.

.

.

BTS Fanfiction.

M not for sexual activity, Angst, Tragedy, Friendship, Death chara, Dark, Not allowed for kids.

Based on BTS MV I Need U-Prologue-Run.

Dan sekarang ini bedasarkan YOUNG FOREVER EPILOGUE.

.

.

.

Langit yang cerah dengan awan-awan berbaris layaknya kumpulan permen kapas. Burung-burung berterbangan meramaikan kesunyian yang tercipta. Bagaikan potongan film lama, semua memori itu menghantamnya kala matanya terbuka.

"Aku… dimana?" tanyanya sembari melihat telapak tangannya. "Aku… siapa?" tanyanya kini sembari memegang keningnya yang terasa pening.

Perlahan matanya mengerjap, berusaha menyesuaikan terangnya sinar matahari yang masuk ke matanya. Berdiri pelan sembari terhuyung sebelum pada akhirnya dapat berdiri dengan tegak.

Kepalanya menunduk… memikirkan semuanya. Semua memori yang tiba-tiba saja merasuki kepalanya.

"Ah… aku Namjoon?" tanyanya pada belaian angin yang menyapu lembut pipinya.

Perlahan kakinya melangkah. Kaki jenjang itu membawanya menyusuri tempat… apa? Tempat apa ini? Sejauh matanya memandang hanya nampak tiang-tiang dilapisi kawat membentuk sebuah labirin, ya Namjoon rasa ini adalah labirin.

Namjoon memandangi baju yang dipakainya saat ini, baju yang sangat bersih dan rapi. Berbeda dengan pakaiannya sehari-hari dulu saat masih hidup. Ataupun pakaian dengan noda darah dimana-mana yang dipakainya terakhir kali sebelum kematian menjemputnya…

Tangan Namjoon mendarat di pagar kawat itu memainkan helaian kain yang terikat layaknya memainkan dosanya yang terikat disana. Untuk kemudian membiarkan dosa itu tertinggal disana dan tersapu kabut lalu menghilang.

#

Begitu Seokjin tersadar dari kematiannya dan saat ingatan itu mendera kepalanya, tangan Seokjin mengcengkram erat pagar kawat yang berada di depannya. Matanya nanar ketika hantaman memori itu datang bertubi-tubi.

Seokjin memandang langit cerah itu saat ia mengingat bagaimana caranya mati. Ah… ia mati menyusul adik-adiknya. Saat ia merasakan kesepian dan dihantui kerinduan akan adik-adiknya, Kim Seokjin memilih mati menyusul adik-adiknya.

#

Kumpulan foto yang terbakar itu berada di hadapan Yoongi. Tangannya tanpa sadar memainkan pemantiknya.

Tik… tik…

Seiring dengan nyalanya api yang dimainkannya, begitu pula ingatan terakhirnya masuk. Nyala api yang panas… ia yang berteriak frustasi akan kemarahan yang selama ini dipendamnya. Saking lamanya terpendam dan sekalinya keluar… kemarahan itu membakar dirinya.

#

Mata Jungkook berputar ke segala sisi, memandangi dimana ia berada saat ini. Helaian sayap yang terbang itu membuat Jungkook bingung. Entah kenapa… entah kenapa helaian itu layaknya memorinya yang datang kepadanya.

Kematiannya… kematiannya datang padanya di jalanan. Ia memang mencari kematian itu dengan seluruh tindakan ugal-ugalannya dan tak mempedulikan keselamatannya.

Jungkook kembali memejamkan matanya kala kesepian tak berujung datang kepadanya dan membawanya pada kenangan saat ia sendirian tanpa hyungnya.

"Hyungdeul…" gumamnya.

#

Bulu-bulu memori itupun turut datang kepada Hoseok. Mata Hoseok bergulir mengamati bulu-bulu itu. Terbang… indah… bebas…

"Ah… kematianku." Gumam Hoseok kala mengingat kematiannya.

Kefrustasiannya akan penyakitnya yang tak kunjung sembuh dan juga kehampaannya ditinggalkan sahabatnya. Serta keputusannya untuk bermain layaknya orang bodoh dengan kematiannya.

#

Basah… kenapa harus basah.

Mata Jiminpun terbuka. Sekujur tubuhnya basah. Air masih menetes dari ujung rambutnya, mengalir menuruni tangannya.

Tes… tes… tes…

Air itu menetes… ah… kematiannya. Kematiannya…

Jimin berlari… berlari untuk keluar dari labirin ini. Satu yang dipikirkannya, sahabatnya.

#

Taehyung sudah berlari lama di dalam labirin ini. Entah sudah berapa hari ia menyusuri labirin itu, namun ia masih belum menemukan ujungnya. Sebenarnya di manakah ujungnya?

Apa… apa ini hukumannya karena menghabisi hidupnya sendiri?

Langkah kakinya semakin terpacu saat ia mendengar suara-suara yang dikenalinya saling bersahutan.

Suara sahabatnya, sahabat yang ditinggalkannya setelah ia membunuh orang dan berakhir dengan mati di depan sahabatnya.

#

"Namjoon hyung!"

"Hoseok hyung!"

"Yoongi yah!"

"Jungkookie?!"

"Taehyung ah!"

"Seokjin hyung!

"Jiminie?!"

Teriakan itu saling bersahutan, terdengar jelas dan dekat namun tak terlihat. Pagar kawat yang mereka sangka transparan itu malah menyerupai dinding tebal yang tak memperlihatkan sosok dibalik pagar itu.

Berlari… mereka berlari mencari jalan keluar. Mereka harus bertemu. Mereka harus menjemput kebahagiaan mereka disini.

Mereka telah banyak berlari selama ini.

Berlari menyusuri lepas pantai.

Berlari melewati lapangan luas.

Berlari dengan semangatnya melewati suasana kota di pagi hari.

Mereka juga banyak bersenang-senang bersama.

Makan di sebuah restoran cepat saji dan berakhir dengan suasana ricuh namun menyenangkan.

Mereka pernah berfoto bersama disebuah tempat, berdesakkan namun tetap memasang wajah ceria.

Mereka pernah berpesta gila-gilaan sepanjang malam bersama-sama.

Mereka juga pernah bermain layaknya anak normal lainnya, menggunakan mobil mainan yang diletakkan di atas sebuah botol sebagai pengganti bola golf.

Mengerjai maknae mereka dengan segera menaiki mobil dan membiarkan si Golden Maknae berlari mengejar mobil.

Mereka juga berlari dengan riangnya di bawah terowongan gelap.

Mereka hanya senang bersama-sama.

...

...

Satu persatu dari mereka bertujuh keluar dari labirin menyesatkan itu. Berdiri sejajar setelah saling melemparkan senyuman rindu kala melihat satu persatu wajah yang dirindukan berhasil keluar dari labirin itu.

Mereka meninggalkan kenangan pahit mereka di labirin itu. Kehidupan masa lalu mereka yang membuat mereka terluka parah. Kebodohan mereka yang membuat mereka menanggung dosa.

Mereka meninggalkan itu semua untuk bersama, selamanya dan tetap menjadi sahabat.

...

...

Taehyung masih saja belum bisa menemukan jalan yang tepat. Ia masih berputar-putar di dalam labirin itu dengan mengandalkan asal suara sahabatnya yang sudah berada di luar labirin.

Kepakan sayap seekor burung di langit menyambut Taehyung begitu ia keluar dari labirin itu. Dan begitu Taehyung memandang ke arah langit senja itu. Enam orang yang ditinggalkannya dulu, enam orang sahabatnya yang dirindukannya itu berdiri menanti dirinya dengan senyuman hangat.

Perlahan… kaki Taehyung bergerak menghampirinya.

Jimin tersenyum cerah melihat Taehyung.

Yoongi memberikan tatapan sebaiknya kau cepat sampai kesini pada Taehyung.

Namjoon dengan tangan di dalam sakunya itu tersenyum menunggu Taehyung.

Hoseok tersenyum girang saat melihat akhirnya mereka bertujuh kembali lengkap.

Sedangkan Jungkook memberikan tatapan 'Hyung cepat datang kemari' pada Taehyung.

Sementara itu Seokjin tersenyum haru memperhatikan semuanya.

Sekarang mereka sudah lengkap. Sekarang mereka sudah kembali bertujuh. Dan sekarang mereka bisa berlari bersama menyongsong matahari senja dengan semua senyuman yang terlukis di wajah mereka. Karena mereka telah meninggalkan masa lalu yang kelam mereka dan bersama-sama di tempat indah ini.

Ditemani langit cerah serta angin semilir yang menyejukkan, mereka bertujuh berlari penuh senda gurau. Penuh senyuman, penuh canda tawa, penuh afeksi akan kasih sayang mereka. Mereka berlari bersama untuk selalu bersama selamanya di surga mereka, tempat dimana mereka akan selalu bersama… tempat dimana mereka selalu muda untuk selamanya.

Mimpi… harapan… apapun itu tetap lanjutkan.

Ya apapun itu akan tetap mereka lanjutkan bersama-sama.

..

..

END

..

..

YOLO.

Ini sequel… dan sequel ini bisa akan terus datang selama Bangtan belum menyelesaikan teori mereka…

Astaga…

Jja, ini saya tulis untuk merayakan lima tahun saya menulis disini. Lalu bagaimana?

#Happy5thAnniversary for meh!

Byebye~