-Kim Taehyung-
Ini pertama kalinya Taehyung menggendong seseorang. Rasanya ganjil, namun menyenangkan. Meski awalnya ia agak kesulitan karena bobot tubuh Jungkook jauh lebih besar darinya. Tak masalah. Jungkook juga pernah menggendongnya saat Taehyung jatuh dari atap sekolah. Anggap saja ini sebagai balas budinya pada Jungkook. Jujur saja, ia agak gugup karena banyak orang yang memperhatikan, berbisik, dan membicarakan mereka. Tapi tak apa. Taehyung tidak peduli. Satu-satunya yang ia pedulikan saat ini hanyalah Jungkook. Taehyung tidak bisa melihatnya malu dan terluka. Ia tidak mengerti mengapa seorang Jeon Jungkook yang cerdas dan teliti bisa seceroboh ini. Tanpa sadar berlari mengelilingi taman tanpa sepatu, dan lebih memalukannya lagi memakai kostum pikachu. Sebenarnya Taehyung ingin tertawa tertawa terbahak-bahak jika ia bisa. Jeon Jungkook adalah manusia paling ceroboh yang pernah ditemuinya. Tapi, melihatnya terluka dan malu membuat Taehyung merasakan hal ganjil dalam dirinya. Entahlah, mungkin dirinya hanya sekedar simpati. "Terimakasih, Taehyung." ujar Jungkook. Suaranya begitu kecil dan lembut, hampir seperti bisikan. Taehyung menghentikan langkahnya. Ini pertama kalinya ia seseorang mengucapkan terimakasih padanya. Rasanya agak aneh mendengar kata itu datang dari Jungkook. Tapi bagaimanapun, ada kepuasan dalam hati Taehyung saat Jungkook mengucapkannya. "Tidak masalah." Semburat kemerahan mewarnai kedua pipi Taehyung. Bukankah ini tidak normal bagi seorang Love Shooter untuk merona seperti itu? "apa kau selalu seceroboh ini?" Taehyung melanjutkan langkahnya sembari menendangi kerikil kecil yang berada dekat kakinya. Entah kenapa ia tidak ingin cepat sampai di tujuan. "Kau meledekku?" Taehyung terkekeh. Jungkook mudah sekali tersinggung oleh hal-hal kecil. Jungkook benar-benar seperti remaja wanita. "Tidak. Bukan begitu." Taehyung menghela nafas. "Aku pikir kau terlihat manis dengan kostum ini."
Taehyung tidak pernah merasa tertekan sebelumnya. Meski memiliki tanggung jawab besar dalam mengurusi percintaan manusia, ia tak pernah merasa terbebani sekalipun. Tertekan tidak pernah ada dalam kamus Love Shooters. Perasaan tertekan hanya dirasakan oleh manusia. Tenggorokan Taehyung terasa kering. Dengan susah payah ia menelan ludahnya. Disaat seperti ini rasanya malah seperti menelan sekantung pasir. Mulutnya terasa asin saat setetes keringat menyelinap masuk melalui sela-sela bibirnya. Ia bahkan tidak dapat melap keringatnya sendiri. Tangannya seperti telah dikutuk menjadi batu. Tidak dapat bergerak sedikitpun. Tiba-tiba rasa rindu terhadap sayapnya menjadi semakin besar. Andai sayapnya tidak menghilang, ia mungkin bisa terbang dari kenyataan ini. "Jadi, kau membiarkan orang asing ini tinggal bersamamu?" setelah beradu tatapan selama kurang lebih 5 menit, pria bertubuh pendek itu akhirnya kembali bicara. Matanya yang kecil terlihat berair akibat kekurangan berkedip. Pria yang Taehyung yakini bernama Park Jimin ini adalah sahabat Jungkook sejak kecil. Usianya mungkin sama dengan Taehyung, tapi ia tidak lebih tinggi dari Jungkook. Jimin berusaha keras untuk terlihat mengintimidasi, tapi wajahnya yang imut justru membuatnya terlihat seperti boneka bayi dalam Toy Story. Jangan salah, meski penampilannya seperti boneka yang dipajang di etalase-etalase toko, hawa membunuh yang besar terpancar dari dirinya. Tatapannya pada Taehyung tidak jauh beda dengan hyena yang akan memburu mangsanya—liar dan lapar. Taehyung melirik ke arah Jungkook, meminta pertolongan. Syukurlah, Jungkook cukup peka untuk membaca tanda darinya. "Y-ya, hyung. Hanya untuk sementara." Jimin melipat tangannya di dada. berpikir keras untuk mencerna segala informasi yang diterimanya. Hari ini Jungkook memutuskan untuk membawa Taehyung menemui Jimin dan menceritakan segalanya. Yah, walaupun tidak semua. Ada beberapa bagian penting yang Jungkook lewatkan, seperti identitas dan nama asli Taehyung. Semua itu karena permintaannya. Ia tidak mau identitasnya diketahui banyak orang. Love Shooters? Mana ada orang yang percaya. Bahkan Jungkook sekalipun belum sepenuhnya mempercayai Taehyung. Jungkook mengatakan pada Jimin bahwa Taehyung kehilangan ingatannya. Jadi, ia tidak tahu harus pergi kemana atau menghubungi siapa. Awalnya Jimin bersikeras untuk menyerahkannya pada polisi, tapi Jungkook mencegahnya. Taehyung percaya Jimin adalah manusia yang baik, sama seperti Jungkook. Hanya saja ia takut kalau-kalau Taehyung adalah orang jahat. Bagi Jimin, Jungkook bukan hanya sekedar sahabat, tapi juga keluarga. Tak heran jika ia waswas saat mengetahui Jungkook harus tinggal bersama orang asing sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Tentu Taehyung sangat memahami kekhawatiran Jimin. "Tidak bisa. Dia bahkan tak ingat apa-apa. Mungkin saja dia orang jahat, anggota geng, preman, pencuri, pembunuh, atau bahkan pemerkosa." Jimin memalingkan wajahnya. Ia terlalu keras kepala untuk ukurannya. "Apa aku terlihat seperti penjahat, preman, pembunuh, atau apapun yang kau sebutkan tadi?" Taehyung buka suara. Jujur, ia agak tersinggung dengan pernyataan Jimin tadi. Ini pertama kalinya seseorang menyebutnya seperti itu. Pekerjaannya adalah hal yang paling mulia yang pernah ada. Mana mungkin ia melakukan hal-hal yang Jimin sebutkan tadi. "Hyung, keadaannya tidak semudah yang kau pikirkan. Tentu saja aku tidak mau tinggal bersama orang asing, tapi aku juga tidak bisa mengusirnya begitu saja. Akulah yang bertanggung jawab atasnya, ingat? Kau tahu persis aku bukan tipe orang yang melepaskan tanggung jawab begitu saja." Jungkook menundukkan kepalanya. Sekilas, Taehyung menangkap raut sedih di wajahnya. Barangkali Jimin juga melihatnya. Ekpresi wajah Jimin melunak. Sepertinya Jimin tidak menyangka adik kecilnya bisa mengatakan hal yang dewasa seperti itu. Jimin menatap Taehyung dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yah. Dia terlalu tampan untuk jadi seorang penjahat, pikir Jimin. Taehyung berusaha sekeras mungkin untuk menahan tawa saat ia tak sengaja membaca pikiran Jimin tentangnya. Kenapa Jimin harus mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang dipikirkannya. "Baiklah. Untuk sementara orang ini boleh tinggal denganmu."
-JEON JUNGKOOK-
"Baiklah. Untuk sementara orang ini boleh tinggal denganmu." Entah kenapa, ada perasaan lega di hati Jungkook saat Jimin mengatakan itu. Mungkin ini terdengar aneh. Ini bukan seperti dirinya yang biasa. Jungkook bukanlah tipe orang yang membiarkan sembarang orang keluar masuk rumahnya. Apalagi membiarkannya tinggal berhari-hari. Jimin tahu betul akan hal itu. Seberapa kerasnyapun ia berpikir, Jungkook masih belum menemukan jawaban kenapa ia harus membiarkan Taehyung masuk ke rumahnya. Tanggung jawab? Jungkook sendiri ragu. Apa memang benar karena tanggung jawab? Simpati? Ya, mungkin saja. Tapi Jungkook tidak biasa bersimpati. Entah bagaimana, segala sesuatu tentang Taehyung membuat Jungkook tidak bisa membuangnya begitu saja. Jungkook akui, Taehyung adalah makhluk yang unik. Ia membuat Jungkook melanggar beberapa aturan hidup yang selama ini diterapkannya. Seperti, Jungkook tidak biasa menerima sesuatu yang tidak rasional, tapi ia dengan mudahnya mempercayai orang asing yang baru ditemuinya dan mengijinkannya untuk tinggal. Entah ia yang gila, atau Taehyung telah menyihirnya. Jungkook sendiri masih tidak mengerti. Hari ini Jungkook memutuskan untuk menemui Jimin bersama Taehyung. yah, itu bukan keputusan terbaik yang pernah dipikirkannya. Membawa Taehyung pada Jimin mungkin hampir sama rasanya dengan membawa pacar ke rumah untuk diperkenalkan pada orang tuamu. Perasaan canggung dan tegang membumbui pertemuan mereka dengan Jimin. Jujur, Jungkook agak menyesal. Demi mendapat izin, ia dengan terpaksa harus menerima kuliah dari Jimin yang berakhir selama sekitar 3 jam. Sahabatnya yang satu itu memang benar-benar sesuatu.
Jungkook merebahkan tubuhnya. Rasanya nyaman sekali bisa berbaring di kasur empuk miliknya setelah melewati hari yang melelahkan. Jungkook ingin terlelap sebentar saja untuk menghilangkan rasa lelahnya, tapi bayangan tentang kejadian di taman hari ini selalu saja mengganggunya. Bahkan sejumlah pertanyaan bodoh seperti 'Bagaimana ia tahu cara menggendong seseorang?' 'Bagaimana ia tahu cara mengikat tali sepatu?' 'apa ia tidak malu saat orang-orang memperhatikan?' dan yang paling bodoh 'apa aku benar-benar terlihat manis memakai kostum ini?' ikut andil dalam menghalangi rasa kantuknya. Jungkook telah mencoba berbagai macam cara untuk membuatnya tertidur. Bahkan teknik menghitung domba sekalipun tidak bekerja padanya. Jungkook ingin mengutuk dalam berbagai bahasa, tapi ia tahu itu tidak berguna. Ia mengacak rambutnya, frustasi. Pikirannya semakin kacau saja akhir-akhir ini.
Bahkan setelah menghabiskan waktu berjam-jam, Jungkook belum juga bisa membuat matanya lelah. Selama itu, ia hanya berguling kesana-kemari seperti sate kambing. Jungkook penasaran apa yang dilakukan Taehyung. Sejak mereka sampai di rumah, suaranya tidak terdengar sedikitpun. Yang jelas Jungkook yakin kalau ia tidak tidur. Ia penasaran bagaimana Taehyung menghabiskan waktunya jika ia tidak tidur di malam hari. Jungkook pergi ke ruang tengah tempat biasa Taehyung tidak melakukan apa-apa, tapi ia tidak ada disana. Kemana dia pergi? "Taehyung! Taehyung!" Jungkook menyusuri setiap ruangan di rumahnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Taehyung. Berapa kalipun Jungkook memanggil-manggil namanya, tetap saja tak ada jawaban. Apa ia pergi keluar? Hari sudah malam, tapi Taehyung malah kelayapan sendirian. Jungkook tahu Taehyung bukan anak kecil lagi. Tentu ia bisa mengurusi dirinya sendiri. Ia bisa pergi sesuka hati. Kemanapun kapanpun. Tentu saja itu bukan urusannya. Hanya saja ini rumahnya, dan Taehyung telah menjadi tanggung jawabnya. Jungkook tidak bisa membiarkan seseorang keluar masuk rumahnya seenaknya. Jungkook mengambil sepatu dan jaketnya. Telapak kakinya terasa perih saat dipijakkan. Tapi ia memaksakan untuk tetap berjalan.
Jungkook bahkan belum sampai gerbang rumahnya saat ia melihat Taehyung berjalan bersama pria jangkung berbahu lebar yang sangat ia kenali. Mereka berjalan berdampingan. Mengobrol dan menertawakan hal yang tak diketahuinya. Jungkook sering melihat Jin tersenyum, tapi tidak pernah sekalipun melihatnya tertawa. Daripada orang yang baru kenal beberapa hari, mereka lebih terlihat seperti teman lama. Ada apa ini? darimana mereka? Apa yang mereka bicarakan? Jungkook berdiri dengan kaku. Setelah kejadian sebelumnya, ia agak malu bertemu dengan Jin. Semoga saja Taehyung tidak mengatakan apa-apa tentang perasaannya pada Jin. "Jungkook!?" Taehyung berlari menghampirinya yang tengah tenggelam dalam lamunan. Jungkook tahu Taehyung pasti membaca pikirannya, makanya ia buru-buru menghampirinya. Cara Taehyung berlari agak lucu, mungkin karena ia belum terbiasa menggunakan kedua kakinya. "H-hah!?" kata Jungkook dengan tatapan kosongnya. Ia ingin menampar dirinya sendiri karena terlihat seperti orang bodoh di depan Jin. "Hai, Jungkook!" sapa Jin. Jungkook mengamati wajahnya, menyelediki apa ada sesuatu yang salah. Jin terlihat berbeda malam ini. Ia sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Meski tidak pernah menunjukkannya, Jungkook tahu ekpresi Jin saat ia sedih, senang, atau kebingungan. Ekpresi wajahnya malam ini, Jungkook tidak pernah melihatnya sebelumnya. Wajah Jin lebih cerah dari biasanya. Apa terjadi sesuatu yang bagus? Apa ia menang lotere? Jungkook bertanya-tanya. "H-hai! Kalian darimana?" Jungkook tahu seharusnya ia tidak pernah mengatakan pertanyaan bodoh itu. Setelah ini, Taehyung pasti akan mengolok-olok dirinya, mengira kalau Jungkook cemburu padanya. Bahkan saat ini, Jungkook yakin Taehyung sedang menahan tawanya. "Kami tidak sengaja bertemu di jalan. Taehyung bilang kau terluka dan ingin membeli obat untukmu tapi tidak tahu apotiknya. Jadi, aku mengantarnya." Jungkook melototi Taehyung meminta penjelasan. Apa dia memberitahu Jin hyung tentang kejadian tadi? Padahal mereka baru saja baikan, tapi Taehyung sudah cari gara-gara lagi.
***Maaf maaf maaf karena lagi-lagi aku terlambat mengupdate T_T
Setumpukan tugas makalah menanti, jadi aku gak tahu kalo aku bisa update tepat waktu T_T
terimakasih sudah setia menunggu :"D
