-JEON JUNGKOOK-
Menjadi pusat perhatian teman-teman sekolahnya tidak pernah ada dalam prinsip hidup seorang Jeon Jungkook. Jika bisa, ia ingin hidup sebagai siswa yang tak pernah dianggap ada hingga hari kelulusannya nanti. Tak masalah meski orang lain tidak pernah mengenalnya. Itu lebih baik. Toh, ia hanya hidup untuk dirinya sendiri. Jungkook ingat saat pertama kali ia masuk sekolah ini, para murid perempuan mengerubunginya seperti gerombolan kucing yang dilempari ikan segar. Mereka berusaha mendekati dan merayunya dengan mengatakan hal-hal seperti, "Jungkook, kau ini manis sekali", "Jungkook kenapa kau bisa pintar sekali?", "Jungkook, nuna ingin sekali mengantungimu dan membawamu ke rumah". Daripada suka, Jungkook justru ketakutan mendengarnya. Bayangkan jika perempuan itu benar-benar mengantunginya dan menyekap Jungkook di rumahnya. Ya, itu agak berlebihan, tapi tetap saja Jungkook harus mencegah segala kemungkinan buruk. Seiring waktu berlalu, para murid perempuan yang menghampiri Jungkook semakin berkurang dan semakin berkurang lagi, hingga akhirnya tak ada lagi yang datang menghampiri. Entah mereka bosan atau kecewa, karena Jungkook selalu bersikap dingin pada mereka semua. Sejak masuk sekolah, di tempat itu Jungkook tidak pernah mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya membuka mulutnya ketika ia merasa perlu.
Jungkook membalik halaman demi halaman buku biologi yang tengah dibacanya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap tenang meski puluhan pasang mata seperti membidikkan laser padanya saat ini. "J-Jungkook kau baik-baik saja?" Taehyung menepuk bahunya. Bagaimana aku bisa baik-baik saja jika kau masuk ke kelasku dan menjadi pusat perhatian semua murid disini?!
Dua jam sebelumnya...
Jungkook benci saat hari libur berakhir. Sama seperti kebanyakan remaja normal lainnya, Jungkook sangat menyukai hari libur. Meski saat libur ia hanya bergelung di bawah selimutnya, Jungkook sangat menyukai hal itu. Sebenarnya Jungkook tidak benci sekolah. Ia hanya benci saat hari libur berakhir saja. Tentu ia senang belajar, tapi baginya sekolah bukanlah tempat yang menyenangkan. Jika saja Jungkook memiliki kekuatan, ia ingin memiliki kekuatan untuk menguasai waktu agar ia bisa mempercepat hari ini ke hari dimana ia telah menjadi seorang yang sukses. Jungkook berkaca di depan cermin besar di kamarnya, merapikan posisi dasi dan kerahnya. Semalas apapun dirinya, penampilan tetaplah yang utama. Walau yang dipakainya hanyalah seragam sekolah, Jungkook harus memastikan bahwa dirinya tidak lagi ceroboh dalam berpakaian. Ia tidak bisa membiarkan kejadian memalukan seperti sebelumnya terulang kembali. Jungkook meraih tas yang tak pernah disentuhnya sejak hari terakhir sekolah, lalu keluar dari kamarnya.
Di ruang tengah, Taehyung melamun sembari memeluk lututnya seperti biasa. Tak tidur, tak makan. Hari ini, tidak seperti biasanya wajah Taehyung tampak murung. Bagaimanapun, ia pasti sangat merindukan kehidupannya sebagai Love Shooter. Jungkook menghela nafasnya. Seandainya ada yang bisa dilakukannya untuk membuat Taehyung merasa lebih baik. Sepertinya Taehyung tidak menyadari keberadaan Jungkook. Jika ia menyadarinya, Taehyung pasti sudah mengomentari segala hal yang dipikirkannya sekarang. Jungkook sengaja batuk-batuk untuk menarik perhatiannya, dan sepertinya cara itu memang efektif. "Eh? Sudah mau berangkat?" Jungkook mengangguk. Keadaan jadi sedikit canggung sejak semalam. Ia juga tak yakin apa yang telah terjadi. Taehyung terus saja menuduh kalau Jungkook cemburu padanya karena bisa pergi berdua bersama Jin. Jungkook tidak merasa dirinya tidak cemburu, tapi melihat mereka berduaan seperti itu membuatnya merasa terganggu. "Kalau begitu aku—" "Jungkook," Jungkook mematung. Sepertinya Taehyung ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu untuk mengatakannya. "aku tidak punya banyak waktu, jadi katakanlah sekarang!" Taehyung menggigit bibir bawahnya. Jungkook sangat membenci kebiasaannya itu. "uh.. itu.. apa sekolah itu menyenangkan? Aku sering melihat anak-anak manusia tertawa dan bergembira saat mereka bersama teman-temannya di sekolah. Uh.. kau, tahu kami tidak punya sekolah, jadi aku penasaran bagaimana rasanya, hahaha.. jangan salah paham. Aku tidak memintamu untuk mengajakku ke sekolahmu, hahaha.." kening Jungkook mengkerut. Kenapa Taehyung tidak mengatakan saja secara langsung kalau ia ingin pergi ke sekolah bersamanya. Bukankah itu lebih mudah daripada harus mengatakannya berbelit-belit seperti itu. Apa sih yang dipikirkannya? "Jangan pernah berpikir untuk datang ke sekolahku!" Jungkook pun melengos pergi.
Banyak orang yang mengatakan bahwa orang pintar biasanya selalu duduk paling depan. Jungkook tidak bisa mengatakan hal itu salah. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan bahwa hal itu benar. Jungkook adalah salah satu dari sekian banyak orang pintar yang lebih memilih untuk duduk di bangku paling belakang. Bukan berarti Jungkook memilih duduk di belakang agar bisa bercanda atau tidur saat pelajaran berlangsung. Ia hanya tidak memiliki pilihan lain. Bangku paling belakang adalah satu-satunya bangku yang tidak memiliki penghuni. Tidak nyaman baginya jika harus berbagi bangku bersama orang lain. Ia tidak begitu tahu cara berteman. Lagipula tidak ada yang mau sebangku dengannya. Yugyeom adalah pengecualian. Sejak dipertemukan di kelas yang sama, Yugyeom terus saja merengek agar bisa sebangku dengannya. Jungkook kesal sekali setiap mengingat kejadian itu. Baginya, Yugyeom adalah bayi raksasa yang manja dan cerewet. Jungkook tidak tahan mendengarnya terus-terusan bicara. Telinganya sudah cukup teraniaya karena suara Jimin, ia tidak ingin lebih menyiksanya lagi dengan berada dekat Yugyeom sepanjang pelajaran berlangsung.
Jungkook memeriksa jam tangannya. Sudah lebih dari limabelas menit sejak bel masuk dibunyikan, tapi guru biologi mereka tak juga datang. Pak tua itu tidak biasanya terlambat seperti ini. Jungkook benci sekali saat-saat seperti ini. Suasana kelas begitu kacau saat tidak ada guru yang datang. Beberapa murid laki-laki sibuk bermain lempar-tangkap, beberapa lagi menertawakan. Murid-murid perempuan sebagian sibuk dengan alat kecantikan, dan sebagian lagi sibuk dengan alat pelajaran. Semua hiruk-pikuk ini, meski ia berada di sana dalam ruang dan dimensi yang sama, Jungkook tetap saja merasa tak dilibatkan. Ia merasa seperti pemain cadangan yang tak pernah dipakai dalam sebuah pertandingan. Yah, bukan berarti ia peduli. Jungkook sudah hidup seperti ini bertahun-tahun. Jadi, tak masalah baginya bila ia tidak pernah dilibatkan dalam kehidupan teman-temannya. Teman? Apa sih itu? Bagi Jungkook makna dari teman hanyalah satu hal—Jimin. "Jeon! Apa kau tidak lelah membaca terus?" Kim Yugyeom. Benar. Jungkook lupa tentangnya. Jungkook mengamati wajahnya dengan seksama. "Apa? Kenapa?" Jungkook tidak tahu harus menggolongkannya kemana. Apakah ia termasuk temannya? Jungkook tidak merasa mereka sedekat itu untuk dikatakan berteman. Lebih baik ia pikirkan itu lain kali, bukunya lebih penting saat ini. "Lagi-lagi kau—" "Selamat pagi anak-anak." Yugyeom langsung melompat ke bangkunya saat mendengar suara guru biologi mereka. Jungkook bersyukur sekali gurunya cepat datang, jika tidak, Kim Yugyeom si bayi raksasa itu pasti akan menjatuhkannya dengan teknik gulat yang sedang dipelajarinya akhir-akhir ini. "Sebelumnya, bapak mohon maaf karena datang terlambat. Ada beberapa hal yang harus bapak urus, dan salah satunya adalah... kelas kita kedatangan murid baru." Jungkook membalik halaman bukunya. Ia tidak peduli jika kelasnya kedatang murid baru, toh, murid itu juga pasti akan sama saja seperti teman-temannya. "Silahkan masuk,Tuan Kim Taehyung." Jungkook menahan tawanya. Murid baru itu punya nama yang sama dengan Taehyung. Entah kenapa hal itu terdengar lucu baginya. Mengingat bagaimana ia menanyainya tentang sekolah pagi ini. Hal ini akan lebih lucu lagi bila Kim Taehyung si murid baru ternyata adalah Kim Taehyung aliyas V si Love Shooter yang sekarang tinggal bersamanya. Membayangkan seorang Love Shooter yang biasa memakai pakaian Yunani, tiba-tiba memakai seragam yang sama dengannya rasanya lucu juga. Taehyung menepis pemikiran gilanya. Tentu saja hal itu tidak mungkin. Tidak mungkin Taehyung datang kemari. Lagipula, Taehyung juga tidak mungkin ingat jalan ke sekolahnya.
Suasana kelas kembali gaduh saat si murid baru menginjakan kakinya di kelas. Dari kegaduhan yang didominasi suara perempuan itu, Jungkook tahu kalau murid baru itu pastilah tampan. Mereka bersikap seperti itu setiap kali melihat pria tampan. Tapi, Jungkook tidak peduli setampan apapun murid baru itu. Ia terlalu asyik dengan dunianya. "H-halo! U-uh ini canggung sekali." Suara itu... Jungkook spontan menutup bukunya. Suara itu terdengar familiar di telinganya. Murid baru ini... Jungkook memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. "N-n-namaku—" "KIM TAEHYUNG!?" Jungkook berdiri di begitu cepat hingga menjatuhkan kursi tak berdosa yang telah didudukinya. Tanpa sadar ia meneriakan nama Kim Taehyung dengan begitu lantang. Teman-teman dan gurunya terlihat terkejut. Tapi Jungkook lebih terkejut lagi. Ia tidak menyangka akan melakukan hal itu. Apa yang dilakukannya disini? Jungkook menatap Taehyung tajam. Tanpa rasa bersalah sama sekali, Kim Taehyung tersenyum seperti seorang idiot.
-KIM TAEHYUNG-
"Jangan pernah berpikir untuk datang ke sekolahku!" perintah itu masih saja terngiang-ngiang di telinganya. Jelas sekali Jungkook tidak akan suka jika Taehyung datang ke sekolahnya. Kira-kira apa yang akan dilakukannya jika tahu kalau Taehyung pergi sekolahnya diam-diam? Taehyung tidak ingin membayangkannya. Jangan salahkan dirinya. Semua ini terjadi karena kebetulan saja. Jika ada yang harus dipersalahkan, Taehyung akan memilih untuk menyalahkan tukang laundry yang mengantarkan seragam Jungkook kemarin. Kenapa ia yang salah? karena orang itu telah memberinya ide pada Taehyung untuk melakukan hal ini. Taehyung juga tidak mengerti kenapa ia begitu tertarik dengan sekolah Jungkook. Hati kecilnya mengatakan, ia mungkin akan mendapatkan petunjuk untuk kembali menjadi Love Shooter sejati di sana. Sekolah Jungkook adalah tempat dimana semua kesialan yang menimpanya berawal. Seharusnya ia trauma akan tempat itu. Tapi disinilah ia, dengan percaya diri berjalan di antara para murid SMA. Walaupun seragam yang dipakainya sedikit kebesaran, yah, bagaimanapun juga itu adalah milik Jungkook. Syukurlah, jalan ke sekolah Jungkook tidak memakan waktu lama. Sekolah itu juga tak sulit ditemukan. Taehyung cukup bertanya pada orang-orang yang ada di sekitar, mereka pun akan memberitahunya. Ternyata tidak buruk berjalan di antara manusia. Selama ini ia hanya mengamati setiap kegiatan mereka dari kejauhan. Tapi sekarang, ia bisa saja jadi bagian dari kegiatan mereka.
"Waaaaaw!" taehyung terperangah saat ia melihat gedung sekolah Jungkook. Tempat itu besar dan luas. Terakhir kali ia kesini, gedung itu tidak terlihat sebesar ini. mungkin karena Taehyung tidak terlalu mempedulikannya saat itu. lagipula, ia biasa melihatnya dari atas, dan semuanya tampak kecil jika dilihat dari sana. Sekarang, saat ia berjalan di tanah, Taehyung merasa seperti semut kecil yang merayap di istana mainan. Taehyung terlalu terpukau sampai tak menyadari murid-murid di sekitarnya berlarian. Oh, lihatlah betapa semangatnya mereka untuk belajar, pikir Taehyung. Ia menggaruk tengkuknya. Apa yang harus dilakukannya saat semua anak-anak manusia itu belajar? Taehyung menatap ke langit. Sesosok makhluk yang amat sangat dikenalinya, melayang-layang di udara. Anak panah dan busurnya sewarna daun, tapi lebih hijau dan mengkilap. Meski sinar matahari menyilaukan matanya, dari bawah sana Taehyung masih bisa melihat dengan jelas makhluk itu sedang tersenyum lebar. "Ahh.. kepribadiannya masih saja menyilaukan." Taehyung menghela nafas lega. Ia tidak tahu akan merasa begitu bahagia bertemu lagi dengan kaumnya. Mungkin saja ia bisa membantu Taehyung untuk kembali. "Hey, Nak! Sampai kapan kau akan berdiri disana?" seorang manusia berbadan kekar menghancurkan moment yang mengharukan itu. Dengan tinggi badan hampir 2 meter dan kumis hitam legamnya, ia tampak begitu menyeramkan. Taehyung tidak tahu kalau ada manusia yang menyeramkan sepertinya. Inikah yang disebut guru?
"Jadi, kau murid baru?" Taehyung hanya mengangguk. Suasana menegangkan sama seperti saat ia bertemu dengan Jimin pun kembali terulang. Rasanya ia tidak melakukan suatu kejahatan, tapi kenapa ia terus saja diberikan pertanyaan. Untunglah, guru berbadan kekar itu sudah pergi sekarang. Jadi, Taehyung bisa bernafas dengan lega. Pria tua yang menginterogasinya memang tidak menyeramkan, tapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya benar-benar menyudutkan. Terpaksa Taehyung harus berbohong tentang beberapa hal. Taehyung mengutuk dalam hatinya. Keadaan ini betul-betul menyebalkan. Jika saja guru yang menyeramkan itu tak menyeretnya ke ruangan yang serba putih ini, ia pasti bisa menemui kawannya. Taehyung khawatir jika ia tidak bisa bertemu dengannya lagi setelah ini. Kalau saja ia tidak menyamar sebagai murid SMA mungkin ceritanya akan berbeda. Sialnya, ia juga dimintai beberapa dokumen yang tidak ia diketahuinya. Di situasi seperti ini yang diingatnya hanyalah Jeon Jungkook. Hanya ia satu-satunya orang dapat mengeluarkannya dari kekacauan ini. "baiklah. kalau begitu, kita urus dokumennya nanti. Ikuti aku. Kita sudah terlambat masuk ke kelas."
Taehyung menggigiti kuku jarinya. Pria tua di depannya terus saja berjalan tanpa peduli seseorang sedang merasa sangat ketakutan di belakangnya. Ia sudah pergi terlalu jauh. Sekarang pria tua itu akan membawanya ke kelas. Taehyung tidak tahu lagi harus bagaimana. Apakah ia harus menikmatinya saja? Ataukah ia kabur saja? Tapi tak ada cara untuk kembali. Baiklah. Mungkin hanya satu hari saja tak apa. Ia tidak perlu lagi kesini setelahnya. Jeon Jungkook pasti akan membunuhnya jika ia tahu Taehyung datang ke sekolahnya. Semoga saja ia tidak tahu. Semoga ia tidak berada di kelas yang sama dengannya. Yah, semoga...
**lagi-lagi aku mengupdate satu chapter gaje -_-
Oh ya, soal ukenya.. setelah voting waktu itu, ternyata banyak yang lebih suka Kookie jadi ukenya jadi, aku mengabulkan permintaan kalian sesuai janjiku *yeaayy*
Satu lagi, aku baca semua komentar kalian. Terimakasih sudah menyempatkan diri memberikan dukungan dan saran untuk penulis yang super gaje ini u,u
Aku cinta kalian 3
