Entah sudah berapa musim kulalui.

Entah seperti apa kubertahan.

Entah bagaimana aku bisa sampai seperti ini.

Perasaan konyol ini, terlihat indah bukan?

Kau pun mengetahuinya.

Jadi… bahagialah.

Bersamaku.

Untuk selamanya.

.

.

.

REALLY?

KyuMin Fanfiction.

Implisit Mature Contents. #peace

Romance, Hurt/Comforts.

Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.

Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.

Just enJOY.

.

.

.

.

.

.

^Normal POV^

.

.

.

"Sunbaenim… aku menyukaimu…" Siang itu, di bawah pohon oak yang melindungi Sungmin dari sengatan matahari kala itu, seorang primadona sekolah menyatakan perasaannya pada Sungmin.

"Ah… terima kasih karena sudah menyukaiku, tapi aku…" Sejujurnya Sungmin tak memiliki perasaan apapun pada hoobaenya itu, mencoba menolak dengan sehalus mungkin. Itu yang Sungmin coba lakukan saat ini.

"Sunbaenim menolakku?" hoobae itu menanyakan keputusan Sungmin, dan ingin memastikan sesuatu.

"Jwaesonghamnida."

"Gwaenchanna… apa sunbaenim sudah menyukai orang lain?" mencoba mengerti, bahwa tidak semua orang akan menerima dirinya sekalipun ia primadona sekolah, hoobae itu mencoba melapangkan dadanya.

"Wanita itu memiliki naluri yang mengerikan nde…" sementara Sungmin hanya terkekeh geli mengetahui hal itu.

"Jadi aku benar? Sunbaenim… apa orang itu Kyuhyun?" sebenarnya hoobae itu ragu menyebutkan nama orang yang memang sangat dekat dengan Sungmin itu.

"Ye? Bukan, kenapa kau mengira demikian?" terkejut, Sungmin sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh hoobaenya.

"Banyak yang bilang, kalau sunbaenim dan Kyuhyun saling menyukai…"

"Bukan seperti itu juga, aku memang menyukai Kyuhyun. Dia dongsaeng yang paling aku sukai."

"Dongsaeng? Bukannya menyukai dalam artian cinta?" dan Sungmin hanya menjawab dengan tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung banyak makna di dalamnya, senyuman yang tak dimengerti oleh hoobae di hadapannya serta sebuah senyuman yang tak terlihat oleh orang yang tanpa sengaja mencuri dengar seluruh percakapan itu.

.

.

.

Tertidur dengan nyenyaknya, itulah yang dilakukan oleh Sungmin saat ini. Di bawah lindungan dedaunan pohon oak yang saat ini disandarinya, Sungmin berkelana jauh ke dalam mimpi indahnya. Tanpa menyadari ada salah satu hoobaenya yang mencuri sebuah ciuman darinya. Dan juga seorang pemuda yang menyaksikan itu semua, pemuda yang semenjak itu hatinya remuk. Pemuda yang sudah menyukai Sungmin sejak mereka pertama kali kenal. Dan bukan hanya menyukai, mencintai kedengarannya lebih tepat.

.

.

.

"Sungmin ah, kau mau 'kan memenuhi permintaan ahjumma?" sore itu, saat Sungmin kembali menjenguk sosok wanita yang selama ini mengasuhnya, yang selama ini membesarkannya dengan cinta, wanita yang tak pernah bisa dipanggilnya umma, wanita yang kini menggenggam lembut tangannya, wanita yang terbaring di ranjang pesakitannya.

"Aku… tentu saja akan memenuhinya ahjumma. Tapi… Kyuhyun? Dia takkan mungkin mau ahjumma. Aku sudah berbicara padanya, namun tak ada hasilnya." Sungmin hanya bisa memandang lirih sosok ahjumma Cho yang saat ini benar-benar bukan seperti ia yang biasanya. Sosok seorang ibu yang kuat, ibu yang selalu mengerti anaknya, ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya. Kini hanya bisa terbaring di ranjangnya itu.

"Ahjumma sudah berbicara dengan Kyuhyun. Dan dia sudah menyetujuinya. Sungmin ah, ahjumma sangat ingin melihat Kyuhyun bersama denganmu. Bersama orang yang dicintainya, bersama dengan orang yang bisa mengerti dia. Sungmin ah, mau 'kan?"

"Nde ahjumma, aku akan melakukan apapun untukmu. Untuk kebahagiaanmu." Jawab Sungmin sembari mengelus lembut pipi yang semakin tirus itu.

"Lakukan ini untuk kebahagiaan kalian juga, arrachi?" dan Sungmin hanya mengangguk serta memulaskan senyumannya. Senyuman yang nampak begitu tulus, sementara hatinya menjerit sebegitu pilunya.

'Kyuhyunnie takkan bahagia ahjumma, dia membenciku. Pernikahan ini, semata untuk membahagiakanmu ahjumma. Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan untukkmu. Aku hanya ingin kau tersenyum. Ahjumma, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena telah merawatku. Terima kasih.'

Dan pernikahan itupun terlaksana. Pernikahan tertutup yang hanya didatangi oleh kerabat dekat. Pernikahan yang semata bertujuan untuk kebahagiaan seorang ibu. Ibu yang tak lama setelah itu berpulang. Menuju perbaringannya yang terakhir. Pergi dengan senyuman karena ia berhasil melihat hal terakhir yang sangat diinginkannya sebelum ia pergi. Sebelum tubuhnya mencapai batasnya. Ia bahagia, tentu saja. Sementara kedua anak berhasil untuk berbahagia, hanya untuk sang ibu. Kebahagiaan palsu yang terhapus dengan cepat.

.

.

.

"Yunho yah, maaf hyung tak bisa datang. Anak ini benar-benar membuatku harus beristirahat." Pagi itu, adalah hari pernikahan Yunho dan juga Jaejoong. Dan usia kandungan Sungmin yang sudah memasuki minggu ke dua puluh sembilan, membuatnya tak bisa kemana-mana. Bergerak berlebihan sedikit saja, akan membuat perutnya tegang.

"Gwaenchanna hyung, kami mengerti. Hyung, apa suster Kim menjagamu dengan baik?" di seberang sana, Yunho yang walaupun hatinya berdegup kencang sesaat sebelum ia akan menutup masa lajangnya, ia tetap saja mengkhawatirkan Sungmin. Hyung sekaligus pasiennya itu.

"Tentu saja, suster Kim menjagaku dengan baik."

.

.

.

Dan, dua hari setelah perayaan pernikahan itu. Suster Kim menghubungi Yunho, memberitahukan jika Sungmin sepertinya sudah memasuki waktu untuknya melahirkan. Dan saat ia menghubungi Yunho, mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Begitupun Yunho dan Jaejoong yang tadinya ingin pergi berbulan madu, mereka segera memutar arah mobil mereka dan berpacu dengan waktu untuk tiba secepatnya. Mereka tak mau hal yang buruk terjadi 'kan?

Hari itu, Yunho dan timnya melakukan hal sulit. Setelah berhasil mengeluarkan bayi yang sangat sehat itu, Yunho melanjutkan pembedahan terhadap tumor yang menempel di dinding rahim Sungmin. Ya, rahim. Tidak mengherankan 'kan, jika seorang intersex memiliki rahim.

Benar-benar melelahkan. Namun mereka melakukannya dengan sangat baik. Tumor yang belum meradang itu berhasil diangkat. Sungmin beserta bayinya pun berhasil melewati masa-masa sulit itu.

.

.

.

"Halaboji! Adeul belhasil 'kan? Adeul melakukannya dengan baik 'kan?" mata berbinar itu, mata yang sangat mirip dengan orang yang telah melahirkannya itu menatap penuh dengan binar-binar pengharapan pada sosok kakeknya yang saat itu sedang berada di backstage.

"Ung! Cucu haraboji melakukannya dengan baik. Cucu haraboji sangat pintar." Balas sang kakek dan diusapnya pelan rambut sang cucu yang menampilkan senyuman lebarnya.

"Keundae, Adeul tidak membuat umma malu 'kan? Adeul melakukannya dengan baik 'kan?" kembali sinar mata itu memancar dengan pengharapannya yang tidak ingin membuat eommanya itu kecewa.

"Tentu saja, nah ini yang terakhir. Cucu haraboji kembali berjalan di sana nde, bawa bunga ini, dan saat umma muncul berikan bunga ini untuk umma. Arrachi?"

"Ung!" respon anak itu dengan sangat manisnya.

"Nah, ayo bersiap!" sang kakek kembali menemani cucunya itu, mengantar sang cucu hingga batas yang ia sanggupi. Melihat dari belakang, betapa bersinarnya sang cucu. Dan betapa bersinarnya anaknya yang saat ini memeluk hangat cucunya.

"Kalian takkan kulepas lagi. Teukkie yah, anak kita… akan kulindungi. Takkan kulepaskan lagi."

.

.

.

"Umma! Adeul ingin ke Seoul!" pintu ruang kerja itu terbuka dengan sangat kerasnya saat anak kecil itu masuk dan berlari menghampiri sang ibu yang saat ini menunggu anaknya untuk memeluknya.

"Eh, wae? Kenapa Sandeullie ingin ke Seoul?" sosok itu hanya menatap sang anak dengan tatapannya yang selalu tak mudah terbaca.

"Tadi, gulu di sekolah mencelitakan tentang Seoul, umma. Dan Seoul itu indah sekali, lebih indah dari Palis ini. Jadi ayo kita ke Seoul, nde?" bujuk si buah hati yang terlihat sangat ingin kembali ke kota kelahirannya itu.

"Sandeullie benar-benar ingin ke Seoul? Akan umma pertimbangkan… sekarang anak umma tidur ya? Ini sudah waktunya tidur bukan?" dan kini keduanya memasuki kamar tidur sang anak, untuk kemudian merajut mimpi indah mereka.

.

.

.

"Kau sedang memikirkan apa Min?" lelaki paruh baya itu memasuki ruang kerja anaknya. Memang anaknya itu tampak sedang bekerja, namun pikirannya entah sedang berada di mana sekarang ini.

"Appa… Sandeul ingin pulang ke Seoul. Menurut appa, apa yang harus ku lakukan?" sesaat setelah ayahnya bertanya, dia hanya bisa menghela nafasnya dan mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat itu.

"Menurutmu? Apa yang akan kau pilih? Membahagiakan anakmu dengan mengabulkan keinginannya atau terus saja berlari dari masa lalu yang selalu membuatmu terlihat seperti pecundang, hm?" memang seperti inilah watak ayahnya, selalu mengatakan sesuatu yang terdengar kasar namun kebenaran dibaliknya pun takkan bisa terelakkan.

"Aku berfikir… memang sudah saatnya aku kembali ke Seoul. Aku bukan pecundang, appa." Ya, memang sudah saatnya ia kembali ke Seoul, kontraknya di Paris baru saja usai, setelah malam puncak dari peragaan busananya.

"Aku tahu. Kau memang bukan pecundang. Kalau kau pecundang, kau takkan membiarkan cucuku itu terlahir ke dunia untuk melihat harabojinya yang tampan ini." Sang ayah mengerlingkan matanya sembari mengusap-usap dagunya dan jangan lupakan senyuman yang tak bisa menutupi ketampanan wajahnya yang mulai menua itu.

"Appaku dengan semua rasa percaya dirinya." Dia hanya menggerutu dan memutar kedua bola matanya pertanda ia agak jengah mendengar pujian sang ayah terhadap dirinya sendiri.

"Nah, Sungmin ah. Lagi pula cucuku itu sepertinya juga merindukan Yunho beserta Jaejoong." Sungmin hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan kalimat ayahnya itu.

"Sepertinya memang begitu appa, anak itu selalu menanyakan kedua ahjussinya itu."

"Baiklah, kapan kau akan pulang katakan pada ku nde? Biar aku juga bisa mengatur jadwalku. Aku sangat merindukan ibumu."

Bersamaan dengan keluarnya Kang In dari ruang kerja Sungmin, Sungmin kembali ke kursinya. Mengingat kejadian yang telah terjadi. Pertemuannya kembali dengan ayahnya yang telah lama menghilang. Pertemuan yang ditalikan oleh benang merah antara kakek dan cucunya.

Saat itu, saat umur Sandeul baru memasuki usia ketiga, anak yang tak bisa diam itu lepas dari pengawasan Sungmin. Padahal mereka baru saja sampai di bandara. Ya, Sungmin memutuskan untuk pindah ke Paris saat itu. Sandeul yang dengan lincahnya berlari mengitari bandara itu tak sengaja menabrak Kang In yang saat itu baru saja mengantar pergi kolega bisnisnya.

"Aduuuuuh… appoyo…" gumam Sandeul memegang hidungnya yang membentur badan Kang In.

"Nak, kau orang Korea?" tanya Kang In saat membantu Sandeul untuk berdiri.

"Ish, halaboji. Halushnya minta maaf kalena sudah membuat Adeul teljatuh. Bukannya beltanya yang aneh-aneh." Gerutu Sandeul yang memang terbiasa menyebut dirinya Adeul itu.

"Hahaha, anak pintar. Maafkan haraboji nde? Mana orang tuamu nak? Kenapa sendirian?" tanya Kang In lagi ketika ia mengusap pelan pipi gembil Sandeul. Batinnya mengatakan, anak ini mengingatkannya pada putranya satu-satunya. Putranya yang menghilang semenjak kebakaran itu.

"Ah iya… umma eodiseo? Hiks… Adeul telpisah dali ummahalaboji… apa yang halus Adeul lakukan? Hiks…" Sandeul kecilpun kini mulai terisak saat menyadari ia tak bersama orang yang melahirkannya itu.

Kang In benar-benar tak tega melihat air mata itu meluncur dari mata jernih anak kecil di hadapannya. Ia segera saja membawa Sandeul ke atas pundaknya dan mendudukan Sandeul di sana.

"Nah, pegang kepala haraboji nde? Kalau tinggi begini bisa melihat umma 'kan?" Sandeulpun menyetujui perkataannya.

Kang In yang kala itu berfikir jika sang anak ke bandara bersama ibunya, ia terus saja memfokuskan pandangannya pada gadis-gadis Korea yang berada di bandara itu.

"Lee Sandeul!" sebuah teriakan berasal dari belakang mereka, membuat Sandeul menoleh ke arah panggilan itu.

"Umma! Adeul di sini!" ia melambaikan tangannya bersemangat saat melihat sang eomma. "Halaboji, itu yang di sana ummanya Adeul. Yang sedang bellali kemali." Dan Sandeul pun memberitahukan keberadaan eommanya pada sang kakek.

"A…appa?" Sungmin yang masih bisa mengingat wajah sang ayah kini hanya bisa berdiri terpekur melihat anaknya sedang berada dalam gendongan sang ayah.

"Lee Sungmin?" hanya ada satu anak di dunia ini yang berhak memanggilnya dengan sebutan itu. Hanya ada satu anak, putra tunggalnya. Putranya bersama sang istri yang telah meninggalkannya terlebih dahulu. Lee Sungmin, putranya yang berharga.

Pertemuan kembali ayah-anak dan juga eomma-anak itu benar-benar memiliki kenangan tersendiri bagi Sungmin. Akhirnya ia tahu, kenapa ayahnya tak dapat menemukannya setelah kebakaran itu. Ya, ayahnya sedang bertugas di luar kota saat itu. Bukannya sengaja menghilang dan tak mencari keberadaan sang putra selama ini. Ia sudah berusaha. Namun, jejak Sungmin yang saat itu tanpa sengaja diasuh oleh keluarga Cho membuatnya tak dapat menemukan anaknya di Ilsan lagi.

Dan berada di Paris juga bukan sepenuhnya kemauannya. Bisnisnya kala itu, mengharuskannya berada di kota penuh cinta itu. Kota yang mempertemukannya dengan anaknya kembali beserta cucu yang sangat tak diduga olehnya keberadaannya.

Mendengar cerita Sungmin selama ini saat mereka terpisah membuat hatinya dipenuhi dengan berbagai rasa. Bersalah, kecewa, marah… namun ia tak bisa melampiaskan itu semua pada Cho Kyuhyun. Ya, ia sudah mengetahui semuanya. Tentu saja, takkan ada yang dirahasiakan Sungmin dari sang ayah.

.

.

.

"Sandeul ah, memangnya Sandeul ah tahu apa saja tentang Seoul?" sore itu sepulang dari berbelanja, Sungmin mengajak Sandeul untuk bermain sebentar di sebuah taman.

"Eung… Seoul itu kota kelahilan Adeul. Seoul itu ada Namsam towelnya… eung… ada apa lagi ya…" gumaman lucu itu berhenti tatkala ia sedang berfikir.

"Di Seoul, ada appanya Sandeullie." Ujar Sungmin sembari menatap anaknya.

"Appa? Appa itu apa sama sepelti Dad? Daddy? Umma pelnah bilang 'kan kalau di Palis, umma itu sama sepelti Mom dan Mommy. Apa appa itu juga sama umma? Soalnya teman belmain Adeul pelnah belcelita tentang Mom dan Dadnya." Mata bening itu menatap penuh minat pada ummanya yang sedang menatap langit sore yang beranjak menggelap.

"Ya anakku. Appa itu sama seperti Dad. Sama seperti saat umma memanggil Haraboji." Sungmin hanya tersenyum sembari menatap kembali anaknya yang memang pintar itu.

"Eih? Keundae, di mana ummanya umma… ish… apa sih namanya ummanya umma itu…" dan Sandeul kecil kembali menggerutu saat ia tidak bisa mengingat sesuatu.

"Ummanya umma itu, Sandeul panggil Halmeoni. Arrachi? Halmeoni sudah meninggal, halmeoni sudah lebih dulu bertemu dengan tuhan." Sungmin kembali tersenyum saat bayangan ummanya itu terlintas di benaknya.

"Lalu, apa appanya Adeul juga sudah beltemu dengan tuhan?" Sandeul kecil yang penuh dengan pertanyaan itu kembali mengutarakan apa yang terlintas dalam benaknya.

"Anniyaappanya Sandeul masih berada di Seoul. Appa Sandeul seorang dokter yang hebat." Jelas Sungmin. Ya, dia sudah membuat keputusan. Bahwa, Sandeul juga harus mengetahui sosok Kyuhyun. Appanya.

"Eiiih! Doktel? Sama sepelti Yuno ahjussi?" pekik Sandeul saat mengetahui appanya seorang dokter.

"Ung! Appa bekerja di rumah sakit yang sama dengan Yunho ahjussi." Sungmin mengiyakan pertanyaan anaknya yang memang tak ada hentinya itu.

"Lalu… kenapa appa tidak belsama kita umma? Adeul belum pelnah melihat appa…" kali ini sinar mata Sandeul meredup, ada sebuah rasa yang tiba-tiba saja merasuk. Seperti… rindu?

"Sebelum Sandeullie lahir, umma dan appa berpisah. Umma dan appa dulu sering menyakiti diri masing-masing. Appa dulu marah besar pada umma. Dan umma memang salah. Sandeullie jangan membenci appa nde? Appa hanya tak tahu Sandeullie ada bersama umma, makanya appa tak bisa bersama Sandellie saat ini." Sungmin hanya mencoba untuk tetap melindungi hati murni anaknya itu.

"Umma…" Sandeul hanya beringsut memindahkan tubuhnya kedalam pangkuan Sungmin. Memeluk erat tubuh ummanya yang sepertinya akan menangis.

"Nama appamu, Cho Kyuhyun. Dia sangat tampan lho. Dia juga sangat pintar. Makanya Sandeullie juga pintar seperti sekarang." Sungmin hanya menepuk-nepuk punggung anaknya yang kini sedang menyandarkan kepalanya di dalam rengkuhan hangatnya.

"Apa umma masih sayang appa?" tiba-tiba saja Sandeul menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sangat sulit untuk dijawab oleh Sungmin.

"Ya, umma selalu menyayangi appamu." Jawaban lirih itupun akhirnya keluar setelah Sungmin mengambil jeda cukup lama untuk menjawab.

"Lalu… apa appa masih sayang umma?" dan pertanyaan ini… Sungmin harus menjawab apa?

"Umma tidak tahu…" hanya itu yang bisa Sungmin utarakan.

Percakapan sore itu diakhiri dengan Sandeul yang terlelap di dalam pelukan Sungmin. Tak berapa lama berselang, Sungmin segera membawa tubuh anak semata wayangnya itu untuk pulang ke rumah mereka.

.

.

.

Seminggu kemudian, di bandara internasional Korea. Keluarga tiga generasi itu tampak keluar dari pintu kedatangan.

"Appa, kita langsung ke Ilsan?" Sungmin bertanya pada ayahnya yang terlihat sibuk bermain dengan Sandeul.

"Tentu saja. Adeul Adeul Adeul~ Kita ke Ilsan dulu mau? Kita bertemu dengan halmeoni." Ujar Kang In sembari mengecupi pipi gembil Sandeul.

"Halmeoni? Eungg… kata gulu Adeul, kalau mau menjenguk olang yang sudah beltemu tuhan, halus membawa bunga, nde halaboji?" Sandeul dengan segala rasa ingin tahunya.

"Benar sekali. Anak pintar. Jadi mau membelikan bunga apa untuk Halmeoni?" kembali Kang In bertanya sembari memasuki mobil yang akan membawa mereka ke Ilsan.

"Eungg, molla. Ummaumma yang pilih otte?" si kecil itupun kini meminta pendapat sang umma.

"Baik! Kita pilih bunga yang cantik untuk halmeoni." Sungmin hanya tersenyum saja sembari mencubit usil pipi anaknya yang menggemaskan itu.

.

.

.

"Annyeong yeobo… kali ini aku datang tak sendiri. Aku telah berhasil bertemu dengan putra kita dua tahun yang lalu. Maafkan aku, baru bisa berkumpul kembali dengannya setelah sekian lama. Kau takkan marah dan meneriakiku dari surga sana 'kan? Kau juga pasti sudah melihat cucu kita dari sana, kini dia datang bersama kami. Anak yang pintar, dan sangat baik sepertimu." Sandeul yang merasa kalau ia boleh menyapa halmeoninya kini beringsut mendekat.

"Annyeong halmeoni, joneun Lee Sandeul imnida. Halmeoni, umma dan halaboji bilang halmeoni itu sangat cantik dan baik nde? Kalau begitu halmeoni jangan takut disana ya. Kalena, gulu Adeul bilang, olang baik itu banya yang sayang. Halmeoni pasti disayang di sana nde? Jangan khawatil nde halmeoni. Adeul akan menjaga halaboji dan umma untuk halmeoni. Mianhae halmeoni, Adeul masih belum bisa bilang 'L' dengan benal. Padahal sebelum kesini Adeul sudah bellatih. Tapi masih belum bisa. Kalau Adeul kesini lagi, pasti sudah bisa bilang 'L' dengan benal. Yaksok!" Sandeul mengakhiri sapaannya itu pada sang halmeoni dengan muka merah saat berjanji untuk bisa berbicara dengan benar.

"Umma… apa kabar? Umma baik-baik saja selama ini di sana 'kan? Maafkan Minnie yang lama sekali baru kemari. Umma, bagaimana menurutmu, putraku ini mirip appa dulu 'kan? Appa yang tidak bisa melafakan huruf 'R' dengan benar dulu. Hehehe, satu rahasia yang umma bagi dulu." Ujar Sungmin saat appanya menatapnya garang. "Umma, baik-baiklah di sana. Aku janji, kali ini kami akan sering mengunjungimu. Tetap awasi kami dari sana nde umma." Dan Sungmin mengakhirinya dengan memberi bungkukan perhomatan untuk sang eomma.

"Apa sih yang sudah kalian bicarakan dulu? Kau ini… baik-baik di sana. Aku di sini akan melindungi harta berharga kita. Jangan khawatir. Aku masih sangat kuat untuk melindungi dua kelinci manis ini. Awasi kami saja di sana. Pantau kami dan tetap cintai kami dari sana. Karena dari sinipun kami tetap mencintaimu."

.

.

.

TBC/END lagi nih?

.

.

.

Ayooo, enaknya diendingin aja yak? #dikubur

Hehehe, banyak yang bilang endingnya gantung. Tuhkan emang iya~ kan belum tamat. Key gak ada bilang oneshoot lho~ hehe~

Terus banyak yang bilang Kyu tega sama Ming, sebenernya kan Key yang tega sama KyuMin #plak hehehe. Tapi, setega-teganya Key sama mereka, gak akan parah-parah amat kok~

Maaf ya lama update, gamau nyebut alasannya, soalnya ntar kesannya gimana-gimana. Tapi setelah ini gatau bisa update lebih cepat atau lebih lambat. Mianhae…

Dan! Yep! Key syuka Running man~ hahaha, gak Key dengan teman seangkatan, senpaitachi Key di kampus pun syuka variety show itu~ Eung. Lolol itu kan trademark Gary pas episode 2nd Best Running Man. Hanya Gary~ dan lolol koloninya~

Dan dichapter ini Key menjadikan Kang In sebagai appanya Sungmin. Dan memang, papa bear itu memang paling cocok. Serta Lee Sandeul, member B1A4. Entah kenapa kesengsem sama anak ini setelah lihat B1A4 Hello Baby. Dan baru nyadar di sana kalo Adeul mirip sama Sungmin. Walaupun ada mirip-mirip orang lain juga.

Lalu, di chapter ini Key fokus dulu ke keluarga Lee ini dulu ya. Iya, papa bear ganti marga sebentar aja nyoo~

Ok, annyeonghigaseyo~ selamat membaca~