Selama enam belas tahun hidupnya di dunia ini, Garuda tumbuh menjadi anak yang baik. Ia rajin belajar, pandai menabung, suka menolong nenek-nenek menyebrang jalan dan menyelamatkan kucing di atas pohon. Err, pernyataan terakhir mungkin terdengar seperti ia anggota regu pemadam kebakaran. Oke, lupakan itu.

Hidupnya pun sederhana dan tidak pernah macam-macam. Mungkin pernah beberapa kali seperti nonton uhukAVuhuk atau sekedar fap-fap. Tapi cuman sebatas itu kok, gak lebih. Berani disamber geledek deh dia kalo bohong.

Yah, setidaknya itulah yang ia ingat dalam otaknya. Dan dalam hidupnya yang santai–kayak di pantai– itu, bukan berarti ia menginginkan terjadi sesuatu yang melebihi kata 'GILA' seperti yang terjadi padanya saat ini.

Awalnya ia hanya ingin tahu bagaimana kelanjutan aksi penyelamatan anak buah BTT dan tidak berniat terlibat sama sekali di dalamnya. Namun apa daya, Francis memaksa minta bantuannya dan sebenarnya tugasnya tidak berat-berat amat. Hanya disuruh berakting saat pertemuan geng BTT dan para mafia itu terjadi.

Tetapi yang menjadi masalah ialah Garuda harus crossdressing jadi anak perempuan. Yap, kalian tidak salah dengar. CROSSDRESSING sodara-sodara!

Rasanya Garuda ingin sekali menggantung dirinya di pohon toge saking frustasinya. Diantara semua pilihan yang ada, kenapa ia harus mendapat peran begitu, sih? Dan kenapa pula harus crossdress segala? Demi Tuhan! Dia tuh masih laki-laki normal yang sehat lahir dan batin. Setidaknya peran menjadi gembel menurutnya lebih menyenangkan daripada harus melakukan hal absurd seperti itu.

"Duh, mon cher. Tugas kamu tuh yang paling oke dan paling berjasa. Kalau kamu berhasil mengalihkan perhatian mereka saat aku diam-diam membebaskan anak buah kami, kamu akan mendapat penghargaan!"

Garuda merengut, 'Penghargaan pala lo peyang!' Batinnya dongkol.

Garuda mendengus. Mau tidak mau dia harus melakukannya. Kalau tidak, bisa-bisa dia di-rape Francis. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Garuda merinding. Di-rape Francis adalah hal terakhir yang ia inginkan dalam hidupnya.

Eh?

"Gyaaaa, apaan siiih?! Kenapa gue mikir pengen di-rape makhluk absurd itu? Aaaaaaaaa.." jerit Garuda uring-uringan.

Err, salah deh. Maksudnya hal terakhir yang dia bisa pikirkan dalam hidupnya.

"Kamu ngapain sih, mon cher? Uring-uringan gitu." Francis menutup pintu markas BTT. Ia baru saja mengambil baju crossdress Garuda yang khusus ia pesan dari teman sesama designer-nya.

"Uuh.." Garuda menatap nelangsa pada baju –yang menurutnya nista– itu. "Aku tidak tahu harus bagaimana nanti." gumamnya pelan.

Francis duduk di sampingnya dengan senyum aneh. "Kamu nggak perlu bingung, mon cher. Cukup berakting biasa dan ikuti naskah yang kubuat. Nggak ada yang perlu kau takutkan, karena abang pasti akan melindungimu, mon ami. Ohonhonhonhonhon~"

Garuda sweatdrop mendengar ucapan absurd Francis.

"Nah, cepat kamu pakai baju ini. Nanti malam kita akan beraksi." Francis menyerahkan baju itu di tangan Garuda yang menatapnya linglung. Francis menaikan sebelah alisnya. "Kenapa? Ada masalah?"

"Malam ini?" tanya Garuda pelan.

Francis mengangguk. "Yap, malam ini."

Garuda membelalak horor, "Beneran?! Ma-malam ini? Yang benar aja! A-aku belum siap, senior!"

Francis nyengir, "Kamu udah siap kok, cuman nggak nyadar aja."

Garuda langsung pundung dipojokan. Aura kelam dan depresi pun menguar dari tubuhnya. Tangannya mengorek-orek lantai dengan ranting yang entah ia dapat darimana. "Mati aku. Hidupku hanya sampai disini.." gumamnya berulang-ulang.

Francis hanya memandang bosan tingkah Garuda. Namun kebosanannya menghilang saat ia menemukan sebuah ide. "Oh, iya. Kalau kau berhasil melakukannya, aku akan mentraktirmu makanan apapun yang kau suka, deh. Bagaimana?"

Garuda masih jongkok membelakangi senior-nya sambil menggambar bulat-bulat di lantai dengan jarinya. Sungguh membuat siapapun yang melihatnya enggan untuk mendekatinya.

Francis mendengus, "Baiklah-baiklah. Kau boleh minta masing-masing satu permintaan dari kami bertiga. Gimana?"

Garuda menoleh dengan ekspresi madesu yang sedikit membuat Francis berjengit. Garuda menatap Francis dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas hingga matanya bertemu pandang dengan mata seniornya. "Senior nggak bohong, kan?" tanya Garuda sangsi.

Francis menyodorkan jari kelingkingnya di depan Garuda. "Nggak kok, pinky promise?"

Dengan wajah sedikit merengut, Garuda mengaitkan jari mereka. "Ok, pinky promise. Awas kalau bohong, tak pites nanti."

Francis mengangguk lalu nyengir, "Nah, karena kita udah janji, kau mau kan pakai baju crossdress-nya?"

"Ugh.."

Merasa tak memiliki pilihan lain, Garuda hanya bisa menganggukan kepala lemas. Sangat kontras dengan Francis yang berseru girang layaknya orang yang baru saja mendapat lotre besar.

Garuda menyambar paper bag berisi baju crossdress dan wig serta hiasan-hiasan ala wanita tersebut kemudian berjalan pelan ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Saat membuka pintu, Garuda menoleh tajam ke arah Francis yang membeku tepat di belakangnya dengan satu kaki diudara, seperti hendak menapak.

"Kalau senior berani ngintipin aku ganti baju, jangan harap aku mau crossdress dan bantu kalian. Dan ucapkan selamat tinggal pada anak buah kalian itu." desisnya tajam.

Mendengar ancaman Garuda yang terkesan tidak main-main, akhirnya dengan berat hati Francis mengurungkan niat nistanya untuk mengintip dan kembali duduk di sofa. Membuka-buka majalah fashion-nya yang lama.

Garuda mendengus lalu masuk ke kamar mandi.

.

KLEK

Gilbert dan Antonio memasuki markas BTT dengan lesu. Meski hari libur, penjaga sekolah tak pernah absen untuk menceramahi keduanya yang terkenal bengal karena dengan seenak jidat menjadikan gudang di belakang sekolah yang tadinya penyimpanan kursi dan meja kelas beralih fungsi menjadi markas mereka. Membuat si penjaga sekolah harus ngurut dada gegara kepala sekolah malah mengizinkan mereka memakai gudang tersebut sesuka hati. Ah, tapi sudahlah. Kita lewatkan itu.

Francis yang sedang asyik tiduran langsung bangun. "Kena sembur lagi ya?"

Gilbert cemberut, "Tiap hari keles." sarkasnya.

Antonio langsung tengkurap di sofa panjang, guling-guling. "Ahh, pegalnya.." desahnya. "Oh, iya. Garuda mana?"

Francis meliriknya, "Lagi di kamar mandi. Aku suruh cobain crossdress-nya."

"Wah, nggak sabar liat Garuke tsun-tsun berubah." ujar Gilbert geli sambil mengambil minuman kaleng dibungkusan plastik yang dibawanya dan menaruhnya ke atas meja.

Francis menyerobot bungkusan plastik terlebih dahulu, membuat Antonio yang ingin mengambilnya langsung cemberut.

"Kalian aja nggak sabar, apalagi aku?" ucap Francis sambil nyengir lima jari.

"Ih, siniin plastiknya, Francheese!" seru Antonio frustasi.

Francis melet, "Ambil sendiri kalo bisa, Antoniyooo."

"Heh! Nama gue nggak pake Y!"

CKLEK

Ketiganya serentak menoleh mendengar suara pintu dibuka. Di depan kamar mandi, berdiri Garuda yang memakai kaos berlengan panjang baby blue dengan tulisan I AM AWESOME berwarna putih, dipadu cardigan sleeveless biru tua kehitaman sepanjang paha. Jeans biru dongker yang membungkus kaki jenjangnya dihiasi boots hitam semata kaki. Jika ditilik, penampilan Garuda terkesan biasa saja sebenarnya. Seperti gadis modis kebanyakan.

Namun yang membuatnya nampak berbeda adalah kepalanya terbungkus wig rambut lurus sepunggung berwarna coklat madu dengan bandana berwarna biru cerah sebagai pemanis kepala. Bulu mata palsu dan kontak lens berwarna abu-abu sebagai tambahan untuk mempertegas penyamarannya sebagai anak perempuan.

Gilbert dan Antonio kelewat mangap melihat penampilan baru Garuda, sementara Francis tersenyum membusungkan dada karena ia tidak salah memilih kostum untuk Garuda.

"Mijn God!"

"Ohlala senorita~"

"Bravo!"

Garuda sweatdrop melihat reaksi ketiganya. Dengan langkah agak kagok, Garuda mendekati mereka.

"Garuda, kamu beneran mirip perempuan." ucap Gilbert masih sambil memandang Garuda dari atas sampai bawah dengan intens.

Garuda nge-blush, "Ta-tapi tetep aja aku laki-laki! Ini kan cuman penyamaran doang." ujarnya ketus.

"Huaaa Garudaaa, kamu gemesin banget, siiih.." Antonio menarik Garuda dan memeluknya dengan erat. Mengelus-eluskan pipinya pada pipi Garuda.

"Ish lepaaaaas.." Garuda memberontak ganas. Setelah lepas, Garuda langsung menyandar di tembok dengan ekspresi waspada. "Kalian jangan deket-deket! Terutama senior Antonio dan Francis." ancamnya.

Antonio sontak berdiri, "Eh, tapi kenapa?" tanyanya tidak terima.

"Ya, mon cher. Kenapa?" tanya Francis ikut-ikutan tidak terima. Sedangkan di sofa sana Gilbert tampak termangu. Sepertinya pikirannya masih ada diawang-awang setelah melihat Garuda versi cewek.

Garuda blushing, "P-pokoknya jangan dekat-dekat! Aku nggak mau kalian grepe-grepe!" serunya.

Dengan berat hati, Antonio mengangguk. "Iya deh, kita nggak akan terlalu dekat-dekat."

Garuda menghela napas lega mendengarnya. Ia melangkah maju ke arah senior-senior-nya.

"Hm, tapi nggak salah aku minta bantuan teman sesama designer-ku. Kalau begini, bahkan Lovino sekalipun nggak akan sadar jika gadis ini.." Francis berdiri di samping Garuda, menepuk-nepuk kedua pundaknya. "Adalah Garuda!" serunya riang.

"Jangankan Lovino, Ludwig yang terkenal serius dan teliti pun pasti terkecoh dengan penampilan Garuda!" timpal Antonio.

Sedetik, atmosfer diantara mereka berubah awkward.

Antonio berdehem, "Sorry, Gil.." lirihnya. Sebagai orang yang tak sengaja membuat suasana berubah tegang, Antonio merasa bersalah.

"It's okay, Ton." Gilbert mendengus, "Yang harus kupikirkan sekarang adalah cara menyelamatkan anak buah kita."

Francis terkekeh, "Yah, itulah sebabnya mengapa aku meminta Garuda crossdress. Dan aku sudah menyiapkan rencana yang bagus untuk mengecoh para mafia itu."

Antonio penasaran, "Uh-oh. Dan apa itu, Fran?" di sampingnya Gilbert mengangguk antusias.

Francis tersenyum misterius.

"Lihat saja nanti malam.."

.

=x0x=x0x=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=x0x=x0x=

.

Malam harinya..

"Kalian yakin tempatnya disini, senior?"

Garuda mengo sebentar menatap bangunan bobrok yang terlihat angker di depannya. Tempat ini berada di pinggir utara bagian sekolah mereka. Di sekitarnya hanya tanah lapang dan tepat di belakang bangunan tua itu terhampar banyak pepohonan lebat dan jalan setapak menuju ke dalam pepohonan yang disinyalir adalah hutan.

Tak ada satupun kendaraan lewat disana karena memang jalanan aspalnya banyak yang rusak hingga tidak memungkinkan bagi kendaraan untuk lewat. Tak ada lampu tiang yang menerangi di sepanjang jalan trotoar. Hanya ada beberapa lampu taman, itu juga lumayan redup. Pun suasana hening menambah kesan mistis yang ada.

"Tentu saja. Aku tak mungkin salah! Kalau memang aku salah, kau harus lihat kembali kalimatku yang sebelumnya!" ujar Francis tegas membuat Garuda manyun.

Ia berjalan di depan sebagai pemimpin. Dibelakangnya Antonio berjalan sambil lirik-lirik sekitar dengan waspada. Siapa tau ada lemparan tomat nyasar–pikirnya. Walau kemungkinannya cuman 0,001% bisa terjadi. Lalu ada Gilbert yang berjalan tegap bak tentara mau berperang. Lucu, mengingat tingkahnya yang pecicilan setiap saat harus berjalan seperti itu. Dan dibarisan terakhir ada Garuda yang mepet ke punggung Gilbert dengan tubuh gemetar. Meski sudah sering berurusan dengan makhluk ghaib (read mr. Poci and mrs. Kunti), tapi tetap saja kalau bertemu makhluk yang tidak pernah dilihat sebelumnya akan membuat Garuda ketakutan, seperti sekarang.

Gilbert yang menyadari tubuh Garuda gemetar di punggungnya langsung menarik dan merangkulnya. "Maaf, aku nggak peka. Kamu pasti takut." ujarnya sambil mengelus-elus pundak Garuda menenangkan.

Garuda mengangguk dan semakin merapatkan tubuhnya. Wajahnya pun blushing, entah karena udara malam yang lumayan dingin atau malu diperlakukan bagai gadis perawan. "M-makasih, senior Gilbert."

Gilbert menatapnya lembut, "Gil aja. Kita kan lagi nggak di sekolah."

"Uh-oh. Okay.." Garuda yang sempat bertatap mata dengan Gilbert langsung melengos. Wajahnya terasa panas.

'Apaan sih jantung deg-degan mulu.' Rutuk Garuda dalam hati.

"Uhuk!" Francis meng-glare keduanya. "Please deh, nggak usah mesra-mesraan dulu. Masih ada hal penting yang harus diberesin sekarang, nih." sinisnya. Sedangkan Antonio menatap mereka cemberut. Kan pengen juga dia ngerangkul Garuda kayak gitu, tapi Garudanya nolak dideketin sih. Jadi aja pemuda pecinta tomat itu manyun-manyunin bibir.

Garuda yang baru ngeh dirangkul Gilbert langsung menjauh sambil nge-blush. Gilbert meng-glare balik Francis karena sudah merusak chemistry dia sama Garuda. Dan, sekarang kedua makhluk absurd itu malah saling melempar deathglare andalan masing-masing. Membuat Antonio dan Garuda yang dikacangin mendengus barengan tanpa sadar.

"Udah deh, nggak usah berantem kayak anak kecil." lerai Antonio. "Mending kita langsung masuk ke dalam. Semakin cepat kita melakukan ini, semakin cepat pula masalah akan selesai."

Garuda mengangguk, "Senior Antonio benar. Sebaiknya kita cepat-cepat masuk." Seakan mendapat keberanian mendadak, Garuda berjalan di depan memimpin mereka semua.

"Aiiih, Garuda. Panggil aku Antonio aja, nggak usah pake senior." celoteh Antonio riang seraya mengejar Garuda yang sudah lebih dulu masuk ke pekarangan bangunan.

Gilbert dan Francis saling pandang kemudian mengangkat bahu. Keduanya pun langsung mengikuti Garuda dan Antonio masuk.

.

"Uh, bener-bener kayak bangunan rubuh."

Garuda menutup hidungnya setelah membuka pintu tua bangunan tersebut. Banyak debu berterbangan dan juga jaring laba-laba di belakang pintu dan di setiap sudut ruangan. Banyak batu tembok yang keropos berserakan di lantai dan balok-balok kayu yang sudah lapuk dimakan usia.

"Ok, guys. Kita lakukan rencana yang sudah disusun." Gilbert mengisyaratkan tangannya agar Antonio, Francis dan Garuda berkumpul melingkar. "Pertama, aku dan Antonio akan masuk dan menemui para mafia itu. Francis, kau dan Garuda sebisa mungkin cari tempat persembunyian yang tidak terlalu jauh dari tempat anak buah kita disandera. Untuk memudahkan penyelamatan. Mengerti?"

Francis dan Garuda kompak memberi gerak hormat, "Yes, sir!"

"Alright."

Setelah Gilbert dan Antonio masuk, Francis menyeret Garuda di sampingnya untuk merangkak dibalik tembok yang runtuh. Pemuda berambut pirang itu mengawasi situasi yang aman dan mendekat ke tempat para mafia itu berkumpul dengan Garuda mengekor di belakang.

"Jadi, kalian sudah siap mengantar nyawa, hah?" adalah kalimat yang terlontar dari salah satu pria berjas hitam yang maju selangkah dari yang lainnya. Sepertinya ia sang juru bicara.

Gilbert hanya diam mendengar ocehan mencemooh itu. Sementara Antonio menatap kesal pada si juru bicara. Sepertinya ia benci dengan perangai angkuh orang itu. Dan sepertinya juga si juru bicara terang-terangan mengejek Antonio lewat tatapan matanya sehingga mereka kini saling adu deathglare.

Suara tongkat diketuk ke lantai mengalihkan atensi semua orang pada si pemilik tongkat.

"Rud, jangan galak-galak sama tamu. Nanti mereka bisa kabur, loh." Seorang pria yang mengenakan topi fedora hitam tersenyum simpul. Jubahnya berkibar saat ia berjalan ke depan keduanya.

"Sorry, bos." ujar si juru bicara yang bernama Rud itu.

Pria yang ternyata bos mafia itu menatap Gilbert. "Nah, apa kau membawanya?"

"Aku.."

Francis yang menangkap sinyal di belakang punggung Gilbert pun mendorong Garuda keluar. "Sekarang giliranmu beraksi. Semoga beruntung dan alihkan perhatian mereka selama mungkin, mon cher."

'Ya Tuhan, lindungilah nyawa hamba-Mu ini.' Garuda membatin.

Dengan segera Garuda berlari ke tengah gerombolan itu. "Tunggu!"

Semua orang yang tadinya saling tatap sinis langsung menoleh ke arahnya. Sepertinya keheranan melihat gadis manis yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka malam-malam begini.

Garuda menelan ludah. Tidak ada waktu baginya untuk gugup. Dia harus melakukan yang terbaik. Jangan sampai gagal!

Garuda berdiri membelakangi Gilbert dan Antonio. "Kumohon, tunggu sebentar."

Si juru bicara menyahut, "Hei, siapa kau?"

Garuda menatap pria itu dengan mata membesar dan ekspresi terkejut. "Ru-Ruddie.."

Rud mengangkat sebelah alisnya, "Err, kau kenal aku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Garuda mengusap lengannya, "Kau sungguh tidak ingat padaku, Ruddie? Ini aku, Rosline."

"Sepertinya kau salah orang dan namaku Rudregie bukan Ruddie." wajah Rud menjadi datar.

Garuda menunduk, tubuhnya gemetar dan ia memeluk tubuhnya sendiri. "K-kau mungkin tidak ingat. Ta-tapi.. aku tak mungkin lupa dengan wajahmu.."

Suasana begitu sunyi. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Semua mata masih memandang aksi Garuda yang bagi Gilbert dan Antonio cukup mengesankan untuk mengecoh mafia-mafia itu.

"Saat itu aku melihatmu berjalan terhuyung di depanku. Saat kau oleng, aku menangkapmu. Aku bertanya apa kau baik-baik saja, tapi kau mendorongku terbaring di tanah dan langsung mencium bibirku ganas." ujarnya dengan mata menatap lantai.

Para mafia itu masih sunyi untuk mendengarkan baik-baik cerita Garuda. Sementara Rud melotot terkejut, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya yang menganga saking syoknya.

"Aku.. aku coba meronta, tapi kau mencengkram tanganku dengan keras. Setelah kau melepas ciumanmu, kau menarikku paksa ke gang gelap yang ada disana dan memaksaku untuk berhubungan badan. A-aku.." Garuda mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak bisa menghentikanmu. Aku sungguh takut. Waktu itu kau berada dibawah pengaruh alkohol sehingga kau menamparku berkali-kali karena aku terus memberontak. Kau tidak membiarkanku istirahat meski aku sudah lelah dan berkali-kali membenamkan milikmu di dalam tubuhku.. uhh, hiks.." Garuda menutup wajahnya dengan telapak tangan dan mengeluarkan isak tangis untuk meyakinkan aktingnya.

Rud mau tak mau blushing juga mendengar cerita ehemerotisehem Garuda yang ia anggap Rosline itu. Dalam pikirannya, tak ia sangka saat mabuk dirinya bisa seganas itu pada 'perempuan' rapuh di depannya.

"Rud, tak kusangka kau orangnya seperti itu." si bos menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap Garuda yang kini terduduk di lantai dengan prihatin.

Rud menggeleng-geleng, "Ti-tidak bos. I-itu tidak benar."

Garuda menatap nyalang, "Tidak benar?! Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu, Ruddie? Kau tahu, itu adalah pengalaman pertamaku. Mengapa kau menyangkalnya, Rud? Mengapa?!" jeritnya. Garuda menguras tenaga ekstra untuk bisa membuat airmatanya mengalir sungguhan. "Apa.. apa kau juga akan menyangkal jika.. jika kini aku.. aku.."

Rud memucat saat melihat Garuda mengusap-usap perutnya sendiri. "Ja-jangan bilang kau.."

"Ya, Rud. Aku hamil.. dua bulan. Aku mengandung benihmu." Garuda menutup lagi wajahnya. "A-aku sungguh ketakutan dan tidak tahu harus apa. Setengah mati aku mencarimu kemana-mana, tapi tak kutemukan kau. Akhirnya, sekarang kita bisa bertemu.."

Garuda mendongak sesaat, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Rud yang mematung syok. "Aku tahu, mungkin sulit bagimu untuk menerimanya. Dan kau pasti akan menolakku mentah-mentah. T-tapi.. kumohon!" Garuda menyentuh lengan Rud dan memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Kumohon, biarkan aku menamai bayi yang kukandung ini dengan namamu Rud. Dan.. dan aku akan hidup menyendiri dengan bayi kita.. Aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu. Meski kau memaksaku berhubungan, tapi aku tidak membenci bayi ini. Aku tidak ingin membuang darah dagingku sendiri. Dan aku akan merawatnya dengan sepenuh hati! Jadi, bisakah?"

Rud menelan ludah berat saat wajah Garuda memelas di depannya.

Sementara semua mata berkaca-kaca setelah mendengar kisah memilukan 'wanita' itu. Bahkan ada yang terang-terangan menangis di pundak temannya masing-masing. =_=

Gilbert dan Antonio pun terlihat seperti sudah kehilangan nyawa karena ucapan Garuda yang 'wow' itu. Keduanya hanya bisa menganga dengan wajah sepucat mayat. Francis yang sedang menggunting tali yang mengikat anak buahnya hanya bisa menepuk jidatnya pelan. Ini sudah melenceng jauh dari rencana asli. Sepertinya Garuda memang menikmati perannya sebagai perempuan. Bilangnya nggak suka tapi tetap berusaha perfect. Dasar tsundere. Setelah melepas tali di tangan anak buahnya, Francis menyeret anak malang itu untuk keluar bangunan dengan mengendap-endap.

Balik lagi ke situasi Garuda.

"Bisakah? Aku tidak akan minta apa-apa darimu. Hanya.. biarkan aku memberi bayiku ini namamu, Ruddie.." Garuda menundukan kepalanya lesu.

Bos mafia itupun berdeham pelan, "Ehm, sudah berikan saja. Toh, bayi itu juga bayimu."

Rud memandang Garuda nanar. Tangannya mengenggam pundak Garuda. "Pertama-tama, aku minta maaf jika sudah menyakitimu. Kedua, aku tidak mungkin lepas tanggung jawab. Meski aku anggota mafia, tapi aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian. Terakhir, kau boleh menamai bayi kita dengan namaku atau nama apapun yang kamu mau."

Melihat keyakinan dan tekad dimata Rud membuat Garuda pucat pasi. Mungkinkah..

"Aku juga akan mengurus bayimu, bayi kita.." ujarnya sambil tersenyum tulus.

Garuda melotot, 'I-ini udah keluar skenariooo!' jeritnya heboh dalam hati.

SRETT

Sekejap mata, Garuda sudah berpindah ke dalam pelukan Antonio. Semua orang terkejut melihat hal itu, terutama Rud.

Antonio smirk, "Sorry. Tapi aku akan mengambilnya kembali. My lovely Rosline."

"Ton, ayo pergi!" Gilbert berseru, "Sorry! Tapi perjanjian kita batal!"

"Hah?"

"Bos, sandera kita menghilang!"

Seakan tertimpa batu meteor, sang bos pun murka, "APA? BAGAIMANA BISA?! OH, YANG TADI PASTI JEBAKAN! CEPAT KEJAR MEREKA!"

"BAIK!" serempak semua anak buah bos itu menghambur mengejar Gilbert dan Antonio juga Garuda yang sudah pergi lebih dulu.

Francis melambai-lambai dibalik semak-semak yang ada di dekat hutan. "Sini! Cepat sini!" serunya.

Antonio yang menggendong Garuda ala karung menarik kaos Gilbert. "Kesana Gil!"

Setelah keduanya sampai di tempat Francis, mereka pun bersembunyi.

"Kemana mereka?"

"Pasti sebelah sana."

"Ayo kejar!"

"Ya!"

Setelah merasa tapak kaki melangkah yang bergemuruh itu pergi, semuanya menghela napas lega. Gilbert yang baru ngeh ada Ludwig disana langsung melotot. "Kenapa kau ada disini, Lud?"

Ludwig mengalihkan wajahnya, "Aku kesini untuk menghentikan tindakan nekatmu yang bodoh ini." matanya melirik sinis pada pemuda kurus yang menjadi sandera kini menciut. "Tapi sepertinya semua berjalan dengan lancar. Rupanya kekhawatiranku sia-sia saja." ujarnya menghela napas.

Gilbert tertawa, "Semua ini karena bantuan Garuda. Kalau tidak ada dia, mungkin entah bagaimana nasib kami di sarang mafia-mafia itu." jelasnya sambil merangkul Garuda.

Ludwig menganga menatap dandanan Garuda. Entah ia harus facepalm atau blushing melihatnya. Tapi ngomong-ngomong, Garuda cocok dengan pakaian itu. Lekuk tubuhnya jadi terlihat lebih curvy dan..

Ludwig menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran aneh yang sempat melintas dan kembali konsentrasi memandang Garuda. Mm.. Seandainya pakaian itu bisa dilepas olehnya dan Garuda terbaring tak berdaya di bawahnya pasti akan..

Ludwig menggeleng lagi.

"Kau ok, Lud?" tanya Gilbert ragu.

"Yeah.." jawabnya lesu.

Sepertinya ia harus berhenti memandang Garuda dan berpikir macam-macam. Jadi, Ludwig mencari objek lain yang bisa dilihatnya dengan seksama. Rumput bergoyang misalnya..

Oke–itu serem. Lagipula sekarang masih malam, makin tambah serem aja.

"Sepertinya mereka semua sudah pergi. Sebaiknya kita pergi juga." ajak Gilbert.

Kemudian keenam pemuda itu pun kembali pulang dengan selamat dan terhindar dari serangan para mafia itu.

Untunglah..

.

=x0x=x0x=

~o0o~ Sahabat Selamanya ~o0o~

=x0x=x0x=

.

BRAKK

"Yang benar saja!?"

Garuda mengurut dada saat Yong Soo menggebrak mejanya dan berteriak kencang di depannya setelah ia menceritakan aksi penyelamatan kemarin. Untung Garuda nggak punya penyakit jantung, bisa koit di tempat deh dia.

"Kenapa kau tidak bilang dulu, sih? Kemarin itu bisa membahayakanmu, daze!" suara nyaring Yong Soo menggema seantero kelas kosong pagi ini.

"Yong Soo benar. Meski niatmu baik mau menolong orang, tapi seharusnya kau pikirkan dulu resikonya. Aku tidak mau kau pulang hanya tinggal nama!" bentak Lovino.

Garuda tertohok, "Ja-jahaaat.."

Lovino melengos, "Dasar bodoh."

"Terus kau gimana kemarin, daze?" tanya Yong Soo antusias. Sangat kontras dengan sikapnya beberapa detik yang lalu.

"Ya, gitu deh. Aku disuruh crossdress dan berperan sebagai cewek yang pura-pura hamil buat ngibulin para mafia itu supaya senior Francis bisa bebasin anak buahnya." jelas Garuda datar.

KRETEK

KRETEK

Suara patah hati imajiner tergambar jelas di atas kepala Yong Soo dan Lovino. Keduanya jongkok di pojokan kelas.

"Bisa-bisanya cowok nggak dikenal itu diakuin Garuda sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya.. nggak adil." gumam Yong Soo depresi.

"Takdir yang kejam.." timpal Lovino dengan wajah kelam. Tumben dia ooc.

"Bu-bukaaan!" jerit Garuda geli. Idih, mana mau Garuda punya anak sama cowok nggak dikenal. Lagian Garuda kan cowok, nggak mungkin bisa hamil kali. Kecuali dia ikut program bayi tabung sih kayaknya bisa..

Maaf, melenceng. Back to topic!

"Maaf aja, ya. Aku nggak mau punya anak sama orang nggak dikenal!" ungkap Garuda tegas.

Yong Soo langsung menghampiri Garuda dengan mata berbinar-binar. "Jadi kalau sama aku, kamu mau kan, daze?"

"Ng-nggak gitu jugaaa.." Garuda sweatdrop saat Yong Soo kembali pundung di pojokan kelas.

"YUHUUU~ MY LOVELY ROSLINE!"

Seruan dari pintu kelas mengalihkan perhatian trio setangkai ini. Mereka mendapati BTT berdiri disana. Francis menyerobot masuk duluan dan langsung menghampiri Garuda. Tangannya merangkul Garuda dengan gemas. "Meski melenceng dari dialog yang aku buat, harus kuakui kalau kamu sangat menggemaskan kemarin, mon cher~ mumumu.."

Garuda menjauhkan wajah Francis yang hendak menciumnya, "Iya-iya. Tapi nggak usah gini juga, kan."

"Aku sampai lemes ngeliat akting Garuda. Pasti si Rud lagi nyariin kamu kemana tau, ya sekarang." timpal Antonio.

Garuda cemberut, "Bodo amat, deh. Moga-moga aja nggak ketemu lagi."

"Nah, sebagai perayaan karena kita udah berhasil dalam misi, kita bawain es krim sekardus nih!" ujar Gilbert semangat. Dia menaruh kardus isi es krim itu di meja Garuda. "Bagi-bagi juga sama anak sekelas, ya."

"Uoh, es krim!" seru Yong Soo heboh. "Kalo gini sih, aku juga mau ikutan crossdress kayak Garuda, daze!" Tangannya membongkar tutup kardus dengan Garuda dan Lovino yang kepo di samping kiri-kanannya.

Setelah ketiganya mengambil es krim, geng BTT pun ikut mengambil jatah mereka. Yong Soo yang terlebih dulu mencicipi es krim langsung mengernyitkan dahi. "Rasa apaan, nih? Kok asem banget, daze?"

Francis nyengir, "Rasa sirsak, bro."

"Bleh, pantes aneh." keluh Yong Soo.

"Emang enak ya?" tanya Lovino sangsi.

"Eh, jangan salah. Gini-gini es krim rasa sirsak digemarin banyak orang. Lagi nge-trend loh." jawab Antonio sambil menjilat es krimnya yang meluber ke tangan.

Lovino memutar bola matanya, "Yeah, whatever.."

Selagi mereka mengobrol, satu per satu murid datang ke kelas. Mereka dikasih es krim traktiran BTT. Seperti biasa pula, para siswi pasti ngerubutin geng BTT persis kayak semut nemu gula. Emang sih, pesona mereka nggak ada yang bisa ngelawan. Bikin cewek-cewek pasti takluk sama mereka.

Garuda sampe mengo ngeliat kerumunan rusuh di depannya. Lovino yang sadar Garuda diem aja langsung nyenggol tangannya. "Es krimnya meleleh, tuh."

"Waduh!" Garuda yang ngeh sama lelehan es krim di tangannya langsung ngejilatin.

Lovino blushing ngeliat Garuda yang ngejilat tangannya. Di matanya, gerakan Garuda itu erotis dan terasa mengundang. Bikin Lovino mikir yang 'iya-iya'.

'Apaan sih, ni toge satu. Nggak tau apa barusan itu bikin nggak nahan banget.' Lovino misuh-misuh dalam hati. Masih sambil blushing juga.

Lagi asyik-asyiknya makan es krim, dari pintu kelas terdengar sebuah suara memanggil.

"Fratello~"

Lovino yang terpanggil pun menoleh dan mendapati adiknya berjalan menghampirinya dengan Ludwig mengekor di belakang. "Hei, Feli." Dan wajahnya menjadi sinis saat bertemu pandang dengan Ludwig. "Dan potato bastard."

Ludwig sweatdrop melihat kejutekan Lovino.

'Lagi-lagi brother complex-nya kambuh.' Batinnya.

"Hei-hei! Kalian sudah disini rupanya." Francis ikut nimbrung setelah lepas dari jerat siswi-siswi. "Nih, es krim rasa sirsak buat kalian. Semua murid disini kebagian." ujarnya sambil menaruh satu bungkus es krim di tangan masing-masing keduanya.

"Eh, tapi kita kan dari kelas sebelah, ve~"

"Nggak apa-apa. Yang kita kenal pasti kebagian, kok."

Feliciano membuka bungkus es krimnya dan duduk di depan Garuda. "Ngomong-ngomong, aku udah tau ceritanya dari Ludwig tadi pagi. Aku nggak nyangka kamu berhasil mengelabui mafia-mafia itu, Garuda. Hebat ve~"

Saat Garuda hendak membuka mulut, Francis langsung menyela. "Yap, bener. Semua nggak akan berjalan mulus kalo nggak karena aksi heroik Garuda."

"Wah, apaan nih? Rame banget." tiba-tiba Alfred nongol diantara Garuda dan Feliciano. Membuat kedua pemuda itu terlonjak, "Alfred! Bikin kaget!" seru keduanya kompak.

"Sampai senior juga ngumpul disini." gumam Matthew pelan.

"Oh, udah pada ngumpul rupanya." Gilbert melirik Matthew yang berdiri di sampingnya. "Udah kebagian es krim?"

Matthew yang ditanya terlonjak kaget. Pemuda yang lebih pendek lima senti dari kakak kembarnya itu menggeleng dengan wajah memerah. "Be-be-belum, senior."

"Nih, es krim buat kamu." Gilbert memberi satu bungkus es krim.

"Thanks." ujar Matthew malu-malu.

"Jangan deket-deket adikku." Alfred menarik lengan Matthew dan membelakanginya. Matanya menatap sinis pada Gilbert yang hanya mengo. Ternyata Alfred mengidap brother complex juga seperti Lovino.

"Pagi-pagi jangan merengut gitu." Antonio nyempil di depan Gilbert dan Alfred. "Nih, buat Alfred juga ada." ujarnya sambil menyodorkan sebungkus es krim di depan Alfred.

"Thanks." Alfred mengambil es krimnya.

Antonio nyengir, "Kalo mau makasih, ke Garuda aja. Karena dia kita bagi-bagi es krim ini."

"Oh, begitu." Alfred mengangguk-angguk. "Thanks, Gar. Meski hero ini nggak tau kamu ngapain aja sampe ditraktirin es krim sama senior, tapi aku salut!" serunya heboh.

"Uh, yeah.." wajah Garuda menjadi kelam karena mengingat dirinya kemarin. Dan sekarang, bukan hanya itu yang dikhawatirkannya. Tapi folder foto cosplay-nya yang ada di ponsel Francis lah yang ia khawatirkan. Meski Francis sudah berjanji kalau itu hanya akan menjadi konsumsinya pribadi dan tidak akan disebarluaskan. Garuda merelakan foto-fotonya dan berusaha melupakan kejadian suram kemarin. Dan imbalan karena sudah membantu, Francis akan mentraktirnya makan enak selama sebulan. Yah, nggak apa-apa lah.

"Heh, Yong Soo. Jangan korup es krim. Entar yang lain nggak kebagian!"

"Tau, bilangnya nggak enak. Dasar curl bastard!"

"Eh, sadar dong Lovino! Kamu sama adikmu kan juga keriwil, daze!"

"Ohonhonhonhon~"

"Hebohnya ve~"

"Kamu juga sama!"

"Kesesesesese~"

"Senior ketawanya serem."

"Kalo hero datang, semua pasti senang!"

"Fusosososososo~"

Yah, untuk sementara. Satu masalah selesai.

Entah apalagi yang akan menanti mereka esok hari.

Dan jangan lupakan harapan Garuda yang ingin temannya bertambah banyak.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

_To Be Continued_

A/n:

Maaf ya telat update. Faz udah mulai kerja sekarang dan mungkin chap depan bakal publish agak lama. Tapi kalo ada waktu luang faz pasti lanjutin dan nggak akan nge-discontinued ff ini. Mudah-mudahan plotnya belum ngilang dari otak jadi faz bisa lanjutin. Hehe *piss*

Dan maaf faz nggak sempet balas review yang nggak login. Tapi review dari kalian faz baca dan faz seneng banget. Makasih support-nya. Faz terharu. TvT *big hug*

Love you all~ :*