Author mau minta maaf kalau fanfic ini masih terdapat banyak kesalahaan dalam EYD, masih typo, OOC ataupun cerita yang kurang menarik. Terima kasih untuk yang masih setia menunggu kelanjutannya dan selamat membaca :)


My beautiful Crazy Wife

Naruto by Masashi Kishimoto

Pair : SaiIno


Seminggu sebelum bencana menyerang Sai. Flashback on.

Ino membuka pintu kediamannya dengan sedikit kesusahan karena kedua tangannya dipenuhi oleh beberapa kantong belanjaan. Ino meletakan belanjaanya sebentar untuk membuka sepatu ninjanya, kemudian ia berjalan kedalam rumah sambil mengucapkan salam. Ino sedikit heran karena tidak ada yang menyambut salam darinya, memang Sai saat ini sedang tidak ada di desa karena menjalani misi tetapi putra semata wayangnya seharusnya ada dirumah saat ini.

Saat memasuki ruang tengah, alangkah terkejutnya Ino mendapati keadaan rumahnya yang berantakan padahal ia sudah bersusah payah membersihkannya tadi pagi. Gulungan kertas bertebaran dilantai dan meja, ia juga melihat beberapa perlengkapan melukis Sai seperti cat, kuas dan tinta juga ikut bertebaran. Ino yang sedang lelah karena seharian belanja menjadi mudah tersulut emosinya apalagi mendapati sofa kesayangannya terkena tumpahan noda tinta yang pastinya sulit untuk dibersihkan.

Dengan kesal ia berjalan menuju kamar si pembuat masalah, siapa lagi kalau bukan putranya Inojin yang selalu suka sembarangan memakai perlengkapan Sai bila sedang tidak ada dirumah. Inojin yang sedang asik memainkan game di gamepadnya sama sekali tidak terusik ketika ibunya itu membuka pintu kamarnya dengan kasar.

"Inojin! Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Ino dengan penuh amarah.

"bermain game," jawab Inojin santai tanpa menoleh sedikitpun kepada Ino.

"Anak ini! Maksud ibu apa yang sedang kau lakukan dengan perlengkapan ayahmu sehingga ruang tengah menjadi sangat beratakan seperti itu?!"

"Oh, aku hanya berlatih seperti yang diajarkan ayah" melihat putranya yang seolah tidak mempedulikannya dan focus bermain membuat amarah Ino semakin membara. Dengan segera ia berjalan kearah Inojin merebut gamepad dengan paksa dari tangan anaknya dan menjewer telinga putranya itu.

"sekarang dengarkan ibu, cepat bereskan semua kekacauan yang telah kau perbuat dan berhentilah menjadi anak yang menyebalkan."

Inojin pun akhirnya menatap ibunya, dimatanya ia melihat Ino seperti memiliki lima kepala dengan leher panjang dan berlidah ular. Itu membuatnya sedikit takut dan akhirnya turun dari tempat tidurnya untuk membereskan kekacauan yang diperbuatnya.

Ino pun mengikuti putranya itu ke ruang tengah untuk mengawasinya membereskan ruangan berantakan itu. "kenapa sih kau tidak mau mendengarkan perkataan ibu untuk tidak berlatih di dalam rumah?"

Putranya itu tidak menjawabnya dan melanjutkan membersihkan dengan malas-malsan membuat Ino menghela nafas berat melihatnya. "Ibu akan kekamar dulu. Awas saja nanti saat ibu kembali ruangan ini masih kacau, ibu akan menyuruhmu berlatih shintenshin setiap hari."

Setelah memberikan sedikit ancaman kepada Inojin, Ino pun meninggalkannya menuju kamar sambil membawa kantong belanjanya tadi. Ia tahu Inojin kali ini pasti membersihkan ruangan itu dengan sungguh-sungguh, karena ia sangat tahu betul putranya itu tidak tertarik untuk mewarisi jutsu legendaries klan Yamanaka.

Sejak balita Inojin memang lebih menunjukan ketertarikannya dengan keahlian ayahnya. Ia akan sangat senang melihat Sai saat menggambar hal itu sangat berkebalikan ketika Inojin mulai diperkenalkan dengan jutsu andalannya ia akan sering membolos saat dia ajak untuk berlatih.

Mengingat kenyataan ini membuat Ino kembali berandai-andai tentang seorang anak yang dapat mewarisi kemampuan dari klan Yamanaka.

'huff, apakah aku punya anak lagi saja ya?' gumam Ino dalam hatinya, apalagi ia juga jadi teringat akan obrolannya tadi saat bersama teman-temannya, 'mungkin saja teoriku tadi itu memang benar adanya, sebaiknya ku coba saja'

Ino yang sedang tersenyum memikirkan teorinya segera tersadar dari lamunannya yang sudah kemana-mana lantaran mendengar suara teriakan Inojin yang mngatakan bahwa ia sudah selesai membereskan peralatan dan kekacauan yang dibuatnya.

Pagi ini Ino hanya ditemani oleh putranya sarapan berdua karena Sai masih belum pulang.

"Bu, hari ini aku akan melakukan misi bersama Shikadai dan Choucho ke desa Suna selama tiga hari."

Ino segera meletakan sumpitnya dan memandang Inojin dengan sendu, "Kau tega sekali meninggalkan ibu sendirian tanpa ayahmu."

"apakah ibu sudah lupa kalau ayah akan pulang hari ini? Aku tidak sengaja mendengarnya dari nandaime-sama semalam."

"Benarkah?" pandangan Ino yang tadinya sendu sekarang berubah menjadi sangat ceria, "kalau begitu cepatlah bergegas dan segera pergi bersama timmu."

Inojin menatap ibunya dengan bingung. Bukankah tadi ibunya itu seperti tidak mau ia tinggalkan, tapi kenapa sekarang seolah sedang mengusirnya untuk cepat pergi. Apalagi sekarang ia melihat ibunya itu sedang tertawa licik dengan sangat menyeramkan.

Siangnya masih dihari yang sama setelah melepaskan Inojin pergi, Ino menyempatkan dirinya untuk mampir ke klinik yang dikelola oleh sahabat berambut pinknya. Siapa lagi kalau bukan si nyonya Uchiha, Sakura.

Sakura yang baru selesai memeriksa salah satu pasiennya dibuat terkejut oleh kehadiran Ino di ruang kerjanya. Saat ia membuka pintu ia mendapati Ino yang sedang bersantai ria di kursi kebesarannya dengan kedua kakinya diangkat diatas meja serta tangan kanannya yang sibuk memberikan warna pada kuku di jari tangan kirinya."Hei Pig, apa yang sedang kau lakukan?!"

Ino yang terkejut ngedumel karena kuteks yang sedang ia pasang menjadi berantakan. "Sakura, kenapa kau tidak berhenti memanggilku dengan sebutan itu?"

"tidak perlu basa-basi, sebenarnya apa yang kau inginkan sehingga datang mengunjungiku seperti ini?" tanya Sakura langsung sambil menyingkirkan kaki Ino yang masih bertenger dari atas meja kerjanya.

"Huh! Kau semakin hari semakin mirip Sasuke saja langsung to the point!" balas Ino kesal, namun ia langsung merubah espresi wajahnya dan segera bergelayut manja kepada sakura.

"Sakuraaa… aku butuh bantuanmu" pinta Ino manja yang membuat Sakura risih mendengarnya.

"Ya! Ino ada apa denganmu? Cepat lepaskan lenganku!"

"kumohon, bantulah sahabatmu ini Sakuraaaa…" rengek Ino.

"kalau kau tidak mengatakan keinginamu bagaimana aku bisa membantumu Pig!"

"tolong berikan aku obat atau ajari aku teknik medis untuk mempercepat kehamilan!"

"HAH?!" Sakura merasa telinganya salah mendengar perkataan Ino.

"Kau tahu kan Sakura obat supaya kandungan dapat subur dan membuat cepat hamil mungkin juga teknik medis yang dapat kulakuan untuk Sai supaya kualitas spermanya bagus atau semacamnya?"

"Ino, sebenarnya apa yang kau katakan? Membuatku bingung saja!"

"Apa kau lupa pembicaraan kita di café kemarin? Aku benar-benar berkeinginan punya anak lagi yang bisa mewarisi genku. Aku akan mencoba teoriku, tidak masalah jika nanti hasilnya laki-laki ataupun perempuan yang penting dia bersedia mengemban tradisi klan Yamanaka, karena sepertinya Inojinku lebih tertarik dengan kemampuan ninjutsu Sai."

"Dengar ya Ino, walaupun aku sangat ingin membantumu tapi aku tidak memiliki obat atau teknik medis seperti yang kau minta tadi. Tapi kalau kau meminta untuk mencegah kehamilan aku memiliki banyak stoknya di klinik ini."

Ino langsung saja lemas mendengarnya, "mungkin kau bisa memberikanku obat perangsang untuk Sai?" tanyanya kemudian dengan sedikit harapan.

"itu kan bisa kau beli di toko obat, kurasa banyak yang menjual seperti itu sekarang ini. Lagi pula apa susahnya sih Ino? Kau kan tinggal merayu Sai sama seperti yang biasanya kau lakukan dulu sebelum ada Inojin." Sakura menyarankan.

"benar juga sih, tapi masa hanya aku saja yang terus merayunya untuk mendapatkan anak? Aku juga ingin sesekali dirayu.."

"Dasar kau ini.." Sakura hanya bisa mengeleng melihat Ino yang kemudian menceritakan impian vulgarnya.

Sai baru saja pulang dari misi panjangnya, ia sedikit heran saat mendapati keadaan rumahnya yang sunyi dengan lampu remang-remang. Biasanya ketika memasuki rumah Sai pasti mendengar suara Ino yang sedang marah-marah kepada putra mereka. Sai memang sudah mendengar dari Shikamaru bahwa saat ini putranya sedang menjalani misi ke Suna, tapi tidak mendengar suara istrinya yang memang sedikit berisik menjawab salamnya dan membiarkan rumah terlihat sepi itu tidak biasa.

Dengan was-was Sai mengeluarkan kunai untuk berjaga-jaga takut ada penyusup didalam rumahnya. Ia juga hanya mendapati hawa dari chakra istrinya yang samar-samar. Sebagai anggota Anbu yang terlatih ia masuk keruang tengah keluarga yang hanya diterangi oleh pencahayaan minim itu.

Suara music jazz yang romantis tiba-tiba saja mengalun lembut diruangan itu membuat Sai terkejut walaupun ekspresi dan reaksi tubuhnya tetap diatur kaku dan datar seperti tidak terjadi apa-apa. Mata Sai langsung meneliti setiap sudut ruangan itu, disana diatas sofa kesayangan istrinya itu Sai menemukan Ino sedang berpose seksi dengan menggunakan sebuah gaun tipis yang menerawang dan minim.

"Sai-kuuun.. kemarilah.." tiba-tiba bulu kuduk Sai naik semua saat mendengar Ino yang memanggilnya seperti itu. Ketika Ino mulai menambahkan suffix kun dibelakang nama Sai itu tandanya Ino saat ini sedang menyusun sebuah rencana penyiksaan untuk dirinya.

Melihat Sai yang hanya diam seperti patung didepannya, membuat Ino mengambil tindakan untuk menghampiri suaminya itu. "Sai-kun, saat ini Inojin sedang pergi selama tiga hari jadi mari kita bersenang-senang sedikit." Bisiknya lembut ditelinga Sai

"Ino, saat ini aku sedang lelah." Mengerti akan niatan Ino, Sai mencoba mengelak karena memang kebenarannya ia sangat lelah karena menjalani misi yang cukup berat.

Namun Ino tidak gampang menyerah untuk mendapatkan keinginannya. Dengan lincah ia memasukan jari-jari tangannya yang lentik kebalik pakaian yang sedang dikenakan Sai dan mengelus lembut permukaan perut sixpack suaminya itu.

"aku akan membuat rasa lelahmu itu hilang, percayalah" bisik Ino dengan seduktif disertai dengan pergerakan tangannya yang merambah turun kebawah memasuki celana Sai.

Ini adalah malam kedua Inojin menjalani misi di Suna. Saat ini Sai juga sedang mengalami kebingungan seperti malam sebelumnya, bedanya kali ini tidak ada rumah yang gelap serta musik romantis yang ada hanya lilin-lilin aroma terapi dengan aroma memabukan yang menyala disetiap sudut kamar mereka.

'srek' Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah serta lingeri seksi yang melekat ditubuhnya. Sebenarnya Sai tidak terlalu terpengaruh olehnya karena hampir setiap hari istrinya itu memang memakai pakaian yang cukup terbuka dengan memamerkan pusarnya kesemua orang.

"Sai-kun bagaimana lilin-lilin ini apakah kau suka aromanya?" sama seperti sebelumnya bulu kuduk Sai pun kembali merinding mendengar panggilan tidak biasa itu.

"Baunya menjijikan, dan membuat kepalaku pusing." Mulut Sai memang masih terkenal dengan perkataannya yang tajam dan sadis. Mendengar perkataan Sai, membuat Ino langsung memadamkan lilin-lilin tersebut dengan kesal.

"sekarang bagaimana, apakah lebih baik?" tanya Ino ketus, karena usahanya membuat suasana romantis selalu digagalkan Sai.

"hemm" Sai mengangguk, "aku tidak suka aroma seperti itu."

"jadi aroma apa yang kau sukai?" tanyanya dengan manja sambil menghampiri Sai yang sedang duduk di ranjang mereka.

"Apakah aroma seperti ini?" tanyanya kemudian dengan membenamkan kepala Sai diantara buah dadanya yang padat itu. Dengan sengaja Ino yang tidak memakai bra itu juga mengesek-gesekan dadanya dimuka Sai supaya aroma bunga lembut ditubuhnya dapat tercium oleh Sai.

Sai yang mulai susah bernafas segera mengigit salah satu puncak payudara istrinya itu agar melepaskan kepalanya yang ditekan kuat. "Ah! Sai-kun.." bukannya marah, Ino malah senang dibuatnya.

"Ino, apa ya-" jari lentik ino langsung menghentikan setiap perkataan yang akan keluar dari bibir Sai. "Ssstt, besok sore Inojin sudah kembali. Aku hanya merindukan saat-saat berdua begini bersama Sai-kun."

Perkataan istrinya itu memang ada benarnya. Sai yang sempat curiga dengan Ino yang mendadak sangat agresif pun mengenyahkan pemikirannya itu. Mengerti akan kerinduan istrinya itu, Sai pun siap untuk melayani Ino malam ini. Sai bergeser sedikit agar bisa menjangkau laci yang berada disamping tempat tidur mereka untuk mengambil sesuatu.

"Sai, apa yang sedang kau cari?" tanya Ino heran melihat Sai yang mengacak-acak isi laci itu.

"aku sedang mencari kondom yang aku simpan disini, namun tidak menemukannya. Aku tidak mau kelepasan seperti tadi malam." Balas Sai sambil terus mencari.

Ino yang mendengarnya tertawa kecil. Terang saja kondom itu tidak ada karena Ino diam-diam telah membuangnya bersamaan dengan pil kontrasepsi dan pengaman lainnya. "Sai, kita tidak memerlukan itu."

"hemm?" Sai menoleh bingung kearah istrinya. "Bukankah aku harus memalakinya? Menurut buku yang aku baca itu baik untuk keamanan dan kesehatan."

"mulai saat ini lupakan tentang yang ada di buku yang kau baca dan sekarang bercintalah denganku!" Ino segera menarik paksa Said an menyerangnya dengan ciuman-ciuman liar.

Dipagi hari yang sangat cerah ini, Sai sedang berkonsentrasi menggambar dihalaman belakang kediamannya. Sedangkan Ino sedang berada di dapur membuatkan Sai segelas ocha hangat.

Ino melirik kearah halaman belakang untuk memastikan Sai tidak melihat apa yang saat ini sedang dikerjakannya. Dengan hati-hati ia memasukkan obat perangsang yang dibelinya dua hari lalu setelah pulang dari klinik Sakura.

Ini merupakan kesempatan terakhir Ino untuk bermesraan dengan Sai tanpa adanya pengganggu kecil seperti putranya, maka dengan terpaksa Ino harus mengunakan cara ini.

Setelah memastikan larutannya tercampur sempurna dan tidak menimbulkan kecurigaan, Ino membawa ocha tersebut kepada suaminya.

"Sai-kun, ini silahkan diminum dulu ochanya selagi masih hangat." Sai yang asik menggambar tidak mendengar perkataan Ino, "Saii-kuuunn.."

"Hemm?" suara manja Ino yang tidak biasa itu selalu ampuh untuk menarik Sai dari fokusnya.

"ochanya diminum dulu," tanpa menaruh rasa curiga Sai mengambil gelas ocha itu dan meminumnya seteguk kemudian melanjutkan menggambar. Ino memperhatikan Sai dengan tidak sabaran menunggu reaksi obat perangsang itu bekerja mempengaruhi Sai.

"engghh.." tiba-tiba saja Sai merasa tubuhnya menjadi panas dan konsentrasinya menghilang. Ia meletakan perlengkapan gambarnya dengan sembarangan dan mulai membuka baju sehingga memamerkan dada bidang dan perutnya, yang membuat Ino menatap dengan penuh minat.

"Inoooo.." Sai melengguh tertahan memanggil nama istrinya

"ya, Sai-kun?" balas Ino dengan nada menggoda dan senang.

Tanpa banyak kata Sai segera menyerang Ino. Ia mencium bibir istrinya itu dengan kasar seperti orang kelaparan. Tangannya juga tidak tinggal diam dan mulai menjelajah masuk kedalam blus pendek yang dikenakan Ino untuk menangkup kedua payudaranya yang masik terbalut oleh bra. Merasa kurang puas Sai menarik bra istrinya itu keatas supaya aksesnya dalam memelintir puncak payudara Ino dimudahkan. Kini salah satu tangannya pun turun untuk meremas bokong Ino.

"Ahhh, Sai-khhuunn.." desah Ino disela-sela ciuman liar mereka. Sai pun kini menurunkan jajahannya untuk menjilati dan mencium leher Ino yang jenjang yang membuat Ino kegelian sehingga refleks menjambak rambut Sai.

"Sai-kun?" tanya Ino heran karena Sai menghentikan cumbuannya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, kita harus menghentikannya. Aku sangat terangsang tetapi kita tidak memiliki pengaman, aku tidak mau kau marah karena nantinya kau hamil. Aku tidak-"

"Sai!" Ino menghentikan Sai yang gelisah karena tidak tahu harus melakukan apa, " aku mau hamil, jadi jangan berhenti!"

Sai yang sedang ditutupi oleh kabut nafsu pun tidak bisa menahan lebih lama lagi. Ia kembali menyerang Ino dengan ciuman-ciuman liar dan memberikan beberapa kissmark dileher dan dada Ino. Dengan segera Sai membalikan Ino dan menyuruhya untuk bertumpu diteras belakang rumah mereka yang lumayan tinggi. Sai yang suadah tidak tahan segera menyibak rok panjang yang dikenakn istrinya itu dan menyingkirkan celana pelindung dibaliknya. Dengan kasar Sai segera memasuki Ino untuk menyatukan tubuh keduanya, dan bergerak dengan liar didalamnya. Dihalaman keluarga Yamanaka, dibawah sinar matahari yang cerah kedua shinobi itu berlomba untuk mencari kepuasan.

Semenjak hari panas di halaman rumah mereka, Ino sama sekali tidak punya kesempatan untuk menggoda suaminya lagi. Selain dikarenakan putra mereka inojin yang sudah kembali dari menjalankan misi di Suna, Sai juga tampanya mulai menghindarinya setelah tersadar akan niat terselubung Ino yang ingin mempunyai anak lagi.

Sudah empat hari ini terakhir Sai terus menyibukan dirinya untuk berlatih bersama Inojin atau beralasan ingin membantu dikantor Hokage. Ino melirik kalender yang tergantung di dinding kamar dan mulai menghitung bahwa masa suburnya tinggal bebrapa hari lagi saja. Kalau ia tidak memanfaatkannya dengan baik, ia tidak yakin akan bisa menjebak Sai dibulan berikutnya.

Samar-samar Ino mendengar salam dari putranya Inojin yang menandakan kalau kedua prianya telah pulang sehabis berlatih. ino segera turun untuk menyambut mereka dan menyuruh kedua pria itu untuk mandi selagi ia menyiapkan makan malam.

Sehabis makan malam, Ino langsung menyuruh Inojin agar segera ke kamarnya dan tidur.

"tapi bu, aku belum mengantuk," Inojin membantah ibunya itu " lagipula aku sudah ada rencana dengan ayah untuk belajar bersama."

"ibu bilang tidur, ya tidur!" Ino yang sudah membulatkan tekatnya untuk mendapatkan kesempatan mala mini bersikeras memaksa Inojin untuk segera tidur, "kalau kau sebegitu sukanya belajar, seharusnya dapat menghasilkan nilai yang bagus saat diakademi dulu. Atau kau tunjukan keseriusanmu untuk belajar teknik Ino-Shika-Cho!"

Mendengar perkataan ibunya itu yang sepertinya menyertakan nada ancaman didalamnya memilih untuk menurut untuk tidur dan meninggalkan Sai yang sepertinya terjepit.

"Se-sepertinya aku harus segera pergi, aku lupa bahwa ada pertemuan Anbu mala mini." Sai mencoba menghindar sambil memamerkan senyumannya yang terlihat sangat terpaksa. Sai tahu Ino pasti akan melancarkan serangnnya lagi malam ini dan ia harus segera menghindar. Ia tidak tahu hal gila seperti apa yang akan dilakukan istrinya itu kali ini.

"Baiklah Sai-kun," ucap Ino dengan tenang seolah membiarkan Sai untuk pergi begitu saja. Sai yang heran pun hanya mengangguk tanda ia akan segera pergi namun dengan status waspada.

Ino mengantarkan suaminya itu sampai kedepan pintu rumah mereka. Setelah mengucapkan salam Sai pun melangkah pergi, namun sebelum ia mencapai jalan Ino memangil namanya yang mebuatnya segera menoleh, maka pada saat itulah.. "Shinranshin no jutsu!"

Sai yang sedang lengah langsung terperangkap dengan kemampuan kekkei genkai klan Yamanaka itu. Ino yang tersenyum senang karena berhasil mengecoh suaminya itu pun lantas berbangga diri. Memang terlihat sedikit licik tapi mau gimana lagi demi mewujudkan lahirnya sibuah hati. Kemudian dengan keahliannya ia mengarahkan Sai untuk kembali kedalam rumah dan mengikutinya menuju kamar mereka.

Akhirnya setelah beberapa hari, Ino dapat kembali bersenang-senang kembali dengan Sai. Mau tidak mau Sai yang sudah dikendalikan tubuhnya harus menuruti semua keinginan istrinya itu. Ketika Ino memerintahkan untuk melepaskan seluruh pakaian mereka serta untuk mulai mencumbunya Sai melakukannya dengan terpaksa.

Namun perasaan nikmat yang dialaminya membuat Sai perlahan-lahan ikut terbaur juga. Setelah meyakinkan bahwa Sai telah mengikuti permainannya dengan sukarela akhirnya Ino pun melepaskan jutsunya tersebut.

Sai terbangun karena cahaya terang yang mengusik matanya. Dengan perlahan ia membuka matanya mencoba membiasakan dengan suasana terang disekitarnya. Ia terkejut karena hari sudah siang dan matahari juga sudah menjulang sangat tinggi.

Sebuah pergerakan kecil membuat Sai tersadar kalau istrinya masih bergulung dengan nyaman dalam tidurnya. Sai memperhatikan Ino yang terlihat sangat kelelahan, sebenarnya dirinya juga. Bagaimana tidak lelah kalau semalaman suntuk ia terus saja bercinta dengan Ino tanpa henti. Setiap kali ia ingin menyudahi permainan mereka maka Ino dengan seenaknya langsung menggunakan kekkai genkainya kembali, begitu terus menerus sampai Ino puas dan kelelahan sendiri.

Entah apa yang sedang dimimpikan oleh ino saat ini sehingga membuatnya tersenyum dalam tidurnya. Sai yang melihatnya merasa ngeri apalagi ia teringat akan perkataan Ino sebelum jatuh tertidur. Istrinya itu akan menggunakan "Shintanshin no Jutsu" jurus menukar tubuh bila ia berani menolak keinginan gila Ino sekali lagi.

Maka dengan sangat perlahan Sai bangkit dari tempat tidur meninggalkan Ino yang masih nyenyak untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah selesai ia juga dengan sangat hati-hati keluar dari kamar agar Ino tidak terbangun dan Saipun langsung kabur secepat mungkin menyelamatkan diri ke kantor Hokage.

Flashback off.

Maka viola disinlah sekarang Sai, dikantor hokage meminta belas kasihan untuk diselamatkan dari istrinya dengan meminta misi panjang diluar desa.

Naruto yang mendengar cerita Sai, terpaku tidak percaya. Begitu pula dengan Sasuke diam-diam merinding namun mampu disembunyikannya dengan baik.

"Sudah kuduga, si nona Yamanaka itu pasti kan berbuat sejauh itu. Ck, mendokusai!" komentar Shikamaru pedas. Ia turut prihatin dengan kejadian yang dialami oleh Sai, selain itu ia juga merasa sedikit bersyukur karena tidak menikahi Ino.

"Hebat! Ini benar-benar hebat!" Naruto yang telah tersadar lantas segera menghampiri Sai dan memegang pundak sai dengan kedua tangannya sambil menatap penuh kagum, "Sai, istrimu benar-benar hebat ttebayo! Aku tidak menyangka dia sejenius itu menggunakan jutsu klan Yamanaka untuk hal-hal menyenangkan seperti itu."

"Aku akan memintanya untuk mengajariku!" ucap Naruto dengan penuh semangat yang langsung disambut oleh duet pukulan maut dikepalanya oleh Sasuke dan Shikamaru.

"Dobe!" "Bodoh!" umpat kedua pria itu bersamaan.

"Naruto, kau sekarang seorang hokage berpikirlah lebih bijaksana. Jutsu tidak dipergunakan untuk hak-hal semacam itu!" umpat Shikamaru kesal. Sedangkan Sai yang istrinya sedang dibicarakan hanya tersenyum terpaksa.

Naruto yang merenggut karena kepalanya masih sakit karena pukulan teman-temannya itu bertanya dengan lebih hati-hati, " jadi bagaimana dengan Temari-san? Kau juga kelihatannya sangat tertekan Shika."

"Ahh, perempuan merepotkan itu….."

TBC


Terima kasih author ucapkan untuk yang sudah setia menunggu kelanjutan fanfic ini. Maaf membuat menunggu updatenya sedikit lama karena saya masih penulih pemula dan kesulitan mencari alur cerita. mungkin juga masih terdapat banyak kesalakan dalam pengetikan karena diketik buru-buru dan kurang diperhatikan. Semoga hasilnya tidak begitu mengecewakan dan terlalu panjang ya.. Dan untuk M rate-nya maaf autor hanya mampu segitu aja, belum sanggup untuk menulis yang lebih. Hu..hu..hu.. dan untuk Chap selanjutnya sudah bisa dipastikan dong yang akan muncul itu pairnya ShikaTema.. kritik dan sarannya sangat dibutuhkan lho :)

Special Thanks buat yang sudah Favorite, Follow dan Review cerita ini..

kaori kamiya : haha iya dong, masa harus perempuan mulu yang heboh dibikin para suami :)

Esce R : semoga Ino nya sudah cukup agresif ya buat kamu.

UchiHaruno Sya-Chan : semoga yang ini cukup menghibur ya soalnya otak author belum cukup mesum seperti naruto jadi agak sulit :)

Naraaa : buat kamu harap bersabar ya di chap selanjutnya, kn udah muncul tuh tanda-tandanya..

Ayura Choshi : terimakasih atas masukannya, author usahakan untuk memperbaiki EYD nya ya..

DrunKenMist99, agusgaga122, anon, Greentea Kim, Cuka-san, Baka Vie-chan, undhott, Mustika447, williewillydoo, ScarletSherry, Byakugan no Hime, munya munya, cho cheonsa. Untuk kalian semua terima kasih sudah hadir untuk memberiakn author semangat..