Mengapa seorang Ayah tak bisa mengatakan pada anaknya betapa ia mencintainya? Dia tak bisa menahan malunya dengan mengatakan 'Aku menyayangimu, nak.'
Dan Ibu? Dia akan selalu mengatakannya, tak peduli anaknya mendengarkan atau tidak.
Tapi itu bukan berarti seorang Ayah tidak mencintai anaknya.
Tidak akan ada yang mengerti bagaimana cinta seorang Ibu pada anaknya, bahkan Ibu itu sendiri. Karena tak ada batasan bagi kasih sayang seorang Ibu. Dimana semua itu hanya bisa dirasakan… oleh perasaan seorang Ibu.
-Yash and Nandini Raichand-
.
.
.
REALLY?
KyuMin Fanfiction.
Romance, Hurt/Comforts.
Boys Love, MPREG, AU? Kemungkinan OOC.
Kyuhyun dan Sungmin adalah milik SparKyu dan Pumpkins.
Just enJOY.
.
.
.
.
.
.
^Normal POV^
.
.
.
"Appa! Sudah berapa kali kukatakan padamu aku tak ingin menjadi dokter." Ketegangan itu sudah menguar di pagi hari keluarga Cho.
"Jangan meninggikan suaramu padaku, Sandeul ah." Balas Kyuhyun menatap tajam mata Sandeul yang berbalik menantangnya. "Apa salahnya kau mengikuti keinginan appa?"
"Maaf appa, memang tidak ada salahnya jika aku mengikuti keinginanmu, tapi hatiku akan tersiksa jika aku menjadi seorang dokter." Balas Sandeul.
"Tersiksa bagaimana? Kau tidak mengerti, nak. Kau bisa mendapatkan segalanya dengan kau menjadi dokter." Terang Kyuhyun.
"Jadi appa menjadi seorang dokter untuk niat seperti itu? Bukan karena ingin menyelamatkan pasien? Maaf appa, aku tak menyukai kegiatan sepicik itu."
"Cho Sandeul!" teriak Kyuhyun geram sebelum melayangkan sebuah tamparan pada Sandeul.
Sebuah tamparan yang seharusnya tak terjadi, sebuah tamparan yang membuat hubungan kedua ayah dan anak itu merenggang.
"Ah… aku jadi mengerti kenapa umma dulu pergi meninggalkanmu." Mata Sandeul memandang sengit Kyuhyun sebelum menarik tasnya dan pergi dari ruang makan untuk beranjak ke sekolahnya.
Sandeul, sebentar lagi ia akan lulus sekolah menengah atas. Usianya sudah sembilan belas tahun dan beberapa bulan lagi seharusnya ia sudah berada di jenjang universitasnya. Namun… Sandeul memiliki keinginan untuk berkuliah di Italia dan mengambil jurusan yang bersangkutan dengan memasak. Sandeul menyukai memasak, dan Sandeul bercita-cita suatu hari nanti ia akan membuka sebuah restoran nyaman dengan cita rasa tinggi. Namun Kyuhyun, appanya menginginkan Sandeul menjadi seorang dokter, sama sepertinya. Dan Sandeul tak pernah menyukai profesi itu karena ia akan merasa terikat dengan semua jadwal praktiknya nanti. Dan Sandeul benci merasa terikat. Lalu ditambah perkataan sang appa, dan niatan yang dilontarkan sang appa ketika ia menjadi dokter nanti membuat Sandeul muak akan hal itu.
"Kajja, Yojungie." Panggil Kang In sesaat setelah melihat Yojung kecilnya yang kini berusia dua belas tahun sudah menyelesaikan sarapannya. Sang kakek gagah ini selalu mengantarkan cucunya ini ke sekolah sebelum ia berangkat ke kantornya.
"Appa, umma… Yojungie berangkat sekolah dulu." Pamit si gadis cilik sebelum melangkah mengekor kakeknya.
"Kyu?" Sungmin menggenggam lembut bahu Kyuhyun yang masih menegang itu. "Seharusnya kau tidak melakukan itu." Ucap Sungmin.
"Aku tahu, seharusnya aku tidak menamparnya." Balas Kyuhyun lirih, dan Sungmin di belakangnya menggeleng pelan sebelum beranjak duduk di samping Kyuhyun.
"Bukan itu… seharusnya kau tidak memaksakan kehendakmu pada Sandeulie." Kyuhyun ingin membantah sebelum Sungmin kembali melanjutkan. "Apa kau merasa malu dengan cita-cita Sandeulie? Cita-citanya terdengar tulus dan mulia bagiku. Menyajikan makanan hangat dan lezat pada pelanggannya…"
"Lalu kau pikir pekerjaanku tidak tulus begitu?" Kyuhyun menaikkan suaranya mendengar ucapan Sungmin.
"Bedasarkan apa yang kau ucapkan tadi pada anak kita, ya, kau tidak tulus Kyu. Tapi aku tahu… bukan itu maksudmu. Tapi… apakah kau tidak bisa membiarkan Sandeul meraih cita-citanya?"
Kyuhyun meradang, tanpa berpamitan bahkan Kyuhyun pergi melenggang dari rumahnya. Meninggalkan Sungmin yang meneteskan air matanya
"Apa yang akan terjadi pada keluargaku?" gumamnya lirih.
...
...
...
Semenjak itu hingga sekarang sudah sebulan lamanya Sandeul tak kembali ke rumah. Ia membenci keberadaan appanya yang berada di rumah kala ia pulang malam harinya di hari mereka bertengkar.
"Kau masih tetap dengan keinginanmu? Dan mengabaikan keinginanku?" tuntut Kyuhyun saat Sandeul baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu.
Sandeul memilih tak menjawab dan berlalu masuk ke kamarnya. Mengunci kamarnya lalu meraih sebuah tas besar dan juga pakaian-pakaiannya.
Begitu Sandeul keluar dari kamarnya, Kyuhyun berdiri menungguinya di depan pintu kamarnya.
"Kau tetap ingin mengambil pekerjaan banci itu?!" raung Kyuhyun.
"Kenapa sekarang berada di ruangan yang sama denganmu terasa memuakkan?" dan Sandeul pun berlalu dari rumah itu untuk kemudian mengendarai motor pembeliannya dengan uangnya sendiri pergi meninggalkan rumahnya itu.
Malam itu… Sungmin tak kunjung berhenti menangis saat tahu Sandeul pergi meninggalkan rumah. Begitu pula dengan Yojung yang sedih karena kakak tersayangnya pergi.
Sungmin sibuk menghubungi ponsel Sandeul. Lalu diikuti dengan ponsel Changmin serta Maru, dua hyung kesayangan Sandeul. Tak satupun di antara mereka yang mengatakan jika mereka bersama Sandeul malam itu.
Sandeul akhirnya muncul di depan sebuah pintu apartemen mewah. Membuat yang membukakan pintu tercengang karenanya.
"Cho Sandeul?" Tanya pemuda itu.
"Ya ini aku Choi Baro." Ucap Sandeul dan beranjak masuk ke dalam apartemen Baro.
Pada akhirnya, Sandeul menceritakan apa yang terjadi pada Baro. Baro hanya bisa mendengarkan dan sesekali menenangkan emosi Sandeul. Baro tak berkata apa-apa saat pemuda yang sampai saat ini masih dicintainya itu ia bawa masuk ke dalam salah satu kamar tamu.
Dan semenjak itu Sandeul tinggal bersama Baro.
...
...
...
Sandeul yang kini sibuk di perpustakaan untuk mempersiapkan ujian kelulusannya itu tercengang melihat sosok yang paling dicintainya itu datang.
Sosok eomma cantiknya dan adik mungilnya.
Sungmin tersenyum menatap Sandeul sebelum menarik anaknya itu untuk keluar dari perpustakaan dan duduk nyaman di taman.
"Kau lelah, nak?" Tanya Sungmin sembari mengusap pipi tirus Sandeul. "Sudah makan? Ini umma memasakkan makanan kesukaanmu."
Sungmin tak pernah bertanya padanya di mana ia tinggal selama ini, namun seminggu setelah ia pergi Sandeul sendiri yang mengatakan di mana ia tinggal pada sosok yang paling dicintainya ini.
"Oppa, Yojungi tahu oppa sibuk. Tapi apa tak bisa sesekali meneleponku? Aku rindu oppa!" rajuk Yojung dan mulai menggelayuti lengan Sandeul.
"Yojungi sayang, biarkan oppa makan dulu ya nak?"
Yojungpun menuruti perkataan eommanya dan beranjak bersama eommanya memperhatikan sang oppa makan dengan lahap.
"Masakkan umma selalu yang terbaik! Takkan ada yang bisa menandingi masakkan umma!" puji Sandeul dengan mulut penuh makanannya.
"Uri umma, jjang!" sambung Yojung menyetujui ucapan sang oppa.
...
...
...
Sungmin tentunya takkan membiarkan suasana ini berlarut-larut menyelubungi keluarganya kan? Lalu Sungmin datang pada Kyuhyun malam itu saat mereka beranjak untuk tidur.
"Tidakkah kau merindukan putra kita?" tanyanya sembari mendekap Kyuhyun dari samping. "Aku sangat merindukannya. Yojungie pun selalu merindukan oppanya. Appa juga selalu merindukan cucu tampannya itu." Lanjut Sungmin . "Apa… karena alasan pekerjaan itu pantasnya dipegang wanita saja makanya kau melarang Sandeul menjadi seorang juru masak?" Tanya Sungmin.
Kyuhyun menghela nafasnya gusar, "Bukan… bukan karena itu. Itu hanya kata-kata bodoh yang terlontar olehku. Aku… aku hanya menginginkan Sandeul mengikuti jejakku."
"Sayang… satu yang harus kau mengerti. Menjadi orang tua, bukan berarti semua yang harus dilakukan anak-anak kita harus kita dikte, bukan seperti itu. Namun menjadi orang tua, seharusnya kita mengarahkan anak-anak kita dan mengawasi pilihan yang mereka buat. Coba lihat aku, saat tahu pekerjaanku, appa tak pernah sekalipun menuntutku untuk melanjutkan perusahaannya. Appa hanya berkata, pekerjaanku yang sekarang akan lebih membahagiakanku, sama seperti pekerjaan appa yang membahagiakannya. Kau juga bahagia menjadi seorang dokter, namun belum tentu anak kita. Anak-anak kita memiliki keinginanya sendiri. Dan selama keinginan mereka itu baik, apa salahnya kita menopang mereka dari belakang untuk mencapai kesuksesan mereka?"
Lama Kyuhyun termenung meresapi perkataan Sungmin sebelum ia akhirnya menyadari kesalahannya. "Apa yang telah kulakukan…" gumam Kyuhyun penuh sesal.
"Aku tahu apa yang harus kau lakukan… pergi ke perpustakaan nasional besok jam lima sore dan temui putra kita yang selalu belajar dengan tekun di sana."
...
...
...
Esoknya… Kyuhyun datang menemui Sandeul yang memang sedang belajar dengan tekun itu. Walau sebenarnya tanpa anaknya itu belajar, kemampuannya sudah jauh di atas rata-rata. Hal ini membuat Kyuhyun tersenyum bangga.
"Sandeul ah?" panggil Kyuhyun.
Sandeul sedikit tergeragap melihat appanya datang menemuinya.
Kedua lelaki itu kini terduduk terdiam di bangku taman. Keduanya masih berkutat dengan pikirannya.
"Appa salah." Ucap Kyuhyun memulai semuanya. "Pekerjaan apapun yang kita inginkan, jika kita mendasarinya dengan ketulusan pekerjaan itu takkan pernah mencekik kita malah akan membuat kita bahagia. Dan appa nyaris saja mencekikmu untuk melakukan pekerjaan yang tak kau inginkan. Appa bahkan berkata kasar tentang keinginanmu. Maukah kau memaafkan appa?" Tanya Kyuhyun yang kini menatapi anaknya itu.
"Aku juga meminta maaf karena telah berkata kasar pada appa." Ucap Sandeul dan menghambur ke pelukan Kyuhyun.
"Arraseo, jadi sekarang kita impas." Balas Kyuhyun dan menepuk-nepuk ringan bahu anaknya. "Appa akan menyetujui keinginanmu, appa takkan memaksakan keinginan appa. Hanya… satu hal yang harus kau tahu, saat kau lelah kau memiliki appa, keluargamu yang akan menopang dirimu." Ucap Kyuhyun sembari mengusap kepala anaknya.
"Terima kasih appa..."
...
...
...
Malam itu juga Sandeul mengemasi barang-barangnya di rumah Baro. Membuat Baro bingung karenanya. "Kau mau kemana?" tanyanya.
"Oh kau!" jerit Sandeul terkejut karena tak mendengar langkah kaki Baro. "Appa sudah setuju dan aku diperbolehkan sekolah ke Italia. Jadi appa memintaku pulang malam ini juga." Cerita Sandeul.
"Syukurlah." Ucap Baro. "Ingin kubantu?" Tanya Baro kemudian.
"Anni, aku sudah selesai." Jawab Sandeul sembari memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Mau ku antar kalau begitu?" tawar Baro lagi.
"Tak usah. Appa menungguku di parkiran." Balas Sandeul yang memang hari itu kebetulan motornya sedang di bengkel.
"Oh begitu…"
Sandeul sudah selesai mengemas barang-barangnya, dan saat ia akan keluar dari apartemen Baro, ia berbalik menatap Baro. "Kau tak usah mengantarku sampai parkiran. Appa bisa mengamuk melihatmu." Sandeul terkekeh geli mengingat keluarganya yang sedikit tak suka pada Baro. "Terima kasih sudah membiarkanku tinggal di sini."
Dan CHUUP. Sandeul mengecup pipi Baro sebelum tersenyum kecil melihat Baro yang menganga tercengang.
"Aku menghargai perasaan yang kau sampaikan semalam. Untuk saat ini yang ada dipikiranku adalah cita-citaku, jadi aku tak bisa memikirkan yang lain dulu. Mungkin… mungkin jika cita-citaku telah kuraih… mungkin aku bisa membalas perasaanmu padaku." Sandeul tersenyum malu-malu mengucapkan hal itu. "Nah… aku pergi." Lanjut Sandeul dan hanya diangguki oleh Baro. Lalu, Sandeul menghilang masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke tempat appanya berada.
"Halo? Appa? Appa! Aku setuju dengan tawaranmu untuk kuliah di London." Dan setelah menelepon sang appa, Choi Baro menyeringai. "Setidaknya lebih dekat London dengan Italia dibandingkan Seoul dengan Italia." Kekeh Baro mengabaikan appanya di rumah yang terkejut itu.
..
..
..
Sandeul pulang kembali ke rumah. Membuat suasana rumah itu kembali menghangat. Membuat senyuman Sungmin merekah bahagia. Membuat Yojung terpekik senang karena kakak kesayangannya pulang. Membuat Kang In menghela nafas lega karena permasalahan rumah tangga anaknya telah diselesaikan dan membuat Kyuhyun terlepas dari rasa sesaknya karena sang anak pergi dari rumah.
Permasalahan itu akan selalu ada di keluarga mereka. Namun mereka yakin, jika saling bahu-membahu, maka permasalahan itu takkan menggoyahkan keluarga mereka. Keluarga hangat yang saling menyayangi.
..
..
..
END of SEQUEL
..
..
..
Hai… lama tak bertemu…
Terima kasih sudah pernah mampir ke cerita ini. Terima kasih juga yang mengatakan rindu tulisan saya tentang KyuMin.
Saya cukup terkejut mendapatkan pm dari kalian yang menginginkan saya menulis KyuMin lagi. Namun rasanya cukup menyesakkan menulis KyuMin story bahkan sampai sekarang. Maaf jika kalian tak menyukai ini.
Ah… selain karena hal itu. Saya menulis cerita ini untuk memperingati lima tahun saya menulis di ffn. Tentunya dalam lima tahun itu cerita ini memiliki andil tersendiri dan membuat kalian mengenal saya, kan?
Saya jatuh cinta dengan chapter pertama cerita ini. Chapter yang saya tulis dalam keadaan 'menggila' karena tiba-tiba saja imajinasi itu muncul. Hahaha…
Apapun itu, bagi kalian yang masih bertahan, pertahankan. Bagi kalian yang sudah pergi… janganlah kalian pergi meninggalkan kotoran… mari pergi meninggalkan bunga dan juga kenangan indah dengan pairing ini.
See ya later JOYERS.
#Happy5thAnniversary for meh.
Byebye~
