Undefined

Story © Yamikawa Nekuro

Vocaloid © Yamaha and another joined companies

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Pedang bermata tunggal pemberian seorang pengelana bercaping dari dataran timur yang dulu mengajarkan segala pengetahuan dalam permainan pedang, telah membawa pemuda itu ke berbagai macam pertempuran. Jika seorang ksatria identik dengan perlengkapan baju baja sebagai pelindung diri dari sekian macam bentuk ancaman, maka para petualang lebih umum dijumpai dengan pakaian lusuh dari paduan kain dan kulit binatang yang jauh dari kesan layak sebagai perlengkapan keamanan. Fungsi mereka tak lebih sebagai pengusir dingin dan gigitan serangga.

Tetapi hal itu tak ditemuinya sama sekali pada sang guru. Pria bersurai ungu digelung ke belakang tersebut hanya menggunakan kain ringan berlapis-lapis dan sebilah senjata terikat di pinggang sebagai pelengkap. Figurnya tidak sekokoh para prajurit yang tampak gagah berbalut keping-keping besi, atau pula para petualang kumuh dengan tubuh penuh gumpalan daging berisi. Bahkan kesan rapuh sempat membuatnya ditertawakan seisi bar saat lelaki itu berkunjung hanya untuk memesan segelas air dan sepotong roti.

Namun, mendapati kelihaian lelaki tersebut saat dia bertaruh antara hidup dan mati dengan sekumpulan makhluk buas bersisik tembaga, telah mengajarkan hal terpenting yang harus dikuasai oleh mereka yang memutuskan untuk meniti jalan di mana makhluk-makhluk semacam itu muncul menghunuskan cakar dan taring mereka. Yaitu dirinya sendiri.

Seseorang yang mengayunkan pedang sebagai tanduk harus lah mengerti seni untuk menjadikan dirinya cukup tangguh untuk menyanggulnya. Bukan bersembunyi dibalik cangkang, atau membabat membabi buta mengandalkan jumlah. Dia harus mampu melangkah seringan angin, bergerak selincah air, dan menghantam sekeras karang. Dengan begitu, secara tak langsung dia telah mengubah pedang sebagai baju perang. Serangkaian teknik dan kuda-kuda yang asing bahkan mustahil bisa dia temukan di tempat sembarangan.

Bermula dari perjumpaan tersebut, Yohio pun mulai mengasah keahliannya sesuai dengan wejangan yang telah diberikan sebelum lelaki itu menghilang untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan hidup seorang petarung adalah pertempuran. Mereka tidak akan puas selama genggaman tangan masih sanggup untuk mengayunkan pedang. Itulah alasan yang pemuda itu peroleh ketika dia mengutarakan diri bahwa dia merasa keberatan.

Yuuma, nama pedang yang diwariskan kepadanya, telah berhasil berkali-kali menumpahkan darah dan mencabut puluhan nyawa. Sebutkan saja berbagai nama yang pernah masuk ke daftar makhluk yang harus ditangani oleh kelompoknya dengan segera, sebagaian besar tumbang setidaknya setelah pedang bergagang motif bunga berwarna merah muda itu diberi kesempatan untuk mencicipi daging mereka oleh pemiliknya.

Kali ini pun, tampaknya Yuuma akan kembali disuguhi dengan kudapan pembuka sebelum Yohio sampai di sarang buruannya.

Pemuda itu tidak bisa mencium aroma yang berasal dari sosok asing tersebut meski pun dia mampu melacak bau busuk yang seolah menempel di permukaan lidah. Apakah sosok itu adalah manusia, atau jelmaan makhluk lainnya? Kemampuan berubah wujud bukanlah kasus langka. Bermacam laporan mengenai keberadaan mereka tidaklah satu atau dua kali diterimanya dari markas. Pada sebuah kejadian, dia bahkan pernah berhadapan dengan Doppelganger.

Konon, makhluk itu akan mengambil wujud siapa pun yang dia hadapi layaknya tampilan refleksi semu pada cermin. Tetapi, yang tampak di matanya justru suatu bentuk deformasi yang mungkin membuat beberapa orang tak sanggup menahan isi perut mereka yang berloncatan. Tangan-tangan dan kaki-kaki manusia mencuat dari permukaan tubuh yang bisa disebut mirip gumpalan daging yang baru saja diremuk dan digiling, lengkap dengan darah, borok dan nanah yang terus berceceran. Mulut yang tersusun dari lapisan puluhan rahang. Serta bola-bola mata yang terus bermunculan hampir di sekujur badan meski berapa kali pun dipecahkan. Jangan lagi dipertanyakan soal ukuran badan, makhluk yang bersembunyi di sebuah gubug tua di tengah hutan utara itu mampu membuat sebuah labirin bawah tanah dengan lebar lorong cukup untuk menampung lima jejer orang pria dewasa.

Hampir semua orang terlahap oleh makhluk yang seakan tak bisa merasakan lelah dan kesakitan tersebut. Diperparah lagi bahwa jelmaan mimpi buruk itu terbukti mampu memainkan ilusi untuk menarik mangsa, kelompok yang bergerak terpisah dari pemuda itu sempat mengalami perpecahan. Itulah alasan sebenarnya mengapa Doppelganger diberikan sebagai kode nama.

Contoh lainnya adalah Lamia. Sebutan umum untuk siluman ular betina. Bagian perut hingga kepala berwujud serupa manusia, namun separuh badan mereka mampu mencapai panjang lima baris kereta kuda atau lebih; sebuah ekor dari reptil melata. Umumnya mahir menggunakan sihir, terutama untuk menyembunyikan bagian tubuh mengerikan tersebut dengan sepasang kaki. Hidup secara berkelompok dan memiliki kecenderungan untuk menculik pria dewasa dan membunuh setiap anak-anak dan wanita.

Lawan yang tangguh, terutama dengan suntikan racun aprodisiak unik mereka yang mampu menggoyahkan konsentrasi sekaligus bisa berubah menjadi alat pencabut nyawa jika tidak segera dinetralkan, dikeluarkan dari tubuh atau ditangani secara benar dalam jangka waktu tertentu. Seperti hama yang mampu berkembang biak dengan pesat, keberadaan mereka adalah salah satu ancaman yang harus segera ditangani selain ras lainnya.

Disamping itu semua, kesamaan mereka berdua di hadapan Yohio adalah aroma tubuh yang berbeda dari manusia biasa.

Namun eksistensi di hadapannya kali ini berbeda. Apakah dia semacam tipe baru? Mengingat bahwa adanya orang lain di tempat ini, di saat seperti ini, sangatlah ganjil berapa kali pun dia coba untuk memahami. Terlebih lagi untuk seorang anak perempuan.

Ya. Tak perlu berpikir dua kali.

Kedua ujung pundak membulat yang tersembul dari balik rambut yang menjuntai hingga menyentuh kaki, bahkan lebih. Sepasang kaki jenjang dan ramping. Pinggul kecil. Serta warna kulit yang terlihat putih temaram akibat tersepuh cahaya purnama. Setiap detail yang dia tangkap menjelaskan bahwa sosok itu memang berwujud anak perempuan. Gadis remaja lebih tepatnya. Bentuk yang kerap dipakai untuk menurunkan tingkat kewaspadaan, tipuan murahan yang konyolnya paling ampuh untuk menjerat korban.

Akan sangat beresiko jika maju secara gegabah tanpa tahu bahaya macam apa yang kini muncul hadapannya. Oleh sebab itu, lelaki itu pun memutuskan untuk menambat kuda dan bergerak mengendap seorang diri. Tidak ada secuil niatan untuk menyergap atau menusuk dari belakang secara diam-diam, sebab dia tak tahu pasti apa yang tengah dihadapinya sekarang. Sebaliknya, Yohio justru membiarkan keberadaannya terpergok dan menanti reaksi macam apa yang akan dia berikan setelah berada di jarak yang dia tentukan.

Suara rumput yang terinjak bergemerisik riuh rendah di antara deru angin yang sekilas bertiup kencang. Kelima jemari tangan kirinya telah melingkar erat di sarung pedang di mana gagang tersembul dari balik pakaian berjubah hasil rajutan rambut singa emas merah yang dia dapat dari Chimaera berkepala tiga; sementara jemari-jemari tangan lainnya bersiap sedia untuk mencabut isinya kapan saja.

Kini, dirinya hanya perlu untuk menarik perhatian dan menanti. Setidaknya dengan cara mencoba berkomunikasi.

"Siapa diri mu."

Makhluk itu pun memutar arah pandangnya dengan segera. Sepasang biji berwarna zamrud cerah berbalik arah dari wajah rembulan yang dia cermati menuju sosok asing yang kini berdiri tegap di balik punggungnya.

Kemudian hening.

Tidak ada balasan. Tidak ada insting untuk memburu mau pun membunuh. Tidak ada daya sihir atau hipnotis, terlebih lagi hawa kutukan yang bergentayangan dan mencari-cari inang lain untuk disinggahi. Wajah itu hanya menatap kosong dan hampa. Seolah-olah dirinya hanyalah sebuah jasad tanpa nyawa. Benda mati yang menyatu dengan panorama sunyi di sekelilingnya.

Tetapi sosok itu bukanlah jelmaan mayat hidup. Yohio yakin.

Dia bukan pulalah manusia, sebab kelebihan indera pemuda itu tak pernah sekali pun salah.

Dia hanyalah sebuah eksistensi tanpa definisi yang menjadi teka-teki dan muncul entah dari mana asalnya. Berlalu meninggalkannya sendiri, atau membunuhnya saat itu juga, semua terserah oleh pertimbangan dan keputusan pemuda itu sekarang.

Satu hal yang tak boleh diabaikannya, tujuan awalnya adalah menyelamatkan kedua bocah yang ditawan di sudut belantara antah berantah. Tidak ada waktu senggang baginya untuk menunda-nunda.

Mengambil kesimpulan bahwa dirinya lebih baik menghindar dan tak terlibat apa pun dengan makhluk itu, Yohio pun mulai bergerak mundur dan meraih pelana si kuda yang setia menunggu beberapa jengkal darinya. Itu pun sebelum dia berubah pikiran begitu mendapati sosok itu telah jatuh terjerembab sesaat setelah dia memantapkan niatnya.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-: