The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
"Hah!"
"Hah!"
Sakura dan Hinata menghela nafas disaat yang bersamaan dan memerosotkan bahu mereka. "Kenapa?" Tanya mereka bersamaan, lalu terkekeh. "Yah, tidak salah kalau kita memang berteman." Sahut Hinata.
Seorang pelayan datang mengantarkan dua gelas es krim pesanan mereka. "Mana Ino kenapa dia tidak ikut?" Hinata menyendokkan es krim vanila ke dalam mulutnya. "Dia ada jam tambahan gara-gara terlambat masuk ke kelas. Dan aku berani sumpah, sekarang dia pasti sedang merutuki Sai." Hinata mengangguk setuju, jelas ia tau bagaimana sifat Ino.
Dan mereka selalu heran kenapa Ino dan Sai tidak pernah bisa akur meski ini adalah tahun kedua mereka dikelas yang sama, bahkan duduk di bangku yang bersebelahan pula. "Oh iya, kenapa tadi kau mencari Sasuke? Hmm?" selidik Hinata dengan tatapan curiga.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa." Elak Sakura. Hinata menatapnya dengan tidak percaya, tapi membiarkannya begitu saja. Toh ia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi antara Sasuke dan Sakura.
Setelah Hinata mengucapkan nama Sasuke, benak Sakura kembali dipenuhi oleh pria itu. Sakura benci untuk memikirkannya, karena hanya akan membuat dia jadi tambah bingung. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
Ia sungguh tidak mengerti kenapa ia merasa begitu nyaman berada di sekitar Sasuke, seharusnya ia tidak merasakan hal itu karena Sasuke adalah orang yang berbahaya.
Sasuke bisa saja merengut keperawanannya—yang selalu membuat Sakura bergidik ngeri membayangkannya. Tidak mungkin perasaan yang ia rasakan adalah suka, apalagi cinta. Terlalu tidak masuk akal dan tidak bisa ia terima. Selama hidupnya ia mendengar dan melihat Uchiha Sasuke sebelum Sasuke tinggal di rumahnya ia selalu merasa kesal—entah mengapa.
Tapi sejak Sasuke tinggal di rumahnya—tiga hari—ia justru merasakan hal yang lain. Perasaannya campur aduk saat ini, ia sebagai pemilik hati dan pikirannya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padanya dan ia tidak suka itu.
"Ugh, aku benci mengatakan ini, tapi aku harus pulang sekarang. Ada pria menyebalkan yang menunggu untuk ku tendang jauh-jauh." Hinata menatap layar hp nya sekilas lalu beralih pada Sakura.
"Ada apa denganmu? Aku tidak tau kau bisa mengatakan kata-kata seperti itu?" Sakura menaikkan sebelah alisnya. Hinata mengangkat bahunya dan keluar meninggalkan Sakura.
Setelah duduk seorang diri selama beberapa jam, Sakura memutuskan untuk pulang. Ia yakin orangtuanya pasti sedang keluar lagi dan ia tidak mau berduaan saja dengan Sasuke.
Langit sudah sangat gelap saat Sakura keluar dari toko es krim dan berjalan pulang. Meski masih ada kendaraan dan pejalan kaki yang lalu lalang, jalanan menjadi lebih sepi dari biasanya karena cuaca yang dingin. Sakura merapatkan jaketnya dan melindungi dirinya sendiri dari terpaan angin dingin.
Sebuah lorong yang biasa ia lalui terlihat sangat gelap dari kejauhan. Sakura bergidik ngeri. Tidak pernah ia pulang selarut ini dan sejujurnya ia agak takut karena harus melewati lorong segelap itu. Tapi hanya itulah satu-satunya jalan untuk mencapai rumahnya.
Sakura mempercepat langkahnya, berharap ia segera keluar dari lorong itu dan kembali ke jalan raya. Dua orang pria yang terlihat agak mabuk berdiri di tengah-tengah lorong semakin membuat Sakura bergidik ngeri. Sakura menundukkan wajahnya, berharap pria-pria itu terlalu mabuk untuk menyadari kehadirannya.
Salah seorang dari pria itu berhenti tepat dihadapan Sakura dan menatap Sakura dalam-dalam. Sakura tersentak pelan dan menghentikan langkahnya karena terkejut. Saat Sakura hendak kembali melangkah, pria yang lain menarik tangannya dengan paksa.
"Mau bermain dengan kami?" Sakura bisa mencium aroma alkohol yang begitu menyengat dari mulut pria itu dan aroma itu mengocok perutnya, membuatnya mual. "Tsk, aku tidak tau kalau ada gadis sepertimu di sekitar sini. Ayolah, main bersama kami.." pria yang menarik tangan Sakura mulai mendekat dan menyentuh pipi Sakura. Tubuh Sakura bergetar pelan karena rasa takut.
"Ti-dak! Lepaskan aku!" teriak Sakura berharap akan ada orang yang mendengarnya dan menolongnya. Tapi sepertinya semua orang terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri hingga tak mendengar suara Sakura dari balik remang-remang cahaya. Hampir saja Sakura ingin menangis membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya ketika ia mendengar suara yang—sudah familiar—di telinganya.
"Lepaskan dia.." Sasuke muncul dengan kedua tangannya terselip dibalik saku celana denim ketatnya. Sakura menghembuskan nafas lega. Ia tidak tau apakah Sasuke akan bisa menolongnya atau tidak, tapi hanya dengan melihat Sasuke di hadapannya sekarang sudah mampu membuat ia merasa aman.
"Kupikir siapa, ternyata dua orang pencundang dari Oro High School. Kidoumaru dan Yakushi Kabuto." Ejek Sasuke sambil menyeringai. "Apa? Kau bilang kami apa?" Tanya Kidoumaru.
Kidoumaru menghempaskan lengan Sakura dengan kasar, membuat Sakura hampir saja terjatuh jika Kabuto tidak segera menangkap tubuhnya. Kidoumaru melangkah maju, mengepalkan tangannya dan melayangkan ke arah Sasuke.
Namun karena pengaruh alkohol yang telah mengambil alih 90 persen dirinya, Kidoumaru bahkan tidak bisa melihat dengan tepat di mana Sasuke berada hingga akhirnya Kidoumaru hanya bisa meninju udara kosong dihadapannya dan kehilangan keseimbangan.
Sasuke segera berbalik, mencengkeram kerah baju Kidoumaru dan melayangkan beberapa tinjunya yang menghantam wajah Kidoumaru.
Kabuto melepaskan Sakura dan segera menghampiri Sasuke. Kabuto menahan lengan Sasuke, membuat Sasuke menghentikan tinjunya. "Hentikan. Kami tidak melakukan apapun pada temanmu, jadi kau juga harus berhenti memukul Kidoumaru." Ucap Kabuto dengan tenang.
Sasuke menatapnya dengan penuh amarah selama beberapa detik sebelum Sasuke menghempaskan tangan Kabuto dan melepaskan Kidoumaru yang sekarang sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya karena pengaruh alkohol dan pukulan Sasuke.
Kabuto merangkulkan lengan Kidoumaru dilehernya, membantu Kidoumaru berdiri. Kabuto memperhatikan Sasuke yang menghampiri Sakura tanpa berkedip. "Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke dingin. Sakura mengangguk pelan, masih terlalu takut dengan apa yang terjadi tadi. Sasuke mengulurkan tangannya pada Sakura dan membantu Sakura berdiri.
"Berhenti menatapku dengan pandangan menjijikkan milikmu.." Cerca Sasuke saat melewati tempat Kabuto berdiri. "Kupikir itu semua sudah berakhir, bukankah sudah dua tahun berlalu? Dan kau masih memikirkan orang itu sampai saat ini? Sadarlah, dia tidak seperti yang kau lihat. Kepergiaannya justru lebih baik untukmu." Kabuto mengucapkan kata-katanya dengan tenang, sama sekali tidak takut kalau Sasuke akan memukulnya.
Sasuke mengatupkan rahangnya dengan erat. Kalau saja ia tidak menggenggam tangan Sakura saat ini, ia pasti sudah berbalik dan menghajar Kabuto karena kata-katanya. Sasuke memilih untuk berpura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.
"Aku merindukan Uchiha Sasuke yang dulu ku kenal .." Bisik Kabuto lirih setelah Sasuke semakin menjauh darinya.
Sasuke menghempaskan tangan Sakura dengan kasar dan menggeram pelan. "Kau gila ya? Apa yang sedang kau lakukan malam-malam seperti ini? Apa kau tau bagaimana jadinya kalau tadi aku tidak datang!?" Bentak Sasuke. Wajah Sakura tertunduk dalam-dalam. Sasuke mendesah frustasi dan mengacak rambutnya sendiri.
Sasuke berbalik dan menaiki tangga menuju lantai 2. langkahnya terhenti saat Sakura menyebut namanya. "Ari-arigatou …" Ucap Sakura gugup. Sasuke kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Sakura di ruang tamu. Sasuke membanting pintu kamarnya dengan keras dan bersandar di daun pintu. Kedua tangannya terkepal erat.
"Brengsek kau, Yakushi Kabuto." Bisik Sasuke kepada dirinya sendiri.
"Sakura! Kau kenapa? Kau terlihat pucat. Ada masalah?" Ino merangkul pundak Sakura begitu melihat sahabatnya bergeming setelah bel istirahat berbunyi. Sakura menggeleng pelan. Bayang-bayang wajah Sasuke semalam masih membekas di benaknya.
Dan untuk melihat Sasuke pertama kali bertingkah seperti itu agak membuat Sakura ngeri.
"Ayo kita makan. Ajak juga si Sai." Ino menyeret paksa Sakura dari tempat duduknya.
Ino terus saja mengoceh tentang jam tambahannya kemarin dan bagaimana ia akan balas dendam pada Sai nantinya sementara pikiran Sakura masih melayang-layang tidak karuan selama perjalanan mereka menuju ruang OSIS—tempat di mana mereka yakin Sai berada saat ini.
Ruang OSIS terlihat sangat ramai. Beberapa siswa sibuk membolak-balikkan tumpukkan kertas dan mencari sesuatu yang entah apa. Sai sendiri memiliki setumpuk kertas untuk ia cari.
"Sasuke-senpai, neraca kas OSIS untuk bulan lalu masih belum seimbang.." Seorang siswa tahun pertama berdiri di depan meja Sasuke. Sasuke mengalihkan perhatiannya dari layar komputer ke siswa itu dan menghela nafas pelan.
"Letakkan saja di mejaku, akan kukerjakan nanti." Pinta Sasuke. Siswa itu mengikuti perintah Sasuke dan segera meninggalkan ruangan. Sasuke memijat tengkuknya yang terasa sakit. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk merilekskan otot-otot lehernya yang mulai kaku. Sasuke menangkap sosok Sakura bersama Ino di luar ruangan OSIS.
Sakura mengalihkan pandangannya begitu Sasuke balas menatapnya. Sakura merasa canggung untuk bertatap muka dengan Sasuke saat ini.
"Sai.." Panggil Sasuke pada Sai yang duduk di seberangnya. Sai mendongak dan menatap Sasuke dengan penuh tanda tanya. "Istirahatlah, suruh anggota yang lain untuk beristirahat juga." Lanjut Sasuke.
"Tapi kita harus menemukan surat izin itu hari ini juga kalau kita ingin mendapatkan surat persetujuan." Tolak Sai. "Aku yang akan mencarinya. Kalian istirahatlah." Lanjut Sasuke dengan cepat sebelum Sai kembali memprotes. Sai mengatupkan mulutnya dan menyuruh anggota OSIS lain untuk istirahat sesuai keinginan Sasuke.
Setelah memastikan tidak ada seorang pun lagi yang tersisa di ruangan OSIS dan Sakura sudah berlalu pergi bersama kedua sahabatnya, Sasuke melepaskan kacamatanya dan memijat keningnya sebelum ia kembali memfokuskan matanya pada layar komputer untuk membuat proposal.
Sakura melambaikan tangannya pada Sai dan Ino yang berlawanan arah dengannya. Hari ini Sakura memutuskan ia akan melewatkan rutinitas mereka berkumpul di toko es krim sepulang sekolah.
Setelah ia tak bisa lagi melihat bayangan kedua temannya, Sakura membalikkan badannya dan terlonjak kaget.
"Ka-kau …" Sakura menunjuk seorang pria yang bersandar dengan santai di samping gerbang sekolahnya.
Beberapa orang siswi berbisik-bisik sambil terus memperhatikan pria itu. Selain seragamnya yang terlihat menyolok, wajah pria itu juga cukup menyolok untuk menarik banyak perhatian terutama wanita.
"Hai.." pria itu melambaikan tangannya dengan pelan. "Aku datang dengan damai. Soal kemarin, aku mewakili temaku untuk meminta maaf. Dia tidak bermaksud untuk menyakitimu." Jelas pria itu panjang lebar.
"Oh .." Sahut Sakura masih agak was-was. "Perkenalkan, aku Yakushi Kabuto. Siswa tahun kedua di Oro High School." Kabuto meluruskan tubuhnya dan mengulurkan telapak tangannya pada Sakura.
Sakura menatap wajah Kabuto dan telapak tangannya secara bergantian. Meski terlihat ragu-ragu, Sakura menerima uluran tangan Kabuto. "Haruno Sakura." Sahut Sakura singkat. "Nice name." Kabuto menggoyang-goyangkan tangan mereka dan tertawa kecil saat melihat ekspresi tidak senang di wajah Sakura.
"Keberatan jika aku menemanimu pulang?" Sakura mengerutkan keningnya atas tawaran yang ia rasa mencurigakan. Kabuto kembali tertawa kecil membuat wajahnya yang terlihat dingin menjadi ramah.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak akan macam-macam. Kalaupun aku melakukan hal yang tidak seharusnya padamu, aku yakin Sasuke akan datang mencariku dan membunuhku detik itu juga. Jadi, bisakah kau berikan aku sebuah kehormatan dengan menemanimu pulang?" Kabuto menundukkan wajahnya dan menyetarakannya dengan tinggi Sakura.
Sakura memundurkan kepalanya saat wajah Kabuto tepat berada dihadapannya. "Uh, tentu, tapi bisakah kau beritahukan padaku apa hubunganmu dengan Sasuke?"
Sebenarnya Sakura ingin menolak tawaran Kabuto, tapi sebuah pertanyaan menyangkut dibenaknya. Apa hubungan Kabuto dan Sasuke? Dan entah karena alasan apa Sakura ingin mengetahuinya.
Kabuto berpikir selama sesaat dan mengangguk menyetujui. Kabuto menyeringai pelan, nyaris tidak terlihat oleh Sakura saat mereka mulai berjalan dengan lambat-lambat.
"Apakah Sasuke baik-baik saja?" Kabuto melangkah dengan perlahan, menyeimbangi langkah Sakura yang memang tidak terlalu lebar. "Seperti yang kau lihat kemarin, menurutmu bagaimana keadaannya?" Balas Sakura balik bertanya.
"Dia terlihat.. Sama sekali tidak baik-baik saja." Kabuto mengernyit saat kata-katanya meluncur keluar dari mulutnya diikuti beberapa cuplikan di benaknya. "Tolong jaga temanku itu. Dia mungkin terlihat kuat atau cuek dihadapanmu, tapi sesungguhnya dia hanyalah seorang pria lemah yang terluka. Kau—" Cerocos Kabuto.
Sakura menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba dan mengulurkan telapak tangannya tepat di depan wajah Kabuto "Tunggu dulu! Aku rasa aku tau kemana arah pembicaraanmu. Kau mengira aku adalah pacarnya? Kami berpacaran?" Tanya Sakura tidak percaya. Kabuto mengangguk dan Sakura memutar bola matanya.
"Dengar baik-baik Tuan Kabuto. Dia bukan pacarku—bahkan tidak akan pernah menjadi pacarku meski dalam mimpi. Jadi kau sudah menemukan orang yang salah untuk kau beri amanat."
"Benarkah? Tapi aku tau bagaimana sifat Sasuke. Ia tidak akan melindungi orang yang sama sekali tidak penting baginya. Ataukah dia menyelamatkanmu karena melihatku di sana? Karena aku?" Kabuto bergumam pada dirinya sendiri dengan ekspresi bingung. Tawa Sakura meledak saat melihat tingkah Kabuto.
Kabuto menoleh pada Sakura dengan tatapan meminta penjelasan. "Padahal kau terlihat sangat dingin, ternyata kau bisa bersikap lucu juga." Ucap Sakura di sela-sela tawanya. Kabuto menyingai pelan.
"Kau akan menemukan hal yang lebih menarik tentang diriku kalau kau mengenalku lebih jauh." Ujar Kabuto dengan sombong. "Sikap sombongmu itu benar-benar mirip dengan Sasuke. Jadi, kapan kau akan menceritakan padaku tentang hubunganmu dengan pria itu?" "Hmm…" Kabuto menepuk dagunya menggunakan jari telunjuk.
"Mungkin lain kali kalau kita bertemu lagi. Dan jangan lupa kataku tadi, tolong jaga Sasuke." Kabuto melambaikan tangannya dan segera meninggalkan Sakura. "Yaah! Kau membohongiku!?" Teriak Sakura geram, tapi Kabuto sudah berlari cukup jauh darinya.
Neji keluar dari kamarnya dan menguap lebar. Ia tertidur saat membaca buku di kamarnya sepulang sekolah. Neji menjulurkan kepalanya ke lantai dasar, mencari pelayan siapa saja yang bisa ia mintai tolong untuk membersihkan kamarnya yang berantakkan.
"Shion-san?" Panggil Neji begitu ia menangkap sosok Shion di lantai satu. Shion mendongak dan melihat Neji menggerakkan telunjuknya, memberi isyarat pada Shion untuk datang padanya.
"Tolong bersihkan kamarku." Neji membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan berdiri di samping, membiarkan Shion masuk terlebih dahulu. Shion mengernyit pelan sebelum masuk dan membereskan kamar Neji yang sangat berantakan karena seharian ia terus mengurung dirinya di dalam kamar. Neji melangkah pelan di belakang Shion, membuat jarak yang ia rasa aman agar tidak membuat Shion takut.
Neji duduk di tempat tidurnya, membuka lembar demi lembar buku yang ia baca sebelum ia tertidur sambil sesekali melirik ke arah Shion. "Shion-san?" Panggil Neji tiba-tiba. Shion terkesiap pelan. "I-iya tuan?" jawab Shion tergagap.
"Kurasa sekolahmu yang sekarang terlalu jauh dari rumah. Sebaiknya kau pindah ke sekolahku, jadi kau juga tidak perlu naik bus lagi untuk ke sekolah." Neji beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati rak buku yang sedang dibersihkan oleh Shion.
"Tidak perlu, Tuan Muda. Aku merasa baik-baik saja dengan sekolahku yang sekarang." Tolak Shion dengan halus. "Tadi aku sudah berbicara dengan kepala sekolahku dan mengurus beberapa prosedurnya. Mungkin besok atau lusa kau sudah bisa pindah ke sekolah yang baru." Terus Neji tanpa mempedulikan penolakan Shion. Neji mengangkat tangannya, meletakkan buku yang dari tadi ia baca di rak barisan kedua dari atas.
"Tidak per—" Shion membalikkan badannya hanya untuk melihat sosok Neji yang tiba-tiba saja berdiri dihadapannya. Neji menundukkan wajahnya, tangannya terhenti diudara sementara mereka saling bertatapan dalam diam.
"Neji, aku –" Sasuke menghentikan kata-katanya saat melihat adegan yang tidak biasa di kamar Neji. Neji membersihkan kerongkongannya dan mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Shion membungkukkan badannya dengan pelan dan meninggalkan kamar Neji.
"Cihh, pantas saja kau tidak membiarkan Naruto menyentuhnya." Sasuke menatapi punggung Shion yang semakin menjauh. Sebelah alis Sasuke terangkat, "Jadi, sudah seberapa jauh hubungan kalian?" Lanjut Sasuke.
"Ada apa kau ke sini?" Tanya Neji mengalihkan pertanyaan Sasuke. "Ini" Sasuke mengangkat tumpukan kertas ditangannya dan mengarahkannya ke hadapan Neji. "Aku mengungsi ke sini untuk menyelesaikan proposal OSIS karena gerbang sekolah sudah ditutup dan aku tidak mau terkurung di dalamnya." Neji menangguk-angguk pelan dan membantu Sasuke meletakkan tumpukan kertas itu diatas mejanya.
"Kau sudah bekerja keras." Ucap Neji dengan nada mengejek. "Benarkah? Kau harus membantuku." pinta Sasuke. "Tidak, aku puas menjadi nomor dua." Neji menyeringai lebar, membiarkan Sasuke menggerutu geram. "Ini adalah pilihanmu Sasuke, kau yang memilih untuk menjadi nomor satu dan harusnya kau memang siap dengan semua tanggung jawab yang pasti akan kau terima."
Sasuke masih menggerutu pelan sambil menyusun proposalnya."Di mana kau tinggal sekarang?" Sasuke mendongak untuk menatap pria bermata lavender tersebut dengan penasaran. "Tenang saja, aku tinggal bersama teman orangtuaku."
"Benarkah? Tapi kenapa kau tidak membiarkan kami datang ke tempat kau tinggal sekarang? Apa ada sesuatu yang kau tutupi dari kami?" Insting detektif Neji mulai bekerja dan membuat Sasuke terkekeh melihat tingkah temannya. "Aku hanya tidak ingin kalian merebut 'mainan' ku. Apalagi Naruto, dia benar-benar player sejati."
"Kudengar dia dijodohkan, kau tau?" kata Neji. "Benarkah? Aku tidak bertemu dengan dia seharian ini. Tidak bisa kubayangkan Naruto terikat pada seorang gadis. Siapa gadis beruntung yang dijodohkan dengan Naruto?" Kekeh Sasuke.
"Baik okaasan." Sasuke tersenyum manis pada Nyonya Haruno dan beranjak naik ke lantai 2. Sasuke berhenti di depan pintu Sakura dan mendengus. Ia tidak ingin bertemu ataupun berbicara dengan Sakura untuk saat ini. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa saat Nyonya Haruno memintanya memanggil Sakura untuk makan malam.
Sasuke mengetuk pintu kamar Sakura dengan agak keras. "Makan malam." Ucap Sasuke datar dan dingin. Tanpa menunggu Sakura merespon atau membuka pintu, Sasuke langsung beranjak turun. Sasuke duduk di meja makan dengan berbagai makanan lezat yang disajikan oleh Nyonya Haruno.
"Okaasan, anda tidak makan malam?" Tanya Sasuke saat melihat hanya tersaji dua piring makan di atas meja. Nyonya Haruno tersenyum tipis dan melepaskan celemek yang daritadi ia kenakan.
"Aku dan ayah Sakura akan makan diluar, jaga rumah dan Sakura baik-baik ya." Nyonya Haruno menepuk pundak Sasuke dan berlalu pergi. Suara langkah kaki Sakura yang menuruni anak tangga tidak membuat Sasuke menoleh padanya. Sasuke mulai menyantap makan malamnya dan tidak mempedulikan tatapan bingung di wajah Sakura.
Sama-sama keras kepala, Sakura menyantap makan malamnya tanpa berbicara dengan Sasuke meksipun ia terus bertanya-tanya ada apa dengan Sasuke? Jelas Sasuke bersikap tidak 'normal' karena seharian ini ia tidak melihat Sasuke menggodanya—bukan berarti Sakura ingin Sasuke menggoda dirnya, hanya saja melihat yang seperti ini agak aneh bagi Sakura.
Di sisi lain, pikiran Sasuke juga dipenuhi oleh banyak hal. Ia tak habis pikir, mengapa ia merasa sangat marah? Mungkinkah karena ia bertemu dengan Kabuto lagi? Yah, itu memang membuatnya marah, tapi ia berani bertaruh bahwa yang membuat dia marah saat ini bukanlah Kabuto, tapi gadis yang duduk di hadapannya di meja makan.
Karena Sakura menghindarinya dengan sengaja berada di luar rumah sampai larut malam. Apakah Sasuke begitu menakutkan bagi Sakura? Hanya dengan memikirkan kata-kata itu saja sudah membuat Sasuke kesal setengah mati.
Sasuke mendongak dan menatap Sakura dengan mata menyipit. Sakura ikut mendongak dan balas menatap Sasuke. Sasuke mendengus pelan, meletakkan sumpitnya diatas meja dan naik ke lantai dua setelah ia selesai menyantap makan malam. Mendengar Sakura menggerutu pelan membuat Sasuke tak bisa menahan senyumnya.
Sasuke mngurung diri di kamar sehabis makan malam dan sibuk menyelesaikan proposalnya yang tak kunjung selesai. Padahal ia ke tempat Neji untuk meminta bantuan bukannya bergosip tentang Naruto bersama Neji.
Sasuke menguap lebar dan merentangkan tangannya ke udara. Ia sudah duduk di depan komputer selama berjam-jam dan ia sangat mengantuk sekarang. Sasuke bernafas lega karena proposalnya telah selesai. Sasuke menoleh ke arah tempat tidurnya tempat ia meletakkan buku neraca kas OSIS yang sama sekali belum ia sentuh.
Sasuke menggeram pelan dan menyenderkan kepalanya di meja komputer. Ia akan beristirahat sebentar sebelum ia menyelesaikan neraca kas nya. Semakin Sasuke memejamkan matanya, semakin ia mengantuk dan terlelap. Dalam satu hentakan, Sasuke terbangun.
Sasuke melirik jam kecil di mejanya. Ia tertidur hampir satu jam. Sasuke mengucek matanya yang berair karena kelelahan. Tangan Sasuke terhenti ketika ia sadar ia tak lagi memakai kacamatanya. Ia ingat ia tidak melepaskan kacamatanya saat ia tertidur tadi. Suara berdebam pelan di belakang Sasuke membuat ia menoleh ke sumber suara dengan cepat.
Sasuke mengernyit, ia melihat Sakura tertidur di sofa di kamarnya. Sasuke mendekati Sakura dengan perlahan, tidak ingin membangunkan Sakura. Buku neraca kas yang terjatuh dari pangkuan Sakura terbuka lebar di lantai.
Sasuke tersenyum kecil ketika melihat neraca kas itu kini telah seimbang. Sasuke menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Sakura dan mengusapnya dengan lembut. "Aku seharusnya marah padamu, tapi kau yang cantik seperti ini membuatku tak berdaya, Haruno Sakura." Gumam Sasuke pelan.
Sakura menggeliat pelan dalam tidurnya. Sesuatu yang hangat menyapu permukaan wajah dan berada di sekitarnya. Sakura membuka sebelah matanya dengan berat, ia melihat bayang buram dihadapannya dan membuka kedua matanya. Kedua matanya terbelalak melihat pemandangan yang menyambutnya di pagi hari.
"Sasuke?" Ucap Sakura yang terdengar seperti bisikan. Sasuke bergumam pelan, menarik Sakura semakin merapat padanya dan mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Sakura. Sakura bisa mencium aroma tubuh Sasuke yang terkesan maskulin dan juga manis. Suhu tubuh Sasuke dan Sakura saling berbaur dan menciptakan suhu yang lain.
"Sasuke, lepaskan aku!" Teriak Sakura sambil berbisik karena ia tidak ingin ibunya merangsek masuk begitu mendengar teriakannya. Sasuke membuka matanya dan tersenyum tipis.
"Apakah kau tidak bisa tenang di pagi yang indah seperti ini?" Gumam Sasuke sambil menguap. "Bodoh! Pagi ini sama sekali tidak indah karena kau adalah yang pertama kali kulihat begitu aku terbangun!" Cerca Sakura masih berusaha melepaskan diri dari Sasuke. Sasuke menyeringai pelan.
"Yah, pagi indah tidak indah bagimu karena kau sudah melihat hal yang paling indah lebih dulu." Sakura memutar bola matanya. Sasuke mengcecup pipi Sakura dan segera beranjak dari tempat tidur. Sakura menatap Sasuke dengan tajam. Tapi Sakura agak bersyukur karena Sasuke hanya mencium pipinya.
Sakura memejamkan matanya, ingin kembali terlelap tidur. Sasuke menarik tangan Sakura cukup kuat, membuat gadis itu terduduk di tempat tidur dan bertemu muka dengan Sasuke.
Sasuke tersenyum lebar dan mengecup bibir Sakura dengan lembut selama beberapa detik.
"Morning kiss" Sasuke mengedipkan sebelah matanya dan segera keluar dari kamar. Sakura melempar bantal yang bisa ia raih dan melemparnya ke arah Sasuke, tapi sayang Sasuke sudah menghilang dibalik pintu.
"Mesum…" Omel Sakura. Sakura merengkuh pipinya yang memanas dan membenamkan wajahnya di balik selimut Sasuke. Sasuke berdiri di luar kamarnya dan mendengar sayup-sayup suara Sakura.
"Sasuke, apa kau lihat Sakura?" Tiba-tiba saja Nyonya Haruno keluar dari kamar Sakura membuat Sasuke agak kaget. "Oh, dia langsung ke kamar mandi begitu membangunkanku tadi." Dusta Sasuke dengan lancar.
"Benarkah? Anak itu bangun sendiri sepagi ini? Wah, wah, wah, apakah hari ini akan hujan deras?" Nyonya Haruno menggelengkan kepalanya dan turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
To Be Continue …
A/N: Weekend telah tiba, weekend telah tiba hore..hore..hore..hooreee (nyanyi gaje sambil jaipongan bareng bang Sasuke). Gomen-ne minna-san, karena author sibuk jadi tidak menepati janji kalian untuk update kilat ff ini T^T. Gomen kalo EYD chap sebelumnya yg parah, author kilap -_-". Jika ada EYD yg salah lagi tolong author dibantu ya, semua manusia pernah melakukan kesalahan ^^. Untuk menjawab question kalian, ikuti terus fanfict ini ya. Karena author tidak bisa menjawabnya, gak asik kalo dibocorin sekarang huahahahahaha (tawa ala sapi). Mohon bagi silent reader untuk meninggalkan review untuk fanfict ini ya, karena review kalian akan sangat membantu bagi author yg masih abal-abal ini #bow.
Thank's bagi kalian yg sudah membantu meralat kata-kata yg salah ato yg gak enak dibaca. Thank's juga yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~
Thanks to:
mantika mochi, undhott, echaNM , Yukihiro Yumi, uchiha javaraz, Kirara967 , zarachan, respitasari, Jamurlumutan462, Kiki Kim, elzakiyyah, zehakazama, Luca Marvell, syahidah973, Lynn, Hikaru Sora 14, Little Ginger, Uzumaki isana
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
