Tap.. tap.. tap…
Dentuman sepatu beradu dengan lantai. Terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam cleaning service dengan nametag Ratih tersemat di dadanya. Seperti biasa, ia akan memeriksa satu persatu ruangan sebelum menguncinya. Dan kini, ia telah berada di depan pintu toilet khusus putri.
Kriieeettt…
"Hallo., ada seseorang di sini?" ucapnya sambil memasuki toilet. Baru beberapa langkah, ia dikejutkan oleh suara pintu yang digedor paksa.
Dokk.. dokkk.. dokkk…
"To- tolong! Saya terkunci di sini.,"
Terdengar suara teriakan dari salah satu bilik. Bu Ratih segera menghampiri daun pintu yang bergoyang pelan karena digedor dari dalam. Dikunci!
"Siapa di dalam?"
"Saya Ais., tolong keluarkan saya.,"
"Hah? I-Iya, tunggu sebentar!"
Bu Ratih segera memutar gigi kunci dan membuka pintu lebar-lebar. Terlihatlah seorang gadis remaja yang meringkuk lemas di depan sekat pembatas antar bilik. Badannya bergeletar hebat dengan kondisi masih terisak.
"Astagfirullah., kamu gak apa-apa, dik? Apa kamu terluka?" tanya Bu Ratih khawatir. Dengan sigap ia membantu sang gadis keluar dari toilet.
"Tidak, Bibi. Saya baik-baik saja.," ujarnya sambil tersenyum lemah.
"Benarkah?"
"Iya.,sungguh. Terimakasih Bibi telah menolong saya, permisi.,"
"Iya, silahkan.,"
Gadis itupun pergi, meninggalkan Bu Ratih yang menatapnya nanar dari kejauhan.
.
.
Disclaimer; Boboiboy Animonsta Studios
Warning; Fangxfem!Ais, AU, OOC, EYD, Typo(s), bahasa ngawur, alur gak jelas, gaje tingkat akut!
.
.
Don't like don't read..
.
.
Happy reading^^
.
.
Ais's pov ...
Cahaya mentari meredup seiring teriakan burung gagak yang menggema. Jalanan sepi dengan sedikit orang berlalu lalang disekitarnya. Beberapa kendaraan bermotor melintas dengan kecepatan sedang.
Kulangkahkan kakiku tanpa tujuan yang pasti. Aku tak ingin pulang. Aku masih ingin menyendiri, menenangkan perasaan yang berkecamuk di hatkui ini.
Tanpa sadar, aku telah berada di dalam area taman yang nampak asri. Taman belakang R.S Pulau Rintis.
Manikku terpaku pada sebuah bangku kayu sederhana, dengan beberapa ukiran indah yang menghiasinya. Nampak manis, namun dingin. Ku tatap helaian rumput yang bergoyang tertiup angin. Sorot jingga berbaur lembut menelisik dedaunan pepohonan dan bunga.
"Kenapa?"
Mataku mulai memanas. Sekali lagi kuungkapkan pertanyaan itu. Pertanyaan sederhana, namun mengandung beribu makna. Buliran kristal kembali mengalir untuk kesekian kalinya. Manikku menatap kosong hamparan awan yang menggantung di angkasa.
"Hiks., ke-kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Tak cukupkah dengan kepergian orangtuaku? Hiks., aku.. aku tak sanggup lagi.. Hiks., hiks.."
Air mataku mengalir deras, seiring ratapan hatiku yang semakin membuncah. Mulutku terus bergumam tak terkendali. Menyeruakkan kalimat-kalimat menyayat hati yang selama ini kupertanyakan jawabannya…
.
.
'Mengapa?
Mengapa nasibku harus seperti ini. Apakah arti keberadaanku di mata 'mereka'? Tak bisakah 'mereka' berhenti melukaiku? Berhenti meremukkan perasaan gadis yang tak berdaya ini?
Tak tahukah seberapa rapuh hati seorang gadis yang terluka ini? Gadis yang telah kehilangan segalanya! Gadis yang kehilangan kedua orang tuanya.. Gadis yang terlalu rapuh untuk sekedar menjalani kehidupannya.. Seorang gadis yang mendambakan perhatian orang di sekitarnya.. Mendambakan ke-ikhlasan hati setiap orang yang ditemuinnya..
Tak bolehkah aku berharap terlalu tinggi?
Mungkin jawabannya., tidak!
Karna aku tau., harapan hanyalah tinggal harapan..
Semua orang yang ku temui hanya akan memandangku sebelah mata! Memandangku sebagai gadis lemah yang menjijikkan! Gadis yang tak patut berada dalam lingkungan masyarakat 'elit' seperti 'mereka'!
Tentu saja! 'Mereka', sekumpulan gadis egois yang mementingkan diri mereka sendiri. Gadis manja yang selalu mempermainkan gadis lemah sepertiku! Tak peduli seberapa tajam lidah mereka menyapu! Tak peduli seberapa besar rasa sakit hati yang tertoreh karna ucapannya! Bahkan., belum puas dengan semua itu. Rasa perih yang menjalarlah akibatnya..
Tak bolehkah aku berharap?
Setidaknya., suatu saat akan hadir 'malaikat' penolong yang akan menuntun jalanku… Yang menyelusupkan rasa damai dan kehangatan di hatiku… Seseorang yang akan memahami diriku.. Menjaga perasaanku.. Seseorang yang akan menyalurkan kenyamanan dalam hidupku.. Yang akan menghapus segala dukaku.. Yang akan mengukir senyuman indah di wajahku..
Seseorang yang mengajariku arti kehidupan yang sebenarnya... Mengajariku apa arti kesabaran dan keikhlasan..
Terlampau tinggikah harapanku?'
.
.
"Hiks., hiks.,"
Kedua telapak tanganku terkepal erat, isak kecil terdengar tanpa dapat ku bendung. Tak terkira berapa lama waktu yang telah kuhabiskan hanya untuk sekedar menangis. Sementara sang mentari telah tergelincir menuju peraduannya. Aku tetap diam., mematung layaknya tempahan tak bernyawa. Hati ini bagai beku., fikiranku tak dapat bekerja dengan benar. Bahkan., tak kusadari suasana taman yang kini berangsur menggelap.
Sreettt…
"..?.."
Aku terkejut. Sebuah jaket tersampir kemas di kedua bahuku. Jaket berwarna merah maroon dengan sedikit aksen ungu disetiap sisinya. Aku termenung..
"Cepat hapus air mata kamu., nggak baik lho nangis di tempat umum.,"
Kuperhatikan ia lekat-lekat. Rambut indigo dengan manik sewarna anggur kutemui. Ia mengenakan kaca mata ber-frame ungu dengan baju pasian melekat di tubuhnya yang kurus. Ia berkata ramah sambil menyodorkan sapu tangan yang lagi-lagi berwarna ungu.
Aku mengambilnya walau agak segan. Tentu saja! Apa yang lebih buruk dari ketahuan menangis di tempat umum? Apalagi di hadapan seorang pemuda yang bahkan belum pernah kau kenal.
"Te-terimakasih.," ucapku sambil menunduk. Kuusap kedua belah pipiku menggunakan sapu tangannya. Wangi anggur menguar dari sana. Aku sedikit melirik wajah pemuda itu., tampan. Ia nampak tersenyum lembut.
"Namaku Fang. Siapa namamu?"
"O-oh., na-namaku Ais.," ujarku gugup. Ia mengangguk pelan.
"Kok tadi nangis 'sih., ada masalah ya?" ujarnya sembari duduk di sampingku. Aku terdiam, hingga membuatnya tersenyum kecut.
"Hhh., kalo ada masalah. Kamu boleh kok' curhat sama aku. Tapi., ya terserah kamu 'sih. Aku nggak maksa.,"
Semilir angin berhembus menyejukkan. Suasana berubah canggung seketika. Kami masih setia merenung wajah masing-masing. Hingga., datanglah seorang suster menghampiri kami.
"Permisi., maaf mengganggu. Tapi, ini sudah saatnya Anda kembali beristirahat.," ujar Suster itu sambil tersenyum ramah.
"Ya, Suster. Sebentar lagi., tolong.," tanggap Fang sedikit memohon. Ia kembali menatapku lembut.
"Kalau kamu mau curhat, aku selalu ada di sini saat matahari terbenam. Aku akan mendengarkannya dengan senang hati. Ok?"
Aku mengangguk pelan. Kulihat ia tersenyum manis dari balik helaian poniku. Sekilas, kulihat sinar ketulusan yang terpancar dari matanya.
"Baiklah., aku pergi dulu ya. Dan., oh ya! Berhenti menangis dan mulailah tersenyum! Ok? Masih banyak orang yang menyayangimu di luar sana. Lagi pula, kau terlihat manis saat tersenyum.,"
Fang berujar seraya menepuk puncak kepalaku. Kurasakan wajahku yang mulai memanas.
"Sampai jumpa lagi, Ais.,"
Ia pergi., kutatap punggungnya yang mulai menjauh. Tanpa sadar, ia telah membuatku mengulas senyum kecil.
"Ya! Sampai jumpa., Fang.."
.
.
.
.
Tbc…
.
A/N
Holla readers-san~
Corra di sini... /tebar"kembang7rupa_dilempartomat
Ok., ok! Corra tau kalo' cerita ini agak gaje... TTATT
Tapi., sebagai author yang baik.. /all:muntahberjamaah/ Corra akan 'mencoba' untuk melanjutkan fic yang sudah terlantar ini! Nanggung banget soalnya.. :"
Dan., gimana menurut readers-san? Apakah feelsnya bisa ngena? /all:gak!-_-"
Hehehee., lupakan.. /garuk"pipi
Terimakasih telah membaca ;)
N 4 the last...
MIND TO REVIEW?
