Chapter 01 – Waspada, Kucing Rabies!


Disclaimer : Gintama hanya milik Gorila tercinta kita, Sorachi Hideaki-sensei.

Genre : Humor, Romance.

Rate : T

Warning : OOC, Plot Gaje, Typo, EYD ancur.


"AAAARRRGG!"

Suara lengkingan melesat menelusuri kepadatan bangunan di Kabukichou. Tertiup gemuruh kendaraan lalu hilang di telan germelap kota. Orang-orang seakan tak peduli dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Serasa hanya angin lalu saja.
Tanpa di undang gerombolan binatang berbulu keluar dari gang sempit. Mempertontokan taringnya yang masih basah dengan cairan merah. Bola matanya seakan bersirna terkena cahaya lampu jalan dan cakarnya mencengkram tanah menimbulkan jejak tercabik disetiap langkah.

"...Tolong!" Si pemilik suara sebelumnya berlari terseok-seok keluar dari gang berusaha menjauhi gerombolan mahkluk itu. Tangan kirinya memegang tangan lengan kanannya yang terayun-ayun lemas. Tidak tunggu berapa detik tubuhnya sudah terjatuh di emperan toko. Orang-orang yang berlalu-lalang berhenti untuk memeriksa kondisinya.

"Awas.. Ada kucing.. Gila!" Sepatah kalimat terakhir sebelum pelupuk matanya tertutup. Orang-orang hanya menatapnya heran dan bingung. Seolah merasa terpanggil, gerombolan kucing kemudian melompat menyerang orang-orang itu. Teriakan pun membanjiri jalanan tanpa henti. Kucing-kucing itu mencangkar lalu menggigit setiap manusia yang ia lihat tanpa belas kasihan yang berarti layaknya zombie. Beberapa gelintir orang berusaha kabur dan melawan para kucing yang menggila. Perkelahian yang sengit terjadi tanpa siapapun dapat hentikan.

"Dimana sih Madao.. Katanya mau kencing. Kenapa lama sekali" Gintoki melenggang keluar setengah mabuk dari sebuah kedai minum. Beberapa orang melintas dihadapannya dengan baju robek-robek dilengkapi dengan wajah yang amat ketakutan. Sebelum Gintoki sempat bertanya mereka sudah kabur seperti dikejar tukang kredit. Gintoki hanya memandangnya sebelah mata.
"Ah sial sudah jam segini. Aku harus pulang.." Ia melempar langkahnya pergi. Tanpa menyadari beberapa pasang cahaya merah kecil menatapnya tajam. Mahkluk-mahkluk itu lalu melompat dengan kesepuluh cakarnya yang di rentangkan di udara. Gintoki tidak mengetahui bahaya yang mengancam.

Pret

"Aku kebanyakan minum.."

Gas bulat seakan membentuk tameng memantulkan kucing-kucing itu hingga mereka terlempar ke tanah menimbulkan suara tubrukan. Gintoki menengok ke belakang dan menemukan beberapa kucing tengah menggelepar di tanah dengan busa keluar dari sela giginya.

"Heiy jangan tidur disini kucing bodoh. Nanti kau terlindas mobil" Ia bercoleteh selagi meminggirkan kucing-kucing itu. Ekor matanya melihat Madao yang tengah terbaring di jalan seberangnya.

"Di tungguin ternyata malah sudah tidur.. Ah terserah"


Di siang hari yang terik polisi berseragam hitam tengah berbaris di lapangan. Mereka di penuhi rasa penasaran alasan mereka di kumpulkan. Hijikata muncul di depan barisan lalu menjelaskan operasi kucing rabies yang akan ia lancarkan. Ia mendapat laporan tentang kasus penyerangan kucing di kabukichou yang membuat resah para penduduk akhir-akhir ini. Para kucing itu sangat ganas dan di duga terkena rabies Mereka ditugaskan untuk menangkapi semua kucing liar tanpa tersisa satu pun.

Langsung saja Kabukichou di penuhi oleh Shinsegumi dengan karung di tangan mereka. Sial nasib mereka karena ternyata para kucing sangat lincah dan gesit. Beberapa orang pun mulai melancarkan strateginya. Hijikata menaruh botol mayonaise yang sudah di buka di dalam tong yang disanggah setengah dengan kayu. Ia agak heran mengapa tak kunjung satu pun kucing datang padahal itu adalah mayonaise terbaik yang ia punya.
Lain dengan Yamazaki yang berusaha mengumpan para kucing dengan anpannya. Bau anpan langsung menari di udara sementara Yamazaki dan yang lain bersembunyi di belakang tong sampah. Belum lama suara langkah terdengar. Dengan sigap mereka keluar dari persembunyian mengeluarkan gagang jaringnya. Tapi bukan kucing yang mereka temukan, yang ada hanya seorang madao.

"Rezeki" Madao dengan ceria tengah memasukan anpan ke dalam bajunya satu persatu.

"Oiy! Apa yang kau lakukan?!" Yamazaki menunjuk Madao dengan kesal.

"Maaf, kukira kau membuangnya.. Ah tapi boleh kan kuminta sedikit? " Setelah Madao berlalu, Yamazaki menaruh anpan baru dan menunggu. Suara gaduh kembali terdengar dan jaring-jaring terangkat ke udara.

"Yamazaki-san, apa yang kau lakukan?" Ucap salah satu anggota Shinsengumi mendapati Yamazaki jongkok di sebelah umpan. Dengan wajah kusut dan mulut penuh ia menjawab,

"Habis.. Ini anpan terakhirku.." Ia tidak bisa merelakan kepergian anpannya. Salah satu anggota lalu melucur terbang menendangnya hingga nyungsep. Mereka kemudian menarik Yamazaki yang masih meraung-raung ke balik tong sampah meninggalkan anpannya yang tinggal setengah.

"Datang!"

Seekor mahkluk langsung melompat menerjang anpan di tanah dengan rakus. Yamazaki dan para anggota Shinsengumi bergegas keluar dari persembunyian siap menangkap.

"Tunggu, itu bukan kucing!" Bebek raksaksa berwarna putih tengah memasukan anpan di tanah ke mulutnya dengan lahap. Yamazaki dan yang lain hanya cengo. Mereka tidak menduga banyak mahkluk yang menyukai anpan. Yamazaki jadi sedikit merasa tersaingi. Tanpa disadari seorang pria berambut panjang menghampiri mahkluk itu.

"Elizabeth, jangan memakan makanan busuk seperti itu! Nanti kau sakit perut" Merasa makanan yang selalu menemaninya dihina, Yamazaki tidak tinggal diam.

"Anpan bukan makanan busuk!... Eh, Katsura?!" Katsura langsung kabur bersama Elizabeth di ikuti beberapa anggota Shinsegumi. Tidak lupa ia melemparkan bom sebagai hadiah perpisahan dan meledakan mereka. Ledakan bom itu juga berdampak mengusir kucing-kucing liar yang sudah hampir tertangkap perangkap Hijikata.

"Yamazaki!" Hijikata mengejar Yamazaki dengan geram.

"Tapi itu bukan salahku!"

Sougo hanya menatap mereka datar selagi meniup permen karetnya menjadi balon. Sekelabat telinga runcing melewati ekor matanya. Jaring ditangannya reflek menangkap telinga itu. Ia menarik jaringnya itu dan terkejut karena ternyata sangat berat. Detik selanjutnya ujung jaring itu terangkat keatas.

"Kondo-san, mengapa kau memakai telinga kucing?" Kondo berdiri masih dengan gagang jaring Sougo yang bergelayut di kepalanya.

"Strategi Nekomimi" Ucapnya dengan senyum sumringan. Ia memakai kumis kucing lengkap dengan ekornya dan sebuah pita juga menghiasi nekomimi yang ia kenakan mirip dengan telinga h*llokitty.

"Kita akan menyamar menjadi kucing betina. mereka pasti akan mendekat! Kau mau mencobanya, Sougo?" Sougo sudah pernah menggunakan strategi itu untuk menangkap kumbang dan tidak berhasil. Ia enggan melakukannya lagi. Ia memandang setengah miris anggota Shinsengumi yang sebagian sudah memakai nekomimi.

"Uwaa!" Sebuah benda mirip bola meluncur menggelinding di mainkan kucing-kucing liar. Objek itu ternyata adalah Tetsu dan Benang merah tebal mengelilinginnya badan gempalnya hingga ia seperti mumi.

"Strategi bola benangmu berhasil, Tetsu!" Kondo memuji bawahannya yang belum lama bergabung ini. Tetsu setengah senang dan panik di mainkan para kucing sementara orang-orang pun mulai menangkapi para kucing yang lengah. Sougo sedikit heran mengapa pula ia perlu menjadi bola benang. Melihat itu Hijikata merasa tidak mau kalah dan menambah jumlah botol mayonaise di bawah tongnya.

Di pojok gang, Shimaru sedang duduk dengan balon transparan keluar dari maskernya. Di sebelahnya terdapat pemanas dan bantal-bantal nan empuk yang entah dia dapat darimana. Kucing-kucing nampak tidak curiga, berjalan mendekat dan ikut tidur bersamanya dengan tentram. Berapa menit kemudian ia terbangun dan mulai memasukan kucing yang pulas tertidur ke dalam karung dengan hati-hati lalu tertidur lagi dan begitu seterusnya. Benar-benar sangat simple dan efektif.
Tinggal Sougo yang belum membuat strategi apapun. Ia sebenarnya sangat malas mengerjakan operasi ini dan berniat untuk kabur saja.

"Sadis, kau mau menangkap kumbang? sekarang belum musim panas" Seorang gadis bercepol hitam menatapnya penuh selidik dengan sukonbu diantara bibirnya. Di belakangnya Sadaharu mengikuti dengan setia.

"Aku tidak ingin menangkap kumbang" Jawabnya datar. Kagura tidak puas dengan jawabannya yang kurang detail.

"Terus?"

"Kami sedang menangkapi kucing liar"

"Memang ada apa dengan kucing liar?"

"Kau tinggal disini kan? Dasar kudet"

"Berisik! Beritahu aku!"

"Sebagian dari mereka terjangkit rabies. Kami harus menangkapnya dan membasminya" Jelas Sougo. Berlian biru itu membulat terkejut lalu beradu pandang dengan Sadaharu yang memiringkan kepalannya. Sougo menghela nafas.

"Kalau kau melihatnya, beritahu aku.."

"Tapi..."

"Cina, kau tidak perlu kasihan pada mereka. Ini demi kebaikan mereka juga"

"Bukan,... Rabies itu... Apa?" Kagura sama sekali belum pernah mendengar kata itu dalam hidupnya. Padahal ia sudah sering menonton TV dan membaca semua buku bacaaan Gintoki termasuk yang disembunyikan. Ia berandai-andai apa arti kata itu. Sougo menatap sinis.

"Kau selama ini tinggal dibalik batu?"

"Beritahu aku!"

"Rabies itu penyakit yang menyebabkan, keagresifan, keganasan dan air liur yang berlebihan.. Biasanya menjangkit anjing"

"Sepertinya kau harus waspada ya, Chihuahua" Kagura menyeringai meledek. Pemuda itu hanya memutar bola matanya.

"... Pengidapnya juga menjadi sangat rakus dan sering berkata 'aru'…." Sampai disitu Kagura terlonjak.

"Eh?! Berati aku kena rabies?!"

"Oh. Kau baru sadar, Cina?" Sougo menyeringgai melihat Kagura panik.

"Kau bohong! Lagian, Aku tidak mengeluarkan air liur berlebihan!"

"Kau mau ini?" Sougo mengeluarkan kue dari kantungnya dan Kagura langsung banjir iler seraya berusaha mengambil kue itu. Jaring pun langsung menyelimuti kepala Kagura yang tidak sempat menghindar. Wajah gadis itu sekedepat menjadi sepucat tembok. Ia mengelap air liurnya dan berusaha melepaskan jaring dari kepalannya.

"Tidak, kau salah! Aku tidak kena rabies! Lepaskan! Lepaskan!"

"Terlambat Cina, aku harus membasmimu" Sougo tersenyum sadis sembari menarik Kagura yang masih meronta ke dalam karung di tangannya. Hijikata yang berada dalam jarak pandang Kagura pun diteriaki.

"Toshi, tolong aku! Ini pasti kesalahan!"

"Siapa yang kau panggil 'Toshi'?!" Hijikata menyesap rokoknya lalu menghebuskannya perlahan.

"Sougo, dia itu memang loli tapi, kau tidak boleh mengarunginnya"

"Aku bukan loli!"

"Siapa juga yang mau mengarungi loli seperti dia. Dia terkena rabies" Hijikata mengerutkan alisnya.

"Eh, kau terkena rabies?"

"Tidak!" Kagura langsung kabur dengan jaring yang masih bertengger di kepalannya dan karung di badannnya. Andaikan ia ikut lomba balap karung pasti ia akan menjadi juara. Sadaharu ikut mengejarnya sementara Hijikata masih heran.

"... Yah, jaring dan karungku sudah tidak ada. Jadi, boleh aku istirahat saja?" Pertanyaan Sougo langsung dibalas dengan jitakan di kepalannya.

"Enak saja!"


"Gin-chan! Gawat aku terkena rabies! Bawa aku ke dokter!" Kagura masih dengan jaring dikepalanya menggeser pintu dengan kasar sampai hampir lepas.

"Kagura, kau terlihat sangat sehat. Kalau kau mau meminta uang, maaf saja, Gin-san sedang tidak punya uang" Gintoki sedang tiduran di sofa sambil membalik halaman majalah jump dengan malas. Kagura berjalan mendekat dengan terburu-buru.

"Aku serius!"

"Gin-san juga" Tangan mungilnya lalu menarik paksa majalah dari tangan Gintoki. Sebelum Gintoki protes, ia menjedotkan keningnya ke kening Gintoki sampai pria itu menjerit.

"Aku panas gak? Aku sakit gak?"

"Iya, ini sakit sekali, Kagura bodoh!" Gintoki mengusap-usap keningnya yang memerah.

"Gin-chan!"

"Kau sehat, sudah kubilang kan!"

"Tapi Sadis bilang aku terkena rabies.."

"Memang apa gejalannya?"

"Agresif, ganas, air liur yang berlebihan.. Terus rakus dan sering berkata 'aru'... Tunggu sebentar..SADIS SIALAN!" Gintoki hanya menghela nafas dan mengambil kembali majalah dari tangan Kagura. Gadis yato itu baru saja bersiap untuk kembali dan menghajar seseorang ketika terdengar suara dari toilet.

"Tisu toilet habis!" Ujar Shinpachi. Kagura memeriksa lemari dan tidak menemukan satu pun.

"Gin-chan, berikan aku uang untuk membeli tisu" Kagura setengah tersenyum ketika berpikir bisa memakai uang kembaliannya untuk membeli sukonbu.

"Biar aku saja yang beli" Seolah membaca pikirannya, Gintoki menutup majalah dan mulai bersiap pergi.

"Gin-chan! Mengapa kau tidak percaya padaku!?"

"Tolong cepat ya" Pesan Shinpachi.


"Fukucho, kami sudah mengandangkan semua kucing liar namun tidak ada yang terlihat sakit" Lapor Yamazaki dengan kucing berwarna putih mengantung dikepalanya. Hijikata menyesap rokok di tangannya lalu memandang kucing berwarna kuning yang tidur di pangkuannya. Ia bersikap ramah pada kucing kuning itu karena mahkluk berbulu lembut itu mengingatkannya dengan mayonaise.

"Panggil dokter hewan dan berikan mereka vaksin"

"Siap, Fukucho!"

Markas Shinsengumi kini sedang kebanjiran kucing. Mereka terlalu banyak hingga tidak muat dimasukan kandang dan dibiarkan saja berkeliaran. Beberapa anggota malah sedang asik mengelus dan bermain bersama para kucing. Mendadak tempat itu lebih mirip dengan cafe kucing ketimbang markas polisi.
Sougo malah sedang tidur siang ditemani seekor kucing. Ia bahkan memakaikan kucing itu penutup mata juga.

"Aneh sekali ya" Kondo ikut duduk di samping Hijikata.

"Tidak ada kucing yang terkena rabies... Atau kita belum berhasil menangkapnya" Hijikata menarik rokok dari kotaknya dan menyalakan pematik api.

"Setidaknya kita bisa memberi mereka vaksin untuk mencegah penularan. Besok kita akan cari lagi"
Setelah semua kucing diberi vaksin mereka langsung diangkut pergi dengan truk ke tampat penampungan hewan. Hijikata menaruh kucingnya di truk di temani sebotol mayonaise agar ia tidak kesepian.


Malamnya Sougo tengah berjalan-jalan di daerah kabukichou. Ia mendapat jatah patroli malam sebagai hukuman karena tidak mendapat satu kucing pun dikarenakan kabur tidur siang.
Sougo merasa ini bukan sepenuhnya salahnya. Gadis cina sudah mengambil jaring dan karungnya. Ia setengah terkejut ketika Gadis cina yang ia pikirkan tiba-tiba terproyeksi di hadapannya, berjalan ke arahnya dengan santai. Suatu kebetulan. Tiba-tiba gadis itu melompat ke arahnya dengan payung yang diayunkan ke atas. Sougo reflek mengeluarkan pedangnya. Pedang dan payung mereka pun bertabrakan.

"Sialan, beraninya kau mengerjaiku! Sadis sialan!" Ujar Kagura dengan perempatan bersiku di keningnya.

"Salahmu sendiri yang terlalu polos, Cina" Kagura menarik payungnya.

"Kusumpahin kau terkena rabies!"

"Oh tidak, kau membuatku takut~" Sougo tersenyum mengejek membuat Kagura makin kesal. Ia makin brutal mengayunkan payungnya dan selalu ditangkis oleh Sougo. Ia lalu menarik sesuatu dari dalam kantungnya dan melemparnya ke arah Sougo dan kembali pemuda itu hindari. Benda itu teryata adalah gagang jaring dan karung.

"Itu kukembalikan"

"Kau tidak perlu mengembalikannya"

"Aku tidak mau menyimpan barang darimu, kau bisa saja sudah menaruh santet atau apalah di benda ini"

"Terserah.."

"Apa yang bocah sepertimu lakukan malam-malam begini?" Tany

"Kau juga bocah! Aku sedang mencari Gin-chan. Ia membeli tisu toilet tapi dari sore belum kembali.." Kagura celingak-celinguk. Ia yakin sekarang pantat Shinpachi sudah menjadi batu atau mungkin sudah bersatu dengan toilet. Kemungkinan terburuk ia menggunakan dirinya untuk mengelap.

"Pakai saja cepolmu-" Usul Sougo dan langsung di hadiahkan dengan payung yang melesat ke kepalanya. Beruntung bisa di hindari.

"Sebaiknya kau pulang, Cina" Kagura sedikit terkejut dengan perkataan Sougo.

"Kau tidak perlu mengkhatirkanku!" Gadis itu menjulurkan lidahnya. Sougo mendengus.

"Siapa yang khawatir. Aku hanya tidak mau repot bila ada sesuatu yang terjadi"

Kagura sebenarnya sudah malas dan ingin pulang, apalagi hari sudah menjadi dingin. tapi entah mengapa ia malas menuruti perkataan Sougo dan ingin mengganggu orang itu.

"Mengapa kau malah mengikutiku?" Sougo menengok ke belakang nampak jengkel.

"Siapa yang mengikutimu, aku mau mencari Gin-chan" Kagura memalingkan wajah. Sougo hendak protes ketika ia menyadari sepasang mata merah di belakang Kagura.

"Awas!" Ia mendorong Kagura yang belum sempat menengok dan mengeluarkan pedangnya. Sougo sudah menghadang dengan pedangnya namun mahkluk itu lincah sekali. Mahkluk itu berhasil menggigit lengannya dan melompat menghindar sambaran pedangnya.

"Sadis!" Kagura terkejut. Namun Sougo tidak menunjukan rasa sakit sedikit pun dan tetap fokus pada kucing-kucing yang mulai bermunculan.

"Ternyata masih ada yang lolos ya dari operasi tadi sore.." Sougo menyeringgai. Akhirnya ia bisa menghilangkan kepenatan dan kebosenannya dari siang.

"Kau tidak apa-apa?" Kagura tidak melirik lengan Sougo yang terluka.

"Kau tidak perlu mengkhatirkanku" Sougo menjulurkan lidahnya dan Kagura menyesal sudah khawatir.

"Mereka ini terkena rabies?"

"Apa masih perlu kujelaskan? Tentu saja"

Gadis itu melayangkan tendangannya pada seekor kucing yang berniat mencakarnya. Air liur bercipratan dari mulut kucing itu, pupilnya mengecil dengan punggung yang melengkung keatas dan cakar yang keluar.
Kucing-kucing itu sangat lincah, melompat kesana-kemari bagai ninja dan menghunuskan cakarnya layaknya pedang. Sougo diam-diam berharap bisa melatih kucing-kucing ini untuk membunuh Hijikata. Di sisi lain, Kagura mencoba berhati-hati untuk tidak terkena gigitan dan menendang kucing-kucing itu. Biasanya sekali tendang seekor sapi pun bisa pingsan namun kucing itu tetap bisa bangun lagi dan Kagura menjadi tercengang. daya tahan kucing itu membuatnya kagum. Pertarungan berlangsung tidak sebentar. Kucing-kucing itu terus bertambah. Melihat gagang jaring dan karung yang tergeletak, Kagura mendapat ide. Ia kemudian mengambil gagang jaringnya dan mengayungkan pada para kucing yang lengah. Mereka sukses tertangkap dan langsung di lempar ke dalam karung. Sougo ikut membantu Kagura untuk mengalihkan perhatian kucing-kucing rabies itu sementara Kagura menangkapinya. Untungnya karung itu cukup kuat sehingga tak ada satu pun kucing yang bisa kabur. Satu demi satu kucing tertangkap dan kucing yang lain memilih untuk kabur.

"Apa mereka bisa sembuh?" Kagura baru petama kali melihat hewan yang terkena rabies dan mereka lebih seram dari amanto.

"Entahlah, aku bukan dokter" Sougo mengikat kantungnya dengan kencang.

"Kagura, kau sedang apa?" Gintoki tiba-tiba muncul mendekati mereka.

"Gin-chan! Kau dari mana saja!?"

"Maaf, tadi ada urusan sedikit. Ini tisu toiletnya" seplastik tisu toilet diberikan pada Kagura dan langsung diterimanya.

"Ayo kita pu-" Tanpa ada angin atau hujan, Kagura terjatuh terlentang ke tanah. Gadis itu bingung apa yang membuatnya terjatuh dan baru menyadari Sougo yang menimpa badannya.

"Okita-kun, kau tidak boleh menyerang anak orang di depan bapaknya.." Gintoki berekspressi datar namun kesal.

"Sadis, menyingkir dariku!" Kagura berusaha mendorong Sougo dari badannya. Namun ia tidak banyak bereaksi dan hanya mengeluarkan nafas yang tak beraturan.

"Sadis?" Kagura melihat luka gigitan di tangan Sougo yang mulai mengeluarkan darah dan membengkak. Pemuda itu terengah-engah dan nampak kesakitan.

"Gawat, Gin-chan!"


To Be Continued


Sebenernya daku gak suka nulis fanfict tapi yah asupan makin sedikit akhirnya bikin asupan sendiri

Udah diketik sayang gak dipublish wkwkw

maaf kalo OOC dan sebagainya :'3

Kritik dan Saran sangat di butuhkan karena daku baru pertama kali ngepublish fanfict.

Kalau kalian suka sebaiknya ngereview, karena kalau tidak ada review, kemungkinan tidak akan dilanjutkan :D