.

Menurutku, cinta dan hujan itu serupa.

Keduanya… memiliki kebahagiaan yang berdampingan dengan kesedihan.

Hujan… membuat kita mengerti arti cinta yang sesungguhnya.

Dan cinta… membuat kita bahagia, bersedih untuk kemudian bahagia kembali.

Kehidupan itu, bagaikan roda.

Akan terus berputar dan terus berputar.

Jadi… takkan ada bahagia selamanya, juga takkan ada sedih selamanya.

Dan hujan, menceritakan itu padaku.

.

.

.

REALLY?

KyuMin Fanfiction.

Implisit Mature Contents. #peace

Romance, Hurt/Comforts.

Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.

Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.

Just enJOY.

.

.

.

.

.

.

^Normal POV^

.

.

.

"Cho Sungmin! Ppali ireona!" Kyuhyun yang kala itu telah siap dengan pakaiannya yang rapi mengguncang kasar tubuh Sungmin agar terbangun. Biasanya Sungmin selalu bangun pagi dan tidak susah untuk dibangunkan akan tetapi kali ini rasanya berbeda.

"Ungh, aku masih lelah Kyu… setengah jam lagi…" pinta Sungmin yang masih setengah sadar.

"Ya! Cho Sungmin, ppali ireona. Kau lupa kalau hari ini kita mau mengunjungi makam appa?" Kyuhyun yang tak gentar pun makin mengguncang tubuh Sungmin dengan dahsyatnya.

"Iya aku bangun! Dan berhenti mengguncang tubuhku seperti itu, bodoh." Geram Sungmin dan beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum senang saja dan pergi dari kamar Sungmin menuju ruang makan tempat ummanya sudah menunggu mereka berdua.

"Sungmin sudah bangun?" sosok wanita anggun itu sontak bertanya begitu melihat Kyuhyun sudah turun dari kamar Sungmin.

"Sudah, sedang mandi sekarang. Memangnya semalam Sungmin hyung pulang jam berapa sih umma? Sepertinya lelah sekali." Gerutu Kyuhyun yang kini mendudukan dirinya di kursi yang berseberangan dengan sang umma.

"Dini hari tadi hyungmu itu baru pulang." Jawab sang umma sembari meletakkan makanan ke piring anaknya.

"Umma akan tetap membiarkan Sungmin hyung mencari appanya? Kenapa tidak umma hentikan? Dia yang akan menderita nantinya kalau appanya masih belum ditemukan." Gerutu Kyuhyun lagi.

"Anak umma, pagi-pagi sudah menggerutu saja, itu bukan kebiasaan yang baik. Lagipula… tidak salah 'kan hyungmu itu mencari appanya. Dia berhak bertemu dengan orang tua kandungnya." Ujar Nyonya Cho.

"Iya… tapi tetap saja… terus, kenapa umma sampai sekarang belum mengubah marga Sungmin hyung sih? Dia 'kan sudah umma adopsi sejak lama, sudah seharusnya umma ubah marganya 'kan?" suapan demi suapan yang masuk ke mulut Kyuhyun yang berusia enam belas tahun saat itu tetap saja diiringi dengan gerutuannya.

"Itu 'kan keputusan hyungmu. Lagipula, kenapa bukan kau saja nanti yang mengubah marga hyungmu?" sebuah seringaian tercipta dari bibir sang nyonya Cho.

"Maksud umma apa?" kini muka Kyuhyun dipenuhi kernyitan bingung akan apa yang diucapkan sang umma.

"Nikahi saja hyungmu itu, dan marganya pasti berubah." Ujar nyonya Cho tak masuk akal.

"BWOOOOOOH! Uhuk… umma! Mau membunuhku?" kesal Kyuhyun yang kini dengan beringas meraih segelas air di hadapannya. "Umma… mana mungkin aku menikahi Sungmin hyung, kami sama-sama laki-laki, umma. Lagipula… di Korea tak ada perubahan marga, apa umma lupa?" dan kini rona merah memenuhi wajah Kyuhyun.

"Umma merestui kalian kok, yah walaupun marga Sungmin tak berubah… setidaknya anak kalian akan memakai margamu." Dan ucapan ini sukses membuat Kyuhyun kembali tersedak dengan makanan yang sedang berada di tenggorokannya.

.

.

.

"Umma… aku benar-benar tak bisa memenuhi permintaanmu. Pernikahan yang kau harapkan tidak pernah bisa ku jalani. Aku mengacaukan segalanya umma. Membuat Sungmin hyung membenciku dan pergi dariku. Biarpun sekarang ia sudah di Korea lagi… dinding pembatas itu rasanya makin tebal saja. Kali ini ia semakin tak bisa ku jangkau. Umma… aku anak yang tidak berbakti, aku benar-benar mengecewakanmu…" saat sedang bercerita di depan makam sang eomma, Kyuhyun mendengar langkah kaki yang mendekat menuju dirinya. Dan saat ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang sedang berdiri di belakangnya, Kyuhyun dikejutkan atas fakta yang dilihatnya.

"Lee ahjussi…" gumamnya saat melihat ternyata ayah Sungmin yang sedang di hadapannya saat ini.

"Boleh aku menjenguk ummamu?" tanya Kang In yang disetujui Kyuhyun, tak ada alasan untuk melarang 'kan?

"Kamsahamnida." Setelah mengucapkan terima kasih pada Kyuhyun, Kang In kini menghadap makam Nyonya Cho yang selama ini telah membesarkan dan merawat anaknya. "Aku berterima kasih padamu. Terima kasih sudah merawat uri Sungminnie. Menyayanginya dan bahkan mendidiknya. Terima kasih sudah memperlakukan anakku seperti anakmu sendiri. Kamsahamnida." Ujar Kang In mengakhiri ucapannya terhadap Nyonya Cho.

"Lee ahjussi…" panggil Kyuhyun.

"Panggil saja appa. Meskipun telah bercerai dengan anakku, kau itu pernah menjadi menantuku. Lagipula… kau punya andil besar terhadap Sungminku." Kalimat sederhana Kang In ini sebenarnya menusuk sekali bagi Kyuhyun. Ia seakan diingatkan kembali pada kesalahannya dulu. "Bisa kita berbincang-bincang dulu? Sebagai menantu dan ayah mertua?" ajak Kang In yang lagi-lagi disetujui oleh Kyuhyun.

Dan pada akhirnya, keduanya berada di sebuah café yang nyaman untuk membicarakan sesuatu. Dan begitu sampai di café itu, tak satupun di antara mereka berdua memulai pembicaraan. Keduanya diselimuti suasana hening dan canggung.

"Ah… padahal aku bilang ingin berbicara layaknya menantu dengan ayah mertua denganmu. Kenapa aku terdiam seperti ini…" ujar Kang In membuyarkan kesunyian di antara mereka berdua.

"Appa…" panggil Kyuhyun ragu.

"Bagus… kau sudah memanggilku appa. Kyuhyun ah, sebagai seorang appa. Apa yang akan kau lakukan jika anakmu tersakiti? Apa yang akan kau lakukan jika anakmu berbuat kesalahan?" tanya Kang In yang kini sorot ramahnya itu menghilang entah kemana dan menatap Kyuhyun dengan tajam.

"Aku akan melindungi anakku yang tersakiti dan akan menghukum jika anakku berbuat salah." Jawab Kyuhyun yang sedikit gentar melihat tatapan mata Kang In.

"Kau pintar seperti apa yang Sungmin ceritakan selama ini. Tapi… sesuai dengan kata-katamu. Aku juga sangat ingin melindungi Sungminku yang waktu itu kau sakiti. Aku juga ingin menghukum kau yang telah berbuat salah sehingga melukai Sungminku. Kau tahu, tak sekali atau dua kali aku harus menahan amarahku saat Sungmin menceritakan dirimu. Apa yang telah kau perbuat serta akibat dari kelakuanmu. Sebenarnya, aku sangat ingin mengahajarmu saat pertemuan pertama kita. Tapi rasanya tidak etis melihat kondisi pertemuan kita itu." ujar Kang In yang menahan geramannya saat mengucapkan kata-kata itu.

"Maafkan aku, appa. Aku tahu, kata maaf saat ini takkan berarti apapun. Tapi izinkan aku mengucapkannya. Aku benar-benar menyesali perbuatanku dulu." Ujar Kyuhyun, ia berusaha mengucapkan itu semua dengan nada tegas, agar ia tak disangka main-main oleh Kang In.

"Menyesalinya? Bagaimana kau menyesali itu semua? Bagaimana bisa kau mengucapkan itu semua setelah ini semua terjadi? Apa yang membuat bisa berkata seperti itu?" dan benar saja, Kang In menyangsikan ucapan Kyuhyun.

"Aku menyesalinya… karena aku membuat orang yang kucintai pergi dariku. Membuat orang yang mencintaiku pergi dariku. Membuat lubang yang selama ini berhasil ditutupinya kembali menganga saat ia pergi. Aku benar-benar menyesalinya." Lirih Kyuhyun.

"Mencintai? Dengan semua perbuatanmu padanya saat masa pernikahan kalian? Seperti itu yang namanya mencintai?" desisan itu tak pelak dikeluarkan oleh Kang In.

"Saat pernikahan kami, Sungmin tak pernah bersikap layaknya orang-orang yang sudah menikah." Kalimat pembelaan itu Kyuhyun keluarkan kala mengingat kelakuan Sungmin dulu.

"Bagaimana denganmu? Sudahkah kau bersikap layaknya lelaki sejati yang telah menikah kala itu?" dan kalimat pembalik itu benar-benar menghantam Kyuhyun.

Keduanya kembali terdiam dan masuk kembali ke dalam alam pikiran mereka masing-masing.

"Apa kau masih mencintai anakku?" kembali Kang In yang memecah kesunyian itu.

"Aku masih mencintainya, tak pernah sedetikpun rasa itu hilang. Meskipun… kini semua sudah terlambat…" ujar Kyuhyun kembali.

"Terlambat?" tanya Kang In tak mengerti dengan ucapan Kyuhyun, apanya yang terlambat? Mereka saling mencintai, atau jangan-jangan…

"Ya, sudah terlambat. Sungmin hyung sudah melupakan perasaannya padaku. Buktinya… ia sudah menikah dan mempunyai anak dari pernikahannya itu."

'Kesalahpahaman macam apa ini…' bingung Kang In.

"Sungmin hyung pasti bahagia dengan pernikahannya yang sekarang." Lanjut Kyuhyun lagi dengan kalimat khayalannya itu.

"Kau tahu Kyuhyun ah, terkadang manusia harus melihat lebih teliti lagi terhadap keadaan sekitar. Tak bisa hanya dengan prasangka-prasangka saja."

"Maksud appa?" tanya Kyuhyun yang bingung dengan ucapan Kang In.

"Menurutmu, Sandeul itu seperti apa?" tanya Kang In yang jauh sekali dari pertanyaan Kyuhyun barusan.

"Sandeul? Dia anak yang pintar dan periang. Anak yang cerewet namun mudah untuk disukai. Dia mirip sekali dengan Sungmin hyung." Meskipun bingung dengan maksud pertanyaan Kang In, toh Kyuhyun tetap menjawab.

"Ya, Sandeullie memang terlihat sangat mirip dengan Sungmin. Tapi jika dilihat dengan baik, anak itu tak punya sedikitpun kemiripan dengan appanya. Seratus persen dia duplikatnya Sungmin. Sebenarnya… aku akhir-akhir ini baru saja menyadari kemiripan anak itu dengan appanya, dia punya kemiripan yang identik dengan sang appa." Kalimat Kang In, bagi Kyuhyun benar-benar membingungkan.

"Maksud appa? Tentu Sandeul mirip dengan appanya, Sungmin hyung." Ucap Kyuhyun.

"Pikirkan kalimatku dengan baik Kyuhyun ah. Jika kau masih mencintai anakku, rebut kembali hatinya. Dan bahagiakan dia serta anaknya. Lalu… lihatlah dengan hatimu. Ikuti apa kata hatimu. Jangan biarkan Sandeullie, cucuku yang berharga, tak bisa hidup bersama sang appa." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Kang In beranjak dari kursi café itu dan segera pergi menuju mobilnya. Meninggalkan Kyuhyun yang tidak mengerti keseluruhan kalimat Kang In, yang ia tahu hanyalah… Kang In menyetujuinya untuk bersama Sungmin kembali?

.

.

.

"Jelaskan padaku, oppa. Kenapa anakmu memanggilmu umma?" dan kini Song Qian memandang Sungmin penuh rasa penasaran.

"Karena aku memang ummanya, memangnya anakku harus memanggil apa? Aku yang menjaganya selama sembilan bulan di sini." Ujar Sungmin yang kini membelai perutnya, tempat Sandeul dulu sebelum ia menghirup rumitnya udara di dunia fana. Toh, tak ada gunanya menutupi hal ini dari Song Qian, pikir Sungmin.

"Jadi benar? Sandeul memang anak yang kau kandung?" dari arah belakang Sungmin, muncul Hyukjae dan juga Donghae, mereka yang hendak keluar dari café tempat Sungmin dan Song Qian berbincang itu menghampiri keduanya dan mereka terkejut mengetahui itu.

"Hyukkie, kau tahu?" dan Donghae menatap bingung kekasihnya yang kini memandang Sungmin.

Menghela nafas singkat, sebelum menyuruh Hyukjae dan Donghae duduk bersama mereka, itulah yang dilakukan Sungmin.

"Bagaimana kau bisa tahu Hyukkie?" kini Sungmin yang bertanya.

"Aku… penasaran. Ketika melihat mata Sandeul, aku seperti melihat mata Kyuhyun kecil. Mata yang begitu mirip… sehingga… aku memutuskan untuk membuktikan apakah Sandeul memiliki hubungan darah dengan Kyuhyun." Ujar Hyukjae.

"Dan caranya?" kini Song Qian yang bertanya.

"Kecelakaan Kyuhyun dan Sandeul yang lalu, aku meminta dokter rumah sakit itu untuk memeriksa DNA mereka berdua." Ujar Hyukjae.

"Kau memang selalu cepat mengambil tindakkan nde? Ya, Sandeul adalah anak biologis Kyuhyun. Saat kami berpisah dulu, usia kandunganku sudah memasuki bulan keempat. Kandungan yang lemah asal kalian tahu saja." Ujar Sungmin lirih untuk mengakui itu semua.

"Lemah?" Hyukjae yang duduk di samping Sungmin kini menatap Sungmin penuh kekhawatiran.

"Tubuh yang belum beradaptasi dengan baik terhadap kandungan itu, masalah yang datang tak ada hentinya, terlebih lagi sebuah penyakit sialan yang berhasil disembuhkan sesaat sesudah proses melahirkan. Kau pikir, aku sekuat itu?" dan kini Sungmin benar-benar menumpahkan air matanya kala mengingat bagaimana dulu ia bertahan, bagaimana dulu ia berpikir jika anaknya terlahir maka ia takkan kesepian lagi, yang ia punya saat itu hanya anaknya.

"Hyung…" lirih Hyukjae dan memeluk Sungmin.

"Oppa… kejadian yang waktu itu, sebenarnya Kyuhyun… dia cemburu. Dia cemburu dan salah paham saat melihat sketsamu. Aku baru tahu alasan bocah sial itu saat ia akhirnya tahu untuk siapa sketsa itu ditujukan. Aku benar-benar merasa bersalah padamu." Cerita Song Qian.

"Lagipula, mana bisa Qiannie yang waktu itu sudah bertunangan dengan Nichkhun memenuhi permintaanmu untuk bersama dengan Kyuhyun. Bisa perang tiga negara nanti." Canda Donghae yang memang mengetahui masalah ini.

"Jadi, Sandeullie benar-benar keponakanku 'kan hyung?" tanya Hyukjae yang masih saja memeluk bahu Sungmin.

"Menurutmu? Untuk apa aku menyuruhnya memanggilmu samchon hah?" Sungmin menggerutu kesal dan memukul kepala Hyukjae saat mendengar ucapan polos Hyukjae.

"Keundae… jangan katakan pada siapapun tentang hal ini. Terlebih pada Kyuhyun." Ucap Sungmin kemudian.

"Waegeurae oppa?" tanya Song Qian yang bingung dengan permintaan Sungmin.

"Kyuhyun… aku tak yakin ia bisa menerima keberadaan Sandeul dengan baik. Dan lagi, ia masih membenciku. Aku bisa merasakannya." Lirih Sungmin.

"Apanya yang membencimu? Apanya yang tak bisa menerima keberadaan Sandeul? Kau kemanakan matamu hyung?" geram Hyukjae.

"Hyung, jika mata tak bisa melihat dengan baik, gunakan mata hatimu. Kau pasti bisa menemukan jawaban yang terbaik dari hatimu hyung." Donghae yang sedari tadi sibuk memandangi Hyukjae dan Sungmin yang berkata seperti itu.

"Oppa, masih mencintai Kyuhyun?" tanya Song Qian.

"Entahlah…" jawab Sungmin ragu.

"Oppa ragu? Bagaimana jika kukatakan, hingga detik ini bocah bodoh itu masih mencintai oppa? Sedetikpun, sedetikpun bocah itu tak pernah menghapus rasa itu untukmu." Ujar Song Qian lagi.

"Entahlah… aku merasa bingung dengan semuanya. Yang menjadi prioritasku saat ini, kebahagiaan Sandeul. Rasa cintaku terhadap Kyuhyun… kurasa masih ada, dan rasa cinta itu entah kenapa berbalut kesedihan serta rasa takut yang kuat."

"Hyung, sebenarnya apa yang membuatmu ragu?" tanya Hyukjae.

"Sandeullie, apa anak itu bisa diterima Kyuhyun. Saat pertama kali Kyuhyun melihat Sandeul, ia membenci Sandeul. Aku hanya tak ingin perasaan anakku terluka akibat kebencian appanya." Jawab Sungmin.

"Bagaimana jika Kyuhyun kini menyanyangi anak kalian?" tanya Donghae.

"Maka dari itu aku ingin kalian merahasiakan siapa Sandeul, aku ingin melihat Kyuhyun yang menyadari siapa Sandeul dan menerima anak kami secara perlahan. Aku ingin… Kyuhyun mengetahui dengan sendirinya siapa Sandeul." Kata-kata Sungmin itu membuat tiga orang yang bersamanya terdiam.

"Baiklah, aku ikuti kemauanmu hyung." Putus Donghae kemudian.

"Ya! Hae, bagaimana bisa kau berkata seperti itu?" protes Hyukjae yang diangguki Song Qian.

"Hitung-hitung menghukum Kyuhyun juga, kurasa ini akan menarik." Ujar Dongahe kemudian yang langsung saja diangguki setuju oleh Hyukjae dan Song Qian setelah berfikir untuk sedikit menghukum Kyuhyun.

.

.

.

"Hyung, kau tidak ada di sekolahmu?" Kyuhyun yang saat ini sedang duduk di bangku taman sekolah Donghae dan Hyukjae hanya bisa menghela nafas kesal karena kedua orang yang ingin ia temui itu tak ada di tempat mereka biasa berada.

"Ya sudah, aku tunggu." Putusnya sembari menunggu keduanya kembali.

Bel pulang untuk siswa jenjang taman kanak-kanak berdentang tak lama kemudian. Membuat beberapa murid berlarian menuju orang tua masing-masing dan pulang ke rumah hangat mereka. Menyisakan seorang bocah berpipi gembil yang berjalan menuju taman untuk menunggu jemputannya.

"Lho? Ahjussi?" bocah itu, Sandeul, mendapati Kyuhyun yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya di salah satu bangku taman itu.

"Sandeul ah? Kau sekolah di sini?" tanya Kyuhyun bingung saat melihat seragam yang dikenakan Sandeul.

"Ung, Adeul sekolah di sekolahannya Hyukkie samchon." Ujar Sandeul senang dan mencoba duduk di bangku taman itu sebelum Kyuhyun mengangkatnya untuk kemudian mendudukkannya di pangkuannya.

"Hari pertama sekolah?" tanya Kyuhyun lagi.

"Ung! Hali peltama, dan hali ini sangat menyenangkan. Ahjussi tahu? Tadi ssaem bilang Adeul pintal. Hehehe." Cerita Sandeul yang memang merasakan kesenangan di hari pertama ia bersekolah.

"Jadi kau pikir dirimu pintar?" tanya Kyuhyun yang diangguki Sandeul. "Jangan cepat puas bocah, kau masih harus berjuang lagi." tambah Kyuhyun yang kini mengusap kasar rambut Sandeul.

"Allayo." Protes Sandeul yang tak suka rambutnya diacak-acak.

"Kau menunggu seseorang menjemput?" tanya Kyuhyun lagi.

"Nde. Sebental lagi yang menjemput Adeul datang." Jawab Sandeul

Sementara itu, tak jauh dari tempat keduanya duduk. Empat orang yang berdiri dibalik dinding gerbang sekolah itu tertegun melihat interaksi keduanya.

"Akrab sekali anakmu dengan appanya, hyung." Ujar Hyukjae.

"Nde, selama ini 'kan bocah itu mana bisa berinteraksi dengan anak kecil." Kali ini Donghae yang menambahkan.

"Oppa, masih mau menutup matamu? Kau lihat sendiri, anak laki-laki itu mempunyai ikatan yang kuat dengan appanya. Meskipun Kyuhyun tak tahu siapa Sandeul, tapi melihat mereka saat ini, aku yakin… Kyuhyun sangat menyayangi anak kalian." Song Qian yang memang cukup terkejut melihat Kyuhyun bisa dekat dengan anak kecil tak ragu lagi akan perasaan Kyuhyun terhadap anaknya.

"Nde, hyung. Sudah sana hampiri mereka. Kami masih ada urusan." Dan Donghae menarik tangan Hyukjae menuju kantor mereka. Sementara Song Qian pergi ke salah satu ruang guru tempat suaminya menunggu saat ini.

Sementara Sungmin kini berjalan menghampiri anaknya serta Kyuhyun yang sedang tertawa, entah menertawakan hal apa.

"Sandeullie," panggil Sungmin yang membuat Sandeul turun dari pangkuan Kyuhyun dan memeluk Sungmin.

"Lamaaa~," rajuk Sandeul.

"Mianhae aedeul," pinta Sungmin pada anaknya yang kini merajuk padanya.

"Akan Adeul maafkan kalau mengajak Adeul dan ahjussi ke watelpalk!" pinta Sandeul

"Sandeullie mau main ke waterpark? Apa tak lelah? Sandeullie baru saja pulang sekolah 'kan?" sebenarnya Sungmin ingin menolak permintaan anaknya itu.

"Gak boleh? Adeul gak boleh main ke watelpalk? Padahal Adeul mau main di watelpalk…" saat melihat Sandeul akan menangis, Kyuhyun segera memeluk tubuh anak itu.

"Apa salahnya main ke waterpark? Kau senang melihat anakmu menangis seperti ini?" dan kini Kyuhyunpun ikut memarahi Sungmin.

"Bukan begitu, Sandeullie baru saja pulang sekolah dan ia belum makan siang, aku takut ia sakit nanti." Gusar Sungmin melihat pemandangan di hadapannya.

"Ya sudah, sebelum main kita makan siang dulu. Cepat tunjukkan di mana mobilmu, aku tak membawa mobil." Dan sembari menggendong Sandeul, Kyuhyun menarik tangan Sungmin menuju parkiran.

"Adeul boleh main ke watelpalk?" tanya Sandeul disela-sela isakannya ia menatap Sungmin, sang eomma.

"Boleh aedeul ah, tapi kita makan siang dulu. Arrachi?" Sungmin yang menyetujui permintaannya tentu saja membuat Sandeul bahagia.

"Gomawo. Adeul sayang umma." Saat menyebutkan panggilannya untuk Sungmin, Sandeul melafalkan kata itu tanpa suara, sehingga Kyuhyun tak bisa mendengar apa yang Sandeul ucapkan.

"Nado, aedeul ah." Jawab Sungmin.

.

.

.

~~~TBC~~~

.

.

.

Update~~

Menurut kalian, chapter ini gimana? Jebal, jangan bilang pendek.

Ada yang punya gambaran gimana chapter depan? Yang jelas, beberapa masalah di sini makin jelas sih ya, atau makin rumit? Hehehe…

Cha yeorobun, just enJOY~

Annyeonghigaseyo~

.