Chapter 02 – Nekomimi itu fetis sejuta umat!
Disclaimer : Gintama hanya milik Gorila tercinta kita, Sorachi Hideaki-sensei.
Genre : Humor, Romance.
Rate : T
Warning : OOC, Plot Gaje, Typo, EYD ancur.
Sengatan sang mentari tidak menghentikan aktivitas siang itu. Shinpachi dan Kagura sedang bebelanja dan berbaur bersama kerumunan yang sedang berlalu-lalang di jalanan. Namun, ada yang terasa berbeda.
"Kenapa banyak sekali orang yang menggunakan nekomimi?" Shinpachi menebar pandangannya ke orang di sekitar.
"Aneh sekali, kupikir karena penyerangan kucing rabies. Orang-orang akan takut pada kucing, ternyata sebaliknya ya" Diam-diam Shinpachi membayangkan Otsu-chan dengan nekomimi. Awan berisi khayalannya langsung terhapus ketika melihat Kagura yang terdiam. Matanya sayu dengan pandangan kosong.
"Kagura-chan?" Tidak ada respon.
"Kagura-chan!" Pundak Kagura terangkat terkejut lalu gadis itu menoleh, "Apa?"
"Jangan melamun" Kagura hanya mengangguk lalu kembali menghadap ke depan. Tidak biasanya gadis itu anteng, padahal setiap belanja ia pasti selalu rewel minta di belikan yang aneh-aneh. Shinpachi berusaha menebak-nebak apa yang di ada benaknya.
"Kau masih kepikiran keadaan Okita-san?" Tepat sasaran. Kagura reflek meremas kantung belanjaan di tangannya, membuat berapa kemasan dan botol menjadi penyok.
"Aku tidak memikirkannya." Wajahnya sekilas bersemu merah. Namun langsung hilang di ikuti dengan langkahnya yang mendahului Shinpachi.
"Bagaimana kalau kita jenguk dia setelah selesai belanja?" Usul pemuda berambut hitam itu mencoba menghibur. Kagura tidak menoleh. Orb birunya terfokus ke apa yang ada di depannya.
"Aku tidak peduli keadaannya. Tapi, kalau kau ingin menjenguknya, aku akan ikut"
Shinpachi tersenyum. Ia tidak menyangka Kagura bisa menjadi gadis tsundere. Rie Kugimiya(1) pasti bangga. Tunggu sebentar, siapa dia?
Sementara Kagura berusaha menyangkal perasaaan cemasnya. Tapi, bayangan Sougo yang terbaring lemas di atas brankar tidak bisa hilang dari otaknya. Bekas luka gigitan di tangannya membuat matanya mendelik. Luka itu berasal dari usaha pemuda itu untuk menyelamatkannya. Hatinya makin tertusuk. Ada apa dengan perasaan ini?
Padahal biasanya ia akan tertawa terbahak-bahak melihat pemuda itu terkena musibah. Tapi kali ini berbeda. Perasaannya jadi kacau balau. Andaikan dia tidak lengah dan orang itu tidak akan repot-repot untuk menyelamatkannya. Tunggu, siapa pula yang menyuruh bocah itu untuk melindunginya tadi malam? Ia bisa melindungi dirinya sendiri!
"Dasar Sadis bodoh!"
Hijikata dan Kondo bergegas menaiki mobil setelah rumah sakit menelepon bahwa Sougo sudah sadar setelah semalaman koma. Suster dan dokter terlihat sedang mengobrol di depan pintu kamar Sougo ketika mereka berjalan di lorong.
"Tolong jangan masuk dulu" Suster melebarkan tangannya guna menghentikan mereka.
"Ada apa, Suster?" Kondo mengkerutkan kening. Baru saja ia kehilangan rasa cemas yang sudah menggantung di pikirannya dari tadi malam.
Hijikata melirik ke jendela kotak bening di bagian atas pintu. Tidak terlihat siapa pun di atas kasur. Perasaaan tidak enak menyelimutinya. Tanpa mengedahkan suster, Hijikata membuka pintu dengan paksa. Rokok di bibirnya jatuh. Pemandangan di depan mata benar-benar tidak enak dilihat. Hordeng di jendela robek-robek. Botol dan segala benda menggeletak di lantai, beberapa sudah rusak dan pecah berantakan. Tiang tempat tergantungnya kantung infus miring ke tembok. Sprai kasur tercabik-cabik di biarkan miring terjatuh sebagian ke lantai. Isi bantal berhamburan keluar dan berterbangan bebas di udara. Seperti baru saja terjadi peperangan di dalam kamar ini.
Keduanya terperangah dengan badan gemetar.
"Apa yang terjadi?!"
Shinpachi sedang bersaing memperebutkan barang-barang diskon di toko. Biasanya Kagura akan ikut membantu tapi kali ini ia sedang tidak mood. Akhirnya Shinpachi menyuruhnya mencari buah-buahan sebagai buah tangan untuk menjenguk nanti.
Gadis itu kebingungan memilah-milih buah. Ia tidak tahu buah apa yang pantas untuk di bawa ke rumah sakit. Rasa bingungnya bubar setelah melihat gulungan tisu toilet yang disusun seperti piramida di meja sampingnya. Gadis itu entah kenapa menjadi teringat dengan kejadian tadi malam.
Semua ini berawal dari tisu toilet. Karena kehabisan tisu toilet, Gintoki terpaksa pergi membelinya dan tak kunjung kembali setelah itu Kagura menyusulnya. Ia bertemu orang terakhir yang ingin di temuinya hari itu lalu terlibat insiden. Andaikan tisu toilet tidak habis semua itu tidak akan terjadi.
"Ini semua salahmu" Batin Kagura tidak jelas. Ia memberikan tatapan paling tajam yang bisa ia berikan pada tisu toilet yang tidak berkutik itu. Tanpa di sadari gelagatnya di perhatikan oleh pemilik toko yang tadinya sedang sibuk membaca buku.
"Kalau kau memang sudah kebelet, cepatlah beli, Nona" Pemilik toko salah mengartikan wajah kesal Kagura menjadi wajah naber(2). Gadis itu mendengus kesal.
"Aku tidak ingin beli tisu toilet!"
"Oh, apa kau lebih suka menggunakan amplas? Aku akan memberikanmu diskon" Pemilik toko itu menunjukan gulungan tisu toilet, namun bukan berisi tisu melainkan lembaran amplas berwarna hitam. Kagura mendadak horror.
"Pantat siapa yang mau digosok dengan itu! Yang ada bukan bersih tapi malah hancur!"
"Ada kok.. Baiklah kalau yang ini?" Pemilik toko itu mengambil segulung tisu toilet berwarna merah jambu dari rak.
"Tisu toilet ini berwarna pink khusus untuk menemani di malam minggu" Pemilik toko itu mengedipkan matanya.
"Aku bukan jomblo yang menghabiskan malam minggu dengan tisu toilet" Kagura mengorek hidungnya lalu mengelapnya di tisu toilet itu.
"Kalau yang ini? Tisu toilet ini otomatis akan berputar sendiri bila kau malas menariknya!" Kagura membuang benda itu ke jalan, membiarkannya menggelinding pergi.
"Tisu toilet ini di lengkapi dengan baling-baling bambu!" Kagura menerbangkan tisu toilet itu ke langit. Ia terbang bebas sampai tidak terlihat lagi.
Pemilik toko itu kembali mengacak-ngacak raknya, melempar-lempar barang yang tidak ia perlukan seperti kelakuan Bolaemon(3).
"Tisu toilet ini akan membawamu ke pengalaman menegangkan! Ia bisa mendeteksi keberadaan hantu atau monster!" Kagura pikir pembuat tisu toilet itu sudah melupakan tujuan sebenarnya orang datang ke toilet.
"Kau tau kan di kamar mandi biasanya banyak hantu~" Pemilik toko itu memencet tombol merah. Tombol yang lain pun nyala dan suara seperti jam weker menusuk telinga.
"Oh! Ada monster disini! Selanjutnya kita tinggal mengikuti anak panak yang menunjuk keberadaan monster" Panah merah di layar rongga atas tisu toilet sebentar berputak tidak jelas lalu menunjuk ke depan. Sang pemilik toko mengikuti arah yang di tunjukan tanda panah itu dan menyadari panah itu menunjuk gadis cina yang sedari tadi bersamanya.
Kagura langsung mematahkan tisu toilet itu menjadi dua bagian kemudian membanting sang pemilik toko ke lemarinya hingga piramida tisu toilet yang sudah ia susun dengan susah payah itu jatuh berhamburan menimpa badannya.
Pemilik toko masih tidak menyerah dan keluar dari puing-puing tisu toilet membawa tisu toilet baru di tangannya.
"Yang tadi itu cukup menegangkan"
"Bagaimana kalau yang ini, di dalamnya ada pemutar musik. Dari mulai musik pop sampai musik rock! Ada lagu Otsu-chan juga loh. Daya putar 48 jam."
"Siapa yang mau mendekam di toilet selama itu-"
"Otsu-chan?!" Shinpachi langsung ngibrit ketika mendengar nama Otsu. Alisnya melengkung ketika menyadari object di hadapannya.
"Tunggu, Kagura-chan, kita tidak membutuhkan tisu toilet lagi. Gin-san sudah beli kemarin"
"Oh jadi kalian sudah punya stok?" Pemilik toko itu seolah tidak kehabisan akal, "Kalau gitu yang ini saja! Ini sama sekali
tidak berguna! Patriot!" Ia menunjukan palu dengan ujung tisu yang di sambung tisu toilet.
"Terus untuk apa kau menjualnya?!" Shinpachi tidak habis pikir.
"Kita bisa membawa ini untuk buah tangan" Usul Kagura tidak mau repot.
"Tidak boleh! Orang macam apa yang membawa patriot untuk buah tangan!"
"Tunggu, Elizabeth!" Pandangan mereka teralih pada Katsura yang tengah mengejar Elizabeth yang sedang mengejar gulungan tisu toilet.
"Yo Zura" Sapa Kagura.
"Zura janai Katsura da!" Katsura menarik Elizabeth yang sedang menyobek-nyobek tisu di tangannya dengan brutal.
"Kalian juga memakai nekomimi ya" Ucap Shinpachi. Elizabeth menggunakan telinga berwarna putih bulat sementara di kepala Katsura bertengger telinga berwarna hitam lengkap dengan ekornya.
"Elizabeth sangat antusias sekali, jadi aku juga ikut memakainya. Walaupun ekorku tidak bisa bergerak-gerak seperti Elizabeth.." Katsura melirik ekor Elizabeth yang bergoyang leluasa seperti benda itu punya otak sendiri.
"Aku bisa melakukan ini!" Pria berambut mirip model iklan sampo itu sekuat tenaga mencabut ekornya yang langsung menyemburkan darah.
"Mengapa bisa keluar darah!? Itu ekor asli?!"
"Aku memberi lem terlalu banyak" Ia lalu mengayunkan ekornya seperti pedang, membelah gulungan tisu toilet yang sedang terbang di udara di ikuti jeritan sang pemilik toko yang membahana.
"Hebat Zura!" Kagura berdecak kagum yang langsung di balas dengan slogan pria itu. Pemilik toko menangis pilu memeluk tisunya yang terpotong-potong seperti hatinya ikut terbelah-belah juga.
"Katsura!" Yamazaki berlari dari kejauhan bersama anggota Shinsegumi yang lain.
"Sudah saatnya ku pergi, sampai jumpa lagi!" Katsura dan Elizabeth berlari membelah kerumunan orang dengan lincah seperti kucing liar sementara Shinsegumi mengejarnya di belakang.
"Kagura-chan, ayo kita pergi juga" Shinpachi belum sempat melangkah ketika ia terpental ke tanah.
"Shinpachi-san!" Yamazaki yang melihat ikut terkejut dan menghentikan langkahnya.
Di sampingnya seorang manusia tengah merangkak meraba-raba tanah dengan susah payah. Tanganya menyentuh Shinpachi. Ia menghela nafas lega dan menyangkutkannya di hidung. Manusia itu kini sudah berubah kembali menjadi Shinpachi.
"OEY APA MAKSUDMU, AUTHOR!" Shinpachi mendongak ke atas dan melihat sesuatu yang tidak baik untuk mata virginnya.
"KYAAA!"
"Tidak maaf, aku tidak bermaksud-"
Tanpa mendengar alasan, gadis yang sedang diintip roknya itu menampar Shinpachi dengan tasnya hingga ia kembali terlempar menabrak dinding.
"Shinpachi! Apa kau baik-baik saja?!" Kagura berlari menghampiri Shinpachi.
"Kagura-chan? Ya aku tidak apa-apa.."
"Jawab aku, Shinpachi!"
"Sudah kubilang kan-" Manusia itu menoleh mendapati Kagura sedang menangisi Shinpachi yang retak.
"OIY AKU DISINI!"
Setelah Shinpachi kembali ke tempatnya-
"BERHENTI BERNARASI SEPERTI ITU, AUTHOR!"
Shinpachi membereskan barang-barang belanjaanya yang berhamburan kesana kemari di emperan toko. Beruntung tidak ada yang menginjaknya.
"Apa yang terjadi?" Kagura tidak melihat dengan jelas kejadian yang menimpa kacamata malang itu sembari memasukan satu demi satu barang ke dalam plastik.
"Aku bertabrakan dengan seseorang-"
"Makanya jangan melihat gadis-gadis ber nekomimi terus" Ketus Kagura dengan datar.
"Aku tidak melakukannya! Lagi pula dia yang menabrakku!" Ujar Shinpachi dengan nada kesal.
Kagura melirik tajam Yamazaki yang langsung menggeleng dengan kuat.
"Bukan aku! Orang di depanku yang menabraknya!" Yamazaki ikut membantu membereskan dengan terburu-buru.
"Ia tadi ikut lari bersamaku, kupikir ia juga sedang mengejar Katsura-"
"Zaki, kau sudah menjenguk Sadis?" Potong Kagura. Yamazaki terkejut lalu menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Belum. Tapi, tadi dia sudah pulang dari rumah sakit bersama Fukucho.."
"Tadaima, Gin-san" Shinpachi menggeser pintu dengan belanjaan di tangannya.
"Okaeri" Gintoki sedang duduk di sofa, di hadapannya Hijikata menghirup rokoknya dan Sougo duduk di sebelahnya. Kagura membuka mulutnya sedikit terkejut. Apa yang mereka lakukan disini?. Mengkesampingkan pikiran itu, ia sudah cukup senang melihat rivalnya sudah keluar dari rumah sakit.
"Oiy Sadis, kau sudah sehat?" Tanya Kagura dengan nada sedatar mungkin. Pemuda yang di tanya tidak menjawab. Wajahnya tertutup tudung jaket yang sedang ia kenakan.
Hijikata menaruh rokoknya di asbak lalu menarik nafas panjang.
"Aku punya perkerjaan untuk kalian"
"Apa yang pemakan pajak inginkan dari kami?" Gintoki meneguk susu stroberinya tidak niat. Tangan Hijikata menyibak tudung yang menutupi kepala si pemuda berambut coklat. Seisi ruangan langsung sunyi. Detik kemudain tawa Kagura memecahkan suasana.
"Bahahaha! Sadis, mengapa kau pake nekomimi? Bukannya manis, Kau malah terlihat konyol!" Kagura tidak henti tertawa sembari menunjuk-nunjuk telinga runcing coklat di kepala Sougo.
Gintoki menoleh ke Shinpachi sembari menepuk pundaknya,
"Bukankah bagus, Pattsuan? Kau sekarang punya teman dengan fetis yang sama"
"Aku tidak punya fetis nekomimi!"
"Heiy, tutup mulut kalian" Bentak Hijikata.
"Ini telinga kucing asli" Lanjutnya. Untuk membuktikan, pria maniak mayo itu menarik telinga Sougo dengan kuat dan pemuda bertelinga kucing itu langsung menyabet tangannya tapi ia menghindar.
"Dia juga berkelakuan seperti kucing" Sougo masih mendesis menatap tajam Hijikata sambil memegangi telingannya yang baru di tarik. Reaksi Sougo membuat Kagura tertegun.
Gadis yato di kelitiki rasa tidak percaya lalu mendekati mereka berdua,
"Tidak mungkin, ini pasti hanya lem!" Kagura menarik telinga Sougo dan kontan mendapat cakaran di wajah.
"SAKIT!" kagura langsung berguling-guling di lantai memegangi wajahnya. Tidak tunggu lama, ia bangun dengan sudut bersiku muncul di kepalanya. Tidak mau kalah, ia mencakar wajah pemuda bersurai pasir itu. Sougo meringis dan kembali membalasnya. Kagura menghindar. Kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu berbulu.
"Eh ekor?-" Kagura terlalu fokus pada ekor berwarna pasir ketika tangannya di cakar. Mereka berdua akhirnya terlibat dalam baku cakar yang hebat. Ketiga orang yang lain di ruangan itu hanya tertegun melihat mereka.
"Tidak kusangka selama ini Okita-san adalah amanto" Shinpachi tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
Gintoki menaruh tangannya di dagu dan berpikir,
"Catherine pasti senang menemukan saudarannya yang hilang"
"Bukan! Kalian salah. Dia manusia" Hijikata meluruskan.
Ia menyalakan sebatang rokoknya lalu menghisapnya perlahan.
"..Hingga kemarin"
Kondo dan Hijikata berjalan dengan gontai memasuki ruangan itu.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Kondo dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya. Segala macam kemungkinan melesat di pikirannya.
"Kalian tenang dulu. kami akan menjelaskannya-" Suster mencoba menenangkan namun tidak ada hasil.
"Dimana Sougo?" Hijikata mengerling ke sekitar. Suster menunjuk ke atas lemari. Semua pandangan tertuju ke atas.
Pemuda dengan penutup mata berwarna merah terlihat sedang tidur tengkurep dengan kaki yang di tekuk di bawah perut dan di turunkan satu, ia menyilangkan kedua tangannya untuk bantalan kepala.
"Sougo, mengapa kau tidur disitu?!" Kondo menjerit.
"Apa dia mau belajar menjadi tarzan?" Hijikata menatapnya kesal.
"Hoiy, bangun! Turun!" Pria berponi V itu menepuk dan menarik kaki Sougo yang menggelantung. Ekspressi suster dan dokter mendadak menjadi pucat. Mereka berusaha menghentikan Hijikata dengan insyarat tangan namun tidak di pedulikan. Merasa tidurnya di ganggu, Sougo mengangkat kepalannya dan membuka penutup matanya, melirik Hijikata.
"Turun kubilang!" Perintah Hijikata.
Secepat kilat, Sougo sudah menjongkok di bawah dan Hijikata menjerit histeris memegang wajahnya.
"Sakit!" Kondo mengecek Hijikata dan melihat luka bergaris-garis merah di wajahnya. Suster bersembunyi di belakang dokter yang tengah melindungi dirinya dengan map yang ia bawa sementara Sougo menjilat-jilat tangannya tidak peduli.
"Sougo bangsat, apa yang kau lakukan?!" Hijikata berlari untuk menghajar Sougo. Pemuda bersurai pasir itu melompat ke atas meja menghindari pukulannya. Hijikata terus berusaha memukulnya dan Sougo bersalto dari meja ke kasur kemudian melompat lincah ke bingkai jendela namun Hijikata berhasil menarik sesuatu dan membuat pemuda itu menjerit.
"Ekor?" Hijikata terkejut dengan benda yang ia genggam. Sougo mengayunkan kakinya dan Hijikata reflek melompat mundur.
"Mengapa Sougo memiliki telinga kucing dan ekor?"
"Dokter, apa yang terjadi padanya?" Tanya Kondo panik. Dokter dan suster saling beradu pandangan lalu mulai menjelaskan.
"Penyakit ini disebabkan oleh virus asing" Dokter mulai membalik-balik berkas di mapnya.
"Berapa pasien lain juga mengalami hal yang sama, gejalanya tumbuh telinga kucing, ekor kucing, cakar, dan berbicara seperti kucing" Jelas dokter.
"Pasien lain? Bukan Sougo saja yang terjangkit virus ini?"
"Iya, diduga virus ini berasal dari gigitan kucing liar. Awalnya mereka akan demam tinggi dan akhirnya akan seperti ini" Pandangan dokter beralih ke Sougo yang kini sedang memainkan ekornya dengan malas.
"Mereka juga menjadi berkelakuan seperti kucing" Hijikata dan Kondo tidak berhenti menatap Sougo. Yang di tatap membalas dengan datar kemudian melompat ke atas kasur dan melanjutkan tidur siangnya.
"Kami menyebut ini 'Nekomimi Virus'.."
"Apakah ini bisa disembuhkan?" Tanya Kondo.
"Untuk saat ini belum ada obatnya. Kami sedang berupaya meneliti kucing yang membawa virus" Kondo dan Hijikata menghela nafas. Setidaknya masih ada harapan.
"Ngomong-ngomong siapa yang memberantaki kamar ini?" Selidik Hijikata.
"Sebenarnya Ia sudah sadar daritadi malam. Ia mencoba kabur dan memberantaki kamar ini. Kami sudah menggunakan suntikan penenang tapi tidak berefek banyak dan kami berusaha mengikatnya namun malah suster-suster kami yang diikat olehnya.."
"Walaupun sudah jadi kucing, Ia tetap berjiwa S!" Guman mereka berdua.
"Maaf, kami tidak bisa merawat inapnya disini lagi. Ini di luar kemampuan kami" Dokter dan Suster membungkukan badan dengan sopan meminta maaf.
Hijikata tidak henti menghembuskan asap rokoknya. Asap itu naik lalu menjadi transparan menyatu dengan langit-langit.
"Kami juga tidak bisa merawat di markas karena semuanya sibuk dan kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan bila ia sendirian. Jadi aku ingin menitipkan dia disini" Sementara itu Sougo dan Kagura masih bertengkar. Lantai dan dinding sampai bergaris-garis menjadi korban. Walaupun kondisi Sougo yang berbeda tapi pemuda itu tetap menyebalkan seperti biasa. Hati Kagura setengah lega dan kesal di buatnya.
"Kagura-chan, Okita-san. Jangan berkelahi!" Shinpachi mencoba menghentikan mereka. Ia malah terkena cakaran nyasar di wajahnya. Kacamatanya sampai jatuh pecah ke lantai.
"SHINPACHI!" Kagura mengangkat kacamata yang sudah terbelah dua itu. Dengan tangan bergetar dan mata berair ia menatap Sougo.
"Sialan kau! Akan kubalas kematian Shinpachi!"
"HEIY, AKU MASIH HIDUP!"
Secepat kilat Kagura mengambil payungnya. Pemuda di hadapannya menyeringgai dan ikut menarik pedangnya. Mereka mulai berlari untuk saling menyerang.
"Hentikan kalian berdua!" Gintoki dan Hijikata menjitak mereka berdua bersamaan. Pria berambut ikal itu pun mengamati kerusakan yang sudah mereka buat. Mereka bertemu saja sudah seperti ini apalagi harus bersama setiap hari.
"Disini sudah cukup ada dua monster. Yang satu makan tempat dan satunya makan nasi banyak sekali. Tidak perlu bertambah lagi" Kepala Gintoki setengah hilang di lahap Sadaharu yang merasa namanya terpanggil. Cairan merah mengalir dari kening pria hobi ngupil itu namun ekspresi malas di wajahnya tidak menghilang.
Hijikata menghela nafas berat,
"Apa boleh buat" Ia mengeluarkan amplop coklat tebal dari jaketnya.
"Aku harus memberikan uang ini untuk orang lain yang mau menjaganya. Ah coba kuingat ada berapa ya jumlahnya.." Pria bersurai hitam itu mulai menghintung jumlah uang yang tidak sedikit. Mengingat kondisi ekonomi yang sedang kritis, atau memang selalu kritis. Gintoki mengambil amplop itu dari tangan Hijikata.
"Oh jadi kau mau menjaganya?"
"Tidak, ini uang untuk mengganti kerusakan yang mereka berdua buat" Gintoki cuek memasukan amplop itu ke bajunya.
"Kau juga harus merawatnya"
"Tidak aku tidak bilang begitu"
"Kalau begitu kembalikan uangnya!"
"Oh jadi polisi sekarang bukan saja memakan pajak tapi juga memeras uang rakyat?"
"Oey! Itu uangku! aku yakin kau juga tidak membayar pajak!"
"Setiap membeli susu stroberi dan majalah JUMP aku selalu harus membayar 300 yen tambahan untuk pajaknya!"
"Hanya 300 yen! Sepelit apa kau ini!"
Hijikata dan Gintoki sudah saling menjedotkan keningnya dengan geram. Di bawahnya Sougo dan Kagura saling menatap dengan sengit, sudah siap untuk memakan satu sama lain. Petir menyambar-nyambar di ruangan minimalis itu.
"SUDAH CUKUP!" Shinpachi balik dari kubur setelah merekatkan dirinya dengan plester. Ia memisahkan mereka berempat dengan ke dua tangannya.
"Baiklah, Hijikata-san. Kami akan merawat Okita-san" Ucap Shinpachi. Mendengar itu Kagura tidak bisa tinggal diam.
"Gin-chan, kau yakin akan membiarkan dia tinggal disini?!" Kagura melancarkan aksi protes. Memikirkan tinggal serumah dengan orang menyebalkan itu membuat perutnya mual.
Gintoki mengorek telinganya yang gatal karena rengekan Kagura,
"Ya, apa boleh buat kan. Kau bisa sekalian 'pendekatan' dengan dia"
"Apanya yang pendekatan?! Aku tidak sudi berteman dengan orang itu" Kagura membuang muka. Sougo yang mendengarnya. Mendekati gadis itu. Kagura mengangkat tanganya untuk mengantisipasi tindakan kucing jadi-jadian itu selanjutnya.
"Meong~" Tidak di duga, Sougo mengelus-elus badannya ke punggung dan wajah Kagura dengan ceria. Ekornya bergerak kekanan dan kekiri. Orb merahnya lalu membesar dan menatap Kagura dengan polos. Ia terlihat seperti kucing kecil yang menemukan mainan barunya. Semua yang ada di ruangan itu tertegun tidak percaya. Hijikata langsung memeriksa apakah di luar akan ada hujan badai atau tidak.
"Ehm, apakah dia sedang sakit? oh maaaf aku lupa dia memang sedang sakit.." Gintoki tak tahan melihat pemandangan di depannya.
"Heiy hentikan Sadis! Menjijikan! Menjauh dariku!" Kagura berusaha mendorong Sougo namun pemuda itu terus besikeras untuk mengelusnya. Ada apa dengan perubahan sikapnya ini?!
"Kagura-chan, mungkin karena sedang sakit, dia yang sekarang berbeda. Dia tidak semenyebalkan yang biasanya jadi kau bisa menerimanya kan? Cobalah untuk berteman dengannya" Shinpachi tersenyum walaupun bulu kuduknya sedikit berdiri melihat gelagat pemuda itu yang tidak biasa.
Gadis cina itu sebenernya ngeri becampur jijikmelihat kelakuan rivalnya seperti itu, tapi akhirnya ia bisa memaklumi juga. Bagaimana pun juga dia sedang sakit sekarang. Walaupun tadi ia sedikit nakal, pemuda itu sekarang tidak jauh berbeda dari Sadaharu. Sadaharu yang tampan. Lupakan bagian terakhir.
"Ya, kau benar Shinpachi" Kagura menarik bibirnya ke atas lalu tangannya mengelus kepala Sougo dengan lemah lembut. Pemuda itu ikut tersenyum. Gintoki sedikit lega melihat mereka akur.
Detik kemudian senyuman bak malaikat itu langsung berubah menjadi iblis. Tangan Sougo mencakar wajah Kagura yang lengah. Gadis itu histeris tidak sempat mengelak. Shinpachi miring. Wajah Hijikata dan Gintoki kontan menghitam.
"SADIS KAMPRET!" Kagura menarik kedua telinga Sougo dengan kencang hingga pemuda itu mirip kelinci. Sougo pun membalas dengan menggigit lengan Kagura. Para penonton hanya bisa menghela nafas. Shinpachi sudah tidak punya niatan untuk menghentikan mereka dan menyibukan diri membereskan belanjaan.
"Kalau dia nakal, kalian boleh mengikat dia atau sebagainya, aku tidak peduli" Hijikata menyalakan pematik berbentuk mayonise. Entah bagaimana, ekor Sougo dengan cepat menyenggol tangannya sehingga ia bukan membakar rokok malah membakar wajahnya. Hijikata megap-megap kepanasan. "Bocah sialan!" namun Ia tidak berniat untuk membalas melihat Sougo masih sibuk bertengkar dengan Kagura.
"Kalau begitu, urusanku selesai. Aku permisi dulu" Pria itu menggeser pintu keluar.
"Sampai kapan kami harus merawatnya?" Tanya Gintoki dari ambang pintu.
"Sampai obatnya berhasil di buat.. Semua ini salah kucing rabies itu. Bikin susah saja" Hijikata meremas rokok di tangannya lalu membuangnya. Gintoki menatap ke langit yang sudah berwarna jingga.
"Aku tidak yakin sih, tapi sepertinya kucing-kucing itu bukan terkena rabies" Kata-kata Gintoki tergantung di udara.
Langkah Hijikata terhenti, "Maksudnya?"
Berkelok-kelok, muncrat-muncrat!
Mayonise~
Barang berwarna kekuning-kuningan!
Enak, enak.
Mayonise~
Gintoki menghentikan kata-kata yang ingin ia utarakan ketika mendegar lagu yang membuatnya enek. Hijikata merogoh kantongnya yang bergetar.
"Oh maaf, itu ponselku" Ia membuka ponselnya, melihat nama yang tertera di layar kemudian menaruhnya di telinga.
"Halo, ya Kondo-san?" Terdapat jeda berapa detik sebelum alisnya terangkat, mulutnya terbuka dan matanya membelalak.
"Apa?! Semua kucing di penampungan kabur?!"
To be continue
Balasan untuk anonim
kageyami yahiro : Makasih sudah baca! :'D Iya ini sudah dilanjutin X3
Guest : Makasih sudah baca! Daku terharu. Reviewmu panjang dan bermakna sekali ya :D wkwkwk /ditendang
Gak penting sih
(1) Rie Kugimiya pengisi suara Kagura. Dia terkenal mengisi suara karakter cewek tsundere dari beberapa anime. Seperti, Shana dari Shakugan no Shana , Aisaka Taiga dari Toradora dan sebagainya.
(1) Naber singkatan dari Nahan Berak. Istilah kekikinian
(2) Doraemon kalau lagi ngambil barang di kantung ajaib suka lempar-lempar barang yang lain keluar. Fansnya doraemon pasti tau wkwk
Akhirnya chapter 2 selesai juga
Ini chapter udah di rombak berkali-kali sampai daku enek huek baca cerita yang sama berhari-hari #curhat
Ini pun sebenernya belum fix tapi ah sudahlah
Kalo ada yang merhatiin, iya daku gak pinter bikin depkripsi perasaan karakter www masih dalam tahap belajar :'''D
Terima kasih buat yang sudah mau baca, ngereview, favorit dan follow.
padahal tadinya udah mikir siapa sih yang mau baca fanfict gak jelas gini-
Semua Review kalian membuat saya terharu- Serius :'D
Di tunggu Reviewnya lagi ya~
Btw itu lagunya dari Gintama episode 185
Oke daku persembahkan lagu Mayorin untuk kalian~
Berkelok-kelok, muncrat-muncrat!
Mayonise~
Barang berwarna kekuning-kuningan!
Enak, enak.
Mayonise~
Telur, cuka dan minyak.
Di campur dengan salad, tentunya enak.
Masih tetap enak bila di sedot langsung dari botol!
Keajaiban yang sempurna merubah masakan!
Mayonise~
Mungkin chapter berikutnya update seminggu lagi, kalo gak minggu depan, ya minggu depannya lagi :D
See You Next Time! Love you all!;3
