my most troublesome wife
Naruto by Masashi Kishimoto
Pair : Shikamaru/Temari
"Ahh, perempuan merepotkan itu….." Shikamaru mengusap salah satu telapak tangannya ketengkuk belakangnya, bingung harus memulai cerita darimana.
Ketiga temannya menatapnya penasaran, terlebih-lebih Naruto. Didalam otak Hokage itu sekarang sudah berputar-putar sekenario yang kira-kira dapat dilakukan Temari terhadap Shikamaru sehingga tampak sedemikian kesalnya, apalagi reputasi perempuan itu yang terkenal akan ketenangan serta prilaku sopan santun sebagai putri Sunagakure.
'ck' Shikamaru mendecakan bibirnya, "Sebenarnya aku bingung kenapa harus menceritakan hal menyebalkan seperti ini kepada kalian."
Kemudian ia merogoh salah satu kantong celananya dan mengelurkan sebungkus rokok dan pemantiknya. Diselipkannya satu batang rokok diantara bibirnya kemudian dinyalakannya. Shikamaru mencoba menghilangkan kegugupannya dengan cara seperti ini. Sasuke dan Sai yang jeli dengan sikap Shikamaru tahu bahwa sebenarnya pria itu malu untuk bercerita. "hemm, baiklah…"
Flasback On.
Shikamaru yang baru saja selesai berendam untuk menghilangkan penat pekerjaan membantu Hokage memasuki kamar utama sambil mengeringkan rambut hitam panjangnya dengan sehelai handuk. Ketika memasuki kamar itu, ia mendapati istrinya sedang duduk didepan cermin meja rias yang memang terdapat didalam ruangan tersebut.
Temari yang mendengar suara pintu terbuka hanya melihat sekilas kearah suaminya itu, kemudian melanjutkan kegiatannya untuk membuka satu persatu kunciran di rambutnya.
"Shika..," ucap Temari. Ia yang sekarang sedang menyisir helaian rambutnya yang ikal itu tampak menunggu respon dari suaminya itu.
"hm?" Shikamaru yang sedang mengganti pakaiannya itu hanya bergumam sebagai respon kalau ia mendengarkan Temari.
"Shika, bagaimana pendapatmu tentang seorang anak lagi? Ma-maksudku bagaimana kalau kita memiliki seorang putri?" tanya Temari gugup. Ia tidak berani melihat langsung seperti apa reaksi Shikamaru tentang hal ini, ia hanya memperhatikan pergerakan suaminya itu yang terpantul dalam cermin didepannya.
Mendengar pertanyaan istrinya itu membuat Shikamaru yang sedang mengikat yukatanya sempat terhenti sejenak, jujur ia cukup kaget mendengarnya. "Apakah sekarang kau sedang hamil?"
Temari menghentikan acara menyisirnya dan segera berbalik menghadap suaminya. "aku duluan yang bertanya kepadamu, kenapa malah kau bertanya kembali? Sekarang jawab saja pertanyaanku!"
"mendokusai! Mempunyai banyak anak itu sangat merepotkan, apalagi anak perempuan yang cerewet sepertimu. Pasti akan sangat berisik!" Shikamru mengeluarkan pendapatnya mengenai pertanyaan istrinya itu. " Jadi kau sekarang sedang hamil atau tidak?"
"bersyukurlah kau kalau begitu karena sekarang aku tidak hamil!" balas Temari ketus kepada suaminya yang membuat Shikamaru mengangguk setuju tanpa memperdulikan nada suara istrinya itu.
"tapi aku ingin hamil dan mempunyai seorang putri," tambah Temari kemudian dengan suara pelan yang membuat Shikamaru mengernyitkan dahinya.
"apa yang sedang kau rencanakan?" saraf sensorik Shikamaru langsung aktif, ia merasakan bahwa ada sesuatu yang membuat istrinya itu mengungkit hal tersebut.
"tadinya aku berencana ingin menggodamu dan meminta supaya kau menyetubuhiku sampai hamil. Tapi sepertinya kau tidak tertarik." Berbohong ataupun mengelak bukanlah cirri khas temari, ia lebih suka berterus terang dengan apa yang ada dipikirannya.
Temari bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ranjang mereka untuk mengambil sebuah bantal yang terletak disana kemudian memberikannya kepada Shikamaru.
"apa maksudnya ini?" tanya Shikamaru yang menerima bantal itu. Sebenarnya dia tahu bahwa Temari sedang mengusirnya tidur diluar, namun yang tidak diketahuinya adalah alasannya.
"tidurlah ditempat lain sampai kau tertarik untuk membuatku hamil kembali." Temari menegaskan dengan nada suara yang datar kemudian mendorong Shikamaru untuk keluar dari kamar mereka.
'Brak!' akhirnya pintu tertutup dengan kasar tepat didepan wajah Shikamaru.
Temari baru saja berjalan meninggalkan gerbang desa menuju kediaman klan Nara. Ia baru saja selesai mengantarkan putra semata wayangnya yang hendak melaksanakan misi rank-C pertamanya untuk mengantarkan pesan ke desa Sunagakure di negara angin. Berhubung Shikadai dan timnya akan ke kampong halamannya segera saja ia juga menitipkan sesuatu sebagai oleh-oleh kepada kedua adiknya yang ada di desa itu.
Awalnya putranya Shikadai cukup malas menerima titipan ibunya itu karena dirasa sangat merepotkan. Hanya saja setelah diimingi bahwa Kankuro paman kesayangannya sendiri yang akan menerima titipan itu langsung membuat Shikadai menyetujuinya.
Saat diperjalanan pulang Temari teringat bahwa kemarin ia lupa membeli beberapa bumbu dapur sehingga ia memutuskan untuk pergi sebentar ke pasar berbelanja. Ketika melewati sebuah stand penjual sayur, Temari melihat asparagus yang sangat segar sehingga menariknya untuk mampir.
"Bibi aku mau tomatnya," Temari yang sedang asik memilih sayuran itu segera menoleh kearah sampingnya. "Sakura?"
Sakura yang sibuk memasukan bola-bola merah itu pun ikutan menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya. "Temari-san, Kau sedang belanja juga?"
Temari mengangguk, "kenapa kau membeli tomat lagi? Kemarin kan kau sudah membelinya cukup banyak."
Pertanyaan Temari itu memancing Sakura untuk mengerucutkan bibirnya sebal, "ini karena Sasuke-kun dan Sara-chan, mereka berdua bersekongkol mencuri tomat-tomat yang kubeli kemarin dari dalam kulkas ketika aku sedang mandi."
Sakura kemudian melanjutkan memasukan tomat yang dipilihnya kedalam kantongan, "aku sangat kesal ketika tadi pagi saat ingin memasak sarapan nasi goreng tomat, tapi tomat-tomatnya telah raib tak bersisa. Mereka berdua memakannya seperti tomat itu adalah manisan ceri."
Setelah dirasa cukup Sakura menyerahkan tomat tersebut untuk ditimbang "lagipula tomat yang dijual disini kelihatan sangat segar dan memanggilku membelinya."
Temari mengangguk setuju, sayuran di stand ini memang sangat segar. "Bibi, aku juga mau asparagusnya sekilo."
"apakah Nara-san kurang bergairah sehingga kau membeli asparagusku sebanyak ini?" tanya bibi penjual sayur itu kepada temari sambil membungkus sayuran yang telah dipilih Temari tadi. Sakura yang mendengar komentar bibi penjual itu lantas langsung tertawa kecil, sedangkan yang ditanyai memilih untuk tidak mengelak dan tidak menjawab.
Kedua kunoichi itu segera membayar belanjaan mereka dan pulang beriringan. Sakura sesekali melirik Temari yang sepertinya salah tingkah dan membuat sifat jail Sakura muncul, "Jadi, Temari-san apakah kau memang berniat untuk meningkatkan gairah Shikamaru dengan asparagus itu?"
"Tidak! Tentu saja tidak!" bantah Temari cepat, kelewat cepat malahan yang membuat Sakura semakin senang untuk menggodanya.
"Sakura, aku sama sekali tidak memiliki pikran seperti itu. Aku hanya melihatnya begitu segar dan memikirkan memasaknya menjadi sup untuk menemani ikan makarel."
"Baiklah Temari-san aku percaya padamu, kau tidak perlu sepanik itu." Kemudian keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan hening.
"emmm.. Sakura," tegur Temari sedikit ragu, "apakah yang dikatakan bibi penjual sayur itu tadi benar? Maksudku kau kan ninja medis, pasti tahu mengenai gizi dan kesehatan jadi benar tidak bahwa asparagus mempengaruhi gairah pria?"
Sakura terkikik geli mendengar pertanyaan Temari itu, ia belum pernah melihat perempuan penguasa elemen angin itu seperti ini. Tampak malu sangat berkebalikan dengan Temari yang dia kenal sebagai perempuan tegas, kuat dan cerewet. "ya bisa dibilang begitu…"
Selanjutnya perjalanan mereka dihiasi mengenai penjelasan Sakura tentang asparagus yang mengandung vitamin E serta zat penting peningkat testoteron untuk pembangkit hormone seksual pria. Sakura juga menjelaskan beberapa makanan lainnya yg memiliki kandungan serupa serta makanan yang berefek kebalikannya. Semuanya diserap Temari dengan serius.
"ngomong-ngomong Temari-san kau jadi mengingatkanku kepada Ino, ia tadi sempat mampir ke klinikku."
"apa yang ia lakukan disana?" tanya Temari sambil mengulum senyum, ia membayangkan Ino membuat kekacauan di klinik Sakura.
"si gila itu hanya menggangguku dengan bertanya hal aneh seperti obat dan jurus medis supaya ia bisa cepat hamil, sepertinya ia serius ingin punya anak lagi."
"begitukah?" Temari sedikit tertarik, "Sakura bila hal seperti itu ada bisakah kau memberikan kepadaku juga?"
Permintaan Temari tersebut membuat Sakura terpelongo tidak percaya.
Shikamaru memperhatikan hidangan makan malam yang tersaji diatas meja, sup asparagus, tumis asparagus dan asparagus rebus.
"Hei, Temari! Hidangan seperti apa ini, mengapa kau hanya memasak asparagus?!" teriaknya kepada istrinya yang sedang berkutat di dapur.
Kemudian Temari datang menghampiri suaminya itu sambil meletakan minuman. "Kalau saja kau buta, aku juga memasakan ikan makarel kesukaanmu itu!"
Memang benar dimeja itu juga terdapat makanan favoritnya, hanya saja jumlahnya tidak sebanding dengan semua hidangan serba asparagus tersebut.
"Sudah habiskan saja semua itu, jangan cerewet!" printah Temari seperti tidak mau dibantah. Shikamaru yang tidak sudi dikatai cerewet apalagi oleh seorang perempuan akhirnya diam menurut memakan semua hidangan itu.
Sudah beberapa hari ini hubungan shikamaru dan Temari tampak seperti perang dingin. Sebenarnya bukan dingin juga sih hanya saja Temari berusaha bersikap tidak peduli kepada suaminya itu, sedangkan shikamaru memang sudah pada dasarnya memang cuek. Shikamaru juga masih setia ditendang untuk tidur diluar kamar mereka, yang tidak begitu berpengaruh baginya. Yang namanya tukang tidur sepertinya mau dimanapun selama itu tidak berisik tidak akan jadi masalah.
Padahal tiga hari terakhir putra mereka sedang tidak ada dirumah, hal ini membuat Temari sedikit berharap supaya suaminya itu datang menghampirinya untuk bermesraan. Tapi boro-boro bermesraan, suaminya pulang kerumah saja sudah syukur. Pasalnya semenjak Temari mencetuskan keinginannya untuk memiliki anak lagi, Shikamaru dengan sengaja menghindarinya dengan menyibukan diri di kantor hokage. Kalau dirumahpun pasti dimanfaatkan Shikamaru untuk tidur dan bermals-malasan saja.
Sama seperti sore yang lalu ketika Shikamaru sedang tidak ada kerjaan, ia menghabiskan waktunya untuk tidur diteras samping rumah mereka yang langsung berhubungan kearah halaman. Saat itu Temari tiba-tiba saja datang dengan membawa keranjang pakaian kosong. Shikamaru yang terusik karena suara pintu geser hanya membuka sekilas matanya kemudian melanjutkan tidurnya menganggap kehadiran Temari adalah angin lalu.
Melihat prilaku suaminya tersebut lantas membuat Temari jengkel, ia melangkahkan kakin dengan keras dan menginjak perut Shikamaru untuk melewatinya menuju halaman dengan tidak peduli.
"Akkhh!" Shikamaru yang terkejut dan merasa sesak ketika perutnya diinjak langsung duduk terbangun dan menatap tajam istrinya yang sedang mengangkat cucian tadi pagi yang sudah kering. Sedangkan Temari sama sekali tidak merasa bersalah dan menganggap Shikamaru tidak ada.
"Mendokusai!"
Hari ini kediaman keluarga Shikamaru Nara sudah mulai tampak seperti biasanya. Perang dingin sudah sirna, yang ada sekarang perang mulut diantara suami istri itu. Temari yang semakin cerewet dan suka marah-marah, Shikamaru juga semakin sering meladeninya walaupun hanya sebatas mengatakan 'mendokusai' atau 'kau cerewet sekali'.
'Srek!' pintu kamar mandi di geser keras oleh Temari lantas ia kemudian berlari menuju pintu depan rumahnya.
"Shikamaru!" teriak nyonya Nara itu kepada suaminya yang sudah berdiri didepan pintu hendak pergi bekerja. Shikamaru yang tangannya sudah memegang gagang pintu pun berbalik menghadap Temari sambil berdecak. Kedua tangannya ia lipat didepan dada, matanya menyipit seakan berkata 'ada apalagi cerewet?'
"Sudah berapa kali aku katakan padamu bila memakai odol tekan dari bawahnya, bukan dari tengah?" sekarang alis mata Shikamaru telah naik sebelah mentap temari aneh.
"Kau juga menghilangkan tutup odolnya!" ucap Temari garang. Namun belum sempat Shikamaru menjawabnya terdengar suara langkah kaki yang menghampiri mereka.
"Ibu kenapa kau berisik sekali pagi-pagi?" tanya putra mereka Shikadai yang tampaknya terbangun karena suara keras ibunya itu. Rambut hitamnya tergerai acak-acakan dan kedua tangannya masih sibuk mengucek mata sehingga ia tidak bisa melihat raut kesal ibunya. Yaps, Shikadai telah kembali dari misinya dari Suna tadi malam.
Bukannya menjawab pertanyaan Shikadai, kemarahan Temari juga ikut merambah ke anak itu. "kau juga bocah pemalas kenapa baru bangun jam segini? Cepat sarapan kemudian pergi mandi!"
Temari baru saja ingin kembali menuju kamar mandi namun ia sekilas mendengar suaminya itu bergumam 'wanita merepotkan' dan segera berbalik. Dilihatnya Shikamaru sudah keluar dan hendak menutup pintu. Dengan gesit tangannya lansung bergerak melempar odol yang sedari tadi memang ada di gengamannya kearah Shikamaru dan mendarat mulus di kepala laki-laki itu."Kau yang merepotkan, Nanas!"
Kalau ada yang bertanya apa yang paling menyenangkan bagi Shikadai adalah pertama bertemu dengan paman Kankuro dan kedua adalah bermain shogi dengan ayahnya. Sebaliknya bila ditanyai apa yang membuatnya merepotkan adalah berlatih Ino-Shika-Cho dan ibunya.
"Shikadai!" bocah laki-laki yang dipanggil namanya sama sekali tidak menoleh kesumber suara. Bukan karena ia tidak mendengarnya, melainkan sengaja karena ia tahu pasti aka nada hal merepotkan setelahnya. "Shikadai, kau dengar ibu tidak?!"
Melihat putranya itu cuek membuat Temari geram, ia lantas segera menghampiri Shikadai yang sedang bermain game di sofa dan menarik daun telinga kanan bocah itu. "Kau ini sama persis seperti ayahmu, selalu saja membuat ibu marah!"
Temari pun melepaskan telinga Shikadai ketika bocah itu sudah mulai meringis kesakitan. "ibu baru saja dari kamarmu, ya ampun kenapa bisa begitu berantakan?"
Shikadai hanya mengusap=usap telinganya yang memerah tanpa menjawab. "sekarang naik keatas dan rapikan kamarmu! Ibu akan memasak makan siang, sebentar lagi ayahmu akan pulang."
Si Nara kecil itu berjalan menuju tangga dengan malas hingga ketika ia mencapai udakan pertama anak tangga itu pintu depan rumah mereka terbuka menampilkan ayahnya. Shikadai yang melihat ayahnya pulang untuk istirahat dan makan siang langsung mempercepat langkah kakinya, berlari menuju lantai atas. Temari yang melihat hal itu senang karena anak itu mengikuti perintahnya dan kemudian ia pun berlalu ke arah dapur.
Temari telah menyelesaikan urusan masak-memasaknya dan menghidangkannya diatas meja. Dari ruang makan ia dapat melihat kedua pria pemalasnya sedang tampak serius bermain shogi di teras samping. Perempuan itu memutuskan untuk membiarkan mereka bermain sejenak sebelum menyuruh makan siang.
Melihat pakaiannya terdapat noda minyak dan bumbu nyonya Nara itu memutuskan untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia melangkahkan kakinya kelantai atas menuju kamarnya, namun ketika ia melewati kamar Shikadai alangkah terkejutnya ia melihat ruangan itu masih seperti kapal pecah. "anak itu, ternyata ia buru-buru tadi untuk mengambil papan shoginya bukan untuk merapikan kekacauan ini?!"
Kekesalan yang membara langsung melingkupi kunoichi terbaik Suna tersebut, dengan segera ia menghampiri kedua laki-laki yang sedang konsentrasi bermain itu. Tanpa basa basi Temari langsung membuka kipas kyodai sensu milikiny dan menghempaskannya kepada Shikamaru dan Shikadai, sehingga membuat ayah-anak itu terbang melayang.
Sebagai hukuman Shikadai diajak ibunya untuk mengikuti salah satu tradisi klan, yaitu pergi ke hutan bersama beberapa tetua dan perempuan klan Nara lainnya untuk mengurus rusa. Bocah pemalas itu memilih tiduran dibawah pohon bersama dengan beberapa anak rusa ketika Temari sedang lengah karena diajak seorang tetua untuk bicara.
"ini ambillah ramuan tanduk rusa muda ini," ucap seorang wanita tua yang merupakan istri salah satu tetua di klan mereka, "sebagai ketua klan dan asisten hokage pasti membuat Shika-sama kelelahan, ini baik untuk kesehatannya" sambil memberikan bungkusan obat serta tanduk rusa kering kepada Temari.
"terima kasih, tapi aku tidak tahu bahwa tanduk rusa-rusa ini bisa dijadikan obat."
"walaupun kau sudah menjadi bagian klan ini dengan menikahi Shikamaru-sama masih banyak yang belum kau ketahui. Ikutlah denganku, aku akan menunjukan sesuatu padamu." Wanita tetua itu mengajak Temari untuk berjalan semakin kedalam hutan, disana terdapat sebuah bangunan tua yang sepertinya sebuah gudang.
"disini beberapa anggota klan Nara melakukan esperimen untuk membuat obat-obatan dari tanduk rusa. Kau lihat rak itu, disitu tersimpan berbagai jenis ramuan yang telah berhasil dikembangkan untuk kesehatan." Tunjuk tetua itu kepada rak-rak yang tersusun rapi di dinding ketika mereka memasuki gudang tersebut.
"sejak dahulu para pria di klan Nara juga telah mempercayakan ramuan dari tanduk rusa untuk meningkatkan kemampuan vitalis mereka."
Sehabis makan malam, Shikamaru memilih untuk sedikit bersantai menikmati rokoknya sambil menonton televisi. Shikadai memilih menemani ayahnya yang menonton tv sambil bermain game favoritnya, sedangkan Temari menyuci piring di dapur.
"Shikadai, bisakah kau membantu ibu untuk membuat teh dengan ramuan yang kita dapatkan dari tetua klan tadi sore?" pinta Temari dari arah dapur kepada putranya.
"Kenapa bukan ibu saja yang membuatnya?" balas Shikadai malas.
"apa kau tidak melihat ibu sedang sibuk disini?!" Temari mulai menaikan nada suaranya.
Shikamaru yang mendengar percakapan tersebut segera memberikan tatapan kepada putranya itu yang seolah berkata 'turuti saja keinginannya, ayah tidak mau mendengar perempuan cerewet itu marah-marah."
Mendapat tatapan seperti itu akhirnya dengan terpaksa Shikadai menurut juga dan melakukan perintah ibunya untuk membuat the dengan ramuan rusa.
Sejak ia masih kecil Shikamaru tahu bahwa ramuan tanduk rusa yang dihasilkan klannya baik bagi kesehatan, maka ia menikmati meminum teh yang telah dihidangkan putranya itu.
Temari yang telah selesai mencuci piring berpamitan untuk pergi mandi, begitu juga dengan Shikadai yang matanya sudah mulai mengantuk mengundurkan diri untuk tidur menyisakan Shikamaru yang masih asik menonton berita di tv.
Beberapa saat kemudian Shikamaru yang sedang santai mendadak merasakan perasaan aneh menjalari seluruh tubuhnya. Saraf-sarafnya seketika tersa menegang, kepalanya yang tadi terkulai menjadi tegak lurus dengan mata liar, serta ia juga mulai meraung-raung tertahan persis seperti keadaan para rusa jantan yang mulai terangsang mencari jejak betinanya.
Dengan cepat Shikamaru langsung bergegas menuju kamarnya dan membuka pintu dengan terburu-buru, membuat Temari yang baru selesai mandi melemparkan tatapan heran kepadanya.
"apa yang telah kau masukan kedalam minumanku tadi?" tanya Shikamaru langsung ketika ia sudah masuk kamar.
"aku tidak memasukan apapun, ya kalau kau tidak ingat yang membuat minumanmu adalah Shikadai buka aku," balas Temari cuek.
"kalau begitu, katakana padaku ramuan the rusa apa yang kau suruh untuk dihidangakan oleh anak itu?" Shikamaru mencoba masih berpikiran dingin walaupun sekujur tubuhnya sekarang terasa panas.
Temari hanya mengangkat bahu,"entahlah, tetua klan yang memberikannya padaku. Kau tanyai saja kepada mereka, karena katanya itu baik untuk kesehatan."
"Temari, kau telah mengusik rusa jantan yang sedang tertidur." Shikamaru menunjuk kebagian bawah yukatanya yang tersibak karena ada sesuatu yang menonjol disana.
"aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ucap Temari seolah tidak mengerti, "sekarang keluarlah kau masih belum aku ijinkan untuk tidur dikamar ini."
Bukannya menuruti perintah Shikamaru malam semakin masuk kedalam kamar setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan rapat. "aku tidak akan pergi kemana-mana dengan keadaan seperti ini."
Setelah mengatakan itu Shikamaru segera melepas semua atribut yang melekat di tubuhnya. Ia berdiri dengan tegap tanpa sehelai benangpu menutupinya dari mata Temari yang menatap kagum kearah selangkangannya. Disitu tergantung kejantanannya yang telah mengeras maksimal dengan ujung membengkak merah karena birahi.
"bersiaplah karena tanduk rusa jantanku ini akan menyerudukmu habis-habisan mala mini," tanpa di komando lagi Shikamaru langsung saja menyerang Temari. Ia mencium bibir istrinya itu dengan sangat liar. Shikamaru terus saja melumat bibir atas dan bawah Temari secara bergantian, kemudian menurunkan jajahannya kearah leher temari sambil mengigit-gigit kecil.
Lidah Shikamaru yang basah dengan perlahan menari-nari lembut di permukaan kulit Temari. Ujung benda tak bertulang itu kini tengah menggelitik puncak-puncak payudara Temari yang telah terekspos karena jubah mandinya telah menghilang entah kemana.
"Shikaa.." desah Temari tertahan ketika jari-jari tangan kiri Shikamaru memasuki celah hangat diantara selangkangannya.
"hemm?" gumam Shikamaru sambil terus menikmati bukit kembar Temari yang menggairahkan itu.
"Shika…,ohhh.." mendengar desahan tertahan Temari membuat Shikamaru melepaskan kulumannya dari dada Temari dan menatap mata jade istrinya itu.
"aku selalu penasaran kenapa kau mendadak menjadi pendiam disaat seperti ini," sambil masih terus mempermainkan jarinya di selangkangan Temari, "aku ingin kau tetap cerewet seperti biasanya, berisik dan berteriak memanggil namaku dengan suara keras."
"ohh..ohhh..ahh..shika, ah.." temari hanya mampu mengeluarkan desahan untuk menikmati sensasi jari Shikamaru.
Shikamaru menarik jarinya yang telah basah dengan cairan kental Temari dari dalam celah lembab itu. Kemudian ia mengusap-usap batang kejantanannya seperti mempersiapkan senjata untuk berperang. "kalau mulut cerewetmu itu mau mengeluarkan suara keras, mungkin ini bisa membantu."
Dengan begitu Shikamaru segera melebarkan kedua paha Temari dan memposisikan diri diantaranya. Setelah merasakan cukup pas dengan sekali hentakan keras ia berhasil memasuki Temari dan menyatukan tubuh keduanya. Kemudian dengan kasar Shikamaru terus melaju menumpahkan semua hasratnya hingga ia puas dan jatuh tertidur.
Shikamaru turun dari lantai atas dengan keadaan rapi. Telinganya yang bertindik itu tidak sengaja mendengar gerutuan yang keluar dari bibir putranya Shikadai. Ia yang tadinya ingin segera berangkat kerja mengurungkan niatnya dan ingin mengintip sebentar mencari tahu penyebab gerutuan anaknya.
Diruang keluarga ia melihat Shikadai yang sedang duduk di depan ibunya. Temari tampak sedang sibuk mengepang rambut hitam panjang Shikadai. Dan wajah anak putranya itu tampak lebih feminim. 'Tunggu, feminim? Apakah putranya itu sedang dipakaikan make-up?!'
"Temari, apa yang sedang kau lakukan pada Shikadai?!" teriak Shikamaru panik.
Mendengar suara ayahnya membuat Shikadai langsung menoleh dengan tatapan memohon, "Ayah, selamatkan aku!"
"aku kan sudah mengatakannya padamu kalau aku ingin anak perempuan, jadi sekarang aku hanya membayangkannya saja," jawab Temari santai sambil mencoba memasangkan jepitan bunga krisan dirambut Shikadai yang telah selesai dikepangnya. Namun belum sempat jepitan itu menyentuh rambut hitam Shikadai pergerakan Temari terhenti karena kagemane no jutsu Shikamaru. Yang ada dalam pikiran pria itu sekarang adalah bagaimana cara membebaskan putranya dari hal nista ini.
Shikadai yang telah terlepas dari intimidasi ibunya langsung saja bangkit dan berlari kearah ayahnya meminta perlindungan. "Ayah! kau berikan saja ibu cerewet itu anak perempuan supaya tidak menggangguku lagi," mohonnya kepada Shikamaru.
Dikantor hokagepun Shikamaru tampak tidak serius melakukan pekerjaannya, apalagi hari ini ia tampak uring-uringan karena tingkah laku Temari yang dirasanya mulai keterlaluan. Mencuri ramuan keperkasaan tanduk rusa dari gudang dan menukarkannya dengan ramuan rusa yang diberikan tetua. Apalagi ketika mengingat kejadian malam sebelumnya yang ia dengan gampangnya terkecoh sehingga jatuh kelubang nafsu, terlebih ketika ia mengingat menumpahkan semua cairannya kedalam rahim Temari tanpa perlindungan sama sekali. Dan tadi beraninya perempuan itu mendadani anak laki-lakinya seperti gadis.
Naruto yang berada seruangan dengannya pun sering terkena imbas sikapnya yang kurang stabil ini, walaupun masih bisa ditutupinya dengan baik.
Ketika malam hari saat ia pulang, Shikamaru mendapati Temari sedang berbincang dengan dua orang pemuda yang sepertinya masih berumur awal duapuluh. Ketika semakin mendekati kediamannya ia semakin jelas melihat kedua pemuda tadi yang merupakan shinobi dari desa Suna, hal tersebut terlihat dari tanda pengenal dan pakaian mereka.
"apa yang mereka lakukan disini?" tanya Shikamaru langsung setelah kedua pemuda tadi pergi,"kau sepertinya terlihat gembira."
"oh, mereka hanya mengantarkan titipan dari Kankuro untuk Shikadai." Jawab temari sambil lalu masuk kedalam rumah, "selain itu mereka tadi memujiku mengatakan kalau aku masih sangat cantik dan awet muda."
"kalau begitu mata kedua pemuda itu pasti bermasalah karena sering kemasukan pasir Suna," Shikamaru menyahuti dengan nada meremehkan yang membuat Temari jengkel mendengarnya.
Setelah melewati malam panas tempo hari, akhirnya Shikamru telah diijinkan kembali untuk tidur didalam kamar bersam Temari. Langit malam sudah sangat larut, namun sepasang manusia masih belum bisa tertidur walaupun mata mereka terpejam.
"Shikamaru," panggil Temari memecahkan keheningan, "kau tahu, salah seorang dari pemuda Suna itu tadi pernah menyatakan perasaannya kepadaku dulu."
Temari tahu walaupun Shikamru tidak menyahut namun pria itu mendengarkannya, "saat itu baru saja selesai berperang, dan pemuda itu masih berada di bangku akademi namun dia dengan berani mendeklarasikan rasa sukanya padaku didepan orang-orang desa yang menyambut kepulangan kami."
Senyum Temari tercetak di bibirnya saat ia mengingat masa lalu, "tapi lihat sekarang, bocah itu telah tumbuh mwnjadi lelaki muda dewasa yang tampan dan gagah. Alangkah senangnya aku mendengar pemuda seperti mereka masih memujiku."
"cih, apanya yang cantik?! Perempuat tua cerewet sepertimu terlalu genit dengan yang muda-muda sepertiku." Ucap Shikamru ketus masih dengan mata yang terpejam. Sebenarnya Shikamaru tidak mau mengakuinya dia sedikit jengkel tadi saat Temari sedikit merona ketika berbicara dengan para pemuda itu, apalagi mendengarnya sendiri dari mulut temari saat ini. Lagian ia merasa cukup muda, secara umurnya yang memang dibawah Temari tiga tahun.
"maksudmu itu kau?" ck, temari mulai merendahkannya lagi, "walaupun kau lebih muda dariku, tapi penampilan dan gairah hidupmu itu seperti lelaki tua yang umurnya sepuluh tahun diatasku. Kau Cuma beruntung aku jatuh cinta dengan strategi cerdik yang ada diotakmu saat itu."
"kalau hal dulu itu terjadi sekarang aku pasti sudah memilih pemuda tadi yang bernama Senyaku. Dari namanya juga kan sudah terdengar kalau dia itu ahli dalam strategi," Temari menambahkan, "apalagi dia itu keponakannya senseiku dulu, jadi aku yakin Senyaku dapat mengikuti jejak pamannya Baki si ahli strategi militir Suna."
Shikamaru segera saja berbalik dan mengukung tubuh Temari. Posisinya sekarang sudah berada diatas tubuh Temari dan kedua tangannya mencengkram pergelangan tangan Temari diatas kepala. Saat ini sangat kesal kepada istrinya itu.
"tidak ada seorangpun yang lebih ahli dalam menyusun strategi dibandingkan Nara shikamaru!" ucapnya memperingatkan dan kemudian membungkam bibir Temari yang ingin membantah dengan ciuman.
"hmmmpppp…lepas!" teriak Temari seraya mendorong Shikamaru. Namun Shikamaru kembali menciumnya dengan kasar.
Melihat Temari yang mulai terlena, Shikamaru tersenyum kemudian mencium leher jenjangnya, menjilatnya dan sesekali mengigitnya. Shika terus menjelajahi leher Temari dengan bibir mungilnya membuat Temari kegelian, "sshh Shika hentikan" bisik Temari sambil berusaha mendorong badan Shika dari tubuhnya.
"mmphh..tidak mau" bisik Shika dengan nada sensual tanpa melepaskan ciumanya dileher Temari yang mulai bertebaran bercak merah.
Shikamaru yg sudah tak tahan lagi dengan desakan kejantananya segera melepaskan pakaiannya dan Temari. Beberapa saat kemudian ia menaikkan bra Temari, menampakkan kedua payudaranya kemudian memilin-milin puncak yang merah sehingga membuat Temari menggelinjang. "Ouhh…"
Beberapa detik kemudian, Temari sadar kalau Shikamaru memasukkan jarinya yang tadinya merabai setiap inchi kulitnya kedalam lubang rahasianya yang lembab dan mengobok-obok segala sesuatu yang ada di dalam sana. Membuat Temari mendesah lebih keras lagi. "Aahh… engh.."
Melihat wajah Shikamaru penuh kemenangan itu membuat Temari ingin balas dendam. Perlahan-lahan, satu tangannya ia turunkan dari bahu Shika, meraba perutnya dan kemudian meraba kejantanannya. Temari meremas-remas benda itu yang saat ini terasa mengeras di tangannya tersebut.
"Oouuhhh…" desah mereka bersamaan kerena Shikamaru juga tidak sengaja menggit sebelah puncak dada Temari yang ia kulum. Merasakan gairah yang semakin menuntut akhirnya Shika memperbaiki posisi mereka untuk dapat meraih kepuasan bersama.
Shikamaru menggenggam juniornya kemudian berusaha memasukannya ke lubang Temari tanpa beranjak dari atas tubuh Temari dan bibir mereka kembali saling berpangutan mesra.
xxx
Shikamaru memandangi wajah istrinya yang sudah tertidur karena kelelahan karena aktifitas mereka tadi malam. Wajah penuh kepuasan dan senyum tercetak dengan sangat jelas. Kini shikamaru baru tersadar kembali bahwa istrinya itu telah berhasil mengoyak-ngoyak harga dirinya dan sekali lagi telah terjebak dengan rencana Temari.
Kali ini dengan penuh tekat ia akan memutuskan untuk mengintrogasi istrinya itu ketika bangun. Ia begitu penasaran apa yang membuat Temari mendadak menginginkan anak perempuan. Yang usut punya usut keinginan Temari muncul hanya karena melihat kemesraan Hinata dan Himawari.
'Awas kau Naruto! Kalau saja kau tidak melaini dengan mempunyai anak dua perempuan merepotkan ini tidak akan selicik sekarang.' Sambil bergumam Shikamaru pergi berangkat kerja dengan menyusun strategi untuk melampiaskannya ke Naruto.
Flashback off.
"Ya, jadi hanya karena itu kau menjadi menyiksaku?!" tunjuk Naruto kesal kearah Shikamaru.
"Tapi Shikamaru, apakah aku bisa meminta ramuan rusa yang kau ceritakan tadi?" mohon Naruto setelahnya dengan mata yang berbinar penuh harap.
Langsung saja Nandaime itu mendapat tendangan bertubi-tubi dari Shikamaru dan Sasuke yang kesal dengan isi otak Naruto. Sedangkan Sai hanya menatap prihatin hokage yang telah tergeletak itu.
TBC
Author note : terima kasih sudah mau membaca dan menantikan kelanjutannya :) :)
Untuk pairing kali ini author cukup bingung membuat alur ceritanya, sekalinya dapat malah jadi kepanjangan seperti ini. Semoga kalian tidak bosan membacanya. Dalam adegan lemon ShikaTema author juga sudah berusaha lebih dari chap sebelumnya sampai-sampai jari author jadi keriting mengetiknya. Jujur belum sanggup, hehehe..
Untuk yang menantikan pairing Sasusaku diharap masih harus bersabar ya.. semoga chapter kali ini juga bisa menghibur para pembaca sekalian..
Makasih loh buat reviewnya: williewillydoo, notorius, Byakugan no Hime, UchiHaruno Sya-Chan, beautifullcreature, nomera, Sondankh641, looklivewithlove, Greentea Kim, yuki, ScarletSherry, Marciana, Naraaa, ST, undhott, Virgo Shaka Mia, Nurulita as Lita-san, luxianapmega, Mustika447, hikarishe.. kalian menjadi semangatku!
