Undefined
Story © Yamikawa Nekuro
Vocaloid © Yamaha and another joined companies
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Meniti langkah tanpa arah, gadis itu berjalan menyusuri hamparan padang rumput yang membentang seraya menghadapkan wajah pada purnama yang bertengger tenang di pucuk angkasa. Seakan mencoba bertanya, mencari setitik bayang-bayang yang mungkin bisa dia hadirkan untuk menjernihkan ingatan yang keruh menghitam.
Tetapi, semua itu tidak menghasilkan apa-apa. Segala bentuk kenangan yang beterbangan enggan untuk kembali padanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan pada dirinya sendiri pun hanya tenggelam begitu saja di dasar kehampaan. Tidak ada riak maupun remah-remah yang mengapung ke permukaan. Tak satu pun, melainkan gelembung-gelembung rasa perih, sedih dan ketakutan yang tanpa sebab membuih dan meletup-meletup, seakan ingin meloncat keluar dari perut menuju kerongkongan.
Air mata pun telah lama mengering, yang mana baru disadarinya saat ini. Apa dan kenapa? Semakin dirinya berontak untuk bersi keras mengoyak dinding yang ada di dalam dirinya, semakin terasa sesak dan melemah tubuhnya. Bagaikan terdapat daya himpit tak kasat mata yang tak segan melumat sekujur daging dan tulang belulang hingga hancur lebur setiap kali dia mencoba.
Dia tak tahu harus bagaimana. Kemana dirinya harus pergi? Kepada siapa dia harus menggapaikan tangan menagih jawaban? Atau, untuk apa dia kembali terbangun hanya untuk menanggung beban semacam ini?
Di antara segenap kebimbangan dan putus asa yang mencekik, dia dapati sumber suara yang serasa ingin meraihnya.
Sesosok makhluk bertubuh kabut kemerahan dengan wajah hitam legam dan sepasang mata mencorong di dalam bingkai kegelapan tanpa dia sadari kini telah berdiri di balik punggungnya.
Entah apa tujuan makhluk itu muncul menghampirinya. Apakah dia akan menolongnya dari ketidak-tentuan jati diri yang membelenggunya, ataukah kembali mengirimnya ke alam mimpi untuk selamanya? Terlepas dari kedua pilihan tersebut, apa pun yang akan terjadi selanjutnya gadis itu sudah tak lagi peduli. Akan lebih baik jika semua berakhir saat ini.
Namun, sebelum dia sempat untuk meyampaikan keinginannya, tanah yang dia pijak seakan berputar dan bergulung-gulung. Tubuh itu pun kemudian limbung akibat tak mampu lagi mempertahankan keseimbangan. Disusul kehadiran noda-noda hitam yang mulai melebur menghalangi pengelihatan, yang tersisa kemudian hanyalah irama angin dan suara-suara asing yang kembali bergema, seolah-olah menjerit panik mencoba menyeret kesadarannya agar sekali lagi membuka mata.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Mengesampingkan perihal jenis dan asal-usul yang dipenuhi tanda tanya, Yohio memutuskan untuk memungut makhluk misterius berwujud anak perempuan itu bersamanya. Diperhatikan dari sudut mana pun, tidak ada keanehan pada fisik yang menyulut rasa curiga. Kemampuan berubah wujud umumnya akan lenyap jika si pemilik kehilangan kesadaran, atau organ penting yang digunakan sebagai media telah cacat dan terluka. Semisal tanduk, sisik, sulur, atau membran penutup badan. Namun, semua itu tidak satu pun dia temukan. Tubuh itu memiliki kemiripan sempurna dengan manusia biasa. Kecuali tanpa sedikit pun jejak-jejak aroma keberadaannya tertangkap olehnya.
Juga tanpa suatu sebab yang mampu dia jelaskan, lelaki itu turut menemukan bahwa kondisinya saat ini begitu rentan. Denyut nadi yang lambat, kulit yang dingin memucat, tanpa harus memisahkan kepalanya dari badan pun pemuda itu yakin dia tidak akan bisa hidup lebih lama jika tidak ada seseorang yang menolongnya.
Membalut tubuh itu menggunakan pakaian berjubah favoritnya serta menuangkan beberapa teguk minuman beralkohol yang biasa dia gunakan untuk mensterilkan luka daripada meminumnya, Yohio berharap dirinya mampu mempertahankan kondisi makhluk itu hingga dia sampai di markas. Dia berencana untuk meminta bantuan beberapa rekan yang menguasai pengetahuan dalam hal menggolong-golongkan suatu ras, sehingga dia bisa memastikan langkah apa yang harus dia lakukan kemudian.
Selebihnya, dirinya hanya tak sampai hati untuk meninggalkan makhluk itu seorang diri. Cara bagaimana dia mengamati kehadirannya sejenak lalu, tak jauh berbeda dari ekspresi yang kerap dia jumpai setiap kali datang mengunjungi desa-desa yang membutuhkan jasanya. Tatapan putus asa dari seseorang yang telah kehilangan sesuatu yang paling berharga, semangat hidup yang berkelip sirna.
Bahkan, petani tua yang sekarang menanti kabar kedua cucunya yang menghilang itu pun akan bernasib sama jika sampai kabar buruk harus dia terima. Lelaki itu sudah cukup jengah dengan itu semua, dan dia lebih jengah lagi jika kegagalan dirinya adalah penyebabnya.
William mungkin akan menatapnya dengan alis terangkat sebelah, tak luput juga beberapa sindiran ringan yang kerap membuat beberapa orang sedikit gatal untuk menyumpal mulutnya dengan sadapan getah.
'Hooo, petualang tersohor oleh reputasinya yang mengesampingkan imbalan, kini kembali pulang dengan membawa seorang perempuan?'
Terserah, hal itu bisa dia kesampingkan.
Setidaknya akan ada beberapa rekan yang menawarkan jasa untuk menggantikan jatahnya mempermak wajah orang tersebut dengan suka rela, mengingat betapa lihai dirinya membuat gadis-gadis desa berlari mengacungkan belati dapur padanya.
Mendapati si penunggang membawa sesuatu di dalam rengkuhannya, kuda pinjaman yang sejak sejenak lalu patuh menunggu sempat meringkih waspada. Binatang memiliki insting bertahan hidup lebih peka, memang. Tapi yang dia lakukan tak lebih dari sekedar rasa heran, begitu yang Yohio kira. Binatang tunggangan itu kembali tenang setelah dia menarik tali kekang dan menggosok wajahnya.
Lelaki itu melipat kedua tangan anak perempuan tersebut di dada, kemudian mengikat sisa lengan dari jaket yang menjulur karena ukurannya yang terlalu besar untuk dikenakan, di belakang punggungnya. Dia tidak terlalu khawatir jika suatu ketika makhluk itu akan terbangun, pakaian itu tidaklah serapuh tampangnya yang kotor dan lusuh. Pedang buatan pandai besi biasa tidak akan bisa menggores satu helainya, tidak juga api tungku peleburan yang dia pakai mampu menjilatnya.
Apalagi dengan kondisi hampir tak berdaya, yang bisa dia lakukan mungkin hanya meronta mengusik kendali kemudinya. itu pun jika dia bisa.
Sebelum melingkupi kepalanya dengan tudung yang menggantung di bagian belakang jaket tersebut, Yohio mencoba mencermati kembali makhluk asing yang ditangkapnya itu untuk sekilas. Aneh, kurang lebih demikian. Dari mana rasa percaya itu datang?
Bahwa makhluk ini tidak berbahaya.
Bahwa apa yang dia lihat untuk sekejab Mata bukan sekedar delusi.
Apa mungkin karena dia sudah terbiasa dengan fakta bahwa salah satu anggota kelompoknya adalah keturunan ras Elf yang keberadaannya sukar dijumpai, sehingga pertahanannya mulai goyah jika berhadapan dengan demi-human yang memiliki perbedaan tipis dengan manusia? Atau mungkin, dirinya perlahan-lahan telah berubah? Dan mulai berpaling dari sisa-sisa kemanusiaan yang dia miliki?
'Baik dan buruk ditentukan oleh tingkah laku mu. Bukan apa atau siapa dirimu.' kalimat yang didengarnya semenjak kecil kembali terngiang di benaknya. sang Pemimpin kelompok petualang berkata demikian setelah mengusir sekelompok bocah yang menghajarnya beramai-ramai, sebelum memberi tawaran untuk ikut dengannya.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
