Undefined

Story © Yamikawa Nekuro

Vocaloid © Yamaha and another joined companies

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Suara gemericik air berjatuhan dari ujung taring-taring batu terdengar melengking bertumpang tindih. Membentur lantai-lantai goa. Berkecipak riang di permukaan kubangan-kubangan kecil. Menyusun nada-nada rancu tak berirama.

Kegelapan berkuasa di setiap ruang dan celah. Begitu pekat. Hitam. Seolah-olah eksistensinya mampu menguliti kelopak mata, mencongkel isinya dengan cara paling sempurna, dan merasuk jauh ke dalam pikiran siapa saja. Menelan kewarasan mereka bulat-bulat.

Kegelapan semacam itu mudah menjebak nyali. Kau tidak tahu apa yang tengah mengamatimu. Apa yang mensejajarkan irama langkah mengikutimu. Apa yang menertawakanmu dalam kondisi paling tidak berdaya. Menunggu saat-saat paling dramatis untuk mendapati raut wajah berkerut oleh kengerian sebelum nyawa dicabut paksa.

Sayangnya, hal semacam itu tak berlaku bagi si lelaki dengan sepasang bola mata yang tak sedikit pun kegelapan berani menjamah.

Meski tanpa sepercik penerangan, membedakan keempat penjuru mata angin bukanlah perkara. Dia sanggup membedakan makhluk-makhluk perayap beracun dari dinding-dinding batu di mana mereka melekat menanti mangsa. Langit-langit berlubang mencurigakan. Serta kehadiran tamu-tamu lain di tengah suasana panik dan kebingungan.

Beberapa orang sesekali berbisik-bisik di balik punggungnya. Menyebutnya sebagai titisan iblis, atau lebih keterlaluan lagi, di mana pemuda itu harus mengekang diri agar Yuuma tidak meloncat begitu saja meninggalkan sarung pedangnya.

'Dia pasti hasil dari hubungan terlarang antara monster dan manusia.' Jikalau Yohio mau, dia mungkin tidak akan keberatan mengindahkan tuduhan mereka.

Menempatkan diri di posisi setara makhluk-makhluk penebar teror tersebut saat itu juga. Diburu dijadikan objek sayembara di keesokan harinya. Serta mulai menjalani hari-hari dengan menghabiskan waktu mengasah hati agar kebal terhadap rasa belas kasih. Membantai membabi buta. Menamatkan riwayat siapa saja tanpa peduli tua renta. Para wanita dengan buntalan kecil di dalam rengkuhannya. Sekaligus isi dari buntalan itu sendiri, bayi mungil yang mungkin masih bisa tersenyum sebelum dilumat menjadi cacahan tanpa rupa.

Sayangnya, mendiang sang ibu telah berpesan. Jangan pernah turuti bisikan hati yang kerap menuntun pada pusara dendam. Sang ketua juga menekankan, manusia istimewa semacam dirinya tak pantas untuk menyerah memberontak pada realita. Seseorang yang mengajarkan kalimat 'sensei' sebagai adab bertata krama seorang murid kepada guru dari kampung halamannya pun tak lupa mewanti-wanti, jangan pernah sekali-sekali menanggalkan jati diri yang selama ini dikenal oleh orang-orang yang masih mau memperlakukan dirinya dengan tulus dan semestinya.

Goa tempat di mana jejak-jejak itu menuntun terletak di sebuah pangkal pohon terbesar di perbatasan hutan dan wilayah bukit-bukit batu pegunungan. Bagian perut membentuk lorong-lorong panjang bercabang-cabang. Serta dihuni oleh lebih dari sekian jenis makhluk melata berbahaya.

Sedikit mencurigakan, pikirnya. Bagaimana cara buruan yang dicari memutuskan untuk menempati lokasi di mana sang terkuat pun kerepotan untuk bisa mengistirahatkan diri?

Sebagian makhluk berwatak penakut serta pemalu.

Meski sepercik racun di dalam tubuh sanggup digunakan untuk membinasakan satu desa, namun mereka lebih memilih memangsa makhluk lain berukuran jauh lebih kecil dan lemah.

Sementara jenis-jenis buas dan agresif bertebaran di beberapa titik yang berdekatan. Mudah dijumpai serta sangat keras kepala.

Pemuda itu memutar tubuh di udara. Berbalik badan. Mendarat di kedua kaki, serta meluncur mundur mengikuti sisa-sisa daya lontar tubuh setelah berhasil mengelak dari sambaran suatu rahang yang berkelebat mengincar kepalanya berulang kali. Mengakibatkan sang pemburu memperoleh gumpalan-gumpalan batu terselip di antara gigi setelah upayanya lagi-lagi tak berbuah apapun.

Dilihat dari berbagai sudut, makhluk yang sekarang menampakkan diri bisa diklasifikasikan sebagai salah satu jenis yang jarang dijumpai dikarenakan habitat aslinya hampir sulit terbentuk secara alami.

Rotting Carneellia.

Bagi pengamat kurang jeli, monster bertubuh membusuk tersebut mudah disalah-artikan sebagai sejenis mayat hidup yang kerap bermunculan di daerah bawah tanah. Padahal mereka jauh berbeda dari makhluk-makhluk yang terlahir dari kepekatan miasma, ritual sihir hitam bertumbal manusia, atau kutukan keabadian dari artifak terlarang yang seharusnya dibiarkan tersegel di tempat asalnya.

Tergantung dari inang yang dihinggapi, kemampuan bergerak salah satu biota unik ini beragam-ragam. Mulai dari menggali, melata, merayap, berlari, hingga sanggup bergerak selincah primata dan menyelam layaknya amfibi. Sehingga, jika Rotting Carnellia memperoleh inang dari jenis reptil, itu berarti makhluk tersebut bukan lawan yang seharusnya dihadapi seorang diri.

Tetapi, tanpa mengulur-ulur waktu maupun berpikir dua kali, Yohio segera memutuskan mencengkeram sarung pedang yang bertengger di sabuk yang melingkari perutnya. Melilitkan jemari pada gagang bercorak motif kelopak bunga musim semi yang hanya bisa ditemukan di belahan timur, serta menanti serangan susulan yang kehadirannya tak lagi diragukan.

Dalam kegelapan di mana segala hal yang melingkupinya penuh dengan tipu daya, seutas benang cahaya pun mulai menampakkan wujudnya yang mempesona. Menari-nari. Menyambut terjangan cakar dan taring setangguh baja.

Pemuda itu menghadapi lawan menggunakan seni bermain pedang yang tidak jarang membuat para pengamatnya takjub dan terpana.

Dia mencabut pisau ramping tersebut tepat setelah melangkah masuk ke dalam jangkauan serangan lawan. Menghindari deretan kuku-kuku tajam yang nyaris melubangi wajah. Merunduk. Lalu menarik garis panjang menyilang dari bawah rusuk hingga ke tulang selangka. Semua dalam kurun waktu di mana setetes air yang meloncat turun dari langit-langit goa, masih melayang-layang di udara.

Sebuah reflek setara laju anak panah meninggalkan busur menuju sasarannya. Kemampuan yang hampir mustahil bisa ditiru oleh orang sembarangan.

Layaknya makhluk hidup dengan jiwa masih bernaung di dalam raga, monster itu pula menampakkan reaksi keterkejutan ketika sebuah luka menganga telah bersarang di tubuhnya; lebih cepat dari sensasi perih yang kemudian menjalar merajam kesadaran.

Dia menjerit panik. Melayangkan serangan kedua dengan hawa amarah yang seakan bisa dirasakan berkobar dari inti retina yang telah memudar warna.

Namun percuma, kuku-kuku tajam itu kembali gagal mengindahkan keinginan pemiliknya. Jangankan secuil daging. Sepercik darah pun tak mampu direbutnya.

Tanpa sanggup mengikuti ke mana arah pertarungan di antara mereka berlangsung, secara tak terduga sebuah lengan sudah melambung tinggi, terlepas dari simpul-simpul persendian. Makhluk itu tampak semakin kebingungan. Bahkan dia pun tak sadar bahwa semuanya telah usai setelah sudut pandangnya tiba-tiba bergeser turun, menjadi jauh lebih rendah dari semestinya.

Hal terakhir yang bisa dia lihat, hanyalah sepasang cahaya merah yang seakan memberikan isyarat bahwa sang mangsa dan pemangsa telah berbalik kedudukannya. Sebelum suara benda tajam bergemerincing ketika beradu dengan tempurung kepalanya.

Rotting Carnellia sejatinya adalah makhluk dari kelas tumbuhan pemakan daging. Mereka berkembang biak menggunakan biji yang harus ditanamkan langsung ke tubuh calon inang yang ingin dihinggapi. Tumbuh perlahan-lahan. Mengambil alih kesadaran sekaligus mencerna sekujur badan.

Semakin tua usia, semakin besar pula ukuran inang yang mereka butuhkan untuk tetap bisa hidup.

Cara efektif untuk melumpuhkan monster ini adalah mengoyak bagian bunga di mana simpul-simpul syaraf berpusat di pangkalnya. Satu-satunya bagian tubuh makhluk bertulang belakang paling ideal untuk menutupi kekurangan tersebut tak lain dan bukan adalah rangka kepala. Terutama beberapa jenis reptil yang dikenal cukup tebal dan keras.

"Stygian Dragon, huh?" gumam pemuda itu setelah mencabut Yuuma dari lubang yang dia buat di tengah dahi makhluk tersebut. "Lesser Dragon memang lebih berkerabat dekat dengan ras manusia kadal daripada Naga yang sesungguhnya. Tetapi, tidak seharusnya mereka bisa terjangkiti oleh benih Rotting Carnellia."

Segenap kejadian yang dialaminya secara silih berganti mulai menyulut rasa curiga. Minotaur memang penghuni Goa dan bumi bagian bawah. Mereka lebih sering berkelompok meski bukan berarti tidak ada yang memilih menyendiri dari kawanannya. Sedangkan untuk monster tersebut jauh-jauh menyelinap ke wilayah manusia serta menculik anak-anak...

Yohio hanya bisa menatap suatu sudut tak jauh dari tempatnya berada. Di mana kilauan bara api terpantul di dinding Goa yang lembab dan basah. Serta bayang-bayang makhluk bertanduk tergambar tengah menengadahkan kedua tangannya.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-: