Ahh, tidak terasa sudah dipenghujung cerita. Maaf ya kalu diakhir begini masih banyak terdapat typo dan masalah penulisan lainnya. Ini kupersembahkan untuk kalian semua :)
Epilog
Wises : Hokage bad day?
Naruto by Masashi Kisgimoto
Langit malam sudah sangat pekat, bulan pun bersinar dengan terangnya. Seharusnya ini malam yang tenang untuk menghantarkan ke negeri impian dalam tidur. Tapi tidak dengan bocah malang satu ini, ia sedang bersusah payah memejamkan matanya untuk terlelap. Namun suara berisik dari kamar orangtuanya terus saja menganggunya.
Inojin si bocah tersebut tampak kesusahan menutup kedua telinganya diatas tempat tidur. Ia membalik badannya telungkup kemudian menyumpal kepala serta telinganya dengan guling kesayangannya, ia juga menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hingga kepala. Entah bagaimana ia melakukannya.
Padahal Inojin sudah sangat lelah dan ingin istirahat karena hari ini ia seharian berlatih bersama timnya, orang tuanya juga menyuruhnya cepat masuk kamar dan tidur. Tapi bagaimana mau istirahat kalau suara ibunya keras sekali, ayahnya juga terkadang berteriak. Gaduh sekali kamar kedua orangtuanya itu membuat dia bertanya-tanya apa yang terjadi. Sambil terus memikirkan itu akhirnya mata Inojin pun terpejam dengan sendirinya, ia telah pergi ke dunia lain. Jangan mikir yang lain, bocah ini hanya tertidur dan meningalkan aktifitas gaduh ayah dan ibunya yang belum selesai.
Tepat dikamar sebelah Ino terus saja berkoar-koar kepada suaminya. Entah bagaimana perempuan ini bisa memiliki batrai ekstra sehingga tidak ada kata lelah dalam kamusnya untuk menceramahi Sai sedari sore tadi. Sai yang sudah terbangun dari pingsan pura-puranya tidak bisa mengelak dengan alasan apapun, ia sudah pasrah saja.
"Sai, kau mendengarkan aku tidak?" yang ditanya hanya memberikan senyuman terpaksanya kepada sang istri, "kenapa sih kau malas sekali menyentuhku? Selalu saja aku yang menggodamu!"
Sai masih melakukan hal yang sama sedari tadi, tersenyum tidak jelas. Menarik nafas dalam akhirnya Ino ingin mengutarakan apa yang sebenarnya ia pikirkan belakangan ini kepada suaminya itu.
"Sai, aku tahu kau itu terlalu kaku dan masih perlu belajar tentang perasaan. Tapi ini sudah terlalu lama dan kita sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, kenapa kau masih tetap begitu padaku?"
"jujur, kau membuatku takut Sai. aku berpikir sebenarnya kau terpaksa menikahiku dan tidak mengerti apakah kau cinta kepadaku atau tidak."
Ekspresi wajah Sai kini mengalami perubahan, ia tidak menyangka Ino akan berpikiran seperti itu terhadap perasaannya. Memang benar ia bukan orang yang ahli dalam menujukan ataupun mengerti akan perasaan tapi ia sudah berusaha keras. Dan perasaanya ke Ino itu nyata, ia mencintai istrinya itu sepenuh hati.
"cantik, maafkan aku. Kau tidak boleh berkata seperti itu, bukankah kau mengatakan kita tidak boleh menyakiti orang lain dengan perkataan kita?" Sai menunjukan kembali senyumannya namun kali ini terasa lebih getir.
"tapi perkataan yang keluar dari bibir manismu itu membuatku sakit disini," lanjut Sai kemudian sambil menunjuk dadanya, tepat dihatinya.
Ino sedikit tersentak, ia sama sekali tidak bermaksud demikian. Ino ingin segera meminta maaf dan memeluk suaminya itu, tapi sikap keras kepalanya menghalangi nait tersebut, "wajar saja aku berpikiran seperti itu Sai, kau selalu menghindariku saat aku ingin bermesraan."
"selama ini aku berpikiran hal tersebut wajar, tapi mendengar cerita di kantor hokage tadi membuat pikiranku kesal. Kau itu jauh lebih hangat dari si Sasuke dingin itu. Tapi dia yang seperti itu saja bisa melakukan hal-hal tak terduga dan bertidak mesum ke istrinya, kenapa kau tidak?"
Hal tersebut sudah berkali-kali di pertanyakan Ino sedari tadi. Jujur saja Ino kaget kalau Sasuke bisa seliar itu padahal wajahnya itu stoick dan seolah tidak peduli dengan hal seperti itu. Dahulu sewaktu Sakura hamilpun sudah menimbulkan tanda tanya besar didalam otaknya. Ternyata Sasuke benar-benar tsundere tingkat dewa, sampul dan isinya sungguh berbeda!
Balik lagi ke pasangan Yamanaka ini. Sai tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Ino tadi, ia hanya berpikiran untuk meyakinkan Ino akan perasaannya. Kemudian Sai mengambil posisi jongkok didepan Ino yang sedang duduk dipinggiran ranjang mereka.
"cantik, aku tidak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu aku begitu bahagia bersamamu dan Inojin," ucap Sai seraya menggenggam kedua tangan Ino, "kalau kebahagian ini disebut dengan perasaan cinta, maka kaulah cintaku."
Setetes air mata Ino jatuh kepautan tangan itu, ia tarharu dengan kata-kata suaminya itu. Ino merasa bodoh mengatakan hal tadi karena terbawa perasaan jengkel sekaligus iri kepada Sakura-Sasuke mungkin.
"cantik, aku bukannya tidak mau bermesraan denganmu. Hanya saja aku masih takut untuk memulainya, aku tidak mau berbuat kesalahan dan membuatmu tidak suka kepadaku" aku Sai jujur.
Ino masih menatap Sai yang tertunduk menjelaskan perasaanya, ia tidak tahu sai merasa demikian. "aku sudah membaca banyak sekali buku yang kupinjam dari Kakashi-sensei tentang hal ini, tapi itu membuatku menjadi bingung memulai dari versi buku yang mana."
Kali ini mata Ino membualat mendengarnya, " jadi aku putuskan biar kau saja yang memulai segalanya terlebih dahulu dan aku mengikuti, namun kalu aku tidak tahu harus berbuat apa aku akan menghindarimu dan malah tambah sadar membuatmu terluka."
Dengan segera Ino menarik Sai kedalam pelukannya, lebih tepatnya menegelamkan kepala Sai kebelahan dadanya. "Oh, Sai suamiku yang malang…,"
"kalau begitu apakah kau mau mewujudkan keinginanku untuk memiliki anak lagi Sai?" tanya Ino kepada suaminya itu, "kali ini kita bisa memilih bersama salah satu buku koleksimu itu untuk diperaktekan."
"ta-tapi…," apa yang hendak dikatakan Sai segera dipotong oleh Ino yang sepertinya sudah mengerti arah pembicaraan.
"aku tahu, seperti dulu aku akan membantumu untuk menjalin ikatan emosional dengan adiknya Inojin nanti," Ino mengerti betul kecemasan Sai yang satu ini.
"baiklah..," mendengar itu Ino segera menangkup kedua pipi suaminya itu dan memberikan ciuman dalam ke bibir Sai. Keinginan nyonya Yamanaka sedang diproses.
Xxx
Pagi ini cuaca cukup cerah menaungi Konoha. Sinar matahari tampak begitu lembut, angin berhembus dengan sepoi, awan putihpun hanya tipis menghiasi langit yang sangat biru.
Pasangan ayah dan anak tampak menikmati keindahan langit dipagi ini sambil duduk di teras kayu halaman kediaman utama klan Nara. Mereka berdua ingin sekali rebahan diatas hamparan rumput sambil memandang langit cerah itu. Tapi rerumputan tampak basah karena embun, lagian sang ratu di rumah mereka bisa mengamuk jika menemukan mereka berdua sedang bermalas-malasan.
"Ayah, ayo kita bertading bermain shogi lagi sebelum kau berangkat ke kantor hokage" pinta anak laki-laki bermata jade kepada ayahnya. Melihat anggukan dari ayahnya, bocah itu segera bangkit dari duduknya dan berlari mengambil papan shoginya. Tidak berapa lama ia kembali dan langsung mempersiapkan papan itu dan memulai permainan. Ia senang sekali bertanding kecerdasan dengan ayahnya ini.
'srek' pintu geser yang terbuka sama sekali tidak mengganggu konsentrasi kedua laki-laki itu.
"ck, kalian ini bukannya membantuku membereskan meja sisa sarapan malah bermain shogi." Keluh Temari kepada duo Shika yang tampak menghiraukan kedatangannya itu. Perempuan berambut pirang ini tidak mau mengambil pusing dengan marah-marah di pagi yang cerah ini jadi ia memutuskan bersikap tenang.
"kalian berdua, minumlah dulu the ini selagi masih hangat," Temari menyodorkan dua gelas teh herbal yang masih berada diatas nampan kepada suami dan anaknya. Melihat isyarat mata dari Shikamaru, Temari meletakan nampan itu disamping meja kemudian ikutan duduk dibelakang putranya.
"Shikadai, ibu tahu kau tidak suka minuman herbal pait seperti ini," ucap Temari kepada anaknya itu seraya mengusap rambut hitam Shikadai yang tergerai karena masih sedikit basah habis keramas dengan haduk kecil yang tergeletak didekat anaknya itu.
"tapi bila kau ingin mengalahkan ayahmu itu kau harus meminumnya, ibu sudah menambahkan mabulu di teh herbalmu agar sedikit manis."
"yakin sekali kau," dengus Shikamaru kepada Temari, "putramu tidak akan semudah itu mengalahkanku hanya karena segelas teh herbal."
Temari hanya menggerutu sebal mendengarnya, ia tetap melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut Shikadai,"sudah, minum saja teh-nya."
Shikamaru segera mengulurkan tangannya untuk meraih salah satu gelas diatas nampan itu, tapi ia segera menariknya kembali. Pandangannya ia arahkan kepada istrinya untuk menyelidik.
"apa?" tanya Temari tidak senang diberi tatapan seperti itu.
"jujur saja Temari, apakah kau memiliki sebuah rencana dan memasukan sesuatu yang aneh didalam minuman ini?" tanya Shikamaru curiga. Pria ini benar-benar sudah kapok dengan kejadian tempo hari, ia tidak mau berkelakuan diluar nalarnya lagi hanya karena nafsu.
"sekarang aku meragukan kemampuan daya pikirmu Nara Shikamaru, pikiranmu sangat dangkal" komentar Temari pedas kepada suaminya itu, " asal kau tahu, aku sama sekali tidak berniat mengganggumu karena aku tahu hari ini akan ada pertemuan asisten para kage."
"lagian ini masih terlalu pagi untuk melakukan hal-hal yang kau curigai itu," terang Temari.
Shikamaru mendecak mendengarnya. Perhatiannya kembali kearah dua gelas teh itu, bingung harus mengambil yang mana. Setitik kecurigaan masih ada, ia hanya tidak mau terjebak.
"Shikadai, minumlah ini sedikit" pinta sang ayah kepada anaknya sembari menjulurkan salah satu gelas dinampan itu. Shikadai yang dari hanya diam, terlalu mals ikut campur dengan pembicaraan orangtuanya mengernyit heran.
"sudah minum saja sedikit," suruh Shikamaru kembali, setelah putranya melakukan apa yang diperintahkannya ia mengambil gelas satunya dan menyorkan juga kepada Shikadai, " sekarang minum yang ini."
"Shikamaru, kecurigaanmu benar-benar tak beralasan!" protes Temari kesal melihat tindakan suaminya itu, "teh itu tidak bersianida, kau tidak akan mati!"
Dengan cuek bebek, Shikamaru tak mendengarkan dan masih menyodorkan gelas satunya untuk diminum Shikadai. Setelah putranya itu menegak sedikit, maka ia kini merasa lega dan dengan santai menikmati salah satu gelas yang dipeganya itu.
"ibu, sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Shikadai bingung.
"tidak ada apa-apa Shikadai," jawab Temari singkat kemudian mengambil karet gelang untuk mengikat rambut Shikadai yang sudah kering. Dengan telaten Temari menyatukan helaian rambut anaknya sehingga menjadi sebuah kunciran khas klan Nara.
"kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Temari kepada Shikamaru yang baru disadarinya menatap tajam setiap pergerkan jari tangan yang mengikat rambut putra mereka.
"tenang saja, aku tidak akan mendandani Shikadai seperti anak perempuan lagi," jelas Temari yang sepertinya tahu jalan pikiran Shikamru, "bukankah kita sudah berjanji, bahwa kau akan mengabulkan keinginaku untuk mempunyai anak perempuan?"
"dan kau tidak perlu khawatir, saudaraku tidak akan berani membawa putrid kita nanti tanpa seijinku."
Kemudian Temari menatap Shikamru dengan pandangan menyepelekan, " aku tidak percaya kau memilih alasan hal seperti itu, kau terlihat seperti lelaki tua yang ketakutan."
Shikamaru tampak kesal mendengar itu keluar dari mulut istrinya yang tajam. Pria itu memutuskan berdiri dan memilih untuk berangkat kerja saja daripada harus berlama-lama mendengar perkataan sarkastik Temari.
"Shikadai, maafkan ayah" mohon Shika yang lebih besar kepada yang lebih kecil, "ayah kerja dulu, kita akan melanjutkan bermai shogi lagi nanti setelah ayah pulang bekerja dan tanpa gangguan ibumu."
Setelah berjanji demikian, Shikamaru pun berlalu tanpa berpamitan kepada istrinya.
Xxx
Choucho tampak dengan lahap memakan burger super jumbo ketika salah satu teman setimnya datang menghampiri. Bukan si bocah pemalas, melainkan yang satunya lagi si bocah pelukis. Inojin meletakan baki makanannya diatas meja dan duduk didepan gadis gembul itu.
"auwa aupua engah moh?" tanya Choucho dengan mulut penuh ketika melihat raut wajah Inojin yang lesu dan mata merah seperti kurang tidur. Berteman semenjak bayi tidak menyulitkan Inojin untuk mengerti apa yang dikatakan gadis itu padanya. Apalagi hal ini sudah biasa didengar telingannya, gadis itu berbicara dgan mulut penuh.
"aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam. Orantuaku sangat berisik, apalagi ibuku ia terus saja mengomel," jelas Inojin.
"Ibumu itu cerewet sekali," kali ini omongan Choucho sudah jelas setelah menelan makanannya, "apalagi yang bibi Ino ributkan?"
Inojin mengangkat bahunya tak mengerti, "entahlah, ia terus saja mengoceh tentang Sasuke-san kepada ayahku. Dan tadi pagi berubah mengomel karena Boruto,"
Choucho mengangkat sebelah alisnya yang disaut oleh gelengan kepala Inojin, "aku tidak mengerti."
Kedua genin itu kembali menggigit burger mereka masing-masing. Keduanya sering sekali tidak sengaja bertemu di restoran cepat saji tersebut. Choucho lebih suka menikmati makanannya diluar rumah karena ia tidak perlu bersaing memperebutkan makanan dengan ayahnya, sedangkan Inojin akan memilih makan diluar ketika ibunya sudah kelewat cerewet.
Setelah menelan kembali makanannya Choucho kemudian bertanya ke Inojin, karena sedikit tertarik dengan apa yang diutarakan bocah pucat itu sebelumnya. Apalagi kalau bukan mengenai Sasuke Uchiha, secara gadis itu sekarang telah masuk kedalam daftar fans lelaki Uchiha itu.
"memangnya apa yang dikatakan bibi Ino tentang ayah Sarada, sehingga ia harus mengomel kepada paman Sai?"
"ibuku terus saja berkata ingin mewujudkan keinginannya untuk memberikan aku adik, kepada ayahku. Tampaknya ibu sedang protes karena ayah tak mengindahkannya seperti yang dilakukan Uchiha-san untuk memberikan adik kepada Sarada."
Inojin menggigit kembali makanannya, "aneh sekali, padahal aku tidak meminta diberikan adik" ucapannya masih terdengar jelas.
Choucho hanya menganggukan kepalanya, padahal ia sama sekali tidak paham apa yang dikatakan Inojin. Tapi pembahasan tentanga dik membuatnya tidak suka.
"oh ya Choucho, apakah kau tahu apa itu cairan cinta?" tanya Inojin skeptis.
Tampak berpikir sebentar, kemudian Choucho menggelengkan kepalanya. Ini baru pertama kali ia mendengarnya, dan gadis Akimichi ini juga tidak terlalu pintar untuk menebaknya. "dari mana kau mendengar itu?"
"aku mendengarnya dari ibuku," jawab Inojin, "sepertinya ibuku sangat iri dengan cairan cinta orangtua Sarada yang tertempel dilaporan saat menjalani misi di hutan."
Choucho menaikan kedua bahunya tak mengerti dan kembali melahap burgernya yang tersisa, "hunghin hita hisa beurnanya fafa suhikdahai hatja," responnya dengan mulut yang penuh.
xxx
Setelah selesai sarapan bersama, Choucho dan Inojin berpisah arah. Bocah berkulit pucat itu memutuskan untuk kerumah Shikadai sedangkan gadis berkulit coklat ini memutuskan untuk berkeliling desa mencari kedai makanan yang telah buka.
Sambil berjalan santai Choucho tampaknya juga sedang asik berbicara dengan seseorang melalui telfon selulernya.
"kenapa kau setuju? Kan sudah kukatakan adik itu bisa membuat jatah makananmu menjadi berkurang," protes Choucho kepada orang yang sedang di telfonnya.
"…"
"terserah padamu sajalah. Tapi aku tidak akan membagi kripik kentangku padamu jika kau kelaparan karena jatah makanmu berkurang."
"…."
"oh iya aku mau bertanya, apakah kau mengerti apa yang dimaksud cairan cinta? Aku mendengarnya dari Inojin tadi," tanya Choucho lagi kemudian.
"…."
"bagaimana kau bisa tidak tahu? Kau itu kan murid paling pintar saat kita berada di akademi, seharusnya kau tahu apa itu cairan cinta," keluh Choucho lebih lanjut.
"Hei Chocho, apa yang sedang kalu lakukan disini?" tanya Anko yang kebetulan berpapasan dengan gadis keluarga Akimichi itu di jalan, "dan lagi apa-apaan perkataanmu itu tadi ha? Tau darimana kau hal seperti itu?" brondong Anko dengan pertanyaan.
"sebentar, ada Anko-sensei disini" ucap Choucho kepada lawan bicaranya diseberang telepon sana, "aku akan bertany padanya."
"….."
Anko berkacak pinggang menunggu apa yang hendak ditanyakan partnernya dalam berburu makanan itu.
"Anko sensei, apa itu cairan cinta? Kenapa orangtua Sarada dapat menghasilkan hal itu dan tertempel di laporan misi?" pertanyaan Choucho cukup membuatnya kaget. Anko menggelengkan kepalanya tidak percaya mendengar hal seperti itu terjadi di Konoha.
"kau masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu," Anko menanggapi, "aku juga tidak tahu bagaimana, tapi yang perlu dipahami cairan itu ada kalau seorang laki-laki dan perempuan sedang melakukan hal-hal dewasa yang mesum."
Anko sedikit getir mengatakannya. Mau dikata apalagi, diusianya yang kepa empat ia masih saja perawan. Apalagi karena ia yang tomboy sewaktu muda dulu. Nah sekarang saat ia mulai keibuan, malah badannya sudah besar seperti ibu-ibu. Ia ragu siapa yang akan mendekatinya diusia begini. Anko meringis dalam hatinya.
Choucho juga sedikit kaget mendengarnya. Bukan karena nasib senseinya itu, melainkan dengan kenyataan apa yang telah dilakukan oleh kedua orangtua sahabatnya. Dengan segera Chocho mengalihkan kembali perhatiannya kepada ponselnya yang masih tersambung dengan seseorang diseberang sana.
"ouch Sarada, aku tidak menyangka papamu yang tampan itu bisa berbuat seperti itu," lapor Chocho kepada Sarada yang merupakan orang yang ditelfonnya tadi dengan nada jijik. "menurut Anko sensei, papa mu telah berbuat hal mesum."
"…"
"kau tanyakan saja sendiri, sudah ya aku mau menyusul Anko sensei dulu," pamit Choucho ketika ia melihat Anko yang berjalan menjauhinya karena ia terlalu asik mengobrol, "sepertinya Anko sensei ingin berbelanja makanan enak."
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan mematikan telfonnya, Choucho segera berlari mengejar perempuan tambun berambut biru itu, "sensei, tunggu aku!"
xxx
Sasuke yang sedang menikmati secangkir teh paginya sambil bersantai menonton tv menjadi risih karena mendapatkan tatapan aneh dari putrinya. Tidak biasanya begini, memang Sarada selalu memperhatikan gerak geriknya tapi itu semata karna gadis itu ingin tahu kebiasaan sang ayah ataupun mencari perhatian kepada Sasuke.
Pandangan yang biasanya mencurahkan kekaguman dan cinta dari kedua bola mata hitam sang anak, kini berubah melihatnya dengan tatapan yang terkesan, hemm apa ya? Jijik mungkin. Dan sasuke tidak suka itu.
"Sarada, kenapa kau menatap papa seperti itu?" tanya Sakura kepada putrinya itu. Ia baru saja keluar dari kamar dengan membawa keranjang pakaian kotor yang ingin dicuci ketika melihat Sarada menatap aneh pada suaminya.
Kini tatapan Sarada berubah arah kepada ibunya, tapi sorot mata itu masih sama. "kenapa kau melihat mama juga dengan seperti itu?"
"mama, kalian berdua itu begitu jorok," tukas sang anak kepada kedua orangtuanya.
"eh?" Sakura terlihat bingung dengan pernyataan anaknya itu, "apa maksudnya? mama tidak mengerti."
Semua perkataan Choucho yang tadi didengarnya melalui telfon degera terlintas dipikirannya dan membuatnya hal itu membuatnya geli, "bagaimna bisa kalian berdua mengotori sesuatu yang penting seperti itu?"
"Ha?" pertanyaan Sarada membuat Sakura semakin bingung. Apanya ynag penting? Sedangkan Sasuke memilih cuek dan memilih untuk menikmati teh nya kembali.
"kalian bedua berbuat mesum, shannaro! Cairan cinta kalian ada dilaporan misi." Ucap Sarada dengan suara keras, wajahnya memerah karena marah dan juga malu. Bagaimna tidak malu, orangtuanya berbuat hal seperti itu diluar sana.
'klatak!' keranjang cucian itu terjatuh dari tangan Sakura yang melemas.
'bruffttt!' cairan yang ditegak Sasuke tersembur kembali keluar dari mulutnya.
Sepasang suami istri ini cukup syok dan mengalami serangan jantung mendengarnya. Tidak ada lagi rona merah malu pada keduanya, tapi yang muncul adalah wajah-wajah yang memucat seputih salju. Kedua roh mereka seperti melayang dari raga.
"da-dari mana kau mendengar hal seperti itu?" tanya Sasuke yang duluan kembali kesadarannya. Ia berusaha bersikap tenang dan datar didepan putrinya itu seolah-olah apa yang telah didengar anaknya itu semua adalah dusta. Tapi suaranya yang sedikit gugup dan begetar itu tidak dapat meyakinkan apapun selain kebenaran.
"aku mendengarnya dari Choucho," jelas Sarada sambil mengacungkan ponselnya, "ia berkata kepadaku bahwa ia tahu dari Inojin yang mendengar bibi Ino mengomeli paman Sai."
Sarada kini melipat kedua tangannyaa didepan dada sambil menatap tajam ayahnya, "kau tidak bis mengelak lagi papa! Bibi Ino juga mengatakan, bahwa nandaime-sama juga mengakuinya."
Sarada juga ingin mengatakan sesuatu kepada ibunya, namun melihat Sakura masih dengan posisi syoknya ia mengurungkannya. Sakura masih berdiri kaku bagai patung, matanya melotot kaget dan mulutnya menganga tampak seperti orang bodoh.
Jari-jari Sasuke mengurut pangkal hidungnya mendengar hal ini. putrinya benar ia tidak bisa mengelak lagi. Kini amarahnya mulai muncul, ia sangat kesal karena peringatannya kemarin sepertinya percuma. Ia berpikir, ia harus memulai serangan chidorinya mulai dari mana dulu.
Si Chouji yang bertanya? Naruto yang menjawab? Sai yang menjelaskan? Ino yang tidak pernah berhenti mengomel? Atau bocah-bocah yang menyebarluaskan itu? Seperti Choucho dan Inojin.
Belum sempat Sasuke memutuskan akan mencidori siapa terlebih dahulu, kini tubuhnya telah melayang karena serangan yang tidak diduganya.
"Shannarooo!" Sakura yang tersadar dari syoknya dengan kesal menumbuk perut Sasuke dengan kekuatan supernya. Sasuke yang tidak memiliki kesiapan akan hal tersebut dal sekejam segera terhempas kebelakang menubruk tembok apartemen mereka hingga terjadi keretakan. Pria itu langsung saja tergeletak tak sadarkan diri karena sepertinya ada tulangnya yang patah.
Sipelaku sendiri kini telah melarikan diri kedalam kamar tanpa peduli apa akibat yang dia berikan kepada sang suami. Sakura sangat malu saat ini, dan tidak tahu cara melampiaskannya dengan cara seperti apa. "shannaro…," gumamnya tertahan telapak tangan yang menutupi wajahnya yang kini semerah kepiting rebus. Sakura tidak tahu bahwa keinginannya untuk meregrenasikan klan Uchiha akan membuatnya semalu ini, sekarang bagaimana ia akan bertemu dengan orang-orang?
Sarada yang melihat kejadian barusan, cukup terkejut. Ia segera menghampiri ayahnya yang tengah pingsan itu, ia tidak menyangka bahwa sang mama yang begitu mencintai papanya ini setega itu melakukan ini.
Xxx
Mentari sudah tepat berada diatas puncak kepala, menandakan kalu waktunya makan siang telah tiba. Chouji sang kepala keluarga Akimichi tampak sedang menikmati makan siangnya yang kesekian kali direntang waktu sejam. Sang istri hanya menatap suaminya dengan berpangku tangan diatas meja makan itu. Perempuan berkulit gelap itu masih tidak mengerti bagaimana perut suaminya bisa menampung semua makan itu, walaupun telah lama menikah.
'Srak!' 'Tak' suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali dengan kasar sama sekali tidak menganggu Chouji meyeruput miso dari dalam mangkuk.
"aku pulang!" ucap putri mereka dengan kesal, gadis itu muncul dengan tangan yang dilipat didepan dada dan bibir yang mengerucut.
"selamat datang, apakah kau sudah makan?" sambut Karui kepada Choucho, tapi gadis itu menghiraukannya.
"ayah-ibu kalian berdua tidak boleh melakukan hal bodoh yang dilakukan orangtua Sarada," pinta gadis itu langsung to the point, "aku tidak mau memiliki adik, sekalipun kalian mengancamku tidak diijinkan menikah. Aku tidak peduli!"
"hei putri ayah, apa yang sedang kau bicarakan hem?" tanya Chouji kepada anak semata wayangnya itu setelah menandaskan semangkuk miso terakhirnya.
"Sarada bilang ia setuju memiliki adik agar mendapat ijin dari ayahnya untuk menikah," cerita Choucho, "tapi aku tidak sama sepertinya yang langsung lemah hanya karena seperti itu. Bagiku makanan lebih penting!"
"kau ini, bagaimana makanan menjadi lebih penting daripada menikah?" tanya Karui khawatir dengan pemikiran anaknya itu.
Choucho mengabaikan ibunya, saat ini ia hanya ingin mendeklarmasikan pendapatnya. " mempunyai adik hanya akan membuat jatah makanku dirumah ini menjadi berkurang, sudah cukup aku selalu bersaing dengan ayah! Jadi jangan berikan aku adik, supaya jatah makananku tetap banyak."
Karui hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya, sedangkan Chouji bersidekap tampak memikirkan ucapan putrinya itu.
"kalau tidak aku akan kabur dari rumah ini dengan membawa semua persediaan makanan dan kripik favorit ayah!" Choucho yang merasa belum puas menambahkan sedikit ancaman kepada mereka, " aku juga akan mencuri uang ayah dan ibu serta menghabiskannya untuk makan sepuasnya di kedai yakiniku sampai keluarga Akimichi bagkrut!"
Hahahaha… seketika tawa menggelegar keluar dari bibir Chouji dan Karui. Mereka tidak tahu bahwa putri mereka bisa semanis ini bila cemburu. Yah, walaupun hanya pada hal yang berbau makanan.
Masih dengan tawanya Karui berdiri dan menghampiri Choucho. Ia segera menarik gadis itu kedalam pelukannya yang hangat, "baikalah, bila kau berjanji pada ibu untuk tidak akan pernah kabur dari rumah dan menjadi anak yang baik."
"itu keinginan ibu dan juga ayahmu," pinta Karui dengan senyum di bibirnya. Chouji yang memperhatikan itu pun ikutan tersenyum, ia tidak akan memaksakan kehendaknya untuk menambah momongan lagi jika putrinya yang menggemaskan itu tidak menghendaki. Toh, masih banyak anggota klan Akimichi yang lain yang bisa melakukannya.
Xxx
Hinata berjalan dengan lemas menuju kediaman klan Hyuga. Sejak tadi ia terus-terusan membenahi kerah kimono yang tengah dipakainya, membuat Himawari yang berjalan disampingnya menatap bingung.
Hari ini, Hinata dan putrinya itu akan menghadiri rapat petinggi klan Hyuga yang seperti sebelumnya rutin diadakan setiap bulan. Ia yang merupakan keturunan keluarga utama tentu diwajibkan untuk hadir, begitu juga dengan Himawari yang mewarisi mata byakugannya.
Namun bukan hal ini yang membuat ia menjadi lemas, melainkan perasaan cemasnya akan reaksi sang ayah nantinya. Ayahnya pasti akan malu dan murka bila para anggota klan melihat penampilannya saat ini. secara sekilas memang tidak ada yang salah, kimono khas klan Hyuga-pun tampak rapi dan pas ditubuhnya. Tatanan rambut dan make-up di wajahnya pun semuanya baik-baik saja tidak ada yang salah.
Yang salah hanya bercak-bercak merah disekitar lehernya. Dilihat sekilas-pun orang akan tahu bahwa itu tanda cinta kepemilikan yang dilayangkan sang Hokage kepada istrinya. Apalagi kalu bukan kissmark si baka-Naruto tadi malam.
Tadinya Hinata ingin memakai kaos berleher tinggi dibalik kimononya, namun hal tersebut malah akan memancing amarah tetua klan karena dirasa tidak menghargai kesakralan kimono khas klan Hyuga. Menutupinya dengan syal-pun akan sama saja, karena ketika tiba diruang pertemuan ia juga harus melepaskannya. Jadi tetaplah seperti sekarang ini, ia hanya menyamarkan bercak itu dengan sentuhan bedak yang tidak banyak membantu.
Hinata menggumam dalam hatinya, menyalahkan Naruto yang entah kenapa diantara semua hari memilih tadi malam untuk mencumbunya. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengigat bahwa hari ini ia ada pertemuan klan dan membiarkan suaminya itu memberikan cupangan di lehernya. Kini ia hanya pasrah saja menghadapi sang ayah, karena mempermalukannya.
xxx
Sai kini tengah berkunjung ke kantor Hokage untuk mendiskusikan tugas yang tadi pagi diterimanya. Ia ingin membahas tentang peranan yang akan diambilnya dalam ujian chunin ulang yang akan mendatang.
"jadi kali ini aku harus melakukan apa?" tanya Sai kepada sang Hokage yang sedang duduk menatapnya dari balik meja kerjanya.
Naruto segera memamerkan cengiran lebarnya kea rah mantan anggota satu timnya itu, "santai saja Sai, biar nanti Shikamaru yang menjelaskannya padamu."
"bagaimana kalau kita berbicara mengenai hal lain saja dulu? Hal yang lebih menyenangkan," tawar Naruto sambil menggoyangkan kedua alisnya naik turun, "seperti apa yang telah dilakukan Ino kepadamu tadi malam selepas dari sini, hem?"
Beruntung saat ini Shikamaru tidak ada diruangannya, asistennya itu tengah sibuk mempersiapkan keperluan pertemuan lima Kage, dalam rangka membahas ujian chunin. Kalau Shikamaru ada sudah dipastikan kepala Naruto akn ditempeleng karena berbicara seperti tadi. Jadi kesempatan saat pria nanas itu sedang tidak ada ditempat harus dimanfaatkan sebaiknya, "aku penasaran ttebayo, apakah Ino memaksamu dengan jutsu-jutsunya agar kalian bercinta?"
Sai yang mudah sekali terpropokasi oleh otak mesum Naruto malah menanggapi dan melupakan tujuan utamanya tadi ketempat itu. Pria berkulit pucat itu menggelengkan kepalanya, "tidak, kali ini ia tidak memaksaku. Kami melakukannya seperti adegan disalah satu buku yang dipinjamkan oleh Kakashi-sama untuk kubaca."
"benarkah?" tanya Naruto penuh semangat, ia mencatat dikepalanya ia juga harus meminjam buku itu nanti kepada hokage pedahulunya. "ceritakan padaku ttebayo.."
Flashback on.
Ino setelah mengecup bibir suaminya itu dalam kemudian melepasnya. Mata mereka kembali bertatapan, dengan segera bangkit dari jongkoknya dan mendorong Ino agar berebah di ranjang mereka.
"kali ini biarkan aku yang memulainya, aku akan mempraktekan apa yang telah kubaca," mohon Sai yang dibalas senyuman Ino, dan ikut membuat Sai kembali tersenyum kemudian menarik wajah Ino mendekat dan segera meraih bibirnya.
Sai menggerakkan bibirnya perlahan sebelum melumat bibir bawah Ino membawa Ino jatuh dalam permainannya. Dan benar saja, Ino mulai menikmati permainan Sai dan mulai membalas ciuman Sai, membuka bibirnya sedikit membiarkan Sai memperdalam ciuman mereka. Dan tanpa ragu Sai memperdalam ciumannya, Ino ikut memanaskan suasana dengan menekan tengkuk Sai untuk mempererat ciuman mereka. Kini bukan hanya istrinya itu saja, Sai mulai terhanyut dalam permainan yang ia ciptakan sendiri.
"Euhh, hhmm." Terdengar suara yang menamabah gairah Sai, apalagi kalau bukan desahan Ino. "Ck, kau sangat menikmatinya, huh?" ujar Sai dengan senyuman khasnya saat telah melepas bibirnya dari bibir Ino, karena kehabisan nafas.
Sai mencium bibir Ino lagi dan kali ini kasar. Tangan Sai kini mulai ikut bekerja, ia menggerayangi tubuh Ino dengan meremas payudara istrinya yang masih tertutupi atasan ungunya itu, "ah…hhmmm…hhaa..ahhh…"desah Ino.
Dengan tak sabar Sai membantu istrinya itu bangkit hingga posisi mereka duduk berhadapan, tanpa melepas ciumannya tangan Sai dengan cekatan membuka resleting baju Ino. Ia sangat bersyukur pakaian para shinobi saat ini sedang tren hanya bermodelkan sleting saja, jadi akan lebih mudah membukanya dari pada kancing.
Setelah baju Ino terbuka, Sai tidak mau tanggung jadi ia melepaskan bra Ino juga sehingga menampilkan buah dada sekal istrinya. Dengan tidak sabaran, Sai meraup kedua benda bulat yang menggantung itu dengan tangan dan mulutnya. "Sssshhh..aaaass" desah Ino semakin tak karuan, masih dengan bibir saling melumat apalagi ketika laki-laki itu mulai meremas payudara Ino dengan kencang, menekan dan menggoda puncaknya yang mulai mengeras. Sai mengecup dan memasukkan sebagian besar payudara Ino satunya lagi ke dalam mulutnya. Menggigit puncaknya gemas lalu menyedotnya kuat bagaikan bayi. Ino tidak berhenti mendesah dan menekan-nekan kepala Sai agar memperdalam emutannya.
Sai membantu istrinya yang tampaknya sedang kesusahan melepaskan pakaian bawahnya itu, sehingga ia melepaskan serangnnya sejenak. Setelah lepas semua dan polos, Ino segera merebahkan diri kembali karena tulangnya terasa lemas. Nafas Sai menderu saat ia menatap lekat-lekat ke tubuh telanjang yang tergeletak di atas tempat tidur. Cahaya bulan yang masuk dari jendela kamar yang terbuka terpantul di mata Ino. Kemudian tatapan itu turun pada kewanitaannya yang mulai basah.
Ino merasa dirinya meleleh ketika dengan perlahan mulut suaminya itu menjelajahi permukaan perutnya yang rata dan terus turun hingga lidah Sai berhenti pada pusat dirinya. Jari-jarinya Ino dengan refleks segera terjerat di rambut Sai dan mengacak-acaknya.
"Sai!" Teriakan bergema di langit-langit kamar ketika lidah Sai terjun jauh kedalam celah Ino. Merasa belum puas Sai melebarkan paha Ino lebih luas, untuk melihat lebih jelas. Lidah Sai kembali bercinta dengan Ino, jilatan lambat Sai berubah menjadi lebih liar ketika pinggul Ino bergerak gelisah. Sai menangkupkan tangannya yang besar di pinggul Ino ketika jari-jarinya mencengkeram pantat Ino, dan menahannya agar tidak terlalu lasak. Ino tersentak ketika Sai mencium pusat dirinya, lidah Sai melesak jauh kedalam lorongnya.
Kini Sai pun sudah tak sabar lagi, ia sudah merasa sesak diselangkangnnya. Baru saja ia ingin melepaskan celananya untuk bersiap memulai permainan utama. Tiba-tiba saja ada yang melompat masuk kedalam kamar mereka melalui jendela yang terbuka.
"kali ini kalian tidak akan kulepaskan!" Sai terlalu kaget sehingga menghentikan kegiatannya. Ino yang terlalu lemas dan matanya yang kabur oleh nafsu pun terperangah. Didalam otak keduanya segera muncul pertanyaan apakah orang yang mengganggu kegiatan mereka saat ini adalah si brandalan anak hokage?
"Meyerahlah penjahat!" setelah berkata demikian Boruto yang matanya masih terpejam menendang kesegala arah diruangan itu, menyebabkan perlengkapan make-up Ino yang tertata rapi diatas meja rias berserakan. Pasangan yang terganggu itu masih terlalu kaget dan bingung sehingga berdiam diri, bahkan Ino tidak melakukan apapun untuk menutupi ketelanjangnannya.
Setelah puas bertarung dengan musuh anginnya didalam kamar orang, akhirnya Boruto beranjak pergi keluar dari arah ia datang. Kini tersisa sepasang suami istri yang tadi sedang membara, telah menyusut hasratnya. Terlebih lagi Ino yang telah dikuasai amarah setelah ia tersadar dari syoknya.
Flashback off.
'glek' Naruto menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia yang tadi begitu bersemangat untuk mendengar cerita Sai kini tengah merasakan firasat buruk. Ia tidak tahu bahwa anaknya yang mengigau itu juga mengganggu oranglain setelah sempat mengusik kegiatannya terlebih dahulu. Naruto tidak bisa membayangkan ada berapa banyak pasangan di Konoha yang menerima surpraise dari putranya itu tadi malam.
"sepertinya Ino tengah mencari anakmu, dan bila tidak menemukannya perempuan itu berjanji akan memenggalmu Hokage-sama" perkataan Sai membuat bulu kuduk Naruto segera merinding takut, terlebih ketika Sai mengatakannya dengan senyuman berbisa.
"ah, sepertinya Sakura juga telah mengetahui perihal cairan di gulungan itu. Kurasa salah satu dari kita juga akan menerima akibatnya," perkataan Sai selanjutnya ini membuat Naruto semakin ciut, "entah chidori Sasuke atau tinjuan maut si jelek itu nanti yang kita hadapi."
"S-Sai, bagaimana kau bisa berkata tenang seperti itu, ttebayo?" tanya Naruto yang mulai panik. Jincuriki itu telah berdiri dan berjalan mondar mandir sambil memegangi kepalanya, "aku ini Hokage ttebayo, aku tidak bisa mati karena hal sepele memalukan seperti ini."
"anbu, ya aku akan memakai anbu untuk melindungiku. Aku tidak mau mati konyol dikeroyok masa! Apalagi tenaga Sakura-chan itu sa—"
Ocehan tidak jelas dari Naruto terpotong oleh kedatangan Konohamaru yang sepertinya sangat tergesa-gesa. Yang langsung muncul Dalam pikirannya adalah 'Boruto dan ulahnya', ia yang baru ingin bertanya segera terdiam karena salah sangka.
"Naruto nii-sama, tuan Hizashi Hyuga tengah mengamuk dan menyebut-nyebut namamu," lapor Konohamaru.
"aku mendengarnya dari Hanabi untuk segera melaporkannya kepadamu. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan kepada Hinata nee-san?" tanya Konohamaru yang telah kehilangan sikap formalnya.
Keringat dingin telah membanjiri pelipis Naruto, ia memang belum tau apa duduk permasalahannya. Tapi mendengar mertuanya yang dingin itu marah merupakan hal yang gawat darurat. Ia tidak mengerti kenapa hari ini semua orang ingin menghajarnya. Apakah para istri sudah mengubah harapannya supaya Hokage sial?
"Sai, Konohamaru cepat selamatkan aku! Bawa aku kemana saja tempat yang aman!" printah Naruto kepada kedua orang yang ada diruangannya itu. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah Kabur.
FIN
.
.
.
Omake
Disebuah lapangan dekat sungai, tampak seorang bocah laki-laki berambut kuning tengah berpikir serius. Ia sesekali melemparkan kerikil-kerikil kecil kearah sungai itu. Tak jauh dari sana tampak seorang pria yang usianya cukup matang mengawasinya dari atas pohon. Melihat si bocah tengah menggerutu seperti bertanya-tanya, lelaki tersebut memutuskan menghampirinya.
"Yo!" sapa lelaki tersebut dengan tiba-tiba muncul disamping bocah itu sambil memandangi sungai.
"Kakashi ojii-san?" bocah tersebut cukup terkejut dengan kehadiran pria tersebut. Si pria berambut perak itu hanya tersenyum dibalik maskernya, kedua mata sendunya sampai terpejam. Walaupun sudah tidak semuda dulu, diusia yang empat puluh lima tahun Kakashi masih terlihat tampan. Meskipun wajahnya masih setia ditutupi masker.
"apa yang sedang kau lakukan sendirian disini Boruto?" tanya Kakshi kepada bocah berambut kuning yang sudah dianggapnya seperti cucunya itu, "kenapa tidak bersama temanmu?"
"aku sedang memikirkan sesuatu," jawab Boruto dengan skeptis. Kakashi memperhatikan raut wajah bocah itu yang sepertinya ingin bertanya sesuatu kepadanya namun masih tampak ragu.
"ceritalah, atau tanyakan saja kepadaku bila ada sesuatu mengganggumu," Kakashi mengambil inisiatif.
"hemm, sebenarnya ini pertanyaan yang tidak bisa aku jawab," cerita Boruto, "aku tidak mau dianggap kakak yang payah dan tidak keren oleh Hima-chan."
Kini bola mata biru Boruto menatap penuh harap kepada mantan sensei ayahnya itu, "jadi Kakashi jii-san bisakah kau menjawabnya untukku?"
Setelah melihat anggukan kepala dari Kakashi, Boruto melanjutkan "sebenarnya apa itu kondom?"
Mata sayu Kakashi kini membuka melebar, ia cukup terkejut diajukan pertanyaan seperti itu. Namun tidak bisa dipungkiri dibalik maskernya sang mantan Hokage keenam itu tengah menyeringai dengan sangat lebar, "aku akan meminjamkan buku padamu."
THE END
Author Note :
Jeng!jeng! akhirnya chapter akhir ini selesai juga. Terpaksa author mengucapkan salam perpisahan kepada pembaca sekalian di cerita ini. semoga kita bisa bertemu di fanfiction lainnya… #lebay
Di chapter terakhir ini author berusaha memasukan semua pairing, walaupun hanya secara singkat. Terkhusus buat para penggemar Chouji-Karui author minta maaf karena belum bisa menulis chapter special mereka. Masih terdapat kesusahan untuk menggali karakter Karui sehingga ide cerita tidak tertuang.
Nah bagi penggemar SaiIno, disini author telah menebus adegan lemonnya dan menambah cerita lebih banyak ke pasangan ini. semoga kalian suka. Eh, alasan Sai juga udah kejawab kan?
Nah buat nanti yang bertanya mereka akhirnya mendapatkan keinginan anak kedua, tenang saja author tengah menyiapkah chapter spesialnya. Tinggal menunggu waktu publish yang tepat :)
Nah buat yang bertanya kenapa para ayah takut anak perempuannya menikah, jawabannya karena putri mereka masih kecil jadi wajar mereka sedikit protektif. Apalagi ayahnya author juga pernah bilang, seorang ayah itu memang susah sekali melepaskan anak perempuannya ke laki-laki lain walaupun telah dewasa. Kecuali Chouji kali ya, ia tampak lempeng-lempeng aja..
Kasian juga ya anak polos seperti mereka harus terkena virus mesum orangtuanya..ckckck..
Oh iya kalian paling suka dibagian mana? Kalau author itu suka di omakenya. Rindu juga kepada Kakashi, sehingga ia diputuskan muncul diakhir. Author juga jadi berniat membuat oneshot untuk cerita kehidupan Kakashi dieranya Boruto. Tapi nanti setelah fic yg lain selesai dulu.
Author juga minta maaf untuk typo yang masih bertebaran ya.. maafkan daku *puppyeyes
Ahh gak tau kenapa notenya bisa sepanjang ini. Yang pasti Autor sangat senang atas respon pembaca selama ini, yang udah ngefolow, favorit dan review. Terimaksih banyak..
Seperti biasa special buat kamu yang review di chap sebelumnya : UchiHaruno Sya-Chan, Himeko Utshumi, ONE AY, Niayuki, sq, Guest, Wid-wid, mermaizing, The KidSNo OppAi, SasukeCherry, RanCherry, lililala249, uchiha della, williewillydoo, Kurumi Keiko, Salsabilla12, Kiriko Saki.
