Naruto and All Characters belong to Masashi Kishimoto.
AU. Story not Fully Mine.
A SasuHina fanfic
.
.
.
.
The Patient
.
.
.
.
"Sasuke Uchiha." Dia memperkenalkan dirinya sendiri.
Aku harap Sasuke tidak begitu terkejut dengan raut mukaku saat ini.
Aku tidak yakin aku bisa bernapas seperti manusia normal.
ini Sasuke Uchiha yang itu.
Ya! Sasuke Uchiha; Aktor terkenal yang sering kau lihat di banyak layar lebar, Juga seorang produser dan komposer lagu terkemuka, Pemilik Restoran termewah di Tokyo, Pemilik studio musik yang diminati remaja yang ingin popular sepertinya.
Sasuke Uchiha yang selalu profesional saat di depan kamera. Dan begitu hangat saat kamera tidak di sekitarnya.
Siapapun akan menemukan posternya di setiap sudut tempat.
Siapapun akan mendengar nama-nya di sebut-sebut di berbagai diskusi, majalah bahkan gosip diantara jutaan mahasiswi.
Selebriti yang sesungguhnya.
Aku masih terkesima. Wajahnya sangat tampan.
Terutama saat kau secara langsung bertatap muka dengannya.
Aku merasa malu karena tidak bisa berpaling dari matanya yang menawan terutama saat dia mulai melepas topi hitam dan masker yang menutupi sebagian mukanya.
Aku memandangmya dengan rasa kagum.
Untuk seorang selebriti papan atas, Sasuke begitu ramah dan percaya kepada semua orang.
Aku yakin hampir seisi dari pelanggan di restauran ini adalah fans nya.
Meskipun saat ini di jam kerja seperti sekarang, tidak banyak pelanggan yang menikmati makan siang.
Efek Sasuke Uchiha begitu terasa.
Saat Sasuke tersenyum, konstan orang-orang membuat bisik-bisik ribut.
Tapi keributan yang di buat oleh orang-orang di restauran dengan ajaibnya lenyap saat Sasuke berdiri dan membungkukkan tubuhnya beberapa derajat.
Meminta agar orang-orang di tempat itu kembali menikmati makan siangnya dan meminta mereka agar menghormati privasinya.
Aku sedikit lebih mengaguminya.
Walau selama ini aku bukan merupakan fans fanatiknya.
Disinilah aku merasa bahwa apa yang di deskripsikan paman adalah satu kekeliruan besar.
Nyatanya Sasuke yang berada di hadapanku bersikap seperti yang lainnya.
Hanya saja dia adalah seorang aktor.
Aku melihat bagaimana dia merapikan rambutnya yang berantakan, juga saat dia mengkerucutkan bibirnya saat beberapa fans nakal mengambil potretnya secara diam-diam.
Terlihat manis. Seperti kebanyakan selebriti.
Tapi kemudian aku melihatnya.
Bagaimana mukanya yang baru saja terlihat manis secara cepat berubah seperti sebagaimana seorang Psikopat sesungguhnya.
Ia memutar bola matanya, Jijik. Menggumamkan kalimat singkat yang tidak terlalu jelas.
Lalu matanya menangkap mataku yang sedang memperhatikan perubahannya yang seperkian detiknya.
Dia menyeringai.
Aku menahan napasku sejenak.
"Jangan takut miss Hinata, saya tidak akan memakan ... maksud saya... Belum."
Katanya disisipi tatapan mencooh.
Sasuke meraih tasnya lalu mengambil satu buah amplop besar berwarna putih.
Dokumen-dokumen yang akan mengingatkanku kenapa sekarang aku berada disini.
Tentu saja untuk menjadi 'Perawatnya'.
Tsk... Apa aku sedang bercanda pada diriku sendiri?
Tentu saja aku tahu pekerjaan seperti apa yang akan kujalani setelah aku menanda tangani seluruh dokumen-dokumen yang sekarang ada di hadapanku.
Perawat? Maksudmu pelacur khusus Uchiha? fuck doll? submissive? seorang budak yang harus memenuhi kemauan masternya yang di luar nalar itu?
Hanya dengan mengingatnya saja sudah membuatku ingin melarikan diri.
Meskipun itu tidak mungkin.
Aku tidak mungkin membiarkan Hanabi tumbuh besar mengetahui bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan ibunya.
Dia masih terlalu kecil.
Dia memerlukan Ibu.
Bukannya Aku.
Dan satu-satunya cara agar Ibu kembali adalah dengan memiliki uang.
Ibu sangat menyukai Uang.
Lagipula, aku tidak bisa melanjutkan hidupku bersama seorang adik autis yang menuntut ini dan itu sementara aku sendiri tidak sanggup membiayai diri.
Meskipun perasaan benci dan kesalku terhadap Hanabi sedikit berkurang. bagaimanapun dia adikku. Meskipun hasil dari perselingkuhan ibuku.
Lagipula penderitaanku bukan sepenuhnya salahnya.
Tapi melihat orang ini, aku perlahan-lahan merasa takut.
Dia begitu rapi menyimpan kelainan sintingnya ini dan bersikap seolah dia normal.
Dan mengetahui apa saja yang dia bisa perbuat, membuat kepalaku membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa saja terjadi padaku.
Menurut paman, dan buku-buku catatan kemajuan Sasuke, aku bukanlah satu-satunya Perawat khusus yang menangani kelainan Sasuke.
Ada beberapa perempuan yang pernah berusaha menyembuhkan Sasuke.
Perempuan nomor satu hampir kehilangan kesadaran saat Sasuke menenggelamkan perempuan itu di kolam renang miliknya, sedangkan perempuan nomor dua berakhir
Memiliki memar-memar di seluruh bagian tubuhnya dan berhasil melarikan diri saat Sasuke mencoba mencopot sabuk yang melilit di celananya.
Perempuan nomor tiga setelah menyetubuhinya Sasuke merantai dan menyekapnya selama berjam-jam.
Yang paling parah adalah perempuan terakhir yang bahkan mengalami mati selama beberapa detik setelah menerima perlakuan kasar Sasuke saat bermain sex.
Saat ini aku memiliki alasan yang kuat tentang ketakutanku yang semakin tampak.
"-tidak sampai anda menandatangani ini
dan menyetujui semua yang ada di dalamnya." Lanjutnya.
Ia menyeringai. Tatapannya terlihat begitu jahat sampai-sampai aku merasa seluruh bulu pada tubuhku membeku.
"Omong-omong, saya tidak mengira bahwa perempuan yang akan menjadi perawat saya kali ini adalah seorang putri dari mantan CEO di perusahaan paling hebat di seluruh Asia. Saya sangat perihatin atas kemunduran perusahaan Ayah anda miss Hinata." Kali Sasuke menunjukan bela sungkawanya dengan sedikit membungkuk.
Orang ini begitu pandai menyampaikan sesuatu yang sensitif dengan cara yang baik.
Saat menatapku, sorot matanya benar-benar menunjukan simpati dan ketulusan.
Tapi lagi-lagi seluruh mimik wajahnya kembali berubah.
Dia terus membicarakan kejadian-kejadian yang menimpa perawat terdahulunya dengan suara yang pelan, berkali-kali berseringai dan tersenyum pahit.
Kemudian dia berperilaku seperti seorang yang tidak berdosa karena dia bilang itu bukan kealahannya melainkan karena perempuan-perempuan itu tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.
Dan korban sesungguhnya adalah dia sendiri.
Sasuke Uchiha tidak diragukan lagi adalah seorang psikopat.
"Anda sangat pendiam miss Hinata. Tapi saya tidak akan menyalahkan anda. Siapa yang mengira seorang Uchiha Sasuke yang begitu terkenal dan dikagumi seluruh kalangan ternyata adalah seorang psikopat yang sangat menjijikan. Bukan begitu?"
Ya.
Ketakutanku kembali menguap saat seringaiannya menghilang dari mukanya, juga penilaiannya terhadap diri sendiri, dan perasaan jijik. Untuk dirinya.
Aku mengerahkan seliruh keberanianku untuk menatap ke dalam matanya yang kelam.
"Anda tidak menjijikan, hanya saja..." aku mencari kata-kata yang tepat. saat kemudian Sasuke menjawabnya untukku-
"Memuakkan?" Katanya. Ia terkekeh dengan percaya diri.
Dalam beberapa menit aku mulai mengetahui satu fakta lain.
Bahwa selain penganut BDSM, Sasuke juga merupakan seorang pribadi yang terkadang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi.
Lalu dengan cepat berubah menjadi seseorang yang kehilangan kepercayaan dirinya dimenit berikutnya.
Sasuke gagal melindungi dirinya sendiri dari luka yang dia alami dan selalu mendeskripsikan dirinya seolah dia adalah manusia terendah dan tidak berharga.
"Anda hanya sedang sakit, Mr. Sasuke. Ada perbedaan."
Wajah Sasuke menjadi serius saat mendengar kata-kataku.
"Anda begitu baik, Miss Hinata. Anda begitu baik dan anda adalah gadis yang lembut. Saya menyesal dengan semua hal buruk yang menimpa hidup anda."
"Dan perlu anda tahu, saya tidak se-Psikopat seperti yang sudah anda dengar. Saya tidak serta merta menabrak kucing dan tertawa saat kucing itu sekarat. Saya tidak memukul, menenggelamkan, dan atau menyodomi semua perempuan yang saya temui. Saya bisa saja berlaku normal. Dann jika saya mencekik, atau hampir membunuh pengurus saya, itu karena semua sudah dibicarakan dan bahkan disetujui oleh ke dua pihak telebih dahulu. Dalam kasus ini yaitu Saya dan anda. Percayalah, saya bukan penjahat. Saya tidak melakukan pembunuhan dan tidak bermaksud untuk membunuh."
"Apakah anda sedang berusaha membuat saya merasa lebih baik, Mr. Sasuke?"
Sasuke menahan tawanya.
Suasana di sekitar kami mulai terasa normal. Perbincangan kami juga normal. Sasuke bahkan berkali-kali memanggilku cantik, lembut, terhormat dan baru saja dia bilang dia menginginkanku.
Tapi aku mendengar tangisan menjengkelkan Hanabi di dalam kepalaku.
Hanabi yang meminta makanan mewah dan ingin bersekolah di sekolah istimewa karena sekolah biasa membuatnya merasa berbeda.
Aku mendengar tangisannya juga amukannya saat aku tidak memenuhi keinginnya.
Aku melihat diriku sendiri menangis saat setiap kali aku pulang dan harus membereskan semua pecahan-pecahan barang yang berceceran di setiap sudut rumah.
Semuanya membuatku frustrasi.
Aku mengepalkan tanganku.
Menatap Sasuke.
"Bayar aku $680.000 di muka." kata-kata itu keluar dengan sendirinya. Aku tidak lagi berbicara formal.
Sasuke menghentikan kunyahannya. meremehkanku dengan tatapannya.
Aku rasa aku sama seperti ke empat perempuan yang kabur membawa uangnya dan membiarkan Sasuke lebih tenggelam dengan depresinya.
"Kau menjual dirimu sendiri?"
"Aku menginginkan pekerjaan ini karena kondisiku yang beberapa bulan ini mendesakku. Jika kau merasa tidak mampu, aku rasa kau harus mencari orang lain."
Dia melap ujung bibirnya.
"Aku tidak setuju. Bagiku kau tidak pantas mendapatkan harga itu."
.
.
.
Di potong di sini saja. Maaf ya yang nunggu Adegan-adegan nganu nya#chuckling.
Chapter ini hanya berisi ulasan mengapa dan sedikit negsiasi antara SasuHina. Psikopat Sasukenya juga sedikit di perkenalkan.
Chapter depan mungkin chapter terakhir atau mungkin kagak. haha.
.
.
.
Teaser
"Apa yang sedang kau tunggu?! Lakukan sekarang!" Sasuke berubah. Dia bukanlah pria yang duduk bersamaku dengan kata-kata yang bisa di percaya. Bahwa dia tidak akan menyakitu di Hari pertama.
"Singkirkan tanganmu dari vaginaku, jalang!"
teriak Sasuke.
Vaginaku? jadi sekarang bahkan organku adalah miliknya?
Apakah paman tidak memberitahunya bahwa aku adalah perawan?
.
.
Thanks fpr RnR and FnF everyone...
