The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
"Oh, tidak! Ini mimpi buruk!" Teriak Ino histeris kepada Sakura yang masih berada di kelas setelah jam pulang sekolah. Ino baru saja kembali dari ruangan Kakashi-sensei dan tiba-tiba saja berteriak histeris seperti ini membuat Sakura bingung.
"Ada apa? Apa kau dapat jam tambahan lagi?" Tanya Sakura. "Lebih buruk lagi dari itu! Aku—" jawb Ino. "Ino, mau sampai kapan kau membuatku menunggu?" Sai muncul berkacak pinggang di ambang pintu. Sakura mengernyit pada Ino, meminta penjelasan. Kedua pundak Ino merosot turun seketika itu juga.
"Kakashi-sensei menjadikan dia sebagai tutorku selama sebulan. Padahal aku sudah memohon-mohon padanya. Aku bisa belajar padamu, atau Hinata, atau siapa saja asalkan bukan makhluk menyebalkan itu, tapi Kakashi-sensei bersikeras dan sekarang aku harus memulai nerakaku." Omel Ino.
Sakura tertawa kecil dan menepuk pundak Ino yang masih mengerutkan wajahnya. "Baguslah, siapa tau setelah ini kalian bisa akur. Baiklah, aku duluan ya." Sakura keluar dari kelasnya dan tidak henti-hentinya tersenyum kecil. Ia berharap Sai dan Ino bisa akur.
"Kau terlihat mengerikan tersenyum seorang diri seperti itu." Sakura terlonjak kaget. Sasuke muncul dari balik punggungnya dan berjalan di samping Sakura menuju gerbang sekolah.
"Kenapa kau mengikutiku?" Protes Sakura. Sakura memandang ke sekeliling dan melihat gedung sekolah yang benar-benar sepi. Jam pulang memang sudah sekitar 1 jam yang lalu tapi karena menunggui Ino, Sakura harus pulang jam segini.
"Kenapa kau baru pulang jam segini? Kau sengaja menungguiku? Padahal kan kita bisa bertemu di rumah." Goda Sasuke. Sakura memukul lengan Sasuke dengan pelan dan memutar bola matanya.
"Apakah aku mengganggu?" Sela Kabuto di depan gerbang sekolah Sakura. Tubuh Sasuke langsung menegang setelah mendengar suara Kabuto. Tapi bagaimanapun ia tidak bisa menunjukkan amarahnya.
"Menjauhlah dari sekolahku kalau kau tidak punya alasan yang pantas untuk berada di sini." Ucap Sasuke dengan dingin. Kabuto menatap Sasuke lalu Sakura dan tersenyum kecil.
"Keberatan kalau aku menemanimu pulang lagi hari ini?" Tanya Kabuto tanpa mempedulikan kata-kata Sasuke. Sakura menundukkan wajahnya saat ia merasakan tatapan mematikan dari Sasuke yang tertuju ke arahnya.
"Dia tidak bisa pulang bersamamu lagi dan tak akan pernah." Tukas Sasuke dengan sinis. Sasuke menarik lengan Sakura, memaksanya meninggalkan Kabuto.
"Benarkah? Padahal kupikir kau ingin mendengar jawabanku tentang pertanyaanmu kemarin, Sakura." Kabuto menyeringai pelan, puas dengan kata-katanya sendiri yang ia yakin pasti akan menarik perhatian Sakura.
Sakura menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kabuto. "Kau benar-benar akan memberikan jawabannya sekarang?" Tanya Sakura dipenuhi rasa ingin tau. Kabuto mengangguk cepat.
"Gomen, kurasa aku akan pulang bersama Kabuto hari ini.." Ucap Sakura pada Sasuke. Sasuke mengatupkan rahangnya dengan kuat. Ia sudah cukup marah hanya dengan melihat Kabuto berada dihadapannya dan sekarang Sakura justru ingin pulang bersama pemuda itu?
"Haruno Sakura, kau akan menyesalinya jika kau masih memilih untuk pulang bersamanya." Ancam Sasuke. Sakura memandang Kabuto yang masih tersenyum manis dan Sasuke yang terlihat sangat marah secara bergantian.
"Gomen.." Bisik Sakura. Sasuke mengatupkan rahangnya semakin erat ketika ia melihat Sakura berjalan ke arah Kabuto yang menyeringai puas.
"Haruno Sakura, kau benar-benar akan menyesalinya.." Tegas Sasuke sekali lagi. Sasuke membalikkan badannya dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sakura mendesah pelan. Apakah yang ia lakukan tadi bisa dianggap sebagai pemberontakan terhadap Sasuke? "Terima kasih karena kau telah menemaniku pulang lagi." Ucap Kabuto senang. Kabuto menepuk puncak kepala Sakura dan tersenyum lebar.
"Jadi, kau akan menjawab pertanyaanku kemarin? Kau benar-benar akan menjawabnya kan? Aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk ini, jadi sebaiknya kau jangan membohongiku seperti kemarin!" Oceh Sakura panjang lebar. Kabuto mengangguk pelan dan mulai berjalan.
"Kau dan dia benar-benar tidak berpacaran? Kenapa dia harus marah karena kau pulang bersamaku?" Tanya Kabuto. Sakura mengangkat pundaknya. Ia juga tidak tau kenapa Sasuke harus melarangnya. Selain sebagai mainan Sasuke, Sakura bukanlah siapa-siapa bagi Sasuke. Mungkinkah karena Kabuto?
"Mungkin karena hubungan kalian tidak baik?" tanya Sakura dengan hati-hati. "Kami berteman, atau harus ku katakan dulunya kami berteman." Kabuto menundukkan wajahnya. Perasaan sedih berkemacuk di hatinya hanya dengan mengucapkan kalimat itu.
"Benarkah? Lalu kenapa ia bisa begitu membencimu sekarang?" Rasa ingin tau Sakura semakin membesar. Kabuto menangkat kepalanya dan menatap Sakura dengan pandangan yang lembut.
"Kesalahpahaman. Salah paham selalu berujung pada hal yang tidak menyenangkan.."
"Salah paham? Tentang apa?" Kabuto tersenyum tipis dan menghentikan langkahnya. "Kau mau tau? Akan kuberitaukan lain kali. Sampai jumpa.." Kabuto melambaikan tangannya berjalan ke arah yang berlawanan dengan Sakura.
"Heii, kenapa tidak kau beritahukan sekarang saja?" Teriak Sakura agak keras. Kabuto memutar tubuhnya menghadap Sakura dan terus melangkah mundur. "Supaya kau mau menemuiku lagi lain kali. Bye!"
"Apa?" teriak Sakura. Sakura mencerna kata-kata Kabuto meski ia masih terlihat ragu menanggapi makna dibalik kata-kata Kabuto.
"Gawat! Apa yang harus kulakukan pada Sasuke? Dia pasti marah sekali, astaga!" Sakura mengeluarkan setangkai lolipop dari blazernya dan memasukkannya ke dalam mulutnya sambil terus berpikir apa yang harus dilakukannya pada Sasuke.
.
.
.
Sakura berdiri ragu di depan pintu kamar Sasuke, tangannya bergerak pelan untuk mengetuk pintu dihadapannya. Sakura tidak tau apa yang akan terjadi jika ia masuk ke dalam dan berada dalam satu ruangan bersama pria mesum yang selalu menggodanya setiap hari—apalagi setelah apa yang terjadi tadi pagi.
Tapi dia juga tidak mau mengambil resiko dan membiarkan Sasuke mencari-cari kesalahannya untuk memperbudak dia seperti biasanya—sudah cukup Sakura melakukan kesalahan tadi siang dan jangan sampai Sasuke menjadikan itu sebagai alasan untuk membeberkan fakta tentang mereka yang tinggal bersama.
Itu akan membuat Sakura mendapatkan seabrek anti-fans sementara Sakura ingin menikmati hari-harinya di sekolah dengan tenang. Dan pastinya itulah alasan mengapa Sasuke meninggalkan pesan di dapur untuk menemuinya.
Sakura menarik nafas pelan, menghembuskannya perlahan-lahan—Sakura melakukannya berkali-kali—mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri meski tidak berhasil karena dia masih saja gugup dan sekarang telapak tangannya mulai basah oleh keringat dingin.
Dengan segenap keberanian, Sakura mengetuk pintu itu. Hening cukup lama dan sama sekali tidak ada jawaban. Sakura memberanikan diri untuk memutar ganggang pintu yang tidak terkunci. Ia membukanya perlahan dan menyembulkan kepalanya dibalik celah pintu. Sakura menatap lurus ke depan, tempat tidur Sasuke kosong—masih tertata rapi. Meja belajar juga kosong, tidak ada tanda-tanda kehadiran Sasuke di kamar.
Sakura mengendap-endap masuk ke dalam memastikan bahwa Sasuke benar-benar tidak ada, atau kemungkinan terbaik yang ia inginkan adalah Sasuke sudah kembali ke rumah mewahnya. Baru beberapa langkah yang Sakura ambil, terdengar bunyi berdebam kecil. Sakura menoleh ke belakang dan melihat Sasuke berdiri di sana, menutup pintu dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sikap menyebalkan seperti biasanya.
"Bukankah sudah kubilang akan ada hukuman jika kau tidak bersikap 'manis'?" tanya Sasuke sambil melangkah maju sementara Sakura tidak tau harus berkata apa dan terus berjalan mundur.
"a—aku…" Sakura masih bingung harus mengatakan apa, tapi setidaknya ia harus bersuara dan menyadarkan pemuda itu bahwa ia tidak takut padanya—meski sebenarnya Sakura memang mulai merasa takut.
"Tidak ada alasan lagi, babe.." Tegas Sasuke. Ia terus melangkah, tanpa mempedulikan Sakura yang kini telah menabrak dinding. Sakura tidak bisa mundur lagi, dibelakangnya adalah dinding yang kokoh sementara dihadapannya adalah pemuda yang paling mengerikan yang pernah ia temui dimuka bumi ini.
Sakura melirik ke samping dan bersiap-siap untuk kabur, tapi Sasuke menghentakkan kedua tangannya disamping kepala Sakura—tidak membiarkan gadis itu melarikan diri darinya.
Ia masih saja terus melangkah maju padahal jarak mereka sudah sangat dekat. Sakura terkesiap pelan ketika tubuh mereka saling menempel, nafasnya menderu dengan keras di telinga Sakura, membuat jantung Sakura berdegub lebih cepat.
Sakura bisa mencium wangi parfum maskulin yang digunakan Sasuke, membuat Sakura semakin menggila. "Kau sudah siap untuk hukumanmu kan? Bukankah karena itulah kau datang ke kamarku?" tanya Sasuke sambil menghirup aroma tubuh Sakura yang membuatnya sangat tergiur dan ingin menyentuhnya—tapi ia menahan godaan itu.
Sakura tidak bisa memungkirinya, memang karena itulah kau datang. Ia tau tidak ada gunanya melarikan diri dari pemuda ini, karena itu ia datang untuk menyerahkan diri, berharap Sasuke akan sedikit berbaik hati dan meringankan hukumannya.
"Kenapa kau hanya bisa bersikap manis jika kita sedang berdua saja?" Sasuke terkekeh pelan sambil menyentuh ujung rambut Sakura yang dikuncir satu. Tangan Sasuke dengan lembut menarik karet yang Sakura kenakan hingga rambutnya tergerai dan wangi sampo yang ia gunakan menyeruak masuk ke hidung Sasuke.
"Hukumanmu… tidurlah denganku.." bisik Sasuke tepat ditelinga Sakura. Sakura merasakan sensasi aneh ketika ia mengatakannya hal itu, entah karena suaranya yang menggelitik telinga Sakura atau karena kata-katanya yang membuat Sakura terlonjak.
"A-apa! Kenapa aku harus tidur denganmu?" tanpa disadari, wajah Sakura memerah hanya dengan membayangkan kata-kata Sasuke. Lagi-lagi Sasuke terkekeh pelan, ia selalu senang ketika melihat semburat merah yang menyebar dengan cepat diwajah Sakura.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak tau kalau sekarang kau sudah pintar berpikiran mesum. Aku hanya menyuruhmu tidur denganku—di tempat tidur yang sama—bukannya bercinta." Goda Sasuke yang berhasil membuat wajah Sakura semakin memanas.
"A—aku tidak berpikir seperti itu, dan tetap saja aku tidak mau!" Sakura mencoba sebisa mungkin untuk terlihat biasa-biasa saja, tidak ingin membiarkan Sasuke tau kalau ia sudah berhasil mengerjai Sakura lagi.
"Kalau kau tidak mau tidur denganku, tidak akan kubiarkan kau keluar dengan 'selamat' malam ini." Sakura menelan air liurnya dengan susah payah. Kata-kata 'selamat' yang dimaksudkan oleh Sasuke, Sakura tau dengan jelas ke mana arah pembicaraannya.
Ya, Sakura percaya Sasuke bisa saja melakukannya, ditambah lagi fakta bahwa kedua orangtuanya sedang tidak berada di rumah saat ini.
Sasuke menurunkan kepalanya, mendaratkan bibir lembabnya dileher Sakura. Ia mengecup leher Sakura dengan pelan, menyapukannya hingga ke tengkuk Sakura. Lagi-lagi sensasi aneh itu melanda setiap sel dalam tubuh Sakura. Sakura memejamkan matanya, seluruh tubuhnya terasa lemas.
"Baik! Baiklah! Akan kulakukan!" Sakura berkata dengan cukup kuat, mencoba untuk mengembalikan seluruh kesadarannya lagi. Sasuke berhenti dan mendongak menatap Sakura dengan sebuah seringaian, merayakan kemenangannya sementara Sakura menatapnya dengan kesal.
Tanpa aba-aba, ia melingkarkan tangannya dileher dan pinggang Sakura. Ia menggendong Sakura ala bridal dan meletakkan Sakura diatas tempat tidurnya sementara ia berputar ke sisi tempat tidur yang lain dan membaringkan tubuhnya sendiri lalu menarik selimut untuk melindungi tubuh mereka dari udara dingin.
Sasuke memeluk pinggang Sakura dengan erat lalu menarik Sakura ke dalam dekapannya. Mereka berdua berbaring ditengah-tengah tempat tidur king size milik Sasuke sementara wajah Sakura terbenam di dadanya. Salah satu tangan Sasuke masih melingkar dipinggang Sakura sementara tangan lainnya mengelus rambut Sakura.
"Apa saja yang kalian lakukan tadi?" Tanya Sasuke pelan hingga membuat Sakura ragu apakah benar Sasuke sedang mengajukan pertanyaan padanya. "Hanya berjalan dan mengobrol saja…" Jawab Sakura canggung. Nafas hangat Sasuke menyapu permukaan telinga Sakura, membuat beberapa helai rambut Sakura ikut bergerak seiring dengan udara yang dikeluarkan Sasuke.
"Jangan pernah berduaan dengannya lagi. Kalau sampai aku mendengar kau dan pria itu berduaan lagi, aku akan memberikan hukuman yang lebih parah lain kali.."
Selama beberapa jam, Sakura tetap terjaga—sama sekali tidak bisa tidur. Seharusnya ia marah Sasuke seenaknya saja menyentuh dirinya, tapi kenyataannya Sakura juga sedikit menikmatinya. Apalagi kata-kata Sasuke barusan membuat hati Sakura merasa hangat.
Setelah susah payah berusaha untuk tertidur, akhirnya mata Sakura terpejam dan dia masuk ke alam mimpi.
Tapi matahari muncul dengan sangat cepat. Nyonya Haruno masuk ke kamar Sakura, ingin membangunkan putrinya agar tidak terlambat ke sekolah, tapi begitu masuk ia mendapati kamar kosong yang tertata rapi.
Nyonya Haruno bertanya-tanya, apakah mungkin Sakura sudah bangun dan merapikan kamarnya sendiri? Masih dengan kening berkerut, Nyonya Haruno beranjak ke kamar Sasuke.
Nyonya Haruno mengetuk beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Baik Sakura maupun Sasuke sama-sama tidak terbangun. Tanpa Sakura ketahui, ternyata Sasuke semalam juga tidak bisa tidur hingga akhirnya ia bisa terlelap pada dini hari.
Setelah menunggu cukup lama dan masih saja tidak ada jawaban, Nyonya Haruno memutuskan untuk langsung membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari sang pemilik kamar.
Nyonya Haruno membuka pintu sedikit, mengintip dari celah-celah pintu. Mencegah agar ia tidak melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat sehingga tidak membuat Sasuke menjadi canggung. Tapi Nyonya Haruno tersentak begitu melihat Sasuke dan Sakura berbaring ditempat tidur yang sama—dengan Sakura berada dalam pelukan Sasuke.
"Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan!?" Nyonya Haruno berteriak dan kali ini mereka berdua sama-sama terbangun. Sakura tersentak dan melihat ibunya terkejut melihat mereka dalam posisi yang tidak seharusnya. Sakura menggigiti bibir bawahnya, bersiap-siap menerima omelan dari ibunya.
Sasuke meraih kacamatanya yang diletakkan di meja kecil di samping tempat tidurnya dan menatap Nyonya Haruno dengan mata yang masih menyipit. "Ohayou okaasan.." sahut Sasuke dengan sopan. Ia memalingkan wajahnya ke samping dan menatap Sakura dengan tatapan polosnya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Sasuke masih sambil terus menatap Sakura. Sakura memutar bola matanya, sudah tau apa yang sedang Sasuke lakukan—berpura-pura polos seperti biasa.
"Ya Tuhan, Maafkan aku. Anakku ini memang suka ceroboh." Nyonya Haruno memcengkram tangan Sakura dan menariknya turun dari tempat tidur.
"Tidak apa-apa okaasan. Kurasa ia hanya ngelindur dan sampai di kamarku. Benar, tidak apa-apa. Kumohon okaasan tidak memarahinya." Sasuke ikut turun dari tempat tidurnya dan membungkuk pada Nyonya Haruno.
Mulut Sakura terbuka lebar bersiap untuk memprotes kelakuan pemuda itu, tapi dengan cepat ibunya memotong perkataannya. "Astaga, untung saja kau orang yang sangat baik hati. Akan kupastikan hal ini tidak akan terjadi lagi."
Oh, astaga, rasanya dunia seperti berputar terbalik. Jelas-jelas yang menjadi korban tak berdaya adalah Sakura, tapi dengan lihainya Sasuke membuat Sakura terlihat seperti pelaku dan ia menjadi korban yang tidak berdaya.
Sakura lah si kerudung merah dan Sasuke lah si serigala yang selalu saja bersiap untuk menerkam Sakura, tapi apa gunanya? Sakura tau ibunya tidak akan percaya—semua orang tidak akan percaya karena bagi mereka, Sasuke adalah pemuda paling sopan sedunia.
Nyonya Haruno menarik Sakura keluar dari kamar Sasuke. Sakura memalingkan wajahnya ke belakang sebelum keluar dari kamarnya. Sasuke balik menatap Sakura dan menjulurkan lidahnya kemudian menyeringai puas.
Sakura tak henti-hentinya memaki Sasuke dalam hati. "Tunggu saja kau Uchiha Sasuke, aku pasti akan membalasmu, you pervert!" Gumam Sakura tak jelas.
.
.
.
"Bukankah sudah kukatakan berkali-kali, pakai rumus yang ini!" Omel Sai hampir berteriak. Dihentakkannya penggaris panjang yang ia pegang dari tadi di jari-jari Ino, membuat gadis itu terlonjak pelan.
"Kau tidak perlu memukulku, kan!?" Gerutu Ino meremas jarinya yang hampir saja menjadi sasaran amukan Sai.
"Kalau begitu gunakan otakmu sekali saja. Astaga sudah hampir 3 jam aku mengajarimu dan tidak ada satupun yang menyangkut di kepalamu. Apa sih isi kepalamu itu, heh?" Ejek Sai dengan nada mencemooh.
Ino menarik nafas dalam-dalam dan menggigiti bibir bawahnya untuk menahan dirinya sendiri berteriak pada Sai. Ino memalingkan wajahnya pada Sai yang asyik berbaring di tempat tidurnya sambil membolak-balikkan majalah.
"Aku tau aku sangat tampan, tapi tetaplah fokus pada soal-soal dihadapanmu." Tukas Sai tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah. Ino menjulurkan lidahnya, berpura-pura muntah mendengar kata-kata Sai.
"Aku melihat apa yang kau lakukan." Sai menepukkan majalahnya ke kepala Ino. "Ouch! Kau melakukan kekerasan pada muridmu! Aku mau ganti tutor!" Ino merengek pelan. Hidupnya benar-benar bagai di neraka sejak hari pertama Sai menjadi tutornya.
Masih sambil mengelus puncak kepalanya yang sakit dengan satu tangan, Ino meraih kamus bahasa inggris di sudut meja belajarnya dan memukulkannya ke kepala Sai. Sontak Sai berteriak keras begitu kamus tebal itu menghantam kepalanya.
"Yamanaka Ino, kau mau mati hah!" Ancam Sai dengan tatapan tajam. Sai beranjak dari tempat tidur dan mendekati Ino yang terlihat waspada dan ikut beranjak dari tempat duduknya. Ino memperhatikan setiap gerak-gerik Sai, setiap langkah yang Sai ambil tidak luput dari pandangan Ino.
Begitu Sai mulai berlari, Ino ikut berlari untuk menghindari amukan Sai. Ino meraih pegangan pintu dalam hitungan detik dan berlari keluar. Ia tidak tau kenapa ia harus lari, tapi yang pasti ia sedang tidak ingin main-main dengan Sai yang marah.
Ino tak lagi mempedulikan suara gaduh yang mereka berdua timbulkan, yang pasti ia tidak boleh sampai tertangkap oleh Sai, atau dia benar-benar akan mati seperti kata Sai.
Yamanaka Yahiko, adik laki-laki Ino yang berumur 11 tahun memandangi Ino dengan bingung. Detik selanjutnya, Yahiko melihat Sai yang hampir kehabisan nafas karena berlari. Sai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tapi tak kunjung menemukan Ino. Sai mendengus kesal dan berkacak pinggang.
"Kau mencari Kak Ino?" Tanya Yahiko santai. Sai menoleh pada Yahiko dan mengangguk. Yahiko mengarahkan jari telunjuknya ke arah toilet tempat Ino bersembunyi. Sai menyeringai pelan dan menghampiri tempat persembunyian Ino. Suara gedoran di pintu toilet membuat Ino terperanjat.
"Aku tau kau di dalam, cepatlah keluar selagi aku berbaik hati padamu." Ucap Sai. Tidak ada reaksi dari Ino. Dering hp Sai membuat dia mengalihkan perhatiannya dari pintu yang tertutup rapat. Sai membaca pesan masuk yang dikirimkan Shikamaru dan berdecak pelan.
"Yamanaka Ino, sampai bertemu besok." Nada suara Sai penuh dengan ancaman. Sai mengambil tas nya yang ia letakkan di samping Yahiko dan mengacak rambut Yahiko. Yahiko memelototi Sai lalu menghempaskan tangan Sai dari rambutnya. Ia tidak suka jika ada orang yang menyentuh rambutnya. Sai tertawa pelan.
"Terima kasih sudah memberitaukan tempat persembunyian makhluk jadi-jadian itu." Ucap Sai sambil mencubit pipi Yahiko. Lagi-lagi Yahiko memelototi Sai dan menghempaskan tangannya, ia lebih tidak suka jika ada orang yang menyubit pipinya karena Ino selalu melakukan hal itu setiap hari dan membuat Yahiko kesakitan.
Setelah mendengar pintu utama tertutup, Ino menyembulkan kepalanya untuk memastikan Sai benar-benar sudah pulang.
"Dia sudah pulang?" Tanya Ino pada Yahiko yang tak beranjak sedikit pun dari sofa. Yahiko mengangguk pelan, tak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Yahiko, lain kali jangan beritaukan tempat persembunyianku padanya. Dia bisa membunuhku! Kamu mengerti kan?" Ino mengacak rambut Yahiko dan mendapatkan reaksi yang sama seperti Sai. Bukannya gentar, Ino justru tersenyum bodoh dan mencubit pipi Yahiko.
"Kyaaaa, kau benar-benar imut!" Jerit Ino lalu memeluk Yahiko dengan erat.
"Ugh! Sakit kak!" Protes Yahiko.
.
.
.
"Oh My! Rasanya kepalaku mau pecah.." Gumam Shikamaru pelan. Kepalanya tertunduk sementara telapak tangannya mendarat di keningnya.
"Bukankah aku sudah melarangmu minum di hari sekolah? Kuharap lain kali telingamu itu tidak menjadi hiasan saja. For god sake, kau harus mendengarkan kata-kataku lebih sering lagi, Shikamaru. Lain kali kau minum di hari sekolah dan mabuk, jangan harap aku mau menampungmu di rumahku lagi. Jangan pernah berharap bahkan dalam mimpi sekali pun." Omel Sai panjang lebar.
"Baik bu.." Jawab Shikamaru cuek. "Sekali lagi kau panggil aku ibu dan lihat apa yang akan terjadi padamu selanjutnya." Dengus Sai. Shikamaru tertawa pelan dan menepuk pundak Sai.
"Kenapa hari ini kau sensitif sekali? Sepertinya kalau aku melakukan kesalahan sedikit saja, kau sudah siap untuk mematahkan leherku."
"Kalau saja aku bisa mematahkan lehermu sekarang juga." Bukannya takut, Shikamaru justru terkekeh. Sai tidak henti-hentinya memberengut selama ia dan Shikamaru melewati halaman sekolah. Meski rasa sakit di kepalanya gara-gara kamus milik Ino sudah tidak lagi terasa, tetap saja Sai ingin membalas perlakuan Ino.
Dan itu membuat dia uring-uringan seharian, bahkan Shikamaru juga menjadi sasaran amukannya. Meski sedikit merasa bersalah pada Shikamaru, tapi Sai juga berpikir Shikamaru memang pantas untuk dimarahi karena tingkahnya yang semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini.
"Oh, Neji !" Teriak Shikamaru dan melambaikan tangannya pada Neji yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah bersama seorang gadis yang mengikutinya dibelakang. Sai memicingkan matanya dan berpikir keras, sepertinya ia pernah bertemu gadis itu sebelumnya. Shikamaru melangkah dengan bersemangat mendekati Neji diikuti Sai yang masih terus memutar otaknya.
"Ah, kau Shion kan?" Tanya Sai setelah ia ingat bahwa ia pernah melihat gadis itu di rumah Neji, pelayan Neji yang sempat ingin dirayu Naruto. Sai merinding hanya dengan mengingat hal itu. Hal yang mustahil jika Naruto tidak mencoba merayu gadis—dilihat dari fisiknya tidak bisa dikatakan tidak oke setelah ia melihatnya selama sedetik.
Shion membungkukkan tubuhnya dan mundur beberapa langkah, terlihat tidak terlalu nyaman. "Pelayan yang ingin dirayu Naruto waktu itu?" Shikamaru menoleh pada Sai. "Mulai hari ini dia akan masuk ke kelasku." Jelas Neji singkat.
"Bersama Naruto? Kurasa aku harus mengikat yang satu itu sekarang juga sebelum dia beraksi." Sai menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Berhati-hatilah Shion-san, Naruto sangat berbahaya." Shikamaru menjulurkan tangannya bermaksud untuk menepuk pundak Shion. Neji ikut menjulurkan tangannya, menahan tangan Shikamaru diudara.
"Kami harus ke kelas sekarang. Sampai bertemu nanti." Tukas Neji singkat dan mengisyaratkan pada Shion untuk mengikutinya. "Apa? Memangnya aku seberbahaya Naruto? Pfft! Aku tidak mungkin berbuat macam-macam pada pelayan itu." Gerutu Shikamaru dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tentu saja kau tidak akan berbuat macam-macam padanya. Kau kan hanya tertarik pada Temari." Goda Sai. Shikamaru memutar bola matanya meski ia tau yang Sai katakan memang benar.
"Ah, aku harus ke kelas sekarang, sampai jumpa!" Sai langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari Shikamaru saat ia melihat Ino berjalan ke kelasnya. Sai mendahului Ino dan merentangkan tangannya di pintu kelas untuk menghalangi jalan Ino. Ino mengernyit, seolah lupa tentang pertengkaran kecil mereka semalam.
"Menyingkirlah sebelum aku menendangmu." Ucap Ino sinis. Sai menyeringai pelan, menyingkirkan tangannya dari pintu. Ino melangkah maju untuk memasuki ruang kelasnya, dengan cepat Sai melingkarkan lengannya di leher Ino dan hampir-hampir menyekiknya kalau saja Sai menambahkan sedikit lagi tenaganya. Tapi tentu saja, Sai tidak mungkin tega melakukan hal itu meskipun ia pikir Ino adalah makhluk yang aneh.
"Ya Tuhan! Kau mau membunuhku?" Pekik Ino. Sai melepaskan Ino yang sekarang terbatuk pelan. "Pfft! Andai saja aku bisa membunuhmu, pasti sudah kulakukan." Tukas Sai. "Rasakan ini, dasar orang jahat!" Ino meraih rambut hitam Sai dan menariknya dengan kuat membuat kepala Sai ikut tertarik.
"Kau menarik rambutku? Kau berani menarik rambut yang sudah ku tata selama satu jam? Yamanaka Ino, kau benar-benar menantangku ya, huh?" Tanya Sai yang terbelalak. Ino berkacak pinggang dan tersenyum lebar merasakan kemenangannya yang terasa manis, atau setidaknya untuk saat ini. Sai tersenyum licik dan mengelus dagunya.
"Harusnya kutunjukkan padamu bagaimana neraka itu?" Ino menaikkan sebelah alisnya, ia tidak benar-benar bisa mengerti kata-kata Sai tapi membiarkannya berlalu begitu saja.
.
.
.
"Oh, tidak! Aku tidak mau hidup lagi!" Pekik Ino. Ino menenggelamkan wajahnya diatas meja di toko es krim langganan mereka. Hinata dan Sakura saling bertatapan. Meski mereka tau ini pasti ada hubungannya dengan Sai tapi mereka tidak benar-benar tau apa yang sebenarnya terjadi karena Ino dan Sai sepertinya punya segudang cerita yang berbeda hanya dalam sehari.
"Ada apa lagi? Ceritakan saja pada kami." Tanya Hinata prihatin. Sakura menyendokkan es krim cokelat ke dalam mulutnya dan mengangguk menyetujui kata-kata Hinata. "Shimura Sai itu benar-benar iblis! Dia menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengerjaiku habis-habisan!" Pekik Ino lagi, kali ini mengangkat wajahnya untuk menatap kedua sahabatnya.
"Apa? Kekuasaan apa?" Tanya Hinata semakin bingung. "Dia menjadi tutor yang kejam! Dia menyuruhku mengerjakan 100 soal dalam waktu 30 menit dan dia selalu memukul tanganku kalau aku tidak bisa menyelesaikannya. Apa dia gila? Dia pikir otakku ini kalkulator hidup? Dia benar-benar iblis yang mengerikan." Rengek Ino pasrah.
"Kalau menurutmu Sai itu iblis, kau harusnya bertemu iblis sesungguhnya yang tidur di seberang kamarku." Gumam Sakura sangat pelan hingga membuat Hinata dan Ino mengernyit padanya karena tidak mendengar apa yang Sakura ucapkan. Sakura tersenyum lebar dan kembali menyendokkan es krim ke dalam mulutnya, tidak mempedulikan teman-temannya yang masih menatapnya.
"Mungkin karena masalah beberapa hari yang lalu? Saat kau menarik rambutnya, ingat?" Ucap Sakura. Hinata terkesiap pelan. "Kau menarik rambut Sai? Kau benar-benar gawat." Ejek Hinata yang terkekeh pelan. "Dia dulu yang mencekikku. Lagipula itu kan hanya rambut, apa peduliku."
"Itulah masalahmu." Gumam Sakura. "Kenapa kau tidak mencoba untuk berdamai saja dengan Sai? Kau tau, menurutku dia tidak sejahat yang kau pikir."
"Hinata! Lihat? Sai sudah mencuci otak Sakura, sekarang Sakura berada di pihaknya!" Jerit Ino dibuat-buat. Hinata dan Sakura memutar bola mata mereka dan tertawa bersama.
"Oh, sial! Aku hampir terlambat, dan dia akan menambahkan soalnya kalau aku terlambat sedetik saja. Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa besok!" Teriak Ino yang sudah berlari keluar dari toko. "Apa menurutmu mereka akan baik-baik saja?" Tanya Hinata pada Sakura. Sakura mengangkat pundaknya.
"Kuharap ada hasil yang baik selama sebulan ini. Aku sudah capek melihat mereka terus bertengkar di kelas. Kepalaku rasanya mau pecah melihat tingkah mereka."
To Be Continue …
A/N: Akhirnya selesai juga chap 6 ^^. Thanks buat kalian yg sudah review ff author. Mengenai transisi tempat, author minta maaf sebesar2nya, author baru nyadar kalo transisinya dari chap 1-5 gak ada pdhal author sudah kasih tanda di setiap transisi ttpi ternyata tidak muncul setelah author update T^T. Untuk masalah lemon, author akan berusaha tetapi author tidak janji lemonnya sampai parah banget, ehehehehe. Next, ada yg tanya kalo Miko san umurnya berapa n sekarang masih sekolah apa dah kuliah? author sekarang berumur 20 th n sekarang masih kuliah semester 4 ^.~
Oh iya ada kabar gembira bagi kalian, author akan update ff ini setiap akhir pekan yeeeyyyyy yuhhuuuu #joget-joget gaje (gubrakk, tuh kan jatuh dari kasur -_-). Thank's bagi kalian yg sudah membantu meralat. Thank's juga yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~
Thanks to:
uchiha javaraz, syahidah973, mantika mochi, Guest, zarachan, yencherry, Uzumaki isana, williewillydoo, undhott, saki, echaNM , Kiki Kim, , dina uchiharuno, Sachika Arikazuto, respitasari, BakaAho, Desta Soo, Kirara967, Jamurlumutan462, Lynn, Uchiha Pioo
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
