.
Benar? Memang benar kau adalah nafasku.
Benar? Memang benar kau adalah duniaku.
Benar? Memang benar, tanpamu aku bukanlah sesuatu.
Benar? Memang benar, tanpamu duniaku runtuh.
Benar? Memang benar, kau lah segalanya bagiku.
Memang benar, kau lah warna keindahan yang menyempurnakan hidupku.
Aku mencintaimu, malaikatku.
.
.
.
REALLY?
KyuMin Fanfiction.
Implisit Mature Contents. #peace
Romance, Hurt/Comforts.
Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.
Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.
Just enJOY.
.
.
.
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
"Appa~." Langkah kaki kecil Sandeul begitu ringan dan riang kala melihat Kyuhyun sudah ada di sekolahnya saat ia akan pulang. "Appa, umma mana?" tanyanya saat sudah berhadapan dengan Kyuhyun.
"Hei, sepertinya senang sekali hari ini?" Kyuhyun hanya tersenyum tipis saat melihat langkah kaki anaknya yang menghampirinya itu. "Umma sedang di kantornya, wae? Ada yang mau kau ceritakan?" kilat jenaka Sandeul tak lepas begitu saja dari mata kelam Kyuhyun.
"Ung. Appa dengar ya, sudah? Appa sudah dengar Adeul bilang apa? Dengar tidak?" kilat jenaka itu makin terang saja melihat appanya berfikir dan kebingungan akan maksudnya.
"Maksudmu?" mata kelam Kyuhyun hanya bisa mengerjap-ngerjap bingung mendengar ucapan anaknya.
"Appa, ada ular melingkar-lingkar di atas pagar lho…" senyuman geli Sandeul kontan makin melebar saat mengucapkan itu.
"Hee? Mana ular… eh? Sudah bisa? Benar-benar sudah bisa?" pada saat ia sadar akan ucapan anaknya itu, Kyuhyun tersenyum senang. Biarpun terkesan remeh, namun ia senang… ya senang setidaknya tadi ia baru saja melihat dan mendengar sendiri perkembangan yang dialami oleh anaknya.
"Ung, ung. Adeul sudah bisa, appa." Bangga bocah lucu itu yang kini sedang berada dipelukan Kyuhyun.
"Siapa yang mengajarimu, hm?" tanya Kyuhyun sembari menciumi pipi gempal Sandeul.
Namun, setelah mendengar pertanyaan Kyuhyun, senyuman Sandeul menghilang digantikan dengan kerucutan bibir yang sama persis seperti Sungmin.
"Bukan, appa. Tadi ada anak baru mirip tupai dan dia menyebalkan. Appa tahu? Adeul dibilang bebek. Di kelas kerjaannya ganggu Adeul terus, appa." Cerita Sandeul yang kini sudah duduk di samping kemudi lengkap dengan seat belt yang sudah terpasang.
"Lalu?" tanggap Kyuhyun yang mengerti bahwa cerita anaknya belum selesai.
"Namanya Baro, Choi Baro jelek mirip tupai." Lanjut Sandeul
"Heum? Lalu bagaimana kau bisa mengucapkan huruf itu dengan benar?" tanya Kyuhyun lagi yang kini fokus ke jalanan yang mereka lalui.
"Adeul 'kan kesal appa, terus Adeul teriak namanya pas tupai itu megang-megang eongdongi nya Adeul. Gataunya ya appa, Adeul bisa bilang huruf itu." cerita Sandeul dengan berbagai ekspresi wajah yang tercetak di wajah manisnya.
"Wah, tangannya nakal sekali. Tapi Sandeullie, jangan terlalu membenci. Nanti kalau menikah dengan Baro itu bagaimana?" Kyuhyun hanya terkekeh geli saja saat mendengar gerutuan Sandeul setelah ia melayangkan pertanyaan itu.
"Adeul gak mau sama namja." Balas Sandeul kemudian.
"Hei, ummamu itu namja lho. Meski manis sepertimu Sandeullie." Ingat Kyuhyun.
"Eh iya ya appa. Kalau gitu Adeul gak mau sama namja muka tupai tangan nakal kayak Baro." Ralat Sandeul lagi.
Hei Cho Kyuhyun, Cho Sandeul… percakapan ayah-anak macam apa itu?
.
.
.
"Umma, kapan appa pindah ke rumah kita? Adeul mau appa~." rengekan si kecil itu menyelingi kegiatan Sungmin saat sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
"Appa dan umma masih belum bisa menemukan waktu yang tepat, nak. Kalau appa dan umma sudah senggang, pasti appa akan pindah. Nanti appa makan malam di sini. Sudah, berhenti merajuk dan bantu umma, panggil harabeoji ke ruang makan, sebentar lagi masakan umma siap." ujar Sungmin yang hanya dibalas anggukan singkat Sandeul dan kemudian berlari kecil ke arah kamar Kang In.
"Beoji, ayo keluar. Makan malam sudah siap. Beojiii~." bibir tipisnya yang mirip sekali dengan Sungmin kini tertarik ke depan saat melihat Kang In yang masih saja tidur. Memang Kang In pulang lebih awal hari ini, tubuhnya lelah sekali hari ini dan itu membuatnya harus menyelesaikan perkerjaannya secepat yang ia bisa dan menyerahkan sisanya pada bawahannya. Dan Cho Sandeul yang belum mengerti akan hal itu, kini menaiki tubuh besar Kang In.
"Beojiiiii~ ireona~ ayo makan malam bersama." dan kini Sandeul membawa tubuhnya mendekat ke pipi Kang In, untuk kemudian mengecup kecil pipi yang dimiliki wajah tampan Kang In.
"Beoji gom~ ayo bangun." ucapnya lagi sembari menepuk-nepuk pelan pipi Kang In. Menimbulkan sebuah senyuman geli di wajah tampan Kang In.
"Issh, beoji tukang tidur…" rajuk Sandeul saat tangan mungilnya ditahan Kang In yang masih saja memejamkan matanya itu mulai mengecupi tangan mungilnya.
"Arraseo, uri Sandeullie, beoji bangun. Dan beoji akan segera ke kamar mandi untuk cuci muka. Uri Sandeullie mau menunggu beoji atau lebih dulu pergi ke ruang makan?" Kang In yang kini sudah membuka matanya dan duduk menyandar itu menatap geli cucunya yang sedang berpikir.
"Beoji, Adeul mau ke ruang makan. Mau lihat appa sudah datang atau belum. Tapi, beoji... gak tidur lagi 'kan? Nanti bunny umma marah lho beoji gom." bibir yang menduplikat milik sang eomma dengan sempurna itu bergerak-gerak lucu saat ia menyuarakan hal tadi. Menimbulkan kekehan geli di bibir harabeoji dengan satu cucu itu.
"Arraseo, woori sonja…"
"Beojiiiiiiii! Adeul gak suka disebut bebek! Gak suka." Kang In yang ucapannya terpotong itu hanya bisa bingung melihat reaksi yang diberikan oleh cucunya itu.
"Waegeurae Sandeullie?" tanya Kang In pada akhirnya.
"Ada tupai jelek yang panggil Adeul gitu, beoji. Pokoknya Adeul gak suka…" rajuk pangeran kecil di rumah nan hangat itu.
"Tapi beoji suka, beoji jadi tak melupakan Teukie halmeoni…" pandangan Kang In kini menerawang pada pasangan sehidup sematinya itu. Pasangan yang takkan ia lupakan maupun digantikan kedudukannya oleh siapapun.
"Teukie meoni suka bebek?" pertanyaan yang sarat akan rasa penasaran itu setidaknya menarik kembali Kang In dari lamunannya.
"Anni, Teukie halmeoni tidak menyukai bebek, membencinya juga tidak sih… hanya, Teukie halmeoni suka sekali mengoleksi boneka bebek, dan ummamu pernah bilang halmeonimu itu mirip bebek. Setelah harabeoji pikir lagi, Teukie halmeoni memang sedikit… mirip."
Ya! Pasangan harabeoji-sonja di sana, segeralah turun sebelum keturunan rakun dan bebek itu mengamuk di bawah sana dan hentikan pembicaraan antar lelaki yang tak penting itu.
.
.
.
Kyuhyun yang saat ini sedang dalam perjalanan untuk menjemput putranya itu, memandang jalanan di depannya dengan tenang. Lain dengan hatinya. Hati Kyuhyun selalu bahagia ketika ia pergi menjemput anaknya itu. Entahlah… dia merasakan kebahagiaan tersendiri kala pergi menjemput anaknya. Kebahagiaan sebagai seorang appa. Itu yang ia rasakan kini.
Setelah sampai dan selesai memarkirkan mobilnya, Kyuhyun segera beranjak menuju salah satu kursi taman tepat di depan pintu kelas anaknya. Ia, hanya malas dan tak ingin menunggui di depan pintu kelas layaknya orang tua lainnya yang menjemput anaknya. Ibu-ibu cerewet itu mengerikan, percayalah.
"APPA!" tepat setelah bel pulang berdentang, Kyuhyun mendengar jeritan anaknya. Dan begitu ia perhatikan lebih baik, anaknya berjalan dengan langkah kaki menghentak kesal diiringi seseorang tepat di belakangnya.
"Wae Sandeullie?" tanya Kyuhyun begitu anaknya berdiri di hadapannya.
"Appa, Adeul mohon… jauhkan tangan tupai jelek iniiiiiiiiiii!" Sandeul yang menggeram dalam serta Kyuhyun yang segera berpikir apa maksud anaknya itu, tampak lucu. Dan setelah mengerti, itupun setelah melihat cengiran aneh anak yang datang bersama Sandeul itu, Kyuhyun segera menepis tangan kecil yang seenaknya menjamah eongdongi anaknya itu.
"Maaf ya bocah. Yang kau pegang itu, bukan milikmu." Ucap Kyuhyun yang segera saja menggendong Sandeul. "Ini…" ucap Kyuhyun sembari menepuk eongdongi Sandeul, "… adalah milik aku, ummanya dan ia sendiri. Orang luar sepertimu, tak bisa kurang ajar seperti tadi." Terang Kyuhyun diiringi glarenya.
"Aku bisa. Buktinya sudah kulakukan. Lagipula… siapa yang tahu kalau aku nanti menikahi bebek yang kau gendong itu, abeoji." mendengar ucapan anak kecil yang seperti itu tak pelak membuat Kyuhyun bergidik ngeri. Bocah di depannya itu bahkan lebih parah dari akal-akalan pertama Sandeul dulu saat mengetahui ia adalah appanya, dan lebih parah dari ia yang sedari kecil mencoba dewasa sebelum waktunya untuk bersanding dengan Sungmin dulu.
Sekejap setelah mendengar ucapan itu, Kyuhyun yang sudah bisa mengatur ekspresinya itu memandang bocah di depannya dengan sadis.
"Dengar Choi Baro… berhenti berharap terlalu tinggi. Sikapmu yang seperti itu, hanya akan membuatmu menderita kedepannya." Tak perlu melihat bocah tupai itu dan tak perlu mengetahui apakah bocah itu mengerti, Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya dengan Sandeul yang menyembunyikan wajahnya di tengkuk Kyuhyun.
Begitu sampai di mobil, mood si kecil masih saja belum membaik. Hal itu tentunya membuat Kyuhyun cemas.
"Hei, Cho Sandeul... dengar appa baik-baik nde? Apapun yang terjadi, masalah apapun yang Sandeullie lalui… ceritakan semuanya pada appa nde? Apapun itu… appa akan membantumu untuk menyelesaikannya. Dan appa akan selalu melindungimu. Kau mengerti? Karena, appa sangat menyayangi dirimu. Sandeullie adalah permata appa, dan appa takkan membiarkan siapapun membuatmu bersedih."
Sandeul kecil yang hanya bisa menangkap jika appanya akan selalu melindunginya itu dan memintanya selalu bercerita akan masalah pada appanya itu mengangguk dengan jelas. Ya… perasaan bahagia dan terlindungi itu begitu jelas terasa ketika ia berada dalam perlindungan appanya.
"Adeul sayang appa. Jeongmal jinjja saranghaeyo~." Ucap Sandeul yang kembali memeluk appanya itu.
"Nado, appa juga sangat menyayangimu." Senyuman tulus itu terkembang begitu saja ketika sang anak mengatakan perasaannya dan memeluknya dengan begitu hangat.
.
.
.
"Maaf appa membawamu kesini, nde?" ucap Kyuhyun yang sedang memandang mata foxy anaknya itu.
"Gwaenchanna, Adeul juga senang disini. Habis kalau di rumah 'kan sepi. Sudah, appa cepat ke tempat appa. Nanti pasien appa tambah sakit lho, kalau appa gak datang…"
Kyuhyun yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas. Niatnya untuk makan siang bersama anaknya sebelum ia mengantar Sandeul pada Sungmin pupus sudah. Ini semua karena panggilan darurat dari rumah sakit dan ia harus menangani salah satu pasiennya yang harus segera dioperasi. Terpaksa ia memutar balik mobilnya menuju rumah sakit dan menghubungi siapa saja yang bisa ia titipi anaknya. Hal ini tak lebih karena memang tak ada siapapun di rumah serta ia harus mengejar waktu untuk segera sampai di rumah sakit.
"Appa, telepon Yuno jussi." Saran Sandeul kala melihat tak ada satupun yang bisa dihubungi appanya.
Dan, disinilah Sandeul sekarang. Duduk di salah satu sofa di sebuah kamar inap. Mendudukkan dirinya dengan tenang sementara sang appa memberikan nasehat dengan cepat.
"Eung… appa! Sudah sana. Adeul aman bersama Jae jussi dan Changmin hyung." Usir Sandeul yang jengah juga mendengar appanya berbicara.
"Tenanglah Kyuhyun ssi, aku akan menjaga Sandeullie disini. Pergilah." Jaejoong yang merasa Kyuhyun memang harus pergi untuk mengerjakan urusannya itupun mengucapkan itu untuk menenangkan Kyuhyun.
"Arraseoyo. Aku titip anakku, Jaejoong ssi." Setelah pamit dan mengecup singkat kening Sandeul, Kyuhyunpun segera berlalu dari kamar itu.
"Apa appamu tak percaya kau bersamaku Sandeullie?" tanya Jaejoong tepat setelah Kyuhyun pergi.
"Molla jussi. Eung Jae jussi… Changmin hyungie, waeyo?" tanya Sandeul saat melihat Changmin yang terbaring di rumah sakit.
"Hhh… anak itu kebanyakan makan, dan itu tak baik untuk perutnya." Terang Jaejoong.
"Eih? Jadi gak boleh makan yang banyak?" tanya Sandeul dengan mata foxynya yang membulat serta mengerjap khawatir.
"Makan itu, tak boleh banyak. Juga tak boleh sedikit Sandeullie. Kalau kebanyakan perutmu bisa sakit, dan kalau kekurangan juga bisa sakit. Jja, keponakanku yang satu ini belum makan siang 'kan? Ini, kebetulan jussi membuat banyak makanan. Makan lah, sembari menunggu ummamu menjemput." Jaejoong yang sudah menyiapkan makanan untuk Sandeul itu kini duduk memperhatikan Sandeul yang makan dengan lahap.
Bagi Jaejoong, Sandeul adalah keajaiban Sungmin yang tak bisa ia miliki. Ia juga ingin seperti Sungmin yang bisa mengandung anaknya sendiri, suatu hal yang mustahil untuknya. Jadi, saat Yunho mengatakan Kyuhyun akan membawa anaknya ke rumah sakit dan memintanya untuk menjaga Sandeul, terang saja ia senang, setidaknya ada yang menemaninya saat menjaga Changmin yang tertidur.
Bukan, bukan ia lebih menyayangi Sandeul dibandingkan Changmin. Justru saat ini Changmin adalah segalanya baginya. Walau ia tak memiliki keajaiban seperti Sungmin, namun ia memiliki Changmin sebagai keajaibannya sendiri. Memiliki Changmin yang berusia tiga tahun saat lima tahun yang lalu ia dan Yunho mengangkat anak pada Changmin, adalah keajaiban lainnya yang ia nikmati. Changmin, anaknya. Dan Sandeul adalah keponakannya. Tak ada yang berubah. Ia menyayangi keduanya.
.
.
.
Hari minggu pagi itu, apartment tempat Kyuhyun dan Hyukjae tinggal dipenuhi dengan kurir yang akan mengangkut barang-barang mereka. Begitu Kyuhyun mengatakan akan pindah ke rumah Sungmin, Hyukjae pun segera menghubungi Donghae untuk pindah ke rumah Donghae.
"Apa? Sebentar lagi aku akan menikah dengan Donghae. Apa salahnya mempercepat kepindahanku ke rumahnya?" sengit Hyukjae sore itu saat ia selesai menelepon Donghae.
"Anniya. Tak apa. Lagipula kau juga sering tak berada disini. Sibuk bercinta dengan ikanmu itu." ucapan datar Kyuhyun itu sukses membuat wajah Hyukjae merona parah.
"Setidaknya, aku selalu mendampingimu. Sepupu kurang ajar! Kalau tak ada aku yang merawatmu, jadi apa kau tanpa aku hah?" teriak Hyukjae sembari melempar kepala Kyuhyun dengan boneka monyet yang sedari tadi ia peluk.
"Ah… benar. Kau memang saudaraku yang terbaik hyung. Gomawo, untuk tak membiarkanku hancur begitu saja dulu." Jawab Kyuhyun sembari memulaskan sebuah senyum tulus yang jarang sekali Hyukjae lihat.
"Arraseo… lagipula hanya aku saudaramu yang kau miliki di dunia ini, begitupun aku. Mana bisa aku membiarkanmu jatuh dan terluka. Jadi, jika suatu saat hal itu terjadi padaku. Jangan ragu untuk menyelamatkanku juga. Arraseo?" delik Hyukjae pada Kyuhyun yang tersenyum mengerikan, menurutnya.
"Kkkk~, kupastikan kau takkan mengalaminya. Kau dan Donghae saling mencintai dan kalian tak ragu mengatakan apapun pada pasangan masing-masing. Aku yakin kalian akan sukses." Ucap Kyuhyun yang melenggang pergi ke kamarnya.
"Kaupun juga begitu Kyu, kalian sekarang pun akan sukses. Aku selalu mendoakan kalian untuk bersatu selamanya." Gumaman lirih Hyukjae itu tentu saja hanya didengar oleh sang pencipta yang setia mendengar.
"Appa!" Sandeul yang berlari masuk ke kamar Kyuhyun itupun mengejutkan Kyuhyun akan lamunannya.
"Hei, kau ini benar-benar duplikat ummamu waktu kecil hum? Berisik sekali…" goda Kyuhyun, yang menghasilkan kerutan lucu di bibir Sandeul. "Ada apa hm?" tanya Kyuhyun kemudian.
"Adeul lapar. Dan Donghae samchon mengajak kita makan siang bersama. Tapi appa malah disini. Kajja appa, kita pergi makan~." Ajak Sandeul yang menarik tangan Kyuhyun keluar dari kamarnya.
Sandeul masih saja menarik tangan Kyuhyun yang memandangi setiap detail apartmentnya utuk terakhir kali.
Ya, dia telah memutuskan untuk menjual tempat ia bernaung selama ini. Tempat yang penuh kenangan menyedihkan. Tempat yang takkan ia datangi lagi. Karena kini ia akan memulai kehidupan baru dengan Sungmin dan keluarga kecilnya. Hyukjae pun begitu, iapun akan segera memulai lembar baru kehidupannya dengan Donghae. Jadi, tempat ini takkan mereka singgahi kembali.
"Kalian lama sekali…" Sungmin yang kembali masuk ke apartment Kyuhyun itu hanya bisa menggerutu kesal melihat Kyuhyun dan Sandeul yang tak juga keluar dari kamar Kyuhyun itu.
"Aigoo, kau sudah memiliki seorang anak dan masih saja memanyunkan bibirmu seperti itu. Kau pikir berapa usiamu sekarang yeobo~." Kyuhyun hanya terkekeh geli melihat rona merah di pipi Sungmin yang semakin parah kala mendengar ucapannya itu.
"Wae? Wae? Memangnya tak boleh?" gerutu Sungmin lagi.
"Boleh saja. Dan kau akan mendapat ini sebagai hadiahnya…" Kyuhyun dengan cepat menarik muka Sungmin dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya yang sedari Sungmin masuk itu menggendong Sandeul dengan kokohnya. Secepat Kyuhyun menarik Sungmin, secepat itu pula bibir keduanya bertaut. Kecupan-kecupan kecil itu kian lama berubah menjadi lumatan dalam yang memabukkan keduanya.
Sungmin yang sempat terperanjat akan ulah Kyuhyun, malah menikmati lumatan hangat itu. Menyelami kemanisan alami bibir pasangan masing. Merasakan kontur bibir yang saling melengkapi. Dan mengantarkan betapa mereka merasakan keberuntungan yang tiada tara karena mereka saling memiliki, dan mereka pastikan… mereka takkan berpisah lagi.
Perlahan, kedua bibir yang telah berhenti untuk saling mengecap itu berpisah. Menyisakan jalinan tipis nan bening, terputus begitu saja.
"Appa, umma. Adeul juga mau poppo!" teriak Sandeul yang berhasil memutuskan tatapan kedua orang tuanya.
"Geurae, kau juga dapat." Jawab Kyuhyun yang langsung mengecup bibir anaknya yang mirip sekali dengan Sungmin.
"Dari umma juga." Begitu Kyuhyun berhenti mengecup Sandeul, Sungmin langsung saja mengecup bibir tipis anaknya itu.
"Ishh! Bibir Adeul basah!" gerutu Sandeul begitu kedua orang tuanya berhenti mengecupinya. Ya, Cho Sandeul… jangan meminta kecupan lagi setelah kedua orang tuamu saling melumat. Jangan. Jangan lagi.
"Baiklah, ayo segera turun. Eunhyuk hyung sudah menunggu di bawah." Ucap Kyuhyun sembari mengacungkan gadget nya yang terpampang pesan Hyukjae.
Setelah memastikan sekali lagi bahwa apartment mereka kosong, merekam sekali lagi untuk yang terakhir kalinya tempat yang menjadi saksi bagaimana pasangan itu merajut cintanya di tempat itu. Kyuhyun dengan keluarga kecilnya itu keluar dari apartment yang akan segera beralih nama itu. Meninggalkan tempat itu untuk tempat yang lebih hangat. Tempat dimana ada ia dan keluarga kecilnya.
.
.
.
"Kyu…" panggil Sungmin yang kini menyamankan dirinya di dalam pelukan Kyuhyun.
"Hmm?" respon Kyuhyun sembari mengecup helaian harum rambut Sungmin.
"Tak pernah sekalipun aku memimpikan akan ada dipelukkanmu seperti malam ini. Memandangi wajahmu sebelum menjemput mimpi. Dan merasa nyaman di dalam pelukanmu." Ujar Sungmin sembari mengeratkan rengkuhannya di pinggang Kyuhyun, dan menghirup wangi maskulin Kyuhyun.
"Maafkan aku…" Kyuhyun yang tercekat mendengar ucapan Sungmin itu, menghela nafasnya pelan. "Aku akan menebus semua kesalahanku. Jadi kumohon, jangan mengatakan hal-hal seperti tadi. Karena… mulai sekarang kau akan mendapatkan semua yang tak pernah kau dapatkan dariku. Aku akan membahagiakan keluarga kita, aku takkan berjanji… tapi aku akan berusaha untuk memastikannya." Raut wajah Kyuhyun benar-benar terlihat sendu. Tangan pucat Kyuhyun itu meraih tangan Sungmin yang melingkar erat di pinggangnya untuk mengecup punggung tangan Sungmin.
"Aku mengatakan ini… tidak untuk membuatmu merasa bersalah Kyu. Aku, hanya merasa bahagia bisa seperti ini denganmu. Aku senang bisa kembali ke dalam pelukanmu. Aku lega karena kau kembali menjadi Kyuhyunku yang ku kenal. Dan aku berterima kasih padamu Kyu… cintamu, padaku dan juga anak kita. Sempat ada rasa takut saat kau tahu Sandeul adalah anakmu. Aku takut kau membenci anak kita… aku takut kau tak menerimanya. Tapi, melihat bagaimana kau mencintai kami sekarang, aku sungguh bahagia. Jeongmal jinjja haengbokhae." Sungmin sedikit beranjak dari posisi berbaringnya untuk mengecup sayang bibir Kyuhyun.
"Aku lebih bahagia lagi, Ming. Kau adalah malaikat terindah yang kumiliki. Dan Cho Sandeul adalah malaikat kecil yang menyempurnakan hariku. Saranghae. Jeongmal saranghae. Nae sarang." Balas Kyuhyun lagi.
"Kkkk~." Kekehan kecil itu mengalun begitu saja dari bibir Sungmin kala Kyuhyun mengecupi kedua pipinya, beralih ke keningnya dan bermuara di bibir yang sedari tadi melantunkan lagu surgawi untuk Kyuhyun. "Kyu… kira-kira jenis kelamin anak kedua kita apa ya? Besok temani aku bertemu Qiannie, nde? Aku ingin tahu, ia sehat atau tidak…" ucapan Sungmin itu mengalun bagaikan melodi indah dengan halusnya. Mengabaikan bagaimana efeknya terhadap Kyuhyun yang kini menganga dengan detak jantung yang menggila.
"Ya tuhan… Cho Sungmin!" dan setelah bisa mengerti maksud Sungmin, Kyuhyun berteriak dengan riangnya. Kembali mengecupi pipi Sungmin dan beralih ke perut Sungmin. Memandang sayang belahan jiwanya yang kembali menghadirkan malaikat kecil ke kehidupan mereka.
.
.
.
.
.
.
END apa TBC yaa?
TBC aja deh~ masih ada satu chapter yang mau My ceritain lagi. Ehehehe~
Mian mian~ lama banget updatenya~ sampai ditegur~ kkkk~
Eotte? Chapter kali ini, eotte?
Kkkk~
Jja, annyeonghigaseyo.
Yeorobun, haengbokhae juseyo~
.
.
