guren: hehe, gak apa2 kok. Udah dibaca aja faz udah bersyukur kok. ^^ iyap, pas bikin juga keinget jaman sekolah dulu, abis kangen berat. Ini udah dilanjut, baca lagi ya~ makasih udah RnR dan supportnya. :*
FIRTCB udah faz bales lewat pm ya. ^^
Disclaimer : Hetalia punya om Hidekaz dan belum berpindah hak kepemilikan kepada siapapun. Apalagi faz. =_=
WARNING : T+ karena alarm mesum Yong Soo menyala dan ucapan 'pelangi' dari Lovino. Maka dari itu sediakan obat pusing di sebelah anda jika anda merasa pening saat membaca cerita ini. OOC, GAJENESS, BAHASA TIDAK BAKU, TYPO, GAK NYAMBUNG, DLL.
*napasdulUKEterusancapslock*
Hehehe..
Okelah, Happy Reading Nyaw~ ^o^)/
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
"Sudah tentukan mau masuk klub apa, Gar?"
Siang itu Garuda cs berkumpul di sudut lapangan bola sambil menunggu giliran tes menendang bola sepak. Garuda yang ditanya pun mengerutkan dahi. "Sebentar, aku pikir dulu."
Satu menit berlalu, Garuda masih terus berpikir. Sang penanya, Yong Soo tetap diam memperhatikan raut wajah Garuda.
Lima menit berlalu. Garuda menundukan kepalanya masih sambil terus berpikir. Yong Soo yang melihatnya hanya bersabar menanti jawaban akan pertanyaannya.
Tujuh menit..
Sepuluh menit..
"Mending ribut aja, yuk?" ajak Yong Soo menahan kesal.
Garuda terperangah. "Hah? Bukannya tadi kau bertanya aku mau masuk klub mana?"
Yong Soo mendengus, "Tidak jadi, daze! Kelamaan." kemudian melengos.
Garuda menahan senyum, " Ya ampun, begitu saja marah. Aku memang lagi berpikir kok tadi."
Yong Soo menatap Garuda melalui sudut matanya. "Terus?"
"Ya gitu deh." Garuda menghela napas. "Masih bingung mau masuk klub mana."
Secara refleks, Garuda menghadap Lovino yang duduk di sebelahnya. "Kalau Lovino bagaimana? Sudah tentukan mau masuk klub apa?" tanya Garuda antusias.
Lovino melirik Garuda sebentar lalu kembali menatap ke depan. "Tentu saja sudah. Memangnya kau."
Garuda menggerutu mendengar jawaban Lovino yang terkesan sangat menyindirnya.
"Terus masuk klub apa, daze?" tanya Yong Soo kepo.
"Klub memasak."
Hening.
Hening.
He-
"UAPAAA? DEMI PLUTO YANG BISA MENGGONGGONG! KAMU BISA MASAK LOV!?"
"YANG BENER, DAZE?!"
"Berisik ah." Lovino menabok bahu Garuda dan Yong Soo hingga keduanya meringis sakit.
'Pukulan Lovino gak main-main. Hiiiii.' Batin keduanya ngeri sambil mengusap bahu masing-masing.
"Tapi beneran kau bisa memasak, Lov?" tanya Garuda kepo.
"Bisa. Dan jangan panggil Lov, bisa kan? Geli tau gak." sinis Lovino.
"Tapi kan nama kamu emang Lovino." ujar Garuda polos.
Lovino melotot. "Tapi gak usah dipotong juga kan?"
"Ya, masa aku panggil Vino? Nanti dikira eskrim. Gak banget, kan?"
"Chigi! Mau ngajak ribut, hah?!"
"Aku gak mau ngajakin kamu ribut, kok. Oh iya, chigi itu apa? Aku taunya cuma chiki snack."
"Sini dah, ribut aja!"
"Blablabla.."
"Wawawa.."
Yong Soo menghela napas lelah melihat pertengkaran kedua sahabatnya. "Mereka itu.. tidak lelah apa? Kerjanya hanya adu mulut saja, daze!"
PRIIIIIT
Suara pluit yang dibunyikan guru olahraga menyadarkan ketiganya. "No. 12 maju!"
Merasa nomor absensinya disebut, Garuda berdiri dan melangkah menuju kotak penalti. Bola sudah di bawah kakinya dan gawang berada tepat di depan mata. Menarik napas dalam kemudian menghembuskan perlahan. Garuda memusatkan pandangan matanya, berkonsentrasi. Merasa dirinya siap, ia pun mengambil ancang-ancang berlari dan mengerahkan tenaga pada kaki untuk menendang dan..
WUUSSHHH
PAANGGG
Bola membentur tiang gawang dan melambung tinggi. Garuda yang sempat kecewa melotot kaget karena bola melambung ke arah seorang siswa yang tengah melintas di sisi lapangan.
"WOI, AWAS KENA BOLA!"
Tak disangka, siswa itu menoleh saat bola semakin mendekat dan langsung salto menendang bola ke arah Garuda. Bola pun melesat secepat kilat melewati sisi kiri wajah Garuda menuju gawang dan gol.
Siswa itu mendarat ringan di tanah tanpa terjatuh. Garuda hanya terdiam saat orang itu mendekat ke arahnya. Rambut pirang jabriknya terpapar sinar matahari, membuat sosoknya yang berkilau semakin berkilau. Orang bertubuh tinggi besar itu berdiri di depan Garuda, mengharuskannya menunduk menatap Garuda. Menurutnya, tubuh Garuda kurang coretkecilcoret -ehm, tinggi maksudnya, dibandingkan anak laki-laki seumurannya. Wajahnya juga bahkan sangat kekanakan.
Sedangkan Garuda sendiri hanya bisa mendongak menatap mata emerald yang menatapnya intens, terasa begitu tajam namun menawan disaat bersamaan. Ia bergidik ngeri dan merutuki debar jantungnya yang tak karuan.
"Kalau tidak bisa menendang bola, jangan bermain bola."
Kata-kata dan nada yang diucapkan orang itu memang dingin dan tajam, membuat Garuda tersinggung karena si rambut jabrik terang-terangan menghinanya. Namun, entah kenapa lidahnya terasa kelu untuk membalas.
Setelah mengatakan isi pikirannya, siswa berambut pirang jabrik itu langsung pergi meninggalkan Garuda yang hanya cengo menatap punggungnya.
Lovino dan Yong Soo yang tersadar dari keterpanaan kejadian tadi, buru-buru menghampiri Garuda di lapangan. "Kau tidak apa-apa, Garuda?"
Merasa bahunya ditepuk, Garuda mengalihkan matanya ke Lovino. "Ti-tidak, kok. Cuman.. kaget aja.."
Lovino mengangguk dan mencibir ke arah perginya siswa tersebut. "Siapa sih dia? Sok keren."
"Lovino tidak tahu ya? Tadi itu kakak kelas lho, daze!" Yong Soo membuka buku catatan saku miliknya. "Namanya Willem Van Anderson. Asal Belanda. Umur 17 tahun. Kelas 2-B dan pemain inti klub sepak bola. Pernah membawa tim sepak bola sekolah menjadi juara dengan lima gol yang ia ciptakan saat masih duduk di bangku kelas satu. Dijuluki King of Goal. Pernah cedera bahu saat Summer Football di London dua bulan lalu dan kini sedang vakum untuk memulihkan keadaan."
Lovino menatapnya aneh. "Kenapa kau tahu semua tentangnya?"
Yong Soo nyengir, "Itu kan sudah jadi tugasku memburu berita bintang sekolah, soalnya aku sudah masuk klub mading sekolah, daze!"
Lovino mendengus, "Pantas kau hapal tentangnya." kemudian menatap Garuda yang sejak tadi menunduk, masih terdiam kaku.
"Garuda?"
"..bat.."
"Huh?"
Garuda mendongak, "Hebat! Keren bangeeet!"
Lovino melongo, "Hah?"
Garuda menghadap Lovino dan mencengkram kedua bahunya. "Tadi itu keren banget! Aku mau bisa kayak orang tadi, Lovino! Aaaaaa~"
Berusaha menahan pusing karena Garuda mengguncang-guncang kuat bahunya, Lovino berkata. "Kau tidak salah? Kepalamu tidak terbentur sesuatu kan, Garuda?"
"Tidak, Lov! Aku mau jadi kayak si pirang jabrik itu! Aku mau jadi pemain bola!" ujar Garuda ceria.
Lovino menggeram karena lagi-lagi Garuda memanggilnya 'Lov'. Tanpa ragu, jitakan sayang Lovino mendarat di kepala Garuda. "Jangan lagi potong nama orang sembarangan, bastrad!"
Garuda mengaduh dan mengusap pelan kepalanya. "Uh.. maaf.."
Yong Soo yang sedari tadi diam, membuka suara. "Tapi bukannya tadi kau dihina oleh senior Anderson, ya? Harusnya kau marah dong, daze!"
Garuda menggaruk belakang kepalanya. "Benarkah? Menurutku dia hanya bilang 'kalau tidak bisa menendang', dan secara teknis itu bukan menghinaku."
Lovino menganga mendengar ucapan Garuda. "What the- yang benar saja! Sepertinya kepalamu memang sudah terbentur sesuatu."
Garuda tidak menggubris sindiran Lovino dan menatapnya. "Lovino, kau mau kan temani aku daftar klub sepak bola? Ya? Ya? Ya? Mau yaa~?"
Lovino menelan ludah melihat wajah Garuda yang mendekat padanya dengan puppy eyes miliknya. Buru-buru Lovino mengalihkan wajahnya yang terasa panas. "I-iya. Ta-tapi tidak usah dekat-dekat juga."
"Ok, fix! Sudah ditentukan! Klub sepak bola, aku datang!" Garuda bersorak sorai.
Tersentak karena ingat sesuatu, Garuda menoleh ke arah Yong Soo dan menggenggam kedua tangannya. "Aku jawab pertanyaanmu di awal tadi, ya! Aku mau masuk klub sepak bola, Yong Soo! Horeee~"
"Yeeei, pilihan bagus, daze!" Seru Yong Soo. Tangannya balik menggenggam erat tangan Garuda. Garuda yang masih tertawa-tawa senang ia biarkan saja.
Sampai tarikan kuat pada tangannya Garuda rasakan, membawanya menatap wajah Yong Soo yang begitu dekat dengannya. Dahi mereka yang bersentuhan dan tatapan lekat Yong Soo membuat Garuda membelalakan matanya.
"Yong Soo.."
Yong Soo menyisir anak rambut di sisi telinga Garuda dengan jemari kanannya sedangkan tangan kirinya mendekap erat pinggang Garuda. Posisi yang terlihat intim. "Manis.."
"Eh?"
Melihat ada kesempatan, Yong Soo menempelkan bibirnya pada celah bibir Garuda, membuat pemuda bersurai hitam berantakan itu terkejut. Lumatan dan jilatan dibibirnya membuatnya terkesiap. Tak disia-siakan, Yong Soo menelusupkan lidahnya ke dalam mulut hangat Garuda. Secara refleks, Garuda mencengkram baju depan Yong Soo saat ia rasa lidah Yong Soo di dalam sana mengobrak-abrik mulutnya dan membelit lidahnya. Tak sekalipun memberinya celah untuk lepas, apalagi bernapas.
Merasa Garuda hampir kehabisan oksigen, Yong Soo melepaskan ciumannya, membuat lutut Garuda lemas dan akhirnya jatuh terduduk di lapangan.
"Yong Soo.. kau.. kenapa? Apa yang.."
Garuda terkejut saat Yong Soo mencengkram bahunya dan membaringkannya di tanah lapangan. Entah sejak kapan Yong Soo sudah merangkak di atasnya.
"Yong Soo.. kau tidak berniat, kan? A-aku tidak ma-"
Ucapan Garuda terputus saat Yong Soo mengusap bibirnya dengan ibu jari tangannya, mengalirkan sensasi listrik ke seluruh tubuh Garuda. Sambil menjilat bibir bawahnya, Yong Soo menatap Garuda dengan mata berkilat nafsu."Kau membuatku gila, daze! Aku tidak tahan!"
Yong Soo segera menyerang Garuda, merobek pakaiannya disana-sini. Tanpa mempedulikan Garuda yang berteriak memohon untuk berhenti sambil menutupi bagian-bagian tubuhnya yang terekspos, wajah yang memerah karena malu dan tubuhnya yang bergetar ketakutan, Yong Soo tertawa mengerikan.
"HAHAHAHAHAHAHA.."
"Yong Soo? Kenapa tertawa?"
"Eh?"
Mengedipkan matanya, Yong Soo mendapati Garuda di depannya yang sedang menatapnya polos sambil memiringkan kepala imut. Tak ada wajah yang memerah atau tubuh bergetar ketakutan. Dan pakaiannya pun masih tetap utuh seperti sedia ka-
Eh?
"Kau tidak apa-apa kan, Yong Soo? Pertama melamun, terus ketawa, sekarang malah diam. Membuatku takut saja.." ujar Garuda ragu.
Kedip.
Kedip.
Ke-
'What the- jangan bilang yang tadi cuman khayalanku doang, daze! Arrghh!' batin Yong Soo kesal. 'Kenapa gak kuserang sih?!'
'Eh, tunggu. Kenapa gak aku serang aja sekarang?'
Garuda yang melihat ekspresi Yong Soo dari menggerutu menjadi diam, sedikit agak ngeri. Pelan-pelan ia lepaskan tangan Yong Soo dan berniat menjauh. Tapi, belum sempat berbalik, tangan Garuda ditarik hingga keduanya jatuh ke tanah dengan Garuda di atas tubuh Yong Soo.
"GYAAAAAAA~ YONG SOO, SADARLAAAAHHH! JANGAN GREPE-GREPE GUEEEEE AAAAAAAAAAAAAA" teriak Garuda nyaring karena merasa Yong Soo mengelus-elus pantat montoknya.
Lovino yang melihat adegan absurd tak senonoh itu melotot dan segera menjauhkan Garuda dari Yong Soo yang dalam mode seme. "Woi, sadar woi! Jangan beradegan rated M!" teriaknya panik.
"KYAAAAAAAA YAOIIIII~" teriak gerombolan siswi di pinggir lapangan yang menonton keduanya, membuat sebagian dari mereka pingsan dan sebagian lagi menyumpal hidung mereka yang mimisan sambil mengabadikan moment istimewa menurut mereka.
"Dasar fujoshi gila!" rutuk Lovino. Setelah bersengit ria dengan tangan Yong Soo, Lovino berhasil menjauhkan Garuda darinya.
"Hueee.. Lovinooo~" Garuda nangis pelangi di dalam pelukan Lovino, sedikit membuat pemuda bermata coklat itu gugup. "Yong Soo sereeem, huee.. hueee.."
"Cup-cup. Sudah, tidak usah menangis." Lovino menepuk-nepuk pelan punggung Garuda yang bergetar.
"KYAAAAAA LOVUDA KYAAAAAA~"
"AW, SO SWEET BANGET!"
"IH, GAK KUKU DEEEEEHHH~~"
"AAAAAAHHHH MAMAH ADE GAK CUAT AAAAAHHH"
Lovino hanya menggeram kesal mendengar teriakan siswi yang memekakkan telinganya dan sedikit blushing saat mendengar nama singkatannya dan Garuda disebut.
'Lovuda. Boleh juga.' batin Lovino sambil senyum-senyum mesem. Suara batin Lovino kok kayak pernah denger. Dimana, ya? ==a
"Jir, kalo pengen dipeluk Garuda bilang saja, daze! Tidak usah sok-sok nyelametin segala!" seru Yong Soo kesal.
Lovino melepas pelukan Garuda dan menghampiri Yong Soo. "Heh! Kalau aku tidak menghentikan kalian berdua, pasti sudah ada adegan rape disini! Dan aku tahu sebelum-sebelumnya otakmu sudah mengkhayal yang tidak-tidak. Dasar ahoge mesum!"
"Biarin, daripada ahoge tsundere seperti kau, daze!"
"What the- Sialan kau, curl bastard!"
"Lah? Kau dan adikmu juga keriwil, daze! Weee~"
"Anjrit, ngajak berantem lo?!"
"Boleh! Ayo sini kalo berani!"
Sementara keduanya malah bertengkar, Garuda menatap mereka dalam diam sambil menggumam. "Mereka kenapa, sih?"
Andai Garuda tahu, mereka bertengkar karena mempeributkan dirinya.
Miris.
Oh, yeah. Kita tinggalkan saja tiga serangkai yang masing-masing sedang berceloteh hal yang tidak penting itu.
Sementara itu di kejauhan, sosok berambut pirang jabrik yang sedari tadi berdiri di dekat pohon akasia hanya diam memperhatikan tingkah Garuda.
"Menarik minatmu, eh Willem?"
Willem menoleh ke samping, mendapati pemuda bersurai bob pirang tersenyum menyeringai ke arahnya. Iris hijaunya mengerling ke arah Garuda. "Pemuda yang manis, kan?"
Willem hanya menatap datar, kemudian mendengus. "Urusi urusanmu sendiri."
Orang itu terkekeh. "Hei, jangan terlalu kaku. Kau bisa terhibur karena melihat tingkah lucunya."
Willem melirik singkat, "Kau suka padanya, Vash?"
Vash Zwingly menatap Willem seakan ia adalah alien belut yang traveling di bumi. "Err, kau salah sangka, man. Aku tidak tertarik padanya. Dia memang manis, tapi bukan tipeku. Apalagi dia laki-laki."
"Bukankah dia tipemu, Willem?" tanya Vash iseng.
"Berisik. Seperti bukan kau saja." ujar Willem sambil melangkah menjauh.
"Hei, aku melakukan ini supaya kau tidak stres! Cideramu tidak bisa sembuh secepat yang kau inginkan!" seruan Vash sukses menghentikan langkah Willem.
"Setidaknya, jangan jadikan hal itu sebagai beban pikiran dan jangan menanggung semua itu seorang diri. Kalau tidak, nanti kau menyesal Willem."
Merasa Vash tidak akan mengatakan apapun lagi, Willem menoleh ke belakang. Menatap mata Vash dengan tajam. "Tidak usah mengguruiku." kemudian berjalan menjauh hingga belokan dinding gedung dan menghilang dari pandangan Vash.
Vash hanya menghela napas lelah melihat kepergiannya. "Kalau tidak begini apa gunanya aku sebagai sahabatmu, Willem?"
Melihat sekali lagi ke arah Garuda yang kini sedang merangkul kedua sahabatnya yang tadi bertengkar, Vash berbisik lirih. "Semoga kau bisa merubah sikap Willem, anak kecil."
Setelahnya, Vash melangkah menjauhi lapangan dan kembali ke kelasnya.
.
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
.
Saat istirahat siang tiba, Garuda cs bersama Bad Touch Trio yang kebetulan berpapasan di koridor melangkah ke ruang kantin yang kini ramai oleh siswa-siswi. Walau mode seme Yong Soo sudah hilang setelah ditabok bolak-balik sama Lovino, tetapi pemuda bersurai dark brown itu tidak diperbolehkan mendekati Garuda, apalagi bersisian dengannya. Lovino beralasan Yong Soo bisa saja menyerang Garuda lagi dan menjadi tontonan gratis para fujoshi. Please deh, walau terkesan cuek Lovino itu sahabat yang baik. Tidak akan ia biarkan bagian-bagian tubuh Garuda menjadi konsumsi publik, apalagi Yong Soo dan para fujo gila itu. BIG NO!
Harusnya kan dia yang mengonsumsinya!
Uhuk, maaf melenceng. Back to story!
Jadilah kini Garuda ada di tengah-tengah Lovino dan Gilbert. Sementara Yong Soo di ujung dengan urutan dari kiri ke kanan Francis-Antonio-Gilbert-Garuda-Lovino-Feliciano-Yong Soo. Abaikan saja rengekan gaib berbunyi 'daze' di ujung sana.
Ketujuhnya sudah tiba di pintu kantin yang ramai oleh siswa-siswi yang berlalu lalang mencari tempat duduk atau memesan makanan di counter kantin. Mereka berjalan ke tengah meja yang kosong, tentunya milik Bad Touch Trio.
"Kalian mau pesan, kan? Sekalian saja, aku sama Tonio mau ke counter." ujar Francis, diangguki Antonio.
"Aku mau pasta ve~" ujar Feliciano bersorak seperti biasa.
Lovino menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat adiknya yang periang itu. "Aku sandwich saja. Jangan lupa air mineral untukku dan Feli."
"Aku burger sama cola." ucap Gilbert kalem. Tumbenan nih anak gak berkesesese ria. Cape mungkin? ==a
"Yong Soo?"
Yong Soo yang menguarkan aura suram mendongak. "Jus jeruk, dazeee.."
"O-oke." setelah bergidik, Francis menoleh pada Garuda, tersenyum menggoda seperti biasa. "Terus mi amo mau apa?"
Garuda memicing sinis, "Plislah, jan ganti-ganti nama orang!" sungutnya.
"Ayolah, Garuda sayang. Nanti antriannya semakin lama." Francis berujar gemas, membuat Garuda mulas.
"Aku pesen mie ayam." ucap Garuda malas.
"Di counter tidak ada mie ayam." sahut Antonio.
Garuda berpikir, "Soto ayam?"
"Hah? Apaan tuh soto? Baru denger." ujar Gilbert.
Antonio berdehem, "Soto juga tidak ada."
"Baso?"
"Tidak ada."
"Ketoprak?"
"Hah?"
"Gado-gado?"
"Err.."
"Chuanki?"
Merasa perempatan mencuat di dahinya, Lovino menggebrak meja. "GAAAHH STOP!"
"PESAN SAJA YANG ADA! JANGAN YANG TIDAK ADAAAAA!" teriak Lovino, membuat Garuda terlonjak kaget, hampir menggelinding. Err, oke itu lebay banget. =_=
"Apaan sih, Lov? Tidak usah teriak-teriak juga, kan?" protes Garuda.
"Iya! Tapi lama-lama aku bisa tekanan darah tinggi karna kau, bodoh!" Lovino menjitak kepala Garuda. "Makan saja yang ada, susah amat!"
Garuda mengerucutkan bibirnya kesal sambil mengelus kepala bekas jitakan Lovino. "Iya, bawel."
Lovino melotot, "Apa kau bilang?"
"T-tidak ada. Hehe.." ucap Garuda cengengesan.
"Garuda sayang?" tanya Francis meminta kepastian karena jengah sedari tadi melihat ke-absurd-an teman-temannya.
"Ya, udah. Aku samain aja sama kak Gilbert, tapi minumnya bajigur ya." ucap Garuda polos.
TWITCH
"DIBILANGIN PESAN SAJA YANG ADA GARUDA EKA MANDALAAAAA!" teriak Lovino nyaring di depan wajah Garuda, membuatnya terjengkang dari bangkunya. "FU*CKD*MNSH*TGRRAAAAAAAHHHH"
"I-iyaaaaa maaf.. hueee" kini giliran Garuda yang bersembunyi di belakang Feliciano sambil nangis pelangi. Feli sendiri hanya bisa menggaruk pipinya menghadapi situasi ini.
"Cup-cup, jangan nangis ve~" Feli berbalik dan menepuk-nepuk punggung Garuda yang langsung menubruknya.
"HUEEE FELIIIII~"
Semua orang yang melihat adegan Feli-Garu hanya bisa sweatdrop. Menurut mereka ada juga yang lebih konyol dari boxer pink Francis yang minggu lalu sempat berkibar di tiang bendera akibat keisengan seorang Gilbert. Membuat Francis nangis kejer benda keramatnya terekspos dan peserta MOS (minus Lovi-Garu) yang sukses tepar setelah setengah jam terpingkal-pingkal.
Ehm! Back to Story.
"Jangan buat abang menunggu lama deh, Gar. Tar abang serang, loh!" ancam Francis.
"Ah, Hiiiii ampuuun~" ucap Garuda histeris. "Samain aja sama kak Gil. Plislah, aku masih mau suci. Masih mau perawa-eh perjaka maksudnya! Hiiii~"
Francis menghela napas, Antonio tersenyum canggung. "Ya, sudah. Tunggu ya~" pamitnya.
Setelah keduanya berjalan ke counter, Garuda menghela napas lega. Lovino mendengus kesal, karena tumben otak Garuda lebih lemot dari biasanya. 'Biasanya juga memang lemot, sih.' batinnya.
Mengalihkan pandangannya, Lovino menatap Yong Soo yang meringkuk di ujung meja masih dengan menguarkan aura suram dari tubuhnya. Entah apa yang sedang dikumat-kamitkan Yong Soo diujung sana. Hanya sekilas ia mendengar kata 'Lovi jelek' atau 'Tomat gak berperike-YongSoo-an.' terlontar dari mulutnya. Membuat Lovino menghela napas lelah sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.
'Tuhaaan, bisa-bisanya aku terjebak bersama orang-orang aneh ini.' batin Lovino nelangsa.
"Ve~ ve~ senior Gilbert.." Feliciano menoel-noel bahu Gilbert yang sedari tadi terdiam.
Gilbert menoleh, "Huh? Kenapa Fel?"
"Apa kau tahu, kenapa akhir-akhir ini Luddie menjadi pendiam?"
Raut wajah Gilbert berubah gusar. "Entah. Aku pun tak tahu."
Garuda beringsut mendekati Feliciano. "Siapa itu Luddie?"
"Teman sekelasku, ve.. namanya Ludwig Beilschmidt. Adiknya senior Gilbert." ucap Feliciano lesu.
"Oh. Memang kenapa dengan temanmu?" tanya Garuda penasaran.
Feliciano menghembuskan napas, "Tidak tahu. Tadi saat ku ajak ke kantin dia menolak, ve.."
Garuda mengangguk mengerti. Ia menepuk-nepuk pelan pundak Feliciano. "Sudahlah, mungkin dia sedang badmood atau ada masalah yang belum diselesaikannya."
Lovino mengangguk. "Benar yang dikatakan Garuda."
"Lagipula, kenapa kau begitu lesu? Apa Luddie itu pacarmu, hah?" tanya Lovino berbahaya.
Feliciano menggeleng gusar, wajahnya memerah padam. "B-bukan kok.. mana mungkin? Kami sama-sama lelaki, ve~"
"Lagipula.. kami juga baru saling kenal, kok. Belum lama.." cicit Feliciano.
"Oh, jadi kalau sudah lama, kau mau menjadi pacarnya? Begitu, hah?" kejar Lovino.
"E-eh, bukan be-begitu.. jangan marah, ve~" Feliciano beringsut ke arah Yong Soo yang masih beraura suram.
Lovino melipat tangan di dada. "Terserah apapun katamu, Feli. Yang pasti, tidak akan ku biarkan kau berteman dengan orang bernama Luddie atau Ludwig itu!"
"Uh, kak Lovi tidak mengerti. Luddie itu baik, veee.." ujar Feli lesu, terlihat garis-garis gelap di atas kepalanya yang tertunduk.
"Dasar tomat tidak berperasaan. Kejam sekali, dazeee.." ujar Yong Soo ikut-ikutan masih dengan aura suramnya.
"Hiks, kasihan Yong Soo dan Feli. Sampai hati kau, Lov.." ucap Garuda semakin memperkeruh suasana.
"Kau tidak usah ikut-ikutan, cebol!" sengit Lovino.
"Heh! Siapa yang kau sebut cebol, tsundere?!" sentak Garuda tidak terima dikatai.
"Kau! Kau! Cebol hitam!"
"Hei! Sadarlah! Kau tidak kalah hitam denganku!"
"Aku tidak hitam, tapi eksotis!"
"Eksotis pantatku!"
"Blablabla.."
"Yadayadayada.."
"Guys, ini pesanan-" Francis menghentikan ucapannya saat dilihatnya Garuda dan Lovino sedang adu mulut, Feliciano dan Yong Soo yang meringkuk dipojokan, serta Gilbert yang entah sedang melamunkan apa. "..-nya."
Raut wajah Francis menjadi datar seperti ini '=_='
Antonio berujar canggung, "Err, mending kita langsung makan aja, Fran."
"Ton.." panggil Francis, membuat Antonio menoleh. "Ingatkan aku untuk membeli obat pusing sepulang sekolah."
Antonio hanya terkekeh. "Oke."
.
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
.
Setelah berpisah di gerbang sekolah, Garuda berjalan pulang. Arah rumahnya dan rumah teman-temannya memang berbeda, dan tak ada yang searah dengannya. Jadilah ia pulang sendirian. Udara hangat sore menerpa wajahnya, membuat kepenatannya sedikit demi sedikit menghilang. Langkah yang tadinya berat, terkesan agak diseret pun kini mulai ringan. Dengan perasaan riang, ia menikmati perjalanan pulangnya.
Saat berbelok di pertigaan, mata Garuda menyipit ketika siluet seseorang sedang duduk di trotoar tertangkap indera penglihatannya. Semakin melangkah mendekat, Garuda semakin yakin, orang itu seorang murid sekolahnya. Terbukti dari seragamnya yang sama seperti yang Garuda pakai.
Namun ketika tak ada pergerakan dari orang itu, Garuda semakin ragu untuk mendekatinya.
'Apa dia hantu? Banyak yang bilang pertigaan ini angker, kan?' Dan kini Garuda merinding sendiri dengan pemikirannya.
Garuda menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikiran absurdnya. Sambil menelan ludah, ia menepuk bahu orang itu.
"H-hei, kenapa ma-masih disini? Sekolah s-sudah bubar, kan?" tanya Garuda takut-takut.
Orang itu berdiri mendadak, membuat Garuda berjengit dan mundur merapat dinding dengan wajah horor. Antisipasi, kalau-kalau yang didapati Garuda adalah hantu berwajah rata. Err, kayaknya Garuda kebanyakan nonton film horor deh. =_=a
Dan semua ketakutan Garuda terasa blur saat orang itu berbalik menatapnya. Tak ada hantu muka rata. Yang ia dapati justru wajah yang sangat tampan dengan kulit putih, mata biru, hidung mancung dan bibir tipis berwarna pink pucat. Sempat membuat Garuda terpesona menatap karya Tuhan yang sangat indah.
"Duh, Tuhaaan. Kenapa tidak kau ciptakan saja wajahku seperti ini sejak awal? Biar Yong Soo berahoge terbalik pun aku rela, Tuhan.." ucap Garuda tanpa sadar.
Orang itu mengernyit, "Haah?"
Garuda tersentak, "Err, maaf.."
Suasana hening sejenak sampai Garuda bertanya. "Apa yang sedang kau lakukan disini? Duduk di.. trotoar?"
Orang itu berdeham, "Bukan apa-apa." kemudian berbalik hendak pergi, namun Garuda mencegatnya.
"Eh, sebentar. Siapa namamu? Aku belum melihatmu. Namaku Garuda Eka Mandala. Panggil saja Garuda. Anak kelas 1-B." ujar Garuda sambil mengulurkan tangan.
Pemuda itu menatap sebentar tangan Garuda. Kemudian dengan agak ragu menjabatnya.
"Ludwig Beilschmidt. Kelas 1-A." sahutnya pelan.
Garuda terkesiap. "Oh, kau yang dibicarakan Feliciano saat istirahat siang! Adiknya senior Gilbert, kan?"
Ludwig mengangguk kaku, "Kau kenal kakakku?"
"Tentu saja kenal!" seru Garuda. "Kau tidak tahu insiden 'anak kelas satu yang menyerang senior' dua hari lalu?"
Ludwig menggeleng.
Garuda nyengir, "Anak kelas satu itu aku."
Ludwig membelalakan matanya, "Bagaimana-"
"Kejadian pem-bully-an peserta MOS pasti sudah menyebar, kan?" sela Garuda. Ludwig mengangguk pelan. "Peserta MOS itu temanku dan yang mem-bully-nya adalah anak buah geng kakakmu. Itu garis besarnya."
Ludwig terdiam mendengar penjelasan Garuda. Tangannya mengepal erat tanpa sadar.
"Ngomong-ngomong, kau tidak pulang? Hari sudah mulai senja, loh." ujar Garuda.
"Aku tidak akan pulang."
Garuda mengernyitkan alisnya, "Eh? Kenapa?"
Ludwig menundukan kepalanya. "Aku tidak mau bertemu kakak."
Garuda terdiam.
"Aku benci.." lirihnya.
"AKU BENCI PADANYA! SANGAT BENCI!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
_TO BE CONTINUED_
A/n:
Hai~ faz datang lagi bawa lanjutannya. Apakah ini cukup menghibur? Apa ini masih kurang konyol? Maafkanlah faz yang masih belum bisa bikin ff ini semakin somplak. Hee *keplaked*
Dan maaf, disini Yong Soo ternistakan banget. Tapi emang dasarnya udah nista, sih. (Yong Soo: Woi thor! Ribut lo, daze!") Entah kenapa sifat mesum Yong Soo terlintas dipikiran faz waktu lagi pake obat merah. Random emang, hehe.
Daaaaan, finally! Abang Willem tercinta muncul juga, yeee~ #tebarconfettikerambutjabrikwillem (Willem: Ngabala weh thor. =_=)
Daaaaaaaaaan(lagi), ada apa dengan Aa Luddie? Kenapa dia benci Gilbro?
Baca aja deh dichapter depan. *timpuked*
Big Thanks for Readers, Reviewer, Visitor, Viewer, Follow, Favorite, Alert, Guest, and Silent Readers.
Tanpa kalian, apalah arti ff ini? Hehehe #lebay
So...
Have a nice day, sweet people~ ^o^)/
.
.
.
Last,
Review? ;)
Jaa, chu~
