Maafkan karena baru update, dan maafkan juga untuk cerita yang biasa ini, yang salah ejaan, typo, ooc bertebaran… author sudah melakukan yang terbaik jadi selamat menikmati membaca :)
My Very Shy Wife
Naruto by Masashi Kishimoto
Pair : Naruto-Hinata
HAHAHAHA…,tawa Naruto masih tampak menggelegar mengisi ruangan hokage itu. Ia sangat puas mendapati kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan oleh sahabatnya seperti saat ini. Di dunia ini ada dua hal yang membuat daya kerja otaknya berputar dengan sangat cepat. Pertama adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kata 'mesum' seperti yang telah diwariskan oleh gurunya si petapa genit. Dan kedua adalah rencana untuk menaklukan rival abadinya Uchiha Sasuke.
Hehehe, masih dengan cengegesan Naruto menanamkan kejadian hari ini di ingatannya, pada saatnya tiba ia akan menggunakannya untuk mengancam Sasuke supaya menuruti keinginannya. Si Teme itu pasti akan dibuat sengsara apabila Sakura mengetahui kalau suaminya tercinta membocorkan hal intim mereka terlebih dengan bukti nyata seperti yang terdapat pada gulungan laporan ini.
'plak' Shikamaru memukul kepala belakang Naruto sehingga jidat sang Nandaime terbentur kemeja kerjanya. Shikamaru paling tidak suka melihat orang yang menganggap enteng misinya walaupun itu misi ringan, nah ini si Sasuke yang baru diketahuinya memiliki mesum malah seenaknya. Oleh sebab itu ia melampiaskan ketidaksukaannya ke sang hokage yang sedang cengegesan senang, selain itu ia tidak mau mengambil resiko mengusik Sasuke yang terkenal dengan sifat tempramentalnya. Toh, mereka juga tidak terlalu akrab, jadi memukul Naruto adalah pilihan terbaik.
"Shikamaru kenapa kau memukulku lagi? Meja ini sangat keras ttebayo, kepalaku bisa pecah.." protes Naruto namun Cuma dibalas dengusan dari asistennya itu.
"hemm.. Uchiha-san, bagaima caranya kau bisa menaklukan si jelek yang bagai singa pemarah itu menjadi jinak seperti anak kucing?" Sai yang penasaran bertanya untuk mengisi keheningan yang sempat terjadi.
"apakah kau bisa menuliskannya disebuah buku? Agar aku bisa membacanya untuk menaklukan istri monsterku yang cantik itu..," lanjut Sai lagi. Namun belum sempat Sasuke membalas dengan amarahnya yang mulai terpancing tiba-tiba saja pintu ruangan hokage itu terbuka membuat orang yang didalamnya segera menoleh kesitu.
Chouji yang tadi membuka pintu menjadi bingung karena keempat pria yang ada disitu menatapnya, terlebih lagi Sai yang terlihat sangat terkejut dan ketakutan sehingga wajahnya yang pucat semakin pucat lagi.
Yang membuat Sai berespresi seperti itu bukan karena kehadiran Chouji namun seorang dibelakang tubuh tambun Choujilah penyebabnya, seorang perempuan cantik yang saat ini terlihat sangat menyeramkan dimatanya. Siapa lagi kalau bukan sang istri Yamanaka Ino yang terlihat marah. "Sai, siapa yang kau sebut sebagai monster?!"
Sai menelan ludahnya dengan susah payah tidak bisa menjawab. Ino segera masuk keruangan hokage itu untuk menghampiri suaminya yang menghilang ketika dia bangun tadi. "Sedang apa kau disini?! Bukankah kau tidak ada misi? Aku sudah mencarimu kemana-mana, kau tiba-tiba saja menghilang saat aku bangun!"
Dengan panik Sai segera saja meraih gulungan terdekat yang ada diatas meja kerja Naruto dan mengacungkannya kedepan wajah Ino. "Misi, a-aku mendapatkan misi medadak," Sai segera memberikan alsan agar bisa segera kabur dari Ino namun suaranya bergetar dengan gugup, "Kalau begitu aku akan segera berangkat."
Sai yang hendak pergi dihentikan oleh Ino, "Tunggu, sepertinya aku mencium bau aneh digulungan itu." Sasuke yang mendengar perkataan Ino tersebut menjadi sweat drop, ia ikutan gugup. Saat tadi Sai mengacungkan gulungan itu kedepan wajahnya, Ino yang memang memiliki hidung peka karena terbiasa membedakan aroma bunga-bunga menjadi sensitive ketika mengendus aroma lain. Dengan cepat Ino segera mengambil alih gulungan yang dipegan oleh Sai itu guna memastikan penciumannya sekali lagi.
"Jangan!" teriak Shikamaru dan Sai secara bersamaan ketika Ino ingin mengendusnya sehingga membuat pergerakannya terhenti. Namun hal tersebut membuat Ino menjadi semakin penasaran dan ingin melanjutkan tindakannya. Kali ini sebelum hal itu terjadi Sasuke dengan sangat cepat meraih gulungan tersebut dan membakarnya dengan api amaterasu.
Chouji yang diam saja dari tadi sambil memperhatikan akhirnya buka suara, "sebenarnya ada apa ini, kenapa gulungan tersebut harus dimusnahkan seperti itu?"
"Hahaha, itu karena digulungan itu terdapat cairan cinta Sasuke-teme menempel disana!" Naruto menjawab dengan sangat bersemangat dan senang. Tapi hal tersebut hanya sementara saja, karena untuk sekali lagi sang nandaime harus menerima serangan double dari Shikamaru-Sasuke yang membuatnya tepar tak berdaya.
Hal tersebut membuat Chouji semakin bingung saja apalagi Naruto sampai kena hajar seperti itu, "cairan apa, kenapa bisa menempel?"
"itu karena Uchiha-san tidak bisa menahan nafsunya dan mencmbui Sakura dengan liar di hutan saat menjalankan misi," mulut dan otak Sai yang terkenal tidak bisa menyaring perkataan mana yang bisa diucapkan atau tidak berbicara sesukanya.
Darah Sasuke langsung mendidih dibuatnya, ia ingin menebaskan pedang kusanagi miliknya kearah Sai. Tapi sayang sekali hal tersebut tidak terjadi karena Ino lebih dahulu bergerak untuk menghajar suaminya itu, membuat yang ada disitu terkesip kaget. Dengan kesal Ino menghampiri Sai yang sudah tergeletak juga disamping Naruto, dan menyeret suaminya itu keluar ruangan sambil mengomel, "Seharusnya sibodoh ini juga melakukan hal yang sama seperti Sasuke!"
"Hey, Sai sadarlah!" teriak Ino dengan suara keras walaupun sudah berada di lorong suaranya masih terdengar sampai kedalam ruangan hokage, "kau itu suamiku bukan sih? Kenapa kau sama sekali tidak berhasrat untuk mencumbuiku dengan liar?! Cepat bangun sebelum aku harus terpaksa menggunakan Shintanshin no Jutsu untuk bercinta denganmu!" lanjut ino dengan tidak tahu malu walaupun terdengar samar.
Shikamaru, Sasuke dan Chouji terperangah mendengar perkataan Ino, mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi terhadap Sai selanjutnya. Sedangkan Naruto masih setia tergeletak dilantai sejak dikeroyok Sasu-Shika tadi.
Setelah suara Ino tidak terdengar lagi Chouji mengalihkan perhatiannya kepada Sasuke, "Sasuke-san apakah itu artinya kau akan memberikan Sarada adik?"
Mendapat pertanyaan seperti itu mendadak membuat Sasuke menjadi malu kembali, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tanpa berniat menjawab ia segera mengambil posisi di kusen jendela untuk pergi. Namun sebelum ia menghilang Sasuke masih sempat memberikan peringatan kepada mereka tanpa berbalik karena menyembunyikan rona merah tipis di pipinya.
"aku harap pembicaraan ini tidak diketahui oleh siapapun, terlebih lagi Sakura." tekan Sasuke dengan datar penuh ancaman.
Selepas kepergian Sasuke, Shikamaru mengambil inisiatif untuk mengecek keadaan Naruto yg belum tersadar. Ia segera merasa menyesal karena sedikit khawatir, ternyata sang hokage malah mempergunakan kesempatan itu untuk istirahat tidur siang.
"bagaimana keadaan Naruto?"
"tidak perlu khawatir kepada hokage bodoh ini, ia hanya tertidur. Jadi apa yang membawamu kemari Chouji?"
Shikamaru dan Chouji memutuskan pulang lebih dahulu meninggalkan Naruto yang masih tertidur di kantornya. Kedua pria ini berjalan beriringan menapaki jalanan didesa konoha menuju kediaman mereka dengan santai.
"Shikamaru," Chouji mencoba membuka pembicaraan diantara mereka, "aku mendengar dari Karui, sepertinya istrimu berkeinginan untuk memiliki seorang anak perempuan ya?"
'Ck!' Shikamaru berdecak kesal karena Chouji mengigatkannya akan keinginan Temari yang membuat ia sedikit kerepotan belakangan ini.
"kenapa kau terlihat kesal, Shika? Bukankah kau dulu punya rencana untuk memiliki sepasang anak, laki-laki dan perempuan jika sudah menikah?"
"itukan hanya rencana saja," jawab Shikamaru malas seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, " lagi pula semua rencana yang telah kususun untuk hidupku menjadi berantakan hanya karena aku bertemu dengan perempuan merepotkan itu."
"maksudmu Temari-san?"
Shikamaru mengangguk mengiyakan, "aku dahulu hanya berencana menikahi perempuan biasa yang tidak cantik dan merepotkan, dan sekarang aku malah berakhir menikahi putri cantik dari sunagakure. Memiliki anak perempuan lebih dahulu juga berantakan karena Shikadai hadir lebih dulu. Semua sudah tidak sesuai dengan rencana."
"oh, begitukah? Aku kira kau tidak mau memiliki anak lagi karena takut jika bayinya itu perempuan sehingga harus merelakannya dibawa ke sunagakure."
Perkataan Chouji tersebut membuat Shikamaru tersentak, mendadak kepalanya menjadi berat karena memikirkan hal itu.
Flashback on:
"kau tahu konsekuensi apa yang harus kau ambil jika menikahi putri desa kami?" tanya Kankuro sarkastik kepada Shikamaru, "apalagi kau itu adalah pimpinan klan di desamu."
Saat ini Shikamaru tengah berdiskusi bersama Sabaku bersaudara prihal niatnya untuk menikahi kakak mereka yang juga putri desa Suna yang tak lain adalah Temari.
"salah satu dari kalian harus mengalah dan berpindah desa. Aku sudah tahu bahwa kak Temari akan mengalah dan mengikutimu untuk tinggal di konoha, kami tidak akan bisa mencegah keinginannya yang keras kepala dan itu tandanya desa kami akan kehilangan putri. "
Kankuro masih berusaha menggugurkan niat baik Shikamaru tersebut sedangkan Gaara sang kage dari suna yang sekaligus merangkap sebagai adik terkecil mereka hanya diam saja. "jadi sebagai balasannya jikalau kalian nanti memiliki anak perempuan, kau harus rela untuk menjodohkannya dengan pria dari sunagkure agar putri kami yang hilang kembali."
Flashback off.
Shikamaru menjadi stress mengingat perkataan saudara iparnya tersebut, ia segera mengeluarkan rokok dari sakunya, menyalakan dan menghisap nikotin itu dengan dalam. "kau ini Chouji, membuat aku pening saja. Mendokusai!"
Saat terbangun Naruto mendapati ruangannya kosong. Ia kesal karena mengetahui bahwa rekan-rekannya telah meninggalkan ia yang tadi tengah tertidur, terutama yang telah menganiaya dirinya tadi. Naruto juga tidak ma uterus-terusan berada di ruangan hokage sehingga ia memutuskan untuk ikutan pulang setelah meninggalkan salah satu bunshinnya bersama asistennya yang lain yaitu Moegi dan Udon untuk menstempel berkas-berkas.
"Tadaima," salam Naruto ketika memasuki kediamannya, ia mendengar derap kaki kencang yang menuju ke arahnya yang sedang melepaskan sepatu.
"Okaeri, otou-chan!" balas Himawari putri kesayangan Uzumaki dengan semangat untuk menyambut ayahnya. Setelah selesai melepas sepatunya Naruto langsung saja menggendong anak perempuannya itu, kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Hinata yang berjalan kearah mereka.
"Tadaima, Hime-chan..," sapa Naruto kemudian yang membuat Hinata tersipu malu dipanggil seperti itu.
"okaeri Naruto-kun," jawab Hinata dengan lembut sapaan suaminya itu.
"Otou-chan, kenapa hari ini kau pulang cepat?" tanya Himawari yang masih berada dalam gendongan ayahnya.
"itu karena otou-san ingin bermain bersama dengan Hima-chan. Otou-san merindukanmu, ttebayo." Jawab nNaruto seraya berjalan kearah ruang keluarga mereka, " dimana onii-san mu? Otou-san tidak melihatnya."
"Boruto-kun belum pulang dari berlatih bersama Mitsuki-san dan Sarada-chan." Hinata mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Naruto.
Keluarga kecil Uzumaki kini tengah menikmati hidangan makan malam yang telah disiapkan oleh Hinata. Anak tertua mereka masih belum pulang sehingga mereka makan bertiga lebih dahulu karena si kepala keluarga sudah tidak bisa menahan rasa lapar diperutnya, apalgi melihat ada ramen panas yang tersedia diatas meja makan itu.
Mereka menikmati makan malam sambil diselingi dengan obrolan-obrolan ringan yang didominasi oleh Himawari yang asik bercerita dengan kegiatannya sehari-hari kepada sang ayah. Untuk sejenak kegiatan mereka terhenti karena mendengar suara pintu rumah dibuka.
Tanpa mengucapkan salam apapun, Boruto anak tertua keluarga ini memasuki ruang makan karena tadi mendengar celotehan riang dari adiknya berasal dari sana. Ia juga tampak kaget mendapati ayahnya yang sibuk sedang makan malam bersama dengan adik dan ibunya diruangan itu.
"onii-chan, okaeri!" sambut sang adik dengan riang kepada Boruto yang menampakan diri.
"Ah, kau sudah pulang rupanya," sapa sang ayah kemudian, "kemarilah, kita makan bersama ttebayo!"
Boruto menggelengkan kepalanya, "apakah kau beneran ayahku?"
"tentu saja ttebayo! Kau ini, otou-san kan sudah berjanji untuk lebih banyak meluangkan waktu bersamamu dan Himawari."
"okaa-san aku makannya nanti saja jadi tolong sisihkan bagianku, aku ingin mandi dan beristirahat dulu" pinta Boruto kepada ibunya tanpa menggubris sang ayah. "badanku rasanya pegal sekali, ttebasa!" katanya kemudian seraya meninggalkan ruangan itu menuju lantai atas ke kamarnya.
Hati Naruto sedikit sakit mendengar perkataan sarkastik dari putranya itu, namun ia sedikit merasa lega saat melihat ada senyum tipis yang samar tersunging di bibir Boruto saat berbalik ingin pergi. Naruto tahu hubungannya dengan Boruto semakin hari semakin baik walaupun putranya itu masih saja bersikap pura-pura ketus kepadanya.
"Otou-chan," suara nyaring Himawari membawa Naruto kembali dari lamunannya. Putrinya ini masih asik saja berceloteh, " tadi Hima dan kaa-chan bertemu dengan bibi Ino, bibi Karui dan paman Chouji. Mereka sepertinya sedang mencari paman Sai yang menghilang," lanjutnya bercerita.
"Hima sangat senang karena bibi Ino bilang Himawari anak yang sangat manis dan ia ingin memberikan Inojin nii-san adik yang semanis Hima."
"Benarkah?" tanya Naruto dengan wajah yang dibikin-bikin tampak sangat tertarik kepada cerita putrinya dan disambut oleh anggukan semangat oleh Himawari. Hinata hanya tersenyum melihat obrolan antara keduanya sambil mengelus surai indigo anaknya.
"kalau begitu apakah Hima-chan juga mau memiliki seorang adik? Nanti akan otou-san buatkan." Tanya Naruto kepada Himawari seraya melayangkan kerlingan nakal penuh menggoda kepada istrinya. Hinata yang mendengarnya langsung saja malu karena mengerti akan maksud terselubung suaminya ituwajahnya sudah memerah padam.
Namun berbeda dari kedua orangtuanya, Himawari lantas berekspresi tidak suka, bibir mungilnya merengut dan kedua tangannya ia lipat didepan dada tanda tidak setuju dengan usulan ayahnya itu, "Hima, tidak mau punya adik!"
Satu hal yang tidak diketahui kunoichi lain yang tampak iri kepada Hinata adalah Himawari bisa bersikap seperti saat ini. Saat diluar rumah Himawari selalu bersikap manis dan menggemaskan karena sebelumnya sudah diperingatkan terlebih dahulu oleh ibunya agar bersikap baik dan sopan. Namun bila sedang berada dirumah seperti ini terlebih ketika ada ayahnya ia akan sangat manja dan keras kepala.
"kenapa Hima-chan tidak mau? Bukankah sangat menyenangkan punya adik, bisa bermain seperti Hima-chan ke Boruto?" tanya Naruto heran melihat perubahan mood anaknya.
Himawari menjadi sangat kesal ditanyai seperti itu, tanpa sadar ia mengaktifkan byakugan pada matanya yang menurun dari sang ibu. "Hima tidak mau punya adik, nanti otou-chan, okaa-chan dan Boruto nii-chan tidak sayang lagi kepada Hima!"
Naruto dan Himawari terkesip melihat amarah putri mereka yang baru mereka sadari memiliki sifat yang sangat pencemburu, terlebih lagi melihat byakugan yang telah aktif kembali.
"Otou-chan tidak mau kan Hima pukul seperti waktu itu?" ancam Himawari yang mengacu kepada kejadian dua tahun silam saat pelantikan Naruto menjadi Hokage. Suara dingin Himawari itu membuat bulu kuduk Naruto merinding ia tidak menyangka putrinya yang manis dapat berubah semengerikan ini.
"Himawari!" teriak Hinata, ia mencoba memperingatkan anaknya itu untuk menonaktifkan mata byakugan, "hentikan! Jangan bersikap seperti itu dan bertidak sopanlah kepada otou-san."
Himawari yang dipenuhi rasa takut kehilangan perhatian tidak mendengarkan ibunya. Dengan takut-takut Naruto mengambil posisi sedikit berjongkok dihadapan putrinya untuk menyamakan tinggi supaya bola mata safirnya bisa sejajar dengan bola mata Himawari.
"Ba-baiklah Hima-chan tidak akan ada adik, otou-san berjanji padamu" Naruto mengiyakan keinginan putrinya itu, "tapi Hima-chan juga harus berjanji kepada otou-san supaya tidak cepat tumbuh dewasa."
Naruto dengan sedikit licik menambahkan, "terutama Hima-chan tidak boleh jatuh cinta dan menikah dengan laki-laki lain, selamanya menjadi putri kecil otou-san saja, ttebayo!"
Himawari yang mendengar hal tersebut segera mematikan byakugannya, kini mata safirnya menyiratkan kebingungan, "kenapa Hima tidak boleh menikah?"
Dalam hati Naruto mengucap banyak terima kasih kepada Sasuke, karena ia mengingat cerita sahabatnya itu. Sepertinya semua anak perempuan sangat takut tidak mendapatkan ijin dari ayahnya untuk menikah. "Hima-chan kan putri tou-san satu-satunya, jadi tou-san tidak mau cinta Hima terbagi ke laki-laki lain."
Hinata tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Naruto itu, namun ia segera menjadi tersipu malu ketika mendengar kelanjutannya, " tapi kalau Hima-chan memiliki adik perempuan tou-san tidak perlu khawatir dan dapat mengijinkanmu menikah."
"kalau begitu kaa-san berikan Hima seorang adik untuk otou-san!" pinta Himawari dengan semangat kepada Hinata yang sudah seperti kepiting rebus apalagi ketika melihat seringai Naruto yang mesum itu. Untuk menghilangkan rasa gugup dan malunya Hinatapun bertanya, "apakah itu tandanya Himawari-chan saat ini mempunyai orang yang disukai?"
Himawari pun ikutan menjadi malu disuguhi pertanyaan seperti itu oleh ibunya, ia kemudian menganggukan kepalanya untuk membenarkan.
"Eh?" reaksi kaget Naruto tidak menyangka putri kecilnya sudah menyukai anak laki-laki secepat ini. "Hima-chan jangan tinggalkan tou-san, kau tidak boleh mencintai laki-laki selain tou-san!" protes Naruto tidak terima.
Karena tidak sanggup menahan rasa malunya akhirnya Himawari berlari meninggalkan ayah dan ibunya ke kamarnya yang berada dilantai atas. Naruto segera mengejar putrinya itu setelah tersadar dari rasa syok, "tou-san tidak akan jadi memberikanmu adik!" teriak Naruto lebih frustasi.
Saat ingin melangkahkan kakinya di undakan anak tangga, tiba-tiba saja ada tendangan dari langit yang mengenai pipi kanan Naruto. Hinata yang berjalan dibelakang Naruto dengan sigap menahan tubuh pria itu yang terhuyung agar tidak sampai jatuh.
"Boruto!" teriak Hinata memarahi kelakuan putranya itu, sang pelaku tendangan langit.
"Ya, lelaki tua! Bagaimana bisa kau memikirkan memiliki anak lagi sedangkan kau sangat sibuk untuk bisa bermain bersama Himawari?" protes Boruto kesal, ia tidak akan membiarkan ibunya terbebani dengan mengurus satu orang anak lagi tanpa bantuan ayahnya. Setelah mengatakan itu Boruto langsung kembali lagi keatas menuju kamarnya, pintu kamarnya terdengar ditutup dengan keras.
Sebenarnya tadi Boruto tidak sengaja mendengar pembicaraan antara adiknya dan ayahnya. Ia tadinya ingin turun kebawah untuk makan karena perutnya sudah mulai kelaparan, namun rasa laparnya itu segera hilang karena mendengar rengekan Naruto.
Selepas ditinggalkan Boruto, Hinata segera mengecek permukaan wajah suaminya yang terkena tendangan tadi. Ia bersyukur karena tidak ada bekas luka ataupun lebam. Namun sang suami memiliki pemikiran lain, Naruto segera memanfaatkan momen ini untuk bisa bermanja-manja kepada Hinata yang memang sudah jarang dilakukannya.
"Hinata-chan, pipiku rasanya sakit sekali..," rengek Naruto manja sambil menyandarkan kepalanya kedada sang istri. Hinata yang melihat suaminya mulai manja hanya membiarkannya saja sambil mengelus kepala Naruto dengan sayang.
"Hari ini aku juga diperlakuakan tidak adil oleh Shikamaru dan Sasuke-teme, mereka seharian terus menghajarku habis-habisan sampai badanku juga ikutan sakit semua," Naruto mulai mengadu atas perlakuan yang diterimanya hari ini kepada Hinata dan kali ini dengan sengaja ia membenamkan kepalanya diantara celah payudara istrinya yang sangat besar itu.
"rasanya sakit sekali, Hime…" rengeknya semakin manja. Naruto juga semakin memperdalam kepalanya, ia menyeringai senang karena Hinata tidak menaruh rasa curiga kepadanya yang sebenarnya ingin merasakan dada empuk istrinya itu lama-lama. Saat Naruto mulai menggesek-gesekan permukaan wajahnya di payudara besarnya, Hinata sama sekali tidak peka ia malah hanya tertawa kecil karena menurutnya kelakuan Naruto sangat kolokan.
Baru saat kelakuan Naruto mulai nakal dengan menggigit-gigit kecil permukaan payudara besarnya yang masih dilapisi baju itu, Hinata baru merasa curiga bahwa Naruto memiliki maksud terselubung padanya. "Naruto-kun apa yang sedang kau lakukan?"
"Hehehe," Naruto nyengir kuda karena niatnya sudah ketahuan. "Hime, ayo kita buatkan adik baru buat mereka."
"Ta-tapi mereka kan tidak mau punya adik Naruto-kun..," jawab Hinata yang tergagap karena malu. Walaupun sudah menikah lama dan banyak perubahan namun sikapnya yang gampang gugup bila berduaan dengan Naruto masih sering terjadi.
"kau tidak mendengar Hima-chan terakhir tadi berkata apa Hime?" tanya Naruto penuh rayuan. Sebelum Hinata menolak lebih lanjut langsung saja dengan sigap Naruto mengangkat tubuh istrinya itu bride-style yang membuat Hinata terpekik tertahan karena takut kedengaran oleh kedua anak mereka. Dengan semangat empatlima Naruto segera membawa istrinya itu menuju kamar pribadi mereka untuk memulai kegiatan yang menyenangkan.
Setibanya didalam kamar, Naruto meletakkan tubuh Hinata dengan perlahan dan hati-hati. Kemudian Naruto mengambil posisi dengan Hinata yang berada di bawahnya. Siku Naruto ia letakkan di antara kiri kanan bahu Hinata sehingga mengurungnya dalam kungkungan. Tangannya menahan tubuhnya agar tidak jatuh menimpa Hinata. Naruto sangat gemas melihat Hinata, karena istrinya itu selalu berubah menjadi sangat pemalu seperti ini jika mereka sedang bermesraan padahal ini sudah entah kesekian berapa kalinya mereka melakukannya.
Naruto membelai dagu istrinya lembut kemudian mengecup bibir merona yang bergetar karena gugup. Bibirnya segera meraih bibir Hinata yang begitu menggodanya sejak tadi, menyesap lembut sepasang bibir yang selalu dirindukannya."Hinata, kau selalu manis seperti biasanya..'"
Ciuman mesra itu perlahan berubah menjadi panas saat lidah mereka ikut bermain, apalagi ketika Naruto membiarkan bibirnya menelusuri tiap inci leher istrinya. Sebelum kemudian mengecupnya dan menghisapnya di titik-titik tertentu yang berhasil membuat lenguhan Hinata meluncur dari bibirnya, "Argghhh, Naruto-khhunnn.."
"Kau sangat cantik Hinata-chan dan sangat menggodaku," Hinata tergagap saat ia menyadari apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Ia sangat yakin wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang. Sementara Naruto hanya menatapnya begitu dalam, membuat Hinata semakin salah tingkah.
"tubuhmu juga begitu seksi," kerlingan mata Naruto kini berpindah ke bagian dada istrinya yang tampak membusung,"apalagi bila kau tidak memakai pakaian, ttebayo..,"
Kemudian Naruto mengangkat tubuhnya sejenak ke posisi duduk dengan kedua kakinya tetap mengapit kaki Hinata agar tidak kabur. Dengan tidak sabaran ia segera melepas pakaian yang ia pakai sehingga memamerkan dada bidang dan kulit tannya yang eksotis. Kedua tangannya juga dengan lincah membantu untuk melepaskan baju serta bra Hinata sekaligus dan memperlihatkan dadanya yang membesar itu.
Pemandangan yang tersaji dihadapan Naruto kini membuat matanya kabur karena ditutupi oleh nafsu. Tanpa basa-basi Naruto meraup kembali bibir Hinata dengan liar, kemudian ciuman itu turun terus ke lehernya hingga ke belahan dada yang padat itu. Lalu, Naruto menciumi dada dan menghisapnya dengan liar "hmm... Hinata-chan, ini menggoda sekali...begitu besar… Aku nikmati ya?"kata Naruto
Sambil tetap menghisap dada Hinata, Naruto mencoba memelorotkan celana Hinata namun sedikit kesulitan. Ia menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap Hinata dengan senyuman jahil, " Hinata-chan kau belum pernah merasakan sensasi bercinta dilihat oleh banyak orang kan?"
Hinata kelihatan bingung dengan maksud ucapan suaminya tersebut, belum sempat ia bertanya ia kini telah mendapat jawabannya. "Kage bunshin no Jutsu!"
Kini muncul sekitar sepuluh bunshin Naruto yang memenuhi ruangan kamar mereka. Hinata kini menjadi sangat malu karena ditatap oleh banyak orang dengan keadaan setengah telanjang seperti ini, walaupun itu hanya bunshin. Naruto segera memerintahkan salah satu bunshinnya untuk membantunya melepaskan celana Hinata sementara dia melanjutkan kembali menikmati dada istrinya.
Namun sebelum terlaksana, kegiatan mereka harus terhenti lantaran kaget dengan pintu kamar yang tidak dikunci terbuka keras oleh putri kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Himawari, "tou-chan, Hima ingin tidur bersama tou-chan..,"
Untung saja jumlah bunshin Naruto cukup banyak sehingga mampu menutupi pemandangan nista ayah dan ibunya dari mata suci Himawari. Selain itu Himawari juga tampak sangat mengantuk dan terus-terusan mengucek matanya sehingga ia juga tidak menyadari begitu banyak bunshin ayahnya.
Salah satu bunshin Naruto yang paling dekat pintu segera berinisiatif untuk menghampiri Himawari, "Hima-chan ayo tidur dikamarmu, otou-san akan menemanimu ne..," kemudian ia langsung menggendong Himawari dan membawa gadis kecil itu kekamarnya meninggalkan TKP. Bunshin Naruto yang lain juga segera mengunci pintu agar kejadian mengganggu seperti barusan tidak terulang lagi.
"Naruto-kun, sebaiknya kita berhenti saja," cicit Hinata sambil menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya, "aku sangat malu dan takut Hima-chan akan datang lagi."
"hemm?" Naruto menggelengkan kepalanya tidak setuju, "tenanglah Hime, kali ini tidak ada yang akan mengganggu kita lagi." Setelah mengatak begitu dengan cepat Naruto melepaskan semua yang tertinggal menutupi tubuhnya, celana berikut pakaian dalam Hinata pun telah berhasil dipelorotkan dengan bantuan bunshin.
Kini Naruto tengah menguasai dada kanan Hinata sedangkan salah satu bunshin Naruto asik mempermainkan dada kirinya. Mereka memijatnya bersamaan, menekan puncak payudara itu dan membuat dada besar itu berloncatan. Bibir Naruto pun tidak tingal diam meninggalkan kissmark dimana-mana serta air liurnya pun membasahi permukaan yang lembut itu. Sedangkan bunshin yang lainnya hanya bertugas menonton.
"AAAARRGHH!" jerit Hinata ketika Naruto menggigit ujung payudarnya dengan keras hingga memerah. Setelah merasa cukup puas Naruto kembali mencium bibir Hinata sementara di bawah sana Naruto sudah mempersiapkan dirinya untuk memasukinya. Mata Hinata terbelalak saat merasakan milik Naruto mulai memasuki kewanitaannya.
"Nahhrutohh-khunn..," pekikan Hinata itu teredam didalam ciuman panas mereka. Dan dalam satu hentakan keras, Naruto berhasil memasuki Hinata sepenuhnya. Tanpa aba-aba peringatan, Naruto menggerakkan pinggulnya dengan gerakan pinggul yang seirama. Hentakan kuat, dalam, dan bertenaga membuat Hinata mendesah dan mengerang saat merasakan milik Naruto yang begitu penuh didalamnya. Kedua kaki Hinata melingkari pinggang Naruto sementara kedua tangannya mencengkeram erat rambut kuning suaminya.
"Apa yang sedang kalian lakukan, bodoh!" tiba-tiba saja suara cempreng Boruto menggelegar mengisi ruangan itu. Naruto segera melepaskan miliknya dan menutupi tubuhnya dan Hinata dengan selimut dengan cepat. Mereka berdua sangat kaget dan panik, para bunshin yang tadinya menonton pun sudah menghilang akibat rasa terkejut yang dialami Naruto.
Pintu kamar memang masih tertutup dan terkunci, namun bocah itu kini tengah berada di kusen jendela kamar yang sedikit terbuka. Boruto tengah berjongkok dan mengambil posisi seperti ingin bertarung.
"Ka-kami sedang tidak melakukan apa-apa, ttebayo" jawab Naruto gugup karena kepergok berbuat mesum oleh putranya. Sementara Hinata telah menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimut, tidak tahan untuk menanggung malu.
"bukankah sudah kukatakan untuk tidak membuat masalah didesa kami?!" perkataan Boruto yang agak aneh membuat Naruto merengutkan dahinya bingung, "aku akan menghajar kalian karena telah membuat keributan!"
Setelah cukup diperhatikan kondisi kedua mata Boruto memang sedari tadi tertutup rapat dan ia mengoceh tidak jelas, "Hei, mau kema kalian?! Jangan kabur!" dan setelah mengatakan hal tersebut bocah itu menghilang, pergi melompat dari jendela seperti ingin mengejar sesuatu.
Naruto yang melihatnya dibuat terheran-heran karena ternyata putranya itu sedang mengalami sleepwalker, ia tidak tahu apa yang sedang dimimpikan oleh anak itu, tapi kedatangannya benar-benar sangat mengagetkan.
Setelah Boruto menghilang, Naruto bangkit kearah jendela dan mengintip keluar kearah putranya yang sedang melompati rumah-rumah warga desa dalam tidurnya. Naruto tidak mau mengambil pusing karena ia mempunyai urusan lain yang belum selesai.
Dengan segera ia menutup jendela itu dan tak lupa menguncinya dan menghampiri kembali tempat tidurnya dimana terdapat istrinya yang menggairahkan sedang bergelung didalam selimut. Naruto segera menyibakan selimut tersebut menyisakan Hinata yang telanjang kebingungan karena tidak mendapati putranya lagi disitu.
"Hinata-hime ayo kita lanjutkan," Hinata tersentak karena dengan tidak sabaran Naruto segera menggendong tubuh Hinata. Ia sudah tidak tahan karena harus memendam hasratnya karena gangguan-ganguan tersentak. Ketika menggendong Hinata, Naruto menancapkan kembali miliknya yang mengeras kedalam lubang Hinata. Menaik-turunkan tubuh istrinya itu dan membuat Hinata kembali menjerit. "ahh…,eughhh.., Narutoo-khuuunn!"
"emmmhh, Hinata.." menggeram pelan, Naruto pun semakin mempercepat tempo tusukannya, ia bisa merasakan Hinata akan keluar sebentar lagi. Akhirnya dengan bersamaan mereka mncapai puncak hasrat bersamaan, "ARGHHHH! Naruto-khunnn!"
"Aughhh.., Hinata-himeee.. AHH!"
Merasa tungkai kakinya mulai lemas, Naruto segera meletakan kembali tubuh istrinya keatas ranjang dan melepaskan dirinya. Ia dapat melihat cairan kepuasannya yang tertampung didalam karet pelindung. Naruto tersenyum puas, apalagi karena Hinata tidak menyadari ia sempat memakai karet pengaman itu setelah Boruto pergi tadi.
'hihihi' Naruto memamerkan deretan giginya kearah pembaca sambil mengacungkan jempol tangannya. Ia tidak mau buru-buru punya anak lagi dan merusak momen penebusan waktu kebersamaan dengan Boruto serta Himawari yang saat ini sedang ia bangun. Lagi pula dengan begini ia bisa lebih sering mengerjai Hinata dengan alsan memberikan adik.
Naruto mengambil posisi berbaring disamping istrinya yang sudah ketiduran. Ia menatap wajah terlelap Hinata penuh cinta dan damba. Sebelum jatuh tertidur Naruto masih sempat berpikir, bahwa mungkin besok Naruto akan mulai menyusun rencana-rencana mesum dan bergairah lainnya untuk dia praktekan bersama Hinata. Membujuk Hinata untuk melakukan perbuatan nista di ruangan hokage misalnya, dan membasahi ruangan itu dengan cairan mereka. Naruto tidak akan pernah rela predikatnya sebagai salah satu shinobi termesum jatuh begitu saja ketangan Sasuke.
Pagi ini suasananya cukup ceria. Hinata yang dibantu oleh Himawari tampak sedang sibuk mempersiapkan sarapan, sementara Naruto dan putranya sedang asik bercerita mengenai mimpi Boruto tadi malam. Sekaligus mengorek informasi memastikan anaknya itu tidak melihat apapun.
"Kaa-chan, itu kenapa?" tanya Himawari kepada ibunya dari arah dapur yang dapat didengar oleh kedua laki-laki Uzumaki dari meja makan. "Kenapa dileher kaa-chan banyak sekali tanda merah seperti itu?"
Naruto segera menelan ludahnya dengan susah payah, terlebih lagi karena ia diberi tatapan tajam oleh putranya yang sedang berada didepannya.
"Aa, ii-ini karena okaa-san digigit serangga yang masuk lewat jendela saat okaa-san tidur." Jawab Hinata dengan terbata karena gugup, Ia terpaksa berkata seperti itu untuk memberikan alasan. Sepertinya jawaban Hinata bisa diterima oleh Himawari, namun Boruto tidak mudah percaya begitu saja terlebih ketika melihat cara berjalan ibunya yang terlihat sangat aneh saat membawakan makanan ke meja makan.
"Ya, pria tua! Apa yang telah kau lakukan kepada kaa-san?!" tanya Boruto dengan garang kepada ayahnya yang sudah kikuk tidak tau harus mengatakan apa, "Apakah kau menyiksa kaa-san?!"
"Kami memakai kondom, ttebayo!" teriak Naruto sepontan tanpa mencerna pertanyaan yang diajukan kepadanya. Akal otaknya yang memang pendek tidak bisa berfungsi dengan baik apalagi dalam situasi seperti ini.
'Bruk!' Hinata langsung saja pingsan menghadapi kenyataan ini, ia sangat malu. Dengan panik Naruto segera menghampiri istrinya itu, "Hinata-chan…,"
Sementara Himawari yang paling tidak mengerti apa-apa serta polos terlihat kebingungan, ia menatap onii-sannya yang kelihatannya sedang kesal itu dan bertanya, "Boruto nii-chan, apa itu kondom?"
TBC
Author Note : Hallo, bagaimana dengan chapter kali ini? semoga tidak terlalu mengecewakan dan tetap bisa menghibur ya.. sorry juga karena author gak bisa update paket ekspress soalnya pikiran author sedang terbagi-bagi untuk projek cerita lainnya.
Nah buat kemarin yang penasaran alasan kenapa Shika tidak mau punya anak lagi udah terjawabkan. Ia bukannya tidak mau melakukan 'itu' dengan istrinya cma takut resikonya aja. Untuk Sai mungkin jawabannya ada di chapter depan, oh ya dengan berat hati author terpaksa harus memberitahukan bahwa fanfic ini tinggal satu chapter lagi.
Seperti biasa author mau mengucapkan banyak terimakasih untuk yang sudah ngefollow, favorite dan tentunya yang sudah ngreview (^_^)
SasukeCherry, Greentea Kim, Himeko Utshumi, UchiHaruno Sya-Chan, lililala249, xiaolia, mermaizing, Niayuki, Fariz313, undhott, saysay, Dobe, williewillydoo, kakikuda, ONE AY, dianrusdianto39, Druella Wood, , hana, Niayuki, uchiha della, NameLia, looklivewithlove. Maaf gak bisa bales satu-satu, tapi maksih ya.. kalian bikin author selalu semangat!
