Balasan gak log

Black Fox : *nge-fly* ini udah ada lanjutannya. Menurut kamu apa, beb? XD /slapped/ Garu cowok kok. Faz gak ada bayangan kalo bikin dia jadi cewek. Makasih udah RnR say~ :*

Guest : Hihi, ini udah lanjut~ iyap! Abis kalo France yang mesum udah mainstream, akhirnya dipilihlah South Korea yang jadi tumbal di fict ini. *digetokYongSoo* masalah mereka akan terungkap seiring berjalannya cerita. Disini ada petunjuknya, kok. ^^ yah, begitulah Garuda! Tadinya mau dibikin Yandere, tapi tar ganti jadi genre horror lagi. (0_0) heee, rahasia. XD /taboked/ oke, makasih udah RnR ya say~ :*

FIRTCB udah faz bales lewat pm ya. ^^

=0=

Disclaimer : Hetalia punya om Hidekaz dan belum berpindah hak kepemilikan kepada siapapun. Apalagi faz. =_=

Warning : OOC, Gajeness, abal, bahasa tidak baku, typo, alur ngebut kayak f1, dll.

Okelah, Happy Reading Nyaw~ ^o^)/

.

=0=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=0=

.

Pagi itu sedikit mendung. Angin yang menerpa cukup untuk membuat tubuh menggigil kedinginan. Jalanan sedikit lenggang, karena orang-orang lebih memilih memakai kendaraan pribadi ketimbang jalan kaki. Garuda berjalan pelan menuju sekolah. Bukan maksud mau ngegalau pagi-pagi, tapi karena cuaca dan suasana yang gloomy cukup membuat siapapun menggalau ria. Garuda menghela napas. Entah kenapa rasanya malas sekali ia hari ini. Terlihat dari langkahnya ia paksa seret-seret. Merasa merana karena ia kedinginan dan sendirian. Seandainya ada temannya yang bawa motor trus ngasih dia tumpangan..

TIIINN

Garuda nyungsruk gegara klakson kenceng yang dia denger di sampingnya. Menoleh, Garuda mendapati seseorang bermotor ninja rainbow terparkir apik disana. Garuda sweatdrop. Motor yang unik, pikirnya. Orang itu melepas helm yang dipakainya.

"Yong Soo?"

Yong Soo senyum ceria. "Garuda! Pagi, daze!"

"Pagi." Garuda berdiri sambil nepuk-nepuk celananya yang kotor. "Kamu bawa motor?"

Yong Soo nyengir, "Iya, habis kalau jalan kaki takut kehujanan, daze!"

"Oh.." Garuda ngangguk-ngangguk.

"Lah, kamu sendiri gak bawa motor, daze?" tanya Yong Soo kepo.

Alis Garuda tertekuk. "Kamu nyindir ya? Aku gak bisa bawa motor. Lagipula aku gak punya motor."

Yong Soo nyengir salah tingkah.

"Ya, udah. Bareng yu ke sekolah?"

Garuda menimbang-nimbang. Daripada dia harus jalan sendirian dan kedinginan pula, mending ikut dibonceng Yong Soo. Lagipula dia ini kan yang nawarin?

"Oke deh."

Yong Soo ngasih helm yang gak pake penutup kaca yang untungnya dia cantelin di stang motornya. Setelah mereka berdua pake helm dan Garuda udah duduk di belakangnya, Yong Soo langsung tancap gas.

"Gyaaa~ jangan ngebut-ngebut pe'a! Hampir mental gua woi!" teriak Garuda kesel.

Yong Soo cuman ketawa aja. Tapi dia seneng banget, soalnya Garuda meluk pinggang dia erat. Modus dasar.

Garuda menggerutu tidak jelas dibelakangnya, mengoceh bahwa ngebut itu berbahayalah, nyawanya hampir melayanglah, dan lain-lain.

Saat melewati pertigaan yang hampir mendekati sekolah, Garuda teringat lagi kejadian kemarin sore.

Flashback

"Ngomong-ngomong, kau tidak pulang? Hari sudah mulai senja, loh." ujar Garuda.

"Aku tidak akan pulang."

Garuda mengernyitkan alisnya, "Eh? Kenapa?"

Ludwig menundukan kepalanya. "Aku tidak mau bertemu kakak."

Garuda terdiam.

"Aku benci.." lirihnya.

"AKU BENCI PADANYA! SANGAT BENCI!"

Garuda terlonjak kaget dengan teriakan kemarahan Ludwing. Ia mencoba mendekatinya. "T-tenang dulu, Ludwig. Kita bicarakan ini baik-baik."

Ludwig menatap mencela padanya.

"Bicara baik-baik? Kau bilang aku harus bicara baik-baik?" tuntut Ludwig.

Garuda mengangguk takut-takut.

"Aku sudah bahkan berkali-kali bicara baik-baik dengannya! Tapi apa yang kudapat? Kau tahu apa yang kudapat?"

Garuda menggeleng ragu.

"AKU DIABAIKAN! KAU TAHU ITU? DIABAIKAN! DIA MENGABAIKANKU DAN LEBIH MEMILIH MENGURUSI GENGNYA YANG TIDAK JELAS ITU!"

"DAN APA YANG DIA DAPAT DARI GENG TIDAK JELAS ITU? MASALAH! BANYAK SEKALI MASALAH YANG DIA DAPAT YANG BAHKAN BUKAN ULAHNYA! DIA MEMILIH MENGURUSI MASALAH GENGNYA DARIPADA ADIKNYA SENDIRI! KAKAK MACAM APA DIA?!"

Ludwig terengah-engah setelah ia bisa melampiaskan kemarahannya. Garuda menatap iba padanya. "Tapi tidak seharusnya kau membencinya. Dia kakakmu."

Ludwig melotot marah, "Kakak mana yang mengabaikan adiknya sendiri untuk hal-hal yang sama sekali tidak penting!"

Garuda menelan ludah.

"Kau sendiri, bagaimana perasaanmu jika kakak atau adikmu mengabaikan dirimu dan lebih memilih mengurusi hal lain?"

DEG

Garuda tertohok.

'Ramli'

"Mungkin saudaramu masih bisa memperhatikanmu meski ia memiliki masalah yang bukan miliknya."

DEG

DEG

DEG

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya. Karena saudaramu masih menyayangimu meski ia selalu bertingkah menyebalkan dan membuatmu marah-marah."

DEG

DEG

DEG

"Bila aku jadi kau dan aku memiliki saudara seperti itu, aku lebih memilih ia bertingkah yang bisa membuatku kesal dan marah-marah ketimbang tidak dianggap dan tidak dipedulikan!"

"Kau pikir menyenangkan? Diabaikan dan tidak dianggap?"

Mata Garuda terasa panas, namun sekuat tenaga ia menahan cairan bening yang ingin melesak keluar dari pelupuk matanya.

"Jangan berkata kalau aku tidak seharusnya membenci kakakku! Kau tidak tahu apa-apa dan aku muak padanya dan juga pada orang sepertimu yang menganggap semua masalah ada padaku dan merasa dirinya benar!"

Ludwig menatap nyalang, "Satu lagi, jangan pernah membela kakakku! Kau sama sekali tidak tahu orang seperti apa dia!"

Setelah mengucapkan semua yang ada dipikirannya. Ludwig berbalik pergi, meninggalkan Garuda yang jatuh terduduk di trotoar.

Garuda menekan dadanya, jantungnya bertalu-talu. Ia mencoba meredakan debarannya, namun terasa sesak. Matanya tak kuat lagi menahan airmata yang menggenang. Cairannya mengalir membasahi pipi, menuruni lekuk rahang hingga terjatuh di tanah.

Garuda beringsut ke tembok dan menekuk lututnya. Menenggelamkan kepalanya disana.

Flashback End

Garuda mengusap matanya yang berair dengan lengan bajunya. Tubuhnya gemetar dan pelukannya di pinggang Yong Soo semakin mengerat.

Yong Soo sendiri bukannya tidak tahu keadaan Garuda, tapi ia lebih memilih diam dan tak menganggunya. Untuk saat ini dia sadar situasi bahwa Garuda hanya butuh melampiaskan emosinya.

"Yong Soo?" panggil Garuda.

"Ya, daze?"

"Jangan bilang pada siapapun jika aku menangis. Aku hanya teringat keluargaku saja." ujar Garuda pelan.

Yong Soo terdiam.

Lalu mengangguk.

.

=0=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=0=

.

"Cieee ciee yang boncengaaan. Kiw~ kiw~"

"So sweet~"

Garuda melongo saat ia baru saja sampai di dalam kelas. Dua orang teman sekelasnya yang ia ketahui bernama Alfred F. Jones dan adik kembarnya Matthew Williams sedang men'cie-cie'in dia. Yong Soo yang ada di belakangnya cuman nyengir gaje.

"Ciee gimana rasanya dibonceng sama Yong Soo, Gar?" tanya Alfred kepo sambil menaik-turunkan alisnya menggoda Garuda.

Garuda cemberut. "Cuman dibonceng doang juga, heboh lu pada."

Alfred cengengesan.

"Habis, masih greget sama adegan kalian berdua kemaren. HOT banget sampe kedengeran ke anak kelas tiga, loh."

Garuda melotot, "ASLI!? YANG BENER LU?!"

"Bener. Gak percaya tanya dah BTT." ujar Alfred santai. Di sebelahnya Matthew cekikikan.

"Gawat! Bisa abis dah gue digodain si Francis. Gara-gara elu sih, Yong!" tuding Garuda.

"Kok, aku sih, daze?!" ucap Yong Soo tidak terima.

"Ya, iyalah! Coba lo gak nyerang gue, grepe-grepe gue kemaren, kan jadinya gak kayak gini!" ujar Garuda frustasi sambil jambakin rambutnya.

"Ya, jangan salahin aku dong, daze!" Yong Soo angkat bahu. "Kemaren mukamu itu nge-uke banget, sih. Gini-gini, aku juga punya bibit seme."

Yong Soo menyeringai licik dan mendekat dua langkah ke Garuda. "Jadi, jangan macam-macam denganku atau ku-uke-in kamu."

Garuda merinding, "Hiii~ iya-iya maaf!" kemudian sembunyi dibalik Alfred yang ketawa garing.

'Emang cuman si kriwil itu doang yang pengen nge-uke-in Garuda? Gue juga pengen lah.' batin Bad Alfred gendok.

'Woi, inget Arthur woi!' seru batin Good Alfred.

'Oh, iya.' batin Bad Alfred lupa.

Dong-dong dasar. =_=

"Ya, udah. Tar kalau Francis godain kamu, aku jadi tameng deh." bujuk Yong Soo.

Garuda geleng-geleng. "Gak mau! Yang ada tar lo berdua malah godain gue. Lo kan samanya ama dia."

Yong Soo cengar-cengir dengernya.

Matthew yang melihat Lovino masuk kelas langsung menyapa. "Pagi, Lovino!"

"Oh, pagi." Lovino yang melihat Garuda dan Yong Soo di tempat si kembar langsung menghampiri.

"Lovi~ entar kamu jadi tamengku ya di depan Francis sama Yong Soo? Ya? Ya? Ya?" Garuda merajuk sambil menggoyang-goyangkan lengan Lovino.

Lovino mengangkat alis, "Haah?"

"Yah, Lovino ketinggalan hot news, nih!" seru Alfred. "Tadi Garuda dibonceng Yong Soo pake motor ninja rainbow-nya. Anak-anak yang liat langsung pada heboh!"

Lovino menoleh pada Garuda. "Bener?"

Garuda mengangguk. "Iya, makanya jadi tamengku lagi kayak kemaren, ya?"

Lovino mendengus. "Dasar, sudah ku bilang jangan buat masalah! Aku tidak mau repot mengurusi masalahmu."

"Tapi cuman kamu yang bisa aku mintain tolong kalo duo mesum itu gangguin aku." ujar Garuda memelas. "Mau ya?"

Lovino menatap kesal.

"Pretty please?" pinta Garuda sambil kedip-kedip bulu mata centil.

Lovino blushing. "Ter-terserah!"

Garuda bersorak, "Yey! Lovi baik deh~"

"Be-berisik! Itu kan karena kamu minta yang aneh-aneh. Pergi sana! Malas aku mendengar rengekanmu terus." ketus Lovino buru-buru meletakan tasnya di mejanya. Garuda mengikutinya.

"Ih, Lovino lucu kalo malu-malu gitu."

Yong Soo yang ditinggal keduanya jadi cemberut. "Ya, ampun. Emang aku virus apa mesti ditameng segala, daze?!"

Matthew senyum geli. "Lah, kau kan memang virus. Virus mesum maksudnya."

Alfred ngakak. Keduanya ber-high five ria karena berhasil mem-bully si kriwil dari asia timur itu.

Meninggalkan Yong Soo yang semakin cemberut menghampiri tempat duduknya.

.

=0=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=0=

.

"Ayo cepetan, Lovino. Nanti waktu pendaftarannya keburu abis!" seru Garuda.

Kini mereka sedang berada di koridor sekolah. Keduanya hendak menuju lapangan bola tempat dimana pndaftaran klub sepak bola diadakan. Yong Soo tidak ikut dengan mereka karena hari ini jadwal klub mading sekolahnya atau lebih kerennya klub jurnalistik.

Lovino melengos. "Yang mau daftar kan kamu, kenapa aku harus buru-buru?"

Garuda menghentak-hentak kecil, "Ih, tapi kan kamu udah janji mau temenin aku daftar!"

Pemuda berambut hitam berantakan itu menghampiri Lovino dan menyeret-nyeret tangannya. "Kalo aku gak bisa masuk klub sepak bola, itu semua salahmu!"

Mendengus pasrah, Lovino mengikuti Garuda ke arah lapangan di belakang sekolah yang sedang membuka pendaftaran klub sepak bola.

"Wah, banyak juga yang daftar." Garuda celingak-celinguk di pinggir lapangan. Ada beberapa anggota inti dan juga cadangan sedang berlatih bersama.

"Kamu disini aja, aku mau antri formulir." ujar Garuda.

Lovino mendengus. "Kalau lama, aku akan pergi."

"Eh, jangan tinggalin aku sendiri dong!" rengek Garuda. "Mereka semua kan tinggi-tinggi, kalo aku ilang gimana? Yang lebih parah, kalo aku diculik terus di-uke-in rame-rame gimana? Emang kamu tega, Lovi?"

Ekspresi Lovino kira-kira seperti ini: (=_=')

"Dasar Hiperbolis. Udah sana daftar, bikin pusing aja." ujar Lovino sembari mengibas-ibaskan tangan layaknya mengusir anak kucing terlantar.

"Oke!" setelahnya Garuda melesat ke antrian formulir pendaftaran.

Sambil menunggu antrian, Garuda melihat ke arah lapangan. Banyak pemain melatih ketrampilan mereka. Mulai dari dribble, sleding, salto sampai shoot bola ke gawang. Mereka juga kadang bermain satu lawan satu atau dua lawan satu. Matanya menatap berbinar, tak sabar rasanya untuk bisa bermain sepak bola dan masuk klub idamannya.

Tak sengaja, matanya terpaut pada seorang pemuda pirang jabrik yang sedang men-dribble bola di kakinya. Sempat terpikir olehnya jika si pirang jabrik itu orang yang kemarin. Namun saat ia mengarahkan pandangannya ke bangku istirahat, ia melihat si pirang jabrik yang kemarin sedang memainkan ponselnya. Berarti si pirang jabrik yang di lapangan adalah orang lain.

Garuda memusatkan pandangannya ke pemuda jabrik itu. Permainannya sungguh lincah, seperti bolanya begitu melekat pada kakinya. Dengan mudah, ia mengecoh dua-tiga lawan mainnya hingga ia sampai di depan gawang berhadapan dengan kiper. Sang kiper pun siap dengan posisinya. Saat posisinya pas, pemuda jabrik itu menendang bolanya. Sang kiper yang melihat bola mengarah ke kanan atas segera menangkapnya. Namun tak terduga, bola itu menukik merendah lalu berbelok ke kiri dan masuk ke gawang. Menciptakan gol indah yang membuat semua orang —kecuali si pirang jabrik di pinggir lapangan— menganga melihatnya. Bahkan Garuda sampai melotot kaget, tak menyangka ada juga teknik unik seperti itu.

Si pirang jabrik di lapangan langsung berteriak kegirangan. Melakukan selebrasi dengan salto ke belakang kemudian berlari ke arah seorang pemuda kurus di bangku penonton seraya merentangkan tangan untuk memeluk. Namun sayang, pemuda itu bergeser ke sebelahnya hingga pemuda jabrik itu nyungsruk ke depan dengan dahi membentur bangku. Untuk sesaat, Garuda merasa menyesal sempat mengagumi aksi selebrasinya.

"Heh, anak kecil! Mau daftar gak?"

Garuda tersentak saat suara yang terasa familiar membentaknya. Ia menoleh ke depan dan menemukan Vash Zwingly duduk di tempat formulir pendaftaran sepak bola dengan satu alis terangkat. Jangan lupakan senapan laras panjang kesayangannya tergeletak indah di sampingnya.

"Woi, denger gak sih? Kalo gak mau daftar, kami mau tutup—"

"Tu-tunggu! Tunggu! Aku mau daftar!" Garuda menghampiri senior yang sempat mengusilinya saat MOS itu secepat kilat.

Vash mendengus sambil melampirkan selembar kertas. "Nih, cepet isi. Gak pake lama."

Garuda mengangguk dan menyambar kertasnya. Secepat kilat menulis nama, umur, jenis kelamin, dan lain-lain yang selalu ada dalam formulir pendaftaran. Bedanya, ia harus menuliskan alasan bergabung dan prestasi yang pernah diraih. Selesai menulis, Garuda menyerahkan formulir itu kembali.

"Sekarang kamu antri sama pendaftar lain. Nanti kalian akan diseleksi oleh pelatih dan ketua tim." Vash menunjuk bangku para pendaftar. Menoleh ke Garuda, Vash menyeringai. "Kalau gagal itu sih 'derita lo', bocah."

Garuda merengut mendengar sindiran seniornya itu. "Aku gak akan gagal! Liat aja nanti!"

Dengan menghentak-hentakan kakinya seperti anak kecil, Garuda pergi ke bangku yang dimaksud. Meninggalkan Vash yang menahan diri untuk tidak terbahak-bahak. Sangat tidak elit jika adik kelas melihat senior mereka seperti itu.

"Sudah kuduga. Ini akan menjadi tahun yang paling menyenangkan." ucapnya santai sambil membereskan berkas formulir di tangannya dan berjalan ke arah pelatih untuk menyerahkannya.

.

=0=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=0=

.

Setelah menunggu sekian lama yang terasa seperti seabad(menurut Garuda dan itu hiperbolis), akhirnya giliran Garuda maju untuk tes. Garuda sempat kaget karena ketua tim sepak bola adalah si pirang jabrik yang kemarin mencelanya. Ia pikir ketuanya si jabrik yang satunya. Tapi mengingat kelakuan absurdnya tadi, Garuda tidak heran jika si jabrik itu hanya menjadi striker. Garuda tidak bisa membayangkan jika si jabrik hiperaktif itu jadi ketua tim. Yang ada, tim tidak bisa kompak gegara punya ketua aneh bin ajaib kayak dia. Oke, itu cukup melantur.

Garuda mendongak menatap Willem yang balik menatapnya datar, di tangannya terdapat bola sepak. Willem meletakan bola di depan kaki Garuda. Masih menatap Garuda dengan datar, ia berkata. "Masih berani masuk klub juga rupanya. Padahal sudah tahu kemampuanmu payah."

Garuda melotot, "Walau aku payah, aku gak akan menyerah sampai aku bisa main sepak bola!"

Willem tersenyum mencela. "Kita buktikan bila ucapanmu bukan omong kosong belaka."

"Oke! Kalau aku berhasil lolos, jangan sampai kau menangis karena malu!" tunjuk Garuda kesal.

Willem menggigit pipi bagian dalamnya, menahan tawa yang hendak keluar. Tanpa membalas ucapan Garuda, Willem mundur hingga berdiri di samping sang pelatih.

'Lihat saja, akan kubuat kau kagum dengan permainanku, tulip jabrik!' tekad Garuda.

Peluit telah dibunyikan tanda tes dimulai. Garuda membawa bola di kakinya. Para anggota cadangan yang dipersiapkan untuk tes calon anggota baru, mulai di posisi masing-masing. Satu orang menghadang Garuda, namun dengan gesit Garuda menghindar dan terus membawa bola. Pemain kedua dan ketiga datang dengan teknik sleding. Garuda melompat dengan bola mengapit di kedua kakinya. Setelah melewati rintangan tadi, kembali dua pemain menghadang. Kali ini tubuh mereka tinggi dan besar, cukup sulit bagi Garuda mempertahankan bolanya. Menimbang-nimbang jika tetap seperti ini akan memakan waktu lama, Garuda menggulirkan bola dengan kencang melewati celah kaki seorang pemain lalu dia menyelip dicelah kaki pemain lainnya dan segera mengejar bolanya.

Sang pelatih bersiul melihat permainan Garuda, sedangkan Willem hanya menatap datar sambil bersidekap tangan di dada.

Setelah lima orang terlewati, kini Garuda berhadapan dengan kiper yang siaga di depan gawang. Bersiap dengan posisinya, Garuda menendang bola dengan kaki kanannya. Bola melesat ke arah kiri dengan kiper siap menangkapnya. Namun bola membentur tiang gawang. Membuat orang-orang yang menonton berdecak kecewa.

"MASIH BELUM!" teriak Garuda.

Berlari menyongsong bola yang masih melambung, Garuda melompat. Salto di udara menendang bola dengan kaki kiri. Bola melesat cepat ke sudut bawah kanan gawang. Kiper yang tidak sempat menangkap bola tadi bergegas menghalau dengan sebelah tangan. Berhasil, bola membentur tangan kiper dan kembali melambung ke udara. Semua orang menahan napas.

"INI YANG TERAKHIR!" teriak Garuda keras.

Garuda melesat cepat ke arah bola yang menukik rendah ke arahnya. Tidak tanggung-tanggung, Garuda menggunakan dahinya untuk menyundul bola dan bolanya melesat masuk ke dalam gawang tanpa bisa dicegah sang kiper.

PRIIITT

Gol pun tercipta dan semua orang yang menahan napas kini bersorak ramai. Garuda meloncat-loncat kegirangan melihat keberhasilannya. Para pendaftar banyak yang menghambur ke arahnya, memeluknya hingga mereka semua saling menimpa satu sama lain dengan Garuda paling bawah yang kini bernapas megap-megap layaknya ikan terdampar di daratan. Dan Garuda bersyukur orang-orang yang memeluknya memiliki fisik yang sama dengannya. Hanya beberapa yang bertubuh tinggi.

Lovino yang melihat kawannya hampir pejret ditumpukan orang-orang itu, melotot kaget. Buru-buru ia menghampiri tumpukan itu dan menyingkirkan orang-orang yang menindih Garuda. Garuda sendiri hanya bisa bernapas lega, saat Lovino selesai menyingkirkan orang-orang itu dan membantunya berdiri.

"Aku hebat, kan? Hehe.." setelah mengucapkan itu, Garuda pun pingsan.

Lovino yang memapahnya hanya bisa geleng-geleng kepala dan memelototi orang-orang yang sudah membuat Garuda pingsan. Para pendaftar pun hanya bersiul-siul, beberapa saling sikut-menyikut dan beberapa menampakan wajah ingin menangis karena diplototi tajam oleh Lovino.

Sang pelatih bersama Willem dibelakangnya menghampiri Lovino. "Maaf ya, membuatmu melihat hal anarkis ini. Tahun kemarin pun Willem bernasib sama dengan temanmu." Pelatih menunjuk Willem dengan jempolnya, membuat perempatan mampir di dahinya. "Bedanya dia tidak pingsan."

"Yah, kurasa itu sudah jadi agenda tahunan, melihat betapa antusiasnya orang-orang itu." ujar Lovino sambil menggaruk kepalanya.

"Hoho, begitulah." Sang pelatih ber-name tag Loreno Fernandez Carriedo itu tersenyum ceria yang membuat Lovino teringat pada pemuda berambut coklat berantakan dan bermata hijau.

"Apa anda kakaknya tomato —maksudku senior Antonio?" tanya Lovino penasaran.

Loreno mengangkat alis heran, namun setelahnya ia tersenyum. "Iya, kau kenal adikku?"

Lovino mengangguk. "Begitulah."

"LORENOOOOOO~" teriak sebuah suara dari kejauhan.

Saat mereka menoleh, Antonio sudah berada di depan mereka.

"Sudah kubilang panggil aku pelatih, dasar bocah!" Loreno menjitak kepala Antonio. "Kau membolos lagi, ya!?"

Antonio mengusap kepalanya, "Maaf, tadi ada urusan sama Gilbert dan Francis." kemudian menoleh ke sampingnya. "Wah, ada Lovino!"

Lovino memalingkan wajah. "Be-berisik! Dasar tomato bastardo!"

Antonio sweatdrop. Lagi-lagi dia dikatain sama bocah unyu ini.

"Loh, Garuda kok pingsan?" tanya Antonio yang baru ngeh.

"Abis tes. Berhasil masukin bola terus ditindih para pendaftar. Persis kayak Willem tahun kemarin." jelas Loreno.

Willem mendengus dan hendak beranjak, namun kaos belakangnya ditarik oleh Loreno. "Apalagi? Aku sudah tidak ada urusan disini."

"Hee, siapa bilang?" Loreno senyum licik. "Sekarang kamu bawa Garuda ke uks."

"Kenapa harus aku?" tanya Willem tidak terima.

"Kan kau ketua tim dan dia anggota kita sekarang." ujar Loreno.

Willem berdecak kesal.

Loreno senyum kemenangan.

Willem mengambil alih Garuda dari Lovino dan menggendong Garuda ala karung di bahunya. Kemudian pergi meninggalkan mereka di lapangan. Sempat membuat Lovino terkesima karena si tulip jabrik itu dengan mudahnya membawa Garuda dan kini ia menyesal karena sejak kecil selalu menolak minum susu.

"Lovino kok diem, sih?" tanya Antonio kepo.

Lovino mendelik. "Kenapa? Masalah buatmu?" kemudian berbalik pergi meninggalkan Antonio dan Loreno disana.

Antonio merengut, "Aku salah apa sih?"

Loreno menepuk pundak Antonio, "Sabar, Ton. Menaklukan uke tsundere itu memang susah." kemudian pergi memantau timnya yang masih berlatih.

Meninggalkan Antonio yang menganga mendengar ucapan sang kakak. Tak lupa dengan semburat tipis menghiasi pipinya.

"Maksudmu apa, Lorenooo?" Antonio berlari menghampiri kakaknya yang sama sekali tak mengacuhkan rengekan adiknya.

Poor Antonio.

.

=0=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=0=

.

"..Mmh.."

Garuda membuka matanya. Ia melihat langit-langit berwarna putih dan juga mencium bau obat-obatan dan antiseptik. Mengedarkan pandangan, Garuda mendapati Willem terduduk di sampingnya sambil bersidekap tangan dengan mata tertutup. Sepertinya ia tertidur.

Garuda mendudukan dirinya di tempat tidur. Ia menatap wajah Willem yang tertidur. Kalau seperti ini, Garuda tidak akan pernah mengira jika si tulip jabrik ini orang yang ketus. Wajahnya begitu tenang. Membuat Garuda sedikit terpana.

Garuda mendekat untuk menatap lebih lama wajah Willem. Kulitnya yang putih, Alisnya tergaris sempurna menyatu dengan hidung yang mancung, bibir tipis berwarna pink pucat, dagu yang panjang serta garis rahang yang tegas. Jangan lupakan bekas luka vertikal di dahinya yang membuatnya terkesan bad boy, namun disitulah letak menariknya. Menurutnya, Willem mempunyai wajah yang tampan yang diidamkan setiap kaum adam dan disukai kaum hawa. Kalau saja Garuda perempuan, ia pasti sudah menjerit-jerit histeris dan langsung melompat ke pelukan pria tampan itu. Oke, itu sedikit lebay.

Saat Garuda semakin mendekat untuk meneliti(atau lebih tepatnya mengagumi) wajah pria bule itu, mata yang tertutup itu tiba-tiba terbuka dan langsung menatapnya. Garuda terlonjak kaget, dan berniat menjauh namun tangannya yang tadi hendak menyentuh rambut pirangnya dicekal.

BRUKK

Entah bagaimana, kini ia terbaring di ranjang dengan Willem menindihnya. Jantung Garuda berdebar kencang. Selain karena ketahuan menatapi wajah pria di atasnya, mata emerald-nya kini menatap tajam padanya.

"Se-senior.."

"Jangan panggil aku senior jika bukan di lapangan." Willem merendahkan wajahnya menatap Garuda lekat. "Panggil aku Willem."

Jantung Garuda hampir berhenti berdetak saat Willem menyurukan wajahnya di ceruk lehernya dan bernapas disana. Garuda menahan napas saat Willem mengecup tulang selangkanya dan memeluknya erat.

'K-KENAPA BISA BEGINIIII~?!'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

_TO BE CONTINUED_

A/n:

Hai~ faz datang lagi bawa lanjutannya. Apakah ini cukup somplak dan bikin greget? Semoga faz gak gagal kali ini. *ngaistanah*

Nah, disini ada petunjuknya kan kenapa Ludwig benci Gilbro? Maaf ya kalo masalah mereka masih putih abu2 disini. Dan maaf juga BTT gak muncul(cuman Antonio aja). Di chap depan mereka muncul. ^^

Dan, kenapa Garuda nangis? Hayoo? Mau tau? Mau tau? Tungguin aja chap depan. #diinjekinjek

Daaan, mau ngapain itu Willem? Asdfghjkl *histeris sendiri* masa mau nganu Garu sih? *Q* ehm, maaf cliffhanger lagi. Hehe /slapped/

Uhuk, okelah. Stay tune aja terus. XD

Oh, ya. Minna-san keberatan gak kalo genre-nya ditambah Romance? Faz pengen nanya pendapat minna-san aja sih cocok apa enggak Romance dimasukin. Kalo gak, berarti hint2 pair yang ada cuman jadi pemanis cerita dan fanservice aja. Faz sih mau ada sho-ai atau friendship aja juga oke2 aja. ^^ /keplaked/

Big Thanks for Readers, Reviewer, Visitor, Viewer, Follow, Favorite, Alert, Guest, and Silent Readers.

I LUPH YU ALL~ :*

So...

Have a nice day, sweet people~ ^o^)/

.

.

.

Last,

Review? ;)

Jaa, ne~