The Pervert Glasses

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Friendship

WARNING!

TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)

Sakura dan Sasuke berjalan berdampingan dalam perjalanan pulang. Setelah memutuskan bahwa mereka tidak akan bisa memakan ramen itu sebagai makan malam dan Sasuke tidak bisa lagi mempercayakan Sakura untuk memasakkannya makanan, mereka keluar rumah dan makan udon di kedai dekat rumah. Sakura asyik menikmati pemandangan malam dengan es krim cokelat yang ada di tangannya.

"Apa? Kenapa kau melihatku terus? Kau mau es krim ku?" Sakura menyodorkan es krim miliknya pada Sasuke. Sasuke memandang Sakura dan menggeleng dengan pelan. "Aku hanya tidak habis pikir. Masakan ibumu sangat enak, tapi kau justru sebaliknya. Kau benar-benar payah" Ejek Sasuke.

Sasuke memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan bernapas dalam-dalam. Sakura memiringkan kepalanya, menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya dengan kesal. Ia memang tidak pandai memasak seperti ibunya, tapi apakah perlu Sasuke mengejeknya?

"Dan lagi…" Sasuke berjalan beberapa langkah di depan Sakura dan membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Sakura membuat langkahnya langsung terhenti. Sasuke dan Sakura berhenti tepat di depan restoran Seven Springs. Sasuke menundukkan tubuhnya dan mendekati Sakura.

"Aku tidak tertarik pada es krimmu.." Sasuke menyeringai pelan, lalu mengangkat dagu Sakura menggunakan jari telunjuknya dan menyapukan ibu jarinya di bibir Sakura yang dingin. "Aku lebih tertarik membayangkan kau menjilati sesuatu yang lain." Sasuke mengerling nakal dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa peduli pada Sakura yang masih mencoba mencerna apa maksud kata-kata Sasuke.

"Sesuatu yang lain?" Sakura bergumam pada dirinya sendiri, masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan Sasuke. "Mungkinkah …" Wajah Sakura memerah membayangkan apa yang mungkin dimaksudkan oleh Sasuke tentang 'sesuatu yang lain'.

"Dasar mesum!" teriak Sakura sekeras mungkin membuat wajahnya jauh lebih memerah lagi.

Sementara itu, di dalam restoran Seven Springs, ada dua orang yang mereka kenal tengah duduk bersama untuk makan malam.

Hinata, memandang salad yang ada dihadapannya dengan geram. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan mengalami hal ini—perjodohan. Yang benar saja, memangnya tahun berapa sekarang? Dan lagi, Hinata tak bisa berbuat apa-apa. Inilah nilai yang harus dibayar karena terlahir di keluarga terhormat.

Pernikahan bisnis adalah hal yang lazim ditemui dan tak jarang mereka bahkan harus menikah di umur muda. Di kursi lain dihadapannya, Uzumaki Naruto menyantap steak sapi miliknya dengan tatapan bosan sambil sesekali mengangguk saat orangtuanya mengatakan sesuatu.

Hinata membatin, dari berpuluh ribu pria di Konoha, kenapa ia justru harus ditunangkan dengan Uzumaki Naruto—pria yang paling dibencinya? Jangan tanyakan alasan mengapa Hinata begitu membenci Naruto karena hanya dengan membayangkan alasannya saja sudah membuat darah Hinata naik ke ubun-ubun.

"Hinata, bagaimana menurutmu? Hyuuga Hinata?" Nyonya Hyuuga menyenggol lengan Hinata dari bawah meja dan menyadarkan Hinata dari lamunannya. Ia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Nyonya Hyuuga karena dari tadi ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan mereka—tidak tertarik dan sama sekali tidak ingin tau.

"Oh? Hmm, Aku setuju.." Jawab Hinata ragu. Yang ingin dilakukannya sekarang adalah segera menyelesaikan makan malam ini dan kembali ke rumahnya. Dan ia tau, satu-satu cara adalah dengan menyenangkan hati orangtuanya.

Naruto mendongak, mengalihkan perhatiannya dari makanan yang sejak tadi ia santap ke arah Hinata. Naruto memicingkan matanya, seolah tidak mempercayai kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Hinata.

Hinata menyadari tatapan yang diberikan Naruto, tapi memilih untuk tidak mempedulikannya. Beberapa menit berlalu Naruto masih saja memperhatikan dirinya, membuat Hinata risih dan balas menatap Naruto dengan kesal, memberikan peringatan padanya bahwa ia tak suka ditatap oleh Naruto.

"Baiklah, kalau begitu kami akan pulang lebih dulu. Hinata, kau baik-baiklah dengan Naruto, mengerti?" Nyonya Hyuuga menepuk pundak Hinata pelan. "Apa? Aku dan Naruto?" Hinata balas bertanya.

"Benar, bukankah tadi kau sudah setuju. Baiklah, kami pergi dulu." Nyonya Hyuuga menarik Tuan Hyuuga keluar dari ruangan, diikuti oleh orangtua Naruto. Hinata memukul keningnya dengan pelan. Jika ia tau itu yang ditanyakan oleh Nyonya Hyuuga tadi, bagaimana mungkin ia akan setuju. Naruto tertawa kecil dan menusuk-nusuk daging steaknya dengan santai. Hinata kembali memberikan tatapan maut padanya.

"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Hinata kasar. "Oww~! Begitukah caramu berbicara dengan calon tunanganmu? Tsk, pertama, kau harus memanggilku dengan kata 'sayang'—jelas karena kau akan jadi tunanganku. Dan kedua, kau harusnya bersikap lebih manis padaku—seperti ketika kau di sekolah."

"Uh, pertama aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan itu—karena kau tak pantas. Kedua, aku tidak akan bersikap manis padamu—karena aku tidak menyukaimu." Naruto kembali tertawa, kali ini lebih keras dari sebelumnya yang berhasil membuat Hinata justru bertambah kesal. Jelas sekali kata-kata Hinata sudah merendahkannya, bukankah seharusnya Naruto marah? Tapi pemuda di depannya ini justru tertawa. Apakah otaknya rusak—atau dia tak punya sama sekali?

"Gadis yang galak, aku suka itu—meski aku menyukai semua tipe wanita. Apakah kau sudah selesai makan? Kuantar kau pulang." Naruto meletakkan serbet diatas meja makan dan bangkit dari kursinya, tapi Hinata bergerak lebih cepat dan sudah berjalan di depannya tanpa menoleh ke belakang. Naruto menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis lalu berlari kecil untuk mengejar Hinata.

"Kenapa kau berjalan dulu? Memangnya kau tau di mana mobilku parkir?" Naruto menyeimbangi langkah Hinata dengan mudah. "Apakah aku bilang bahwa aku akan menerima tumpanganmu?"

"Hei, Hyuuga Hinata!" panggil Naruto geram. Karena Hinata tak juga memberikan reaksi, Naruto menarik tangan Hinata dengan keras dan langsung menggendongnya—bridal style.

"Astaga! Apa yang kau lakukan?" Bisik Hinata sambil menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang yang ada di restoran. Naruto menyeringai puas dan merasa senang melihat Hinata terlihat panik. "Bukankah sudah kubilang aku akan mengantarkanmu pulang?" ucap Naruto dengan santai. "Aku tidak mau! Turunkan aku sekarang!"

"Tidak akan. Aku akan mengantarmu pulang." Naruto mengucapkan kata-katanya sambil bersenandung pelan. "Baiklah! Turunkan aku sekarang." Bisik Hinata lagi. "Benarkah? Kau tidak akan kabur?" Naruto menatap Hinata dengan sebelah alisnya terangkat. Hinata mendesah pelan dan mengangguk pasrah. Melihat ketulusan—kepasrahan— Hinata, Naruto menurunkan Hinata perlahan-lahan.

"That's my girl." gumam Naruto pelan tapi cukup lantang untuk didengar Hinata. Naruto menurunkan tubuh Hinata dengan sangat berhati-hati hingga Hinata bisa menginjak lantai dengan kakinya sendiri.

"Aku bersumpah kau tidak akan selamat jika kau berani macam-macam." Ancam Hinata sambil melipat kedua tangannya. "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam malam ini. Karena masih akan ada malam-malam berikutnya." Naruto mengerling pada Hinata dan merangkulkan lengan kirinya di pinggang Hinata, menghilangkan jarak diantara mereka. Hinata terkesiap pelan dan memelototi Naruto.

"Jangan sentuh aku." Gumam Hinata dari sela-sela mulutnya yang terkatup rapat.

"Atau kau mau aku menggendongmu lagi?"

"Sial!" Gerutu Hinata sepanjang perjalanan mereka malam itu.

Sakura duduk dibangkunya dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan mendengus berkali-kali. Sakura terus menatap sekotak bekal makan siang yang sama persis seperti miliknya dengan kesal. Sakura menggigiti lolipop yang ada di dalam mulutnya untuk melampiaskan rasa kesalnya.

Sasuke telah berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang mereka yang tinggal seatap untuk sementara waktu—dan tentunya Sakura harus membayar mahal untuk menutup mulutnya.

Tapi kenapa pula Sasuke harus lupa membawa bekal makan siangnya? Sakura bisa saja pura-pura tidak tau dan membiarkan Sasuke makan di cafetaria—toh itu tak akan membunuhnya. Tapi—lagi-lagi—Sakura tak bisa berbuat apa-apa saat ibunya memaksanya untuk mengantarkan bekal milik Sasuke dengan alasan masakan rumah jauh lebih enak dan sehat.

Dan tentu saja Sakura sudah melakukan segala cara agar ibunya melepaskannya kali ini. Ia sudah mengeluarkan jurus imutnya, merengek bahkan memohon tapi ibunya tetap saja tidak mempedulikannya. Dunianya benar-benar jungkir balik sejak kedatangan Sasuke ke rumahnya. Sudah pasti, hidupnya yang tenang berubah bagai di neraka.

Tamu kehormatan orangtuanya telah 'melecehkan' nya disetiap kesempatan dan sekarang jurus imut miliknya justru tidak mempan lagi terhadap Nyonya Haruno, padahal dalam keadaan normal ibunya selalu luluh terhadap jurus imut anak semata wayangnya itu.

Sakura mendengus untuk kesekian kalinya dalam 5 menit itu. "Sakura, kau cukup mengantarkan bekal ini padanya secara diam-diam. Tak akan ada orang yang tau ataupun curiga, dan yang lebih penting lagi ibu tidak akan memarahimu." Gumam Sakura tak karuan pada dirinya sendiri.

"Aku bilang, letakkan itu, Ino." Sakura mengalihkan perhatiannya ke bagian belakang ruang kelasnya. Karena jam istirahat, banyak siswa yang masih keluyuran dan kelas agak sepi. Sakura melihat Sai dan Ino saling berhadapan dan terlihat sedang 'bertarung' sengit.

Sai berkacak pinggang dan memberikan tatapan laser yang sepertinya bisa menghancurkan orang yang ia tatap hingga berkeping-keping, tapi Ino justru terlihat baik-baik saja dan balas menatap Sai tanpa rasa takut.

Ino mengacungkan sebuah majalah seni dihadapan Sai dan menggoyang-goyangkannya. Ino menyeringai pelan dan menyembunyikan majalah itu dibalik tubuhnya saat Sai mencoba meraih kembali majalahnya yang entah sejak kapan diambil alih oleh Ino.

"Bagaimana menurutmu kalau kurobek majalah ini? Pasti saat kau membacanya kau akan selalu teringat padaku kan?" Ino memasang senyum manis yang jelas sekali terlihat palsu. Sai mendengus pelan dan menangkap sesuatu yang menarik dari ekor matanya.

"Robek saja. Tapi jangan salahkan aku kalau aku membuang bukumu." Sai balas menyeringai penuh kemenangan. Sai mengambil buku Ino dari atas mejanya dan mengikut apa yang dilakukan Ino padanya tadi—mengacungkannya di hadapan Ino dan melambai-lambaikannya.

"Jangan coba-coba untuk berbuat sesuatu pada buku tugasku, Sai. Atau kau akan mati!" Ino terbelalak. Jangan sampai Sai membuang bukunya. Itu adalah buku yang berisi tugas penting yang harus dikumpulkan setelah jam istirahat berakhir. Dan mereka sama-sama tau kalau tugas itu tidak dikumpulkan, berarti jam tambahan akan menunggu mereka.

"Jadi kau tau kan bagaimana rasanya melihat benda berhargamu berada dalam bahaya? Ayo barter. Kau kembalikan majalahku dan aku akan kembalikan buku tugasmu." Sai mengulurkan tangannya yang bebas, bersiap menerima kembali majalahnya. Ino memberengut.

Pada akhirnya ia bisa membuat Sai—musuh bebuyutannya—panik, tapi Sai justru membalikkan keadaan. Sai tersenyum lebar, tau bahwa ia pasti berhasil menang kali ini.

"Baiklah. Ambillah majalah jelekmu ini. Dasar banci…" Cibir Ino dengan kesal. Ino menghentakkan majalah yang ia pegang diatas telapak tangan Sai. "Apa? Kau bilang aku apa tadi?" Senyum diwajah Sai menghilang seketika itu juga.

"Bukuku." Ino mengulurkan tangannya ke depan dan meminta bukunya tanpa menyadari kemarahan diwajah Sai. Sai berjalan mendekati jendela dan langsung melempar buku tugas Ino dari lantai 4.

"Bukukuuu!" Ino berlari menghampiri Sai dan mengintip melalui jendela, melihat bukunya yang sudah terjatuh ke lantai dasar. "Bukankah kau bilang barter? Bagaimana bisa kau menelan ludah mu sendiri!?" Omel Ino. Sai menyeringai sinis dan menarik tangan Ino agar mendekat.

"Ini balasan karena kau mengatakanku banci. Lain kali kudengar kau mengatakan itu lagi padaku, akan kubuat kau merasakan betapa manly-nya aku." Bisik Sai. Sai mendelik selama sedetik pada Ino lalu berlalu pergi. "Astaga! Tugasku!" Teriak Ino. Ia mengintip dari balik jendela sekali lagi sebelum akhirnya berlari dengan cepat ke lantai dasar.

Sakura hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dua orang itu. Yah, jika ada satu hari saja ia tidak mendengar suara teriakan dari Ino dan Sai, itu berarti masalah besar. Sakura melirik jam tangannya dan terlonjak pelan.

Jam istirahat hampir habis, dan kalau ia tidak cepat-cepat memberikan bekal milik Sasuke, mungkin saja jam pelajaran selanjutnya sudah dimulai. Sakura membuang tangkai lolipopnya ke tempat sampah dan berjalan keluar dari kelas dengan cepat.

"Urgh! Di mana aku harus mencarinya? Di kelasnya? Atau di ruang OSIS?" gumam Sakura pada dirinya tanpa henti-hentinya celingukan di sepanjang koridor.

"Sakura, sedang apa kau? Mencari Ino? Tadi sepertinya aku melihat dia berlari turun sambil terus mengumpat nama Sai. Mereka bertengkar lagi?" Hinata muncul dihadapan Sakura dan menatap ke arah tangga tempat ia melihat Ino berlari turun tadi.

"Oh, kau seperti tidak tau mereka saja. Oh ya, apa kau tau di mana Sasuke sekarang?"

"Sasuke? Uchiha Sasuke? Sasuke si ketua OSIS itu? Yang sekelas denganku?" Hinata memiringkan kepalanya dan menatap Sakura dengan tidak percaya. Tidak biasa-biasanya Sakura menyebutkan nama Sasuke, apalagi mencarinya.

"Biasanya dia diatap gedung sekolah." Lanjut Hinata. Meski ia tidak tau ada apa, ia tetap harus membantu sahabatnya yang terlihat terburu-buru. "Arigatou, Hinata. Sepulang sekolah kita bertemu di toko es krim yang biasa ya." Sahut Sakura sambil berlari kecil. Hinata menatap bayangan punggung Sakura hingga menghilang dibalik tangga.

"Ada yang aneh." Hinata menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya kembali ke kelas.

Akhirnya Sakura sampai diatas gedung sekolah, tapi ia tidak melihat seorang pun yang ada di sana. "Astaga! Ke mana lagi si mesum itu?" Omel Sakura. Ia sudah lelah karena harus berkeliling tak jelas dan masih saja tidak menemukan Sasuke.

"Kau sedang mencariku?" Suara Sasuke tiba-tiba saja terdengar. Sakura terlonjak pelan, kaget karena tidak tau dari mana sumber suara Sasuke. Sakura memutar tubuhnya dan memandang ke sekeliling, tapi masih saja tidak menemukan Sasuke.

Sebuah lengan melambai pelan dari balik tangga. Sakura berjalan mendekat secara perlahan dan melihat Sasuke tengah bersandar dibalik tangga, pantas saja ia tak bisa menemukannya. Sasuke yang memakai kacamata benar-benar terlihat seperti kutu buku—menurut Sakura, tapi siapa yang tau akan berubah jadi apa dia tanpa kaca matanya?

"Nih, bekal makan siangmu." Sakura menyodorkan bekal yang dari tadi ia pegang tanpa melihat ke arah Sasuke. Sasuke menarik tangan Sakura dengan pelan tapi kuat, membuat Sakura terjatuh diatas tubuh Sasuke. Sakura menatap Sasuke dengan matanya yang membesar sementara Sasuke tersenyum nakal. Sasuke melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di samping.

"Ittadakimasu…" Ucap Sasuke lalu mendekati Sakura, berusaha mengecup bibir Sakura.

"Kyaa! Apa yang kau lakukan?" Dengan cepat Sakura membekap mulut Sasuke sebelum bibir mereka bersentuhan. Sasuke menyingkirkan tangan Sakura dan berbisik di bibir Sakura.

"Bukankah kau adalah makan siangku?" Sakura memutar bola matanya yang diikuti tawa dari Sasuke. Sasuke melepaskan Sakura dan membuka bekal makanannya. Ia mengamati masakan yang dibuat oleh Nyonya Haruno sambil mengigit ujung sumpitnya.

"Bukan kau yang masak, kan?" Ejek Sasuke. Sakura tersenyum sinis dan bersiap untuk pergi, tapi pintu atap gedung sekolah terbuka dengan suara berdebam keras. Sakura kembali berjongkok di samping Sasuke.

Bagaimana kalau ada yang tau ia memberikan bekal makan siang pada Sasuke? Bagaimana kalau ada yang tau Sasuke dan dirinya tinggal serumah? Pikiran-pikiran itu terus menghantui Sakura. Sasuke mengintip dari balik tangga, diikuti Sakura yang penasaran siapa yang naik ke atap gedung sekolah.

Shikamaru menarik tangan Temari dengan keras dan menghempaskannya dengan kasar. "Awww! Apa kau tidak tau kalau itu sakit?" Temari memelototi Shikamaru dan mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah. Shikamaru meletakkan kedua tangannya dipinggang dan berdecak. "Kenapa lagi kau ini?" Tanya Temari lagi meski Shikamaru masih belum menjawab pertanyaannya yang tadi.

"Bukankah sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak dekat-dekat dengan Kiba? Sial, bahkan sekarang kau tidak mendengarkan kata-kataku lagi!?" Bentak Shikamaru cukup keras meski tidak membuat Temari gentar sama sekali.

"Kau ini kenapa sih? Dewasalah sedikit, Shikamaru. Kami sama-sama pengurus kelas, jadi sudah pasti kalau kami akan lebih sering bersama untuk satu tahu ke depan." Temari melipat kedua lengannya dengan sikap menantang. Jika semua orang takut pada Shikamaru yang sedang marah, maka Temari sedikitpun tidak merasakan ketakutan yang orang-orang itu rasakan.

"See? Inilah kenapa aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. That guy is a big problem!" Teriak Shikamaru lagi. Temari menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan.

"Minggu lalu kau memarahiku karena Naruto, beberapa hari yang lalu kau juga menarikku ke sini karena ada teman sekelas yang ingin memintaku membantunya mengerjakan soal matematika dan sekarang karena Kiba. Apa kau tidak menyadarinya? Satu-satunya masalah di sini adalah kau, Tuan Shikamaru yang terhormat." Temari menatap Shikamaru dengan sinis dan berjalan melewati Shikamaru. Shikamaru menahan lengan Temari, kali ini sama sekali tidak menggunakan tenaga.

"We're just a childhood friends. Stop act like you're my boyfriend." Ucap Temari lirih, lalu menghempaskan tangan Shikamaru. Temari menuruni tangga dengan cepat, meninggalkan Shikamaru yang mematung seorang diri. "Shit!" Shikamaru menendang udara kosong dihadapannya dan terus mengumpat.

"Kau tidak salah lihat, dia memang teman kami yang super jenius." Ucap Sasuke santai sambil memasukkan sesuap nasi terakhir ke dalam mulutnya saat melihat pandangan Sakura yang seolah tidak percaya.

"Tidak mungkin. Kalau Ino melihat hal ini, mimpinya pasti hancur." Sakura terkekeh pelan membayangkan wajah Ino jika tau pria idolanya ternyata tidak secool dan secerdas yang ia pikir.

"Hmm, bisa aku mendapatkan dessert ku sekarang?"

"Apa? Dessert? Cih, kau pikir kau sedang berada di restoran, huh?"

"Bukan begitu, aku tau aku sedang berada di sekolah dan sedang bersamamu."

Sasuke merengkuh tengkuk Sakura dan menyatukan bibir mereka. Sasuke melumat bibir Sakura dengan perlahan menikmati Sakura dan pemberontakkannya disaat yang bersamaan. Rasanya benar-benar menyenangkan baginya.

Sakura mengulurkan tangannya, berusaha menjauhkan Sasuke dan melepaskan diri. Tapi tenaganya tidak sebanding dengan Sasuke yang sedikitpun bergeming tanpa mengeluarkan tenaga.

"Mpfffh!" Sakura mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak terdengar jelas. Sasuke menghentikan ciumannya dan beralih ke telinga Sakura untuk berbisik. "Ssst.. Kau tidak ingin Shikamaru tau apa yang sedang kita lakukan, kan?" Bisik Sasuke dengan suara rendah. Tangan kiri Sasuke bermain di telinga Sakura yang lain.

Sasuke menyelipkan beberapa helai rambut Sakura di balik telinganya. Sakura menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah siap meledak saking merahnya.

Sasuke menggigit pelan telinga Sakura yang hanya bisa mencengkram lengan Sasuke lebih erat. Sekali lagi Sasuke menyapukan bibirnya diatas bibir Sakura, kali ini hanya mengecupnya dengan lembut karena ia tidak ingin kehilangan kendali. Bersentuhan dengan Sakura dan mencicipinya hanya membuat Sasuke selalu merasa tidak puas. Dan ia tidak ingin—belum ingin—merusak reputasi baiknya di sekolah.

"Terima kasih untuk dessertnya, aku mengharapkan sesuatu yang lebih lain kali." Goda Sasuke. Sasuke menjilati bibir, lalu kembali mengenakan kacamatanya dan beranjak pergi.

"Sasuke! Sejak kapan kau ada di sana?" Tanya Shikamaru bingung begitu Sasuke muncul ditempat yang sama dengannya.

"Ayo, kelas akan dimulai sebentar lagi." Sasuke merangkul pundak Shikamaru dan menariknya turun sebelum Shikamaru bisa melihat kehadiran Sakura dibalik tangga.

Sakura masih terduduk ditempatnya. Ia ingin berdiri dan segera kembali ke kelas seperti yang dilakukan Shikamaru dan Sasuke, tapi kakinya terasa sangat lemas dan tidak bisa menumpu dirinya jika ia berdiri.

Sakura meletakkan telapak tangannya di dadanya yang sekarang bergemuruh tak karuan. Detak jantungnya menggila hanya dengan mengingat kejadian tadi.

Jelas-jelas Sasuke hanyalah pemuda mesum bermuka dua yang selalu mengganggunya. Tapi kenapa Sakura masih bisa berdebar-debar seperti itu setiap kali Sasuke mendekatinya? Sakura menggerakkan telapak tangannya dan menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat karena sentuhan Sasuke.

To Be Continue …

A/N: huaaahh, akhirnya update juga chap ini. Gomen-na author terlalu lama update-nya, author janji akan mengusahakan update kilat. Kira-kira siapa ya masa lalu Sasuke? Kasih tau gak ya?...Yg jelas itu masih rahasia, kekeke. Thank's bagi kalian yg sudah membantu meralat kata-kata yg salah ato yg gak enak dibaca ^^

Thank's juga yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~

Thanks to:

mantika mochi, Frizca A, Jamurlumutan462, Kiki Kim, Himenatlyschiffer, Kagaaika Uchiha, , Luca Marvell, zehakazama, depitannabelle, Chery480, NamikazeLee, dianarndraha, elzakiyyah, ha neul, Anonymous, Dolphin, sakira, Lynn, Aishamath Shinobu, Hikaru Sora 14, Ray Chrysanthemum, Nurulita as Lita-san, Desta Soo, cherry4198

Salam kecup buat reviewer

Miko Yuuki