Naruto and all characters belong to Masashi Kishimoto.

Au.

Storylines not fully mine.

.

.

.

A SasuHina fanfic.

.

.

.

Another meeting.

.

.

.

Sasuke dan aku sedang dalam keadaan yang sangat tidak nyaman selama bermenit-menit berlalu.

Aku tahu dia memperhatikan kemana mataku tertuju.

Bahkan saat aku tak henti menatap karpet di ruangannya, aku merasa ekor matanya terus mengikutiku diam-diam.

Tempat ini adalah tempat yang aneh untuk melakukan sebuah pertemuan; Kamar tidur.

Dari semua ruangan yang ada di apartemen termewah se-Jepang ini, kenapa Sasuke menemuiku di ruangan pribadinya?

Ini membuatku merasa tegang.

Bukan tidak mungkin Sasuke akan melakukan hal tidak wajar sebelum aku menandatangani berkas itu.

Saat aku tiba di bangunan ini, Asistennya membawaku ke ruangan keamanan apartemen yang hanya bisa dimasuki pekerja dalam saja.

Ruangan ini ternyata tersambung ke beranda kamar Sasuke.

Aku berjalan dengan perasaan was-was yang bertumpukan di kepalaku.

Bahkan saat asisten Sasuke membuka pintu kamar Sasuke, aku seperti kehilangan tenaga pada pijakan kakiku.

Di sana, Sasuke sedang memeriksa satu tumbuk berkas putih.

Tapi saat aku datang, Dia mengangguk. Selanjutnya aku mendengar pintu tertutup.

Kukira Asisten Sasuke sudah pergi dan meninggalkan kami berdua.

Sasuke dan aku duduk saling berhadapan. Sibuk dengan kegiatan masing-masing selama lebih dari satu jam tanpa bicara.

Ah... Aku tidak menyangka pada akhirnya aku menelan mentah-mentah keberanianku mengajukan harga diriku sendiri kepada Sasuke.

Berhari-hari berlalu setelah Sasuke menolak membayar tunai dimuka, Aku kembali mendapat telepone darinya.

Dia menyuruhku menemuinya.

Dan saat ini aku disini.

Masih canggung setelah diberikan selembar cek berisi satu milliar dollar.

Serta beberapa folder yang sudah aku tanda tangani.

Hari ini, aku resmi menjadi perawat Uchiha Sasuke. Menjadi Budak dari seorang Psikopat tampan yang menyembunyikan kelainannya dari seluruh dunia.

Di luar dugaanku harga diriku yang aku ajukan ternyata lebih murah dari apa yang dia berikan.

Aku bahkan akan dibelikan sebuah apartemen mewah jika berhasil merawatnya dengan baik.

Juga satu bingkisan untuk Hanabi yang membuat Hanabi mencium keningku saat ia membukanya.

Ipad mini dengan Applikasi kesayangannya saat dia masih di panti asuhan.

Ini berarti aku tidak harus membayar kontrakan kecil yang nyaris roboh itu.

Ini juga berarti aku tidak harus mendengar rengekan Hanabi setiap dia akan tidur.

Aku mulai membayangkan banyak hal yang akan membaik dalam hidupku setelah aku bekerja kepada Sasuke.

Ini adalah awal dari Hidup baruku. Walau ada satu keraguan disana. Apakah ini awal yang baik? apakah ini justru memperburuk keadaanku?

"Kau gugup?" Sasuke mencairkan keheningan diantara kami. Juga membuyarkan pikiranku yang tenggelam.

Dia sangat kasual dan berhati-hati.

Saat aku melihatnya, aku tahu dia memperhatikanku dengan jeli.

Semua gerak gerikku.

Dan itu membuatku lebih gugup.

"Y-ya."

"Katakan dengan jelas." Perintahnya.

Dia terlihat seperti bos saat mengatakannya.

Seolah menunjukanku peraturan-peraturan yang harus aku patuhi.

Aku tahu itu, bahwa setiap saat, dia mulai mendominasiku.

Dia sudah memerintahku.

Dan tentu saja aku harus menurutinya.
Dia memintaku untuk mengatakan kebenaran. Kebenaran yang memang seharusnya dia dapatkan.

"Y-ya. Aku benar-benar gugup. Karena aku tidak bisa menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya!" Aku menjawabnya dengan kejujuran.

Aku benci saat aku tergagap atau aku bergetar karena dinginnya Ac di ruangan ini.

"Apa yang buku Dr. Hizashi katakan sesaat setelah kau menyetujui kontrak kerja ini?" Sasuke menatapku dengan tatapan penuh intimidasi.

Seluruh punggungku terasa dingin.

Semua pertanyaan yang ditanyakannya dengan nada dingin mewajibkan sebuah jawaban.

Sebuah jawaban yang jujur.
Aku berusaha mengumpulkan ingatanku di bawah tekanan Sasuke.

Buku? Ah, buku yang itu. Buku yang menunjukan apa saja yang harus aku lakukan selama aku menjadi perawatnya. Aku menyadari satu hal ini terlalu lama. Bahwa bukan Sasuke Uchiha yang perbudakku.

Tapi buku itu.

Buku tentang semuanya. Yang paling buruk adalah bahwa Sasuke juga di perbudak oleh buku itu.

.

.

'Hari pertama, biarkan bosmu membuat peraturan. Diamlah dan dengarkan. Biarkan dia memerintahmu. Malam ini kau harus menjadi sebuah alat untuknya. Malam ini kau akan melakukan setiap aktifitas sex yang dia inginkan. Malam ini dia yang mengontrolmu. Dan kau di kontrol olehnya.'

.

.

"Aku bertanya padamu, Apa yang buku Dr. Hizashi katakan?!"

Sasuke mulai sedikit frustrasi dan memaksa.

Tapi saat ini aku belum menyadari bahwa dia masih menanyakan isi buku itu.

Aku menahan nafasku sejenak.

Melihat lurus ke arahnya.

Sasuke terlihat begitu menyedihkan. Dia terlihat menderita. Aku tidak tahu apa aku harus ketakutan dengan perlakuannya yang berubah setiap menit atau aku harus tetap melanjutkan ini.

Tapi aku sudah yerlanjur menerima Uangnya. aku juga sudah menyetujui semuanya; bahkan menandatangani berkas yang Sasuke berikan.

Aku mencengkram jari-jariku sampai memutih.

Mencari-cari sesuatu yang menarik di ruangan itu agar tidak melihat langsung ke arah Sasuke.

Tapi pada akhirnya aku tetap melihat Sasuke.

Bukan sebagai Aktor tampan yang menaikan hormonku. Melainkan seorang pria Liar yang merebut seluruh pasokan udara di ruangan itu.

Aku merasa seperti seekor buruan yang kapan saja akan di terkam dan di makan bulat-bulat oleh si pemangsa.

"Buku itu mengatakan, bahwa aku harus mendengarkanmu, menuruti apa yang kau lakukan. tapi aku tidak begitu yakin apa yang akan aku lakukan selanjutnya karena semua yang akan terjadi nanti terserah padamu." Aku berhasil mengemdalikan diri dan berkata dengan lancar.

Dia melihatku bingung.

Aku tahu dia tidak mengetahui apa yang tertulis dibuku yang paman Hizashi berikan padaku. Karena buku yang jadi pedoman Pasien dan Perawat di projek gila ini berbeda satu dengan yang lainnya.

Buku itu menggamarkan analogi seorang pasien dan obatnya, pembelajaran sebuah kasus dan instrumen, ketergantungan dan obat-obatan, juga tuan dan budaknya.

Atau dengan vulgar aku bisa menyebut itu dengan...

Pria kaya dengan pelacur seharga satu miliar dolar.

Dia sedikit muram dan aura gelap seolah menyerubunginya saat dia bilang...

"Itu membuatku khawatir. Aku kira buku itu menjelaskan dengan jelas apa yang akan kau lakukan mulai hari ini dan seterusnya. Aku tidak ingin apa yang nanti terjadi padamu ternyata diluar prediksimu." perkataannya terdengar tulus dan penuh perhatian.

Aku merasa sedikit tenang karena Sasuke memiliki sifat lembut yang membuatnya sangat manusiawi.

"Jangan khawatir tuan Sasuke. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku siap apapun itu. Lakukan apa yang ingin tuan lakukan. Karena tuan adalah... M-masternya."

Aku bernafas pelan.

Ini sangat membuatku gugup.

Meskipun aku sudah mendapat meditasi, terapi dan saran dari paman Hizashi yang adalah seorang Dokter handal, tapi semua itu tidak lantas membuatku berani menghadapi semua aksi menyimpang Sasuke saat proses penyembuhan mentalnya dimulai.

Aku adalah seorang perempuan yang kurang berpengalaman dalam hal seperti ini.

Meskipun paman meyakinkanku bahwa aku dan karakterku adalah simbol kekuatan tapi aku masih sangat amatir dalam hal Sex. Sex liar. Maupun sex biasa.

"Kau sangat berani." Sasuke tersenyum kecil.

Membuat aku meleleh di tengah sangkalanku terhadap pujinnya.

Tidak!

Aku bukan pemberani. Kalau saja kau tahu, Aku nyaris pingsan dan muntah-muntah beberapa waktu lalu.

Aku di beri tugas untuk menonton film BDSM dan video porno, membaca buku fiksi dan non fiksi tentang gaya hidup seorang Psikopat selama dua minggu berturut-turut.

Aku merasa sedang sekarat membayangkan hal-hal apa saja yang akan menimpaku nanti.

Percobaan yang tidak memasukan Vanila sex untuk si budak. Percobaan yang berkali-kali melemparku dengan keras ketembok dan tepi ranjang untuk maksud memperkuat mentalku.

Percobaan yang begitu insten dan ketat.

Tidak ada bercinta dengan perlahan, sex secara tradisional atau vanila sex.

"Aku ingin melakukannya dengan normal, percayalah. Tapi aku yakin kau sudah tahu bahwa tidak ada hal yang seperti itu dalam perjanjian kita. Aku minta maaf sebelumnya jika kegiatan sex pertama kita akan membuatmu trauma."

Ah... dia melakukannya lagi. Ucapannya yang terdengar tulus serta sorot matanya yang lembut itu membuatku lemah.

"Itu pekerjaanku tuan. Anda memberiku upah untuk membantu anda. Jadi saya akan melakukan pekerjaan saya dengan benar. Anda mengurusri apa saja yang akan saya urus nanti, sebagao gantinya saya harus..."

...menjadi budakmu.

Hanabi, jika bukan karena kau aku tidak ingin diperbudak dan bernafsu membunuh diriku sendiri saat ini.

"Aku hanya ingin kau tetap tinggal, dan aku akan memberikan apapun yang kau mau. Yang kau butuhkan. Aku mohon tetaplah bersamaku... sampai akhir."

Kali ini, Sasuke tidak memerintah, tapi meminta. Ah... maksudku mengemis.

Dan kalimat terakhirnya, percaya atau tidak, terdengar seperti kalimat yang di nanti-nanti seorang wanita dari pria yang mencintainya.

'Aku mohon tetaplah bersamaku...Sampai akhir.'

Namun pada kenyataannya. Kalimat itu sama halnya dengan neraka untukku.

Apakah aku bisa menangani Sasuke sampai aku mati? aku bahkan masih ragu apa aku bisa bertahan di jam-jam yang akan datang?

.

.

.

Maaf karna tidak sesuai dengan teaser. Jauh dari dugaan Gee, gee rasa lebih baik alur cerita ini di perlamban.

Dan tidak. Hinata bukan pelacur. Sesuai dengan ceritanya Hinata adalah seorang perawat yang juga korban dari keadaan yang mendesak #TekananHidup juga alat percobaan Paman Hizashi. dan nope. paman Hizashi itu pria baik. Jadi ceritanya Sasuke dan Hinata adalah eksperimen dari Dokter dan psikiater untuk menangani kasus seperti Sasuke.

Brrr... thanks for RnR and FnF.

;)