...

..

.

Bahagia itu sederhana.

Kau pun sangat mengetahui itu

.

.

.

REALLY?

KyuMin Fanfiction.

Romance, Hurt/Comforts.

Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.

Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.

Just enJOY.

.

.

.

.

.

.

^Normal POV^

.

.

.

"Aku pulang!" ucap Kyuhyun begitu ia memasuki rumahnya, biasanya ia akan disambut dengan senyuman manis kedua buah hatinya dan belahan jiwanya, namun kali ini tidak.

Merasa bingung dan membutuhkan jawaban, Kyuhyun segera saja mencari sang pujaan hati dan tujuan utamanya adalah kamar mereka. Dan betul saja, Sungmin memang ada di kamar mereka, namun sesuatu terasa lain. Kamar mereka terasa suram serta Kyuhyun dapat mendengar isakan pelan dari kekasih hatinya itu.

"Sungmin ah?" panggil Kyuhyun pelan namun membuat Sungmin sedikit terperanjat. "Kau menangis?" Tanya Kyuhyun yang kini berlutut di hadapan Sungmin yang sedang terduduk di pinggiran ranjang mereka. "Apa yang terjadi hm?" Tanya Kyuhyun lagi.

"Kyu…" lirih Sungmin dan segera saja menghambur ke dalam pelukan Kyuhyun. "Kyu…" lagi, panggilan lirih itu berulang.

"Um, aku di sini sayang. Mau menceritakan padaku apa yang terjadi?" jawab Kyuhyun sembari mempererat pelukannya pada Sungmin, dan setelah mendapati anggukan dari kekasih hatinya, Kyuhyun membawa tubuh Sungmin untuk duduk bersisian dengannya di atas karpet tebal yang kini ia duduki.

"Kyu… mungkin kau salah. Mungkin aku tidak seistimewa yang selama ini sering kau ucapkan. Mungkin… aku memalukan dan membuatmu malu…" mulai Sungmin dan segera saja membuat Kyuhyun sedikit geram.

"Ada apa ini? Kau mulai meragukan dirimu lagi?" Tanya Kyuhyun.

"Benar… aku meragukan diriku lagi. Kau tahu… saat orang-orang memandang aneh padaku, kepalaku akan tetap tegak menantang mereka. Kau tahu kenapa? Karena kau, appa, sahabat-sahabat kita dan putra kita selalu berada di sampingku untuk menguatkanku. Tapi Kyu…" Sungmin menjeda sebentar ucapannya, hatinya benar-benar sesak saat ini. "Tapi jika putri kita sendiri, putri yang kulahirkan yang meragukanku dan memandang aneh padaku… aku bisa apa? Kau tak melihatnya Kyu, kau tak melihat bagaimana pandangan matanya… dia… dia bahkan memaki…" adu Sungmin lagi.

Bukan… bukan Sungmin yang pengadu, namun hatinya sudah tak kuat. Setahun belakangan ini sang putri yang beranjak besar mulai memandang aneh dirinya, mulai berkata kasar dan mengumpatnya. Sekuat apapun Sungmin, jika peri kecilnya yang melakukan hal itu terhadapanya, ia akan terluka juga. Dan selama ini luka itu sudah terlalu menyakiti dirinya untuk ia tanggung sendiri.

Sejenak… sebelum Kyuhyun ingin menjawab pertanyaan Sungmin, Kyuhyun sempat melihat kedua buah hatinya memandang ke dalam kamar mereka. Dan Kyuhyun juga dapat melihat bagaimana Yojung berlari diikuti oleh Sandeul setelah memandang sekilas dirinya. Untuk urusan putrinya itu akan Kyuhyun percayakan pada Sandeul, putranya itu memang selalu bisa Kyuhyun andalkan.

"Lalu… kau ingin aku menghukum Yojungie?" Tanya Kyuhyun kemudian.

"Anniya! Aku mengatakan ini padamu bukannya ingin memintamu untuk menghukum anakku." Berang Sungmin.

"Tenang sayang. Kau sendiri yang mengatakan jika dia anakmu, Yojungi uri ddalmasa kau masih belum mengerti sifatnya? Hatinya terlalu lembut untuk memaki dan membenci, sayang. Aku yakin ia mendapat pengaruh buruk dari luar. Perlahan, perlahan akan kita jelaskan padanya jika apa yang dipikirkannya terhadapmu adalah salah. Mengerti?" Tanya Kyuhyun sembari mengelus pelan pipi yang lembab akan air mata itu.

"Ung." Dan Sungmin hanya bisa mengangguk, menyerahkan segalanya pada kekasihnya.

.

.

.

"Apa yang kau pikirkan?" Sandeul yang berhasil mengejar adiknya itu kini terduduk di samping adiknya.

"Apa benar yang ia katakan, oppa?" Tanya gadis kecil itu saat melihat kakaknya yang berhasil menyusulnya.

"Kau ini, otakmu bergeser atau bagaimana? Ia? Orang yang kau sebut dengan begitu ketusnya adalah uri umma. Orang yang telah berjasa membawa kita ke dunia ini." Ucap Sandeul.

"Kau berbohong. Seorang laki-laki mana mungkin bisa melahirkan oppa! " Tuduh Yojung lagi.

"Hah… kenapa semua Cho harus keras kepala sih." Gerutu Sandeul lagi. "Mau mendengar ceritaku dan takkan menyela ataupun menuduh sembarangan sebelum aku selesai bercerita?" Sandeul kini memandangi adiknya itu dan melihat adiknya menimbang sebentar tawarannya sebelum mengangguk mengiyakan.

Sandeul pun memulai ceritanya… bagaimana tujuh belas tahun lalu ia terlahir ke dunia dari rahim rapuh Sungmin yang sedang berjuang melawan penyakitnya, meskipun Sungmin adalah seorang pria sekalipun. Bahkan setelah lahir ke dunia, yang Sandeul kenal hanyalah Sungmin dan baru setelah beberapa tahun kemudian ia mulai mengenal Yunho ahjussi, Jaejoong ahjussi serta Changmin hyungnya. Lalu bertambah dengan kakeknya yang itupun dengan tak sengaja ia temui. Bagaimana perjuangannya atau mungkin bisa disebut aksi konyolnya untuk bertemu dan bersama sang appa. Dan kemudian, usahanya untuk menyatukan kedua orang tua mereka. Kedua orang tua mereka yang menyimpan rasa sakit karena berpisah padahal mereka saling mencintai.

"Kau seharusnya bahagia Yojungie… kau terlahir dengan kasih sayang yang melimpah ruah. Semua orang menantikan kelahiranmu, bahkan saat kau terlahir kau sudah memiliki seorang kakak yang selalu bersedia untuk membahagiakanmu. Tapi apa tadi yang kudengar? Kau meragukan uri umma sebagai orang yang telah melahirkanmu? Meski aku masih kecil saat kau terlahir, aku tahu pasti saat itu uri umma berjuang untuk melahirkanmu. Dan jika kau masih tak percaya juga, kita bisa bertanya pada Yunho ahjussi yang membelah perut umma untuk mengeluarkanmu, serta Qian ahjumma yang membawamu keluar dari selubung hangat umma untuk menghirup udara dunia ini." Setelahnya, keduanya terdiam lama.

"Oppa tidak membohongiku 'kan? Oppa jujur 'kan?"

Dan melihat adiknya yang masih meragukan kebenaran itu, membuat Sandeul merapatkan giginya menahan geraman kesalnya, lalu setelahnya Sandeul mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Dan sebelum panggilan itu terangkat, Sandeul telah me-loudspeaker panggilan itu.

"Yoboseyo ahjussi… apa aku menganggu?" Tanya Sandeul sejurus kemudian.

"Anniya Sandeulie… kebetulan ahjussi sudah selesai operasi lima belas menit yang lalu. Ada apa?" Tanya Yunho di seberang sana yang sedang duduk santai di kursi kerjanya.

"Ahjussi, ada bocah keras kepala dan bodoh yang saat ini sedang meragukan dari mana ia berasal. Dan sebagai orang yang melakukan operasi terhadap uri umma, aku hanya ingin kau menjelaskan padanya."

"Aigoo, kau ini jangan keras seperti itu pada adikmu, dia masih sepuluh tahun…" balas Yunho yang langsung saja mengerti permasalahannya.

"Meski ia masih sepuluh tahun, dia adalah anak seorang Cho Kyuhyun. Ahjussi pasti mengerti maksudku."

"Arra… Yojungie…" panggil Yunho.

"Ye ahjussi…" sahut Yojung.

"Apa yang telah kau lakukan nak? Kau meragukan ummamu sendiri? Percayalah, apapun yang dikatakan oppamu itu semua adalah benar. Ahjussi sendiri yang berhasil melakukan proses persalinan terhadap ummamu dan membuat kau terlahir ke dunia ini nak."

"Ahjussi tidak berbohong?" Tanya Yojung lagi.

"Untuk apa ahjussi berbohong? Lagipula, kau bisa meminta appamu untuk memutarkan video proses kelahiranmu. Kau bisa melihat sendiri, dari mana dan bagaimana kau bisa tumbuh menjadi gadis kecil kesayangan keluargamu." Terang Yunho lagi dengan nada yang menenangkan.

"Kau dengar itu?" Tanya Sandeul sesaat setelah ia memutuskan sambungan setelah mengucapkan terima kasih pada Yunho. "Masih mau menyangkal?" tuntut Sandeul lagi saat tak mendapatkan jawaban dari adiknya itu.

"Oppa…" lirih Yojung, dan betapa terkejutnya Sandeul saat melihat adiknya menangis. "Aku bersalah… aku sudah membuat umma bersedih… aku, aku anak yang jahat ya oppa?" Tanya Yojung disela-sela tangisnya.

"Ne, kau anak nakal. Membuat semuanya susah dan bersedih. Kau tak berpikir bagaimana sakitnya umma saat kau katakan penipu? Bocah bodoh." Ketus Sandeul lalu ditanggapi tangisan yang keras dari Yojung.

Sandeul ah… kau benar-benar Cho sejati yang sanggup membelah hati orang hanya dengan kata-katamu.

"Ya! Mau kemana?" teriak Sandeul saat adiknya berlari menjauh.

"Mau bertemu umma, mau meminta maaf pada umma." Balas Yojung dengan teriakan pula.

"Diam di tempatmu sekarang juga!" teriak Sandeul lagi yang segera saja membuat Yojung terdiam dan menatap takut sang kakak. "Jangan sembarangan berlari." Nasihat Sandeul saat ia sudah sampai di hadapan adiknya untuk kemudian menggenggam tangan adiknya. "Kajja, kita pulang dan bertemu umma." Ucapnya kemudian saat ia yakin adiknya sudah aman dalam perlindungannya.

.

.

.

Saat mereka pulang dan mendapati Sungmin sedang berkutat di dapur, Yojung segera saja berlari dan mendekap erat tubuh Sungmin.

"Eoh? Yojungie?" Tanya Sungmin saat melihat anaknya memeluknya, pelukan yang selama setahun ini tak pernah ia rasakan dari anaknya itu. "Kenapa menangis nak? Siapa yang nakal? Beritahu umma…" lirih Sungmin.

"Ukh… umma… umma… umma… umma…" hanya gumaman itu yang terus saja meluncur dari bibir Yojung, ia merindukan memanggil sebutan untuk sosok yang saat ini sedang dipeluknya.

"Umma di sini nak." Jawab Sungmin sembari mengelus kepala anaknya.

"Ummaumma ini manusia atau malaikat?" Tanya Yojung yang sontak saja membuat semuanya kebingungan.

"Eh? Umma ya manusia nak…" jawab Sungmin sejurus kemudian.

"Kalau begitu umma manusia berhati malaikat…" ujar Yojung lagi.

"Aigoo… ada apa hm?" Tanya Sungmin yang kini turut menghapus air mata perinya.

"Padahal… padahal Yojungie sudah nakal… Yojungie tadi berkata kasar… Yojungie membuat umma bersedih… tapi umma masih saja baik pada Yojungie… umma tadi bertanya siapa yang nakal… Yojungie yang nakal umma, Yojungie sudah membuat umma menangis. Maafkan Yojungie, umma?" gadis kecil itu kini meringkuk ke dalam pelukan hangat Sungmin, pelukan yang dirindukannya.

"Satu hal yang harus Yojungie ketahui, umma mana mungkin bisa membenci Yojungie. Kau tahu kenapa hm? Karena Yojungie adalah anak umma, putri yang sangat umma sayangi. Sampai kapanpun, umma akan terus mencintai Yojungie dan Sandeul oppa karena kalian adalah anak-anak umma." Bisik Sungmin lirih di telinga Yojung.

"Umma, maafkan Yojungie nde?" tuntut Yojung yang belum mendapatkan maafnya.

"Ung, umma maafkan." Jawab Sungmin sebelum mengecup kening sang peri kecil.

"Umma, umma… tadi bertanya siapa yang nakal 'kan? Oppa! Oppa yang nakal! Dia tadi bilang kalau Yojungie itu anak nakal, bocah bodoh. Dan tadi oppa juga berteriak pada Yojungie, oppa membuat Yojungie takut." Dan kembali sudah, peri kecil perajuk di keluarga Cho. Peri kecil yang selalu bermanja pada sang eomma.

"Bermanja saja terus dengan umma, adukan saja oppa~ Oppa akan berlindung pada appa~ Appa akan melindungi oppa~" Ejek Sandeul yang segera saja membuat adiknya merengut kesal.

"Kau ini." Sungmin dan Kyuhyun hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat putra mereka yang senang mengusili adiknya itu.

"Sandeul ah, kau adalah kakak dan kau sudah tujuh belas tahun nak." Mulai Sungmin yang ingin menasihati sang putra.

"Arraseoyo umma. Aku sudah tahu apa tugasku. Menjadi pelindung keluarga kita bersama dengan appa dan harabeoji. Arraseoyo ummaku yang paling cantik." Rayu Sandeul sembari mengecup pipi Sungmin dan berlalu menuju kamarnya untuk mengganti seragamnya, karena saat kejadian tadi berlangsung ia memang baru saja pulang sekolah.

"Jja, Yojungie juga… ganti baju dan bersihkan muka serta cuci tangan dan kaki. Sebentar lagi masakan umma selesai lalu kita makan malam." Kyuhyun menghela pelan Yojung yang masih saja bermanja pada Sungmin untuk segera ke kamarnya.

"Ne appa." Ujar Yojung sebelum kembali ke kamarnya.

Melihat anaknya yang sudah masuk ke kamar, Kyuhyun segera menghampiri Sungmin dan memeluk erat belahan jiwanya itu.

"Sudah sayang, jangan memasang wajah murung lagi." Kyuhyun kini mengecupi pipi mulus Sungmin.

"Bagaimana ia bisa berubah secepat itu?" Tanya Sungmin yang masih sedikit bingung.

"Kau tidak dengar tadi? Kurasa Sandeulie memarahinya, tapi walaupun dibilang memarahi aku yakin dia memberikan pengertian pada putri bungsu kita." Ujar Kyuhyun lagi.

"Eh?" tuntut Sungmin bingung.

"Tadi saat kau menangis di kamar, keduanya melihat dan mendengar ucapanmu. Dan kurasa mungkin memang benar, Yojungie mendengar hal-hal aneh di luar lalu mulai meragukanmu. Dan setelah melihat kau menangis, mungkin ia sedikit tersadar serta ditambah sedikit teguran dari Sandeulie. Ah aku memang selalu bisa mengandalkan putraku." Terang Kyuhyun.

"Kau tahu kalau Sandeul akan memarahi Yojungie?" Tanya Sungmin.

"Hanya menebak. Yojungie sangat keras kepala, sepertiku. Dan Yojungie selalu berpikir terlalu jauh, sepertimu. Sedikit teguran keras memang dibutuhkan untuk menyadarkannya sayang. Tapi sekeras apapun, aku yakin… mereka berdua adalah saudara yang saling menyayangi."

"Gomawo yeobo…" lirih Sungmin dan memeluk Kyuhyun lebih erat.

"Untuk?" Tanya Kyuhyun.

"Semuanya. Yang paling besar adalah terima kasih sudah menjadi tempat bersandar dan perlindungan terbaik untukku. Gomawo…"

"Arra… kau 'kan ibu dari kedua anak kita yang kusayangi. Tapi… saat ini pelukanmu membuatku sesak, sayang." Keluh Kyuhyun, membuyarkan suasana romantis mereka.

"Kau ini." Jengah Sungmin.

"Arra… aku 'kan lapar sayang, jadi tidak punya tenaga untuk kau dekap seerat itu." Dan ucapan itu hanya ditanggapi putaran mata jengah oleh Sungmin.

.

.

.

Badai-badai kecil mungkin memang menerjang mereka. Tapi, apapun yang orang luar katakan… fakta jika Sungmin adalah ibu dari kedua buah hatinya itu takkan pernah terbantahkan. Bahkan sampai tulang belulang Sungmin hancur di liang lahat sekalipun, fakta itu takkan berubah. Biarlah… biarlah badai itu menerjang. Karena Sungmin maupun Kyuhyun akan membentuk benteng kuat untuk melindungi keluarganya, dibantu dengan putra sulung mereka yang beranjak dewasa mereka akan selalu membahagiakan keluarga mereka.

.

.

.

End of Sequel

.

.

.

Aloha~ aku datang lagi! Memang berencana 'Really' akan dibuat sekuelnya, tapi apa daya… butuh setahun untuk memulainya. Dan hanya butuh beberapa jam untuk menyelesaikannya. Apalah daya hati ini… setahun masa pengobatan untuk menulis cerita tentang pair ini… #digatakgegaralebay

Tapi apapun itu… enJOY aja!

Nah, otte?

..

.

-Saturday, October 03, 2015.

-Countdown to the enlistment of D&E.