Undefined
Story © Yamikawa Nekuro
Vocaloid © Yamaha and another joined companies
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Miku.
Demikian nama itu diucapkan oleh sosok semu yang kembali menampakkan diri dari sekian susun keping-keping ilusi dari dasar sudut kesadarannya. Seorang gadis berusia tak terpaut jauh darinya dengan binar wajah berseri memukau mata. Cara gadis tersebut tertawa hanyut oleh rasa gembira yang menjangkiti pikirannya, memperlakukan dirinya seenaknya saja, seolah memberi isyarat bahwa mereka begitu dekat.
Bukan.
Kedekatan tersebut bukan berasal dari dorongan batin yang dia jumpai ketika seorang lelaki memberikan perhatian lebih pada gadis pujaan hati. Hampir menyerupai, namun tidak mirip sama sekali.
Kalian tidak berasal dari darah yang sama, begitulah kiranya jikalau safir angkasa dan lautan zamrud yang terpantul di kedua mata mereka, serta helaian mahkota dengan warna mewakili dua musim yang berbeda, bisa saling bercengkrama; menepis dugaan bahwa gadis itu adalah saudara kandung yang dimilikinya.
Jika memang dua kemungkinan di atas bukanlah jawaban dari teka-teki yang mengusiknya, maka penyebab apa yang membuat mereka terbagi peran dalam jalinan erat layaknya keluarga?
Kerlap-kerlip beraneka rupa segera menarik kembali perhatian yang sejenak melesat hilang di ujung titik buta. Mereka beterbangan mengisi setiap tempat yang bisa dijangkau oleh pengelihatan, serta berakhir pada rumpun-rumpun jamur yang tumbuh di beberapa sudut kayu dan bebatuan. Derap kuda yang semula terdengar berderu berimbuh laju, lambat laun berganti ritme, sebelum berhenti seutuhnya.
Apa yang dia rasakan kemudian adalah udara yang sejenak menjadi lebih ringan ketika pemuda itu melompat turun dari pelana tunggangannya.
Tubuhnya berjengit secara reflek disertai degub jantung yang berdebar kencang; dia tak tahu bahwa pakaian yang melilit badan tidak mengijinkan dirinya untuk bergerak lebih leluasa, apalagi mengulurkan tangan untuk meraih sesuatu ketika dia berpikir bahwa tubuhnya akan dibiarkan merosot jatuh begitu saja.
Apa yang saat itu segera dia sadari adalah lengan-lengan bertenaga tersebut masih merengkuhnya, memastikan dirinya tidak akan mengalami luka hanya karena kecerobohan sederhana.
Tudung kain yang menghalangi wajah tersingkap pada momen itu. Membuat pandangan mereka saling bertemu.
Sedikit demi sedikit, bayang-bayang buram yang semula membuat sosok itu tampak begitu asing dan jauh dari kesan nyata, memudar. Kabut-kabut yang terus berganti rupa berubah bentuk menjadi garis-garis tegas serta gradasi warna. Bercampur aduk dengan lusinan wajah-wajah asing yang berasal entah dari mana, sebelum usai dan hanya menyisakan paras seorang pemuda.
Dia memiliki tulang pipi tinggi berpadu dagu yang kokoh. Berkulit sedikit langsat. Berhidung mancung. Serta sorot mata setajam tatapan seekor rajawali yang mengintai mangsa dari sela-sela anak rambut yang dia biarkan berjatuhan menaungi sebagian wajah.
Tidak seperti gambaran seorang pangeran di dalam cerita yang sanggup membuat tuan putri tersipu dan terkesima oleh aura bangsawan yang terpancar darinya, sosok tersebut justru membuat dirinya seakan tengah berhadapan dengan penguasa rimba belantara sebagai seekor kelinci kecil yang tidak sedikit pun layak dianggap sebagai santapannya.
Bagaimana sepasang bola mata itu hanya bergulir turun tanpa harus bertatap muka, lebih dari cukup untuk membuatnya menggeliat meringkuk badan. Menenggelamkan leher seperti kura-kura.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
Pemuda itu berhenti menuntun kuda yang dia tunggangi. Perhatiannya teralih pada serbuk-serbuk spora jamur-jamur matahari di area yang berlokasi tidak jauh dari tujuannya. Spora yang ditebar oleh jamur-jamur yang dia temukan tumbuh bergerumul di sekelilingnya tersebut memiliki kelebihan yang bisa dimanfaatkan sebagai media penghalau alami. Selain memberikan penerangan, sebagian besar makhluk-makhluk penghuni hutan ini memiliki alergi terhadap mereka. Terutama bagi pengguna sihir umbra, ladang jamur matahari adalah zona berbahaya.
Singkat kata, Yohio berniat menambat tunggangannya beserta sekian barang yang dibawanya di tempat ini. Dia tidak ingin mempersulit diri dengan membawa barang bawaan yang harus dijaga dengan perhatian lebih. Termasuk makhluk asing yang dia pungut sesuka hati; sesosok gadis yang tengah menggigil menggulung badan di gendongannya.
Yohio tahu jika makhluk itu terbangun sejak beberapa saat lalu. Namun tidak terlalu menghiraukannya karena dia hanya diam dipangkuannya selama perjalanan. Seperti dugaan semula, ras humanoid yang baru dia temukan tersebut sama sekali bukanlah ancaman.
Sekarang, saat pemuda itu bisa melihat bagaimana bola mata sebening berlian itu terbuka dengan titik kecil melebar ditengahnya, yang melintas di benak pemuda itu justru tingkah seekor binatang mungil yang tersudutkan meskipun dirinya hanya berada di dekatnya tanpa berbuat apa-apa.
"Tenanglah," gumam Yohio setelah menghela napas dan sejenak memejam mata, sikap semacam itu sudah terlalu sering ditemuinya. "Aku tidak memiliki niat buruk apapun." Sambungnya seraya menurunkan makhluk tersebut dan membiarkannya berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
Makhluk berwujud menyerupai manusia itu segera mengambil beberapa langkah menjauh. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kemudian kembali menatapnya dengan ekspresi berkerut curiga. Mungkin dia terheran dengan segenap keganjilan yang dia dapati begitu pulih dari ketidaksadaran. Begitu pemuda itu mengira.
"Aku hanya ingin menolongmu." ujarnya sambil menunjukkan kedua telapak tangan. Sebuah gestur sederhana bahwa dia tidak memiliki atau tengah menggenggam sebuah senjata.
Makhluk itu hanya diam. Mengernyit dahi. Bersi-keras untuk tetap berdiri meski tenaga belum sepenuhnya pulih. Jika situasi ini tidak segera diatasi, pemuda itu yakin makhluk itu akan mengacuhkan kondisinya sendiri dan memaksa untuk pergi. Dilihat dari sudut mana pun, eksistensinya yang rentan membuatnya mudah menjadi buruan.
Seumpama dia memutuskan untuk mengabaikan makhluk itu sebelumnya, tewas termangsa atau ditangkap petualang lain, itu bukan urusannya. Tetapi, Yohio lah yang telah membawanya masuk jauh ke dalam hutan.
Dia memang tidak berhak menentang keinginan orang lain atas diri mereka sendiri. Tetapi jika skenario takdir yang menanti adalah demikian, rasanya tidak jauh berbeda seperti menyelamatkan seekor rusa dari terkaman harimau hanya untuk disembelih di rumah. Atau menjadikan anak anjing di jalanan sebagai mainan yang kemudian ditelantarkan kembali setelah bosan. Sungguh, apakah dirinya masih seorang bocah ingusan?
Setidaknya, dia harus membujuk makhluk itu agar bersedia ikut bersamanya untuk sementara, kemudian mencari tempat lain yang jauh lebih aman sebelum kembali melepaskannya.
Pemuda berambut pirang itu menunjukkan sepotong roti yang diambilnya dari beberapa kantong di pelana. Menawarkannya setelah mengunyah dan menelan satu gigitan penuh dari salah satu sisinya.
"Apa kau lapar?" dia sempat mengucapkan kalimat tersebut. Sosok gadis itu tampak sedikit tertegun, kembali diam memperhatikan dan hampir menganggukkan kepalanya. Namun raut wajahnya justru berubah masam begitu lelaki itu mendekat dan menyodorkan miliknya. Makhluk itu semakin menghindarinya.
"Lihat, makanan ini tidak beracun." ucap Yohio sedikit kesal. Tetap saja, yang dia dapat hanya gelengan dan ekspresi dari seseorang yang merengek setelah menjadi bahan leluconan. Astaga. Dia tidak ingin berdiam di tempat ini lebih lama.
Tak menghiraukan betapa menyedihkan usaha makhluk itu untuk menjaga jarak darinya, pemuda itu segera menghampirinya. Langkah-langkah gontai itu hanya berjarak beberapa puluh jengkal saja. Dia cukup berjalan melebarkan jangkauan kakinya. Mencengkeram pundaknya. Memutar badan makhluk itu. Mengurai simpul di ujung lengan jaket yang dia pinjamkan padanya. Kemudian menatap matanya.
"Dengar." Yohio mendesis mendekatkan wajah. "Di luar wilayah jamur-jamur ini tumbuh, kau bisa mati terbunuh kapan saja. Jika kau bersikeras untuk pergi, diam dan tunggu aku di sini. Aku berjanji akan membawamu keluar dari hutan ini setelah urusanku selesai."
Entah bahasa yang dia ucap bisa dimengerti atau tidak, pemuda itu tak lagi peduli. Dirinya hanya berpaling setelah meraih tangan sosok gadis tersebut dan meletakkan roti di sana. Serta berpesan jika dia tak suka dia boleh memilih beberapa buah-buahan yang diletakkannya di kantong pelana yang sama. Sebelum menghilang jauh ke dalam kegelapan.
:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:
