.
Hanya untukmu.
Bahkan aku tak memiliki apapun lagi yang bisa kuberikan.
Hanya kamu.
Bahkan aku tak memiliki siapapun lagi untuk kuindahkan.
Tapi, bisakah kupercayakan segalanya atasmu?
Apakah kau mengagungkan segalanya atasku?
Hanya untukmu, hanya kamu.
.
.
.
REALLY?
KyuMin Fanfiction.
Mature Contents. #peace
Romance, Hurt/Comforts.
Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.
Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.
Just enJOY.
.
.
.
^Normal POV^
.
Sinar mentari pagi menerangi kediaman keluarga yang baru saja bersatu itu. Mengantarkan kehangatan yang menenangkan. Kicau burung di luar sana seakan menjadi melodi pelengkap. Pelengkap senyuman manis yang terukir di bibir mungil itu.
"Ahjussi! Appa! Ileona!" Sandeul yang baru saja bangun masuk ke kamar yang ia yakini terdapat orang yang dicarinya.
Menggeliat sebentar sebelum akhirnya tersadar dengan kepanikan.
"Sandeullie keluar sebentar, nak. Umma mohon." Tatap Sungmin, dan Sandeul yang tak bisa mendengar eommanya memohon lebih, ya anak itu terlalu patuh pada sang eomma, akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sungmin dulu.
"Kenapa Adeul mesti kelual ya?" dan Sandeul yang bingung itu hanya bisa menunggu di dekat tangga di samping kamar itu.
Sementara itu di dalam kamar, Sungmin sedang panik memakai pakaiannya. Oh, jangan lupa… mereka 'kan terlelap begitu saja setelah kegiatan semalam.
"Kyuhyun ah, cepat bangun dan pergi mandi sana!" geram Sungmin yang sedari tadi susah sekali membuat Kyuhyun bangkit dari ranjang.
"Aku masih lelah Ming…" gumam Kyuhyun yang masih memejamkan matanya.
"Huh? Begitukah kelakuan seorang appa? Anaknya saja sudah bangun, sedangkan appanya malah masih tidur nyaman di ranjangnya?" senyuman Sungmin terulas begitu saja ketika Kyuhyun bangun juga dari tidurnya, memakai asal celananya dan keluar dari kamar itu menuju kamarnya.
"Aku bukan appa yang seperti itu, Ming." Sebelum benar-benar keluar dari kamar itu, Kyuhyun sempat berhenti dan mengutarakan protesnya kepada Sungmin. "Masuklah," ujar Kyuhyun begitu melihat Sandeul terduduk di atas lantai kayu rumah mereka.
Bukan, bukan bersikap dingin. Kyuhyun… hanya malu dan sedikit canggung saja. Malu terhadap anaknya akan kondisinya saat ini, ah… wangi bekas semalam begitu tercium dari tubuhnya. Dan canggung, karena statusnya yang sudah berubah di hadapan anak manisnya itu.
Setelah memastikan Sandeul masuk ke kamar Sungmin, Kyuhyunpun berlalu ke kamarnya.
"Umma…" panggil Sandeul saat melihat ummanya itu sedang mengganti alas kasur.
"Nde? Sandeullie sudah mandi? Kalau belum, segera mandi nak. Umma akan menyiapkan sarapan untuk kita." Sungmin yang telah selesai membereskan kekacauan di ranjang itupun menatap anaknya dan mengisyaratkan anaknya untuk segera mandi.
"Tapi umma gosok punggung Adeul nde? Tangan Adeul masih pendek…" seperti yang sudah-sudah, meskipun sudah pandai mandi sendiri, anak berpipi gempal itu selalu saja meminta Sungmin untuk menggosok punggungnya.
"Arraseo… kajja, Umma gosokkan punggung anak Umma." Menggendong Sandeul, dan membawanya ke dalam kamar mandi, itu yang Sungmin lakukan.
'Lho… peralatan mandinya masih lengkap? Sepertinya masih baru…' dan bingung untuk sesaat, Sungmin sungguh bingung… kenapa perlengkapan mandinya masih saja sama seperti dulu. Dan, ah… kamarnya, kamarnya bersih tanpa debu. Seakan-akan kamarnya masih ditempati atau… selalu dibersihkan?
.
.
.
Setelah selesai memandikan Sandeul, Sungmin yang telah mandi dan membereskan kekacauan di tubuhnya itu kini sedang berkutat di dapur Kyuhyun yang masih menyimpan perlengkapan masak yang selama ini Sungmin gunakan. Dan bahkan… bahan-bahan makanan pun tersedia lengkap di dalam kulkas dua pintu itu.
"Apa jadinya dia tanpa Eunhyuk ya…" gumam Sungmin sembari memasukkan bahan-bahan yang telah disiapkannya dan mulai memasak bahan-bahan makanan itu.
"Ahjussi! Jangan ambil minuman Adeul!" pekik Sandeul kesal akan ulah Kyuhyun yang sedari tadi mengacaukan acara paginya. Anak itu sedang asik meminum jus buah kesukaannya, namun mesti terusik oleh keadaan Kyuhyun yang sedari tadi selalu saja berusaha untuk menjauhkan gelas jusnya dari hadapannya.
"Tapi appa mau minuman ini…" kekeh Kyuhyun yang gemas melihat gembungan pipi Sandeul yang sedang merajuk itu. Ya, Kyuhyun telah memutuskan untuk memperbaiki semua kesalahannya. Maka dari itu ia memulai dengan mengakui statusnya di hadapan sang anak dan sedikit mengganggu anaknya itu.
"Huh? Ahjussi bilang apa?" tanya Sandeul sembari mengerjap-ngerjap matanya dan memproses ucapan Kyuhyun barusan.
"Apa? Appa 'kan mau minuman milikmu itu…" dan senyuman jahil itu belum juga terhapus dari bibir Kyuhyun. "Berhenti berpura-pura bocah… aku tahu kalau kau tahu aku ini adalah appamu." Tak tahan akan rasa gemasnya, Kyuhyun mencubit pelan kedua pipi gempal milik Sandeul.
"Ya! Appoyo!" pekikan Sandeul semakin menjadi saja dan ia segera saja menyelamatkan dirinya dari tangan jahil Kyuhyun. "Umma! Ahjussi gila itu mau melobek pipi Adeul!" adu Sandeul, suara melengking itu mengiringi langkah kaki Sandeul yang berlari menuju Sungmin.
Sementara Sungmin hanya terkikik geli saja mendengar interaksi antara anak dan ayah itu.
"Siapa yang kau panggil ahjussi gila? Sebelum mengucapkan kata-kata seperti tadi, lebih baik kau belajar berbicara dengan benar! Umurmu berapa hum? Sebesar ini masih saja cadel…" dan Kyuhyun yang sudah berdiri di ruangan yang sama dengan anaknya itu kembali mengusili Sandeul dengan menusuk-nusuk pelan pipi anaknya itu dengan telunjuknya.
"Umma…" rajuk Sandeul yang masih saja berusaha menepis jari-jemari usil milik Kyuhyun. "Umma… kenapa ahjussi gila ini sih yang jadi appanya Adeul…" dan si kecil yang merajuk itu kini melayang di udara akibat badannya yang digendong oleh Kyuhyun.
"Apa kau bilang bocah nakal?" Kyuhyun menciumi gemas pipi anaknya yang masih saja sibuk merajuk. "Ahjussi gila?" dan Kyuhyun kini menggelitiki pinggang anaknya dengan tangannya. "Menyesal memiliki appa yang seperti ahjussi gila ini?" dan kali ini berontakkan Sandeul makin kencang, berbanding lurus dengan intensitas gelitikan Kyuhyun di badannya.
"Ampun… ahjussi… hahaha… ahjussi!" diantara pekikan kesalnya, gelak tawa itu juga terdengar dari bibir mungil Sandeul yang benar-benar tak tahan akan gelitikan Kyuhyun.
"Kyu, sudah… nanti anakmu lemas karenamu." Peringat Sungmin yang merasa sudah cukup melihat Sandeul menggelinjang geli.
"Aku akan berhenti jika anak ini berhenti memanggilku dengan sebutan ahjussi, Ming." Ujar Kyuhyun yang masih saja asik menghendus wangi anaknya itu.
Dan seakan mengerti dengan maksud sang ayah, anak manis itupun menuruti keinginan Kyuhyun.
"Appa, udah ya? Adeul udah gak kuat…" selain terpana anaknya mau menurutinya, Kyuhyun juga terpana kala ia dipanggil seperti itu oleh anaknya. "Umma, sekarang appanya Adeul malah aneh…" gerutu Sandeul saat melihat Kyuhyun yang terpana akan panggilannya tadi, tangan kecilnya yang sebelumnya menangkup pipi Kyuhyun kini digunakannya untuk menepuk-nepuk pipi Kyuhyun.
Sungmin yang juga heran akan tingkah Kyuhyun kini menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap cemas melihat ekspresi Kyuhyun.
"Kyu? Gwaenchanna?" tanya Sungmin sembari mengusap lembut bahu pria tampan itu.
Dan seakan tersadar, Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian berpaling memandang Sungmin dengan tatapan tak percayanya.
"Aku sungguh bodoh Ming. Anakku… mendengarnya memanggilku 'appa' membuatku benar-benar merasa bodoh. Kenapa aku bisa menelantarkan kalian? Sementara kebahagiaan dan kebanggaan yang kalian berikan benar-benar membuatku sempurna." Tetesan liquid itu mengalir begitu saja dari mata kelam Kyuhyun. Air mata penyesalan sekaligus rasa haru mendengar ucapan sang buah hati.
"Appa… gak suka Adeul panggil appa ya?" sementara sang buah hati yang menangkap lain arti dari ucapan Kyuhyun kini malah merenggut kesal.
"A…anniya. Appa sangat menyukainya. Aku, appamu. Dan kau adalah anakku." Kyuhyun merasa sempurna kala kalimat itu ia ungkapkan. Ya, anak dalam gendongannya ini anaknya. Anaknya yang tak ia ketahui keberadaannya. Anaknya yang sempat ia benci saat pertama bertemu, dan betapa ia menyesali hal itu. Anaknya yang melengkapi kehidupannya.
"Ung ung, Adeul juga suka appa. Walaupun appa selam, walaupun muka appa milip ahjussi jelek, walaupun appa mukanya bolong-bolong. Adeul tetap suka appa." Sebenarnya, Sandeul hanya berkata jujur 'kan? Lalu kenapa Sungmin menahan tawa gelinya dan persimpangan imajinatif itu terlihat di pelipis Kyuhyun?
"Jadi menurutmu appa jelek, begitu?" Kyuhyun benar-benar menjaga intonasi suaranya. Dia bingung, mau marah tetapi anaknya ini berkata jujur, mau menerima begitu saja tapi harga dirinya hancur berkeping-keping akibat kata-kata anaknya.
"Appa hanya kalah tampan dali halabeoji, ah… Donghae samchon juga lebih tampan dali appa. Benalkan umma?" Sandeul melayangkan tatapan meminta persetujuannya diikuti Kyuhyun yang mulai mendelik kesal.
Sedangkan Sungmin hanya terkikik geli mendegar pertanyaan anaknya sementara Kyuhyun mulai menggeram kesal. Tak mau terseret lebih jauh lagi, Sungmin mengangkat bahunya acuh dan berbalik untuk menyelesaikan masakannya.
"Umma tak tahu~." Jawab Sungmin.
Dan selanjutnya yang terdengar hanyalah teriakan Sandeul yang meminta pertolongan sementara Kyuhyun kembali menggelitiki Sandeul dan menggigit gemas pipi gembul anaknya itu.
.
.
.
"Kenapa hali ini Adeul gak boleh sekolah?" Sandeul yang mendengar ucapan sang appa, mengeluh kesal akan perkataan Kyuhyun yang melarangnya sekolah hari ini.
"Karena appa ingin menghabiskan hari bertiga ini denganmu dan ummamu." Jawab Kyuhyun sembari menyisihkan sehelai sayur yang ada di mangkuk nasinya.
"Ish, appa. Makan sayulnya." Rajuk Sandeul dengan mulut penuh nasi. "Tapi Adeul mau sekolah." Balas Sandeul lagi.
"Hari ini saja nak. Besok kau boleh bersekolah seperti biasanya dan appa yang akan mengantar jemput Sandeullie ke sekolah. Hanya hari ini saja, ya?" Kyuhyun menatap anaknya yang sedang meminum airnya, menunggu persetujuan Sandeul. "Appa sudah dari lahir membenci makhluk hijau itu." kernyitan kesal Kyuhyun layangkan pada sayuran yang sudah tersisih ke piring Sungmin. Hanya kebiasaan lama. Ya, Kyuhyun terbiasa menyisihkan sayuran yang biasanya ada dalam makanannya ke dalam piring Sungmin.
"Tapi appa, hali ini Donghae samchon yang mengajal. Adeul suka kalau Donghae samchon yang mengajal." Tatapan Sandeul yang penuh akan rasa kesal itu terlihat menggemaskan. "Kan sayul gak cuma walna hijau appa. Ada yang putih, olen, ungu juga ada appa. Appa halus makan sayul, bial tampan sepelti Donghae samchon." Mata Sandeul mengerjap-ngerjap membayangkan guru ikannya itu.
"Ming, apa yang telah si ikan itu perbuat pada anakku? Sedari tadi Donghae samchon inilah, Donghae samchon itulah." Lagi-lagi harga diri Kyuhyun tercoreng, sudah ia dipaksa memakan sayur dan dinasehati oleh anaknya, ia juga dibanding-bandingkan dengan hyung pendeknya itu.
"Nan molla." Jawab Sungmin kalem dan masih saja berkutat dengan nasi di mangkuknya yang lebih enak dibandingkan meladeni pertanyaan Kyuhyun yang sarat akan rasa cemburunya itu.
"Memangnya kau begitu menyukai Donghae samchonmu itu?" kini Kyuhyun kembali melayangkan pertanyaannya pada Sandeul.
"Sangat. Soalnya, Donghae samchon suka laut, appa. Dan Adeul juga suka laut. Jadi Adeul juga suka Donghae samchon. Telus ya appa, Donghae samchon itu tampan, Adeul suka." Jawaban yang diberikan Sandeul semakin dan semakin membuat harga diri Kyuhyun tercoreng.
'Apa bagusnya si ikan itu sih?' gerutu Kyuhyun di dalam hatinya, selain muak dibanding-bandingkan, Kyuhyun juga keki sendiri mendengar kata-kata anaknya itu.
"Jadi, kalau appa tak menyukai laut, kau tak menyukai appa? Kalau appa jelek, kau membenci appa?" Kyuhyun mengeluarkan gerutuannya juga pada anaknya itu.
"Anni, umma bilang… hanya anak nakal yang gak suka olang tuanya. Dan kalena Adeul anak baik, jadi Adeul sangat-sangat-sangat menyukai appa dan umma." Balas Sandeul sembari merentangkan kedua tangannya selebar yang ia mampu.
"Hentikan rasa cemburumu itu, Kyu. Tak ada alasan kau untuk mencemburui Donghae, anak kita menyayangi kita." Sungmin yang sedari tadi diam saja melihat intersaksi antara anaknya dan Kyuhyun itu akhirnya berbicara agar Kyuhyun tidak berburuk sangka pada anaknya sendiri.
Anak kita… kata-kata itu sederhana dan mudah saja terucap, ya 'kan? Tapi kata-kata sederhana itulah yang membuat dada Kyuhyun berdesir hangat, hampir meledak-ledak.
"Gomawo uri adeul, dan kami juga sangat-sangat-sangat menyayangi uri adeul." Rasa terima kasih yang tulus itu diucapkan oleh Kyuhyun disertai dengan senyuman yang tak kalah tulusnya juga. "Dan, aku mencintaimu, Ming."
Mata penuh cinta itu, kembali memenjarakan Sungmin ke dalam penjara terindah.
.
.
.
Jadi, disini lah mereka saat ini. Keluarga yang baru saja bersatu itu kini berada di sebuah pusat perbelanjaan. Sudah tiga jam mereka disana, Kyuhyun yang semula berencana membelikan semua yang diinginkan anaknya itu kini sedang duduk dengan Sungmin di sampingnya sembari mengawasi anak mereka bermain di salah satu wahana yang aman menurut mereka.
"Kau serius, Kyu?" Sungmin kembali mengulangi pertanyaannya.
"Aku serius. Maaf jika terasa tiba-tiba dan meragukanmu…"
"Anniya, bukan seperti itu… tapi kau benar-benar serius?"
"Menurutmu? Setelah berpisah sekian lama, aku masih saja bisa berjauhan dengan kalian? Aku ingin mengulangi segalanya dari awal. Aku ingin membesarkan Sandeul bersamamu." Tegas Kyuhyun.
"Tapi aku tak mungkin kembali ke apartment itu…" lirihan itu, terdengar menyakitkan bagi Kyuhyun.
"Kau tak mau mengingat rasa sakit di tempat tinggal kita dulu? Maafkan aku… bagaimana jika kita membeli rumah baru?" tanya Kyuhyun, terdengar sedikit mendesak sebenarnya.
"Bukan begitu bodoh!" maki Sungmin dengan geraman rendah. Membuat Kyuhyun tercengang mendengarnya.
"Lalu?" tanya Kyuhyun setelah bisa menerima sikap Sungmin barusan.
"Kau ini bagaimana, kau sudah melihat appaku 'kan? Lalu kalau aku dan Sandeul pergi denganmu, appaku mau kau tinggal sendiri? Kau ini…" Sungmin yang dulu sudah kembali, Sungmin yang akan merenggut dengan bebasnya dihadapan Kyuhyun jika kesal.
"Ah itu, bukannya mudah? Kita ajak abonim bersama kita, bagaimana?"
"Tidak mau, aku tak mau meninggalkan rumah yang sekarang. Aku menyukai suasana rumah appa." Kembali, Sungmin merajuk.
"Baiklah, aku mengerti." Balas Kyuhyun dengan tersenyum geli melihat tingkah Sungmin. "Kenapa ya, setiap detiknya aku makin mencintaimu?" lanjut Kyuhyun lagi sembari mengelus lembut kedua pipi mulus milik Sungmin.
"Appa, bantu Adeul kelual!" panggilan Sandeul itu membuat Kyuhyun menghampiri anaknya, meninggalkan Sungmin dengan pipi yang telah merona parah.
"Aku juga Kyu, bahkan aku tak pernah sekalipun menghapus rasa cintaku padamu." Lirihan itu, terucap begitu halus dan merdu, benar-benar menyiratkan ketulusan yang mendalam.
.
.
.
TBC
.
.
.
Akhirnya, chapter ini bisa keluar juga. Chapter terlama masa pengerjaannya. Tapi, sebuah semangat muncul saat gasengaja baca status salah satu author, Thena eonni, yang katanya meski dalam keadaan apapun tetap usahakan untuk menulis, gak perlu banyak, yang penting berlanjut. Dan setelah menerapkan itu, chapter ini bisa terealisasikan juga ditambah lagi idenya juga datang disaat yang tepat.
Jaa, chapter ini bagaimana? Udah dekat sama endingnya nih, tapi gajanji chapter depan ataupun berapa chapter lagi ya. Makasih banget lho yang udah sabar nungguin ini update tiap chapternya.
Nde, yeorobun. Just enJOY.
Annyeonghigasseyo~
.
