Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuFemNaru
Warning: FEM!NARUTO, OOC, Typo, ide pasaran, dan kekuramgam lainnya.
.
.
Don't Like, Don't Read!
.
"Bisa nggak anak-anak futsal kalau latihan diem aja, nggak gerak-gerak gitu?"
Naruto mendengus geli mendengar keluhan seniornya di ekskul fotografi. Tidak berniat untuk menanggapi apalagi ikut berkomentar mengenai perkataan bodoh seniornya, bahkan Naruto dengan cuek meninggalkan seniornya menuju pinggir lapangan tempat tim futsal berlatih dan segera mencari posisi agar bisa mendapatkan foto yang diinginkannya.
"Kamu ini ya Nar, respon dikit kek. Malah cuek gitu!"
"Perkataan lo terlalu begok, Kak."
"Tajem seperti biasa, Nar."
"Gue ngomong apa adanya."
Suigetsu –kakak kelas Naruto itu berdecak kesal mendengar tanggapan adik kelasnya. Tidak habis pikir kenapa dia bisa betah jika dipasangkan dengan Naruto setiap ketua memberi perintah untuk memotret. Padahal beberapa anggota fotografi yang pernah menjadi pasangan Naruto akan mengeluh dan meminta dipasangkan dengan yang lain beberapa menit setelah berada di dekat Naruto. Suigetsu jelas bukan masokis, tidak juga bercita-cita sebagai orang yang gemar disakiti. Suigetsu hanya merasa nyaman berada di dekat adik kelasnya itu. Bukan berarti Suigetsu menaruh perhatian berlebih pada Naruto. Suigetsu hanya merasa jika Naruto tidak seperti kebanyakan gadis yang pernah ditemui. Kesampingkan setiap ucapannya yang selalu menyakitkan.
"Nar, kamu masih di-bully?"
Naruto menghentikan kegiatannya menekan tombol shutter, mengalihkan perhatiannya pada Suigetsu, menatap kakak kelasnya dengan pandangan mencemooh. "Huh? Gue nggak ngerasa pernah di-bully." Suigetsu menatap Naruto kesal, berjalan mengikuti adik kelasnya menuju samping gawang –ada Utakata yang sedang berlatih menangkap bola di sana. "Denger, Kak." Naruto menatap Suigetsu tepat di irisnya. "–selama gue merasa mereka gak keterlaluan, gue gak akan peduli mereka melakukan apapun. Jadi Kakak nggak perlu khawatir." Naruto memberikan senyum kecil, menepuk bahu Suigetsu pelan. Suigetsu tetap merasa khawatir dan juga cukup senang mendapat senyum Naruto, walaupun bukan senyum terbaiknya, karena adik kelasnya itu memang sangat jarang tersenyum.
"AWAASSS!"
Secepat kilat Naruto berbalik begitu mendengar suara nyaring memperingati, secara refleks menghantam keras bola yang melayang dengan kecepatan tinggi ke arahnya dengan kepalan tangan. Naruto berdecih dan mengibasakan tangannya yang terasa perih dan memerah akibat gesekan berlebih bola dengan kulit tangannya. Naruto menyumpahi siapapun itu yang telah membuat tangan kanan berharganya merasakan sakit. Seharusnya tadi Naruto menghalau bola dengan kepalanya saja!
"Kamu oke?"
Naruto memberikan tatapan sengit pada seorang pemuda berwajah cantik? –saat pemuda itu menarik paksa tangan Naruto dan memberikan raut khawatir saat melihat punggung tangan Naruto yang memerah. Pandangan Naruto yang tadinya sengit sedetik kemudian berubah menjadi penasaran, menatap pemuda itu dengan mata berbinar. "Lo masih muda tapi kok udah ubanan gitu? Itu beneran rambut asli? Nggak dicat kan?" tanya Naruto menunjuk kurangajar ke arah rambut putih pemuda itu.
"Naruto!" Suigetsu yang terlambat menyadari tingkah ajaib adik kelasnya segera membekap bibir Naruto agar tidak mengomentari lebih jauh lagi. Suigetsu hampir lupa bagaimana kelakauan Naruto bila menemukan hal yang menurutnya menarik dan tidak biasa. Ingatan Suigetsu kembali lagi pada saat pertemuan pertamanya dengan Naruto. Dengan semenanya Naruto memaksa rahang Suigetsu untuk terbuka sehingga Naruto dapat menyentuh gigi Suigetsu yang meruncing dan berdebat tidak penting jika gigi Suigetsu pastilah dikikir karena mustahil bagi seseorang memiliki gigi seperti hiu sejak mereka lahir. Saat itu Suigetsu hanya bisa pasrah sambil memijit pelipisnya yang mendadak pening. Kali ini Naruto dengan tidak tahu malu mengatai rambut seorang kakak kelas yang memang berwarna putih seperti uban. Dan seharusnya Naruto tahu, jika kakak kelasnya itu lebih baik dijauhi oleh kelompok seperti mereka –sama halnya seperti menjauhi Sasuke Uchiha dan para kroninya.
"Kamu tau dia siapa?" Suigetsu bertanya dengan mata yang sesekali melirik pemuda yang berdiri dengan menatap Naruto. Ketakutan tergambar jelas pada wajah Suigetsu.
Naruto memandang Suigetsu datar, sangat datar. Seolah-olah pertanyaan yang dilontarkan Suigetsu adalah pertanyaan berupa 'sudah pup kah Anda hari ini?' Oh, kapan kakak kelasnya itu pernah bertanya hal yang berbobot? Tidak pernah sama sekali.
"Tau lah, Kak. Lo begok. Kalau dia ada di sini berarti dia salah satu murid di sini."
Suigetsu mendelik. "Itu juga aku tau! Lebih spesifiknya kamu tau nggak dia siapa?!"
Naruto mengangkat bahu cuek.
"Dia Toneri Otsutsuki, salah satu anak donatur di sekolah ini!" Suigetsu hampir menjerit histeris saat Naruto lebih memilih mengamati foto-foto yang dihasilkan dibanding mendengarkannya. "Kamu denger nggak sih, Nar!"
Naruto mendecak kesal, menatap Suigetsu lalu Toneri bergantian, begitu seterusnya selama beberapa saat. "Kalian kembaran? Rambut lo berdua hampir sama, wajah kalian juga sama-sama cantik."
Suigetsu menepuk keningnya keras. Dia benar-benar lupa bagaimana kelakuan Naruto yang sudah dikenalnya sejak dia mendaftar menjadi salah satu anggota ekskul fotografi. "Na-
"Ton, lo balik ke lapangan."
Suigetsu, Naruto, dan Toneri berbalik saat mendengar suara dingin dan datar dari pemuda berhelai raven dengan tatapannya yang sangat tajam. Toneri mengangguk dan mengalihkan kembali perhatiannya pada Naruto. "Saya dari kelas XI IPA-2, kalau tanganmu masih sakit kamu bisa cari saya ke sana." Toneri baru berlari menuju lapangan setelah Naruto memberi anggukan padanya.
.
"Jadi, lo berdua ngapain masih di sini?"
Suigetsu menggigit bibir dalamnya mendengar pertanyaan yang terkesan mengusir dari ketua tim futsal sekolah, menatap Naruto yang masih asik memilih dan memilah beberapa foto yang menurutnya pantas untuk diperlihatkan pada pembimbing dan ketua ekskul fotografi.
Perasaan takut yang Suigetsu rasakan tadi bertambah berkali-kali lipat karena yang dihadapinya sekarang ini adalah Sasuke Uchiha.
Suigetsu, bahkan beberapa anak di sekolah lebih memilih menghindar dan tidak berkeliaran di sekitar ketua tim futsal ataupun mengusik bungsu Uchiha itu, tidak ingin membuat marah terlebih mencari masalah. Semua orang di sekolah tahu, jika Sasuke Uchiha yang kalem jauh lebih berbahaya dibanding Sasori Akasuna yang suka mengancam.
"Ssssstt! Nar!" Suigetsu menyenggol bahu Naruto, meminta perhatian adik kelasnya. Naruto mendongak, menatap Suigetsu. "Menurut lo ini keren nggak?" Naruto menunjukan sebuah foto setengah badan seorang pemuda berambut coklat tanah dengan kulit kuning langsat yang sedang menatap ke arah kamera dengan pandangan tajam, kulit pemuda itu terlihat mengkilap karena keringat dan cahaya matahari yang menimpanya. Mengagumkan. Suigetsu memang tidak pernah sekalipun meragukan kemampuan Naruto dalam hal memotret, bahkan makhluk yang bergerak leluasa sekalipun, Naruto sangat lihai mengambil moment yang menurutnya dapat menghasilkan gambar yang sangat memukau. Suigetsu tidak berlebihan.
Suigetsu hampir mengangguk karena terlena dengan foto yang ditunjukan Naruto, dia hampir melupakan keberadaan seseorang yang seharusnya mereka acuhkan. Suigetsu memukul kepala Naruto sebelum mendelik ganas setelah menyadari apa yang sudah mereka berdua lakukan.
"Lo berdua tuli."
Naruto mendongak menatap bungsu Uchiha yang menjulang tinggi di hadapannya. Sasuke menatap Naruto tajam. Mereka bertatapan selama beberapa saat sebelum Naruto melengos melangkahkan kaki menyusuri pinggir lapangan meninggalkan Sasuke yang terdiam dengan rahang mengeras.
Suigetsu mematung di tempat melihat Sasuke dengan langkah lebar menghampiri Naruto. Bukan tidak ingin menolong adik kelasnya, Suigetsu hanya tidak bisa. Jika dia melakukan itu bisa saja keluarganya mendapat masalah, dan itu hal terakhir yang diinginkan. Suigetsu hanya bisa berharap agar Naruto baik-baik saja.
.
Mungkin jika diibaratkan sebagai gunung berapi yang sudah penuh menampung endapan magma dan siap untuk dimuntahkan saat itu juga, begitulah keadaan Sasuke sekarang ini.
Sasuke sangat marah. Benar-benar marah. Ingatan tentang dirinya yang seringkali mengalami kesialan karena beberapa hari terakhir selalu memikirkan Naruto –Sasuke tidak akan pernah mau mengakui hal ini –kembali menyeruak, terlebih saat Naruto tak mengacuhkannya beberapa saat lalu. Ingin Sasuke mengejar Naruto dan memberi pelajaran pada gadis dekil itu, tetapi ada hal yang jauh lebih penting yang harus Sasuke lakukan saat ini. Sasuke ketua ekskul futsal. Tidak mungkin bagi Sasuke dengan seenaknya meningalkan anggota tim yang sedang berlatih dan sudah menjadi tanggungjawabannya itu sekalipun Sasuke bisa melakukannya. Bagaimanapun, Sasuke sudah ditanamkan rasa tanggungjawab sejak dini oleh kedua orang tuanya.
Tapi lihat saja, jika bertemu dengan gadis dekil itu, Sasuke tidak akan segan-segan padanya!
Woy Sas, kemarahanmu tidak beralasan!
.
.
.
Dua hari menjelang pertandingan babak final melawan rival sekolahnya, Sasuke semakin disibukan dengan latihan intents yang diberikan pelatih futsal, porsi latihan yang bertambah membikin Sasuke kadang merasa jengah, ditambah lagi dengan dirinya yang harus tetap mempertahankan nilai akademik sekolah demi membanggakan kedua orang tua dan juga Aniki yang disayanginya, serta khalayak orang yang menaruh perhatian pada dirinya.
Ekhem. Sasuke berdehem tampan.
Sebenarnya tidak berlebihan seperti itu, Sasuke tidak terlalu memusingkan nilai akademik sekolah karena Sasuke termasuk orang yang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Sasuke harus berterimakasih atas gen yang diturunkan padanya. Penjabaran di atas hanyalah gambaran kecil kelelahan hati Sasuke yang beberapa hari belakang harus pulang malam sehingga tidak bisa menemani Mama Mikoto untuk makan malam bersama. Terkutuklah Papa Fugaku dan Aniki yang terlalu disibukan dengan pekerjaan sehingga sedikit waktu yang bisa diberikan untuk wanita tercinta mereka.
Ditambah lagi saat ini –lagi-lagi– Sasuke harus menelan kekesalan karena seorang gadis dekil yang asik menulis di sampingnya –tepatnya berjarak dua kursi dari tempat Sasuke berada.
Siang itu setelah istirahat berakhir, Sasuke dan seluruh teman sekelas diperintahkan untuk ke perpustakaan guna mengerjakan tugas yang diberikan guru yang tidak bisa hadir karena suatu alasan tertentu. Sasuke dengan langkah kece memasuki perpustakaan, meletakan buku di meja bagian tengah perpustakaan, dan mulai mencari buku untuk referensi tugas. Setelah beberapa saat mengerjakan tugas dengan tingkat konsentrasi yang tidak seperti biasa, Sasuke dibuat terganggu oleh suara gesekan lantai dan kursi yang ditarik di sampingnya, saat Sasuke menoleh dan berniat memberikan umpatan, Sasuke harus menelan kembali perkataannya saat melihat gadis dekil yang beberapa lama ini memeperkosa pikirannya.
Sasuke keki setengah mati.
Ingin rasanya Sasuke melabrak gadis dekil itu dan memecahkan tempurung kepalanya, tetapi itu hal yang sangat mustahil Sasuke lakukan, terlebih setelah Sasuke pikirkan dan cermati lebih jauh lagi dengan sangat teliti dan mendalam, gadis itu tidak pernah sekalipun berbicara dengan Sasuke. Tidak pernah menimbulkan sesuatu atau gerakan yang dapat merugikan eksistensi Sasuke. Lalu, selama ini apa yang membuat Sasuke kesal sehingga sangat bernapsu melenyapkan keberadaan gadis itu?
Sasuke tidak akan pernah tahu jawabannya.
.
.
"Naruto?"
Sasuke melirik dari ekor mata saat mendengar suara seseorang yang dikenalnya, sekalipun suara itu tidak menyuarakan namanya, melainkan gadis dekil yang masih asik menulis entah apa.
Sudah beberapa puluh menit setelah Sasuke menyelesaikan tugas yang diberikan, mendadak bisa mengumpulkan kembali konsentrasi tingat tinggi yang dimiliki sehingga dengan cepat dan tanpa kesulitan berarti mampu menyelesaikan tugas yang memang berada dalam level mudah bagi seorang Sasuke Uchiha, tetapi tidak serta merta Sasuke langsung meninggalkan perpustakaan setelah menyelesaikan tugas, alih-alih menyamankan bokong seksinya pada kursi dan menyumpal telinga dengan earphone yang selalu dibawanya, sesekali iris kelam Sasuke akan melirik tidak tahu malu ke arah gadis yang selalu menjadi kambing hitam atas kesialan yang seringkali menimpanya.
Dahi Sasuke mengernyit saat Toneri menari kursi di samping Naruto –gadis dekil yang saat ini –lagi-lagi– berkeliaaran dengan semenanya di pikiran Sasuke. Sasuke mendengus kecil saat Toneri mendudukan diri dan mulai mengajak Naruto berbicara.
Sasuke mengecilkan volume musiknya.
"Tangan kamu sudah baikan?"
Sasuke dapat melihat dari sudut matanya saat Naruto mengangguk tanpa menghentikan kegiatan menulisnnya.
"Kamu kok nggak cari saya ke kelas?"
"Tangan gue nggak sampe patah, Kak."
"..."
"Kamu sedang ngerjain tugas?"
Naruto mengangguk.
"Apa ganggu?"
Lagi-lagi Naruto mengangguk. Entah kenapa Sasuke tidak dapat menahan seringainya.
"..."
"..."
"Mau pulang bareng? Saya anterin."
Tanpa alasan yang jelas Sasuke merasa sangat terganggu saat Naruto meletakan alat tulisnya dan memberikan perhatian penuh pada Toneri. Rasanya Sasuke sangat ingin membikin Toneri melakukan sesuatu yang membuatnya sibuk hingga besok pagi atau selamanya.
"Trims, Kak. Tapi gue bisa pulang sendiri."
"Nggak masalah, saya tunggu kamu di depan kelas sepulang sekolah. Bye."
Rahang Sasuke mengeras saat Toneri meninggalkan bangku setelah seenaknya memaksa Naruto untuk pulang bersamanya tanpa mendengar pendapat dari Naruto. Tanpa bisa dicegah Sasuke berdiri dari kursinya dan dengan langkah lebar berjalan menuju Naruto, menarik paksa lengan gadis itu dan menyeretnya menuju pojok perpustakaan.
"What?!"
Naruto jelas bingung saat seorang kakak kelas menariknya paksa dan memojokannya di sudut perpustakaan. Naruto sangat tahu siapa seseorang yang dihadapinya saat ini, dia Sasuke Uchiha, seseorang –yang beberapa anak mengatakan –lebih baik jauhi dan sebisa mungkin hindari tatapannya jika tidak ingin terlibat masalah dengannya.
Pikir Naruto, dia tidak pernah mencari masalah dengan Sasuke, berbicara dengannya tidak satu kalipun, lantas apa yang menyebabkan Sasuke menatap dirinya sangat tajam, seakan ingin membunuhnya dengan sebuah tatapan. Naruto yang merasa tidak pernah melakukan sesutau hal yang berkaitan dengan keberadaan Sasuke balas menatap pemuda itu berkali-kali lipat lebih tajam dengan mata besarnya.
"Lo ganjen ya."
Sasuke tidak bisa mencegah ucapannya saat Naruto membalas tatapannya dengan sangat tajam. Balasan yang tidak diharapkan oleh Sasuke, seharusnya Naruto meringkuk ketakutan seperti orang-orang yang pernah Sasuke intimidasi.
"Lo sok akrab sama gue."
Rahang Sasuke mengeras dan matanya menyipit berbahaya saat Naruto membalas ucapannya.
"Dasar cewek dekil."
Naruto mendengus.
"Cewek dungu."
Mata Naruto melotot.
"Lo sengaja ya ngerayu Toneri karena lo tahu siapa dia. Mending lo jauhin dia, cewek dekil macem lo nggak pantes buat dia."
Mata Naruto berkedip beberapa kali, dahinya mengerut membentuk jembatan di kedua alisnya, merasa bingung dengan ucapan kakak kelas yang berdiri di hadapannya. Naruto menunduk, mengigiti bibir bawahnya seraya berpikir keras. Naruto tidak pernah merayu Toneri, bahkan Naruto baru mengingat siapa kakak kelasnya tadi setelah memperhatikan warna rambut yang menurutnya unik. Seingat Naruto, dia sudah menolak ajakan Toneri, tetapi Toneri tetap keukeuh ingin mengantar Naruto pulang, bahkan kakak kelasnya itu tidak mau mendengarkan pendapat Naruto dan pergi begitu saja setelah mengatakan keinginannya. Lantas kenapa Sasuke mengatakan jika dia sudah merayu Toneri dan mengatakan untuk menjauhi pemuda itu.
Mata Naruto terbelalak, dia mendongak secepat kilat menatap Sasuke yang berdiri menjulang di hadapannya. "Lo cemburu?" Naruto menunjuk Sasuke tepat di hidungnya.
Sasuke yang mendengarkan tuduhan adik kelasnya itu ikut membelalakan kedua matanya. Cemburu? Sasuke terlalu sempurna untuk dapat merasakan kecemburuan pada orang lain. Terlebih pada cowok macam Toneri yang memiliki wajah seperti wanita, tidak sekalipun! Bahkan Sasuke merasa jika dia tidak dapat dibandingkan dengan makhluk apapun di dunia ini.
Naruto menepuk bahu Sasuke sok akrab, senyumnya melebar memperlihatkan dua gigi kelinci yang dimiliki dan memperjelas tiga tanda di masing-masing pipi tembamnya. Senyum yang Sasuke tidak menyangka bisa dimiliki oleh makhluk dekil seperti Naruto.
"Lo tenang aja. Toneri bukan tipe gue. Gue bersumpah nggak pernah ngerayu dia. Hahaha. Lo jeli juga ya milih cowok, Toneri emang cantik untuk ukuran cowok. Ganbatte ya. Kalau gitu gue pergi dulu. Bye." Sebelum meninggalkan Sasuke yang mematung mencerna semuanya, Naruto memberikan tepukan sekali lagi pada lengan Sasuke.
Sasuke berbalik kaku, bibirnya terbuka dan tertutup, otak jeniusnya yang biasa berpikir dengan cepat mendadak berubah menjadi organ yang paling tidak berguna. Oh God! Hanya satu yang bisa Sasuke simpulkan dari perkataan Naruto tadi!
Selain dekil, adik kelasnya itu benar-benar bodoh!
Tbc.
.
Terimakasi untuk:
Avanrio, Aiko Vallery, narunaruha, ajidarkangel, Akemi Mitsuki, yassir, maydhagemini,
Terimakasi untuk yang memfollow dan memfavoritkan
.
.
Terimakasih bagi yang sudah membaca.
