Disclaimer: Lost Saga dan Hero-nya bukan milik Lazzier | © IO Entertaiment
Sudah 3 bulan semenjak Master meninggal, namun bukannya mencari teman, aku malah berlatih untuk membela diriku bila suatu saat nanti aku menghadapai sesuatu yang sama sekali tidak aku inginkan. Aku tidak mau diculik oleh orang asing karena menurutku keberuntungan akan jarang datang 2 kali. Aku mengembangkan gaya bertarungku sendiri, dan juga sapu ini lumayan keras hingga dapat membuat pingsan seekor beruang madu yang tidak sengaja kupukul pada saat aku berlatih di hutan. Kupikir aku terlalu keras memukulnya.
Aku mencari uang dengan cara menawarkan jasa membersihkan rumah, dari satu rumah ke rumah lainnya di kota. terkadang aku diberikan makanan gratis oleh orang yang menggunakan jasaku. Jadi keadaan ekonomi-ku selalu dalam kondisi stabil.
" Ah, membosankan ... " Gumam kecilku sambil duduk di teras kos kosan
Mengapa aku tidak tinggal di rumah Masterku dulu? Itu karena Masterku bilang kepadaku kalau dia akan mendonasikan rumahnya ke Asosiasi Yatim Piatu suatu saat nanti, dan minggu kemarin Asosiasi tersebut baru selesai direnovasi, ketika aku melihat kesana, kamar Masterku tidak disentuh sama sekali, pengurus Asosiasi bilang kepadaku kalau ketika rumah ini diserahkan kepada Asosiasi diminta untuk membiarkan kamar Masterku.
Karena kebosanan yang melanda pikiranku belakangan ini, aku memutuskan untuk berbelanja ke pasar sekedar untuk membeli buah buahan di toko, tidak lupa aku membawa sapu untuk berjaga jaga, mungkin saja nanti ada yang mau menyewa jasaku.
Cling cling, bunyi bel kecil yang otomatis berbunyi ketika ada orang yang membuka pintu toko buah ini selalu menjadi suara favoritku.
" Ah, selamat siang, pemilik toko. " Sapaku
" Selamat siang Shiro, mau berbelanja? " Tanya pemilik toko sambil tersenyum kecil
" Iya, lagipula aku hanya membeli beberapa buah saja hari ini. " Jawabku
Aku mengambil keranjang kecil didekat kasir, lalu aku mengambil beberapa buah Apel dan Jeruk, lalu aku menaruh keranjang kecil ini di meja kasir untuk dihitung seberapa banyak uang yang harus kubayar. Namun ketika sang pemilik toko menyebutkan nominal yang harus dibayar olehku, seorang gadis berambut pirang secara tiba tiba menaruh uang untuk membayar buah yang kubeli
" Hihi ~ " Ia melihat wajahku sambil mengedipkan mata kanannya
Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?
" Hei, tunggu! " Sayangnya, ketika aku mengucapkan kata kata itu, ia sudah berada di luar toko
Aku langsung mencoba mengejar dia, langkah kakinya cukup cepat untuk seorang gadis yang masih terlihat lebih muda dariku, dan dia berbelok ke gang kecil ... Ah, aku benci gang kecil.
" Hei! " Aku mencoba memanggilnya, namun ia mengabaikanku dan berbelok lagi.
Namun, ketika aku berbelok kearah ia berjalan tadi, aku malah terjatuh karena sebuah lubang yang cukup besar. Kelopak mataku menutupi bola matanya secara spontan.
" Ouch ... " Rintih kecilku yang secara lucunya, badanku menyentuh tanah terlebih dahulu.
Aku membuka mataku dan melihat sekitar ...
Aneh ...
Ini aneh ...
Ketika aku mengejar gadis itu, hari masih siang dan matahari sedang berada di puncaknya, namun ketika aku melihat keatas, bulan menggantikan posisi matahari dilangit...
Ini aneh ...
Tidak mungkin aku pingsan karena lubang itu ...
Dimana aku?
Ketika aku memperhatikan keadaan sekitar, aku masih berada di gang kecil, tapi aku tahu kalau aku tidak berada di tempat yang sama. Sapu yang kubawa tidak lepas dari genggamanku dan buah buahannya masih utuh, jadi seharusnya perbedaan waktu tidak akan sejauh ini.
Aku keluar dari gang kecil ini, sejauh mata memandang, aku berada di tengah pasar, namun gaya bangunan disekitar sini seperti gaya abad pertengahan, namun dengan adanya teknologi listrik? Aku sama sekali tidak mengerti dimana aku sekarang.
Setelah aku berkeliling di daerah tempat ini, akhirnya aku menemukan taman. Walaupun sudah malam hari, suasana disini masih cukup ramai dan taman ini memiliki penerangan yang cukup.
Tetap saja, sebenarnya dimana aku sekarang?
" Keberatan jika aku duduk disini nona? " Seorang pria dengan baju putih dan rambutnya yang bulat seperti brokoli itu mengejutkanku
" Eh ... Tidak kok ... Silahkan. "
" Ngomong ngomong, apa ada yang kau tunggu disini? " Tanya dia
" Tidak ada, sebenarnya aku tersesat kesini, bahkan aku tidak tahu berada dimana aku sekarang. " Jawabku
" Tersesat? Karena apa? "
" Entahlah, ketika aku sedang mengikuti seorang gadis, tanpa kusadari ada lubang yang cukup besar untuk membuatku terjatuh kedalamnya, ketika aku sadar, aku sudah berada disini. " Jelasku
" Hmmmm, gadis itu lagi. " Gumamnya
" Gadis itu lagi? "
" Ah, lupakan saja, terima ini, banyak kota disini menggunakan mata uang yang disebut Peso. " Dia memberikanku sekantung kecil berisikan uang
" Didalam kantung tersebut berisikan 10.000 Peso, gunakanlah uang itu untuk menginap dan membeli makanan, untukku 10.000 Peso itu cukup untuk 2 hari. " Jelasnya
Kriiing, Kriiing. Smartphone miliknya berbunyi
" Ah, aku harus pergi dari sini, sampai jumpa. " Dia beranjak dari bangku taman ini
" Hei, dimana sebenarnya aku sekarang? Dan nama kau siapa? " Tanyaku, mendengar pertanyaanku ia berhenti sejenak
" Saat ini, kau berada di dunia yang tak terikat dengan waktu, dan ketika kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku akan memberitahukan namaku " Jawabnya, setelah itu ia berlari dengan kecepatan sedang.
