktu singkat, membuatnya semakin menyukai nama itu. Tae diambil dari kata "taeyang", yang berarti matahari, dan hyung yang artinya kakak laki-laki karena Jungkook pikir Taehyung mungkin saja lebih tua darinya. Dengan kata lain, Taehyung berarti kakak laki-laki yang bersinar seperti matahari. Sebenarnya V juga tidak tahu pasti berapa usianya. Dengan perhitungan kasar, mungkin ia hanya satu atau dua tahun lebih tua dari Jungkook menurut waktu manusia. Lalu, mengenai marga Kim yang menjadi nama belakangnya, Jungkook hanya mengambilnya secara acak. Tidak benar-benar acak sih. Mungkin pria bernama Kim Seokjin itulah penyebabnya. Ngomong-ngomong soal Kim Seokjin, pria berbahu lebar itu membuat Jungkook marah padanya hingga berhari-hari. V akui, kesalahan memang ada padanya. Ia tidak sengaja membaca pikiran Jungkook dan menemukan fakta bahwa Jungkook menaruh sedikit perasaan pada Seokjin. Instingnya sebagai Love Shooter, tidak bisa hanya diam dan menyaksikan seseorang menderita karena perasaannya sendiri. Sayang, meski instingnya bekerja dengan baik, ia tidak memiliki daya untuk membuat mereka jatuh cinta. Panahnya telah dicuri, sayapnya menyusut hingga meninggalkan dua bekas luka sebesar telapak tangan. Meski begitu, semangatnya tidak pernah padam. Ketidak berdayaannya membuat harga diri V sebagai Love Shooters terluka. Oleh karena itu, ia memberikan tanda pada Seokjin dengan membentuk hati dengan kedua tangannya. V yakin sekali tandanya sudah sangat jelas. Tapi, alih-alih mengerti, Seokjin hanya berdiri disana, melemparkan tatapan bingung seolah sedang melihat hewan spesies baru. Apa yang salah dengan itu? Pikirnya. Itulah kenapa manusia tidak pernah peka. Mereka tidak pandai membaca tanda. Segala pemikiran tentang Jeon Jungkook selalu membuatnya khawatir. Jungkook tidak akan marah padanya selamanya, kan? Mungkin Jungkook hanya butuh waktu untuk terbiasa dengan perilakunya. Meski memiliki badan berotot dan wajah yang polos, saat marah, Jungkook tidak berbeda jauh dengan anak perempuan. Pandai sekali menyimpan dendam. Cklek. Jungkook membuka pintu kamarnya. Mengenakan setelan pikachu—kartun favoritnya. Mungkin seharusnya Jungkook tampak konyol dengan pakaian itu, tapi sebaliknya ia justru terlihat begitu manis. Rambutnya yang masih acak-acakan menyembul dari balik tudungnya. Wajahnya sedikit bengkak akibat makan ramyeon semalam. Bagaimana bisa seorang pria telihat begitu manis mengenakan pakaian konyol macam itu? Sial. V melirik jam di dinding. Masih pukul 7.05 pagi. Tumben sekali Jungkook bangun sepagi ini di hari libur. V berdiri dari tempatnya, menghampiri si tuan rumah. "Selamat pagi Jungkook." Sapanya. Tidak ada jawaban. Mata Jungkook setengah terpejam. Ia masih terlihat linglung. Mungkin nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Ia terlihat seperti orang yang sedang mabuk. "Kau baik-baik saja?" Jungkook hanya mengangguk. Ia mengerutkan alisnya, memandangi jam besar yang dipajang di ruang tengah rumahnya. Entah apa yang dipikirkannya. V selalu kesulitan membaca pikiran orang yang tidak sepenuhnya sadar. Pikirannya simpang siur antara alam bawah sadar dengan kenyataan. Jungkook tampak terkejut saat melihat jam, sepertinya ia sadar, kemudian secepat kilat berlari keluar rumah. Apa dia sungguh-sungguh baik-baik saja? V menggendikan bahunya.
V meregangkan otot-ototnya yang kaku. Akhir-akhir ini ia tidak banyak bergerak. Yang ia lakukan hanya duduk di sofa selama berhari-hari tanpa makan dan tidur. Ia bahkan bukan Rapunzel yang terjebak untuk tinggal bersama penyihir di menara tinggi, tapi V tidak pernah sekalipun pergi ke luar rumah. Ia masih belum terbiasa bepergian dengan berjalan kaki. Dinyalakan televisi berlayar datar di ruang tengah. Acaranya agak membosankan. Hanya menunjukkan sekelompok manusia menggerakkan anggota tubuhnya, atau yang mereka sebut senam. Pemandu acara itu bilang, dengan melakukan gerakan-gerakan tersebut, tubuhmu bisa kembali segar. V berdiri untuk mengikuti gerakan-gerakan itu. Ya, tidak ada salahnya mencoba. Badannya bergerak mengikuti irama. Gerakannya mudah diikuti. Baru 10 menit saja, keringat V sudah mulai bercucuran. V melirik ke arah jam dinding. Sudah satu jam sejak Jungkook keluar rumah. Itu membuatnya khawatir. Jungkook biasanya tidak pernah bangun sepagi ini jika sekolah libur. Hal itulah yang dipelajari V setelah tinggal bersama Jungkook kurang lebih satu minggu. Selain itu, ada satu hal yang terlambat ia sadari. Jungkook adalah orang yang sangat peduli akan citra dirinya. Ia tidak mungkin keluar rumah dengan pakaian aneh macam itu.
V membuka pintu depan rumah itu dengan hati-hati seolah terbuat dari bahan mudah pecah. Semilir angin menerpa wajahnya dengan lembut. Pintu terbuka menunjukkan halaman depan rumah Jungkook yang cukup luas. Beberapa pohon dan bunga yang mulai bermekaran menghiasi halaman. Sebagai seorang pelajar laki-laki yang tinggal sendiri, Jungkook cukup pandai merawat rumahnya. Lingkungan rumah Jungkook cukup strategis. Suasananya sangat tenang dan nyaman. Di kiri, kanan, dan seberang jalan, rumah-rumah besar berjajar rapi. Pohon-pohon rindang di pekarangan rumah membuat udara lebih segar. V menghirup oksigen banyak-banyak seoakan tidak akan mendapatkannya di tempat lain. Dibukanya gerbang yang warnanya mulai memudar itu. Jalanan begitu sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat sesekali. Kira-kira ke arah mana Jungkook pergi?
"Taehyung Kim?" ujar sebuah suara dari belakangnya. V tidak perlu melihat wajahnya untuk mengenalinya. Sudah pasti itu adalah suara si bahu lebar—Kim Seokjin. Lagipula tidak ada yang tahu nama Taehyung selain Jungkook dan Seokjin. Bagaimanapun juga, Seokjinlah orang yang mendorong terlahirnya nama itu. V membalikkan badannya. Seokjin masih terlihat sama seperti kemarin—tampan dan berbahu lebar. Ia mengenakan hoodie pink yang tampak menggelikan, namun cocok disaat yang bersamaan. Dari situ V bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa pria tampan yang bernama Kim Seokjin ini adalah pecinta warna pink. Unik sekali. "Oh, selamat pagi Tuan Kim Seokjin." V menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Ia harus meninggalkan kesan baik pada semua manusia yang ditemuinya. Kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mereka hanya akan datang sekali dalam hidupnya. Sejauh ini tidak pernah ada Love Shooters yang berinteraksi langsung dengan manusia. Ini adalah kesempatan langka. V beruntung bisa mendapat kesempatan ini. Ia cukup yakin bahwa dirinya adalah Love Shooter pertama yang dapat melakukan hal ini. Jin balas tersenyum. Tak heran jika Jungkook tergagap seperti orang bodoh kemarin. Saat tersenyum seperti itu, Jin terlihat seperti tokoh fiksi yang ada di anime-anime yang ditontonnya. "Tidak perlu memanggilku seperti itu. Panggil saja.. uhm.. panggil aku.." sambil berpikir Jin mengamati V dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dari pikirannya, V bisa membaca dengan jelas kalau Jin sedang menerka-nerka usianya. Sepertinya Jin agak dibingungkan dengan suara V yang berat dan besar. "Suaraku mungkin terdengar seperti pria usia 30-an. Tapi percayalah, aku baru 20 tahun usia manusia. Jin menahan tawa. Fakta bahwa pria yang ada di hadapannya berusia 10 tahun lebih muda dari yang diperkirakannya, mungkin terasa menggelitik tenggorokannya. Jujur saja, V agak tersinggung karenanya. Kau tahu sendiri, usia selalu saja jadi topik sensitif bagi setiap orang. "Oh, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Kalau begitu, mulai sekarang kau bisa memanggilku hyung." V mengangguk. Ia tidak ingin berdebat lebih lama dengan pria berbahu lebar. "Mau pergi ke suatu tempat?" V tidak yakin apakah itu benar-benar hanya sebuah pertanyaan atau sebuah pertanyaan yang bermakna ajakan. "Oh, ya. Uh, tidak juga." Kening Jin mengkerut. "Maksudku, apa kau melihat Jungkook?"
-Jeon Jungkook-
Jungkook harus menyiapkan fisik dan mentalnya. Bertemu Jimin bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Kali ini ia pasti dimarahi habis-habisan. Jujur, Jungkook senang Jimin selalu memperhatikannya. Tapi terkadang Jimin selalu bersikap berlebihan. Ocehannya lebih menyebalkan dari ocehan ibu mertua. Ia juga senang menggunakan nada tingginya yang memekakan telinga saat meluapkan emosinya pada Jungkook. Sebenarnya hari ini Jimin memaksa untuk datang ke rumah Jungkook, tapi Jungkook melarangnya. Ia belum menceritakan soal Taehyung padanya. Kalau Jimin tidak diberitahu lebih dulu, Jungkook pasti diceramahi 24 jam non stop karena sudah membawa orang asing ke rumah. Untungnya Jimin setuju untuk bertemu dengannya saat lari pagi. Bagaimanapun, Jimin sangat menyukai hal-hal yang bisa membuat otot-otot di tubuh mungilnya itu bergerak. Jungkook mengusap-usap kedua lengannya. Pagi ni terasa lebih dingin dari biasanya. Jungkook harusnya mengingatkan dirinya untuk membawa jaket saat keluar rumah tadi. Jungkook berlari mengitari jalanan kecil di pinggir sungai. Tapi semakin jauh Jungkook berlari, semakin sakit pula telapak kakinya dipijakkan. Jungkook mempercepat langkahnya, tapi rasa sakitnya malah menjadi-jadi. Mungkin semua itu karena ia jarang olahraga akhir-akhir ini. Rasa sakitnya sedikit berkurang saat Jungkook memperlambat langkahnya. Bisa bahaya jika ia memaksakan diri untuk terus berlari. Ia tidak mau terjadi hal yang lebih buruk pada kakinya. Jungkook melirik kedua kakinya yang malang. Saat itulah ia baru menyadari betapa bodoh dirinya. Semua prestasi yang telah dicapainya selama ini, tiba-tiba serasa tidak ada harganya. Sepintar apapun Jungkook, ia tak menyangka kecerobohan bisa menguasai dirinya.
"S-sepatuku? B-bajuku—" wajah Jungkook memucat. Air ludahnya terasa sepahit pare saat ditelan. Keheningan yang sejak tadi menemaninya tiba-tiba pergi, digantikan dengan beberapa bisikan-bisikan yang menggelitik telinga. Jungkook melihat ke sekitar. Beberapa orang menatapnya sambil cekikikan. Jungkook tidak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang mereka tertawakan. Beberapa anak bahkan mencoba mendekatinya, salah mengira dirinya sebagai badut. Sial. Jungkook mengutuk-ngutuk dalam hati. Wajahnya merah dan panas. Hal bodoh ini terjadi semata-mata karena taruhan bodohnya dengan Jimin. Jimin bilang, jika Jungkook datang terlambat, ia harus mau pergi kencan buta dengan salah satu teman Yoongi—pacar Jimin. Tentu saja Jungkook tidak mau hal itu terjadi. Jadi, ia pergi buru-buru sehingga lupa untuk mengganti pakaian dan sepatu. Tak heran jika kakinya terasa begitu sakit saat berlari. Bagaimana tidak, kedua kakinya yang malang itu harus berlari tanpa alas. Jeon Jungkook kau sangat bodoh! Jungkook tidak pernah merasa sebodoh ini. Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya. Semua perhatian tertuju padanya. Ia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Jungkook berusaha berlari menuju tempat ia dan Jimin janji untuk bertemu, tapi ia malah menabrak seseorang di hadapannya hingga bokongnya yang berharga berhasil mencium jalanan beraspal. Jungkook tidak bisa lebih malu lagi. "Maaf. Maafkan aku." Orang itu mengulurkan tangannya. Berusaha bersikap ramah. Sayangnya Jungkook sedang tidak ingin berurusan dengan orang lain. Jadi, ia mengabaikannya. "Hey, kau tidak sekuat itu untuk berlari di cuaca yang dingin ini tanpa sepatu. Lihatlah betapa merahnya kakimu." Orang itu berjongkok di hadapan Jungkook. Menarik satu kaki Jungkook, lalu memasangkan sebuah kaos kaki. Jungkook terkejut. Hampir saja ia menendang wajah orang asing itu. Jungkook mengangkat kepalanya. Suara orang asing itu tidak terdengar asing di telinganya. Itu adalah suara seseorang yang akhir-akhir ini menemani, tidak, yang akhir-akhir ini mengganggu hidupnya. "T-Taehyung? Ah, bukan. Maksudku V. A-apa yang kaulakukan disini?" V memakaikan kaos kaki lagi pada kaki Jungkook yang satunya. Mengabaikan pertanyaan Jungkook. "Sudah kubilang aku suka Taehyung—" Jungkook menepis tangan Taehyung, dan memakai sendiri sepatu olahraga berwarna merah favoritnya. Bisa-bisanya orang sepertinya muncul di saat seperti ini. Jungkook meringis saat telapak kakinya bersentuhan dengan alas sepatu. Kaki-kakinya pasti lecet-lecet karena habis berlari tadi. Tapi tiba-tiba tubuhnya dipaksa untuk berdiri. Taehyung berjongkok lagi di hadapannya. Tangan Taehyung yang kurang ajar itu, memakaikan lagi Jungkook sepatu dan mengikatkan talinya. Membuat sebuah simpul rapi yang tidak mudah lepas. Darimana ia tahu cara mengikat tali sepatu, sementara dirinya tidak pernah memakai sepatu sekalipun? Mungkin karena Taehyung terlalu banyak menonton televisi, ia jadi tahu banyak hal, termasuk cara mengikat sepatu. "Aku akan menggunakan nama itu mulai sekarang. Jadi, panggil aku Taehyung." Tanpa sadar Jungkook terus menatapnya. Entah kenapa, di posisinya sekarang ini Taehyung terlihat lebih tampan dari biasanya. Yah, bukan berarti sebelumnya ia tidak tampan. Taehyung selalu terlihat tampan sejak pertama Jungkook melihatnya. Sikapnya sekarang ini, hampir saja membuat Jungkook menganggapnya sebagai laki-laki. "Sekarang naiklah!" Taehyung memecahkan lamunannya. Iaberdiri membelakangi Jungkook, menunjuk punggungnya, mengisyaratkan Jungkook untuk naik. Mulanya Jungkook ragu. Ia tidak pernah digendong oleh seseorang sebelumnya. Terakhir kali ia digendong adalah saat ia berusia 5 tahun. Ia masih membeku di tempatnya saat Taehyung menarik Jungkook ke atas punggungnya. Punggung Taehyung hangat dan nyaman. Jungkook merasa seperti akan terlelap kapan saja jika ia tidak menahan diri. "Mungkin sedikit tidak nyaman, tapi kau harus pegangan yang kuat." Jungkook memberanikan diri untuk melihat ke sekitar. Bisikan-bisikan yang menggelitik tadi berubah jadi bisikan iri. Jungkook bisa merasakannya. Dari sekian banyak orang yang ada disini, setidaknya beberapa diantara mereka ingin berada di posisi Jungkook saat ini. Jungkook tidak peduli. Ia mengesampingkan egonya. Ia mungkin tidak akan pernah merasakan kenyamanan punggung Taehyung lagi suatu hari nanti. Jungkook melingkarkan kedua tangannya di leher Taehyung. "Terimakasih, Taehyung."
**Maafkan akuuuuuuuuuuu teman-teman~~~~~~~~~~~~~~~~ huhuhu
Setelah terlambat mengupdate, aku malah memberikan kalian chapter yang super gaje ini ;~~~~ Harusnya aku memberikan kalian cerita yang jauh lebih baik dari ini. Maafkan aku, pikiranku benar-benar sedang kacau karena tugas. Semoga kalian tidak kabur setelah baca chapter yang satu ini T_T Aku akan berusaha membuat cerita yang lebih baik di chapter selanjutnya T_T
Aku cinta kalian 333
