Chapter 2
The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
"Urgh! Dia itukan seorang cewek, apa dia tidak bisa menjaga pola makannya sedikit saja?" Geram Sai setelah Ino berlalu meninggalkannya. "Memangnya apa pedulimu? Dia kan bukan pacarmu." Balas Neji dengan tenang. "Tapi semua tingkah lakunya itu membuatku risih! Hei, Naruto! Berhentilah menggoda cewek-cewek itu!" Sai memukul kepala Naruto. Naruto meringis pelan lalu menatap Sai dengan galak.
"Sasuke, kenapa kau terus melihat ketiga gadis itu? Jangan katakan padaku kalau kau suka pada Yamanaka Ino itu! Tidak boleh! Dia itu bukan cewek, dia itu sangat mengerikan!"
"Tsk, tenang saja. Aku tidak akan melirik cewekmu." Sasuke berdecak pelan, lalu melirik ke arah Sakura untuk terakhir kalinya. "Astaga! Ada yang salah dengan otak kalian." Sai tetap menggerutu pelan.
Sakura mengayuh sepedanya dengan santai. Ia tidak perlu terburu-buru pulang ke rumah, jadi dia bisa menikmati waktunya selama perjalanan pulang. Sebatang lolipop menyembul keluar dari mulut Sakura yang bersenandung tak jelas. Ia selalu suka berkeliling naik sepeda, ia merasa sangat nyaman dan bisa menenangkan pikirannya.
Yah, ia memang harus menenangkan pikirannya setelah hari panjang yang sangat melelahkan hari ini. Entah kesalahan apa yang ia buat hingga harus bertemu dengan Sasuke terus menerus tanpa sengaja di sekolah. Dan yang lebih membuat Sakura risih adalah bagaimana Sasuke selalu menatapnya setiap kali berpapasan.
Padahal itu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, meskipun mereka berpapasan, tidak akan ada satupun dari mereka yang saling menatap—apalagi menegur.
Sakura menatap sebuah toko ice cream yang seolah sedang melambai-lambai memanggilnya—meski jelas itu tidak mungkin. Sakura menelan air liurnya dengan susah payah, menahan godaan untuk tidak masuk ke dalam toko atau akan mati sesampainya di rumah. Ibunya sudah berpesan padanya agar tidak mampir ke manapun sepulang sekolah karena mereka akan kedatangan tamu.
Dan Sakura tau jelas ia akan habis kalau tidak mendengar kata-kata ibunya. Sakura sesekali menoleh ke belakang, sungguh-sungguh tidak rela harus melewatkan toko ice cream kesukaannya begitu saja, tapi apa boleh buat. Masih ada lain kali baginya.
"Aku pulang." Sapa Sakura saat masuk ke rumah dan langsung melepas sepatunya. Ibunya muncul diambang pintu dengan wajah keibuannya yang terlihat lega karena Sakura menuruti kata-katanya tadi pagi.
"Ibu!" Sahut Sakura riang. Sakura berlari kecil ke arah ibunya dan melingkarkan tangannya di leher ibunya dengan erat. "Ya ampun! Kau harusnya ganti baju dulu. Tamu kita akan datang sebentar lagi." Nyonya Haruno melepaskan pelukan Sakura dan mendorong Sakura ke arah tangga.
Sakura hanya memasang wajah cemberut meski ia tetap menuruti kata-kata ibunya dan beranjak ke lantai dua di mana kamarnya berada. Sakura berdiri di depan pintunya, tapi berhenti melangkah. Sakura membalikkan kepalanya menghadap ke pintu di depan kamarnya.
Kamar itu seharusnya kosong, tapi sebentar lagi tamu itu akan menempatinya. Sakura agak tidak rela. Karena baginya lantai dua adalah daerah kekuasaannya. Dia anak tunggal, jadi jelas tidak ada adik atau kakaknya yang akan mengganggu dan orangtuanya tidur di lantai satu.
Jadi selain Sakura, jarang—atau tidak ada—orang yang hilir mudik di lantai ini. Sakura menghela nafas berat, ia harus membiasakan diri untuk beberapa waktu. Toh tamu itu tidak akan tinggal selamanya di sini.
Sakura masuk ke kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman—kaos dan hot pants. Sakura menatap bayangan dirinya dari balik cermin. Rambut pinknya yang sudah panjang, menjuntai terasa sangat mengganggu apalagi di musim panas seperti ini. Sakura menguncir rambut pinknya dengan asal-asalan lalu keluar dari kamar.
Baru saja dia menutup pintu kamar, terdengar suara bel yang berbunyi. Ia tau itu berarti tamu yang telah mereka—orangtuanya—tunggu-tunggu telah datang. Sakura melangkah menuruni tangga dengan pelan, sedikit menundukkan wajahnya ke bawah untuk melihat tamu mereka.
Tamu itu masuk, dan segera mendongak begitu menyadari ada orang lain yang sedang mengamatinya dan tersenyum ramah saat ekspresi Sakura menunjukkan keheranan. Nyonya Haruno memanggil Sakura yang masih terus menatap Sasuke—Uchiha Sasuke, tanpa berkedip untuk bergabung dengan mereka di ruang keluarga.
"Mulai sekarang, Sasuke tinggal bersama kita." Kata Nyonya Haruno. Sakura memandang kutu buku itu dengan heran. Bukankah ia orang kaya? Apakah ia tiba-tiba saja jatuh bangkrut hingga tidak punya tempat tinggal lagi?
"Karena orangtuaku harus keluar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama dan mereka tidak tega membiarkanku tinggal sendirian, untunglah ada otousan yang bersedia menjagaku selama mereka pergi." Seolah bisa membaca pikirannya, Sasuke dengan sukarela menjelaskan pada Sakura.
"Otousan?" Tanya Sakura tidak percaya karena ia memanggil ayahnya dengan sebutan seperti itu. "Benar, karena ayahmu bekerja di perusahaan orangtuanya Sasuke dan ia sering datang membantu, ayahmu sudah menganggap dia sebagai anaknya sendiri dan memintanya untuk memanggilnya seperti itu." Sakura mengangguk sebagai tanda mengerti.
"Antarkan dia ke kamarnya, kamar kosong yang ada di depanmu." Pinta ibunya.
Sakura dan Sasuke menaiki tangga dalam diam, Sakura mengantarnya ke kamar dan membukakan pintunya. "Ini akan menjadi kamarmu selama kau tinggal di rumah kami." Ucap Sakura masih menatap Sasuke dengan tatapan datar.
"Arigatou." Ucapnya sambil tersenyum manis. Sakura terpaku selama sedetik, ia luluh pada senyum manisnya, ternyata memang benar-benar sangat menawan, pikirnya.
Sasuke tersenyum kecil. Ia mengangkat tangannya dan melepaskan kacamata yang dipakainya sementara tangan lainnya yang bebas menarik Sakura mendekat padanya.
"Jangan menatapku seperti itu… You make me hard, baby." Ucap Sasuke di telinga Sakura dengan suara yang sangat menggoda.
Sakura bingung dengan apa yang baru saja ia dengar, rasanya sangat tidak nyata mendengar kutu buku sang murid teladan itu berkata dengan nada seperti itu. Belum bisa Sakura mencernanya secara keseluruhan, Sasuke menempelkan bibirnya pada Sakura, melumatnya dengan lembut tapi bisa membuat Sakura terkesiap. Lidahnya menjilati bibir bawah Sakura sementara Sakura terus meronta agar terlepas darinya.
Ia mengginggit pelan bibir Sakura, membiarkan cewek itu meringis lalu melepaskannya.
"Kau belum berpengalaman rupanya. Tapi tidak apa-apa, aku akan mengajarimu dengan sabar." Ia menjilati bibirnya dan mengusapkan ibu jarinya pada bibirnya yang basah lalu mengerling dan masuk ke kamarnya membiarkan Sakura mematung kebingungan 'mengenang' kembali ciuman pertamanya hingga akhirnya Sakura mulai bereaksi.
"WHAT THE HELL!" teriaknya frustasi dan masuk ke dalam kamarnya sendiri sambil membanting pintu dengan keras.
Dibalik pintu kamarnya, Sasuke terkekeh pelan mendengar teriakan histeris Sakura. Entah apa yang merasukinya, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh ketika ia melihat cewek itu belakangan ini.
Dan bisa mencicipi bibirnya merupakan hal yang sangat menyenangkan baginya. Apalagi dari cara Sakura merespon tadi, Sasuke jelas tau kalau itu adalah ciuman pertamanya. Sasuke meletakkan kacamatanya di meja samping tempat tidur dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang empuk.
Awalnya Sasuke merasa sangat sebal karena orangtuanya bersikeras menyuruh dia untuk tinggal di kediaman Haruno, padahal Sasuke sudah terbiasa tinggal sendirian di mansion mereka super mewah. Sasuke tidak perlu takut mati kelaparan karena ada koki kelas satu di rumahnya.
Tapi sekarang rasa-rasanya ia justru tidak akan sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya di hari-hari ke depan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Sasuke merasa bersemangat seperti ini.
Sakura berbaring di atas tempat tidurnya tanpa bergerak sedikitpun. Kedua matanya terpejam rapat dan masih asyik menikmati alam mimpinya.
"—ra! Sakura-!" samar-samar Sakura bisa mendengar seseorang memanggil namanya tapi ia terlalu malas untuk bergerak. Sakura bergeming dari tidurnya, berpura-pura ia sama sekali belum bangun agar orang yang memanggilnya menyerah dan membiarkan dia tidur sedikit lebih lama lagi.
"Haruno Sakura! Bangun!" nada suara orang yang memanggilnya terdengar kesal. "Uh! 5 menit lagi, ibu.." akhirnya Sakura membuka mulutnya. Sakura menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke ujung kepala.
Sasuke berdiri dihadapan Sakura dengan berkacak pinggang dan berdecak kesal. Ia sudah mencoba membangunkan Sakura hampir selama 20 menit dan sekarang cewek itu masih ingin tidur?
Sasuke menghembuskan udara dari mulutnya sebelum menyeringai pelan. Ia sudah berbaik hati untuk membangunkan cewek ini, dan jangan salahkan dia kalau berbuat sesukanya karena cewek keras kepala ini tak kunjung bangun.
Sasuke memanjat naik ke atas tempat tidur, menumpukan kedua telapak tangannya di sisi kepala Sakura yang masih terbungkus rapat oleh selimut sementara lututnya mengapit tubuh Sakura.
Sasuke mencondongkan tubuhnya menarik turun selimut yang digunakan Sakura. Sakura jelas tidak melawan atau mencoba menahan selimutnya karena ia masih belum sadar sepenuhnya.
Sasuke terkekeh pelan, wajah polos Sakura terlihat jauh lebih menggoda ketika ia sedang tidur dan Sasuke bisa melihatnya dari jarak sedekat ini. Kalau saja ia tidak harus buru-buru membangunkan Sakura dan berangkat ke sekolah, ia pasti akan betah berlama-lama memperhatikan cewek itu.
Sasuke mendekatkan mulutnya ke telinga Sakura dan menghembuskan nafas hangat membuat Sakura sedikit bergerak tak nyaman. "It's time to wake up, baby…" Bisik Sasuke dengan suara yang menggelitik telinga Sakura. Suara itu terdengar asing bagi Sakura, yang jelas itu bukan suara ibunya, batinnya.
Sakura membuka matanya perlahan-lahan dan mengerjap berkali-kali sebelum akhirnya ia membelalakkan matanya. Dengan cepat Sakura meletakkan tangannya di dada Sasuke —bermaksud mendorong cowok itu menjauh, tapi Sasuke sama sekali bergeming dari posisinya.
"KYAAAAA~! Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Sakura histeris. "Ibu! Tolong aku!" teriak Sakura sekuat tenaga, berharap Sasuke akan gentar dan segera menyingkir.
"Astaga! Jangan berteriak terus dan cepatlah bangun, Sakura!" jawab Nyonya Haruno dari lantai satu—sama sekali tidak merasa tergerak dengan permintaan tolong Sakura.
Sasuke menyeringai penuh kemenangan melihat kekesalan yang menumpuk di ekspresi wajah Sakura. "Ini caramu berterima kasih padaku karena sudah membangunkanmu, huh? Tidak ada hadiah?" ejek Sasuke menahan tawanya sebisa mungkin. "Kau mau aku menendangmu?" balas Sakura dengan sinis.
"Tsk, a kiss will do…" Sasuke mengangkat dagu Sakura, mendekatkan bibir mereka sementara Sakura hanya bisa terkesiap. Tidak, jangan lagi! Jelas Sakura merasa risih saat Sasuke berada terlalu dekat dengannya, tapi entah kenapa ia justru tidak bisa bergerak untuk menolaknya sama sekali.
Saat jarak antara bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter, Sasuke terkekeh dan bangkit dari tempat tidur, meninggalkan Sakura tanpa sepatah kata pun. "Uchiha Sasuke, you bastard!" Sakura mengumpat pelan dan menghentakkan langkahnya ke kamar mandi yang ada di lantai dua.
Setelah selesai bersiap-siap, Sakura melangkah turun dengan gontai, hanya untuk melihat Sasuke duduk manis di meja makan dan ibunya yang terlihat sangat mengagumi cowok itu. Sakura memutar bola matanya, kalau saja ibunya tau bahwa Uchiha Sasuke itu tidak sebaik seperti apa yang ia pikir.
Kenapa Sakura tidak memberitaukan sosok Sasuke yang sesungguhnya pada orangtuanya? Ada beberapa alasan, yang pertama karena ia tidak ingin membuat orangtuanya khawatir—membiarkan seekor serigala berada di ruangan yang sama dengan santapannya tentu sangat berbahaya.
Yang kedua ia tidak tau apa yang bisa Sasuke lakukan untuk menyangkal pernyataannya. Dan yang terpenting, apakah mungkin orangtuanya akan percaya? Ia bahkan ragu kalau temannya akan mempercayai kata-katanya jika ia menceritakan semua hal—yang tidak masuk akal ini—pada mereka. Terlebih lagi Hinata, tidak mungkin cewek itu akan mempercayai kata-kata Sakura.
Sasuke dan Sakura berjalan hampir bersamaan ke pintu depan dan mengucapkan salam pada Nyonya Haruno yang dengan senang hati melambai pada kedua orang itu sebelum menutup pintu dan melakukan pekerjaan sehari-harinya.
"Kau akan jatuh cinta padaku kalau kau terus menatapku seperti itu." Ujar Sasuke cuek. Sakura tersentak. Bagaimana mungkin Sasuke bisa tau kalau dia sedang menatapnya padahal Sasuke berjalan beberapa langkah di depannya?
"Hmm, Sasuke …" Sakura berhenti melangkah, diikuti Sasuke yang sedikit penasaran karena Sakura tidak meledak-ledak mendengar kata-katanya. Sasuke memiringkan tubuhnya sedikit dan menatap Sakura.
"Bisakah kau berpura-pura tidak mengenalku di sekolah? Maksudku, jangan biarkan orang-orang tau kalau kau tinggal di rumahku untuk beberapa waktu." Tambah Sakura dengan cepat saat Sasuke mengernyitkan keningnya.
Yah, Sakura tidak ingin kehidupan damainya di sekolah berubah rusuh saat orang-orang tau bahwa ia dan Sasuke tinggal di bawah atap yang sama. Meski sangat sulit untuk mengakuinya, tapi Sasuke memang sangat—garis bawahi itu, SANGAT—populer di sekolah.
Sasuke memiringkan kepalanya, mencoba mencerna kata-kata Sakura dan menangkap arti dibalik permintaannya. Sasuke melangkah mendekati Sakura. "Jadi, kau sedang memohon padaku?" Sasuke mengangkat alisnya dan terus mempersempit jarak antara mereka. "Uh, tidak. Bagiku itu hanyalah permintaan tolong." Sasuke tersenyum nakal dan menegakkan tubuhnya.
"Baiklah. Aku bisa saja menyanggupinya, tapi kau harus bersikap 'manis' padaku." Ucap Sasuke mencoba menyembunyikan antusiasmenya. "Bersikap manis? Aku bukan tipe girly-girl. Aku tidak bisa." Tolak Sakura, tidak bisa menangkap arti dibalik kata-kata Sasuke. "Tidak apa-apa, kau hanya perlu mendengarkan semua perintahku. Karena bagiku itu sudah manis."
Sakura memikirkan kata-kata Sasuke dengan seksama. Tidak mungkin. Menuruti perintahnya? Itu sama saja dengan menyeret dirinya ke neraka. Tapi apalagi yang bisa dilakukannya? "Baiklah. Tapi hanya selama satu bulan, bagaimana?" tanya Sakura.
"Hmm, tidak masalah." Sasuke menyeringai lebar dan menatap Sakura dari atas hingga ke bawah lalu kembali berjalan. Sasuke memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan bersiul pelan.
Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak, seharusnya dia tidak bernegosiasi dengan Sasuke. Siapa yang tau apa yang Sasuke ingin Sakura lakukan?
To Be Continue . . .
A/N: Maaf karena lama mengupdate cerita ini. Sesuai permintaan kalian, saya perpanjang ceritanya di chapter ini dan untuk chapter selanjutnya. Masalah nama genknya Sasuke, saya benar-benar kehabisan ide terpaksa saya menggunakan nama yg abal-abal -.-'. Di cerita ini ada beberapa karakter yg OOC, tapi gak akan terlalu jauh dari karakter aslinya kok. Oh iya, tolong kalau bisa menyempatkan diri di fanfict saya lainnya ya "Lucifer" dan "Love is Abnormal" dan jangan lupa tinggalkan review.
Terima kasih yg udah mereview fanfict ini, walaupun saya belum bisa membalas review semua secara satu-satu tetapi saya sudah membaca semua review kalian. Dan terima kasih yg selalu support cerita ini.
Semoga kalian suka, hihihi!
Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^^
Thanks to:
zehakazama, mantika mochi, Jamurlumutan462, Hyemi761, Feby470, , Dango-Chan123, Chery480, prince ice cheery, dianarndraha, depitannabelle, undhott, dziAoi, Rainie Cherry25, Luca Marvell, hanazono yuri, Re i, Dax, dewazz, Guest no hime, Bgw, Anonymous, Shannarooo19, LukeLuke, Qren, Lynn, deltoideus
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
