Undefined
Story © Yamikawa Nekuro
Vocaloid © Yamaha and another joined companies
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Sepasang cahaya berkedip kemerahan dari balik selimut malam melesat menerobos lebat belantara. Berkelebat cepat menapaki bebatuan cadas. Berloncatan lincah menghindari lubang menganga. Melangkahi pepohonan tumbang, lapuk termakan usia. Menyingkap tabir-tabir kabut, menyiratkan permainan bayang-bayang sebagai akibat sinar rembulan terpadukan sudut-sudut hitam di bawah naungan dahan dan arak-arakan awan.
Sekilas pandang, kehadirannya lebih dari cukup untuk mengecoh para pengelana untuk mengeratkan cengkraman tangan pada apapun itu yang menyibukkan jari-jemari mereka. Bergidik ketakutan terhadap suatu ancaman yang bisa saja menyergap secara tiba-tiba. Atau bisa jadi tersulut rasa lega, jikalau tujuan dari penantian adalah ancaman itu sendiri, yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda keberadaannya. Meski untuk golongan yang terakhir disebutkan hanya berbanding satu di antara dua ratus orang.
Terlepas dari berbagai hal yang ada, Yohio tidak sekalipun menghiraukan. Pandangan pemuda itu tak teralihkan. Tertuntun oleh ketajaman beberapa pancaindera yang tidak satu atau dua kali menjelma menjadi pisau bermata dua di dalam kehidupannya berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya.
Dirinya sudah berada cukup dekat pada tujuan. Tercium dari aroma tidak mengenakkan yang terasa kian mengental tercampur cairan ekskresi di dalam mulut. Sekaligus amis darah manusia yang cukup akrab disapa dalam kurun beberapa tahun semenjak dirinya bergelut memupuk pengalaman sebagai salah satu bagian dari sebuah kelompok petualang.
Kaki-kaki manusia berukuran tidak lazim membuat tanah lembab yang terinjak terlihat menjorok masuk sedalam setengah panjang ibu jari. Rerumputan yang dia cermati mulai tumbuh kian menepi pertanda bahwa tempat tersebut sering dilewati. Setiap petunjuk bermuara pada salah satu titik gelap di tengah-tengah bagian hutan, di mana batang-batang pohon yang tumbuh memiliki jangkauan lingkar empat Hingga enam lengan orang dewasa.
Sebuah area yang dulu pernah dipenuhi makhluk dari ras kerdil pemakan daging.
Bloody Firefly.
Tidak sedikit para korban mengira mereka adalah bagian dari ras peri yang dikenal pemalu, namun di saat yang sama penuh akan rasa ingin tahu.
Sudah menjadi kabar burung bilamana seseorang berhasil menemukan mereka maka keberuntungan akan menyertai di sepanjang perjalannya. Terlebih jika mampu untuk mendapatkan sebiji Stardust Topaz. Salah satu dari sekian benda langka yang kegunaannya menjadi rahasia para peramu di seluruh penjuru negri dan bernilai jual cukup tinggi di pasar lelang.
Namun, jangan harap hal serupa bisa didapatkan dari makhluk kecil yang cukup lihai menjerat para mangsa mereka yang buta oleh kilauan pundi-pundi harta.
Tubuh mereka tersamar sempurna oleh cahaya keemasan seperti halnya para peri sebagai satu-satunya pakaian penutup badan. Jantan atau betina sukar dibedakan karena figur mereka yang lebih menyerupai anak-anak berumur delapan tahun tanpa adanya organ perkembang-biakan.
Sampai saat ini pun, keberadaan mereka masih sukar untuk diteliti lebih jauh. Mereka pandai dalam menggunakan kemampuan berpindah tempat secepat kedipan mata. Tak ada saksi yang mengaku pernah melihat seekor peri tengah menggendong bayi atau beberapa yang memiliki ukuran badan lebih mungil dari lainnya. Tubuh mereka bahkan terurai setelah mati layaknya buih. Selain itu, para peri terkesan kebal oleh beragam sihir. Seakan-akan mereka adalah objek asing yang tak terikat oleh Mana.
Tetapi Bloody Firefly berbanding terbalik seutuhnya. Mereka perenang udara yang lihai, memang. Lantas bukan berarti mustahil untuk ditangkap. Bila diamati lebih cermat, bagian dari tubuh yang bercahaya hanyalah di persendian. Di mana bentuk asli mereka tertutupi oleh berlapis-lapis membran tipis membentuk wujud peri seperti yang ada di dalam bayangan imajinasi setiap orang.
Dalam kebanyakan kasus, sekali saja membran itu terbuka, saat itu pula mangsa tersebut akan lenyap riwayatnya.
Cahaya keemasan Bloody Firefly merupakan hawa panas yang dimampatkan. Satu-satunya ciri identik dari jenis mereka. Makhluk tersebut memiliki kecerdasan laten yang membuat mereka mampu mengolah mana menjadi alat sekaligus senjata perlindungan diri. Sihir termal penyulut ledakan, menggunakan setiap helai membran sebagai perantara pengganti gulungan-gulungan kertas rapalan.
Sebagaimana yang Yohio duga. Usaha pemberantasan Bloody Firefly yang pada suatu waktu mengalami ledakan populasi secara tidak wajar hanya akan memancing kehadiran makhluk lain untuk menempati hutan yang dibiarkan terbengkalai begitu saja. Singkat kata, keseimbangan ekosistim yang mulai berat di beberapa sisi saja akan memaksa alam untuk melakukan pemulihan diri dengan cara-cara yang tidak terduga.
"Apakah ini adalah salah satu dampak panjang dari perburuan besar-besaran pada Rainbow-back Basilisk?" gumam pemuda itu di atas pelana tunggangannya. Sang kuda hanya meringkik di antara napas yang berderu meninggalkan kepulan-kepulan putih di sepanjang jalan. Terdengar seolah kalimat mengiyakan bagi sang penunggang yang hanya seorang diri mengemban misi demi memenuhi egonya.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Sepasang biji merah delima itu berkelip-kelip menyesuaikan diri di berbagai tempat seiring datang dan perginya bias rembulan dan bayang-bayang. Mereka mampu menyulap sejumput cahaya yang mereka dapatkan di jantung kegelapan menjadi kilauan jernih mengagumkan. Seakan menghadirkan sepasang bintang yang bersemayam di tengah dingin dan kehampaan jagad raya beratus juta tahun jaraknya, ke dalam jangkauan tangan.
Dari balik tudung yang hanya memberikan kesempatan bagi sebelah mata untuk mengamati segenap kejadian yang sedang berjalan, makhluk berwujud gadis belia tersebut terdiam. Meruntut setiap lembar ingatannya.
Apakah dirinya kembali tertidur dan semua ini tak lebih dari sekedar jelmaan mimpi?
Setiap suara angin, gemerisik rumput, derap kaki seekor kuda, rembulan beserta pesona malam yang dihadirkan dalam kanvas tanpa bingkai di atas sana. Serta sosok yang masih tampak buram di hadapannya; dia kah seorang pangeran yang dijadikan figur pelengkap alam khayal di sudut pikirannya?
Kain berwarna merah membalut sekujur badan melindunginya dari terpaan dingin yang datang seiring laju mereka di sepanjang perjalanan. Lengan yang kokoh mengait erat, melingkari pundak, menggenggam erat kedua tangannya yang saling terlipat. Suara degub jantung mengalir dari balik dada bidang; di mana dia tak sanggup berbuat banyak selain menjadikannya sandaran, mengalun selembut lagu penenang jiwa.
Sejak kapan irama tersebut terakhir kali dia perdengarkan?
Di balik pernik-pernik Kristal emerald tersebut kembali berputar suatu kilas balik kejadian. Di suatu tempat yang tak lagi terjamah. Di suatu masa tak tersebut oleh peredaran ruang dan waktu. Sesosok perempuan berparas rupawan menatapnya dengan penuh gemerlap ketertarikan. Di bibirnya tersungging sebuah tawa. Kedua ujung pundaknya diayun penuh tenaga.
"Miku, wajahmu tersipu! Apakah dia berhasil merebutmu dari ku, huh?"
Hening. Titik-titik hitam kembali berdatangan. Merangkak dari setiap ujung. Menggerogoti detail utuh kejadian tersebut bagai selembar kertas termakan api dan hanya meninggalkan serpihan arang. Siapa gerangan perempuan itu? Siapakah sosok yang keberadaannya selalu mengingatkan dirinya pada sebuah buntalan gula-gula kapas tersebut? Mengapa senyuman itu begitu menyenangkan? Mengapa perlakuan kurang nyaman itu malah membuatnya tercekik oleh secuil rasa rindu dan kehilangan?
Serta siapa yang dimaksud "Dia"?
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
