-KIM TAEHYUNG-
Suara bisikan dan jeritan memenuhi ruangan saat Taehyung memasuki ruang kelas. Dari pikiran mereka, Taehyung bisa membaca kalau murid disana tertarik padanya. Mereka agaknya terkejut melihat ada manusia setampan dan sekeren dirinya. Bukannya narsis atau kepedean, tapi reaksi mereka membuktikan. Apa mereka tidak pernah melihat pria tampan sebelumnya? Meskipun begitu, Taehyung cukup senang. Yah, mungkin terjebak di sekolah manusia tak seburuk yang ia kira.
Guru yang membawanya ke kelas mengisyaratkan Taehyung untuk memperkenalkan diri secara langsung. Sebenarnya Taehyung agak gugup jika harus memperkenalkan diri. Seumur hidupnya, ia hanya baru memperkenalkan diri tiga kali pada manusia, Jungkook, Jin, dan yang terbaru, Jimin. "H-halo! U-uh ini canggung sekali." Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Taehyung tidak pernah disambut seperti ini sebelumnya. Ia merasa seperti medan magnet yang menarik semua orang untuk hanya memusatkan perhatian dan pikiran mereka padanya. Taehyung sampai kewalahan membaca pikiran setiap orang. Sekuat tenaga Taehyung berusaha untuk tidak membaca semua pemikiran gila tentangnya. Namun, diantara semua pemikiran gila itu, terselip sebuah pikiran yang tak asing baginya. Taehyung berusaha untuk membaca pikirannya, tapi pikiran-pikiran lain terus saja menghalangi, jadi ia putuskan untuk mengabaikannya saja. Taehyung tak berani melakukan kontak mata dengan semua anak-anak manusia itu. Meski hanya dengan tatapan saja, dirinya merasa seperti sedang ditelanjangi secara masal. Lidah Taehyung terasa kelu. Lagi-lagi ia dihadapkan pada situasi yang membuat kepercayaan dirinya hilang. "N-n-namaku—" "KIM TAEHYUNG!?" Suara gedebuk kursi diikuti teriakan seorang murid laki-laki mengalihkan perhatian semua orang. Taehyung hampir saja melompat dari tempatnya. Tapi tentu saja melompat karena terkejut akan menghancurkan imej keren yang baru saja dibangunnya. Jujur, Taehyung agak kecewa karena perhatian semua orang telah teralihkan oleh murid lain yang meneriakkan namanya. Sepertinya tak hanya murid perempuan, murid laki-lakipun tak sabar ingin tahu tentangku. Suara anak manusia itu begitu familiar di telinga Taehyung. Bisa dibilang suaranya mirip sekali dengan Jeon Jungkook, terutama dialeknya. Tidak mungkin kan? Ini hanya kebetulan saja kan? Taehyung memberanikan diri untuk menatap sumber suara. Di bangku paling pojok, seorang murid laki-laki berdiri sembari menatapnya dengan tajam. Auranya gelap dan mengerikan. Ia terlihat seperti siap menerkam Taehyung kapan saja. Mata bulatnya tak berkedip sedikitpun saat menatapnya. 'Apa yang dilakukannya disini?' Taehyung menelan ludahnya yang terasa pahit. Sudut bibirnya terasa kaku saat ia memaksakan tersenyum. Walau jadinya malah terlihat seperti orang bodoh, ia berusaha keras untuk mempertahankan senyuman itu. "H-Hai, s-sepupu!"
Sejak kejadian di kelas sebelumnya, Jungkook pernah bicara lagi. Yang dilakukannya hanyalah duduk dan membaca. Berapa kalipun Taehyung menjelaskan, Jungkook tak pernah menggubrisnya. Taehyung tahu, dalam hatinya Jungkook ingin sekali mencekik Taehyung saat ini juga. Sayangnya, dan untungnya, mereka sedang berada di tempat umum sekarang. Tentu saja Jungkook tidak bisa mencekiknya di sekolah, apalagi saat ini semua orang sedang memperhatikan mereka. Sungguh Taehyung sangat bersyukur akan hal itu. "J-Jungkook kau baik-baik saja?" Taehyung menyikut lengan kekar Jungkook, tapi ia masih saja mengabaikannya. 'Bagaimana aku bisa baik-baik saja jika kau masuk ke kelasku dan menjadi pusat perhatian semua murid disini?!' Taehyung menyumpahi Jungkook dalam hatinya. Menjadi pusat perhatian bukan sepenuhnya salah Taehyung. Apakah menjadi pria yang tampan dan keren adalah sebuah kesalahan? Taehyung melihat ke sekitar. Murid-murid perempuan dari berbagai kelas terus saja berdatangan seperti lalat yang mengerubungi makanan. Namun, berbeda dengan lalat yang begitu agresif menghampiri makanan, mereka hanya berani memandangi dan memotretnya lewat jendela dan pintu masuk. Entah karena segan atau ada alasan lain, Taehyung tidak tahu. Tapi yang jelas, Taehyung lebih suka kalau mereka langsung menghampirinya saja. Toh, ia bukan hewan buas yang hanya bisa dilihat dan dipotret dari jarak tertentu. Taehyung melayangkan seulas senyuman pada mereka. Jangan tanya bagaimana reaksinya, yang jelas, para murid perempuan itu meleleh dibuatnya.
-JEON JUNGKOOK-
Jungkook sadar betul kalau dirinya bukanlah orang yang beruntung. Ia juga tidak pernah merasa kalau dirinya adalah orang yang sial. Tetapi sejak kehadiran pria aneh itu, perlahan kesialan demi kesialan terus didapatkannya. Hari ini adalah yang terburuk. Pria aneh itu, Kim Taehyung, masuk ke kelasnya dan memperkenalkan diri sebagai murid baru. Seolah tak bisa lebih buruk lagi, ia bahkan mempermalukan Jungkook dengan mengakuinya sebagai sepupu. Duduk sebangku dengannya juga tak membuat keadaan lebih baik. Mereka bahkan bukan selebriti, tapi semua orang terus saja memperhatikan dan bahkan mengambil foto mereka berdua tanpa izin. Terimakasih kepada Si Tuan Tampan, berkatnya Jungkook tidak dapat keluar untuk makan siang. Yah, ia akui Taehyung memang sangat tampan, tapi tak seharusnya mereka bertingkah memalukan seperti ini kan? Jungkook menutup buku dan menyimpannya di bawah meja. Perutnya tidak bisa diajak kerjasama lagi. Lagipula ini adalah jam makan siang, ia tidak mungkin harus mati kelaparan hanya karena para perempuan yang haus akan wajah tampan. Jungkook melirik orang di sampingnya. Si Tuan Tampan sedang menikmati popularitas rupanya. Ia melambai-lambai sambil tersenyum saat anak-anak perempuan menyapanya. Ia terlalu genit untuk ukuran Love Shooter. Jungkook berdecak kesal. Apakah ia harus meninggalkannya saja? Mengajaknya ke kantin takkan ada gunanya. Toh, ia tidak akan makan. Tapi membiarkannya sendiri sama saja dengan melepas balita di pusat perbelanjaan. Jungkook tidak tahu kemungkinan apa saja yang aman terjadi. Membayangkannya saja Jungkook tak sanggup. Jungkook menyimpan bukunya dan beranjak dari tempat duduk.
"Ikuti aku!"
Jungkook pikir akan lebih baik kalau ia bisa keluar dari ruang kelasnya yang penuh sesak dengan murid perempuan. Ia pikir semua orang hanya akan fokus pada makanannya saat di kantin. Sayang teorinya tak memiliki persentase kebenaran sedikitpun. Bahkan saat makan ia tak dapat merasakan kedamaian. Kemanapun Taehyung pergi, semua orang memandangi. Ia benar-benar tidak biasa dengan situasi seperti ini. Murid-murid di kantin bahkan lebih agresif dari yang di kelas tadi. Dengan percaya diri mereka menghampiri Taehyung dan memberinya bermacam makanan mahal. Ada juga yang terang-terangan mengajaknya berkencan dan memberikan nomor ponselnya. Bukankah itu gila? Seorang Kim Taehyung benar-benar membuat ribut satu sekolahan. Mengingat semua kejadian itu membuatnya kesal saja. Dengan penuh amarah, Jungkook menjejalkan sebuah kimbab ke mulutnya. "Wah! Sepupumu ini sudah seperti SELEBRITI!" Yugyeom menyikut lengan Jungkook beberapa kali. Temannya itu sengaja memberikan penekanan pada kata terakhir karena ia tahu Jungkook tidak menyukainya. Sekali saja Jungkook ingin meninju ekspresi bodoh di wajahnya itu. "Kenapa? Itu fakta!" Yugyeom menjejalkan sepotong roti yang tersisa di tangannya. "Hey! Apwa kau akan memwakan inwi?" Ia menunjuk burger keju di nampan Taehyung yang tak tersentuh. Taehyung hanya menggendikan bahu, tampak tidak tertarik dengan burger keju itu. "Kau boleh memakannya." Tak butuh waktu lama bagi Yugyeom untuk melahap habis burger keju itu tepat setelah Taehyung mengijinkannya. Dasar tukang makan! Jungkook berdecak kesal. Belum sampai satu hari Taehyung sekolah disini ia sudah mendapatkan banyak hadiah dari murid-murid perempuan itu, burger itu salahsatunya. Popularitasnya itu benar-benar membuat Jungkook tidak nyaman. Bukan berarti ia cemburu. Tidak sama sekali. Hanya saja sikap teman-temannya terhadap Taehyung terlalu berlebihan. Mereka bahkan tidak tahu apa-apa tentang Kim Taehyung, tapi mereka memberikan ini dan itu padanya seolah mereka adalah teman baik sejak lama. 'Kau senang, hah? Apa ini tujuanmu datang ke sekolahku?' Jungkook menyilangkan tangannya di dada, menatap tajam Taehyung yang duduk berseberangan dengannya. Taehyung tampak tidak nyaman dengan perkataan Jungkook. Mungkinkah ia terlalu berlebihan? Tidak mungkin. "Maafkan aku." Jungkook memalingkan wajahnya. Kata itu sudah terlalu sering didengarnya dari mulut Taehyung. "Apa menjadi tampan itu sebuah kesalahan? Lagipula aku tidak bermaksud untuk menjadi pusat perhatian. Aku datang kemari karena bosan... dan penasaran." Alasan yang bagus! "Dia benar. Tampan bukanlah kesalahan, tapi prestasi." Yugyeom menimpali. Keduanya saling bersalaman dan kemudian cekikikan. Mengesalkan. Baik Yugyeom maupun Taehyung, keduanya sama-sama merepotkan. Apa dosa yang telah kulakukan hingga aku harus dihadapkan pada dua orang yang menyebalkan seperti mereka? Jungkook memijat keningnya. "Oh! Satu hal lagi. Aku rasa aku bisa menghubungi temanku dari sini. Kalau kau tidak keberatan, tolong tunjukkan aku jalan menuju atap."
Meski telah menjadi warga sekolah sejak dua tahun lalu, ini pertama kalinya Jungkook menginjakkan kakinya di atap. sebenarnya tidak ada alasan khusus baginya untuk tidak datang ke tempat itu. Jungkook pulang tepat setelah bel sekolah berbunyi, dan setiap ada waktu luang, ia selalu menyibukkan diri di perpustakaan dan kantin. Jadi, tak heran jika Jungkook baru tahu keindahan yang dapat dipandangnya dari tempat itu. berada di tempat yang tinggi ternyata menyenangkan juga. Tak heran jika Taehyung sangat menyukai pekerjaannya sebagai Love Shooter. Dari atas, orang-orang terlihat seperti miniatur hidup. Kecil dan bergerak kesana-kemari. Jungkook penasaran bagaimana pemandangan di sana terlihat saat malam hari. apakah akan terasa menyeramkan? Atau justru terlihat indah karena lampu-lampu di seluruh kota dinyalakan? Seandainya mereka bisa tinggal lebih lama. "Jadi, apa rencanamu?" jungkook melirik taehyung yang terus menatap langit sejak lima menit yang lalu. Entah apa yang dipikirkannya, Jungkook tidak tahu. Rasanya tak adil mengingat Taehyung dapat membaca pikirannya, sementara dirinya tidak. Jungkook juga ingin tahu hal-hal yang ada di pikiran Taehyung. Ia ingin tahu rahasia Taehyung. Jungkook penasaran jika Taehyung pernah memikirkan Jungkook seperti Jungkook memikirkannya. "Halo?" alih-alih menjawab pertanyaan Jungkook, Taehyung malah melengos pergi lalu duduk bersila di tengah-tengah atap sekolah. Orang aneh! Pikir Jungkook. "Apa yang kau lakukan? Semedi?" Jungkook menghampiri Taehyung yang sedang bersiap-siap dengan posisinya. Matanya mendelik tajam, lagi-lagi ia tersinggung dengan perkataan Jungkook. "Hey, nak! Ini posisi untuk telepati. Untuk sementara, carilah tempat sembunyi! Keberadaanmu bisa menghalangi koneksi kami." Ujar Taehyung ketus. Jungkook memajukan bibirnya beberapa centi. Biasanya cara itu selalu bekerja pada Taehyung. "Hush! Hush!" Tapi sepertinya cara itu tidak bekerja kali ini. Jungkook menuruti perintahnya dan mulai mencari tempat persembunyian. Tidak ada banyak tempat untuk bersembunyi di sana. Yang ada hanyalah setumpuk kardus kosong bekas berdebu. Tak ada pilihan lain. Jika ia tidak bersembunyi, mungkin Taehyung akan mengusirnya lagi seperti seekor kucing.
Dari balik tumpukan kardus, Jungkook bisa melihat Taehyung memulai ritualnya. Tekanan udara tiba-tiba terasa lebih tinggi dari sebelumnya. Area sekitar Taehyung mulai dikelilingi cahaya keemasan. Cahayanya begitu menyilaukan sehingga Jungkook tak punya pilihan lain selain menutup matanya. Jungkook tidak mau ambil resiko. Melihat cahaya itu dengan mata telanjang, bisa saja membuatnya buta atau mengalami gangguan mata lainnya. Apa Taehyung akan baik-baik saja? Jungkook tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Jadi, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jungkook ingin bertanya jika Taehyung baik-baik saja, tapi tampaknya ia sangat fokus pada ritualnya. Tak sampai 10 menit, tekanan udara kembali normal. Sahaya keemasan juga perlahan memudar. Hal pertama yang Jungkook lihat saat ia membuka adalah sesosok makhluk hijau bersayap yang sedang memukuli Taehyung sambil melayang-layang di udara. Gayanya persis seperti Taehyung saat pertama kali ia menemukannya terjatuh. Tapi pria ini jauh lebih aneh. Mulai dari linen, panah, hingga sayapnya, semuanya berwarna hijau. Apa dia Love Shooter juga?
***Maafkan aku teman-teman karena tidak menepati janji T_T harusnya aku update chapter ini dari minggu kemarin. Ada urusan yang harus aku urus. Maafkan aku.. semester ini sibuk sekaliiii, aku pengen cepet lulus T_T *curcol* oh ya, chapter satunya lgi aku update paling lambat besok sore yaaa
Semoga kalian masih mau menunggu... :)
