Trio Kwek Kwek
.
.
.
Bahasa campursari: semi baku plus gaul Lo/Gue
OOC positif
Fic ini penuh dengan 'kebangkean' karakter
Ansatsu belongs to Matsui Yuusei
Jam pelajaran matematika (10.00-11.30) - 3B
Saat itu jam dinding kelas baru menunjukkan pukul 11.00, masih setengah jam lagi sampai jam pelajaran laknat itu usai. Terlihatlah murid paling belakang, dengan poni hampir menutupi seluruh wajahnya nampak anteng dengan buku catatannya. Jika ditilik lebih dekat, sepertinya dia sedang menggambar ah mensketsa lebih tepatnya, sesosok wanita-disampingnya tertulis kalimat
"Hayami-san, Aishiteru" Chiba, sosok yang diam-diam sedang lovestruck pada pandangan pertama entah kenapa jadi geli sendiri melihat apa yang tengah ia lakukan saat ini.
Disampingnya, tepatnya meja samping kiri Chiba, Sugaya yang nampak kelewat sudah jenuh dengan asupan matematika saat itu cuma melirik Chiba yang terlihat menarik lengkungan kurva u.
'Apa sih yang dia lakukan sampe senyum-senyum gitu?' batinnya kepo.
Salahkan jarak untuk melintas yang memisahkan meja keduanya. Rasa kepo Sugaya sedang tak terbendung, dan ia sudah lelah dengan matematika. Ia kemudian menyobek kertas bagian tengah buku catatannya, membagi menjadi beberapa bagian. Sebelum dilempar dan digulung bulat-bulat.
Sugaya menuliskan sebuah pertanyaan didalamnya.
Pletak -Lemparan bulatan kasar kertas mengenai kepala Chiba.
Gak kerasa sakit sama sekali.
Chiba lalu menatap bulatan kertas itu, dan melirik sampingnya.
'Apa sih?' mulutnya bergestur tak mengeluarkan suara, yang ditanya cuma menunjuk kertas yang dipegang Chiba itu dan menyuruhnya.
'baca,baca' dengan suara sepelan mungkin.
"Heh poni, elu gak kesambet ? Ngapain senyum-senyum gitu" dibacanya dalam hati oleh si poni kang*n band.
dibalasnya dengan "Bukan urusan lo, tampang madesu." dilemparnya kembali kertas itu. Sugaya ngehe lalu balik menyerang kepala si poni dengan bulatan kertas lainnya, Chiba pun tak mau tinggal diam. Maka—setiap Sugaya melempar bulatan kertas yang baru, ia akan melempar balik.
"Apa lo bilang ?! Dasar kang*n band!"
"Gini-gini calon jodoh guwe cantik, cunguk!"
"Oh—lo ngehina guwe jomblo ya?!"
"Nggak tau deh ya, kalo elo ngerasa ya maap~ "
dan begitu seterusnya, sampai kesalahan fatal terjadi. Sugaya emosi naik darah merobek kertas lagi. Kali ini ukuran bulatannya cukup besar.
Hanya tertulis satu kata disana, dengan huruf kapital,dan tiga huruf.
Ditulis penuh dengan kebencian oleh seseorang bernama Sugaya untuk seseorang bernama Chiba.
PLETAK -yang terkena lemparan malah Isogai, pemuda yang duduk tepat di depan si poni.
Isogai mengaduh dan mengusap belakang kepalanya.
"Ish! Sugaya! Aku lagi konsentrasi tahu!"
"Ya ma'aaap~" balas si pembuat onar kecil-kecilan santai
Chiba cekikikan.
Tanpa disadari ketiganya, sesosok pria jangkung sudah sampai di barisan mereka. Memungut kertas yang jatuh di dekat kaki Isogai. Dibacanya lekat-lekat kata yang tertera disana.
"ASU!"
Pria yang bernama Asano Gakuhou itu kemudian melirik Isogai,
"Oh—jadi kau tidak suka pelajaran matematika-ku Isogai-kun ?" tanyanya penuh dengan hawa tidak senang. Isogai keringat dingin, guru didepannya entah kenapa mendadak terlihat seperti siluman lipan. Isogai takut.
"B-bu-bukan pak Asano." jawabnya takut-takut.
"Terus ?" Wajah guru itu semakin mendekat, Isogai bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Makin bikin Isogai merinding disko.
'MAMAAAAH! ISOGAI GAK MAU DI PEDO-IN!' Innernya menjerit frustasi horror.
Ditengah-tengah situasi yang mengancam, takut-takut dicipok tanpa sengaja oleh sang guru matematika. Isogai lalu berteriak nyalang.
"ITU SALAH SUGAYA PAK ASANO!" tunjuknya pada si surai abu-abu yang berpura-pura menyalin semua tulisan yang ada di papan tulis. Asano terdiam kemudian. Lalu menghampiri bangku Sugaya.
"Oh—jadi ini perbuatan mu Sugaya ? Hmm ?" tanya guru matematika itu. Sumpah Sugaya gak kuat deket-deket sama pak Asano, entah kenapa bawaannya kaya di siksa kubur penuh lipan. Sugaya keseringan nonton Rahasia Ilahi. Dan dengan seenak udelnya dia menunjuk Chiba yang kini asik melanjutkan sketsa—tertundanya tadi.
"ITU SALAH CHIBA PAK ASANO!"
"HAAAAAAH?!" Yang disebut namanya berteriak tidak terima
Sebelum Pak Asano mendekat, Chiba sudah buru-buru melontarkan pernyataan untuk melindunginya.
"BOHONG PAK ASANO! ITU ASLI BIKINAN SI SUGAYA."
"BUKAN PAK ASANO! ITU ASLI BIKINAN SI CHIBA."
"HIDIH, FITNAH WOY FITNAH."
Isogai yang menatap bergantian ke arah sohibnya itu malah dapet semprotan
"APA LO PUCUK ?! SENENG LO LIAT KITA BEGINI?!"
'ISOGAI SALAH APA YATUHAN' batin Isogai meringis
"KELUAR KALIAN DARI KELAS SAYA!" Pak Asano sudah diambang batas, mengusir ketiganya. Isogai merasa menjadi pihak paling terdzolimi disini. 'Tuhan, Isogai salah apa!'
Asano Gakuhou, kemudian memijit keningnya pelan. *'AING LIEUR GUSTI' batinnya nelangsa
(Aing lieur gusti= Guwe pusing yatuhan)
.
.
.
~TrioKwekKwek~
.
.
11.15 -Lapangan Upacara-
Ketiganya mendapat hukuman mengangkat kursi diatas kepala sampai lima belas menit kedepan.
Isogai manyun, misuh-misuh, ngedumel.
Dua lainnya saling membuang muka. Lama-lama Isogai ngehe sendiri, sampai hampir ngebanting kursinya ah tidak, tepatnya hampir membuat kedua sohib di kiri-kanannya gegar otak gara-gara serangan kursi yang dipangku Isogai ke kepala keduanya. Untungnya Isogai tidak melakukan itu, dia masih punya sejuta stok kesabaran di lubuk hatinya yang paling dalam berkat puasa senin-kamis yang rutin ia lakukan. Isogai manusia terpuji. Isogai the Real Saint.
"Hey—" Isogai membuka suara.
"Apa?" balas dua lainnya.
Petir-petir tak kasat mata nampak keluar dari dua sohibnya itu, berkat ucapan mereka yang berbarengan. 'Hih' Kembali membuang muka. Benar-benar kekanakkan.
"Please jangan kekanakkan." Isogai pasang tampang melas. Chiba dan Sugaya hening.
"Denger, aku gak bakal marah gara-gara kalian aku didepak sama Pak Asano juga—"
"Itu salahnya si Sugaya, Isogai. Guwe mah lagi anteng nge-sketsa si neng Hayami!" bela Chiba, tak terima dituduh sebagai penyebab Isogai didepak keluar kelas.
"Halah, sketsa macam anak baru kober gitu doang bangga."
Chiba udah siap-siap melempar kursinya ke kepala si surai abu-abu. Si surai abu-abu udah siap me-meluk Chiba beserta kursi yang diangkatnya.
"BERHENTIII !" Isogai yang berada di tengah-tengah keduanya membanting kursi yang diangkatnya, sampai sebelah kaki kursinya hampir patah.
Isogai sudah hilang kesabaran. Mungkin ia perlu puasa daud setelah ini, untuk menambah kadar kesabarannya yang sudah bolong-bolong bagai ozon diatas sana. Keduanya kembali mingkem. Memang benar pepatah yang bilang, "Hati-hati dengan marahnya orang baik" Sekarang, mereka-Chiba dan Sugaya mengalaminya secara langsung. Ngeri dengan marahnya anak berpucuk itu.
"Oke—maafkan aku yang hilang kendali." ujar Isogai kemudian, kembali mengangkat kursi yang barusan ia banting ke tanah.
Chiba mencicit "Tidak—maafkan aku juga Isogai."
"Aku juga, maaf." disambung Sugaya.
Isogai tersenyum manis kemudian,
"Maa...maa...Sudahlah, aku sudah memaafkan kalian sejak tadi." Isogai memang benar-benar titisan malaikat. Kedua sahabatnya itu menatapnya berkaca-kaca -meski dalam kasus Chiba tak kelihatan karna ulah sang poni-
"Huwaaa Isogai-kun" keduanya membanting kursi tak berdosa itu ke belakang, memeluk Isogai kemudian.
Yang dipeluk lalu ikut-ikutan membanting kursinya ke belakang, membiarkan kedua tangannya bebas menepuk-nepuk kepala si surai hitam tanpa pucuk dan si surai abu-abu. Bagi yang melihat mereka sekilas, entah kenapa rasanya terlihat seperti- Isogai seperti babysistter untuk Sugaya dan Chiba.
Satu masalah beres.
Kini mereka menjalani sisa waktu hukuman yang tinggal lima menit lagi.
"Ngomong-ngomong Chiba." Isogai kembali membuka suara.
"Hm?"
"Aku merasa ada yang aneh dengan ayahmu"
Sugaya disampingnya mengangguk-ngangguk kelewat semangat membenarkan ucapan Isogai.
"Iya! Iya! Dia kelihatan melirik terus tante Nagisa!"
"Masa sih?" tanya Chiba.
Dua anggukan serius dari kedua sahabatnya sebagai jawaban. Chiba meneguk ludahnya kasar.
'Anjir, masa ayah pengen madu tiga ?!'
.
.
.
~TrioKwekKwek~
.
.
-Dua Minggu Sebelumnya-
Terdapatlah seorang pria paruh baya berambut merah di depan kantor kecamatan sedang ngopi-ngopi bareng rekan kerjanya. Ngobrol ngalor ngidul entah dari mulai curhat prahara rumah tangga sampe kalah taruhan bola. Yah intinya, obrolan gak mutu bapak-bapak pegawai kecamatan. Ditengah asiknya ngerumpi, tiba-tiba terdengar suara lembut nan manis membuyarkan percakapan mereka.
"Jamunya mas, jamu~" suara lembut itu sontak membuat mereka memalingkan wajahnya. Karma, salah satunya. Menoleh patah-patah dramatis. Dilihatnya sosok bidadari yang seperti jatuh dari surga.
"Shiota ?" matanya berbinar-binar. Cinta pertamanya kala SMA dulu. Masih sama cantiknya seperti dulu. Sayang, dulu keburu ketikung sama guru olahraganya sendiri. Karasuma.
Angin berhembus menyibakkan surai biru sang penjual jamu. Dramatis. Karma jadi baper.
"Oh—Karma ?" balasnya riang, melihat teman sekolahya dulu.
Rekan kerja Karma, alias pria paruh baya lainnya saling sikut pinggang Karma.
"Weeeh Karma, siapa tuh ? Kekasih gelap ?" Ujar Maehara usil.
"Inget istri di rumah! Cantik sih cantik. Eh mbak, kenalan dong~" Ren tak mau kalah usil sambil menyisir poninya ganteng.
Jitakan sayang lalu mendarat di kedua pria tersebut.
"Ampas lu Mae! Temen guwa nih. Ren, lu juga udah punya Kanzaki bahlul!"
Nagisa hanya tersenyum melihatnya, Karma meneguk ludahnya kasar. Duh-kenapa masih cantik aja sih. Karma frustasi.
"Oh err sorry, jadi di godain." Karma menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.
"Tjieee Karma saltiiinggg~" Maehara bersuit-suit ria, tidak kapok menjahili atasannya sendiri.
"Tjieee yang ketauan grogiiii~" Ren pun sama saja. AMPAS! Minta disiram air kopi emang itu bawahan dua. Untung saja insting Ren dan Maehara bekerja, mereka dengan kecepatan kilat segera kabur sebelum Karma menyiramnya dengan air kopi.
"Ahahahah, rekan kerja mu lucu ya." Nagisa terkikik,
"Bukan lucu, mereka tidak waras." Karma menghela nafas kemudian,
"Ngomog-ngomong, kau jadinya menikah dengan siapa ? Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Apa dengan pak guru Karasuma ?" tanya Karma panjang lebar.
Bukannya menjawab, Nagisa malah tersenyum.
"Karma ?"
"Ya?"
"Mau beli jamu ?"
"Boleh."
WOOYY PAK KARMA, BARUSAN KAN MINUM KOPI. MASA LANGSUNG MINUM JAMUUU! Inner horor sang penjaga warung, yang sedari tadi tidak disorot.
.
.
.
—14.00 Kediaman Chiba—
Chiba baru balik dari sekolahnya, dan alangkah terkejutnya kala ia menemukan sang ibu menyanyikan lagu yang entah apa judulnya.
"TEU PADULIIII AING MAH REK KAWIIN DEUIII. TALAK TILU SAKALIAAAN~~~ OYEAHHH!"
(Translate: Gak peduliii, guwe mau kawin lagiiii. Talak tiga sekaliaaan~~~Oyeahh!)
"Mah ?"
Rio melirik sang anak yang baru pulang.
"Siapa yang mau talak tiga ?" tanya sang anak kembali.
Rio kembali memalingkan muka, tak menjawab pertanyaan sang anak. Malah bernyanyi semakin keras.
"MABOOK JANDAAA! SALAKI TEU ELING-ELING!"
(Mabok jandaaa! Suami gak sadar-sadar!)
Crack
Chiba menjatuhkan tas sekolahnya,
Isogai, Sugaya help me please! Keluarga guwe kok jadi makin anjay.
.
.
.
TBC
A/N
Tungtarangtangtung HAAAAAAA apa inii udah lama gak diorek-orek. Habis kan RL kampret banget. Niat ngelawak gw jadi menguap entah kemana HUUUU /dilempar tomat. Say sorry banget yang udah follow, ini baru lanjut sekarang. Haaaa tabokin sadja diriku yang hina ini :''))))
Seriusan gak mau bikin hutang fic. Hope can complete this fic.
Least, Kritik, Saran
RnR please~
