The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
"Tinggal satu menit lagi…" Sai memperingati Ino yang sedang mengerjakan lembar soal untuk keenam kalinya hari ini.
Dan tak perlu ditanya, 5 lembaran soal sebelumnya membuat ia mendapatkan pukulan dari Sai dan sekarang tangan Ino terasa panas, tapi ia terus mengerjakan soal tersebut karena ia tidak mau dipukul lagi oleh Sai. Yang terpenting, ia tidak mau Sai bersenang-senang diatas penderitaannya.
"5…4..3..2..—"
"Selesai!" Ino menjerit senang, akhirnya ia bisa menyelesaikannya tepat waktu. Sai menatap Ino dengan tidak percaya. Sesungguhnya ia tidak pernah menyangka Ino akan bisa menyelesaikan semua soal dalam 30 menit, tapi sekarang dia melakukannya. Sai menarik lembaran soal itu dari tangan Ino dan memperhatikan jawabannya satu per satu.
"Hmm, not bad. Kurasa kau masih bisa dapat 8 atau7, yang pasti kalau kau terus mempertahankan semua rumus itu di dalam otakmu selama satu minggu ke depan. Kau pasti bisa lulus tes." Ujar Sai santai.
"Yeah, aku tau aku memang jenius." Ujar Ino berbangga diri.
"Please, kalau kau jenius aku tidak akan di sini sekarang." Cemooh Sai. Ino dan Sai memalingkan wajah mereka ketika mendengar suara pintu kamar yang diketuk. Yahiko menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu yang terbuka kecil.
"Hey, kau tidak bisa pulang. Diluar sedang hujan deras." Ujar Yahiko dengan polosnya.
"Benarkah?" Sai berjalan mendekati jendela dan mengintip keluar. Hujan memang turun dengan derasnya dan ia tidak menyadarinya dari tadi. Ino menggigiti bibir bawahnya dan berpikir keras.
Sesekali ia menatap punggung Sai yang masih memandang keluar jendela. Haruskah Ino bersikap baik pada Sai kali ini saja? Bagaimanapun juga, suka tidak suka, Sai sudah membantunya cukup banyak selama hampir satu minggu ini.
"Hmm, kau mau makan malam di sini sampai menunggu hujannya berhenti?" Tanya Ino ragu-ragu tanpa melihat ke arah Sai, justru sibuk memberesi buku-bukunya.
"Tentu, kalau kau yang meminta." Jawab Sai juga terlihat agak ragu dan kaget karena Ino menawarinya.
"Siapa yang memasak makan malam?" Lanjut Sai.
Yahiko menunjuk Ino menggunakan jari telunjuknya, lagi-lagi membuat Sai terkejut.
"Kau bisa memasak?" Ino tertawa sinis dan keluar dari kamarnya menuju dapur untuk memasak nasi dan memanaskan sup.
"Benarkah dia bisa memasak?" Tanya Sai lagi pada Yahiko. Yahiko mengangguk pelan.
"Keajaiban.." Desis Sai yang beranjak dari kamar Ino. Ino tengah asyik di dapur dan tidak mendengar suara langkah kaki Sai yang mendekat.
"Hmm, Sukiyaki?" Sai berdiri di belakang Ino dan menghirup aroma sup sayuran dengan isian daging sapi yang menyeruak masuk ke hidungnya dan menggugah seleranya. Ino terkesiap pelan, kehadiran Sai yang tiba-tiba membuatnya terlonjak pelan.
"Kau membuatku kaget." Gerutu Ino masih terus mengaduk sup yang sedang ia panaskan.
Sai melihat ke sekeliling dapur, terlihat bersih dan tidak berantakan. Diam-diam Sai merasa takjub, ia tidak menyangka gadis seperti Ino bisa memasak dan bahkan tau bagaimana caranya untuk menjaga kebersihan dapur.
"Akan kau apakan tahu ini?" Sai mengeluarkan sekotak tahu yang dibeli oleh Ino kemarin. Ino menoleh sekilas untuk melihat apa yang sedang Sai lakukan.
"Hanya untuk cemilan saja." Ujar Sai.
"Apa kau punya Zucchini*), Konyaku**), wortel, lobak, dan nori?" Sai meletakkan kotak tahu diatas meja dan menunggu Ino yang sedang mencari bahan-bahan yang sudah disebutkan Sai tadi di dalam lemari es nya.
Setelah menemukannya, Ino menyerahkannya pada Sai dan terpaku di tempatnya, penasaran apa yang ingin dilakukan Sai.
"Kau mau membuat apa?" Ino berdiri di samping Sai yang dengan cekatan melipat lengan bajunya hingga ke siku. Sai mengambil tahu untuk direbus dan memotong Zucchini, Konyaku, wortel, lobak, dan nori yang baru saja diberikan Ino.
"Pernah makan Salad Tofu?" Ino menggelengkan kepalanya.
"Akan kubuatkan untukmu." Sai memasukkan bahan-bahan yang sudah di potongnya ke dalam wadah.
"Bisa tolong siapkan cuka beras, air hangat, kecap asin, air jeruk lemon, mirin***), garam, dan air jahe?" Pinta Sai tanpa mengalihkan pandangannya dari tahu yang masih ia rebus. Ino tidak menjawab pertanyaan Sai, sebagai gantinya ia menyiapkan bahan-bahan yang sesuai permintaan Sai.
Sai membawa tahu yang telah ia rebus ke atas meja dan memotongnya bentuk dadu 1 cm.
"Apa lagi yang harus kulakukan pada bahan-bahan ini?" Tanya Ino sambil menunjuk ke bahan yang sudah ia siapkan.
"Hmm, campurkan saja semua bahan itu menjadi saus salad." Ino mengangguk dan menjalankan instruksi Sai.
"Kurasa sausnya sudah selesai?" Ino membawa mangkuk berisi saus salad ke meja sementara Sai masih mencampurkan tahu dan bahan-bahan yang sudah dipotong ke dalam wadah. Sai menolehkan kepalanya ke samping, pandangannya tertuju pada saus salad yang sudah dibuat Ino dan mencampurkan saus tersebut ke dalam salad.
"Aaaa…" Sai membuka mulutnya, mengisyaratkan Ino untuk menyuapkan salad itu padanya. Tanpa pikir panjang, Ino mengambil sumpit dan menyuapkan salad ke dalam mulut Sai. Sai mengunyah dengan perlahan.
"Kau tidak menambahkan racun ke dalamnya kan?" Ejek Sai.
"APAA!?" Ino berdecak pelan, mengedarkan pandangannya dan menggenggam tepung yang memang ia biarkan bertengger di ujung meja. Ino melemparkan tepung dalam genggamannya ke wajah Sai, membuat dia terbatuk pelan ketika bubuk tepung masuk ke dalam mulutnya.
"Heyyy!" Teriak Sai setelah batuknya terhenti. Tidak mau kalah, Sai balas melempari Ino dengan tepung dan dalam hitungan menit tubuh mereka hampir tertutup tepung. Dapur yang tadinya bersih menjadi benar-benar kacau sekarang.
"Kyaaaaaaa!" Teriak Ino saat Sai menangkapnya. Sai melingkarkan satu lengannya di perut Ino dari belakang dan menariknya hingga punggung Ino menabrak tubuhnya. Tangan Sai yang lain masih menggenggam tepung dan bersiap untuk meluncurkannya ke wajah Ino. Ino menggeliat pelan dan menunduk untuk melindungi wajahnya.
"Ayolah, angkat wajahmu." Ucap Sai girang.
"Hei, kapan makan malamnya— Ugh! Apa yang kalian lakukan?" Yahiko terbelalak begitu ia menginjakkan kakinya di dapur yang sudah tak bisa ia kenali lagi. Baik Sai maupun Ino menghentikan kegiatan mereka dan menoleh pada Yahiko disaat yang bersamaan.
"Terserahlah, tapi aku sudah kelaparan." Omel Yahiko sambil berlalu.
Menyadari tingkah konyol mereka, Sai dan Ino tertawa bersamaan. Ino memalingkan wajahnya untuk melihat reaksi Sai. Tawa Ino langsung terhenti begitu ia melihat wajah Sai yang masih tertawa tepat berada satu inci disampingnya.
Sai menyadari perubahan ekspresi Ino dan tawanya ikut menghilang. Selama beberapa detik Sai dan Ino tidak bergerak sedikitpun, masih terus menatap satu sama lain.
"AKU LAPAR!" Teriak Yahiko dari ruang keluarga.
Sai melepaskan lengannya yang melingkari Ino, ia bergeser satu langkah ke samping dan berdeham pelan untuk menghilangkan kecanggungannya. Ino memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan, merasakan panas yang membara di kedua pipinya.
.
.
.
"Ino, kau siap untuk melihat hasil tes kemarin?" Panggil Sakura pada Ino yang masih tak bergeming dari tempat duduknya meskipun bel istirahat telah berbunyi.
"Aku pasti gagal lagi…" Rengek Ino.
"Ayolah, kau kan belum lihat hasilnya. Lagipula kau sudah belajar dengan keras akhir-akhir ini." Bujuk Sakura yang merasa tidak tega melihat Ino yang tidak bersemangat. Setelah bujukan berkali-kali dari Sakura, Ino melangkah dengan lunglai ke halaman sekolah tempat papan pengumuman yang ditempeli hasil tes berada.
Murid-murid yang juga ingin mengetahui hasil tes mereka berkerumun di depan papan pengumuman, membuat Sakura dan Ino sedikit kesulitan bahkan untuk melihat papannya saja dari kejauhan.
Sai dan Naruto keluar dari kerumunan manusia itu. Naruto mengeluh karena kerumunan manusia itu tidak membiarkannya keluar dengan mudah.
"Kenapa kau penasaran sekali dengan hasil tes kali ini, huh?" Omel Naruto sambil merapikan pakaiannya.
"Memangnya tidak penasaran dengan hasil tes?" Tanya Sai.
"Tidak, sama sekali tidak! Untuk apa aku harus berdesak-desakkan seperti itu kalau aku sudah yakin aku pasti akan lulus. Pfft! Dan kau juga tidak biasanya begitu penasaran dengan hasil tes. Ada apa?" Cerca Naruto yang memicingkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Sai. Sai memutar bola matanya dan mendorong wajah Naruto menggunakan telapak tangannya membuat Naruto kembali mengeluh.
"Hey, apa kau sudah lihat hasil tes mu?" Tanya Sai saat Ino melewatinya. Ino menoleh dan butuh beberapa detik baginya untuk mengenali Sai karena otaknya yang dipenuhi rasa gugup.
"Uh, oh…" Jawab Ino tidak jelas membuat Sai berdecak pelan.
Sai mendorong pundak Ino ke arah papan pengumunan."Lihatlah hasil kerja kerasmu." Ucap Sai.
Dengan susah payah Ino berhasil maju ke depan dan melihat hasil tes. Seperti yang ia duga, Hinata dan Sakura lulus tes dengan nilai tinggi. Bahkan Sai pun nyaris mendekati nilai sempurna. Jika kalian bertanya siapa yang mendapat nilai sempurna, sudah pasti Sasuke dan Neji yang hanya kalah satu poin.
"Ino, lihat di nomor 48, kau lulus tes!" Teriak Sakura histeris dan terus menunjuk angka 48. Dengan tidak percaya Ino melihat nama yang tertera di nomor 48, Yamanaka Ino (81).
"Arrrrgh! Aku lulus!" Teriak Ino dengan senang. Wajah Sai tiba-tiba saja terlintas dibenak Ino dan membuatnya tersenyum lebar.
Ino keluar dari kerumunan itu, ia melihat Sai masih berdiri di tempat ia berdiri tadi dan menyeringai kecil pada Ino.
"Arigatou! Kau tutor yang hebat!" Ino melompat girang dan melingkarkan lengannya dileher Sai dengan erat. Tidak banyak yang ia pikirkan saat ini, ia hanya senang karena akhirnya ia lulus tes tanpa perlu mengulang seperti biasanya. Dan ia sadar, orang yang berjasa kali ini adalah Sai walau Ino agak enggan mengakuinya.
Seringaian di wajah Sai menghilang, matanya terbelalak lebar. Tidak pernah ia menyangka Ino akan memeluknya seperti ini. Ekspresi kaget tidak hanya dimiliki Sai, tapi juga Sakura dan Naruto serta beberapa siswa lainnya. Mereka berbisik-bisik, jelas sekali kalau pasangan Sai-Ino terkenal karena perdebatan mereka yang tidak ada habisnya, bukannya karena'kemesraan' mereka.
Ino melihat sekelilingnya, keningnya berkerut heran, kenapa semua orang melihatnya dengan tatapan aneh? Dan barulah ia sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. Ino melepaskan diri dengan cepat dan tidak berani menatap mata Sai, ia terlalu merasa canggung.
"Uh, itu saja, arigatou.." Ucap Ino tidak jelas. Wajahnya lagi-lagi memanas seperti waktu mereka bermain tepung di dapur Ino seminggu yang lalu. Tanpa banyak bicara, Ino menarik tangan Sakura dan meninggalkan tempat yang hampir membuatnya sesak.
Sai masih mematung di tempatnya, perasaannya campur aduk. Naruto menyikut lengan Sai dengan pelan dan menyeringai. "Akhirnya kau dan dia ada kemajuan, huh?" Goda Naruto.
Mendengar tidak ada jawaban dari Sai, Naruto melanjutkan kata-katanya, "Ayolah, katakan padaku, apakah kalian sudah melakukan first kiss? French kiss? Atau jangan-jangan kalian sudah—"
"Oh, tutup mulutmu, Urusi saja gadis mu!" Ujar Sai garang. Ia tidak ingin menjadi bahan ejekan Konoha Boys nantinya kalau Naruto tidak segera menutup mulutnya. Sai melangkah dengan cepat menuju ruang OSIS milik Sasuke diikuti Naruto.
"Huh?" Tanya Naruto bingung dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Gadis yang 'bermain' denganmu beberapa hari yang lalu di bar ku. Dia terus-terusan mencarimu." Sai memutar bola matanya. Naruto terlalu cepat menggoda gadis itu dan secepat itu juga dia melupakannya.
"Shit! Kenapa para gadis harus terus menempel seperti permen karet, huh?" Gerutu Naruto yang mulai gusar.
"Yo!" Shikamaru melambai dengan girang setelah Sai dan Naruto sampai ke ruang OSIS. Tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali Konoha Boys. Sai menggelengkan kepalanya, melihat Shikamaru yang girang seperti itu, ia tau alasannya. Hanya ada dua penyebab, kalau bukan karena Sabaku Temari, pasti karena …
"Jangan katakan padaku kalau kita akan duel dengan sekolah lain lagi?" Tebak Sai was-was. Senyuman di wajah Shikamaru semakin melebar.
"Tidak bolehkah kalau Shikamaru tidak ikut? Dia mengerikan." Omel Sai yang mendapat gerutuan dari Shikamaru.
"Jadi, geng mana yang harus kita lawan kali ini?" Naruto merebahkan tubuhnya di samping Shikamaru dan menatap Neji yang terlihat agak panik serta Sasuke secara bergantian.
"Yoninsu-team dari Oro High School." Jawab Sasuke singkat. Mata Shikamaru kembali berbinar-binar begitu tau lawan mereka adalah lawan yang tangguh.
"Tapi ini sedikit berbahaya karena kalian tau bahwa Oro High School adalah kekuasaan Akatsuki High School. Jadi, kalian mengerti maksudku kan?" Neji menyipitkan matanya.
Tidak ada yang ia takuti, ia yakin teman-temannya pasti tidak akan dikalahkan begitu saja, tapi ia juga ingin mengurangi kemungkinan teman-temannya terluka parah.
"Itu berarti, jika kita mengalahkan Yoninsu-team, Dosu-team tidak akan tinggal diam?" Terka Sai. Neji mengangguk pelan.
"Aku tidak keberatan, siapapun lawannya, kita pasti akan menang." Ucap Naruto dengan penuh percaya diri.
"Yah, mau Oro High School ataupun yang lainnya, aku tidak akan takut." Shikamaru melompat pelan ditempat duduknya. Sai mengangkat pundaknya, menyetujui kata-kata Naruto dan Shikamaru.
"Jadi, sepulang sekolah?" Tanya Neji. Ketiga orang itu mengangguk.
"Sasuke, apa kau akan ikut kali ini?" Naruto memiringkan kepalanya untuk melihat Sasuke yang duduk di samping jendela. Sasuke menggeleng pelan dan menatap keluar jendela.
"Sekarang dia sudah menjadi pecinta damai sepertiku, jangan membujuknya untuk memulai kebiasaan lamanya atau kalian tidak akan bisa menghindari pertempuran berdarah." Kekeh Neji.
"Sebenarnya, aku agak merindukan pertempuran berdarah itu. Rasanya menyenangkan ketika Sasuke masih ikut beraksi bersama kita." Sai tersenyum kecil.
"Kau mau melihat pertempuran berdarah lagi? Aku bisa melakukannya!" Pekik Shikamaru bersemangat. "Tidak. Terima kasih" Tolak Sai sambil menatap horor Shikamaru.
.
.
.
Ino berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ibu jarinya tersangkut di sela-sela giginya. Kejadian memalukan saat ia tanpa sadar memeluk Sai tadi siang terus terputar berulang kali bagai kaset rusak yang tidak bisa dihentikan.
"AAAAAAARGH!" Teriak Ino yang melompat ke atas tempat tidurnya dan membenamkan wajahnya ke bantal lalu berteriak sekeras mungkin.
"Kenapa aku melakukan hal itu? Dia pasti akan mengejekku habis-habisan! Kau benar-benar bodoh Ino!" Maki Ino tanpa henti pada dirinya sendiri. Ino melirik ke jam kecil yang diletakkannya diatas meja belajar dan menghembuskan nafas pelan.
"Dia terlambat. Apa mungkin dia tidak akan menjadi tutorku lagi karena kejadian tadi? Bukankah aku harusnya senang?"
Ino tidak henti-hentinya beradu argumen pada dirinya sendiri. Setelah lelah berdebat, Ino beranjak ke ruang keluarga dan menyalakan televisi meski ia tidak benar-benar menontonnya. Ino terus menajamkan telinganya siapa tau saja bel rumahnya berbunyi.
Bagaimanapun Sai dan Ino selalu bertengkar setiap harinya, Sai tidak pernah sekalipun terlambat apalagi membolos sebagai tutor Ino. Ini adalah kali pertama, makanya Ino agak was-was. Pikirannya di penuhi hal-hal yang tidak masuk akal dan mengerikan. Mungkinkah Sai mengalami kecelakaan? Atau mungkinkah Sai diculik?
Ino menggelengkan kepalanya, mengusir jauh-jauh pemikiran yang justru membuat ia merinding. Ino terlonjak kaget ketika bel rumahnya berbunyi. Ino berlari dengan cepat untuk membukakan pintu. Sai berdiri di hadapannya, lengannya menyangga di sisi pintu agar dia bisa berdiri tegak dan ada beberapa goresan luka di tangan dan wajahnya.
"Ka-kau tidak apa-apa?" Tanya Ino kaget begitu melihat kondisi Sai. Sai tersenyum lemah dan menjulurkan tangannya ke arah Ino tanpa berkata apapun. Ino meraih tangan Sai, melingkarkannya di leher putih miliknya lalu memapah Sai untuk duduk di ruang tamu.
"Tunggu di sini, akan kuambilkan kotak p3k." Perintah Ino. Ino masuk ke kamarnya, melihat ke sekeliling ruangan. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih dan mengingat di mana ia meletakkan kotak p3k nya. Butuh waktu lama hingga akhirnya ia ingat dimana biasanya ia meletakkan kotak p3k nya dan menghampiri Sai.
Sai menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, menatap langit-langit dengan mata terpejam. Ino duduk di samping Sai dengan sangat perlahan takut mengejutkan Sai, tapi nyatanya Sai tetap tau kehadiran Ino dan membuka matanya lalu meluruskan tubuhnya.
"Maaf, aku terlambat hari ini.." Gumam Sai pelan. Ino tidak menjawab pernyataan Sai, justru mengeluarkan kapas dan alkohol untuk membersihkan luka Sai. Ino mengolesinya dengan perlahan di telapak tangan Sai yang tergores paling parah. Rasa pedih dari alkohol yang menyapu daerah lukanya membuat Sai mau tidak mau menggigiti bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakitnya.
Ino bergeming sedikitpun selama membersihkan luka Sai. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Ino. Agak penasaran, Sai memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Ino dengan lebih jelas.
"Hei, kau marah karena aku datang terlambat?" Sai menyenggol lengan Ino dengan pelan. Ino menggeleng sebagai jawaban.
"Huh?" Ucap Sai akhirnya setelah ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada Ino. Ia terlihat sangat aneh.
"HEYYY! Apa kau tidak punya mulut untuk menjawabku!?" Teriak Sai lima menit kemudian saat ia masih saja tidak mendapat jawaban dari Ino.
"Ouch! It's hurt!" Ringis Sai karena Ino menekan luka di telapak tangannya.
"Jangan berteriak padaku, you jerk!" Teriak Ino akhirnya bersuara.
"Kenapa tiba-tiba kau memarahiku? Apa salahku? Dasar gadis aneh!" Rutuk Sai. Ino kembali tidak menggubris kata-kata Sai. Ino mengambil kapas yang baru dan meneteskan alkohol ke atasnya lalu mengoleskannya dengan pelan ke luka di dekat mata Sai yang tidak henti-hentinya memberengut sejak Ino tiba-tiba saja memakinya tanpa alasan.
Terakhir kali mereka bertemu hari ini adalah ketika melihat hasil tes. Dan jelas, saat itu Sai tidak melakukan apapun yang bisa membuat Ino marah. Jadi kenapa sekarang Ino justru marah-marah tidak jelas padanya?
Sai mendongakkan wajahnya ketika sesuatu yang dingin berhembus diwajahnya. Ino telah selesai mengolesi alkohol ke luka Sai dan sekarang tengah meniup-niupkannya. Tidak sekalipun Sai bisa melepaskan pandangannya dari Ino. Dengan cepat, kejadian saat mereka berada di dapur dan saat di halaman sekolah tadi kembali terngiang dibenak Sai, membuatnya menelan air liurnya dengan susah payah.
Ino kembali meluruskan duduknya setelah meniup luka Sai tanpa menyadari perubahan raut wajah Sai. Ino mendesah pelan.
"Ada apa denganmu? Apakah kau dipukuli orang?" Tanya Ino sambil memberesi kotak p3k nya.
"Kurang lebih seperti itu." Sai mengangkat pundaknya.
"Jangan katakan padaku kalau kalian baru saja berduel dan menguasai sekolah lain?" Ino menyipitkan matanya pada Sai yang tersenyum kecil.
"Astaga! Apa kalian tidak bisa lebih bodoh lagi, huh? Untuk apa kalian harus melukai diri kalian sendiri, mengorbankan diri kalian sendiri hanya untuk menguasai sekolah orang lain? Itu sama sekali tidak berguna.." Gumam Ino. Sai mengangkat sebelah alisnya dan menyeringai pelan setelah ia mulai menyadari apa yang membuat Ino tiba-tiba menjadi sewot tidak karuan.
"Jangan katakan… kalau kau mengkhawatirkanku?" Seringaian Sai bertambah lebar.
"A-apa? Tentu saja tidak." Ino tergagap. Ia memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dari Sai karena ia tidak ingin Sai melihat wajahnya yang bersemu merah, itu sangat memalukan baginya.
"Mengakulah. I know i'm gorgeous." Sai terkekeh pelan membuat Ino semakin bersemu merah. Ino mengomeli dirinya sendiri. Kenapa wajahnya harus merona merah karena kata-kata Sai?
"Huh, tidak ada yang menarik dari banci sepertimu." Ino berkata tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Apa? Kau memanggilku apa?" Sai menarik tangan Ino dengan kuat dan mendorongnya hingga terbaring diatas sofa. Sai menjulang diatas Ino dan mengapitkan kakinya di sisi Ino.
"Aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak mengatakan hal itu padaku lagi atau kau akan benar-benar menyesalinya." Ancam Sai sungguh-sungguh.
"Uh, lepaskan aku!" Ino memekik tertahan dan terus meronta agar terbebas dari Sai.
"Kenapa?" Sai menyeringai, menundukkan wajahnya dan berbisik di telinga Ino. "Aku akan memberimu pelajaran.."
Suara Sai menggelitik Ino hingga ke tulang punggungnya. Ino menatap mata Sai yang balas menatapnya. Ekspresi marah diwajah Sai perlahan-lahan mencair seiring dengan berjalannya waktu saat mereka bertatapan. Wajah Sai melembut. Ia menundukkan wajahnya, menyatukan bibirnya dan bibir Ino dengan lembut dan perlahan.
Ino memejamkan matanya saat ia merasakan bibir hangat Sai melumat bibirnya. Ada sensasi aneh yang belum pernah Ino rasakan sebelumnya. Semakin Sai melumat bibirnya dengan ganas, semakin sensasi aneh itu mengambil alih kesadaran Ino. Tanpa disadarinya, tangannya bergerak mulus dan mendarat dileher Sai, memainkan rambut hitam milik Sai dengan perlahan.
Sai mengerahkan tenaganya, menarik Ino hingga kini punggungnya tak lagi menyentuh sofa dan justru duduk dipangkuannya yang hangat membuat Ino terkesiap pelan. Sai mengambil kesempatan itu untuk menyusupkan lidahnya, menjelajahi setiap rongga mulut Ino, menggoda lidah Ino untuk ikut bermain dengannya.
.
.
.
"Oh, ayolah! Akui saja kalau kau memang menikmatinya, iyakan?" goda Sai sambil melangkah mundur dihadapan Ino yang memalingkan wajahnya dan terus berjalan maju tanpa mempedulikan Sai.
"Pfft! Setelah kemarin kau membalas ciumanku, sekarang kau justru berpura-pura tidak ada yang terjadi, huh?" Protes Sai tidak menyerah. Ino membekap mulut Sai menggunakan tangannya yang langsung dihempaskan oleh Sai.
"Apa?" Tanya Sai bingung.
"Kau gila? Kenapa kau harus mengatakan hal itu dengan keras?" Omel Ino sambil memukul lengan Sai. Sai tertawa pelan dan mengacak rambut Ino.
"Kau malu? Astaga, kau tidak perlu malu kalau kau berciuman dengan pacarmu sendiri." Ucap Sai lembut.
"A-apa? Pacar?" Wajah Ino memanas hanya dengan mendengar kata-kata sederhana dari Sai.
"He-eh. Kau pikir aku ini apa? Meskipun teman-temanku adalah pria brengsek—terutama Naruto —tapi aku tidak sama dengan mereka. Aku tidak akan sembarangan mencium perempuan dan pergi begitu saja." Ucap Sai lagi, kali ini lebih serius dan ekspresi wajahnya lebih lembut.
Ino terpaku ditempatnya, terlalu bingung untuk mengatakan sesuatu. Sai tersenyum kecil, sejak kapan ia menganggap Ino terlihat cantik? Yang pasti sekarang ia merasakannya.
"Haruskah kukatakan lebih jelas lagi? I love you, Yamanaka Ino.." Bisik Sai di bibir Ino sebelum ia mengecup bibir Ino dengan cepat. Sai tersenyum senang saat Ino tak lagi membantah kata-katanya. Sai meraih tangan Ino, menautkannya jari-jari mereka yang terasa hangat satu sama lain.
"Ada apa di sana?" Tanya Ino yang menatap ke arah papan pengumuman.
"Mungkinkah hasil tes kemarin salah? Bagaimana kalau ternyata aku tidak lulus?" Tanya Ino panik.
"Tenanglah, aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan hasil tes. Ayo kita lihat ke sana." Sai menarik tangan Ino dengan pelan menuju kerumunan yang hampir semuanya gadis.
"Sakura!" Teriak Ino terkesiap begitu melihat sahabatnya lah yang menjadi pusat perhatian, dan sebuah foto yang terpasang di papan pengumunan, foto Sasuke dan Sakura yang berjalan berdua. Dengan panik Ino menghambur ke kerumunan itu, langsung menghampiri Sakura bersama Sai. Disaat yang bersamaan Hinata dan Naruto juga menghampiri Sakura.
"Ada apa?" Tanya Ino pada Sakura yang hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Kami hanya minta penjelasan tentang foto ini. Apa yang sedang dia lakukan bersama Sasuke-kun sepulang sekolah kemarin?" Ujar salah seorang gadis yang berdiri paling depan di kerumunan itu, jelas sekali kalau dialah dalang dari semua kehebohan ini.
"Sakura, katakan saja pada mereka agar mereka tidak lagi mengganggumu." Hinata terlihat panik karena gadis lainnya terlihat sangat marah. Bagaimana tidak, bagi mereka Sasuke adalah idola dan mereka tidak suka jika idola mereka didekati gadis lain selain diri mereka sendiri.
Dan alasan utama yang membuat mereka marah adalah karena tidak ada satupun diantara mereka—kecuali Sakura—yang pernah berada di dekat-dekat Sasuke. "Pasti kau menggoda Sasuke-kun kan?" Tukas gadis lainnya. Ino menghembuskan nafasnya dengan kasar, kesabarannya tidak pernah cukup jika harus menghadapi gadis-gadis besar kepala seperti mereka.
"Can you shut up, bitch?" Cerca Ino.
"Apa kau bilang?" Teriak gadis itu. Merasa kesal dengan kata-kata Ino, gadis itu mengangkat tangannya bersiap untuk memukul Ino. Ino melangkah maju bersiap untuk memukul balik gadis itu, tapi Sai berdiri di tengah-tengah mereka dan menahan tangan gadis yang akan memukul Ino itu lalu menatapnya dengan tajam.
"Jika kau menyentuh gadisku, jangan harap kau bisa lolos dari neraka…" Ancam Sai yang berhasil membuat gadis itu terbelalak. Bisik-bisik kembali terdengar setelah mereka mendengar kata-kata Sai dengan sangat jelas. Hinata, Naruto dan Sakura menatap pasangan baru itu tak kalah kagetnya. Menyadari semua perhatian justru tertuju padanya, Ino menutupi wajahnya dengan satu tangan dan memukul lengan punggung Sai.
"Ouch, berhentilah memukulku! Kau membuat badanku remuk!" Omel Sai pada Ino.
"Kalau begitu berhentilah mempermalukanku!" Balas Ino sengit.
"Ada apa di sini?" Suara Sasuke membuat semua orang terutama Sakura terkesiap.
Kerumuman itu membelah dan memberikan jalan bagi Sasuke dan Shikamaru yang baru saja datang untuk lewat dengan mudah. Sasuke berdiri di samping Sakura, melihat foto yang tertempel di papan pengumuman dan mendesah pelan lalu merobeknya menjadi dua bagian sementara Shikamaru memandang Sai dan Ino dengan aneh.
"Sakura, kurasa kita harus memberitahukan semuanya pada mereka." Ucap Sasuke pelan. Sakura terbelalak ngeri. Baru ketahuan pulang bareng saja fans Sasuke sudah mengamuk seperti ini, apalagi kalau sampai mereka tau mereka tinggal bersama. Sasuke maju selangkah, Sakura menarik lengan Sasuke dan menggeleng.
Sasuke tersenyum kecil dan menepuk tangan Sakura, seolah menenangkannya dan memberitaukan semuanya akan baik-baik saja. Semua tidak akan baik-baik saja kalau fans Sasuke sampai mencabik-cabik seluruh tubuh Sakura.
"Sebenarnya kami—" Ucap Sasuke dengan agak keras agar semua orang bisa mendengarnya. Sakura menarik tangan Sasuke dengan lebih erat, memaksanya untuk berhenti mengucapkan kata-kata selanjutnya. Lagi-lagi Sasuke tersenyum manis pada Sakura.
Ia melepaskan tangan Sakura yang menggantung di lengannya, mengangkatnya ke udara dan menggenggamnya dengan erat "—kami sudah berpacaran hampir setahun." Ucap Sasuke yang bahkan membuat Sakura sangat kaget. Sakura memelototi Sasuke yang terlihat tidak peduli sedikitpun pada ancaman yang diberikan Sakura melalui sorot matanya.
"Jadi aku mohon kepada kalian, jika kalian menganggunya lagi itu akan menyakitiku juga." Sasuke tersenyum tipis, membuat hati para gadis itu berdebar tidak karuan.
"Jadi kalau kalian mengizinkan, kami harus pergi ke suatu tempat dulu." Sasuke menarik Sakura pergi secepat mungkin, tidak mempedulikan apakah teman-temannya akan mengikutinya atau tidak.
Dengan banyak keluhan kekecewaan, satu per satu gadis-gadis tersebut pergi dan bahkan ada beberapa yang menangis karena ternyata Sasuke sudah terikat pada seorang gadis lain.
"Sampai kapan kalian mau berpegangan tangan?" Shikamaru memandang Ino dan Sai bergantian lalu ke tangan mereka yang saling terpaut erat. Lagi-lagi wajah Ino merona, ia mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi Sai tidak mengizinkan dan menggenggamnya lebih erat lagi.
"Sudah kuduga, kalian memang saling jatuh cinta! Jadi sudah sampai di mana tahap kalian? Kalian bisa meminta padaku untuk mengajari kalian!" Teriak Naruto histeris, berdiri di tengah-tengah Sai dan Ino lalu merangkul mereka.
Sai mengernyit, menarik tangan Naruto agar tangannya turun dari pundak Ino. "Jangan biarkan dia menyentuhmu, kau bisa hamil kalau dia sampai menyentuhmu." Sai memperingati Ino dan mendapatkan pukulan dari Naruto di kepalanya.
"Sial, jangan merusak citra ku." Tukas Naruto yang melirik ke arah Hinata sekilas.
"Naruto, tadi Neji mencarimu. Kurasa ada hubungannya dengan Shion." Ucap Shikamaru setelah ia mengingat pesan Neji tadi pagi.
"Apa lagi sih? Aku kan tidak menyentuhnya sama sekali, huh!" Gerutu Naruto sambil berlalu pergi.
"Sepertinya ada yang harus kau dan Sakura ceritakan padaku. Sampai jumpa saat makan siang nanti." Hinata tersenyum penuh arti dan melambai pada Ino. Ino menundukkan wajahnya, memikirkan apa yang harus ia katakan pada kedua sahabatnya nanti. Tapi setidaknya bukan dia seorang yang berhutang penjelasan.
"Bukankah itu Temari? Siapa pria yang ada di sampingnya?" Sai memicingkan matanya saat melihat Temari berjalan dari gerbang sekolah. Shikamaru menoleh dengan cepat, rahangnya terkatup rapat begitu melihat Temari berjalan bersama pria seperti yang Sai katakan.
"Brengsek!" Erang Shikamaru yang menghentakkan langkahnya ke tempat Temari.
"Ayo, sebaiknya kita segera masuk ke kelas." Sai menarik tangan Ino, membimbingnya ke kelas mereka.
"Gawat! Aku belum menyelesaikan tugas bahasa inggris!" Teriak Ino. Sai memutar bola matanya dan melangkah lebih lebar agar segera sampai ke kelas.
"Boleh aku lihat apa yang ada di dalam kepalamu? Kenapa kau bisa lupa menyelesaikan tugas sepenting itu, huh?" Cemooh Sai. Ino menatapnya dengan tajam dan menginjak kaki Sai yang menjerit tertahan.
"Memangnya gara-gara siapa aku bisa lupa dengan tugasku kemarin malam?" Oceh Ino.
"Jadi kau menyalahkanku? Salahkan dirimu sendiri yang terlalu terpesona padaku!" Balas Sai masih memegangi kakinya yang sakit.
"Ingatkan aku untuk membuang majalahmu nanti siang!" Ino melongos masuk ke kelas dan langsung mengeluarkan buku tugasnya untuk dikerjakan.
"Inoo, kalau kau membuangnya aku tidak akan memaafkanmu!"
To Be Continue …
*) Zucchini: Salah satu jenis terung dengan warna kulit hijau tua dan bentuknya lebih memanjang, mirip mentimun. Biasa ditemukan di dataran Eropa.
**) Konyaku: Salah satu bahan makanan Jepang yang memiliki tekstur kenyal seperti jeli, berwarna putih. Dijual dalam bentuk kemasan plastik.
***) Mirin: Bumbu dapur khas Jepang. Terbuat dari beras yang difermentasi, dan mengandung alkohol 14%. Berbentuk cair, dengan warna kuning keemasan dan cita rasa manis.
A/N: Kelar juga chap 7, Author sengaja update kilat sebelum jatuh tempo untuk chap ini karena kesibukan author yg bikin author kalang kabut huaaaa T^T. Kali ini author mengupdate scene khusus InoSai, bagi kalian yg mengharapkan scene SasuSaku author minta maaf tapi author janji author akan buat scene SasuSaku lebih banyak. Thank's bagi kalian yg sudah membantu meralat. Thank's juga yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~
Thanks to:
mikumi16, Jamurlumutan462, echaNM, mantika mochi, Rastafaras uchiha, elzakiyyah, yencherry, zarachan, Nakata Airi, Uchiha Pioo, Kirara967, Shizuka Namikaze19, t-chan, cherryy, Arashasha, 1, Kiki Kim, williewillydoo, syahidah973, yuma, NamikazeRyuki, , MaelaFarRon II, hanazono yuri, ayu92, UzumakiIsana, Lala Yoichi, vita, Hikaru Sora 14
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
