_Sebelumnya_
Saat Garuda semakin mendekat untuk meneliti(atau lebih tepatnya mengagumi) wajah pria bule itu, mata yang tertutup itu tiba-tiba terbuka dan langsung menatapnya. Garuda terlonjak kaget, dan berniat menjauh namun tangannya yang tadi hendak menyentuh rambut pirangnya dicekal.
BRUKK
Entah bagaimana, kini ia terbaring di ranjang dengan Willem menindihnya. Jantung Garuda berdebar kencang. Selain karena ketahuan menatapi wajah pria di atasnya, mata emerald-nya kini menatap tajam padanya.
"Se-senior.."
"Jangan panggil aku senior jika bukan di lapangan." Willem merendahkan wajahnya menatap Garuda lekat. "Panggil aku Willem."
Jantung Garuda hampir berhenti berdetak saat Willem menyurukan wajahnya di ceruk lehernya dan bernapas disana. Garuda menahan napas saat Willem mengecup tulang selangkanya dan memeluknya erat.
'K-KENAPA BISA BEGINIIII~?!'
.
.
.
.
.
=x0x=x0x=
Disclaimer : Hetalia punya om Hidekaz dan belum berpindah hak kepemilikan kepada siapapun. Apalagi faz. =_=
Warning : OOC, Gajeness, abal, bahasa tidak baku, typo, alur ngebut kayak f1, dll.
Okelah, Happy Reading Nyaw~ ^o^)/
.
=x0x=x0x=
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
=x0x=x0x=
.
.
.
.
.
'Duh, gimana nih? Kenapa ini bule malah nindihin gue? Mau diapain gue? Siapapun tolongin gueee!'
Meski berusaha meronta, Garuda tak bisa banyak bergerak dalam pelukan Willem. Batinnya menjerit-jerit histeris, berharap ada seseorang yang menolongnya keluar dari situasi yang terjepit begini. Tubuhnya merinding karena wajah Willem amat dekat dengan permukaan lehernya, terutama napas teraturnya mengirimkan friksi aneh yang ingin membuat Garuda lebih memilih nyemplung ke empang gurame ketimbang merasakan hal itu.
Saat ingin melepas lengan Willem yang melilit pinggangnya, Garuda baru sadar jika Willem tidak banyak bergerak. Dadanya pun naik-turun dengan teratur. Saat Garuda memperhatikannya dengan seksama, ia tersentak.
'Pantesan nih bule gak bukain baju gue. Ternyata dia tidur toh.'
Eh?
Garuda melotot.
"Gue mikir apaaa?! Masa iya gue pengen dia ngebuka baju gue, sih? Yang bener ajaaa!?" jerit Garuda histeris sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Berisik!"
Garuda menoleh dan melihat Willem membuka sedikit matanya. Garuda membelalak horor. "Kok, kamu udah bangun sih?!"
Willem menguap, "Siapa yang bisa tidur jika ada anak autis yang berteriak-teriak di sampingmu?"
Garuda membuka mulut hendak protes namun tak ada yang keluar hingga berakhir dengan dirinya yang hanya membuka-tutup mulutnya layaknya ikan yang terdampar di daratan.
"Suaramu itu sangat mengganggu, tahu. Bisa kan kau diam supaya aku bisa tidur? Jangan udah autis, blo'on juga." ujar Willem santai sambil berbaring menyamping, membelakangi Garuda.
Alis Garuda berkedut kesal. Tidak terima ucapan Willem, Garuda pun langsung memukuli badan pemuda bule itu. "Enak aja! Siapa yang lo sebut autis, hah!? Sialan! Rasain nih! Ciaaat!"
Willem menelungkup guna melindungi wajahnya dari pukulan Garuda. Sebenarnya pukulan Garuda tidaklah keras, tapi Willem tidak suka jika wajahnya disentuh orang lain. Willem menggeram saat Garuda menindih punggungnya dengan punggung pemuda kurus itu sendiri. Berguling-guling disana layaknya bocah ingusan yang baru pertama kali menemukan permainan seru. Dan sepertinya tak ada niat berhenti dari pemuda kecil itu.
"Rasain nih! Jurus jambak congcorang! Hiaaat!" teriak Garuda sambil menjambak rambut Willem juga mengunyeng-unyeng kepalanya.
Willem mengerang kesal. "Berhenti sebelum kau menyesal, pendek!" Willem mengancam, tangannya memegangi tangan Garuda yang meronta-ronta liar.
"Tidak akan!" teriak Garuda semakin anarkis menggerak-gerakan tangannya hingga..
PLAK
..tanpa sengaja menggeplak dahi Willem yang mendadak terdiam.
Garuda membeku. Matanya melirik wajah Willem yang tak berekspresi. Saat emerald tajam itu meliriknya, Garuda langsung melompat dari ranjang. Berlari menjauhi Willem. Willem reflek mengejarnya hingga kini mereka berkejaran mengelilingi ranjang uks.
"GYAAAAA MAAF! JANGAN KEJAR GUE LAGI, PLEASEEEE AAAAAAA"
"SEENAKNYA MENAMPAR JIDAT ORANG! SINI KAU PENDEK!"
"TIDAAAAAK!"
Mereka terus berkejaran mengelilingi ranjang yang ada, kadang juga mengelilingi meja dan menembus tirai. Sampai Willem berhasil memegang lengan Garuda dengan ekspresi licik. Namun karena keseimbangannya goyah(terutama Garuda yang ditarik keras.), langsung jatuh berdebum di lantai. Keduanya meringis nyeri sebelum menyadari posisi mereka. Willem terdiam melihat Garuda menindihnya sementara Garuda tercengang mendapati Willem ada di bawahnya. Reflek Garuda buru-buru duduk yang membuat pantatnya tanpa sengaja menggesek sesuatu di tengah selangkangan Willem, membuat pemuda bule itu sedikit mendesah. Warna merah langsung menyerbu wajah Garuda saat dirinya menatap Willem yang juga memerah. Ekspresinya sulit diartikan.
Satu menit berlalu dalam keheningan. Dengan hati-hati, Willem setengah bangkit dengan siku menyangga di belakang tubuhnya. Menatap Garuda yang masih terpana, kedua tangannya berada di perut Willem guna menopang tubuhnya perlahan terlepas. Garuda masih menatap mata emerald yang tak lepas darinya dan tanpa sadar menahan napas saat wajah Willem mendekat padanya. Sapuan napas hangat Willem menerpa wajah Garuda, membuatnya menelan ludah. Jantungnya berdebar keras saat Willem menutup matanya tanpa menghentikan wajahnya yang mendekat. Seakan terhipnotis, Garuda ikut memejamkan matanya saat ujung hidung mereka bersentuhan, menanti sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.
BRAK
"GARUDA! KAU TIDAK APA-APA, DAZE?!"
Mereka membuka mata dan tanpa menjauh keduanya melihat ke arah pintu dimana Yong Soo menatap mereka dengan wajah pucat pasi seperti baru saja menyaksikan lemon yaoi secara live. Err, sebenarnya keadaan Garuda dan Willem saat ini agak termasuk dalam kategori tersebut. Willem yang bersandar tangan di belakang tubuhnya dengan sebelah tangan memegangi pinggang Garuda yang terduduk di atas selangkangannya dengan tangan melingkar di sekitar lehernya. Entah sejak kapan tangan Garuda mengalung manja disana. Membuat siapapun yang melihat pasti salah paham dan memikirkan hal-hal berbau rated M.
Hal terakhir yang Yong Soo ucapkan sebelum kegelapan menyambutnya adalah..
"Akh. Oh my daze."
BRUK
.
.
=x0x=x0x=
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
=x0x=x0x=
.
.
"Udah dong, Yong Soo. Jangan ngambek terus. Yang tadi itu cuman kecelakaan, serius deh."
Sudah berkali-kali Garuda merayu Yong Soo agar tidak menggerutu tentang kejadian luar biasa yang dilihatnya, namun berkali-kali pula Yong Soo mengabaikannya. Pemuda dengan curl itu tetap murung dan lebih memilih pundung di pojokan koridor, menggambar bulat-bulat di lantai memakai jarinya dengan aura depresi yang luar biasa. Kata-kata 'Sungguh teganya dirimu. Teganya, teganya, teganya.' terus meluncur mulus dari mulutnya. Sukses mengundang perhatian para murid yang berlalu lalang. Banyak yang mengiba namun banyak pula yang sweatdrop. Ada beberapa murid yang kepo pengen liat, ada juga yang berlalu tidak peduli. Ada beberapa yang berdecak kagum, selfie dengan latar Yong Soo depresi, atau memotret Yong Soo untuk kemudian dijadikan meme lalu di upload ke jejaring sosial. Sungguh murid yang aneh bin ajaib. =_=
"Please, udahan dong ngambeknya. Kita diliatin banyak orang, nih." ucap Garuda mengguncang-guncang bahu Yong Soo.
Yong Soo menoleh ke belakang, menatap Garuda dengan wajah muram durja. "Kalo malu diliatin orang, tinggalin aja aku sendiri disini, dazee.."
Garuda meringis tidak enak hati. "Duh, bukan gitu maksudku. Kok kamu baperan, sih?"
Yong Soo melengos, "Siapa yang gak baperan kalo liat orang yang dia suka malah mesra-mesraan sama orang lain, daze? Sampai pangku-pangkuan lagi."
Garuda meringis lagi. Ia menoleh ke Lovino yang sedaritadi berdiam diri. Meminta bantuan lewat tatapan mata. Lovino mendengus.
"Sudah, berhentilah merengek tidak jelas! Merengek tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula." ketus Lovino. Matanya beralih menatap Garuda tajam. "Kau juga! Untuk apa kau bermesraan dengan orang yang baru saja kau kenal, hah!?"
Garuda mengerang, "Sudah kubilang itu cuman kecelakaan! Aku gak mesra-mesraan sama senior Willem. Aku gak sengaja nampar dahinya dan dia kejar-kejar aku. Pas dia menangkap tanganku, kami kehilangan keseimbangan dan jatuh. Dan kebetulan aja aku jatuh di atasnya. Sumpah, itu cuman kecelakaan, kok."
Lovino menekuk alis kesal, "Tapi tetap saja itu salahmu. Kenapa kau ceroboh dengan jatuh di atasnya?!" sinisnya. Terselip rasa iri dan cemburu dalam nada bicaranya. Harusnya Garuda di atasnya, bukan di atas si tulip jabrik itu!
Eh?
'Ish, salah! Harusnya aku yang di atas Garuda, kan aku yang seme. Gimana, sih?' Batin Lovino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Bayangan dirinya ada di bawah Garuda membuatnya merinding sendiri. Lebih baik dia di-uke-in Antonio deh, daripada Garuda. Nah, loh?
"Ya, aku kan gak tau kalo jadinya malah begitu!" ucap Garuda membela diri.
"Ya, sudah. Lupakan saja yang sudah terjadi. Dan kau, Yong Soo." Lovino menunjuk Yong Soo dengan wajah garang. "Kalau kau masih begitu saja, terpaksa aku akan sms saudara kembarmu untuk mengurusmu nanti."
"UAPAH?!" Yong Soo berjengit, matanya melotot kepada Lovino. "Please-lah, daze! Jangan panggil Hyung Soo, aku gak mau berurusan dengannya. Aku masih mau hidup! Hiii~" ujarnya sambil bergidik ngeri.
"Eh, Yong Soo punya saudara kembar?" tanya Garuda kepo.
Lovino mengangguk, "Iya. Emang baru tau? Saudara kembarnya satu klub denganku."
Garuda menggumam, "Err, apa sifat mereka sama?"
"Tidak. Beda jauh malah. Hyung Soo orangnya lebih kalem. Gak kayak toge satu ini!" ujarnya dengan telunjuk yang reflek mengarah ke bawah, tepat ke kepala Yong Soo.
"Heh, seenaknya nunjuk-nunjuk, daze! Gak sopan tau!" sinis Yong Soo seraya menyingkirkan jari Lovino yang menempel kepalanya. "Lagian, siapa yang toge, daze?!"
Lovino menatapnya datar, "Kau. Memang siapa lagi?"
"Grrr.."
"Eh, udah-udah. Jangan berantem." Garuda melerai keduanya yang saling melempar deathglare andalan masing-masing. "Kalian kayak bocah, tau gak?"
Yong Soo menatapnya cemberut, "Kau sungguh tidak ada main dengan senior Anderson kan, daze?" tanyanya sambil menggenggam kedua tangan Garuda dan menatapnya intens.
Garuda bergerak kikuk, apalagi saat dahi Yong Soo menyentuh dahinya dan matanya tak lepas menatap mata Garuda yang melirik ke arah lain. "I-iya. Aku gak ada main sama senior Anderson atau siapapun."
"Bener?"
"I-iya, bener."
"Kalo bener cium aku, dong."
PLAK
"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, deh." sinis Lovino setelah menggeplak kepala Yong Soo hingga miring. Tangannya memisahkan genggaman keduanya, jelas sekali bila ia ohokcemburuohok. "Kalian berdua bikin orang sakit mata, tahu."
Setelah mengucapkan itu, Lovino melengos pergi meninggalkan keduanya yang hanya melongo diam.
Garuda tersentak dan menarik tangan Yong Soo untuk mengejar Lovino yang sudah jauh. "Hei, tunggu kami Lovino!"
.
.
=x0x=x0x=
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
=x0x=x0x=
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Garuda yang tinggal sendiri di kelas karena harus remedial matematika baru saja menyelesaikan remedialnya dan buru-buru membereskan peralatan tulisnya saat guru matematikanya sudah keluar kelas. Garuda menyampirkan tasnya di bahu dan langsung keluar kelas.
Koridor begitu sepi, karena memang sebagian besar siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang tinggal hanyalah siswa-siswa yang memiliki jadwal klub. Garuda mempercepat langkah kakinya karena ia harus mampir ke toko buku untuk membeli buku tulis yang hampir habis di lemari meja belajarnya.
Saat hampir menuruni tangga, sayup-sayup telinganya mendengar suara yang familiar seperti sedang bercakap-cakap. Menghentikan niat untuk pulang, Garuda menelusuri asal suara tersebut. Saat ia sampai di sebuah kelas kosong, matanya menangkap sosok Gilbert dan Ludwig disana. Ludwig menatap nyalang pada Gilbert yang terdiam menatapnya.
"Sudah kubilang berhenti mengurusi geng tidak jelasmu! Memang apa yang kau dapatkan dari hal itu, hah?" ujar Ludwig geram.
Gilbert menatap datar, "Memang aku tidak dapat apa-apa. Tapi aku tidak mungkin melepas tanggung jawab begitu saja. Mereka adalah kelompokku dan aku ketua mereka. Aku harus mengurus mereka."
"Bahkan jika salah satu anak buahmu terjerat mafia dan narkoba?!" sentak Ludwig.
Garuda berjengit, dengan reflek menutup mulut dengan kedua tangannya. Punggungnya menempel erat di dinding.
Gilbert membelalak, "Darimana kau—"
"Jangan tanya darimana aku tahu! Yang penting sekarang, bagaimana kau menyelesaikannya? Kau tahu mafia itu seperti apa, kan?" ujar Ludwig dengan tubuh bergetar. "Meski kau punya banyak uang, sekali mencari masalah dengan mafia, kau tidak akan lepas darinya. Apa kau tidak pernah mendengar pepatah 'mata dibayar mata.', hah!?"
Gilbert menghela napas, "Meski begitu aku akan tetap menyelesaikan masalahku se—"
"Itu masalah orang lain! Bukan masalahmu, idiot!" jerit Ludwig frustasi. "Berapa kali lagi aku harus mengingatkanmu hal itu?!"
Gilbert menekuk alis kesal. "Sudah kubilang berapa kali juga jika ini bukan urusanmu, Lud! Aku hanya perlu menyesaikan masalahku sendiri. Kau cukup diam saja."
Ludwig menunduk dengan tubuh bergetar menahan emosi yang ingin meledak.
"Kau tahu, Gil. Betapa aku ingin menghancurkan gengmu."
Gilbert tercengang mendengar ucapan adiknya. "Apa maksudmu?"
"Karena gengmu, kau berubah. Karena gengmu, kau tidak peduli lagi pada apapun termasuk aku."
Gilbert tercekat, kepalanya menggeleng pelan. "Kau salah. Aku tidak—"
"Ya! Kau telah berubah, Gil." Ludwig mengangkat wajahnya, menatap dengan sorot terluka. "Aku bahkan ragu kau mengingat semua yang telah kita lakukan."
"LUDWIG BEILSMIDHT!" seru Gilbert marah.
"Cukup, Gil. Tak perlu kau ucapkan apapun lagi. Aku kini mengerti mengapa aku selalu merasa ada yang salah padamu." Ludwig tersenyum meremehkan. "Kurasa karena kau bukan lagi dirimu yang dulu. Aku bahkan tidak bisa mengenali lagi kau sebagai kakakku."
Gilbert menatap kosong. Jantungnya serasa berhenti saat mendapati ekspresi dingin Ludwig padanya.
"Kurasa itulah alasanku membencimu selama ini, Gilbert Beilsmidht."
Ludwig berjalan ke pintu kelas. Ia berhenti sebentar dan menoleh pada Gilbert yang mematung di tempatnya berdiri. Memberikannya pandangan sedingin mungkin.
"Setelah ini kau bebas melakukan apapun yang kau mau, aku tidak akan melarangmu. Tapi.." Ludwig menjeda kalimatnya sebentar. "Jika terjadi sesuatu padamu dan juga gengmu, jangan harap aku ada di sampingmu. Karena aku sudah tidak peduli lagi."
Ludwig melanjutkan langkahnya keluar kelas. Matanya melirik sekilas Garuda yang ada di samping pintu. Mata hitam keabu-abuan itu menatapnya dengan pandangan sulit diartikan sebelum ia memalingkan wajah dan meninggalkan pemuda kurus itu disana.
Garuda melepas tangannya dari mulut. Baru sadar jika ia sudah menahan napas begitu lama. Dadanya naik-turun dengan tangan mengepal di depan mulutnya. Matanya masih membelalak syok dan hanya mampu menatap lantai. Kakinya sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya, sehingga kini ia merosot duduk di lantai.
Tubuhnya bergetar, terlebih saat mendengar auman marah Gilbert dan barang-barang yang terlempar kasar ke sembarang arah.
'Tidak. Kenapa bisa begini? Kenapa bisa sama?' Batin Garuda tidak percaya. Kepalanya menggeleng keras.
'Aku— aku harus menghentikan tindakan Ludwig. Harus.'
Sekuat tenaga, Garuda berdiri dan memaksa berlari untuk mengejar Ludwig.
Setelah melewati koridor dan beberapa anak tangga, Garuda sampai di pintu keluar sekolah. Matanya mengedar ke segala arah dan menyipit ketika sosok yang dicarinya begitu jauh di depan gerbang hendak keluar.
Memaksa sekuat tenaga kakinya yang terasa seperti jelly, Garuda berteriak. "LUDWIG! TUNGGU!"
Dengan suasana yang sepi, tidak sulit bagi Ludwig mendengar. Pemuda berambut pirang klimis itu menoleh dan mendapati Garuda yang berlari lambat ke arahnya sambil melambaikan tangan. "TUNGGU! JANGAN PERGI DULU!"
Ludwig mengernyitkan alis melihat tingkah Garuda. Menurutnya, Garuda melakukan hal yang tidak perlu.
Saat jarak diantara mereka menipis, Garuda meraih lengan seragam Ludwig dan menumpu pada lututnya. Menetralkan napas yang terengah-engah. Garuda menengadah dengan mata sedikit berair. "Kumohon Ludwig, jangan lakukan itu."
"Apa maksudmu?" tanya Ludwig bingung.
Garuda berkata mantap, "Tolong jangan tinggalkan kakakmu sepertu itu. Walau bagaimanapun, kau adalah saudaranya. Hanya kau yang dia punya."
Ludwig tersenyum mencemooh, "Benarkah? Lantas kenapa ia tidak mendengarkan perkataanku dan bersikeras mengurusi masalah-nya?"
Garuda menggeleng cepat, "Kumohon jangan berprasangka begitu. Suatu saat kau akan mengerti alasannya."
"Cih! Aku tidak akan pernah mengerti apa yang dilakukannya atau alasan dibaliknya." Ludwig hendak berbalik sebelum tangan Garuda menarik lengan seragamnya, mencegahnya pergi.
Ludwig yang lelah dan berniat mendamprat Garuda mendadak terdiam saat melihat tatapan tajam dan seriusnya.
"Jika kau tidak mengerti, aku akan membuatmu mengerti." ujar Garuda pelan.
'Matanya benar-benar serius.' Batin Ludwig.
Menghela napas, Garuda berkata. "Ikutlah denganku ke suatu tempat."
Ludwig mengernyit heran. "Kemana?"
Garuda menggeleng, "Ikutlah."
"Dan kau akan mengerti nanti.."
Ludwig terdiam.
.
.
=x0x=x0x=
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
=x0x=x0x=
.
.
"Kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Ludwig bingung.
Namun tak satupun pertanyaan Ludwig ia jawab. Matanya hanya memandang lurus dengan tubuh tegap melangkah di koridor rumah sakit. Sehingga Ludwig memutuskan untuk diam dan mengikuti setiap langkah Garuda.
Setelah beberapa kali belokan, mereka berhenti di sebuah ruangan dengan nomor 312. Garuda menggeser pintu, membiarkan Ludwig ikut masuk kemudian menutupnya. Garuda melangkah ke arah ranjang pasien diikuti Ludwig. Sebenarnya Ludwig penasaran siapa pasien di ranjang itu dan apa hubungannya dengan Garuda, namun saat ini ia lebih memilih diam dan memperhatikan setiap gerakan Garuda yang membenahi selimut si pasien dan menyisir helai rambut yang menutupi dahinya. Jika dilihat sekilas, Ludwig bisa menangkap persamaan antara pasien itu dan Garuda. Sama-sama bertubuh kurus. Berambut coklat —meski milik Garuda agak kehitaman— juga kulit mereka berwarna tan. Wajah mereka juga agak mirip. Mungkinkah..
"Namanya Ramli Eka Mandala. Kami adalah saudara kembar tak identik. Kami hanya tinggal berdua karena orang tua kami sudah meninggal. Hanya dia satu-satunya keluarga yang kupunya." ujar Garuda tenang.
Ludwig tak tahu bagaimana harus menanggapi.
"Sudah tiga bulan Ramli terbaring disini. Koma. Kepalanya mendapat benturan saat menyelamatkan temannya yang disandera mafia."
Ludwig terlonjak, matanya mengarah pada Garuda.
"Masalahnya sedikit-banyak sama dengan yang dialami kakakmu." Garuda meliriknya sebentar sebelum menatap Ramli lagi. Sinarnya terlihat redup. "Temannya adalah penyeludup narkoba. Dan saat itu pelangannya adalah salah satu mafia di pinggir kota. Entah bagaimana, para mafia itu menganggap temannya tak mengirimkan narkoba pada mereka sementara uang sudah dibayar dimuka."
"Karena tidak terima, para mafia itu menangkap dan memukulinya. Dan entah bagaimana Ramli mengetahui hal itu dan berniat menyelamatkannya. Namun saat itu aku mencegahnya. Semua itu adalah masalah temannya dan bukan masalahnya. Ia tidak punya kewajiban bertanggung jawab karena ia memang tidak terlibat. Aku bersikeras menahannya dan mengancam akan membencinya seumur hidup. Persis sepertimu, Ludwig."
Ludwig menggigit pipi bagian dalam. Menelan kembali apa yang ingin terucap. Bukan saatnya ia bersuara.
"Namun Ramli sama keras kepalanya dengan kakakmu. Ah, tidak. Dia lebih kepala batu. Tanpa membicarakan apapun padaku, dia langsung mendatangi markas mafia itu tanpa mempersiapkan apapun dan babak belur disana. Untunglah saat itu, polisi yang mendapat laporan aneh di sekitar markas mafia itu mendatanginya. Setelah melumpuhkan beberapa mafia —beberapa berhasil kabur dan polisi mengejarnya, mereka menemukan Ramli dan temannya lalu segera melarikan keduanya ke rumah sakit. Dan setelah beberapa hari berlalu, Ramli langsung koma hingga sekarang."
Garuda menunduk. Tangannya meremas tangan Ramli yang terbaring.
"Kau tahu? Betapa aku sangat menyesal tidak menghentikannya. Ya, aku keras kepala sepertimu. Setiap hari aku mengingatkan dan melarangnya untuk melakukan hal berbahaya, setiap hari pula aku diabaikan. Karena lelah, aku memutuskan untuk berhenti melarangnya pergi dan aku tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini."
Ludwig mendekati Garuda. Tangannya meremas pundak Garuda yang bergetar.
"Seharusnya kau bersyukur. Kau memiliki kakak yang masih ada di sampingmu meski kau sering membentaknya. Kakakmu masih ada di depanmu dan berbicara. Kau masih bisa melihat ekspresi wajahnya. Tawanya, marahnya, sedihnya. Kau beruntung masih bisa melihatnya. Sedangkan aku.. hiks.. aku.."
Ludwig menarik Garuda dalam pelukannya. Memejamkan matanya kala ia mendengar isakan Garuda mengeras.
"Aku sungguh.. sangat menyesal kala itu tidak menghentikannya. Hiks.. ji-jika saja waktu itu.. aku menghentikannya.. hiks.. semua ini pasti takkan terjadi. Pasti.. hiks, p-pasti saat ini.. aku masih bisa.. bi-bisa bicara padanya. Menatap wajah tawanya.. s-senyumnya.. hiks, aku.. aku sungguh.. sungguh kakak yang tidak berguna.. hiks huhuuhhuuu.." Garuda meremas baju di punggung Ludwig. Isakannya semakin keras, membuat Ludwig memeluknya lebih erat. Meski belum lama mengenal, Ludwig tahu jika Garuda pemuda yang ceria dan bersemangat. Tapi jika harus menghadapi Garuda yang rapuh seperti ini, rasanya..
"Huuhhuu.. aku sungguh, hiks.. tidak berguna. A-apa yang sudah.. kulakukan? Huhuhhuu.. hiks.. adikku terbaring koma.. sedangkan aku.. seenaknya hidup disini.. a-aku tidak.. tidak pantas hidup.."
"Sshhh, jangan bicara begitu. Kau pantas hidup, Garuda. Kau pantas.." ujar Ludwig berat sambil mengelus punggung dan rambut Garuda bergantian. Membuat isakan dan guncangan tubuh Garuda semakin kencang. Tak ada yang bisa Ludwig lakukan selain memeluk pemuda kurus itu lebih erat. Hatinya terasa sesak mendengar ucapan Garuda hingga tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah.
"Jika aku jadi Ramli dan kau ada diposisi temannya, akupun pasti tanpa ragu akan mengorbankan nyawaku untuk melindungimu. Jadi, kumohon berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Ramli pasti tidak akan suka." ujar Ludwig. Suaranya bergetar. "Kau pantas untuk hidup, Garuda."
"..Pantas.."
.
.
=x0x=x0x=
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
=x0x=x0x=
.
.
Keduanya pulang dari rumah sakit dan berjalan dalam diam. Tak seorangpun berani mengeluarkan suara hingga menimbulkan hening yang agak kaku. Keduanya canggung untuk membicarakan sesuatu setelah apa yang baru saja terjadi diantara mereka. Terutama Garuda yang selalu bergerak gelisah di samping Ludwig.
Karena tidak tahan, Garuda berhenti berjalan dan membungkuk ke arah Ludwig, membuat pemuda jangkung itu berjengit kaget.
"Ma-maafkan aku! Aku sudah menangis di depanmu, t-terlebih la-lagi dipelukanmu.." ujar Garuda dengan semburat merah di pipi.
Ludwig tak kalah merah dari Garuda. Matanya beralih ke arah lain. "Ti-tidak m-masalah.."
"Sungguh, aku minta maaf. Ini pertama kalinya aku menangis tersedu-sedu di depan orang lain." ucap Garuda malu seraya menegakkan tubuhnya. "A-apakah aku terlihat memalukan? Pasti ya.. karena aku bersikap layaknya wanita yang baru saja dicopet. Uhh, memalukan.."
Ludwig menggeleng sambil mengibas-ibaskan tangan. "Tidak, kok! Kurasa itu wajar. Kalau aku jadi kau, pasti aku akan menangis seperti itu. Atau mungkin lebih memalukan dari itu."
Garuda tersenyum malu. "Terima kasih."
"Untuk apa?" tanya Ludwig heran.
"Untuk tidak membiarkanku menangis sendirian." ujar Garuda santai. "Kadang jika tidak ada yang menemani saat aku drop, biasanya aku selalu pergi ke bar untuk menari gila-gilaan sampai lelah. Nasibku selalu mujur karena setiap ada yang hendak menyentuhku pasti gagal. Hehe.."
Ludwig terkekeh geli mendengar kata-kata Garuda. Namun kemudian ia terdiam. "Kau.. tidak pergi ke bar untuk minum?"
Garuda membelalak horor, "Tentu saja tidak! Memang tampangku seperti pemabuk?"
Ludwig menggeleng, "Kukira. Biasanya orang pergi ke bar untuk minum."
"Ahahaha, aku tidak bisa minum." Garuda tertawa kecil. "Pernah sekali aku mencoba. Aku tidak ingat apa yang terjadi, tapi setelahnya Ramli berusaha mati-matian menjauhkanku dari minuman alkohol. Katanya aku dan alkohol seperti gas elpiji bocor terkena api. Takkan berakhir baik."
Ludwig tersenyum tipis. "Yah, kurasa juga begitu."
Garuda menatap dalam Ludwig. Senyumnya mengingatkan Garuda pada senyum adiknya. Garuda rasa, mungkin jika ia merindukan senyuman Ramli, ia hanya perlu melihat senyum Ludwig. Atau meminta pemuda jangkung itu untuk tersenyum padanya juga bukan ide yang buruk.
Ludwig yang merasa dipandangi menoleh. Semburat merah tipis menghampiri pipinya kala matanya bersirobok dengan mata hitam berkilau Garuda. "K-kenapa? Ada se-sesuatu di wajahku?" tanyanya gugup.
Garuda tersentak, "Ti-tidak apa-apa. Hanya.. senyummu mengingatkanku pada Ramli." ucapnya sambil mengusap tengkuk canggung.
"Oh, begitu." gumam Ludwig. "Kalau kau rindu padanya, kau bisa memintaku untuk tersenyum padamu."
"Eh? Ba-bagaimana kau tahu yang kupikirkan? Ups.." Garuda menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Apa kau cenay—"
Ludwig tertawa, "Aku bukan cenayang atau mind-reader, kok."
"Oh, kirain. Hehe.." cengir Garuda. Menghela napas lega. "Baiklah, kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi. Nanti kau harus siap-siap senam wajah, karena aku takkan cukup hanya menerima satu-dua senyuman." ujarnya riang.
Ludwig mendengus geli. "Baiklah."
Keheningan melanda keduanya. Namun kali ini bukan keheningan canggung seperti tadi, tapi lebih kehening yang menenangkan. Membuat keduanya larut dalam suasana tersebut. Bunyi dari tapak sepatu menjadi pengiring langkah mereka. Angin sore hari membelai wajah keduanya, membawa kehangatan dan ketentraman dalam jiwa.
Mendadak Garuda menarik Ludwig berhenti. Matanya fokus pada bibir Ludwig. Sedangkan Ludwig kembali gugup diperhatikan Garuda.
"Bibirmu.. kenapa kelihatan bengkak dan sedikit membiru?" tanya Garuda.
Reflek, Ludwig menutup bibirnya. "Eh, tidak apa-apa. Tadi ditinju Gilbert." Bohongnya.
"Benarkah? Kok aku tidak menyadarinya sebelum ini?" tanya Garuda menyelidik.
"Y-yah. Kukira kau memang tidak melihatnya." jawab Ludwig sambil mengusap belakang kepalanya.
Meski masih agak janggal, Garuda menghela napas. "Harusnya kau hati-hati."
Ludwig tersenyum kaku.
Garuda merogoh sesuatu di dalam tasnya. "Sebaiknya diobati dulu. Aku punya salep disini." ujarnya sambil mengeluarkan tas kecil.
Garuda menyeret Ludwig ke samping gang sempit agar tidak menghalangi pejalan kaki lain. Tangannya membuka tas kecil dan mengambil salep luka. "Tahan sebentar, ya." Ludwig agak meringis saat Garuda mengoles salep dilukanya. Dengan hati-hati dan pelan-pelan Garuda mengoleskan salepnya. Selesai mengoles, ia memplesteri luka di sudut bibir kiri Ludwig. Selesai melakukannya, Garuda menghela napas lega. "Sudah."
"Terima kasih." gumam Ludwig.
Garuda nyengir, "Hehe, bukan apa-apa." tangannya dengan lincah memasukan tas kecil ke dalam tasnya. "Untungnya aku bawa obat darurat. Biasanya aku sering terjatuh menginjak tali sepatuku sendiri. Makanya aku sedia salep luka."
"Rupanya kau penuh perhitungan." ujar Ludwig sambil tersenyum.
Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka untuk pulang. Ludwig sesekali mengangguk dan juga tertawa pada ucapan Garuda. Rasanya menyenangkan berada di samping pemuda itu. Pantas saja Feliciano dan kakak laki-lakinya selalu betah berada di sekitarnya. Lain kali mungkin ia akan ikut ajakan Feliciano untuk bergabung dengan mereka.
Tangannya mengusap sudut bibirnya yang terplester, tersenyum tipis kala mengingat apa yang dilakukan Garuda. Terlebih melihat wajah khawatirnya, sungguh lucu. Selain ceria, Garuda juga baik hati dan suka menolong. Rasanya beruntung juga berteman dengannya. Garuda tipe yang setia kawan. Dan Ludwig butuh itu.
"Lalu, apa kau suka matematika? Kalau aku sih tidak suka, karena pelajaran itu terlalu membingungkan." ujar Garuda sambil mengaitkan tangan di belakang tubuhnya. Wajahnya mendongak menatap Ludwig. "Kukira kau suka matematika? Kau tipe orang yang suka hal-hal rumit."
Ludwig tersenyum.
Ya, untuk saat ini biarkan saja semuanya mengalir seperti ini.
.
.
=x0x=x0x=
~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~
=x0x=x0x=
.
.
BRUK
"Hari ini menyebalkan sekali."
Garuda terbatuk-batuk saat melihat Francis duduk di sampingnya dengan wajah tertekuk. Buru-buru Garuda minum air mineralnya agar batuknya hilang. Menghela napas lega seakan baru saja lepas setelah diketekin gurita raksasa. Duh, mulai lagi. =_=
"Kamu kenapa sih, mon cher? Kok kayak baru ngeliat hantu aja." ujar Francis sebal. Tangannya memainkan sendok di nampan makanannya, tidak berniat untuk dimakan.
'Iyalah, kau kan memang sebelas-duabelas sama hantu. Eh, gak deng. Kau lebih serem dari hantu.' Batin Garuda sweatdrop.
"Gak apa-apa, kok." Garuda berdeham. "Oh, ya. Kenapa kau menyebut hari ini menyebalkan, senior Francis?"
Francis mendengus, "Tentu saja! Bagaimana tidak sebal, Gilbert itu keras kepala. Aku lelah bicara dan menasehatinya."
"Oh, pasti karena mafia itu ya?"
Francis terlonjak, "Darimana kau tahu?" matanya menatap tajam.
Garuda meringis, "Kemarin sepulang sekolah, tidak sengaja aku mendengar pembicaraan Ludwig dan senior Gilbert." menyilangkan jari tengah dan telunjuk di belakang tubuhnya.
Francis mengangguk. "Yah, begitulah. Sungguh aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran si mata ruby itu." ujarnya cemberut.
Garuda meringis, "Aku juga tidak mengerti."
"Nanti malam kami bertiga mau ketemuan sama mafia yang menyandera anak buah kami." ujar Francis pelan.
Garuda mangap, gak habis pikir sama ucapan senior pirang di sampingnya ini. 'Kok kesannya kayak mau jalan sama kecengan, sih?' Batinnya.
"Be-bertiga aja? Apa gak bahaya? Mereka mafia, loh senior." kata Garuda.
Francis menoleh, "Habis kalau kami minta bantuan polisi, nanti bisa runyam." Menjauhkan nampannya ke depan, Francis mengambil jus kotak di nampan dan menyeruputnya. "Nanti yang ada mereka gak akan segan-segan membuat nyawa sanderanya melayang."
"Iya juga, sih." kata Garuda sambil mengangguk-angguk. "Terus, apa rencana kalian?"
Francis berpikir, "Sebisa mungkin kami tidak membuat gerakan yang mencurigakan supaya nyawa anak buah kami yang disandera mereka tetap aman. Lalu tanpa sepengetahuan mereka, kami segera menyelamatkannya kemudian kabur dari sana."
Garuda menghela napas, "Sepertinya bukan rencana yang mudah."
"Ya, tentu saja. Karena itulah, aku butuh bantuanmu, honey.." ujar Francis sambil menatap Garuda.
"Eh? APA?" kaget Garuda.
Francis menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
_TO BE CONTINUED_
A/n:
Hai, faz dateng lagi. *lambai2*
Gimana dengan chapter ini? Semakin garing yah? /pundungbarengyongsoo/
Maaf kalo humornya kurang, faz lagi rada galau, makanya bikin hurt gagal di atas. *sigh*
Maaf juga harus faz potong jadi dua, karena aslinya panjang juga. Takutnya minna bosen bacanya. Plus bikin mata pegel juga. Hehe
Karena gak sempet bales yang login lewat pm, faz bales disini aja ya.
bee : kalo bee pengennya ini friendship atau romance? #malahnanyabalik Hm, ini bisa salah satu atau keduanya kok, tergantung readers aja. Hehe, makasih udah RnR. :*
Guest chapter 1 : Ohoho makasih udah suka say~ :*
Ichibana neji : Hy hy hy juga Ichi! Ini udah lanjut! Gimana, udah diperkoas apa belum? XD /slapped/ makasih udah RnR Ichi~ :*
Guest chapter 2 : Silahkan say~
Guest chapter 3 : Iyap, mereka emang manis, kalo kata Yong Soo kayak gulali enjot! #eh? Makasih udah RnR say~ :*
Usagi Yumi : Ohoww, makaseeeh say~ /terbangbarengGaruda/ Hehe, yah gitu deh. Kalo flat-flat aja gak seru. Harus ada kejutan2 yang bikin mata melek dong. :3
Wah, faz baru tau ada pair-pair yang Usagi-san sebutin. Yah, maklumlah. Faz taunya yang mayoritas doang. /nyemplung/ Oh, ya? Faz malah gak bisa bayangin, soalnya keseringan baca yang GerIta, sih. /nyemplungpart2/ Oho, untunglah Usagi-san suka. Faz hampir dag-dig-dug kalo Usagi-san gak suka cerita ini.
Aduh, apresiasi Usagi-san bikin faz pengen ngegelinding, jungkir balik trus nyemplung ke kolam, deh! #plak hehe gak apa-apa kok review kepanjangan. Faz malah seneng ternyata banyak juga yang antusias sama ff ini. Tadinya faz malah ngiranya gak ada yang review coz chap 1 garing banget. /pundungbarengGaruda/ tapi, tapiii komenan Usagi-san bikin faz semangat! Tapi bukan berarti review dari yang lain gak bikin faz gak semangat, loh. Semua yang RnR disini bikin faz semangat buat lanjutin jalan cerita. ^^
Yap, pasti dilanjut lagi dengan banyak surprise menanti! :D Makasih banyak udah RnR Usagi-san. See you soon! :* (Ps: Ow, makasih. Faz juga suka Willem yang nista. ^^ #dor)
yaoi lovers : Ini udah dilanjut! Makasih pujiannya. /mewakiliGarudabuatngefly/
Ok! Makasih dukungannya. Dan makasih juga udah RnR~ :*
siders tobat : Gak apa-apa, kok say. Yang penting kamu baca. Hohoho, makasieeeh.. #terbang
Dichapter ini udah kejawab kan pertanyaanmu? Hihi, bisa dipertimbangkan. Sekarang udah gak penasaran kan. ;)
Wow, terima kasih masukannya. Sangat membantu. ^^ Yap, karena chap ini udah rilis. Mind to RnR siders-san? Hehe makasih udah RnR.. :*
kuroi uso : makasih /ngeflylagi/ yaa, maybe? Tergantung kuroi-san melihatnya bagaimana. ^^ tapi tema utamanya masih friendship. Maybe.. XD Lovuda.. boleh juga. XD #nyengir #digetokLovi
Makasih udah RnR say, jangan bosen2 buat dateng ke lapak faz ya~ :*
Faz makasih banget bagi yang sudah meninggalkan jejak di ff ini, gak tau mau ngomong apa saking bahagianya. Pokoknya makasih banget buat kalian semua minna-san! #bow #spreadbiglove
Oke lah,
Mind to review? ;))
Jaa, ne~
