Freeze112 udah ku bales lewat pm ya.

Guest: Udah lanjut, nih. Makasih udah rnr, faz seneng kalo kamu seneng bacanya. ^^ Kritikmu faz masukin daftar perbaikan faz. Hehe

gak log in: Hehe, masa sih? Yup! Ini bakal jadi multichap, tadinya sih pengen threeshot tapi dengan genre begini kayaknya bakal kecepetan alurnya. yup! Garuda gitu-gitu emang ngocol, say. Tampangnya unyu-unyu tapi minta ditabok. ^^ (Garuda: woy! Ngajak ribut?!) Makasih udah rnr ^^

guest: Udah dilanjut ^^ ada kok, nations lain tapi gak bisa disebutin. Hee *epil*

Tapi udah bisa tebak kan, red eyes tuh siapa? #grins

numpang baca: Udah lanjut~ Ya, mungkin ada sedikit ehemrasaehem tuh si Lovinya. Hehe

Kalo hint doang sih kayaknya ada. Tapi gak tau deh, gimana entar jalan cerita aja. #taboked

Makasih udah rnr say :*

Seneng banget! Terharu, ternyata ada juga yang baca ff abal ini. Makasih readers, favorite, follow, visitor, viewer, guest and silent readers tentunya. Kalo gak ada kalian ff ini mungkin cuman ngambang aja. Hee

Here we go!

=0=

Siapkan kacamata hitam untuk melindungi mata anda dari ke-GAJE-an dan ke-ALAY-an cerita ini/? hehehe (abaikan saja ini=,=)

Happy Reading nyaw~ ^o^)/

.

~o0o~ Sahabat selamanya ~o0o~

.

Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu, Lovino kembali bersekolah. Walau belum pulih benar, setidaknya ia masih bisa berjalan. Pagi ini, ia berangkat bersama sang adik, Feliciano Vargas ke sekolah baru mereka. Suasana sudah terlihat ramai, didominasi murid baru. Yang Lovino dengar, sekolah diliburkan karena pihak sekolah menangani kasusnya.

"Kak, sungguh kau tidak ingin ku papah, ve~?" tanya Feliciano cemas saat melihat kakaknya berjalan dengan tertatih-tatih.

"Berisik! Aku bisa jalan sendiri. Kalau kau bosan menungguku, sana pergi!" bentak Lovino sambil merapikan letak tali tasnya di pundak dan mendorong-dorong Feliciano dengan kesal.

"Jangan marah, ve~" Feliciano menangis takut-takut.

Saat sedang bersungut-sungut, Lovino menoleh dan melihat Garuda berlari ke arahnya.

"Heii~ Lovinooo~"

Sontak Lovino terkejut dan melotot kala Garuda hampir menubruknya, untung Garuda berhenti tepat waktu. Garuda terengah-engah dengan tangan bertumpu pada kedua lututnya kemudian menatap Lovino dan tersenyum cerah.

"Selamat pagi, Lovino!"

"S-selamat pagi." balas Lovino sambil memalingkan muka merahnya. Feliciano hanya terbengong menatap kakaknya yang terkesan salah tingkah.

"Apa lukamu sudah sembuh?" tanya Garuda perhatian.

"Yah, kau bisa melihatnya sendiri." jawab Lovino acuh tak acuh.

"Eh, siapa dia? Temanmu?" Garuda menatap penuh minat pada seseorang yang berdiri di samping Lovino.

Lovino menggeleng. "Bukan, dia adikku."

"Hai! Perkenalkan, namaku Feliciano Vargas. Aku adiknya Lovino, ve~" ujar Feli sambil mengulurkan tangan pada Garuda.

"Hai, namaku Garuda Eka Mandala." sahut Garuda menjabat tangan Feliciano.

"Sudah, ayo masuk. Kenalannya sambil jalan saja." ucap Lovino sambil berbalik dan berjalan ke dalam sekolah diikuti Garuda dan Feliciano.

Mereka jalan beriringan dengan urutan Lovino-Feliciano-Garuda. Saat asyik berbincang mengenai hobi dengan Feli, Garuda melihat Lovino kesulitan berjalan.

"Mau kubantu, Lovino?" tanya Garuda.

Lovino menoleh dan menekukkan alis. "Tidak."

"Tapi, jalanmu sedikit oleng." Garuda menatap sangsi.

"Kubilang tidak ya tidak!" geram Lovino.

"Sudahlah, Garuda. Kak Lovi saja menolak kupapah, apalagi kamu, ve~" ujar Feliciano riang.

Lovino menjitak kepala Feliciano. "Berisik!"

"Sakit, ve~" Feliciano langsung bersembunyi dibalik punggung Garuda sambil mengelus kepalanya.

Lovino melengos dan melanjutkan jalannya. Garuda hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.

Berjalan di koridor, mereka melihat banyak murid berkerumun di depan papan, seperti mading. Mereka pun memutuskan mendekati kerumunan itu.

Garuda menepuk pundak salah satu murid berwajah asia. "Ada apa nih? Kok rame?"

Murid bersurai dark brown berahoge itu menjawab, "Semua nama murid baru tertera di kertas itu serta penentuan kelasnya, daze!"

"Oh, kau sudah melihatnya?"

"Mana bisa? Orangnya rame begini, daze!"

Ketiganya sweatdrop mendengar jawaban si murid berahoge yang kini berkoar-koar, berebut tempat dengan murid-murid lain. Satu persatu murid membubarkan diri setelah tahu nama mereka terdapat di kelas mana. Ketiganya pun mendekat ke papan mencari nama mereka.

"Namaku ada di kelas 1-B, daze!" seru murid berahoge antusias.

Garuda melihat kederetan nama di kelas 1-B. "Uwah! Aku di kelas 1-B juga!"

"Waa, kita sekelas! Aku Im Yong Soo, salam kenal daze!" sahut Yong Soo sambil menjabat tangan Garuda.

"A-ah, iya. Salam kenal juga, aku Garuda Eka Mandala." ujar Garuda.

"Kalau begitu kita sekelas." ucap Lovino.

"Benarkah? Bagus!" sahut Garuda sambil ber-'Yes! Yes!' ria. Membuat Lovino menatapnya seakan ia alien gurita raksasa yang tersasar di bumi.

"Hueee~ Aku tidak sekelas dengan kalian, ve~" Feliciano menangis merengek seraya menarik-narik seragam kakaknya. "Aku di kelas 1-A."

"Ish, lepas tanganmu sebelum ku pukul, adik bodoh!" bentak Lovino.

Feliciano berlari sembunyi di belakang Garuda dan mendorongnya ke Lovino. "Hueee, lindungi aku Garuda."

Garuda menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Err, sebaiknya kau hentikan kebiasaanmu membentak deh Lovino."

"Memangnya kenapa? Bukan urusanmu, kan?" sahut Lovino ketus.

"Memang sih, tapi perilakumu menakuti orang. Adikmu saja sampai berlindung padaku." sahut Garuda sambil melirik Feliciano yang masih nangis pelangi.

Lovino memalingkan wajah. "Biar saja. Apa peduliku?"

Garuda mencibir. "Tsundere-nya kumat, ih."

"Aku bukan Tsundere!" geram Lovino.

"Dasar Tsundere akut."

"Apa kau bilang?!"

Selagi keduanya bertengkar, Feliciano dan Yong Soo malah menonton mereka.

"Aku bertaruh sepuluh dollar untuk Garuda." sahut Yong Soo enteng.

"Sepuluh dollar untuk kak Lovi, ve~" ujar Feliciano senang, lupa bahwa ia baru saja dibentak sang kakak.

Saat adu mulut Lovino dan Garuda semakin sengit, Bravjhaa kebetulan melihatnya kemudian menghampiri mereka.

"Hei, sedang apa murid baru disini? Yang lain sudah masuk, loh."

"Guru!" seru Garuda heboh.

"Oh, kau sudah baikan Lovino?" tanya Bravjhaa melihat Lovino.

"Hm."

"Guru sedang apa disini?" tanya Garuda kepo.

"Aku baru datang, mau ke uks." jawab Bravjhaa sambil menenteng tasnya. "Kalian cepat masuk, gih. Nanti dihukum guru karena telat."

"Baik, guru!" seru Garuda semangat.

Mereka semua berjalan beriringan. Berpisah arah, Bravjhaa ke kiri dan mereka berempat ke kanan.

"Garuda udah kenal sama guru tadi ya, ve~?" tanya Feliciano.

"Iya, dia guru uks yang mengobati Lovino seminggu yang lalu."

Feliciano refleks menunduk murung. "Oh."

"Memang Lovino kenapa, daze?" tanya Yong Soo.

"Dipukulin sama kakak kelas." Garuda menyahut sambil mengepalkan tangan kesal.

Yong Soo melotot, "Kok bisa, daze!?"

"Lovino tidak sengaja meludah dan kena sepatu kakak kelas. Hih, kalau ingat lagi rasanya ingin memukul mereka!" geram Garuda.

"Wah, parah banget, daze!" seru Yong Soo heboh.

"Sudah, jangan dibicarakan lagi. Itu sudah berlalu, jangan diungkit-ungkit deh." sahut Lovino malas.

"Tapi tetap saja itu sudah keterlaluan!" seru Garuda jengkel.

"Semua sudah masa lalu. Kenapa masih marah-marah? Disini, aku korbannya dan aku tidak mempermasalahkannya."

Garuda menekuk alis marah, "Bagaimana bisa begitu?! Mereka sudah melakukan tindakan yang tidak manusiawi! Seharusnya kau marah, bukan santai begini! Lihat, Feliciano saja sampai sedih."

Lovino menoleh pada Feliciano yang menundukkan kepala. Ia menghela napas, "Aku tidak apa-apa, Feli. Mau berapa kali lagi kau mencemaskan aku?"

"A-aku hanya takut, ve. Kak Lovi pulang dengan kondisi babak belur dan tidur lama sekali. Aku takut kakak tidak bangun, hiks."

Lovino memeluk dan mengelus kepala adiknya. "Buktinya aku masih sehat. Tidak usah cemas lagi. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir."

"Ve~" Feliciano membalas pelukan dan menangis.

"Hiks, mengharukan.." ujar Garuda mellow sambil menggigiti sapu tangan.

"Kau benar, daze! Hiks.." Yong Soo menangis gelayutan di pundak Garuda.

Melihat ketiga manusia aneh menangisinya membuat Lovino sweatdrop. Kini ia harus berpikir ulang apakah keputusannya tepat untuk bergaul dengan manusia-manusia absurd di sekitarnya ini.

'Aku harus menjauh untuk sementara agar tidak tertular virus aneh mereka.' batin Lovino.

Setelah berdrama ria, mereka langsung pergi ke kelas masing-masing.

.

~o0o~ Sahabat selamanya ~o0o~

.

Tak terasa, pagi telah bergulir ke siang hari. Jam istirahat pun tiba. Banyak murid yang berlarian ke kantin untuk mengisi perut keroncongan mereka sedari pagi belajar selama empat jam. Garuda, Lovino, Feliciano dan Yong Soo jalan beriringan memasuki area kantin. Banyak sekali murid yang mengantri memesan makanan, dan ada pula yang cepat mencari tempat duduk kosong agar bisa kebagian.

Mereka berempat memutuskan untuk mencari tempat duduk, yang kebetulan ada satu yang belum ditempati di tengah ruangan. Saat mereka duduk, banyak murid yang berbisik-bisik menatap mereka. Membuat tak hanya Lovino yang merasa risih, namun juga Garuda. Hanya Feliciano dan Yong Soo yang tidak bisa membaca situasi, atau lebih tepatnya tidak sadar.

"Apa hanya perasaanku saja, atau mereka memang sedang membicarakan kita?" Garuda berbisik dengan memajukan kepalanya mendekati ketiga sahabatnya.

"Mereka memang membicarakan kita. Menyebalkan sekali, memang apa yang salah dengan kita?" Lovino memelototi semua orang yang menatap ke arah mereka, membuat murid-murid itu memalingkan kembali wajah mereka dan berbincang dengan teman-teman sebangkunya.

"Masa sih? Aku tidak merasakan itu, ve~" ujar Feliciano dengan wajah ceria.

"Aku juga, daze!" seru Yong Soo.

Garuda tepok jidat. Lovino bersungut-sungut sambil berkata, "Kalian kan memang bodoh."

Kembali terdengar bisik-bisik samar yang tertangkap indera pendengaran Lovino.

"Ih, kok mereka berani sih duduk disitu? Itu kan tempat khusus senior yang terkenal."

"Tau tuh, mau nantangin kali."

"Hiii, berani banget. Masih kelas satu juga."

"Eh, udah jangan diliatin. Nanti murid keriwil itu melototin lagi. Sereeeeem~"

Lovino geram mendengarnya. Karena tidak tahan, ia berdiri dan menggebrak meja kantin.

"Hei, kalau mau menggunjing orang langsung saja ke hadapannya. Tidak usah bisik-bisik, dasar pengecut!" teriak Lovino sambil menunjuk-nunjuk sebagian murid tadi.

"Kak, sudah." Feliciano menarik lengan kemeja seragam Lovino seraya menatap cemas. Semua orang kini menatap ke arah mereka.

"Kalian punya tatakrama tidak, hah?!" bentak Lovino lagi.

"Udah, Lovino. Biarin aja mereka." ujar Garuda menenangkan.

Dengan jengkel, Lovino kembali duduk dan melipat tangan di dada.

"Ya, udah. Pesan makanan aja, daze!" usul Yong Soo.

"Kamu yang pesen, ya?" pinta Garuda.

Yong Soo melotot kaget, "Kok, aku?"

"Kan kamu yang usulin." Garuda menatapnya dengan puppy eyes, membuat Yong Soo tidak sanggup untuk menolak.

Yong Soo mengangguk pasrah, "Y-ya, udah deh. Tapi jangan minta traktir, daze!"

Garuda menggeleng, "Tidak akan." kemudian menatap Lovino dan Feliciano. "Kalian mau pesan apa?"

"Aku mau pasta, ve~" Feliciano bersorak mengatakan pesanannya.

Lovino mendengus kecil, "Aku juga sama. Air mineral jangan lupa."

Garuda mengangguk, "Ya, udah. Aku juga samain aja. Tolong ya, Yong Soo."

"Aye! Aye! Daze!" ucap Yong Soo memberi hormat kemudian melesat ke antrian kantin.

Sepeninggal Yong Soo, mereka bertiga hening. Tak ada yang bersuara. Garuda sibuk mengecek ponselnya, Feliciano menatap sekitar dengan antusias dan Lovino yang hanya menyangga kepala bosan.

"Oh, ya Lovino." panggil Garuda tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel dan hanya dibalas gumaman Lovino.

"Kau sudah melihat kelima orang yang memukulimu dijatuhi hukuman?" Garuda menutup ponselnya kemudian menatap Lovino.

"Tidak." singkat Lovino.

"Eh, kenapa? Kau seharusnya melihat saat mereka dihukum dan didiskorsing dua minggu." ujar Garuda menggebu-gebu.

Lovino melengos malas menatap Garuda. "Untuk apa? Tidak ada untungnya untukku."

"Tentu saja. Kau akan puas melihat mereka dihukum! Kau dapat keadilan!" heboh Garuda.

Lovino menatap datar, "Aku bukan tipe orang yang susah move on sepertimu."

TWITCH

Perempatan terlihat di dahi Garuda yang menggeram lucu. "Aku nggak susah move on!"

Lovino menahan tawa, "Sudah terlihat dari ucapanmu yang suka mengungkit masa lalu."

"Aku nggak begitu!" teriak Garuda kesal sambil menggebrak kecil meja kantin, membuat tawa Lovino akhirnya meledak melihat tingkahnya.

Feliciano yang melihat kakaknya tertawa lepas hanya bisa tertegun. Selama hidupnya, Feliciano belum pernah melihat Lovino tertawa seperti itu, apalagi kepadanya. Tapi kini, melihat kakaknya tertawa karena Garuda yang baru mereka kenal membuatnya merasa minder. Dia juga ingin kakaknya bisa tertawa lepas padanya juga untuknya. Feliciano jadi merasa iri pada Garuda yang bisa mencuri perhatian Lovino.

"Hei, pesanan kalian datang nih, daze!" seru Yong Soo seraya meletakan nampan yang dibawanya ke meja tempat mereka berkumpul.

"Asyik! Pasta ve~" ujar Feliciano kegirangan saat pasta kesukaannya terhidang di depannya.

Yong Soo meletakan pesanan mereka masing-masing kemudian duduk di tempatnya. Garuda yang melihat makanan Yong Soo pun penasaran. "Itu apa?"

Yong Soo menoleh pada Garuda yang menunjuk makanannya.

"Ini, kimchi daze! Kimchi berasal dari korea, daze!" seru Yong Soo seraya menepuk dadanya bangga, membuat Garuda yang menatapnya hanya sweatdrop.

"Mau cobain?" tawar Yong Soo.

Garuda mengangguk antusias. "Mau!"

"Aaaah~" Yong Soo mengarahkan kimchi yang disumpitnya ke mulut Garuda. Melihatnya, Garuda langsung melahapnya.

"Uhuk-uhuk." tanpa diduga, Garuda tersedak. Segera saja, Lovino menyodorkan air mineral yang sempat dipesannya ke arah Garuda. Cepat-cepat Garuda meminumnya hingga habis agar tidak tersedak lagi dan bisa bernapas lega.

"Hah, hah.. kupikir aku akan mati." Garuda mengelus-elus dadanya, mencoba menenangkan diri. "Rasanya aneh. Kayak nano-nano."

Yong Soo mengernyit bingung. "Apa tuh nano-nano?"

"Manis, asam, asin. Rame rasanya." ujar Garuda lempeng.

Feliciano menatap ngeri. "Hii, pasti tidak enak."

Yong Soo menekuk alis. "Kimchi yang paling enak, daze! Jangan sembarangan ngomong!"

"Waaaaa~ MAAAAF VEEE~" teriak Feliciano saat Yong Soo menjambak rambutnya. Garuda hanya bisa menatap iba padanya dan Lovino mendengus lelah.

"KYYYAAAAAAA~ BAD TOUCH TRIO DATANG!" teriak seorang gadis diikuti teriakan-teriakan murid perempuan, membuat Garuda sport jantung.

Menatap ke pintu kantin, Garuda cs mendapati disana berdiri tiga orang murid laki-laki dengan tinggi yang lumayan, berjalan beriringan sambil tebar-tebar pesona pada setiap gadis. Membuat para gadis yang sepertinya fans mereka langsung pingsan di tempat.

Garuda menatap aneh ketiga orang yang berjalan semakin mendekat ke tempat mereka duduk. Saat mereka saling berhadapan, seorang berambut silver bermata merah menatap Garuda dan kawan-kawannya. "Siapa kalian? Kenapa duduk di tempat kami?"

Garuda berdiri diikuti Lovino, Yong Soo dan Feliciano yang sembunyi dibalik kakaknya.

"Kalian sendiri siapa?" tanya Garuda.

"Hei, yang sopan sama kakak kelas." tegur seseorang berambut pirang ikal sebahu.

"Kami murid baru disini, aku Im Yong Soo, daze!" ucap Yong Soo.

"Tidak ada yang bertanya namamu!" ketus si rambut silver. "Aku tanya sedang apa kalian di tempat duduk kami?!"

Garuda maju berdiri di depan si rambut silver. "Kalian geng Red Eyes, kan!?"

"Iya. Memangnya kenapa?" tanya seseorang berambut coklat dan mata berwarna hijau cerah.

"Ternyata benar! Dasar sialan!" maki Garuda seraya memukul-mukul badan si rambut silver. Untung Yong Soo sigap menahan Garuda yang meronta-ronta ingin memukul. "MATI SAJA KALIAN RED EYES!"

"Hei! Apa masalahmu?!" bentak si rambut coklat sambil menyangga tubuh si rambut silver.

Garuda menggeram, "Gara-gara kalian, anak buah kalian hampir membunuh temanku!"

"Apa?!" ketiganya melotot terkejut.

"Ish, jangan bisanya cuman 'Apa?!' doang. Tanggung jawab dong!" ujar Garuda sengit sambil menendang-nendang ke depan. "Gara-gara bawahan kalian, Lovino terluka parah! Seharusnya kalian mengawasi anak buah kalian! Mereka mem-bully Lovino sampai benar-benar babak belur! Kepalanya juga bocor!"

Lovino yang tidak tahan lagi segera menarik tangan Garuda dan menatapnya. "Kau sudah berlebihan, Garuda!"

Garuda menatap Lovino tajam. "Aku? Berlebihan? Mereka yang berlebihan! Keterlaluan! Kalau saja aku tidak menemukanmu di gudang, kau pasti sudah mati sekarang!" bentak Garuda.

Lovino mundur selangkah. Ini pertama kalinya ia melihat Garuda semarah ini. Ia pikir, Garuda bukan orang yang mudah tempramen. Tapi sekarang Lovino terkejut melihat tatapan tajam Garuda dan tertegun dengan wajah seriusnya.

"Kenapa kau selalu menggampangkan semua masalah? Apa kau tidak memikirkan perasaanku dan Feliciano?" Garuda menatap sendu Lovino. Feliciano yang berdiri di sampingnya hanya bisa menunduk menahan isak tangis.

Lovino bungkam. Ia tidak menyangka, Garuda akan berkata seperti itu, apalagi sampai membawa-bawa Feliciano. Melirik Feliciano, Lovino kembali merasa bersalah melihat adiknya kembali menangis karenanya.

Garuda kembali berhadapan dengan ketiga seniornya, menatap tajam. "Kenapa kalian membiarkan bawahan kalian menyakiti anak baru?"

"Wow, tunggu sebentar! Kami sungguh tidak tahu-menahu soal ini. Hari terakhir MOS, kami dipanggil ke ruangan kepala sekolah bersama lima orang lainnya. Mereka membicarakan kasus pem-bully-an yang dilakukan bawahan kami. Dan kelimanya sudah mendapatkan hukuman serta diskorsing selama dua minggu. Setelah mendengar dari guru bahwa korban hari ini masuk, kami secara resmi ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya." jelas si rambut pirang.

"Tolong maafkan kami yang teledor dalam mengurus bawahan. Sungguh, kami juga sangat menyesalkan kejadian ini." ujar si rambut coklat dengan wajah menyesal.

"Ya, kami sungguh minta maaf. Kami mohon agar tidak memperkarakan masalah ini ke kepolisian." sahut si rambut perak sambil membungkuk diikuti kedua temannya.

Melihat tiga seniornya yang tulus meminta maaf, Garuda tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain terdiam dan memalingkan wajah. Lovino menghela napas dan menepuk pundak Garuda. "Sudah kubilang, kau tidak usah membesarkan masalah ini lagi. Lihatkan? Mereka juga sudah minta maaf."

"Aku sudah memaafkan mereka dari jauh-jauh hari. Kalian tidak perlu cemas, aku akan melupakannya kok." ujar Lovino sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ketiga senior tadi kembali menegakkan tubuh mereka.

"Terima kasih." ucap si rambut silver.

"Tidak apa-apa. Salahku juga sih meludah tidak melihat-lihat." ucap Lovino santai.

Garuda menekuk alis. "Tapi kan kau tidak sengaja! Seharusnya mereka tidak memukulimu sampai parah. Tulang-tulangmu patah dan kepalamu juga bocor!"

"Mau berapa kali lagi sih, kau mengatakan hal itu? Kau ini seperti gadis yang tidak bisa move on saja." ujar Lovino santai.

"Aku bukan gadis! Dan aku bisa move on!" geram Garuda.

"Masa sih? Aku tidak yakin tuh." Lovino memiringkan senyumnya.

Garuda menghirup napas dalam-dalam, menenangkan diri. Setelah tenang, Garuda menatap Lovino dengan wajah merengut lucu. "Dasar Tsundere menyebalkan."

Gantian, kini perempatan yang muncul di dahi Lovino. "Aku bukan Tsundere!"

"Dasar Tsundere malu-malu garong!"

"Dasar gagal move on!"

"Muka lempeng!"

"Cerewet!"

Melihat keduanya bertengkar, membuat ketiga seniornya tadi dan orang-orang di sekitar mereka hanya bisa menatap bengong. Sementara Yong Soo berdiri di samping Feliciano sambil berbisik, "Tetap sepuluh dollar untuk Garuda."

Feliciano yang perasaannya sedikit membaik melihat kakaknya bertengkar dengan Garuda yang terkesan lucu, menolehkan kepalanya dan tersenyum senang. "Sepuluh dollar untuk kak Lovino, ve~"

"Rambut berantakan!"

"Biarin, emang kamu? Tsundere berahoge!"

Kilat imajiner terasa saat keduanya bertatapan sengit satu sama lain. Tidak mau mengalah walau hanya sekali. Ketiga seniornya yang melihat mereka hanya bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Tingkah mereka sangat lucu, terlebih Garuda yang terlihat menggemaskan. Ketiganya tidak menyangka jika junior mereka yang mengamuk tadi memiliki ekspresi seperti itu. Membuat mereka tidak tahan untuk mencubit pipi Garuda.

"HAAAFFFUUUHH!" Garuda mengaduh saat pipi kiri dan kanannya ditarik si rambut pirang dan coklat juga hidungnya dipencet oleh si rambut silver membuatnya kesakitan. "Akkhhh.. Hakhit!"

"Kamu lucu banget sih, mon cher. Gemes deh." ucap si rambut pirang genit.

"Manisnya~" si rambut coklat tersenyum senang.

"Kok bisa punya muka imut gini?" tanya si rambut silver heran.

Yong Soo langsung menyahut girang. "Itu aegyo alias muka cute! Aegyo berasal dari korea, daze!"

Feliciano tertawa sambil ber've~ve~' ria. Lovino hanya bisa mendengus kesal, karena kini manusia aneh bertambah lagi di sekitarnya. Rasa-rasanya Lovino ingin kabur ke planet Neptunus dan tidak kembali lagi. Semoga kewarasannya masih tertinggal di kepalanya.

"Ah, ya! Sebagai permintaan maaf, kami akan mentraktir kalian berempat. Bagaimana?" tawar si rambut silver sambil menarik Garuda duduk dengannya, diikuti si rambut pirang dan coklat di samping Garuda.

Melihat Garuda dihimpit senior membuat Lovino mendengus jengah. Disini kan dia yang jadi korban, kenapa malah Garuda yang dikelilingi dan diperhatikan? Tapi sungguh, maaf saja ya, Lovino sama sekali tidak mengharapkan untuk dikelilingi dan diperhatikan oleh senior-senior aneh seperti mereka. Tidak! Hell no!

"Oh, ya. Kita belum kenalan, kan? Namaku Gilbert Beilschmidt. Aku ketua Red Eyes. Panggil saja Gilbert." ujar Gilbert si rambut silver.

"Aku Francis Bonnefoy. Panggilnya abang Francis ya, mon cher~" ucap Francis si rambut pirang sambil kissbye ke Garuda cs, membuat mereka menahan diri untuk tidak muntah.

"Dan aku Antonio Fernandez Carriedo. Panggil Antonio aja." si rambut coklat tersenyum lebar ke arah mereka berempat, membuat Feliciano dan Yong Soo tersenyum ceria serta Garuda dan Lovino yang wajah keduanya memerah.

Gilbert menatap wajah adik-adik kelasnya. "Sekarang giliran kalian."

"Kalian sudah tau namaku kan, daze!" ujar Yong Soo.

"Uh, ya. Kami lupa." sahut Antonio sambil mengusap rambut, merasa tidak enak.

"Namaku IM YONG SOO, daze! Inget dong!" seru Yong Soo kesal.

"Ok-ok, kami ingat kok. Kalau kamu?" tanya Antonio sambil menatap Lovino.

Lovino berdehem dengan wajah masih memerah. "Seperti yang kalian tahu, aku si korban pem-bully-an, Lovino Vargas."

Antonio tersenyum sumringah, "Salam kenal, ya!"

"Be-berisik! Tidak usah senyum-senyum segala, dasar cassanova!" Lovino memalingkan wajahnya ke arah lain dan bersungut-sungut tidak jelas, membuat Antonio sweatdrop.

"Aku adiknya Lovino, ve~ Namaku Feliciano Vargas. Dan aku suka pasta, ve~" sahut Feliciano riang sampai matanya menyipit saat tersenyum.

"Nah, kalau kamu siapa, mon cher?" tanya Francis dengan nada genit, membuat perut Garuda mulas dan Lovino yang menekuk alis sinis.

"Garuda Eka Mandala. Terserah kalian mau panggil Garuda, Eka atau Mandala. Selain dari ketiga panggilan itu, aku tidak akan menoleh." ketus Garuda. Sepertinya moodnya masih belum membaik pasca mengamuk tadi. Mana sekarang dia duduk di tengah-tengah seniornya. Bikin tambah bete.

"Uh, kamu galak banget sih ngomongnya, mon cher~" ujar Francis sambil mencolek dagunya.

Garuda menepis tangan Francis dan melotot. "Gak suka gak usah deket-deket!"

"Ow, ganasnya. Tipe-tipe uke Tsundere kayak Arthur nih."

Garuda mengernyitkan alis. "Uke? Apa tuh? Trus, siapa Arthur?"

"Uke tuh semacam cowok manis yang kalau dalam hubungan laki-laki, posisinya ada di bawah kayak cewek gitu. Nah, kalau Arthur itu teman kami." jelas Antonio dengan wajah innocent. Membuat Gilbert, Francis dan Lovino tepok jidat sementara Feliciano dan Yong Soo hanya melongo.

"Hei, aku bukan cowok manis! Aku ini cowok tampan tau!" geram Garuda.

"Tapi kamu emang manis kayak gulali enjot, daze!" seru Yong Soo semangat.

Mata Garuda menyipit, bergumam kecil. "Kok dia tau gulali enjot, sih?"

"Ah, sudah! Pokoknya kamu memang manis untuk ukuran anak laki-laki. Udah, gitu aja." sahut Gilbert santai.

Garuda menggerutu lucu. Lovino yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Dalam pikirannya, meski Garuda agak lemot (walau tidak separah Feliciano tentunya.) Lovino sungguh beruntung bisa menjadi sahabat pertamanya. Terngiang kembali kejadian seminggu yang lalu. Kalau saja Garuda tidak dikerjai mencari selang tabung gas di gudang, Lovino tidak tahu bagaimana nasibnya saat itu. Menemukannya, menggendongnya ke uks dan setia menunggunya hingga tersadar. Orang baik seperti itu hanya ada satu dari sejuta orang di luaran sana, dan Lovino beruntung bisa mengenal salah satunya.

Garuda, pemuda sederhana dengan rambut urakan dan cuek pada penampilan. Yang seperti itu, sebenarnya banyak sekali. Bisa ditemui di berbagai tempat. Tapi, Garuda berbeda. Pemuda itu beda, karena di jaman yang serba modern ini, tak banyak orang yang peduli pada keadaan di sekitar. Jangankan pada lingkungan, pada keluarga sendiri juga masih saja ada yang tidak peduli. Tapi sekali lagi, Garuda berbeda. Dia sangat baik dan berjiwa pahlawan. Kalau saja Lovino itu perempuan, ia pasti sudah jatuh cinta pada Garuda. Eh, tunggu! Apa?!

"Lovino!" Lovino tersadar dari lamunannya saat suara Garuda memanggilnya. Wajahnya menjadi merah karena pemikirannya barusan.

"Huh?"

"Kenapa melamun? Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Garuda dengan puppy eyes, membuat Lovino meneguk ludah.

"A-aku nggak apa-apa, kok." jawab Lovino gugup seraya mengalihkan wajah memerahnya ke arah lain.

"Masa sih? Coba sini periksa." Garuda berdiri dan membungkuk ke arah Lovino, mengarahkan telapak tangannya ke dahi Lovino dan yang satunya ke dahinya sendiri.

Melihat hal tersebut, Red Eyes atau yang lebih tenar disapa Bad Touch Trio ini berdehem keras-keras.

"EHEM! EHEM!"

"HUK! UHUK!"

"HOEKS!"

Lovino yang tahu mereka sengaja hanya untuk mencari perhatian hanya bisa mengutuk dalam hati. 'Cumi Bastrad!'

Sementara Garuda menatap mereka heran. "Kalian sakit juga?"

Sebelum ketiganya menjawab, Lovino langsung menyambar. "Iya, mereka sakit. Sakit gila!"

Gilbert dan Francis melotot tajam. "Heh! Kami tidak gila!"

Keduanya langsung berdiri menghampiri Lovino. Gilbert memiting lehernya sementara Francis menggelitik badannya. Lovino hanya bisa meronta-ronta walau tidak bisa lepas karena Gilbert memitingnya dengan kuat, ditambah Francis yang terus menggelitik juga sesekali mencubit lengan serta wajahnya, membuat penampilan Lovino tak karuan. Dan, untungnya kedua senior ini masih sadar kalau Lovino masih dalam masa pemulihan, sehingga mereka berhati-hati agar tidak mengenai luka-luka Lovino.

Antonio hanya bisa diam tidak berdaya, tapi tetap dengan senyum cerahnya melihat keakraban mereka yang mulai terjalin dengan adik kelas mereka ini. Sungguh, Antonio ingin kesenangan ini terus berlanjut, sampai mereka lulus dari sekolah. Karena kenangan semasa SMA sangat sayang jika dilewatkan dengan datar-datar saja. Harus ada warna-warni seperti ini, agar dewasa kelak bisa mengenang dan berbagi masa-masa indah ini pada anak-cucu mereka di masa depan.

'Ini bagus. Semoga terus begini sampai lulus.' batinnya senang sambil menatap perkelahian lucu Lovino-Gilbert-Francis.

"Aku dukung Gilbert-Francis, daze!" seru Yong Soo semangat.

Lovino melotot, "Dasar nggak setia kawan!"

"Kak Lovi jangan takut, ve! Aku mendukung kak Lovi, kok!" seru Feliciano riang. "Sama Garuda juga! Iya kan, Garuda?"

Garuda tersentak. "Eh? Iya! Iya, aku dukung kok!"

Wajah Lovino bersemu dan beralih, mencoba melepaskan diri dari jeratan tangan Gilbert. "Aku nggak butuh dukungan kalian, bodoh!"

Antonio sweatdrop. "Satu lagi deh yang Tsundere."

Garuda menghela napas melihat pemandangan di hadapannya. Tidak menyangka jika di hari pertamanya sekolah, kini teman-temannya bertambah. Karena kejadian pem-bully-an itu, sekolah diliburkan hingga seminggu. Dan kini mereka bisa mendapatkan banyak teman, senior pula. Garuda berharap semoga besok pun akan mendapatkan teman lagi. Sosok sahabat yang selalu ada disaat kita membutuhkannya.

Masa depan masih panjang, Garuda pun menerka-nerka seperti apa teman yang akan ia temui. Lovino yang cuek dan Tsundere, Feliciano yang ceria, Yong Soo yang bersemangat, serta Bad Touch Trio yang menyenangkan.

'Kira-kira besok siapa yang akan menjadi sahabat kami, ya?' batin Garuda sambil menatap ke jendela, menerawang ke langit biru siang yang cerah.

Siapapun orangnya, Garuda berharap mereka bisa menjadi sahabat dan menjalin ikatan persaudaraan untuk waktu yang lama. Sahabat sejati. Kita untuk selamanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

_TO BE CONTINUED_

A/n:

Faz gak bisa nahan untuk gak lanjutin cerita ini. Semoga dapat menghibur kalian semua readers. Dan jangan ragu atau malu (apalagi takut) buat review. Faz gak menggigit kok, hehe..

So...

Have a nice day, sweet people~ ^o^)/

.

.

.

Last,

Review? ;)

Jaa, chu~