Trio Kwek-Kwek
.
Bahasa campursari: semi baku plus gaul Lo/Gue
OOC Positif. Fic ini penuh dengan kebangkean karakter.
Setting: Kunugigaoka=Bandung
.
Ansatsu belongs to Matsui Yuusei
"Mah siapa yang mau talak ?"
Pertanyaan Chiba tak dijawab oleh sang mamah tercinta. Hanya semilir angin dan isak tangis sang mamah yang menjawab. Chiba tak sampai hati melihat mamahnya terisak seperti itu. Ingin memeluk tapi pasti ia segera diusir, mamahnya ini tipe-tipe tsundere. Bahkan sama anak sendiri. Baru saja Chiba melangkahkan kakinya sejengkal. "Sana ke kamarmu Chiba! Mamah lagi pengen sendiri." Rio mengisak pilu sambil memandangi buku nikah.
Nah kan, tapi da Chiba mah apa atuh cuma anak yang kelewat manut sama orangtua. Disuruh ke kamar ya langsung ke kamar. Lagipula, Chiba tidak paham betul bagaimana menenangkan orang yang sedang sakit hati. Yang ada dia cuma bisa ngasih puk-puk gratis. Karna kelewat pendiem. Mungkin.
Pintu kamar ditutup. Chiba mendesah lelah. Membaringkan tubuhnya begitu saja di kasur, masih berbalut seragam. Mengingat kembali adegan sang mamah terbengek-bengek sembari liat buku nikah.
Astaga, eta si Ayah ngapain lagi sih?! Bikin si mamah terbengek-bengek. Hiiih! Chiba gegulingan frustasi diatas kasur.
Mamah, yang sabar yak.
.
Disaat sedang sedih-sedihnya, tiba-tiba saja...
Tingnungningnung~ Bunyi ringtone Line Chiba berbunyi. Dengan gesit si pemilik poni alay itu meraih ponselnya di saku.
Hayami Rinka: A?
Satu kata. Satu tanda tanya. Tapi ini mampu membuat Chiba kegirangan bukan main. Dan melupakan adegan melow yang baru saja ia alami.
SI NENG GEULIS NGE-LINEEEEEE! Hatinya ber-euforia, meledak-ledak bagai petasan bulan puasa.
Buru-buru ia membalas chattingan sang tambatan hati.
.
Iya neng, gimana?
Besok bisa ketemuan?
(Besok? Malem minggu? Diam-diam Chiba menyeringai. Hey ya! Ternyata perempuan semanis itu rada agresif juga ya. Ngajak ketemuan duluan. Diluar jadwal perjodohan.)
Boleh, dimana?
Di alun-alun kota, A.
.
Okesip! Chiba akan dandan maksimal buat ke alun-alun kota besok.
.
~TrioKwekKwek~
.
Malem minggu~ Aye nonton ke bioskop.
Chiba bersenandung keras lagunya Benyamin Su'eb. Sugaya disamping risih sendiri. "Chiba, geuleuh tau! Malu-maluin hih!"
"Malu-maluin gimana Sug?"
"INI KITA LAGI DI ANGKOT BEGOG!"
"EBUSET! GUWE KIRA INI MIMPI." Chiba teriak horor lebih pada dirinya sendiri.
"NYAO AH (TAUK AH)!"
Isogai di pintu belakang angkot cuma ngakak unyu.
.
Chiba Ryunosuke, 15 tahun. Remaja ganteng dengan poni sedikit alay. Otak gesrek kesamping. Tak bisa membedakan antara masih kebluk dalam mimpi atau bukan. Penyebab utama, cinta pada anak tukang jamu. Neng geulis yang diketahui bernama Hayami Rinka.
.
.
.
"Chiba-kun lagi seneng ya?" Isogai membuka obrolan kala antri cilok di kantin. Chiba menoleh dengan senyum yang luar biasa—er tampan? Entahlah. Isogai merasa demikian, meski tak bisa melihat kedua iris Chiba. Tapi Isogai yakin, Chiba itu ganteng. Homo detected?Mungkin. Tapi masih level normal.
"He-he, gitu deh Isogai. Ketahuan ya?" Chiba menggaruk pipinya yang tidak gatal. Isogai hanya mengangguk lucu.
"Mau malming nih Isogai, sama si neng geulis." Bisiknya pada Isogai.
"WHOA! Kereeeen!"
"Tapi..." raut muka Chiba mendadak lesu kemudian.
"Ada masalah apa Chiba-kun?"
"Anu..er..aku gak enak bilangnya." Chiba membentuk gestur resah gelisah binti najongin gitu.
"Kenapa? Bilang aja, aku sohib kamu kan?" Isogai berusaha meyakinkan sang sohib untuk merasa gak perlu ngerasa gak enak.
Chiba berbisik untuk yang kedua kalinya, Bisa tolong, pinjemin angkot malam ini?
Pinjem gimana Chiba-kun?
Yagitu, kamu bawa satu pas lagi kosong di terminal
Maksudnya maling bentar?!
Chiba mengangguk mantap.
Isogai membatu. Sejauh-jauhnya rumah Chiba ke alun-alun. Secinta-cintanya Chiba sama si neng Hayami. Sesolid-solidnya persahabatan mereka. Yatapi Isogai kan gak mau jadi kriminal kelas ecek-ecek, mendadak disuruh nge-hack bentar angkot. Lagian kan masih kecean naik gojek. Isogai pusing, baru ingin menolak...
"Mang, cilok lima rebu dua!" Suara Chiba tiba-tiba membuyarkannya. Oh ternyata antriannya sudah sampai depan si mamang.
Isogai bertanya-tanya tumbenan Chiba jajan cilok seboros itu. Baru juga mau pesan, tangan Isogai keburu digeret keluar dari antrian oleh Chiba.
"Eh Chiba aing belum pesen." Protes Isogai.
"Ngapain? Nih.." Chiba menyodorkan sebungkus cilok pada Isogai. "Pls ya Isogai, pinjemin angkot malem ini."
Chiba-kun, kamu nyogok aku pake cilok?
Nggak tuh, btw aku bawa keripik boled(ubi) ungu kesukaan kamu.
Serius?! Mau ih!
Hayu ke kelas, ada di tas.
.
"Jadi, bisa pinjemin angkot kan Isogai?"
Isogai masih sibuk mengunyah keripik ubi dari Chiba. Menelan kemudian memberikan jempol dan senyum terbaiknya pada Chiba.
"Beres! Nanti ku atur!"
.
Isogai Yuuma, 15 tahun. Remaja unyu, baik hati, innocent, maji tenshi dengan pucuk kembar diatasnya. Mendadak menjadi kriminal kelas ecek-ecek. Penyebab, disogok cilok dan keripik ubi oleh si setan poni(Chiba).
.
~TrioKwekKwek~
.
Mungkin ada yang bertanya-tanya dimana Sugaya. Well, Sugaya sedang anteng menjogrog di ruang seni rupa. Melukis ini dan itu. Menggambar ini dan itu. Ingin rasanya ia sesekali tidak bergaul dengan sohib gesrek nya itu. Sesekali merasakan indahnya simfoni perpaduan antara cat kuas dan kanvas. Goresan indah yang terbentuk dari suasa hatinya saat itu. Oh biarlah Sugaya sedikit melankolis sejenak.
Sejenak-
Sejenak—
Sampai...
BRAK
Pintu ruang kesenian terbuka dengan tidak manusiawinya. Untung sepi. Kalau tidak, mungkin pelaku sang pendobrakan sudah dimaki dan dilempar oleh berbagai peralatan di ruang seni rupa, karena mengganggu konsentrasi. Untungnya cuma ada Sugaya. Sugaya yang pada dasarnya cinta mati pada alat-alat kesenian, tidak akan sampai hati melemparnya begitu saja. Paling cuma sewot.
"Apaan seh poni!" Sugaya mendelik kesal, sang pelaku pendobrakan yang tak lain sohib gesreknya, Chiba.
Sugaya!
APA?!
Tolongin si Isogai pls!
Emang dia kenapa?! Kelelep kolam sekolah?!
Bukan! Bantuin dia minjemin angkot.
HA? Seketika Sugaya cengo, "Maksudnya apaan sih?"
.
Setelah Chiba menjelaskan ini dan itu, Sugaya cuma pasang tampang males yang paling males.
"Oh-jadi lu memperalat Isogai buat dapet kereta kencana lu malmingan hah?"
"Iya untuk malmingan, tidak untuk memperalat Isogai."
"Halah dusta banget, terus apaan pake sengaja bawa keripik boled sagala ai maneh (ubi segala dasar kamu)"
"Ya gimana atuhh, habis da kadang si Isogai mah lucu gitu kan ya, dikasih boled pikirannya jadi berubah gitu."
"ITU SAMA AJA NYOGOK ARI SIAAAA" Sugaya menggetok-getok kepala Chiba dengan sayang.
.
"Jadi maneh nyuruh aing buat yang nyetir gitu? Gegara pernah ngendarain angkot jaman kelas 6 SD gagara kepepet bok-r ?"
Chiba mengangguk mantap,
"Kalau gak mau gimana?"
Chiba mencodongkan tubuhnya dan membisikan sesuatu yang bikin Sugaya merinding disko gak karu-karuan. "Kalau gak mau, guwe cipok lu sampe mampus."
Hentikan segala keabsurdan ini Tuhan! Sugaya tidak kuat laghe! Tidak kuat bersahabat dengan sohib gesrek macam Chiba. Dengan sense humor yang ajaib. Sense humor homo yang mengerikan.
"O-oke fine. Guwe yang nyetir!"
.
Sugaya Sousuke, 15 tahun. Remaja tampang madesu dengan bakat seni luar biasa. Bersahabat dengan setan poni sejak entah kapan. Rela jadi supir dadakan karna takut dengan humor homo dan mungkin sikap homo terselubung sahabatnya.
.
~TrioKwekKwek~
.
Ganteng? Cek
Rapi? Cek
Wangi? Cek
Oke fine! All perfectly fine from head to toe!
Chiba puas memandangi dirinya di depan cermin. Hehe neng Hayami tunggulah, aa pasti datang~
Chiba bermonolog geuleuh ria depan cermin, sampai sang mamah mengetuk pintu kamarnya. "Chiba ? Isogai ada di ruang tamu. Kalian mau main ya?"
Chiba segera membuka pintu kamarnya, nampaklah sang mamah yang terkejut melihat anaknya tetiba kece cetar membahana badai pake tuxedo entah dapet darimana.
"Iya mah, Chiba mau main." Chiba hendak cium tangan, pamit. Tapi segera ditepis sang mamah,
"Ai kamu main kemana heh?"
"Ke alun-alun mah, pengen jajan cireng isi." Chiba tak sepenuhnya dusta soal cireng isi, toh dia pengen jajan juga sesampainya di alun-alun nanti.
"Koplok ah anak aingg! Chiba ai kamu jangan norak! Jajan cireng isi doang pake tuxedo, buru ganti pake kaos spongebob wae!" Rio menjambaki rambut Chiba dengan beringas.
Iya mah ampun!
Buru pake yang sederhana aja, kasian si Isogai udah keburu tumbuh kumis ntar!
Iya bentar mah lagi nyari kaos avenjer.
.
.
Selamat tinggal dandanan rapi nan elegan layaknya pangeran-pangeran. Kini Chiba hanya berbalut kaos avenjer dengan jaket abu-abu dan celana cargo berwarna hitam. Tak lupa sepatu kets. Tenang, masih kece kok.
Isogai lalu menuntun Chiba ke tempat dimana angkot bookingan berada. Tolong jangan tanya bagaimana Isogai berhasil melalukannya. Author sendiri pun tidak tahu. Biarlah trik aksi kriminal ecek-eceknya hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Disana sudah ada Sugaya didepan kemudi. Di perjalanan sih tak ada kesulitan terkait Sugaya yang jadi supir. Anehnya dia seperti membaur begitu saja, say hello pada supir supir yang lain. Mungkin sebenarnya pekerjaan Sugaya dahulunya adalah seorang supir. Ditambah tampangnya yang rada madesu, membuatnya makin mudah berkamuflase menjadi supir angkot gadungan. Aduh.
.
.
Tidak sampai lima belas menit, angkot yang dibajak oleh trio kwek-kwek itu kini sudah sampai depan alun-alun. Sugaya berteriak pada mamang ruko disamping, "Mang, teh botol hiji!" Capek rasanya harus mengendarai angkot dengan segala identitas palsunya. Sugaya lelah. Sugaya haus. Dilain pihak, Isogai memperingatkan Chiba yang hendak turun angkot.
"Chiba-kun, jangan lama-lama ya! Aku cuma bisa bajak ini angkot sampe jam sembilan malem."
"EH?"
"Iya, pokoknya cuma sampe jam sembilan teng!"
Buset dah udah kaya cerita Cinderella aturan pakainya. Tapi ini jam sembilan teng kudu balik.
"Oke-oke, tenang aja." Chiba lalu beneran turun dari angkot.
"Janji ?" tanya kurang yakin dari si makhluk berpucuk.
Chiba tersenyum, menunjukkan jari kelingkingnya. Menautkannya dengan milik Isogai. Isogai nampak masih kurang yakin. Akhir-akhir ini dia sadar, kalau Chiba adalah makhluk yang rada slengean. "Apa yang perlu aku lakukan agar kau yakin? Mencium mu?"
HE? Isogai cengo, wajahnya memerah. Malu? Marah? Keduanya? Tak ada yang tahu.
Sugaya terbatuk, keselek teh botol, berteriak kemudian, "HENTIKAN HUMOR LAKNATMU SETAN PONIIII!"
.
~TrioKwekKwek~
.
19.35 Alun-Alun Kota
Dan kini akhirnya, bertemulah ia dengan sang tambatan hati yang sesungguhnya. Hayami Rinka. Neng Geulis sejagat raya kata Chiba hiperbolis dalam hati. Neng geulis itu tidak duduk sendirian, dia bersama dua teman lainnya. Yang satu rambutnya ikal pendek berwarna jingga, satunya lagi bersurai ungu panjang. Mungkin semacam pengawal gitu ya, Chiba berspekulasi. Ah kan anak gadis emang gak boleh sendirian kalo kemana-mana ya.
"Ekhem." deheman tak kentara membuat interaksi para gadis itu berhenti. Hayami lalu melirik kiri-kanan temannya. "Anu...ini orangnya."ujarnya malu-malu.
Dua teman lainnya lalu ber Hoo berjamaah. Si jingga mengulurkan tangannya, "Halo Chiba-san, Kurahashi Hinano. Teman dekat Hayami Rinka. Jaga dia ya." Chiba tersenyum, lalu membalas uluran tangan Kurahashi. "Tentu."
Si violet menyusul kemudian, "Ritsu, teman dekat Hayami juga. Dia anak yang manis, tolong bersikap manis juga ya Chiba-san." , dan respon Chiba masih sama seperti sebelumnya, membalas jabat tangan, tersenyum, dan jawaban tentu.
"Baik, kita tinggal dulu ya Hayami, Chiba. Mau jajan cireng isi dulu."
Oh rasanya ingin sekali Chiba berteriak, NITIP DONG. Tapi lupakan, itu sangat iyuwh sekali. Jadinya ia dan Hayami hanya melambai dadah atas kepergian mereka jajan cireng isi.
.
.
Alun-alun kota itu ramai, banyak orang, bising. Tapi kenapa Chiba hanya bisa melihat satu wajah dan mendengar satu suara disana. Kesemuanya berasal dari eksistensi wanita berkuncir dua dengan iris mata sewarna emerald. Nama yang tak pernah bosan ia ucapkan berkali-kali dalam hatinya. Hayami Rinka.
"A/Neng." Ucap keduanya berbarengan.
"Uh-oh neng dulu aja." Chiba menggaruk tengkuk,canggung.
"Nggak, aa dulu aja." Hayami sama saja, memainkan ujung bajunya. Canggung.
"Beneran?"
"Iya."
"Yaudah. Neng tau? Aa seneng banget bisa ketemu neng." Ucap Chiba malu-malu najong. Hayami disebelah cuma bisa mencicit, Neng juga a.
Lalu keduanya hening. Uggh rasanya Chiba mati gaya. Sebelahan sama cewek cantik bisa bikin otak mati mendadak kayanya. Otaknya tiba-tiba kopong saking nervousnya. Atuhlah dia harus cari topik! Biar Hayami gak bosen sama keberadaan dia. Disaat sedang lieur mikirin harus ngomong apa. Hayami lalu bersuara.
"A?"
"Iya neng?"
"Boleh curhat?" Hayami menoleh dengan tatapan sendu. Tidak! Kokoro! Kokoro! Jangan mendadak ngajak marathon elaah! Chiba tak sanggup melihat ekspresi itu. Bikin jantungnya makin lemah saja.
"Bo-boleh neng, silahkan."
Gini A, ini terkait perjodohan kita.
Emang kenapa neng?
Kemarin ibu sama bapak neng berantem lagi A.
Eh? Kok? Apa hubungannya?
Iya, kemarin bapak neng ngedapetin ibu digodain sama bapak kecamatan sebelah.
HA? Tunggu-kok bawa-bawa kecamatan. Chiba lalu merasa mendadak ada yang tidak beres. Ia bungkam, membiarkan Hayami cerita panjang lebar.
Dan-yang godain—bapaknya Aa.
JDERR
MAMAH SALAAAH! TANTE NAGISA BUKAN JANDAAAA! DIA PUNYA SUAMIIII!
"Ehhh, bohong ah. Neng jangan canda gitu dong."
"Beneran A, ini ada fotonya kalau mau lihat."
Hayami lalu memperlihatkan ponselnya, disana terdapat gambar Ayahnya, Karma mempuk-puk sayang surai biru tante Nagisa.
"EBUSEEETTTTTT!" Chiba gagal cool depan Hayami. Bodo amat, bodo amat. Bisa-bisanya Ayahnya main serong sama calon ibu mertua.
Chiba tanpa tedeng aling-aling lalu memeluk erat sang tambatan hati.
"Neng, Aa sayang sama neng. Aa gak mau perjodohan kita dibatalin." Suaranya melow,nyesek, sedih.
"Neng juga A, Neng gak mau kalau nanti ujungnya neng malah punya bapak tiri kaya Pak Karma."
Pelukan terlepas,"Maksudnya neng?"
"Neng gak mau, soalnya bapak neng lebih ganteng dari bapaknya Aa." Hayami—lagi memperlihatkan sebuah foto di ponselnya. Kali ini sosok yang diperlihatkan, Mata tajam memicing, iris violet yang seperti siap menghisap pikiran orang, dan surai jingga nge jreng persis kulit jeruk sunkist.
HAH?!
HAH?!
HAH?!
Neng Bapak kamu Gakushuu?! Lha ini mah saingan Ayah Aa dari jaman SMP.
Lah Aa baru tahu?!
Gakushuu, Pak Camat dari kecamatan sebelah. Selain Terasaka, sang tetangga. Karma punya teman adu mulut lain yang selevel dengannya. Si jingga nyebelin mampus dengan segala tetek bengeknya. Kalau tidak adu mulut ya adu otak kalau tidak adu otak ya adu ayam. Ya pokoknya mereka suka adu-aduan (?) lah. Intinya, rival abadi selamanya. Sampai liang lahat memisahkan mereka. Mungkin. Begitu cerita sang mamah,Rio.
Ingin rasanya Chiba tertawa maso, ketawa lalu nangis, nangis lalu tertawa. Tapi gak jadi. Takut Hayami langsung kabur dan membawa dia ke RSJ terdekat. Biarlah dia menangis dalam hati. Tsah!
"A? Sehat?" Hayami khawatir melihat si Aa diam saja.
"Se-sehat kok neng—" sekilas ia melihat jam tangannya, 20.58.
Thedaq! Dua menit lagi batas waktunya!
Tapi ia tidak tega meninggalkan neng cantik pujaan hatinya sendirian. Berkomat kamit dalam hati Gusti nu Agung, eta mana babaturanna. Aing kudu balik geuwat aduh! (YaTuhan, itu mana temennya. Guwe harus balik cepet!)
Tuhan sepertinya sedang berbaik hati pada Chiba. Kedua teman Hayami segera kembali. Sesaat setelah itu.
"Maaf ya neng! Aa harus cepet balik!"
"Eh? Kenapa A?"
"Itu—Kereta kenca—err kendaraannya udah nunggu."
Hayami rada kecewa denger penjelasan Chiba yang rada aneh, tetapi kemudian—
Chu
Chiba menge sun dahi Hayami dengan sayang.
Hayami membelalak tak percaya. Kedua temannya apalagi. Es potong yang baru dibeli jatuh begitu saja.
"Aa pasti nemuin caranya, biar perjodohan kita gak dibatalin."
Dan dengan itu—sosok Chiba perlahan menghilang dibalik ramainya Alun-Alun.
Hayami masih memegangi dahinya. Sejurus kemudian wajahnya memerah malu.
Tjieee Hayami! Di sun sayang di dahi. Goda kedua temannya.
Be-berisik!
.
~TrioKweKwek~
.
Para Trio Kwek-Kwek sudah kembali dalam angkot. Isogai anteng makan boled cilembu. Dijajanin Sugaya. Aromanya yang khas membuat Chiba kok ya—jadi laper.
"Isogai bagi euh." Pinta Chiba.
Isogai memasang pose defensif, ogah memberi Chiba barang secuil. "No! Nein! Iie! Emong! Gak mau! Embung!"
Pelit pisan geuning ai kamu.(Pelit banget ternyata kamu.)
Hahaha canda doang ih Chiba-kun, tong ngambek(jangan marah).
.
Btw naha sih kamu nyuruh aing balik jam sembilan?
Bukan apa-apa, juragan suka ngitungin angkotnya tiap jam sembilan malem.
HEH?!
HAH?!
APA?!
"Isogaiiii! Kalo itu juragan ngitungin angkot jam sembilan harusnya lo nyuruh guwe balik sebelum jam itu elaaaahhh!
Sugaya buru ngebut bae!(Sugaya cepet ngebut aja!)"
"Oy oy oy!"
Isogai merengut menoleh ke kaca jalanan, Isogai salah yak?
.
.
TBC
A/N
...
Dan semakin hancur. Maafkan. Lalu author mengubur diri dengan tumpukan tugas.
Btw, sekali-kali pengen bales review darisini xD
Nyubi142 : Iya, aku juga lieur atuh sama jalan ceritanya malah kaya gini :''(((( . Itu udah dijawab kok, suaminya Nagisa siapa hahahahah. Mbak Rio depresi, tapi tenang. Dia tipikal cewek setrong lahir batin. Nagisa terlalu unyu untuk jadi tukang jamu? Biarlah, biarlah~ biarkan diriku menggila menistakan Nagisa /digaplok.
RatuObeng: HAHAHAHAH MBAK, AKU GAK TAU JUGA KENAPA CHIBA BISA JADI ANAK MEREKAAA HAHAHAH /LHA. Lucu aja gitu bayangin dia jadi anak Karuri. LOL. Ini settingnya AU mbak, ambil Bandung aja lah ya :'')))) hshshshs. Yaampun Om Gaku pake koko?! Dayum, nikahin aku pak guru! Nikahin! /dibuang. Duh nanti ya Isogai bakal balik jadi kenek lagi kok. Tenang azhaaa 8-)
BakaiYamato: Halooo halooo, tengkyu sudah mampir review xD. Ini ada hint humu nya sedikit B-) semoga berkenan (?).
.
.
Dan tengkyu yang sudah follow dan fav ff gesrek macem ini, jujur authornya sendiri rada gesrek.
Kritik, Saran,RnR please?
