Masa-masa kelam itu telah berlalu.
Kini, aku hanya akan merebut keajaibanku.
Tujuan hidupku kali ini adalah berbahagia bersama keajaibanku.
Siapapun, takkan kuizinkan untuk menghalangi.
Karena… di balik keajaibanku itu tersembunyi kebahagiaanku.
.
.
.
REALLY?
KyuMin Fanfiction.
Implisit Mature Contents. #peace
Romance, Hurt/Comforts.
Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.
Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.
Just enJOY.
.
.
.
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
"Ulel melingkal-lingkal di atas pagal… aissh! L itu susah! Menyebalkan…" pagi itu Sandeul tampak duduk di atas bangkunya, menunggu Sungmin memasak sarapan mereka sembari berlatih melafalkan huruf dengan benar.
"Cucu haraboji masih belajar hm?" Kang In yang baru saja datang ke ruang makan segera menghampiri Sandeul dan mengelus kepala cucu kesayangannya itu.
"Ini semua salah halaboji, kenapa sih halaboji halus menulalkan ini pada Adeul? Adeul 'kan anak baik… masa anak baik masih gak bisa ngomong dengan benal… aissh jinjja…" gerutu Sandeul kecil yang kini cemberut melihat wajah Kang In yang hanya bisa tersenyum masam menanggapi ocehan Sandeul.
"Sandeullie, bicara apa barusan pada haraboji?" tegur Sungmin yang kini sedang menghidangkan masakannya di atas meja.
"Semua ini salah halaboji 'kan umma…" Sandeul kecil masih belum menyadari ketika ucapannya itu sedikit melukai hati kepala keluarga di rumah itu.
"Sandeullie tadi bilang menularkan hm? Memangnya Sandeullie mengerti arti menularkan itu?" Sungmin kini menyetarakan tingginya dengan sang anak dan menatap mata anaknnya itu.
"Menulalkan itu… membuat kita punya penyakit yang sama atau… hal yang buruk." Jawab Sandeul yang kini menatap takut mata Sungmin.
"Jadi, apa masalah Sandeullie yang sekarang masih sama dengan haraboji? Apa haraboji masih memiliki hal yang sama seperti apa yang Sandeullie permasalahkan?"
"Anni…" Sandeul kini turun dari kursinya dan menghampiri Kang In. "Halaboji, maafkan Adeul… Adeul belsalah… sudah membuat halaboji belsedih… maaf ne halaboji?" Sandeul kecil memeluk kaki Kang In dan menatap Kang In dengan tatapan memohon.
"Haraboji mau bagaimana lagi…" Kang In memberi jeda membuat Sandeul kecil segera menyela ucapan kakeknya itu.
"Mian… mianhae halaboji… Adeul nakal… mian…" Sandeul kini menangkupkan kedua tangannya dan kembali menatap kakeknya itu.
"Haraboji memaafkan Sandeul kok, asal cucu haraboji ini tidak mengulangi kesalahan yang sama, arrachi?" tanya Kang In yang kini mengangkat Sandeul untuk memeluk jagoan kecilnya itu.
"Ung, takkan diulangi." Janji Sandeul kecil yang segera saja mengecupi pipi Kang In.
"Sandeullie harus bisa menjaga ucapan mulai dari sekarang nde? Ucapan itu bisa melukai lebih parah dibandingkan dengan melukai memakai pisau sekalipun. Ingat ini baik-baik nde?" nasehat Kang In yang Sandeul usahakan untuk mengerti.
"Nah, sekarang haraboji serta cucu yang di sana ayo segera makan. Masakanku bisa dingin kalau diacuhkan seperti itu." Dan Sungminpun menyela momen kakek beserta cucunya itu.
"Makaaaan~." Sandeulpun segera turun dari pangkuan Kang In dan kembali duduk di bangkunya tadi, siap menerima makanan yang diberikan Sungmin ke dalam piringnya.
Sungmin dan Kang In hanya bisa tersenyum melihat tingkah Sandeul yang melahap apapun yang tersedia di piringnya.
"Umma, sayurnya tambah…" pinta Sandeul sembari mengarahkan piringnya pada Sungmin. Sungmin hanya tersenyum dan segera memasukkan beberapa sayuran ke dalam piring anaknya itu. Sandeul tak seperti seseorang, batinnya.
Dan keluarga itupun menikmati sarapan mereka dengan bahagia.
.
.
.
"Ya! Cho Kyuhyun! Sudah berapa kali kukatakan, hiduplah dengan benar! Kau kira umurmu saat ini berapa hah? Di luar boleh saja terlihat seperti manusia yang sempurna, sedangkan jika sudah di dalam rumah kau tak lebih baik dari pengemis di luaran sana. Cepat makan sarapanmu Cho!" seorang pemuda berambut red wine itu menggerutu kesal saat melihat Kyuhyun yang sekarang sedang diceramahinya itu tak kunjung juga memakan sarapannya.
"Kau itu juga harus makan Cho, kau pikir kau bisa bertahan hidup kalau kau seperti ini." Omelnya lagi dan masih saja tak mendapat respon dari Kyuhyun yang hanya memandang kosong ke arah piringnya.
"Apa? Kau mau mati sekarang juga? Dan tak bisa bertemu lagi dengan dia? Dengan Sungmin hyung, itukah kemauanmu, Cho pabbo?" pemuda itu hendak saja akan memukul kepala adik sepupunya saat melihat Kyuhyun yang mulai memasukkan makanan ke dalam tenggorokkannya.
"Jangan berisik Eunhyuk…" gerutuan kecil itu dilayangkan oleh Kyuhyun.
"Aissh, mati saja kau Cho pabbo!" kali ini Eunhyuk kembali dibuat kesal oleh kebiasaan Kyuhyun yang tak pernah sopan padanya. "Mati saja kau, mati mati mati. Cho pabbo!" gerutuan itu kini berlanjut dengan Eunhyuk yang menusuk-nusuk makanannya dengan sadis. "Untung saja aku masih tahan dengan anak bodoh ini, tidak Sungmin hyung, tidak juga Victoria yang katanya sahabatnya itu…" gumaman bernada rendah Eunhyuk itu tentu saja terdengar jelas oleh Kyuhyun yang masih saja makan dalam diamnya.
.
.
.
"Umma, Adeul boleh ikut umma melihat kantol balu umma?" Sandeul kecil yang sedang bosan itu kini berguling-guling di atas kasur Sungmin, sedangkan Sungmin sendiri sedang bersiap-siap untuk pergi.
"Anak umma yakin mau ikut? Biasanya 'kan tak tahan kalau ikut umma bekerja…" Sungmin menatap anaknya yang kini terduduk dan menatapnya balik.
"Habis… di lumah nanti cuma ada Adeul, halaboji mau pelgi juga. Jadi Adeul ikut umma ya?" terangnya.
"Baiklah, sehabis dari kantor umma… kita pergi melihat sekolah barumu bagaimana?" Sungmin ikut duduk di ranjangnya dan menatap anaknya yang langsung saja berbinar-binar begitu mendengar kata sekolah.
"Sekolah balu? Jinjja umma?" tanyanya senang.
"Tentu saja, kalau nanti Sandeullie suka, Sandeullie akan bersekolah di sana. Sekolah itu milik teman umma, seorang ahjussi yang menyukai laut beserta isinya…"
"Eih? Suka laut? Wooah, ahjussi itu pasti mengasyikkan~" Sandeul tersenyum senang saat membayangkannya, baginya orang yang menyukai laut itu mengasyikkan, karena jarang ada yang seperti itu.
"Jja, kita pergi?" ajak Sungmin yang sudah berdiri di luar kamarnya.
"Pelgi ke sekolah! Yay~." Sandeul berlari mengejar Sungmin dengan bahagianya.
.
.
.
"Cho! Nanti kau pulang cepat? Kalau iya bisa tolong aku?" Eunhyuk yang kini sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja itu berteriak dari arah kamarnya.
"Sepertinya iya, kenapa?" respon Kyuhyun.
"Kalau begitu, bisa kau belanja kebutuhan kita untuk sebulan ini? Aku nanti pulang agak sore, ada yang harus kuurus terlebih dahulu. Catatan belanjaannya ada di kulkas."
"Arraseo." Jawab Kyuhyun begitu melihat Eunhyuk melintas di hadapannya dan segera keluar dari apartment itu.
.
.
.
"Bocah ikan itu, apa dia sedang sibuk ya… teleponku tak diangkatnya…" gerutu Sungmin yang sore itu sedang bersama Sandeul untuk melihat sekolah baru sang anak.
"Kenapa umma?" Sandeul yang tadi sibuk melihat gambar-gambar yang ditempel di dinding sekolah itupun menatap bingung Sungmin yang sedang menggerutu.
"Ahjussi ikanmu itu tak mengangkat telepon umma, menyebalkan. Sandeullie di sini dulu ya, jangan kemana-mana. Umma masuk ke dalam dulu, Sandeullie tunggu di sini. Arrachi?" setelah melihat anaknya mengangguk menyetujui, Sungminpun memasuki ruangan yang berada di hadapannya.
Begitu masuk, Sungmin disungguhkan pemandangan yang kurang baik. Benar-benar tidak baik.
'Untung saja aku tak mengajak Sandeul masuk ke dalam.' Batinnya. Dan Sungminpun kini mengunci pintu itu, untuk kemudian menghampiri pasangan beda alam menurutnya itu yang sedang bercumbu.
PLAKK!
Dan dengan teganya Sungmin memukul kepala dua insan yang segera tergagap mendapati ada yang mengetahui mereka sedang yah…
"Siapa kau! Berani-beraninya…" Donghae, namja ikan itu yang tadinya ingin memaki orang kurang ajar menurutnya itu kini hanya bisa menganga dan tak melanjutkan kata-katanya.
"Berani-beraninya apa? Kau pikir ini di mana hah? Ini sekolah, bukan kamar pribadi kalian! Bagaimana kalau yang masuk adalah salah satu dari murid kalian? Pintu juga tidak dikunci. Bahkan telepon dariku pun tidak kau angkat. Yang seperti ini mau mendidik murid-muridnya? Aissh, jinjja…" gerutu Sungmin sementara kedua makhluk itu hanya bisa menganga.
"Sungmin hyung?" tanya keduanya, masih mencoba berpikir, apa yang di hadapannya ini nyata atau tidak.
"Ya, ini aku. Kalian kira siapa lagi hah?" Dan Sungmin masih saja mendelik kesal pada dua makhluk itu.
"Hyungie!" teriak keduannya dan memeluk Sungmin.
"YA! Ikan jelek, monyet jelek! Pakai pakaian kalian, aigoo… badan kalian lengket begini!" teriakan kesal Sungmin itu diimbangi dengan tangannya yang kembali memukul kepala dua makhluk itu.
.
.
.
"Annyeonghaseyo, Songsaengnim. Joneun Lee Sandeul imnida." Sandeul yang sudah diizinkan masuk oleh sang umma, tentunya setelah keadaan kacau di dalam ruangan itu telah dibereskan, kini memperkenalkan dirinya terhadap dua orang calon gurunya itu.
"Annyeong, Lee Hyukjae imnida. Tapi Sandeul ah panggil saja Eunhyuk songsaenim saja kalau di sekolah, di luar sekolah panggil Eunhyuk samchon saja, nde?" dan Sandeul hanya mengangguk saja.
"Kalau aku, Lee Donghae. Panggil songsaeng tampan juga boleh." Dan Donghae mengedipkan matanya pada bocah manis di hadapannya itu.
"Jangan menggoda anakku," desis Sungmin melihat kelakuan Donghae yang tak kenal tempat maupun orang untuk dirayu olehnya.
"Jadi Sandeul ini benar-benar anakmu, hyung?" Donghae terperangah setelah melihat Sungmin mengangguk dengan mantap.
"Umma, ahjussi yang suka laut itu yang mana?" pertanyaan Sandeul yang tak sabar berkenalan dengan Donghae itupun meluncurkan pertanyaan yang kembali membuat kedua makhluk itu kembali tergeragap.
.
.
.
"Sandeullie, menurutmu bagaimana sekolah Hae ahjussi? Sandeullie suka sekolah itu?" Sungmin yang kini sedang menggendong Sandeul untuk memasuki sebuah pasar swalayan bersamanya menanyakan bagaimana pendapat anaknya tentang sekolah milik Donghae.
"Suka! Sekolahnya kelen umma, tadi Adeul sudah mengelilingi sekolah belsama Eunhyuk samchon, Adeul diajak ke luang baca, luang belmain, ada luang musiknya juga umma. Adeul mau belsekolah di sana, bolehkan umma?" Sandeul kecil bercerita tentang pengalamannya mengelilingi calon sekolah barunya. Sementara kini mereka sudah memasuki pasar swalayan tersebut. Sungminpun meletakkan Sandeul pada trolli yang kini didorongnya. Sandeul memang suka berdiri di dalam tolli jika sedang berbelanja seperti ini dengan Sungmin.
"Tentu saja boleh, asal Sandeullie berjanji… jika ingin ke ruangan Hae ahjussi harus mengetuk pintu dulu sampai Hae ahjussi memperbolehkan Sandeullie masuk, arrachi?" dan Sungmin masih saja mewanti-wanti anaknya agar tidak melihat hal yang tak sepatutnya dilihatnya, mengingat kelakuan pasangan beda alam itu.
"Umma, tadi Eunhyuk samchon beltanya banyak hal, Eunhyuk samchon beltanya di mana Adeul tinggal sebelum di Seoul, telus Adeul suka main game atau gak, telus Adeul suka sayulan atau gak, telus di Palis Adeul tinggal sama siapa aja. Ya Adeul jawab aja kita tinggal di Palis sama halaboji, Adeul gak suka main game. Adeul 'kan sukanya belajal, telus Adeul suka sayul… sayul 'kan enak ya umma." Ocehan Sandeul menjadi pengiring pasangan ibu dan anak ini memilih barang belanjaan mereka.
'Eunhyukkie, sudah mulai curiga…' batin Sungmin. Ya memang Sungmin belum sempat menceritakan apapun pada Donghae maupun Eunhyuk perihal kehidupannya selama ini, dan juga Sandeul. Sungmin masih belum siap jika keberadaan Sandeul diketahui oleh Kyuhyun. Ia hanya takut… Kyuhyun menolak anak mereka dan pada akhirnya hanya akan menyakiti Sandeul.
"Keurom, anak umma memang anak pintar, senang belajar dan pintar memakan sayuran. Umma sayang sekali, sangat menyayangi anak umma yang pintar ini." Sungmin tersenyum tulus saat melihat Sandeul. Anaknya yang memang pantas ia perjuangkan, anaknya yang menjadi penyemangat hidupnya.
"Umma, tadi di depan Adeul lihat ada yang jual es klim, nanti kita makan es klim di sana yuuk~." Ajak Sandeul yang tentu saja disetujui oleh Sungmin.
"Baik, tapi setelah makan. Kita makan dulu baru setelah itu makan es krim." Dan Sungmin memang berencana makan di luar, berhubung Kang In tak pulang untuk makan malam bersama mereka, jadi tidak salah 'kan jika dia dan anaknya sesekali makan malam di luar.
.
.
.
"Seoul itu kalau malam indah ya umma." Sandeul mengajak sang eomma untuk berjalan saja menuju restoran tempat mereka akan makan malam, dan meninggalkan mobilnya di pelataran parkir pasar swalayan itu.
"Tentu saja, woaah, sudah lama umma tak menikmati pemandangan malam di Seoul. Terima kasih untuk pangeran kecil umma." Sungminpun kini menggendong sang anak untuk menyebrangi jalan dan menuju restoran yang tepat berada di seberang mereka.
"Sama-sama umma." Sandeulpun tertawa renyah mendengar panggilan sang eomma. Dia sangat senang dipanggil pangeran kecil rupanya. Sembari memeluk leher Sungmin, mata Sandeul melirik ke berbagai arah. Menatap sekitarnya dengan pandangan ingin tahu. Kenapa orang-orang berjalan terlalu tergesa-gesa, kenapa langit malam sangat indah, dan kenapa… ada seseorang yang menantapnya dengan pandangan tak suka. Melihat itu, Sandeul semakin mengeratkan pelukannya terhadap sang eomma.
"Waegurrae, Sandeullie?" Sungmin yang terheran menerima pelukan yang begitu erat itupun bertanya pada sang anak yang semakin menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher dan bahu Sungmin.
"Umma, ada ahjussi jahat. Dia menatapi Adeul telus dalitadi. Umma… Adeul takut…" ada getaran kecil dibalik rengekan Sandeul, dia benar-benar merasa takut saat ini.
"Jangan melihat orang itu lagi, pejamkan matamu. Umma akan berjalan cepat, arrachi?" sebenarnya Sungmin bingung, kenapa ada orang yang harus bersikap seperti itu terhadap anaknya.
Dan, begitu sampai di seberang, Sungmin mencoba untuk membalikkan tubuhnya. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok yang dikenalinya, berdiri tak jauh darinya.
"Kyu…?" Sungmin tercekat saat sosok itu semakin menghampirinya, mendekatinya dan sang anak, membuat Sandeul nyaris menangis saat ahjussi jahat itu semakin mendekati mereka.
"Ahjussi jahat, jangan mendekat! Umma, kita pulang saja. Adeul takut…" pekik Sandeul histeris. Sementara Kyuhyun hanya mendecih sebal mendengar ucapan Sandeul.
"Tenang Sandeullie, umma takkan membiarkanmu tersakiti." Bisik Sungmin sembari mengelus lembut punggung Sandeul.
Sandeul yang memang pada akhirnya hanya bisa ditenangkan oleh Sungmin, kini tertidur di pelukkan Sungmin. Tentu saja, hari ini adalah hari yang melelahkan untuk anak periang itu.
"Apa maumu?" geram Sungmin melihat Kyuhyun masih saja berdiri menatapinya.
Wajah tegang Kyuhyun perlahan melembut kala mendengar suara yang sangat dirindukannya itu.
"Kapan kau kembali ke Seoul?" beberapa bulan yang lalu… saat Kyuhyun tanpa sengaja melihat majalah fashion rekan kerjanya, ia melihat foto Sungmin di sana. Foto di saat Sungmin dengan manisnya tersenyum di atas panggung catwalk menggendong seorang anak kecil yang Kyuhyun kira adalah satu dari sekian model cilik untuk pakaian Sungmin.
Ya, hari itu adalah hari di mana Sungmin menyelesaikan rangkaian kegiatan fashion shownya dengan Sandeul yang yang menjadi model utamanya. Anak kecil itu, tentu saja Sandeul.
"Beberapa hari yang lalu," Sungmin memang heran kenapa pertanyaan itu dilontarkan oleh Kyuhyun, tapi toh ia tetap menjawab.
"Anak itu…" Kyuhyun ragu untu bertanya sebenarnya. Sedari tadi saja ia sudah kesal saat ia yang pada akhirnya dapat bertemu dengan Sungmin yang sedang menggendong seorang anak kecil. Pikirannya melayang entah kemana, ia tak suka melihat anak itu. Lebih tepatnya ia tak suka saat mengetahui kenyataan bahwa Sungmin sudah menikah kembali dan yang kini sedang dipeluknya itu adalah anak Sungmin dengan wanita lain. Heol, Sungmin tak pernah berhubungan dengan wanita lain dalam artian yang seperti itu, Cho Kyuhyun.
"Anakku." Balas Sungmin yang entah kenapa tak suka mendengar nada bicara serta tatapan Kyuhyun pada anaknya, anaknya bersama Kyuhyun.
"Kau… anak itu…" dan, hal yang paling tak ingin didengar oleh Kyuhyun terlontar begitu saja dari bibir Sungmin.
"Kenapa? Tidak menyangka pada akhirnya aku memiliki anak? Ah, harusnya kau juga sudah memiliki anak dengan Qiannie 'kan?" pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk Sungmin lontarkan, tapi entah kenapa masih saja ia lantunkan.
Sementara itu, Kyuhyun hanya mendengus mendengar pertanyaan Sungmin. Menatap benci pada anak yang berada pada pelukan Sungmin.
"Jangan menatap anakku seperti itu. Jangan membenci anakku, atau kau sendiri yang akan menyesal saat perasaan benci itu tak sepatutnya kau pupuk."
Dan Sungmin berlalu meninggalkan Kyuhyun. Memilih untuk menghampiri mobilnya dan pulang ke rumahnya.
"Hhh, pangeran kecilku… jangan ikut membenci appamu… kumohon." Sungmin hanya memandang sendu anaknya yang tertidur di sampingnya.
Kehidupannya nanti akan seperti apa? Ia masih belum bisa menerka itu semua. Namun, di setiap detik nafasnya… ia akan selalu melindungi buah hatinya. Rasa sakit dan penolakkan itu takkan pernah ia izinkan untuk menyentuh anaknya. Takkan pernah.
.
.
.
TBC~~.
.
.
.
Ehehehe, maaf ya lama updatenya. Sedikit misteri udah terkuak 'kan di chapter ini? Menjawab pertanyaan yeorobundeul tentang kehidupan Kyuhyun. Sedikit tapinya ya.
Ah, kemarin masih ada yang bilang penulisan aku masih membingungkan, maaf kalau cerita ini masih belum bisa tersampaikan dengan baik.
Eung~ syukur pada suka sama Sandeul di sini. Ehehehe~. Adeul adeul adeul~~. #abaikan
Ada yang tanya Episode berapa B1A4 Hello Baby nya, maksudnya gimana chingu? Kan B1A4 emang punya acara HB, season ke enam itu emang B1A4 yang jadi appa~ season tujuh katanya Boyfriend kalo gasalah, entah mana anak mana appa nantinya~. Ngarepin ada SJ Hello Baby, tapi cuma ada Teukkie… ah… saya rindu Leader-nim. Lagipula gak mungkin ada ya, habisnya kata Eunhyuk yang ada malah nanti tuh SJ Goodbye Baby… aissh, si monyet satu itu… #peace
Oooiya, jangan manggil aku thor thor ya, nama aku 'kan buka thor ^^v. Panggil aja My, oke? Itu suku kata terakhir dari nama panggilan aku di dunia nyata. Hehehe…
Nah, Kyu udah ketemu Adeul di sini, bahkan udah ada sedikit KyuMin moment di sini. Heung, enaknya ini pasangan appa anak yang satu ini diapain ya di chapter depan?
