.
Dia adalah kehidupanku.
Dia adalah takdirku.
Dia adalah hembusan nafasku.
Aku, dia, kami adalah tujuan kehidupan masing-masing.
Takkan ada yang kami inginkan selain hal ini.
Hidup kami, akan kami lalui dengan rona kebahagiaan.
Membuat iri semua orang.
Dan tertawa jahil karenanya.
Kami, adalah kebahagiaan.
.
.
.
REALLY?
KyuMin Fanfiction.
Romance, Family, Hurt/Comforts.
Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.
Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.
Just enJOY.
.
.
.
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
"Lee Sandeul, ireona." Panggil Kyuhyun pagi itu, ia sudah siap dengan pakaian kerjanya dan juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Heuung…" Sandeul mengerung pelan sebelum membuka matanya dan terduduk di ranjang Kyuhyun. "Masih ngantuk…" jawab Sandeul dan berniat masuk kembali ke dalam selimut yang tadi sempat disingkap oleh Kyuhyun.
"Ayo cepat bangun, kau ini pemalas sekali. Bangun lalu mandi, setelah itu kita sarapan." Kyuhyun menggendong Sandeul dan membawanya ke kamar mandi, "bisa mandi sendiri 'kan?" Setelah melihat Sandeul mengangguk dan memulai aktivitas mandinya, Kyuhyun pun segera turun setelah menyiapkan pakaian untuk Sandeul pakai.
"Anak itu… perasaan benci ku padanya…" Kyuhyun termenung di hadapan secangkir teh hangat yang menemaninya itu. "Aku tidak membencinya…" Kyuhyun merasa ragu atas apa yang ia ucapkan barusan. "Kalau aku benar-benar membenci anak itu, aku takkan mempedulikannya sampai seperti ini." Sekali lagi Kyuhyun menggumam pelan tentang kelakuannya itu.
"Apa karena dia anak Sungmin hyung? Aissh, pabo. Justru karena dia anak Sungmin hyung makanya aku membencinya. Anak dia dengan wanita lain." Kalimat terakhir benar-benar Kyuhyun ucapkan dengan lirih, tanpa bisa didengar oleh siapapun.
"Ahjussi…" panggi Sandeul yang baru saja memasuki ruang makan, membuyarkan segala lamunan yang sedang dilamunkan oleh Kyuhyun.
"Hm?" tanggap Kyuhyun, yang entah sadar atau tidak ia mengangkat tubuh Sandeul kepangkuannya.
"Adeul ingat…" Sandeul, yang cukup terkejut dengan gestur yang dilakukan Kyuhyun itu agak tercengang dan memandang Kyuhyun dengan binar keingintahuannya.
"Ingat apa, bocah?" Tanya Kyuhyun sesekali mencubit gemas pipi Sandeul.
"Adeul ingat alamat lumah Adeul." Sandeul menjawab pertanyaan Kyuhyun itu dengan sedikit ragu, agaknya anak itu takut kehilangan rasa nyaman yang menjalar akibat pelukan sang appa.
"Kau baru ingat? Baiklah, setelah sarapan aku akan mengantarmu ke rumahmu." Kyuhyun pun beranjak untuk mendudukkan Sandeul di kursi yang tak jauh darinya dan kemudian memulai sarapan mereka.
.
.
.
"Ne hyung, aku sedang di jalan sekarang. Aku ingin mengantar seseorang dulu. Dia… anak Sungmin hyung." Kyuhyun yang sedang menyetir mobilnya kini terlihat sedang menerima telepon dari Hyukjae. Mulanya Kyuhyun agak ragu untuk menceritakan tentang Sandeul. Namun pada akhirnya ia memberitahukan Hyukjae bagaimana ia bisa bertemu dengan Sandeul kemarin di rumah sakit.
"Apa di sana juga hujan, hyung? Aku mengerti, aku tidak mengemudi kencang-kencang hyung…"
"AHJUSSI!" pekikan Sandeul terdengar oleh Hyukjae di seberang sana, entah apa yang terjadi, namun Hyukjae merasa ada hal buruk yang terjadi.
Setelah pekikan itu, yang terdengar oleh Hyukjae hanyalah debuman dua buah benda saling beradu kencang.
.
.
.
"Hyukkie?" Donghae yang sedari tadi melihat Hyukjae sedang menelepon sepupunya itu bertanya bingung saat melihat raut pucat kekasihnya itu.
"Hae… Kyuhyun… Kyuhyun dan Sandeul kecelakaan… apa yang harus kulakukan Hae…" Hyukjae yang tak kuat mendengar suara tadipun tubuhnya bergetar lemah dan hampir saja terjatuh jika Donghae tidak menyangga tubuhnya itu.
"Kyuhyun dan Sandeul kecelakaan? Apa yang terjadi Hyukkie?" Tentu, Donghae bingung mendengar ucapan Hyukjae tadi. Sedari tadi ia tak begitu memperhatikan percakapan antara Hyukjae dan Kyuhyun.
"Aku, aku mendengar suara tabrakan barusan Hae. Sebelum itu… sebelum itu aku juga mendengar teriakan Sandeul. Hae, bagaimana keadaan mereka, Hae?" nada bicara yang dikeluarkan oleh Hyukjae tak lepas dari rasa kalut dan panik. Di sana, sepupunya dan juga keponakannya sedang dalam keadaan buruk dan ia tak tahu seburuk apa itu semua.
Saat sedang berusaha menenangkan Hyukjae, smartphone Hyukjae bergetar. Nomor tidak dikenal.
"Yeoboseyo?" dan yang mengangkat adalah Donghae. Ia berinisiatif demikian karena dilihatnya sang kekasih yang masih kalut dan belum dapat menenangkan dirinya itu. "Arraseumnida." Setelah mengucapkan itu, Donghae mematikan sambungan telepon itu dan mengajak Hyukjae untuk pergi.
"Hae?" tanya Hyukjae bingung.
"Tadi polisi yang menghubungiku. Dia memberitahukan rumah sakit tempat Kyuhyun dan Sandeul berada sekarang. Hyukkie, cobalah tenang dan beritahu hal ini pada Sungmin hyung. Aku akan menemui staff guru yang lain untuk mengatasi sekolah hari ini tanpa kita. Arraseo?" melihat Hyukjae yang mengangguk mengerti, Donghae mengecup singkat kening itu dan segera berlalu dari ruangannya.
.
.
.
"APPA!" teriak Sungmin saat ia telah selesai menerima telepon dari Hyukjae. Ia sedang tidak baik-baik saja saat ini. Bagaimana ia bisa dalam keadaan baik? Anaknya, anaknya yang entah bagaimana bisa menghilang kemarin itu kini sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan. Dan Kyuhyun, sosok yang masih dicintainya itu juga turut berada di rumah sakit itu.
"Waeyo Sungminnie?" Kang In yang sedari tadi berada di kamarnya berlari dengan tergopoh-gopoh saat mendengar lengkingan putra tunggalnya itu.
"Appa, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga. Sandeullie kecelakaan." Air mata itupun lolos dari kungkungannya. Kekalutannya akan pikirannya yang berdelusi jika ia akan kehilangan anaknya membuatnya tak kuasa untuk menahan air mata sialan itu.
Kang In yang mendapati anaknya seperti itu, menepuk bahu anaknya singkat dan membawa anaknya itu ke mobilnya setelah ia mengambil kunci mobilnya. Di luar sana masih hujan, hujan yang sungguh lebat. Biarpun ia ingin segera melihat keadaan cucunya itu, namun ia cukup pintar untuk tidak bertindak ceroboh saat ini. Ia tak mau tujuannya untuk bertemu Sandeul malah berakhir dengan terbaring di rumah sakit juga.
.
.
.
"Cho uisanim?" salah seorang suster di rumah sakit itu agak terkejut begitu mendapati seorang dokter yang merupakan seniornya dulu itu sedang berjalan dengan cepat mengikuti ranjang rumah sakit yang membawa sosok kecil yang juga bersimbah darah.
"Tuan Cho, tolong tunggu di sini sebentar. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak ini. Anda juga harus mengobati luka anda." Suster lainnya pun menghentikan langkah Kyuhyun yang hendak masuk ke dalam ruang ICU. Kyuhyun ingin menolak itu, tapi rasa nyeri di kepalanya membuat ia terdiam.
"Segera ambil kotak obatmu, obati aku di sini saja." Ucap Kyuhyun sembari menatap juniornya itu.
Memang, sedikit menyalahi aturan. Namun, suster itu tahu, ucapan seorang Cho Kyuhyun takkan pernah bisa dibantah. Setelah berlari dengan tergesa-gesa, suster itu segera mengobati luka-luka Kyuhyun. Meskipun begitu, suster itu tetap menyarankan Kyuhyun untuk melakukan pemeriksaan intensif. Ia takut salah satu pasien di rumah sakit ini malah semakin parah lukanya jika dibiarkan. Tapi, seorang Cho Kyuhyun tetaplah Cho Kyuhyun yang memang keras kepala.
"Cho uisanim…" dokter yang terlihat menangani Sandeul berlari keluar dengan tergesa-gesa dan menghampiri Kyuhyun.
"Apa yang terjadi pada anak itu? Dia baik-baik saja 'kan?" sebenarnya Kyuhyun agak sangsi dengan pertanyaannya.
"Keluarga pasien? Kami membutuhkan darah segera untuk pasien. Pasien kehilangan banyak darah akibat benturan kuat dan badannya yang terseret begitu jauh." Terang sang dokter yang tentu saja membuat Kyuhyun mendelik panik.
"Apa golongan darah anak itu, memangnya kalian tak mempunyai persediaan darah?" tanya Kyuhyun mulai gusar dengan penanganan rumah sakit itu.
"Stok darah kami untuk pasien memang sedang kosong Cho uisanim. Golongan darah A pasien memang sedang habis, Cho uisanim."
"Ambil saja darahku. Golongan darah kami sama." Teriak Kyuhyun, tapi Dokter itu menolak melihat kondisi Kyuhyun yang memang sedang tidak baik.
"Kyuhyun ah?" sedangkan dari arah yang berlawanan, Hyukjae terlihat berlari dengan panik menghampiri Kyuhyun.
"Aku tidak apa-apa, ambil saja darahku. Seharusnya kau mengerti, kau harus menyelamatkan nyawa di dalam sana! Anak itu membutuhkan darahku!" berang, tentu saja.
"Memang apa golongan darah, Sandeul?" Donghae yang juga sudah tiba di rumah sakit itu bersama Hyukjae tadi menanyakan golongan darah Sandeul yang dipermasalakan oleh kedua dokter di hadapannya ini.
"A." jawab dokter yang menangani Sandeul.
"Kalau begitu ambil saja darahku. Golongan darah kami sama, dan aku yakin aku berada dalam kondisi yang baik. Kyuhyun ah, tenanglah." Ucap Donghae menenangkan Kyuhyun dan pergi mengikuti dokter itu begitupun Hyukjae.
.
.
.
"Kyuhyun?" Sungmin yang baru saja tiba hanya bisa menatap terkejut tubuh Kyuhyun. Perban, darah, dan gurat cemas begitu terlihat di wajah Kyuhyun. "Bagaimana anakku?" tanya Sungmin kemudian.
"Dia sedang di dalam, dia butuh banyak darah…" jawab Kyuhyun sedikit linglung.
"Darah? Appa, bagaimana ini… darahku, ya, ambil saja darahku." Sungmin yang memang mudah panik ketika sesuatu mendera anaknya itu hampir saja masuk ke dalam ruangan itu sebelum Kyuhyun berbicara lagi.
"Donghae hyung sedang di dalam, dia sedang mentransfusikan darahnya untuk Sandeul. Dan jika kurang, mungkin aku atau kau bisa membantu Sandeul nantinya." Kyuhyun mengatakan itu tetap saja dengan tatapan yang fokus pada pintu ICU di hadapannya.
.
.
.
Sudah berjam-jam yang terlewati, kini Sungmin dan Kang In nampak sedang menunggui Sandeul yang sedang terlelap di ranjangnya.
"Sandeul ah, kau benar-benar membuat umma khawatir. Menghilang, ditemukan appamu, dan kecelakaan? Kau memang… jangan seperti ini lagi Sandeul ah, umma takkan kuat jika melihatmu seperti ini lagi." Sungmin berujar lirih sembari sesekali mengusap lembut pipi gembil Sandeul. Sementara Kang In hanya bisa menatap sendu cucunya yang biasanya lincah itu kini malah terbaring tak berdaya.
Tak lama berselang, Kyuhyun pun masuk ke dalam ruangan itu setelah ia mendapatkan perawatan, itupun akibat paksaan Hyukjae.
"Keadaannya sudah stabil?" tanya Kyuhyun begitu ia masuk.
"Ne." Sungmin hanya menjawab singkat tanpa memperhatikan Kyuhyun sedikitpun.
"Kyuhyun ssi…" Kang In pun kini menyapa Kyuhyun untuk pertama kalinya. "Aku sudah mendengarnya dari Hyukjae ssi, terima kasih telah menyelamatkan cucuku satu-satunya. Terima kasih sudah menemukan dan melindunginya saat ia menghilang. Maaf jika uri Sandeullie merepotkanmu." Ujar Kang In yang biarpun mulutnya mengucap rasa syukur, tapi matanya menatap Kyuhyun, seakan-akan sedang menilai Kyuhyun.
Tergagap ketika mendapati sosok berwibawa di hadapannya ini adalah ayah dari Sungmin, itulah yang Kyuhyun lakukan setelah Kang In mengatakan siapa ia.
"Ah, nde… tak perlu berterima kasih. Itu memang hal yang pantas saya lakukan Tuan." Ucap Kyuhyun dengan nada merendah, nada yang tak pernah di dengar oleh Sungmin selama ini, sehingga membuat Sungmin sedikit terpaku begitu Kyuhyun mengucapkan hal itu.
"Nde, memang itu hal yang seharusnya kau lakukan Kyuhyun ssi." Jawab Kang In dan menepuk singkat pundak Kyuhyun sebelum ia melangkah keluar, setidaknya ia ingin membiarkan cinta anaknya itu bersama dengan cucunya.
"Boleh aku menyentuhnya?" Kalimat tanya itu membuat Sungmin tercekat, untuk apa? Apa yang akan dilakukan Kyuhyun terhadap anaknya. "Aku takkan menyakitinya." Seolah mengerti, Kyuhyun menjawab tatapan keraguan yang dilayangkan Sungmin. Ya, di dalam hatinya, rasa sayang dan ingin melindungi Sandeul telah mendominasi. Persetan dia anak Sungmin dengan yeoja manapun, yang ia tahu, hatinya menyukai anak manis yang terluka karena kecerobohannya itu.
Dan setelah diizinkan oleh Sungmin, Kyuhyun duduk di sisi lain ranjang Sandeul. Menatapi Sandeul penuh rasa bersalah dan menyesal. Mengusap lembut pipi gembil Sandeul dan mengecup dalam kening Sandeul. Sikap yang tentu saja membuat Sungmin makin tercengang.
"Hei, bocah nakal, maafkan aku." Kata-kata itu pun Kyuhyun lontarkan penuh dengan rasa sesal. "Bangunlah, kalau tidak aku takkan memberikanmu minuman kesukaanmu lagi." Ada sedikit nada konyol di kalimat Kyuhyun barusan, nada konyol yang membuatnya sedikit tersenyum saat mengingat betapa Sandeul menyukai minuman yang disinggung Kyuhyun tadi.
Sungmin yang duduk di sisi lainnya hanya bisa menatapi interaksi Kyuhyun dalam diam. Ia sungguh bingung akan bersikap seperti apa. Ia takut mengetahui fakta jika Kyuhyun telah mengetahui siapa anak yang sedang terbaring di hadapan mereka. Ya, Sungmin takut Sandeul memberitahukan siapa dirinya pada Kyuhyun. Bukannya ia menyesal telah memberitahukan Sandeul siapa ayahnya. Sekali lagi, yang ditakuti Sungmin adalah reaksi Kyuhyun jika mengetahui Sandeul adalah anak mereka. Ia takut Kyuhyun menolak anaknya, anaknya dengan Sungmin, orang yang paling ia benci.
"Anakmu benar-benar mewarisi dirimu." Kalimat yang dikeluarkan Kyuhyun kembali membuat Sungmin tertegun, nada bicara Kyuhyun terdengar bersahabat sekali.
"Tentu saja, ia anakku. Dan tentu saja ia juga mewarisi sikap seseorang." Jawab Sungmin. Jawaban yang kembali membuat rahang Kyuhyun mengeras.
"Ah iya, eommonimnya." Desis Kyuhyun terdengar kesal dan mendendam.
'Eommonim?' batin Sungmin bingung mendengar ucapan Kyuhyun, yang ia maksudkan adalah Kyuhyun sendiri. Bukan orang lain.
Tak ada yang bersuara diantara keduanya, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Melanglang jauh hingga tak ada yang tahu pasti tentang yang mereka pikirkan selain diri mereka sendiri. Keheningan yang menyesakkan sebenarnya. Keheningan yang pada akhirnya diakhiri oleh Hyukjae yang datang untuk mengajak Kyuhyun pulang dan beristirahat. Walaupun Kyuhyun menolak di awalnya, Kyuhyun pun pada akhirnya mengikuti ajakan Hyukjae untuk pulang.
Keesokkan harinya, tak lama berselang dari sang surya yang kembali menyinari bumi. Kyuhyun sudah bersiap-siap untuk pergi. Setelah memastikan isi paper bag yang akan dibawanya telah lengkap, Kyuhyun pun segera keluar dari apartementnya dan memasuki taksi yang sudah dipesannya semalam. Melaju meninggalkan kediamannya, menuju suatu tempat yang sangat ingin dikunjunginya.
Tak lama berselang, Kyuhyun sudah berada di kamar yang ia tinggalkan kemarin sore. Mendapati dua orang yang kemarin ia temui masih berada di dalam alam mimpi masing-masing. Sebelum, salah satu dari mereka terjaga. Melenguh pelan dan merintih sakit.
"Hiks… appo… appa, neomu appo." Adunya.
Melihat Sandeul yang merintih sakit itu, Kyuhyun segera menghampiri Sandeul. Duduk di tempat yang kemarin juga didudukinya dan mengelus pelan kepala Sandeul.
"Tenanglah Sandeul ah, ada aku di sini. Jangan menangis, nanti appamu terbangun." Kyuhyun menenangkan Sandeul yang tampak akan menangis kencang dan sesekali meniupi tangan Sandeul yang kemarin terseret di aspal dan meninggalkan bekas luka yang masih basah. Bekas luka yang tentunya masih terasa sakit.
"Ssh, jangan menangis… anak pintar tak boleh menangis. Sakitnya akan hilang kalau Sandeul ah tidak menangis. Arrachi?" Kyuhyun sedikit panik juga saat melihat Sandeul menggigit bibirnya menahan sakit dan di pelupuk matanya telah menggenang air mata yang siap tumpah kapan saja.
"Hiks, Adeul mau dipeluk appa." Gumam Sandeul terdengar sangat menyedihkan, Kyuhyun menatap Sungmin yang masih tertidur.
"Sama ahjussi saja ya, appamu masih tidur. Jangan ganggu tidur appamu, mungkin semalam ia terjaga untuk menjagamu."
Melihat Sandeul yang mengangguk dan kini menggerakkan kedua tangannya untuk dipeluk oleh Kyuhyun, Kyuhyun membawa tubuh rapuh Sandeul ke dalam rengkuhannya. Ia tak mau terlalu erat merengkuh tubuh itu, ia takut melukai tubuh kecil itu.
"Tenanglah…" ucap Kyuhyun kembali.
"Heung… ahjussi… Adeul lapal…" setelah tenang dan sudah kembali di atas kasurnya, Sandeul mengeluh lapar. Dan tak lama, perut kecil anak itupun berbunyi. Rupanya ia benar-benar lapar.
"Ah, kebetulan aku membawa makanan. Kurasa kau takkan suka masakan rumah sakit. Ayo kita makan." Ya, sebelum ke rumah sakit, Kyuhyun masih sempat mencari makanan yang bisa dicerna anak kecil yang sedang sakit itu.
Kyuhyun mengambil sebuah meja kecil dan meletakkannya di atas ranjang Sandeul setelah sebelumnya ia telah menyesuaikan sandaran ranjang Sandeul agar anak itu bisa duduk.
"Woaaah, kelihatannya enak~" pekik Sandeul girang. Pekikan yang mendapati delikan tajam dari Kyuhyun yang takut Sungmin terbangun, dan hanya ditanggapi senyuman saja oleh Sandeul.
"Eunghhh, Sandeullie. Gwaenchanna? Kenapa berteriak?" dan, benar saja. Sungmin terjaga karena ulah Sandeul dan memandang bingung Sandeul dan juga Kyuhyun yang berdiri salah tingkah di hadapannya.
"Aku hanya menjenguk anakmu." Ucap Kyuhyun yang lumayan risih ditatapi Sungmin.
"Ahjussi! Mana sumpitnya?! Adeul sudah sangat sangat lapal!" geram Sandeul yang tak kunjung diberikan peralatan makan oleh Kyuhyun.
"Mwo? Makan? Apa yang kau berikan pada anakku?" Sungmin yang sudah terjaga sempurna itu kini mendelik melihat hidangan yang ada di hadapannya.
"Kau lupa kalau aku ini dokter? Aku takkan memberikan makanan sembarangan pada pasien rumah sakit. Tenanglah." Ucap Kyuhyun yang lumayan tersinggung mendengar nada bicara Sungmin yang seakan-akan menuduhnya akan melakukan hal tak baik pada anaknya.
"Ahjussi, sumpit!" teriak Sandeul lagi.
"Ya! Bocah berisik. Duduk dan diam saja di situ, aku yang akan menyuapimu. Kau yakin sudah bisa menggenggam supitmu huh? Tadi saja mengeluh sakit." Gerutu Kyuhyun yang kembali diteriaki oleh Sandeul.
"Heunggg, habisnya Adeul 'kan lapal, ahjussi." Jawab Sandeul dan memajukan bibirnya pertanda protes akan gerutuan Kyuhyun tadi.
"Jangan membentak anakku, Cho." Geram Sungmin yang tak terima anaknya sempat dibentak oleh Kyuhyun.
"Kau diamlah, cuci mukamu sana dan ikut makan dengan kami." Kyuhyun tak mau ambil pusing akan ucapan Sungmin barusan dan mulai menyuapi Sandeul yang telah membuka mulutnya selebar mungkin untuk menerima makanan yang akan masuk.
.
.
.
"Sandeullie!" pagi itu, tepat hari kedua Sandeul sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Ia mendapati kunjungan dari Jihyo dan juga Maru.
"Ya! Kang Maru! Jaga sikapmu!" Kang Maru yang baru saja diteriaki oleh sang eomma kini hanya bisa meringis memegangi pinggangnya yang terkena cubitan maut sang eomma.
"Bagaimana keadaan keponakan gembil gomo yang satu ini?" tanya Jihyo yang duduk di atas ranjang bersprei kuning milik Sandeul.
"Adeul semakin sehat, gomo~. Sebental lagi Adeul pasti sudah dibolehin umma main sama Malu hyung~." Jawab Sandeul dengan cengirannya itu.
"Anak pintar, dengarkan gomo nde, jangan telat waktu meminum obatmu. Agar Sandeullie cepat sehat. Arrachi?" tanya Jihyo.
"Eum!" angguk Sandeul dan kini ia mengisyaratkan Kang Maru untuk mendekat padanya. "Gomo, Adeul ingin bicala dengan Malu hyung beldua, ada yang ingin Adeul celitakan pada Malu hyung. Gomo maukan meninggalkan kami beldua?" tanya Sandeul dan menatap Jihyo yang memang lemah terhadap kitty eyes andalan Sandeul itu, menuruti permintaan Sandeul sebelum ia menasehati Maru anaknya untuk tidak kembali berulah.
"Apa yang ingin Sandeullie ceritakan pada hyungie?" Maru yang sudah duduk menggantikan posisi sang eomma menatapi Sandeul dengan penuh rasa ingin tahu.
"Hyungie, kemalin Adeul beltemu appa. Adeul 'kan belum pelnah melihat wajah appa, tapi Adeul tahu nama lengkap appa, dan hyungie tahu? Appa sangat tampan~." Sandeul pun memulai ceritanya.
"Lalu? Lalu? Apa yang Sandeullie lakukan?" tanya Maru bersemangat.
"Adeul kemalin belbohong, Adeul bilang Adeul telpisah dali umma. Tapi Adeul belbohong untuk hal baik ya 'kan hyungie?" tanya Sandeul.
"Eum! Tentu saja, Sandeullie tidak merugikan orang lain kok, tidak seperti appa, kalau berbohong pada umma pastinya merugikan orang lain. Jadi? Apa yang Sandeullie lakukan?" lanjut Maru setelah sebelumnya sedikit menyinggung kebiasaan sang appa.
"Adeul menginap di lumah appa, telus Adeul makan sama-sama appa, appa membelikan baju yang lucu untuk Adeul." Di tengah-tengah ceritanya, Sandeul sesekali tersenyum lebar menyertai senyuman-senyuman kecil yang sedari tadi tak luput dari bibir mungilnya.
"Eoh, jadi Sandeullie melakukan seperti apa yang kita lihat di drama yang di tonton umma?" tanya Maru yang mengingat mereka pernah menonton drama yang sedikit mirip dengan cerita Sandeul sewaktu Sandeul di Ilsan.
"Eum, 'kan hyungie juga suluh Adeul melakukan hal yang sama kalau beltemu appa." Jawab Sandeul dengan senyuman polosnya.
"Jinjja? Keundae, lain kali jangan seperti ini lagi nde? Pasti ummanya Sandeullie panik mencari Sandeullie yang menginap di rumah appa Sandeullie. Arrachi?" tanya Maru yang merasa sedikit keterlaluan untuk mengajarkan hal seperti itu pada Sandeul.
Jadi… sebenarnya Sandeul melakukan hal tersebut selain karena anjuran dari Maru. Ia juga melihat drama yang memiliki tema yang sama seperti dirinya yang hanya hidup dengan eommanya dan tak pernah bertemu dengan sang appa. Jinjja… anak ini…
.
.
.
~TBC~
.
.
.
Kekeke, My kira gak akan ada yang sadar kenapa uri Sandeullie pintar sekali di chapter kemaren. Eh ternyata ada~. Hulalala~
Jajajaanng~ dan inilah sebenarnya alasan dari kejeniusan bocah lima tahun itu~. Hohoho~.
Terusannya, ada sedikit KyuMin moment di sini~
Terusnya lagi, ada yang bisa nebak gak ya, My naro eung, istilahnya bom waktu di chapter ini, yang akan mempengaruhi chapter nantinya. Hayooo lhooo~
Maaaaaf~ My lama banget update Really. Semoga masih ada yang baca ya, habisnya, takutnya nanti gak ada yang baca. Biarpun kali ini mungkin aja ceritanya gak sesuai yang diharapin sama teman-teman yang udah baca. Maaf juga ya kalau My gak balesin review berharga kalian, tapi serius, My baca review kalian. Review yang lucu, maupun yang bikin alis My kedat-kedut bacanya, #plak
Dan untuk golongan darahnya Sandeul, My tadinya gak ngeh lho golongan darahnya bocah bebek itu~. Yang My inget cuma golongan darah Baro, member B1A4 yang cuma dia yang bergolongan darah B. Pas searching dan inget-inget lagi, lol~ Sandeullie, absolutely AAAAAA~ tentu~ appa eommanya aja kan AAAAAA~.
Muhahahaha~
Nde~, yeorobun enjoy this fiction, ok?
Annyeonghigaseyo~
.
