-KIM TAEHYUNG-

Setiap Love Shooters dibekali kekuatan dan kemampuan yang membuat mereka spesial. Satu diantara kemampuan itu adalah telepati. Taehyung memiliki kemampuan itu juga, tapi ia tak pernah menggunakannya sekalipun. Love Shooters bukanlah makhluk sosial yang bergantung satu sama lain. Karena setiap orang memiliki kemampuan dan kekuatannya sendiri, Love Shooters jarang sekali meminta bantuan dari orang lain. Lupakan soal bantuan, mereka bahkan tidak pernah benar-benar bisa berteman dengan satu sama lain. Bagi mereka, tugas untuk membuat manusia menyadari rasa cintanya adalah prioritas utama.

Taehyung beruntung, di sela-sela kesibukannya sebagai Love Shooter, ia menyempatkan diri untuk menjalin hubungan pertemanan. Temannya memang tak banyak. Hanya satu orang saja. Tapi dari satu orang itu, Taehyung mempelajari banyak hal, dan Taehyung yakin teman satu-satunya itu adalah orang yang dapat diandalkan. Love Shooters mungkin bukan makhluk sosial, tapi ia percaya bahwa temannya adalah pengecualian. Di saat ia mendapatkan kesulitan, hanya temannya lah yang dapat dimintai bantuan. Itulah sebabnya Taehyung ingin menggunakan telepati padanya sekarang. Setelah kehilangan hampir seluruh kemampuannya, Taehyung tak yakin jika telepatinya akan berhasil. Apalagi ini adalah pertama kalinya bagi Taehyung. Tapi, kita tidak pernah tahu jika tidak mencobanya, bukan?

Taehyung duduk bersila di tengah-tengah tempat terbuka itu. Jemarinya yang saling bertautan satu sama lain disimpan di depan dada. Matanya yang tajam menutup perlahan. Sejauh ini, ia telah melakukannya dengan baik. Tapi, bagian tersulitnya akan segera datang. Kunci dari telepati adalah pemusatan perhatian. Bagi Taehyung, hal itu bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena memusatkan perhatian tidak pernah jadi keahlian Taehyung.

Peluh mulai bercucuran saat perhatiannya mulai dipusatkan. Telepati memang memakan banyak tenaga. Di saat seperti itu, Taehyung malah punya ide gila. Barangkali suatu hari ia ingin membakar kalori, ia akan melakukan telepati. Namun, ia segera menepis pemikiran gila itu. Telepati ini mungkin saja kesempatan terakhirnya untuk kembali. Jika ia tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, mungkin Taehyung harus mulai memikirkan pekerjaan yang tepat untuknya di dunia manusia.

"Hey, nak! Sampai kapan kau akan menutup mata?" suasana di sekitar Taehyung terasa lebih suci dari sebelumnya. Aura yang datang dari pemilik suara sama seperti auranya saat menjadi Love Shooter. Tak salah lagi. Pemilik suara ini pasti berasal dari kaumnya. Taehyung membuka matanya dengan cepat. Walau sudah lama tak bertemu, ia tidak pernah menyangka akan begitu merindukan pemilik suara itu.

Sesosok mahkluk serba hijau melayang-layang di hadapannya. Kedua tangannya menyilang di dada. Ia tidak berubah sedikitpun. Hijau masih saja jadi favoritnya. J-Hope, begitulah ia dipanggil. Sama seperti nama asli Taehyung, nama temannya juga sama anehnya. Mau bagaimana lagi, mereka tidak punya pilihan lain selain menerima julukan apapun yang diberikan tuannya.

Taaehyung berdiri dan membersihkan debu-debu yang menempel di seragam sekolahnya. Bukan. Maksudnya seragam sekolah Jungkook. Jeon Jungkook sangat mencintai barang-barang miliknya. Debu sedikit saja bisa membuatnya kehilangan kendali dan mencekik Taehyung.

"HEY! Apa itu? Mana sayapmu? Ada apa dengan bajumu? Apa yang terjadi?" J-Hope berputar-putar mengelilingi Taehyung. Tampaknya ia baru menyadari perbedaan pada dirinya. Matanya menjelajahi setiap inchi tubuh Taehyung dengan teliti. "Hyung, sayapku menghilang.. begitu juga kekuatanku." Sayap J-Hope mengepak lemah. Raut terkejut di wajah J-Hope membuatnya terlihat beberapa tahun lebih tua. "Apa yang terjadi?" kepala Taehyung tertunduk lesu. Mengingat kembali kejadian yang menyakitkan itu membuat kepalanya terasa diketuk palu. Tinjunya mengepal dengan erat menunjukkan betapa emosi dirinya pada kejadian itu. Sebisa mungkin ia menahan emosinya yang bisa meledak kapan saja layaknya bom waktu. Dadanya terasa menggolak seperti air mendidih. Sembari menggertakan giginya, Taehyung menceritakan seluruh kejadiannya pada J-Hope.

"Ini... rumit." Bahu J-Hope merosot hingga ke lantai. Entah hanya perasaan Taehyung saja atau memang warna hijau semua item yang ada pada J-Hope sedikit memudar. Ia terlihat sangat pucat, tak seperti biasanya. Lensa matanya yang juga berwarna hijau terlihat mengkilap karena air mata. "Aku tahu." Taehyung menjatuhkan pantat-tidak-seksinya ke lantai, yang langsung ia sesali karena tulang ekornya terpaksa berkenalan dengan lantai atap yang berdebu itu. Taehyung melirik J-Hope untuk meminta pertolongan, tapi tampaknya J-Hope teralihkan oleh seseorang.

Tak jauh dari tempat Taehyung dan J-Hope, Jungkook berdiri di belakang tumpukan kardus yang tak jauh lebih tinggi darinya. Rambutnya berantakan, seragamnya tak karuan. Tanpa bertanya pun Taehyung tahu ialah yang menyebabkannya seperti itu. "Jadi kau tinggal bersama anak itu?" J-Hope mengernyitkan dahinya yang mengkilap karena cahaya matahari. Sementara itu, Jungkook tampak salah tingkah saat J-hope menatapnya, seolah tertangkap basah menguping pembicaraan yang tak seharusnya ia dengar. "V.. anak itu.. dia bisa melihatku."


"Kau baik-baik saja?" Jungkook menepuk pundak Taehyung yang tak terlalu lebar, menyadarkannya dari lamunan. Sejak J-Hope pergi, Taehyung terus menerawang langit selama beberapa menit. Begitu banyak hal yang dipikirkannya, hingga ia tak sadar bahwa Jungkook sudah berdiri di sampingnya. Taehyung mengamat-amati wajah Jungkook dengan seksama. Semilir angin sore menyibakkan surai rambut Jungkook yang kecokelatan. Katakanlah Taehyung berlebihan, tapi wajah Jungkook tampak bersinar saat terpapar sinar matahari. Mungkin inilah pertama kalinya Taehyung melihat seseorang terlihat begitu indah bahkan ketika ia sedang mengkhawatirkan orang lain. Apa yang begitu spesial dari dirinya?

"V.. anak itu.. dia bisa melihatku." Taehyung terlonjak. Kedua matanya membuka lebar hingga bola matanya mau terlepas. "Hyung!?" "Aku sungguh-sungguh V. Tidakkah kau lihat betapa dia terkejut karena aku memergokinya bersembunyi di balik tumpukan kardus itu?" J-Hope mengangkat satu alisnya, meminta jawaban. "Kau tahu betul manusia tidak dapat melihat kita. Bukankah ini aneh dia dapat melihatku?"

"Y-ya, aku baik-baik saja." Taehyung menunjukan senyum kotaknya yang khas, berusaha menyembunyikan segala kekhawatiran yang terus menggerogoti bagian kecil dari hatinya. Sayangnya hal itu tetap tidak membuat Jungkook lebih baik. "Kau mencemaskanku?" Taehyung menyiku lengan Jungkook dengan manja, membuat wajah Jungkook memerah seketika. Wajahnya sering sekali memerah akhir-akhir ini, mungkin karena cuaca di Seoul yang panas. "B-Bicara apa k-kau! T-tidak s-sama sekali. A-aku hanya bertanya karen—" Taehyung menangkup wajah Jungkook yang terasa sepanas mesin penghangat ruangan. Gerakannya terlalu tiba-tiba hingga Jungkook tidak dapat berkata-kata.

"Beberapa manusia mungkin diberi anugerah untuk dapat melihat hal-hal gaib, tapi Love Shooters tidak termasuk di dalamnya. Tidak ada satupun manusia yang dapat melihat kita V." Taehyung mengepalkan tinjunya. "Lalu, bagaimana dengan anak itu?" J-Hope terdiam sesaat. Dari ekspresinya, Taehyung tahu bahwa ia mengetahui sesuatu. "Selain penampilan fisik dan kekuatan, apa kau bisa menyebutkan perubahan lain yang terjadi padamu?"

"Berhenti bertingkah seperti tsundere, wajahmu itu tidak bisa membohongi perasaanmu. Lagipula, aku bisa membaca pikiranmu." Entah sejak kapan wajah mereka menjadi begitu dekat hingga hanya berjarak beberapa senti saja. Selain saat Jungkook menggendongnya, mereka tidak pernah berada sedekat ini sebelumnya. Dari jarak itu, ia bisa melihat setiap inchi wajah Jungkook dengan jelas.

"A-aku tidak yakin." bahu Taehyung merosot. Pertanyaan itu begitu sederhana dan mengganggu pikirannya. Mengenali diri juga bukan keahliannya. Sekalipun ia menggali jawabannya, Taehyung tetap tak menemukannya. "Sekarang kau memiliki sifat-sifat manusiawi, V. Apa kau tidak sadar sudah berapa kali kau mengepalkan tinju sejak bicara denganku? Kau marah. Sangat marah. Aku bisa melihat dengan jelas kekesalanmu itu." J-Hope menunjuk ke atas kepala Taehyung. "Kau.. kau juga memiliki layar status, sama seperti manusia-manusia yang biasa menjadi targetmu."

Taehyung telah tinggal cukup lama untuk mengenali sifat Jeon Jungkook. Hal itu tidaklah sulit karena ia juga dibantu oleh kemampuannya dalam membaca pikiran. Namun, segala hal yang diketahuinya tentang anak bernama Jeon Jungkook itu seolah tak cukup ketika ia menatap matanya. Mata cokelatnya begitu indah sehingga membuat siapapun yang melihat tenggelam di dalamnya. Matanya seperti sumur emas tak berdasar, gelap dan dalam, tapi membuat semua orang penasaran. Tenggelamkan diri lebih dalam, maka kau akan temukan emas yang telah disembunyikan. Mungkin kira-kira seperti itu istilahnya. Taehyung menggeleng-gelengkan kepalanya dan melepaskan kedua tangannya dari wajah Jungkook. Sekilas, Taehyung pikir ia melihat raut kecewa di wajah Jungkook. "Sudah sore, ayo pulang!"


"Sofaaaaaa~~!" Taehyung melemparkan dirinya ke atas sofa merah di ruang tengah. Sofa itu sudah seperti tempat favoritnya di rumah Jungkook. Karena selain ruang tengah, dapur, dan kamar mandi, Taehyung belum pernah menjelajahi sudut lain ruangan di rumah besar itu. "Aku mau mandi dulu. Jangan mengacau dan ganti pakaianmu!" Jungkook melengos pergi meninggalkan Taehyung yang berpelukan mesra dengan sofa rumahnya. Anak itu tidak banyak bicara sejak kejadian tadi. Ia hanya akan bicara jika Taehyung bertanya. Taehyung jadi berpikiran gila kalau Jungkook mungkin memang kecewa karena ia melepaskan tangannya.

"Hey, Kookie!" Jungkook sontak berbalik saat Taehyung menyebut nama itu. Itu adalah nama panggilan yang Taehyung berikan untuknya. Mereka telah menjadi lebih dekat sekarang, tidak ada salahnya jika Taehyung memanggilnya dengan nama manis macam itu. Ia memang belum mendapat persetujuan dari Jungkook, tapi Taehyung cukup yakin Jungkook akan menyukainya. "A-apa? Kau memanggilku apa tadi?" Jungkook mengipasi wajahnya yang lagi-lagi merona. Walau sedikit terkejut dan salah tingkah, Jungkook tampaknya menyukai nama panggilan itu. "Aku tidak mengatakan apa-apa. Cepat mandi sana! Pipimu memerah lagi." Jungkook berlari ke kamar mandi dan membanting pintunya dengan keras. Tampaknya Taehyung berhasil membuatnya malu lagi. Menggoda Jeon Jungkook memang selalu menyenangkan. Wajahnya mudah sekali memerah dan tingkahnya juga menggemaskan. Seandainya suatu hari Taehyung kembali menjadi Love Shooter, hal ini pasti akan sangat dirindukannya.

Sofa rumah Jungkook sangat empuk dan nyaman. Kenyamanannya memang tidak bisa dibandingkan dengan awan, tapi sofa jauh lebih baik daripada kursi di sekolah yang dingin dan keras. Sekolah? Ah, ya. Taehyung pergi bersekolah hari ini. Ia telah melakukan banyak hal gila. Seperti yang dikatakan oleh J-Hope, ia telah menjadi seperti manusia. Cupid pasti tidak akan membiarkannya lolos begitu saja saat ia kembali. Taehyung memejamkan matanya yang terasa begitu berat. Hukuman apapun yang akan diterimanya nanti, Taehyung akan memikirkannya lain kali.

Dunia sekitar Taehyung tiba-tiba diliputi kegelapan. Perasaan yang sama seperti saat ia terkena panah miliknya datang kembali. Apa aku kehilangan kesadaran lagi? Pikir Taehyung. Anehnya tubuh Taehyung sama sekali tak melawan. Ia justru semakin tenggelam dan tenggelam lagi dalam kegelapan yang terasa menenangkan. Saat Taehyung membuka matanya ia berada di tempat tinggi yang sama sekali bukan rumah Jungkook. Dari atas sana ia dapat melihat puluhan bahkan ratusan gedung terhampar di daratan kota Seoul. "Waahh! Apa ini? Apa aku melakukan telportasi?"

"Rap Monster? Apa yang kau lakukan disini?" Taehyung terlonjak dari tempatnya. Seseorang di belakang Taehyung sepertinya memergokinya. Ia tidak tahu jika disana ada orang lain selain dirinya. Lagipula sejak kapan ia ada disana dan kenapa orang itu memanggilnya Rap Monster? Uh, Taehyung benci disamakan dengan makhluk jahat itu. "H-hey, sepertinya kau—" "Melakukan tugasku, tentu saja. Apa ini caramu menyambut sahabat lama? Dan ini!" mulut Taehyung ternganga begitu lebarnya. Sesosok makhluk yang paling dibencinya dan dirinya sendiri, maksudnya dirinya yang lain ada di hadapannya saat ini. Taehyung mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa yang dilihatnya bukanlah kenyataan. Rasa lelahnya yang berlebihan mungkin saja memberikan efek halusinasi padanya. "Aku pasti sudah gila." Taehyung menampari dirinya sendiri. Apakah ia sebegitu bencinya pada Rap Monster hingga kejadian saat ia menyerangnya tergambar begitu jelas di hadapannya.

"Aku setuju! Kau memang gila." Sesosok makhluk lain tiba-tiba berdiri di sampingnya. Cahaya berwarna hijau berpendar dari tubuh makhluk itu. "J-Hope hyung? Apa yang sebenarnya terjadi disini? Apa aku melakukan perjalanan waktu?" Taehyung menunjuk dirinya yang sedang terlibat pertengkaran dengan Love Breaker. "Bisa dikatakan begitu. Bedanya, yang melakukan perjalan waktu disini bukan dirimu seutuhnya, tapi jiwamu saja. Lihatlah tubuhmu!" J-Hope menunjuk badan Taehyung yang tampak seperti hologram, terlihat nyata, tapi tembus pandang. Berbeda dengan J-Hope, tubuhnya mengeluarkan pendar keemasan. "Aku seperti hantu." J-Hope tertawa terbahak-bahak. Kebanyakan orang akan panik jika dihadapkan pada situasi seperti itu, tapi tidak dengan Taehyung. Ia juga terkejut dirinya masih bisa mengeluarkan candaan seperti di saat-saat seperti ini.

"Ikuti aku!" J-Hope menggamit lengan Taehyung dan membawanya terbang ke depan gerbang sekolah. Taehyung tahu kedatangan mereka kesana adalah untuk mencari petunjuk, tapi ia tidak mengerti mengapa mereka malah menjauh dari pertarungan. Taehyung tidak tahu jika temannya sebodoh ini. "Perhatikan anak itu!" J-Hope menunjuk seorang siswa yang tengah berjalan ke arah mereka. Meski wajahnya tidak begitu jelas, tapi dari gaya dan cara berjalannya, Taehyung bisa langsung mengenali bahwa anak itu adalah Jeon Jungkook. Jungkook tampaknya sedang menerima telepon dari seseorang. Taehyung berani taruhan kalau orang itu tak lain adalah Park Jimin. Dari belakang Taehyung, sebuah anak panah meluncur dengan cepatnya menuju ke arah Jungkook. Taehyung mencoba berteriak sekencang mungkin untuk memperingatkan Jungkook, tapi sepertinya ia tak terdengar. Sesaat Taehyung melupakan bahwa dirinya hanya sebuah jiwa yang melakukan perjalanan waktu untuk mencari kebenaran. Mencampuri urusan yang terjadi di masa lalu tidak seharusnya dilakukan. Di depan sana, Jungkook tampak kesakitan. Badannya menggeliang-geliut seperti cacing kepanasan. "Tadi itu anak panah yang akan kau gunakan untuk membidik Mark." J-Hope menunjuk atap gedung tempat dulu Taehyung akan melakukan misinya.

Misi itu hampir saja berhasil jika saja Rap Monster tidak mengganggunya dan membuat anak panahnya meleset. Akhirnya yang Taehyung takutkan terjadi. Rupanya anak panah itu mengenai seseorang, dan seseorang itu adalah Jeon Jungkook. Keadaan jadi makin rumit sekarang. Taehyung tidak tahu lagi jika ia bisa kembali. Sekalipun ia kembali, mungkin ia akan mendapat hukuman pemotongan sayap karena sudah bersikap ceroboh. Taehyung memukul-mukul kepalanya. Jika bukan karenanya, Jungkook mungkin tidak akan terlibat dalam keadaan ini.

"Sekarang kau mengerti keadaannya kan? Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku sudah menjelaskan semuanya pada ketua. Ketua juga sudah berkonsultasi dengan Tuan Cupid. Tuan bilang kau bisa kembali, tapi sebelum itu kau harus melakukan suatu misi."


-JEON JUNGKOOK-

Hari ini bahkan bukan hari ulang tahunnya. Tapi Jungkook merasa dirinya terlalu sering dipermainkan, terutama oleh Kim Taehyung. Bagaimanapun, ini adalah resiko yang harus ditanggungnya karena telah membiarkan Taehyung masuk ke dalam kehidupannya. Mempermalukannya adalah satu hal, tapi menggodanya tidak bisa termaafkan. Mengingat bagaimana Taehyung menangkup wajahnya hari ini membuat wajah Jungkook semakin memerah. Melihat wajahnya begitu dekat membuat detak jantungnya tak karuan. Jungkook pikir ia mungkin harus memeriksakan jantungnya ke dokter kalau-kalau ada kelainan. Jungkook membasuhkan air ke wajahnya yang memanas berkali-kali. Bahkan setelah mandi sekalipun, panas di wajahnya tak juga menurun. Apa mungkin aku demam?

Setelah berpakaian, Jungkook menghampiri Taehyung di ruang tengah. Niatnya sih ingin menyuruhnya untuk mandi, karena setelah diingat-ingat, Taehyung tidak pernah terlihat mandi sejak ia datang ke rumahnya. Taehyung memang tidak berbau seperti orang yang tak mandi sebulan. Anehnya, ia bahkan lebih wangi dari orang yang mandi sekalipun. Itulah sebabnya Jungkook tidak pernah memaksanya untuk mandi. Taehyung jauh lebih bersih, wangi, dan rapi dari orang yang mandi 3x sehari. Mungkin itu adalah salahsatu keistimewaannya sebagai Love Shooter. Yah, tentu Jungkook tidak keberatan Taehyung tidak mandi, selama ia tetap wangi. Tapi, Taehyung telah mengalami hari berat, Jungkook pikir setidaknya berendam dalam air hangat akan membantunya untuk relaksasi. Jungkook memuji dirinya sendiri dalam hati. Ia tak pernah sebaik ini pada orang lain, harusnya Taehyung bersyukur akan hal itu.

Tadinya Jungkook berencana untuk memarahi Taehyung sepulang dari sekolah. Tapi sepertinya ia begitu kelelahan. Hari ini adalah hari yang baru baginya. Harus menghadapi ratusan orang yang tergila-gila padanya mungkin lebih sulit daripada memanah anak manusia. Selain itu, Taehyung juga harus melakukan telepati yang membutuhkan banyak tenaga. Bisa dilihat dari kantung matanya yang terlihat lebih besar dan hitam sejak ia melakukannya. "Taehyung sebaiknya k—" Jungkook menghentikan langkahnya saat melihat Taehyung terlelap di sofa rumahnya. Posisi tidurnya yang telentang memperlihatkan badannya ramping dan cukup tinggi.

Rasanya menakjubkan melihat Taehyung tertidur seperti itu. Ini adalah pertama kalinya Jungkook melihat Taehyung tertidur. Sebenarnya bukan yang pertama. Bahkan dalam tidur pertamanya pun, Taehyung tak bisa tinggal diam. Tubuh bagian atasnya memang diam, tapi kakinya terus menendang-nendang. Entah apa yang dimimpikannya, Jungkook penasaran. Apakah ia mengalami mimpi buruk? Dengan mulut yang terbuka, Taehyung menggumam dalam tidurnya. Wajahnya tampak resah dan gelisah. Jungkook menyibakkan surai kecoklatanTaehyung yang tampak basah dan lengket oleh keringat. "Apa yang membuatmu begitu gelisah sampai terbawa dalam tidur?"

Bahkan dengan wajah resah dan basah oleh keringat, Taehyung masih terlihat tampan. Jungkook heran kenapa makhluk setampan dirinya harus menjadi Love Shooter. Dengan ragu Jungkook membelai rambut Taehyung yang terasa lembut di tangan. Sebenarnya Jungkook takut Taehyung tiba-tiba terbangun dan mengira ia akan melakukan hal yang cabul. Ia mungkin terlihat seperti itu, tapi ia tidak memiliki niatan sedikitpun. Selama ini Taehyung selalu menggodanya dan menyentuh wajahnya seenaknya. Anggaplah membelai rambutnya adalah balasan akan hal itu.

"Jungkook?" Belaian Jungkook terhenti saat Taehyung membuka sebelah matanya. Sialnya, Taehyung malah terlihat lebih tampan seperti itu. Lagi-lagi wajah Jungkook memerah. Jantungnya berdetak begitu keras dan cepat. Ia jadi khawatir Taehyung mungkin bisa mendengarnya. Jungkook ingin mengatakan sesuatu, apa saja, agar ia tidak merasa terpojok seperti ini. Ia merasa seperti tertangkap basah ketika melakukan kejahatan. Ayolah bibir, katakan sesuatu! "A-A-A-Aku.. aku tidak—" sebelum Jungkook menyelesaikan kalimatnya, Taehyung telah kembali ke alam mimpinya.


**Mulai sekarang aku gak akan janji soal waktu update lagi.. aku udah keseringan melanggar janji yang aku buat sendiri... aku juga udah keseringan minta maaf dan bikin alasan.. jadi, mulai sekarang aku gak akan membual lagi T_T