The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi." Cibir Neji pada Sasuke. Neji berjalan keluar dari dapur dan meletakkan segelas minuman pada Sasuke. "Mau berbagi padaku?" tanya Neji setelah menghempaskan tubuhnya di samping Sasuke.
Sasuke menggeleng pelan dan menyenderkan kepalanya di senderan sofa sambil memejamkan matanya. Senyum kecilnya masih tertempel di wajahnya.
"Astaga! Percayalah padaku, suatu saat nanti kau pasti akan membunuh salah satu dari mereka." Suara omelan Sai memenuhi ruang keluarga Neji. Baik Neji maupun Sasuke sama-sama menoleh dan melihat Sai berjalan diikuti Naruto dan Shikamaru.
Shikamaru mengangkat bahunya tanda tidak peduli pada kata-kata Sai. Neji menatap Naruto, meminta penjelasan karena ia tau Sai tidak akan bisa menjelaskan dengan kepala dingin.
"Biasa, dia 'bermain' agak berlebihan lagi." Ucap Naruto santai. Neji tahu yang dimaksud oleh Naruto adalah pertarungan mereka dengan Suna High School yang memang dijadwalkan hari ini oleh Neji sendiri. Neji menggelengkan kepalanya.
"Sasuke, kau harus bersikap tegas padanya! Kau tidak lihat bagaimana dia menghajar geng Suna High School tadi, ini sudah keterlaluan!" Sai menghampiri Sasuke dan melipat tangannya di depan dada. Sasuke memiringkan kepalanya untuk melihat sosok Shikamaru dari balik tubuh Sai yang menghalangi pandangannya. Shikamaru duduk dengan cuek.
"Mereka mengatakan kita—geng Konoha High School—orang-orang yang lemah! Jadi aku harus menunjukkan padanya siapa kita, kau setuju kan, Sasuke?" Sasuke mengganguk pelan, mengakibatkan Sai untuk mengerang kesal.
Neji kembali—entah dari mana—dengan kotak P3K di tangannya. Neji mengisyaratkan Shikamaru untuk mendekat padanya, dan Shikamaru menurutinya. Sementara Neji sibuk membersihkan luka di tangan Shikamaru, Naruto melihat seorang cewek berjalan melewati ruang keluarga.
Naruto menghampiri Neji dengan tidak sabar dan menggoyang-goyangkan lengan Neji. "Neji, siapa cewek itu? Kenapa aku baru melihatnya sekarang?" Neji melihat sekilas untuk melihat cewek yang di maksud oleh Naruto meski sebenarnya ia sudah bisa menduga Naruto akan bertanya seperti itu padanya saat melihat cewek berpakaian pelayan yang sedang membersihkan jendela. Neji kembali memfokuskan pandangannya pada luka-luka Shikamaru.
"Dia Shion, pelayan baru. Jangan coba-coba untuk menyentuhnya seujung jari pun padanya, aku memperingatkanmu Uzumaki Naruto." Sergah Neji sebelum Naruto sempat mengungkapkan keinginannya.
Neji tahu—semua anggota Konoha Boys tahu—kalau Naruto tidak akan bisa begitu saja melewatkan cewek yang menggiurkannya. Naruto kembali duduk di sofa dengan kesal. Sudah lama ia tidak bertemu dengan cewek yang terlihat sangat menarik, tapi Neji justru melarangnya.
"Hei, Suna High School sekarang berada di bawah kekuasaan kita. Apa yang harus kita lakukan untuk merayakannya?" Sai tidak ingin berlarut-larut dengan rasa kesalnya pada Shikamaru, itu tidak baik untuk kesehatan kulitnya (sejak kapan dia care akan kulitnya, LOL #dijambakSai) maka ia mencoba untuk bersenang-senang dan melupakan kekesalannya.
"Bagaimana kalau kita berpesta di rumah Shikamaru?" usul Naruto yang langsung disambut oleh tatapan maut oleh Shikamaru. "Kenapa?" tanya Naruto bingung. Sai malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Shikamaru—yang dianggapnya berlebihan—dan reaksi Naruto yang sangat tidak peka.
"Kurasa Shikamaru tidak akan lagi membiarkanmu menginjakkan kaki di sekitar rumahnya." Neji tersenyum kecil. Bagaimana bisa Naruto tidak tahu alasannya? Bahkan ia saja tahu.
"Hah?" Naruto mengernyit, justru merasa tambah bingung. Memang apa yang dilakukannya di rumah Shikamaru terakhir kali?
"Shikamaru tidak akan pernah membiarkan playboy sepertimu dekat-dekat dengan ceweknya." Jelas Sasuke karena merasa terganggu dengan sikap bodoh Naruto. "Sabaku Temari? Yang benar saja, aku bahkan tidak tertarik padanya. Dia bukan tipeku!" Naruto tertawa kecil. "Lalu kenapa kau merayunya saat dia datang ke rumahku minggu lalu?" Shikamaru mendelik kesal pada Naruto.
"Astaga, itu bukan merayu, Shikamaru. Itu hanya basa-basi." Jawab Naruto dengan santai.
"Pffft! I can't believe you. Just stay away from her." Shikamaru melipat kedua tangannya di depan dada.
"Cih, kalau kau begitu menyukainya kenapa kalian harus putus dan justru kembali berteman? Kalian benar-benar seperti anak kecil." Timpal Sasuke. Shikamaru mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Sejengkel apapun, semarah apapun ia tidak pernah bisa membantah kata-kata Sasuke —karena ia lah ketua geng mereka—dan Neji. Meski Neji lah yang paling expressionless diantara mereka, itu justru membuat Shikamaru merasa terintimidasi olehnya.
"Kalian mau ke club ku saja?" Tawar Sai. Naruto tersenyum lebar—tanda bahwa ia menyetujui usul Sai. "Aku tinggal di rumah teman orangtuaku, dan aku tidak bisa membiarkan mereka mencium bau alkohol pada diriku. Jadi aku tak bisa ikut malam ini." Sasuke melambai cepat dan melenggang keluar dari rumah Neji.
"Jadi hanya kita berempat saja?" tanya Shikamaru memandang ke teman-temannya.
"Tunggulah di luar, aku akan membereskan ini dulu." Neji menunjuk kotak P3K dipangkuannya. Sai, Naruto dan Shikamaru keluar dari rumah Neji dan menunggu di halaman rumahnya. Neji memasukkan kembali obat dan kapas yang digunakannya ke dalam kotak dan menutup kotak itu dengan rapat.
Neji mengangkat wajahnya, memandang punggung Shion selama beberapa detik dengan ekspresi yang sulit diartikan lalu meninggalkan kotak itu diatas meja dan segera menyusul teman-temannya.
Sakura menghentikan langkahnya di depan pintu rumah dan berdiri dengan ragu. Haruskah ia masuk sekarang? Tapi ia juga tak ingin berlama-lama berdiri di halaman rumahnya dan tidak ingin mati kedinginan.
Sakura mengepalkan tangannya di udara dan menyemangati dirinya sendiri lalu sedikit membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. Tidak ada tanda-tanda Sasuke dilantai 1, itu membuatnya sedikit bernafas lega.
"Aku pulang." Sapanya pelan, berharap mendengar jawaban dari ibunya. Suasana hening menyambutnya begitu ia menunggu balasan dari Nyonya Haruno. Sakura tau apa yang sedang terjadi. Seperti biasa, kedua orangtuanya keluar sekedar untuk berjalan-jalan—dan meninggalkan pesan di pintu kulkas.
Kami akan pulang tengah malam. Buat makan malam untuk dirimu sendiri dan Sasuke, mengerti?
- Ibu & Ayah
Sakura meremukkan kertas yang ditinggalkan oleh orangtuanya dan membuangnya ke tong sampah di samping kulkas. Sakura sama sekali tidak pernah merasa keberatan jika harus ditinggal seorang diri setiap kali orangtuanya kembali bersikap seperti remaja, tapi dengan kehadiran Sasuke di rumahnya. Jelas Sakura tidak berharap orangtuanya akan sering berpergian dan meninggalkan dia bersama serigala bermuka dua yang siap menerkamnya kapan saja.
Sakura berjinjit menaiki anak tangga menuju lantai 2, berharap Sasuke masih asyik berada di kamarnya—atau dimanapun—selama ia tidak mengganggu Sakura. Sesampainya di depan pintu kamarnya, Sakura sedikit memiringkan badannya dan menatap pintu kamar Sasuke yang tertutup rapat.
Jujur saja Sakura agak merasa ragu—dan menyesal—karena telah menyetujui syarat Sasuke tadi. Yang ada dibenaknya pagi itu adalah bagaimana caranya agar tidak akan ada teman sekolahnya yang tahu Sasuke tinggal di rumahnya—untuk sementara waktu, makanya ia menyanggupi begitu saja persyaratan Sasuke.
Tapi setelah ia memikirkannya kembali dengan pikiran jernih dan berulang kali, ia mulai menyesalinya. Bagaimana jika seandainya Sasuke ingin mencari keuntungan dari dirinya?
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Sasuke dari balik punggung Sakura membuatnya terlonjak kaget. "Astaga! Kau mengagetkanku!" teriak Sakura yang langsung berbalik dan mencari sosok Sasuke. Sakura langsung menundukkan kepalanya begitu melihat sosok Sasuke diujung lorong.
Semburat merah menyebar diwajah Sakura, membuat Sasuke tertawa kecil. Sasuke baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk putih yang terbalut dipinggangnya. Sasuke melangkah mendekat sementara Sakura dengan cepat bergerak mundur, tapi justru membuat dia terperangkap antara pintu kamarnya yang masih tertutup dan tubuh Sasuke.
"Like what you see?" Goda Sasuke yang berbisik di telinga Sakura membuat detak jantung cewek malang itu semakin tak karuan. "Ti-tidak …" Jawab Sakura dengan tergagap. Ia bisa mendengar deru nafas Sasuke ditelinganya, ia juga bisa merasakan dinginnya rambut Sasuke yang masih basah yang menyentuh permukaan pipinya.
"Apa kau bisa menyingkir sekarang?" Sakura mengerahkan seluruh keberaniannya, ia tidak ingin menjadi bulan-bulanan Sasuke lagi. "Hmmm?" Gumam Sasuke tak jelas. Sasuke meraih pipi Sakura dan mengelusnya dengan pelan.
Bibir Sasuke menyapu permukaan leher Sakura dengan lembut—sekedar mengecupnya, lalu naik ke garis rahang Sakura yang mengencang. Sentuhan ringan bibir Sasuke dikulit Sakura membuatnya merasa hampir gila.
Ia kembali mengenang ciuman pertamanya yang direbut oleh Sasuke —yang tidak ingin diingat Sakura lagi. Sakura memajukan tangannya, bersiap mendorong tubuh Sasuke agar menjauh, dengan cepat Sasuke meraih tangan Sakura dan menghentikannya.
"Ingat apa yang kukatakan tentang bersikap manis padaku? Atau kau lebih suka kalau besok semua orang akan tahu bahwa kita tinggal bersama?" ancam Sasuke dengan suara rendah yang semakin membuat Sakura menggila. Sasuke terkekeh pelan, lalu menyelesaikan permainannya dengan Sakura.
"Aku lapar, buatkan makan malam." Pinta Sasuke sebelum menghilang dibalik pintu kamarnya. "Tapi …" bantah sakura. "Bersikap manislah, Haruno Sakura." Potong Sasuke dengan cepat saat tahu Sakura akan membantah perkataannya. Sakura menggerutu tak jelas dan menghentakkan kakinya disetiap anak tangga, membuat Sasuke kembali terkekeh dari dalam kamarnya.
Sasuke duduk di tepi tempat tidur, mengeringkan rambutnya yang masih basah dan meneteskan air dingin. Mengapa ia merasa sangat bahagia setiap kali melihat reaksi Sakura saat ia mempermainkannya? Yang lebih tak bisa ia mengerti adalah mengapa ia selalu merasa ketagihan untuk menyentuh Sakura?
Perasaan semacam itu sudah lama ia buang jauh-jauh. Tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya bahwa suatu saat nanti ia akan kembali bisa merasakan perasaan itu. Satu-satunya orang yang bisa membuat dia merasakan perasaan tak karuan dan tak masuk akal itu hanyalah cewek yang sudah meninggalkan sejak dua tahun yang lalu.
Ia menunggu agar cewek itu kembali padanya. Ia bahkan rela merubah dirinya sendiri demi cewek itu, tapi cewek itu masih saja tak kembali. Jadi, jika selama ini hanya cewek itu yang bisa membuat jantung Sasuke meloncat-loncat tak karuan, bagaimana bisa sekarang Sakura membuat Sasuke kembali merasakan hal itu?
Sasuke menggeleng kepalanya pelan dan mencoba menyingkirkan pikiran-pikirannya yang mulai membuat ia pusing. Suara teriakan Sakura samar-samar terdengar dari lantai satu. Sasuke bangkit dari duduknya dan menyambar pakaian yang nyaman dan memakainya.
Sakura meletakkan panci yang ia gunakan untuk memasak diatas wastafel dan kembali ke meja makan. Sasuke menatap meja makan dengan mata terbelalak.
"Makan malam kita hanya ramen saja?" Tanya Sasuke sambil menunjuk dua mangkuk ramen yang tersaji. Sakura mengangguk cuek dan duduk di hadapan Sasuke. Sasuke menyendokkan kuah ramen ke dalam mulutnya tanpa ragu.
Meski makan malam yang ia bayangkan sangat jauh dari yang bisa Sakura sajikan, ia tidak mengeluh karena baginya itu sama sekali bukan masalah besar. Belum sempat Sasuke menelan kuah ramen, ia langsung mengeluarkannya lagi. Sakura memelototinya, merasa kesal karena ia tidak menghargai masakannya—ramen yang ia buat dengan penuh perjuangan.
"Yaiks! Apa ini? Kenapa pahit sekali?" Sasuke menjulurkan lidahnya keluar dan menatap Sakura serta ramen dihadapannya secara bergantian. Sakura mengernyit dan mencicipi ramen miliknya sendiri. Reaksinya sama seperti yang diberikan Sasuke.
"Kenapa bisa pahit? Aku tidak memasukkan yang aneh-aneh kok." Sakura balas menatap Sasuke yang menghela nafas dengan kesal.
To Be Continue …
A/N: Saya sengaja ngepost chap cerita ini dengan segera karena saya sekarang sedang mengurusi krs kuliah yg sedang bermasalah, huhuhu T^T. Jadi kemungkinan untuk next chap agak lama untuk ngepostnya. Dan juga dalam chap sebelumnya mohon maaf kalau ada ketidaknyamanan kalian untuk membacanya dikarenakan ada kesalahan penulisan nama. Karena cerita saya ini dulu pernah saya aplikasikan di ff korea dg nama tokoh korea. Karena saya sekarang lagi gila-gilanya penyuka anime naruto, saya berinisiatif merepost cerita ini dengan tokoh anime naruto. Apakah ini membuat kalian tidak nyaman karena saya merepost ceritanya dari ff korea ke ff anime? Lanjut ato gimana? Tolong kasih pendapat kalian? Terima kasih yg sudah memberi review dan memberi dukungan dalam cerita ini.
Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^^
Thanks to:
Frizca A, zehakazama, mantika mochi, Chery480, Dango-Chan123, Jamurlumutan462, dianarndraha, depitannabelle, uchiha cerry, Jeremy Liaz Toner, , LukeLuke, Lynn, dewazz, Anonymous, Dolphin, prince ice cheery, Mustika447, via-chan
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
