The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
Hinata membuka tirai kamarnya, berjalan keluar ke balkon kamar dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya. Hinata menunduk, melihat berbagai macam bunga di pekarangan rumahnya yang selalu dirawat dengan baik oleh tukang kebun keluarga Hyuuga.
Hinata memicingkan matanya saat sebuah mobil Lamborgini yang tidak ia kenali terparkir manis di depan rumahnya. Sedikit pertanyaan melayang-layang dibenaknya, tapi ia biarkan begitu saja. Hinata tersenyum pada dirinya sendiri, bersiap menyambut satu lagi hari yang menyenangkan.
Hinata mengambil seragam sekolahnya dan masuk ke dalam kamar mandi sekitar 20 menit. Hinata mengeringkan rambut panjangnya yang baru saja ia keramas dan menjalin seluruh rambutnya ke sisi sebelah kiri. Hinata memperhatikan bayangan dirinya dari pantulan cermin sekali lagi, merapikan dasi dan blazernya lalu mengambil tasnya dan berlari turun ke ruang makan setelah puas dengan penampilannya.
"Pagi ayah!" Sapa Hinata dengan ceria dan langsung menghampiri ayahnya yang sedang membaca koran di ruang makan. Ayahnya tertawa kecil melihat tingkah laku Hinata yang selalu membawa keceriaan di keluarga mereka.
"Sudah siap untuk sarapan?" Tanya ayahnya pada Hinata yang sekarang memutari kursinya dan meneguk segelas susu dengan cepat lalu meraih sepotong sandwich dari atas meja dengan buru-buru.
"Aku hampir terlambat, ayah. Aku akan sarapan di dalam mobil saja." Pamit Hinata yang langsung berlari keluar sebelum ayahnya sempat mengatakan sesuatu padanya.
"Ibu, aku be—" Hinata membeku ditempatnya begitu ia melihat ibunya tengah duduk di ruang keluarga dan asyik mengobrol bahkan tertawa bersama seorang pemuda. Ekspresi wajah Hinata langsung berubah, wajah Hinata memberengut.
"Oh, Hinata. Kau sudah siap?" Ibunya menyadari kehadiran Hinata dan berdiri dari sofa bersamaan dengan Naruto yang memandang Hinata dengan ekspresi yang tidak bisa Hinata baca.
"Naruto datang untuk menjemputmu, cepatlah pergi ke sekolah." Nyonya Hyuuga menghampiri Hinata dan mendorongnya ke arah Naruto yang dengan sigap menangkap Hinata sebelum mereka berdua terjatuh. Hinata memandang Naruto dengan tajam, membuat Naruto harus menahan senyumnya.
Jelas sekali Hinata adalah orang yang berterus terang dan tidak menyembunyikan apapun, Naruto bisa melihatnya hanya dari ekspresi wajah Hinata yang sekarang benar-benar terlihat seperti sedang merutukinya.
Tetap saja, dia terlihat imut, batin Naruto
Hinata menghempaskan tangan Naruto, berdiri dengan tegap dan melangkah keluar dari rumah dengan setiap langkah yang ia hentakkan.
Naruto segera menyusul Hinata begitu ia mengucapkan salam pada Nyonya Hyuuga. Naruto berlari kecil, ingin membukakan pintu bagi Hinata, tapi Hinata sudah terlebih dulu membuka pintu untuk dirinya di kursi belakang.
Naruto menghela nafas pelan dan memutar bagian depan mobil untuk masuk ke kursi pengemudi. Naruto menatap bayangan Hinata yang sedang melihat keluar jendela melalui kaca.
"Aku bukan supirmu, jadi duduk di depan." Pinta Naruto tanpa ada paksaan dalam suaranya. Hinata balas menatap Naruto sedetik lalu memalingkan wajahnya. Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hinata.
Selama perjalanan ke sekolah, tidak ada suara dari Naruto dan Hinata yang terdengar kecuali lagu yang diputar oleh Naruto.
Naruto memarkirkan mobilnya begitu ia sampai di sekolah dan segera turun. Ia mendelik ke arah Hinata yang masih duduk di kursi belakang. Naruto membukakan pintu Hinata dan mendapat tatapan penuh tanda tanya dari Hinata.
"Kau tidak mau turun, nona besar?" Tanya Naruto dengan nada mengejek diakhir kalimatnya.
"Tidak, aku akan turun setelah—"Hinata melirik jam tangannya dan melanjutkan.
"— 3 menit kau keluar. Aku tidak mau ada orang yang melihatku turun dari mobil bersamamu." Jelas Hinata.
"Kau pikir aku datang ke rumahmu dan mengusulkan diriku sendiri untuk menjemputmu? Kalau bukan karena orangtuaku mengancam akan membekukan kartu kreditku, aku tidak akan sebaik itu." Tukas Naruto dengan nada bosan, masih berdiri di hadapan Hinata dan menunggu Hinata untuk keluar dari mobil.
"Isshhh!" Gerutu Naruto karena Hinata benar-benar tidak ingin keluar dari mobilnya sebelum Naruto masuk ke kelas terlebih dahulu. Naruto menarik tangan Hinata agak kuat, membuat gadis itu agak kewalahan dan akhirnya keluar dari mobil Naruto.
"Berhentilah bertingkah konyol." Gumam Naruto pelan. Naruto menundukkan kepalanya, mengambil tas Hinata yang masih berada di dalam mobil dan menyerahkannya pada Hinata.
"Berhentilah memikirkan gengsimu. Kau tidak mau telat masuk ke kelas kan?" Tanya Naruto yang berhasil membuat Hinata akhirnya berjalan.
"Hey…" Panggil Hinata pelan. Tidak yakin Hinata sedang berbicara padanya, Naruto hanya menatap Hinata dari belakang.
"Dureeenn, aku sedang berbicara denganmu." Geram Hinata sambil memanggil Naruto dengan sebutan 'duren' karena bentuk rambutnya Naruto mirip duren.
"Namaku bukan 'hey' atau 'duren' " Jawab Naruto santai. Hinata tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan kata-katanya.
"Apa kau tidak punya rencana untuk membatalkan pertunangan ini?" Tanya Hinata. Naruto mengedipkan matanya berkali dengan santai dan menggeleng.
"Kenapa aku harus memikirkan rencana untuk membatalkan pertunangan?" Naruto balik bertanya dengan polosnya.
"Kau mau menikah karena perjodohan?"
"Aku tidak peduli, selama yang kunikahi adalah wanita, aku oke saja." Naruto mengangkat pundaknya membuat Hinata menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ada dipikiran Naruto.
"Hmm? Ada apa di sana?" Naruto melihat kerumunan orang di halaman sekolah. Karena penasaran Hinata dan Naruto berjalan berdampingan ke sumber keramaian tanpa mereka sadari.
Mereka menembus keramaian dan melihat Sakura yang tengah menundukkan wajahnya, serta Ino dan Sai yang juga datang di saat yang bersamaan dengan mereka.
.
.
.
"KAU GILA YA!?" Teriak Sakura sambil menghempaskan tangan Sasuke yang dari tadi menggenggamnya dan menariknya hingga ke ruangan OSIS. Sasuke mengunci pintu dengan rapat dan membalikkan tubuhnya untuk menatap Sakura.
"Kau seharusnya berterima kasih karena aku menyelamatkanmu, benarkan?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Apa? Kau baru saja membuatku mempunyai haters! Tidak hanya segudang, tapi satu sekolah!" Sakura mendesah frustasi yang tanpa sadar menggigiti bibir bawahnya. Sasuke melangkah maju, membuat Sakura mengerutkan keningnya dan melangkah mundur.
Sakura berhenti ketika ia sadar ia tidak bisa mundur lagi. Punggungnya menabrak pinggiran meja, Sasuke menyeringai pelan meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja di samping tubuh Sakura.
"You're damn sexy, baby…" Ucap Sasuke dengan suara rendah yang menggoda. Tapi sayangnya Sakura tidak punya waktu terpesona oleh suara Sasuke disaat serius seperti ini. Sakura mendorong tubuh Sasuke menjauh dan mendelik padanya.
"Bisakah kau tidak bermain-main disaat seperti ini?" Sakura menahan suaranya agar tidak berteriak kencang. Sasuke tertawa pelan. Melihat Sakura yang frustasi justru membuat dia tergelitik.
"Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan? Mereka memotret kita saat pulang kemarin. Jadi haruskah kukatakan kalau kita tinggal serumah? Tentu tidak, kan?" Sasuke melonggarkan simpul dasinya, melepaskan kacamatanya dan memainkannya ditangannya.
"Kau kan bisa bilang kalau yang difoto itu bukan kau? Atau kau bisa bilang kalau kita tidak sengaja bertemu di jalan?" Protes Sakura.
"Pffft, mereka tidak akan percaya. Hanya aku yang memiliki wajah setampan itu. Lagipula, apa itu, tidak sengaja bertemu di jalan? Itu alasan yang sangat klise. Drama tahun berapa yang kau tonton? Seharusnya kau menonton film-film yang lebih dewasa, seperti—"
"Ugh, berhenti berpikiran jorok!" Tukas Sakura saat ia melihat seringai di wajah Sasuke yang sangat khas saat ia memikir sesuatu yang menggelikan.
Sasuke kembali mendekati Sakura, memanjangkan kedua lengannya di pundak Sakura dengan malas lalu menatap lurus ke dalam mata Sakura.
"Tenanglah, aku akan menjagamu. I promise…" Ucap Sasuke setengah berbisik yang berhasil membuat Sakura agak tenang.
.
.
.
"Jadi—" Hinata memandang Sakura dan Ino secara bergantian yang sengaja menghindari tatapannya sambil menyurup minuman dinginnya, "—penjelasan apa yang kalian siapkan untukku?"
Sakura dan Ino saling berpandangan, menunggu satu sama lain siapa yang akan menjelaskan lebih dulu. Sakura berpura-pura tidak tau dan menikmati es krim cokelatnya yang hampir meleleh. Ino menghela nafas pelan, menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Baiklah, akan kukatakan. Aku dan Sai… Kami sekarang berpacaran. Tapi jangan tanya bagaimana, aku sendiri juga cukup bingung." Ucap Ino dengan suara yang sangat pelan. Hinata melompat kecil ditempat duduknya.
"Selamat! Aku tidak menyangka kalau kalian bisa bersama. Aku masih ingat saat Sakura berharap hubungan kalian membaik, tapi ini sangat baik! Aku tidak perlu khawatir ada pemuda yang mau bersama dengan gadis yang super galak sepertimu." Hinata terkekeh pelan dan menepuk pundak Ino beberapa kali.
"Dan kau Haruno Sakura? Apa penjelasanmu untukku?" Hinata memicingkan matanya, masih meletakkan telapak tangannya di pundak Ino. Sakura menggerak-gerakkan bola matanya dengan gelisah. Ia sendiri tidak tau apa yang sedang terjadi, semuanya terjadi dengan sangat tiba-tiba.
"Jangan menanyaiku terus, aku juga tidak mengerti. Semuanya terjadi begitu saja." Erang Sakura geram, ia menusuk-nusukkan sendoknya ke dalam gelas es dihadapannya.
"Ah, pantas saja dia selalu mengomel kalau aku memuja Sasuke. Dia cemburu karena aku memuja pacarnya. Seharusnya kau ceritakan pada kami sejak awal, jadi kami akan berhenti memuja pacarmu itu." Ejek Ino yang sudah lupa bahwa beberapa menit yang lalu ia juga menjadi 'tersangka' yang dimintai penjelasan.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengan Sasuke. Aku tidak mau melihat Sakura cemburu padaku." Timpal Hinata bersemangat. Sakura menghembuskan nafasnya dan menggelengkan kepalanya.
"Tunggu dulu! Jadi hanya aku saja yang tidak punya pacar?" Protes Hinata begitu menyadari sekarang kedua temannya tidak lagi jomblo.
"Kau bisa pacaran dengan Naruto kalau kau mau!" Usul Ino. Sakura mendelik, tertarik dengan topik pembicaraan yang sekarang tidak lagi mengarah padanya dan Sasuke.
"Apaaa!?" Teriak Hinata.
"Apa kau tidak lihat reaksinya sewaktu Sai menjelek-jelekkan dia? Naruto melirik ke arahmu!" Lanjut Ino hampir-hampir berteriak. Sakura bertanya tentang kebenarannya pada Hinata karena dia langsung ditarik paksa oleh Sasuke dan tidak melihat kejadian yang dimaksudku Ino. Hinata melipat kedua tangannya, memberengut kesal dan melakukan aksi tutup mulut.
Ino dan Sakura tertawa bersamaan, menepukkan kedua telapak tangan mereka diudara begitu mereka berhasil membuat Hinata kesal.
"Kupikir siapa, ternyata kau. Hey ladies." Sapa Kabuto sambil melambaikan tangannya dengan santai.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Sakura kaget karena tidak pernah menyangka ia akan bertemu dengan Kabuto selain menungguinya di depan sekolah. Kabuto memutar bola matanya.
"Pfft, apa yang bisa kulakukan di toko es krim? Membeli pizza?" Tanya Kabuto dengan nada mengejek.
"Hey Kabuto, apa yang kau lakukan?" Kidoumaru menghampiri Kabuto setelah ia mendapatkan es krim yang mereka inginkan. Kidoumaru menatap ketiga orang gadis yang balas menatapnya dan tersenyum lebar.
"Kau tidak pernah bilang kalau kau mengenal gadis secantik mereka?" Tanya Kidoumaru pada Kabuto meski matanya terus terarah pada Sakura.
"Jangan macam-macam, salah satu dari mereka milik Sasuke." Kabuto memperingati.
"Huh? benarkah? Aku tidak pernah menyangka dia akan bisa melirik gadis lain selain—hmpft!" Kabuto membekap mulut Kidoumaru yang mengayunkan tangannya ke udara.
"Um, sampai jumpa lain kali. Ayo kita pergi." Kabuto menarik Kidoumaru keluar dari toko secepat mungkin diikuti pandangan dari Sakura.
"Siapa dia?" Bisik Ino.
"Hm, hanya seorang teman. Jangan dipedulikan." Jawab Sakura cuek. Hp Hinata berdering cukup nyaring, membuat perhatian kedua sahabatnya langsung teralih padanya. Hinata menatapi nomor tidak dikenal yang masuk ke hpnya sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? Apa!? Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri dan kau juga tidak perlu mengantarku ke sekolah lagi." Ucap Hinata ketus lalu memutuskan saluran telpon.
"Siapa?"
"Hmmm, supirku." Jawab Hinata setelah ia berpikir selama beberapa detik. Hinata melirik jam tangannya, berpamitan pada sahabatnya karena dia harus segera pulang. Tidak lama setelah Hinata pulang, Ino juga berpamitan karena Sai akan datang ke rumahnya sebentar lagi.
Sakura mendesah pelan. Sekarang hanya tinggal dia seorang diri dan dia merasa bosan. Sakura menghabiskan es krim nya dengan cepat, ingin segera pulang dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
"Keberatan kalau aku menemanimu?" Tanya sebuah suara yang membuat Sakura terlonjak kaget karena terlalu tiba-tiba. Sakura mendongakkan wajahnya, melihat Kabuto duduk dihadapannya di tempat Hinata duduk sebelumnya. Sakura memiringkan kepalanya dengan sebelah alisnya terangkat, memandang Kabuto dengan curiga.
"Kenapa kau kembali lagi?"
"Aku melihat teman-temanmu keluar. Jadi kupikir lebih baik aku menemanimu di sini."
Sakura mengangkat pundaknya, tidak terlalu peduli toh sebentar lagi dia juga akan pulang.
Kabuto menumpukan tangannya diatas meja dan menopang dagunya sambil terus memperhatikan Sakura tanpa berkata apa-apa. Sakura yang semakin merasa risih atas pandangan yang diberikan Kabuto mau tidak mau menatap pemuda itu.
"Apa?" Tanya Sakura kesal.
"Bukankah kau bilang kau dan Sasuke tidak berpacaran? Bagaimana bisa tiba-tiba kalian sudah berpacaran selama setahun, huh?" Tanya Kabuto penasaran.
"Bagaimana kau bisa tau!?" Tanya Sakura kaget, mengalihkan seluruh perhatiannya pada Kabuto. Kabuto menyeringai lemah.
"Kau tau, Konoha Boys juga agak terkenal di Oro High School dan berita itu sudah tersebar sejak jam pelajaran pertama dari mulut ke mulut."
Sakura bergidik ngeri, mungkin dia salah jika dia mengatakan dia akan memiliki satu sekolah penuh berisi anti fans karena pada kenyataannya anti fans yang akan dia miliki jauh lebih banyak dari perkiraannya.
"Uh, kurasa aku harus pulang sekarang.." Ucap Sakura akhirnya setelah ia menenangkan dirinya sendiri dan menyakinkan bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya. Kabuto ikut berdiri dan berdiri menghalangi jalan Sakura.
"Aku rasa aku tidak bisa menemuimu lagi mulai sekarang. Aku tau bagaimana protektifnya Sasuke, jadi dia pasti tidak akan membiarkan kita bertemu lagi." Kata Kabuto pelan. Sakura mengangguk pelan, mengiyakan. Meski pun ia dan Sasuke tidak pacaran ataupun memiliki hubungan apapun, tapi ia masih ingat dengan peringatan Sasuke untuk tidak bertemu dengan Kabuto lagi.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" Ucap Kabuto lagi. Dengan ragu-ragu Sakura mengangguk. Kabuto tersenyum manis, maju satu langkah dan merangkul Sakura dalam dekapannya.
"Aku pasti akan merindukanmu.."Bisik Kabuto agak keras. Kabuto melepaskan pelukannya. Mengantar Sakura sampai ke depan pintu toko dan melihat Sakura melaju pergi dengan pasti. Kabuto menyeringai begitu melihat Sakura tak terlihat lagi di ujung jalan.
Kabuto mengeluarkan tangannya yang dari tadi ia masukkan ke dalam saku celana bersamaan dengan hp yang ia genggam. Kabuto memutar hp itu dengan santai di tangannya dan bersiul pelan lalu berjalan ke arah tempat teman-temannya berkumpul.
"Ke mana saja kau?" Tanya Sakon yang memandang Kabuto dengan curiga. Jiroubou dan Kimimaro yang duduk disampingnya ikut menoleh ke arah Kabuto sementara Mizuki dan Kidoumaru asyik berebut es krim dan tidak mempedulikan kedatangan Kabuto.
"Kurasa keahlianku belum menghilang sedikit pun." Cetus Kabuto masih terus menatap hp yang ada ditangannya dan duduk dengan santai di samping Kidoumaru.
"Kau mencuri hp siapa?" Jiroubou mendekati Kabuto dan memukul kepalanya.
"Ouch! Aku hanya butuh hp ini untuk memancing Sasuke." Kabuto mengelus puncak kepalanya yang berdenyut pelan.
"Sasuke?" Ucap mereka secara bersamaan yang ditanggapi dengan anggukan polos dari Kabuto.
.
.
.
Sakura membereskan buku-buku pelajarannya setelah Asuma-sensei selesai memberikan tugas dan keluar dari kelas setelah bel pulang berbunyi. Ino berlari kecil menghampiri Sakura dan berjongkok di depan mejanya, meletakkan kedua tangannya ditepi meja Sakura.
"Sakura, ayo kita pergi nonton."Ajak Ino.
"Boleh." Jawab Sakura tanpa bertanya lebih lanjut. Ino tersenyum lebar dan memeluk Sakura dengan cepat membuat Sakura hampir tercekik. Sakura memperhatikan Ino yang kembali berlari ke mejanya dan memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Sai mengatakan sesuatu pada Ino yang dijawab dengan disertai senyuman. Sakura tersenyum kecil pada dirinya sediri.
Benar-benar keajaiban, pikirnya. Siapa yang menyangka jika akhirnya Sai dan Ino berakhir sebagai sepasang kekasih? Hanya dengan berharap mereka berhenti bertengkar saja rasanya sudah terlalu sulit bagi Sakura, tapi sekarang mereka justru menjadi bagian satu sama lain.
Disaat Sakura selesai memasukkan barang-barangnya ketika terdengar suara riuh dari teman-teman sekelasnya. Sakura menemukan sumber masalah yang membuat keributan tersebut. Berdiri di depan kelasnya, tersenyum manis pada Sakura dan melambaikan tangannya dengan pelan. Sakura memutar bola matanya. Bagaimana bisa ia lupa kalau sekarang ia juga punya 'kekasih'?
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sakura berbisik pelan begitu dia menghampiri Sasuke karena tidak ingin ada orang lain yang mendengar nada ketus dalam suaranya.
"Tentu saja untuk menemuimu, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?" Sasuke balik bertanya yang semakin membuat Sakura kesal.
"Aku tidak akan pulang bersama denganmu hari ini. Aku dan teman-temanku akan pergi nonton."
"Ino tidak mengatakan padamu?"
"Mengatakan apa?"
"Aku lupa mengatakan kalau Sasuke juga akan ikut." Ino tiba-tiba saja muncul di belakang Sakura.
"Apa? Kenapa tidak kita bertiga saja?" Protes Sakura yang merasa tertipu. Entah bagaimana ia yakin Ino sengaja tidak mengatakan hal itu tadi, bukannya lupa.
"Tentu saja karena Ino ingin bersama denganku, Ouch!" Ringis Sai setelah Ino memukul kepalanya. Sai memelototi Ino segera setelah Ino memukul kepalanya.
"Kurasa sebaiknya aku tidak jadi pergi saja." Gumam Sakura ragu.
"Tidak bisa, kita juga harus berkencan kan?" Sasuke tersenyum semanis mungkin, menggenggam tangan Sakura meskipun Sakura sudah mencoba untuk melepaskannya.
Masih sambil bergandengan tangan, kedua pasangan itu keluar dari kelas dan menuju gerbang sekolah. Shikamaru melambaikan tangannya dengan malas ke arah mereka. Neji, Naruto dan Shion yang juga berdiri di dekat Shikamaru menoleh ke arah lambaian Shikamaru.
"Aku agak tidak terbiasa melihat ada dua pasangan di kelompok kita." Naruto terkekeh pelan sambil menutupi mulutnya.
"Tapi aku sudah terbiasa melihatmu berganti pasangan setiap satu hari sekali." Sai menyeringai puas setelah ia berhasil membuat wajah Naruto memberengut.
"Kalian mau ikut kami?" Ajak Sasuke pada ketiga anggota Konoha Boys lainnya.
"Kalian mau berkencan dan menjadikan kami sebagai pengganggu?" Gerutu Shikamaru.
"Kau juga bisa mengajak gadismu." Usul Sai yang melirik Temari yang sedang berjalan mendekati gerbang.
"Ah, benar juga!" Ucap Shikamaru dan langsung menghampiri Temari lalu memberikan tanda 'oke' setelah berbicara sebentar dengan Temari.
"Jadi?" Sai melihat ke arah Neji dan Naruto yang belum memutuskan.
"Kurasa aku juga akan ikut." Naruto mengangkat bahunya.
"Shion-san, ikutlah dengan kami." Ajak Neji pada Shion yang berdiri disampingnya. Semua pasang mata yang ada di sana menatap ke arah Shion, membuatnya jadi agak gugup.
"Hinata!" Teriak Ino pada Hinata yang baru menampakkan dirinya. Sai menggelengkan kepalanya melihat Ino yang berteriak kencang.
.
.
.
Konoha Boys dan kelima gadis itu masuk ke dalam ruangan bioskop yang sudah Sai booking kemarin. Sai langsung menarik tangan Ino agar duduk di kursi deretan terdepan, Shikamaru dan Temari duduk berjarak satu deret ke samping dari tempat Sai duduk. Sakura melangkah lebih dulu, tidak mempedulikan Sasuke yang masih berjalan di belakangnya.
Sakura menghampiri Hinata yang sudah duduk di belakang Ino tapi dengan cepat Sasuke menarik tangan Sakura dan memaksanya duduk di deretan paling belakang. Sakura mengernyit pada Sasuke.
"Apa? Kau mau meninggalkan kekasihmu dan duduk dengan Hinata? Benar-benar pacar yang baik." Ejek Sasuke. Sakura melihat kedua tangannya, menghempaskan dirinya dengan malas. Sasuke melepaskan kacamata yang ia pakai, meletakkannya diatas meja dan duduk disamping Sakura dengan santai.
Neji dan Naruto saling bertatapan karena hanya merekalah yang belum duduk. "Aku dan Shion akan duduk di belakang Shikamaru." Ucap Neji duluan. Neji menoleh ke arah Shion, mengisyaratkan gadis itu untuk mengikutinya dan duduk di tempat yang ia sebutkan tadi. Naruto mendengus pelan, dengan kesal duduk di samping Hinata. Hinata menatapnya, mengedipkan matanya beberapa kali.
"Kenapa kau duduk disampingku?"
"Lalu apa kita harus duduk sendiri-sendiri sementara mereka semua berpasangan?" Tanya Naruto yang masih merasa kesal.
.
.
.
Tidak lama setelah mereka menempatkan diri di posisi masing-masing, lampu bioskop mulai meredup dan mulai menayangkan film yang mereka tonton.
Sai terus memandangi Ino setelah hampir 30 menit film itu dimulai. "Apa?" Tanya Ino bingung.
"Seharusnya kau takut, berteriak dan memelukku!" Omel Sai akhirnya.
"Kenapa aku harus takut dan berteriak kalau aku tau mereka itu hanya orang yang didandani seperti hantu?" Ino menunjukkan ke arah layar yang menayangkan film horor.
"Dan kenapa juga aku harus memelukmu?"
Sai memutar bola matanya, berpangku tangan dan menatap layar dengan wajah memberengut, "Benar-benar tidak romantis." Gerutu Sai cukup keras untuk mampu di dengar oleh Ino.
.
.
.
Neji masih terus menonton film tersebut tanpa sedikitpun merasa tertarik. Dia tidak terlalu suka pada film horor, menurutnya itu membosankan. Tapi karena ini kali pertamanya mereka nonton bersama sejak Sai dan Sasuke mempunyai seorang pacar, Neji merelakan waktu berharganya yang bisa ia habiskan dengan membaca buku di rumah hanya untuk teman-temannya.
Neji menoleh ke arah Shion, ingin melihat reaksi gadis itu saat melihat film horor. Tapi Shion justru memejamkan matanya. Neji agak mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Shion dengan lebih jelas lagi. Kepala Shion bergerak-gerak ke kiri dan kanan dengan lemah dan tak karuan. Sebelum kepala Shion sempat membentur sandaran kursi, Neji merengkuh wajah Shion, menyandarkannya di pundaknya sendiri.
.
.
.
Shikamaru mengambil sekotak popcorn ditangan Temari dan memindahkannya ke tangannya sendiri. Shikamaru mengambil beberapa butir popcorn, menyuapkannya kepada Temari yang masih terlihat fokus pada film. Shikamaru tertawa pelan, menyuapkan popcorn ke dalam mulutnya sendiri. Shikamaru kembali memperhatikan Temari, melihat mulut gadis itu tak lagi sedang mengunyah, Shikamaru kembali menyuapkan popcorn padanya.
"Aku bisa makan sendiri. Kau seharusnya memperhatikan film nya." Ucap Temari yang menoleh sekilas ke arah Shikamaru.
"Tidak, aku hanya ingin memperhatikanmu saja." Shikamaru tersenyum lebar hingga matanya terlihat segaris. Melihat senyum manis Shikamaru, Temari tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum juga. Temari mengambil segelas minuman soda dan menyodorkannya ke arah Shikamaru.
.
.
.
"Ya Tuhan!" Hinata memekik tertahan begitu makhluk yang menyeramkan terlihat dilayar. Ia akan berteriak keras kalau saja ruangan mereka tidak terlalu sunyi. Hinata jelas tau kalau Ino dan Sakura tidak mungkin ketakutan hanya dengan menonton film horor seperti ini, sementara kedua gadis lainnya—entahlah—dia tidak begitu mengenal mereka. Jadi Hinata tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang berteriak histeris.
Hinata menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil sesekali mengintip untuk melihat apakah adegan yang mengerikan telah berlalu atau belum. Naruto beranjak sedikit dari tempat duduknya, semakin mendekatkan dirinya dengan Hinata. Naruto agak memutar tubuhnya hingga ia hampir menutupi Hinata menggunakan punggungnya. Hinata terkesiap pelan dan mendongak pada Naruto.
"Kau boleh bersembunyi di punggungku kalau kau takut." Ucap Naruto dengan nada datar meskipun sebenarnya ia ingin tertawa karena melihat wajah Hinata yang justru terlihat lucu.
"Ti-tidak perlu.." Merasa canggung pada Naruto tiba-tiba saja yang bersikap baik, Hinata kembali menatap lurus ke depan tepat saat seorang wanita bersimbah darah muncul di layar.
"Astaga!" Tanpa sadar Hinata membenamkan wajahnya di balik punggung Naruto.
"Wanita mengerikan itu sudah tidak ada lagi.." Ucap Naruto yang masih mencoba untuk tidak tertawa.
"B-benarkah?" Hinata bergerak dengan agak pelan, masih merasa takut kalau saja ada adegan mengerikan lainnya.
"KYAAAA! Kau membohongiku." Teriak Hinata lagi saat ia melihat ternyata wanita mengerikan itu masih muncul dilayar. Hinata membenamkan wajahnya di dada Naruto, mengenggam blazer Naruto dengan erat. Naruto tertawa pelan, tidak ingin menjadi pusat perhatian.
"hehehe, maaf.." Ucap Naruto pelan. Naruto merangkulkan lengannya di pundak Hinata dan menepuk-nepuknya dengan pelan untuk menenangkan Hinata.
.
.
.
"Sakura…" Panggil Sasuke dengan pelan.
"Hmm?" Sakura hanya bergumam pelan, masih belum melepaskan pandangannya dari layar.
"Sakura…" Panggil Sasuke lagi.
"Kenapa?" Tanya Sakura yang mulai kesal. Sasuke menggerakkan tangannya, menggenggam tangan Sakura yang sedang tidak melakukan apapun dengan erat.
"Hey—" Sakura menoleh untuk mengomeli Sasuke, tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya. Sasuke mengecup bibir Sakura dengan cepat selama satu detik. Kedua mata Sakura membulat. Sakura menutupi mulutnya sendiri menggunakan punggung tangannya yang lain.
"Itu adalah hukuman karena kau tidak bersikap manis. Tidak seharusnya kau mengabaikanku." Sasuke tersenyum polos, dengan pelan meremas tangan Sakura yang masih belum bisa berhenti memelototinya.
Sakura memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan saat ia merasa wajahnya memanas karena tatapan Sasuke yang lembut. Akhir-akhirnya Sakura sering salah tingkah karena perlakuan Sasuke padanya, dan karena Sakura sering memaki dirinya sendiri karena hal itu.
Sadarlah, dia hanya sedang mempermainkanku, batin Sakura meski hati kecilnya ingin mempercayai bahwa sikap Sasuke padanya tulus.
Sasuke mengambil hp nya yang berbunyi saat pesan masuk. Kedua alis Sasuke saling bertautan. Ia membaca pesan singkat itu berkali-kali hingga ia yakin benar ia tidak salah membacanya. Sasuke mendesah kasar dan mengacak rambut bagian belakangnya.
Lampu kembali menyala dan menerangi ruangan setelah film yang mereka tonton selesai.
"Kau masih bertemu dengan Yakushi Kabuto?" Tanya Sasuke tiba-tiba saat Sakura hendak bangkit. Sakura terdiam, bertanya-tanya mengapa Sasuke bertanya seperti itu. Mungkinkah Sasuke memang tau atau sekedar mencari informasi?
"Apa saja yang kalian lakukan hingga hp mu bisa ada ditempat dia?" Tuntut Sasuke kali ini dengan nada suara yang mengintimidasi. Sai dan yang lainnya memperhatikan mereka dari tempat duduk mereka, tidak tau apa yang terjadi.
"Apa kau tidak punya mulut untuk menjawab pertanyaanku, Haruno Sakura?" Tegas Sasuke sekali lagi, sengaja tidak meninggikan suaranya. Yang pertama, dia tidak ingin membuat Sakura takut. Dan yang kedua, dia tidak ingin teman-teman mereka menontonnya.
"Berhentilah marah-marah padaku. Aku memang bertemu dengan Kabuto kemarin, tapi bukan karena disengaja. Dan aku tidak tau kenapa hp ku bisa ada padanya karena yang kutau hp ku sudah menghilang begitu saja kemarin." Balas Sakura sengit. Sasuke mengatur nafasnya yang mulai memburu. Ia harus menenangkan dirinya sekarang juga kalau dia tidak ingin meledak.
"Dobe, tolong antar dia pulang." Pinta Sasuke yang melewati Naruto langsung ke pintu keluar.
.
.
.
Hai! Hp Sakura ada padaku, dia meninggalkannya kemarin. Bisa datang dan mengembalikan padanya? Kau tau harus ke mana untuk menemuiku – Kabuto
Sasuke menghentikan langkahnya di sebuah tangga yang menuju ke ruang bawah tanah. Ia menggerakkan kakinya dengan ragu, kakinya terasa berat untuk digerakkan selama sesaat. Sasuke menelan air liur nya tersumbat ditenggorokan dan memantapkan langkahnya.
Tanpa perlu mengetuknya, Sasuke mendobrak masuk ke dalam ruangan bawah tanah tersebut. Kabuto yang tengah duduk di satu-satunya sofa di ruangan itu mendongak, memang tidak mengharapkan Sasuke akan masuk dengan mengetuk lebih dulu.
"Berikan hp Sakura padaku." Ucap Sasuke dingin. Kabuto berdiri berhadapan dengan Sasuke, menyerahkan hp Sakura pada Sasuke dengan sukarela.
"Dan jangan temui dia lagi, sengaja ataupun tidak sengaja." Tukas Sasuke dengan nada memerintah. Sasuke memutar tubuhnya, bersiap-siap untuk meninggalkan tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Kenapa?" Tanya Kabuto. Sasuke menghentikan langkahnya, menanti kata-kata selanjutnya dari Kabuto.
"Kenapa kau masih membenciku padahal kau sudah menyukai gadis lain?" Tanya Kabuto lagi masih terpaku di tempatnya. Sasuke mengatupkan rahangnya dengan erat, menghentikan dirinya sendiri untuk menjawab pertanyaa Kabuto dengan kasar.
"Sejujurnya, harus kuakui, aku lebih setuju jika kau bersama dengan Sakura." Timpal Kabuto.
"Shut up." Kata-kata Sasuke meluncur dari sela-sela giginya yang terkatup rapat.
"Benar.. Ayo kita selesaikan semua kesalahpahaman kita." Kabuto melangkah maju, menyentuh pundak Sasuke dengan lembut. Sasuke memutar tubuhnya, melancarkan tinjuan ke pipi kiri Kabuto yang terpental ke lantai.
"Berhentilah omong kosong! Tidak ada yang harus di selesaikan, semuanya sudah berakhir sejak dua tahun lalu!" Teriak Sasuke hingga membuat nafasnya tersengal-sengal. Kabuto berdiri meski agak goyah, ia menyeka ujung bibirnya yang berdarah.
"Kau yang tak pernah mencoba untuk mendengarkan penjelasanku sekalipun! Aku tidak pernah menghalangi kalian berdua!" Teriak Kabuto begitu Sasuke kembali melangkah keluar ruangan.
"Hari itu, aku juga baru diberitaukan tentang kepergiannya ke Kiri. Aku mengejarnya ke bandara, aku mencoba untuk menahannya tapi kau datang disaat yang bersamaan dan justru mengira aku sedang mengantarnya pergi!" Teriak Kabuto di tempatnya berdiri sekarang. Sasuke memperlambat langkahnya sebelum akhirnya ia kembali berhenti.
"Apa yang membuatmu berpikir aku tega untuk menghancurkan kebahagiaan kalian? Dan asal kau tau Uchiha Sasuke, kata-katanya waktu itu hanyalah kebohongan belaka. Aku tau itu hanyalah alasannya agar kau melepaskan dia, membiarkan dia pergi ke Kiri untuk menemui orang yang benar-benar ia cintai. Sadarlah Uchiha Sasuke, bagaimanapun aku menyayanginya, aku harus mengatakan padamu untuk melupakan gadis seperti dia. Gadis yang pergi dan tidak pernah memberikan kabar apapun pada keluarganya tidak pantas untuk membuatmu menderita seperti ini. Jadi kumohon, lupakan dia… Lupakan adikku yang tak akan pernah membalas perasaanmu." Kabuto berbisik pelan diakhir kalimatnya.
Sasuke menutup matanya, menahan semua rasa perih dihatinya.
To Be Continue
A/N: Author minta maaf kalo chap sebelumnya tidak memuaskan bagi kalian T^T. Untuk masalah nama adik Ino, Author tidak bisa menemukan nama yg cocok untuk adik Ino. Apakah kalian punya ide untuk namanya? Oke sekian untuk chap ini, sekali lagi author minta maaf kepada kalian jika kurang memuaskan. Thank's yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~
Thanks to:
luxianapmega, mantika mochi, undhott, elzakiyyah, Rastafaras uchiha, t-chan, UchihaSasu, zarachan, YENCHERRY, syahidah973, Uchiha Pioo, Kirara967, AsahinaUchiHaruno, Arashasha, UzumakiIsana, Kiki Kim, hanazono yuri, respitasari, Jamurlumutan462, williewillydoo, Nakata Airi
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
