The Pervert Glasses
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Friendship
WARNING!
TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)
Shion menggeliat pelan dalam tidurnya. Masih setengah sadar, ia membolak-balikkan tubuhnya diatas tempat tidur. Gadis itupun membuka matanya lebar-lebar, lalu melihat ke sekeliling kamar.
"Sejak kapan aku ada di kamar?" Tanya Shion pada dirinya sendiri karena yang terakhir kali ia ingat ia sedang menonton bersama teman-teman Neji dan duduk dengan tidak nyaman di sebelah tuannya.
"Shion! Kau mau tidur sampai kapan? Kau masih harus bekerja!" Teriak seorang wanita dari luar kamarnya yang ia asumsikan sebagai rekan kerjanya yang paling menyebalkan. Ia pun beranjak turun dari tempat tidur, mengganti seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya dengan seragam pelayan.
Shion berlari keluar dari kamarnya masih sambil membenarkan kuncir rambutnya yang berantakan.
"Karena kau sudah bersantai seharian, maka kau yang harus membersihkan seluruh ruang tamu." Perintah wanita menyebalkan yang tadi meneriakinya. Shion tidak memprotes, ia tidak ingin mencari masalah dan mengharuskan dia keluar dari pekerjaannya saat ini. Karena sejauh yang ia ingat, ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa ia dapatkan. Ia bisa mendapatkan tempat tinggal dan biaya sekolah diluar uang gajinya, jadi kenapa dia harus mengeluh jika bekerja sedikit lebih banyak dari pelayan lainnya?
Shion mengepel ruang tamu untuk ketiga kalinya karena menurut rekan kerjanya apa yang ia lakukan belum cukup bersih. Shion mendesah pelan. Ia bukannya ingin mengeluh, tapi dia sudah membersihkan lukisan yang sama selama 5 kali, belum lagi jendela-jendela dan perabotan lainnya. Dan ia belum memakan makan malamnya sama sekali, jadi sekarang dia agak kehilangan tenaganya jika masih harus mengepel berkali-kali.
.
.
.
Neji duduk di ruang makan yang luas. Berbagai macam makanan sampingan disajikan dengan rapi. Sementara ia menikmati makan malamnya seorang diri, para pelayan lainnya berbaris tenang dan menungguinya hingga ia selesai makan—sesuatu yang memang selalu terjadi saat makan. Awalnya Neji agak merasa risih, tapi setelah hampir belasan tahun ia mengalaminya, sekarang ia sudah merasa biasa saja.
Neji menggerakkan sumpitnya dan mengambil sayuran yang letakkan tidak terlalu jauh dari mangkuk nasinya. ia melirik sekilas ke arah para pelayannya, tapi ia tidak melihat sosok Shion. Pemuda itu pun bertanya-tanya, mungkinkah Shion masih tertidur?
"Di mana Shion?" Tanyanya yang masih memfokuskan diri pada santapan malamnya. Para pelayan wanita saling melirik satu sama lain, merasa takut untuk mengatakan pada tuan mudanya. Mereka takut kalau Neji akan tau bahwa mereka sengaja mengerjai Shion karena Neji selalu bersikap baik padanya.
Neji menghentikan gerakan tangannya yang masih memegang sumpit. Ia melirik pelayannya satu per satu dan ia tau ada sesuatu yang tidak beres. Masih tidak mendapat jawaban dari para pelayannya, dia pun mendorong mundur kursi yang dia duduki dan keluar dari ruang makan, membuat para pelayannya semakin panik.
Neji melihat satu per satu ruangan yang ada dilantai satu rumahnya hingga ia akhirnya menemukan Shion berada di ruang tamu. Gadis itu terlihat sangat lelah, tubuhnya penuh dengan keringat.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Neji setelah ia berdiri sangat dekat di samping Shion. Ia tidak ingat lagi untuk menjaga jarak karena ia merasa sangat kesal melihat Shion yang sama sekali tidak bisa melawan pelayan lain saat mereka jelas-jelas sedang mengerjainya.
Shion menelan air liurnya, mundur beberapa langkah sebelum menjawab pertanyaan Tuannya. "Saya sedang membersihkan ruang tamu."
"Tidak ada seorang pelayan pun yang boleh absen saat aku sedang makan." Tukas Neji singkat. Shion menundukkan wajahnya.
"Ikut denganku." Pinta Neji dengan suara datar. Shion berjalan dengan sangat lambat di belakang Neji ke ruang makan. Para pelayan langsung terdiam saat melihat sosok tuan mudanya kembali.
Neji menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Shion dengan tatapan tajam. "Siapa yang menyuruhmu untuk membersihkan ruang tamu?" Tanya Neji. Shion melihat wajah cemas para pelayan dan kembali menundukkan wajahnya. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan sekarang, maka ia memilih untuk tutup mulut. Lebih baik jika Neji memarahinya daripada ia mengatakan yang sebenarnya. Dia tau para pelayan itu pasti akan tambah membencinya jika itu sampai terjadi dan itu berarti hidupnya akan semakin menderita.
Neji mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Shion yang keras kepala. Neji menggerakkan kepalanya dengan pelan, mengisyaratkan para pelayan untuk meninggalkan ruang makan. Shion ikut beranjak dari tempatnya berdiri.
Sebelum Shion sempat melangkah pergi, Neji menahan pergelangan tangan Shion dengan pelan. Detak jantung Shion pun menggila, tubuhnya menegang karena rasa takut yang diikuti dengan berbagai kejadian-kejadian masa lampau yang ikut berkelabat dibenaknya.
Neji melepaskan tangannya setelah ia melihat ekspresi takut di wajah Shion. Ia tidak bermaksud untuk membuat Shion takut, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Shion pergi begitu saja. "Duduklah." Pinta Neji. Shion pun mengikuti perintah tuannya dan duduk dengan tenang di hadapannya.
"Kau sudah makan?" Tanya Neji. Shion menggeleng pelan. Neji pun mendorong semangkuk nasi ke hadapan gadis itu dan mengambilkan beberapa lauk untuk Shion. Shion menatap tuannya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Jangan memaksaku untuk membuatmu makan, Shion-san." Ucap Neji tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk nasinya sendiri. Shion mengambil sumpitnya dengan amat sangat perlahan lalu mulai mengunyah makanannya dengan canggung.
Bagaimana mungkin dia tidak canggung kalau dia sedang makan berdua dengan seorang pemuda yang seharusnya adalah majikannya, yang seharusnya memiliki derajat jauh lebih tinggi darinya? Belum lagi sentuhan Neji masih terasa membekas di pergelangan tangannya yang mau tidak mau harus ia akui terasa hangat. Tidak seperti dalam ingatannya ketika tangan-tangan yang dingin mulai menjamahnya.
.
.
.
Neji menuruni anak tangga satu persatu masih sambil merapikan bentuk dasinya yang tidak mau menurut hari ini. Dengan geram, ia melepaskan simpul dasinya dan hanya menggenggamnya.
Langkahnya langsung terhenti begitu ia melihat Shion lagi-lagi membersihkan ruang tamu seorang diri padahal ia sudah mengenakan seragam sekolah. Neji memandang ke sekeliling ruangan, tidak ada pelayan lainnya padahal ia punya lebih dari cukup pelayan untuk menggantikan pekerjaan Shion sebelum ia ke sekolah.
Dua orang pelayan berjalan masuk ke ruang tamu sambil berbincang dan terlihat sangat santai. Mereka berhenti mengobrol dan membungkukkan badannya begitu melihat Neji kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Mulai hari ini, Shion adalah pelayan pribadiku. Jadi tidak ada yang boleh memerintahkannya kecuali aku." Ucap Neji dengan tegas. Ia mengambil kain lap dari tangan Shion dengan kasar dan menghempaskannya sembarangan lalu menarik gadis itu keluar.
Ebisu—supir pribadi keluarga Hyuuga membukakan pintu begitu melihat tuannya yang telah ia tunggu dari tadi muncul. Neji membiarkan Shion masuk terlebih dulu sebelum ia masuk dan duduk di samping gadis tersebut.
Tanpa berkata apa-apa, Ebisu duduk dibalik kemudi dan mulai mengendara. Sesekali Shion akan melirik ke arah tuannya yang sibuk memakai dasinya kembali. Neji menghela nafas pelan dan berhenti menyimpulkan dasinya.
"Maaf, tadi aku menyentuhmu lagi." Ucap Neji tulus. Kekhawatiran terpancar jelas dari sorot matanya padahal Shion sendiri justru merasa tidak apa-apa.
"Jangan biarkan pelayan lain memerintahkanmu melakukan sesuatu lagi, atau kau akan melihatku memecat mereka." Lanjut Neji.
"Baik, tuan muda." Jawab Shion enggan. Neji kembali menghela nafas, kali ini merasa kesal karena tingkah Shion.
"Bisakah kau sekali saja menyuarakan pendapatmu? Aku menampungmu di tempatku bukan untuk menambah koleksi pelayan yang selalu menuruti kata-kataku." Neji berdecak kesal karena dasinya masih saja berbentuk tak beraturan. Ia heran, padahal ia biasanya bisa merapikan dasinya dalam hitungan detik. Apakah mungkin karena ia sedang sangat kesal saat ini?
"Perlu bantuan, Tu—"
"Jangan memanggilku 'Tuan muda'. Dan yah, aku butuh bantuan." Ucap Neji pasrah. Shion mencondongkan tubuhnya ke arah Neji, menggantikan jari-jari Neji untuk merapikan dasinya.
Dari jarak sedekat itu, Shion bisa mencium aroma parfum yang dikenakan pemuda disampingnya tersebut yang hampir selalu memenuhi ruangan kamarnya saat Shion dimintai tolong untuk membersihkan kamarnya. Tapi aneh, Shion tidak merasa risih, jijik atau apapun itu yang biasa ia rasakan pada laki-laki lain. Mungkinkah karena Neji adalah penyelamatnya?
Di sisi lain, Neji tidak bisa melepaskan pandangannya dari Shion. Tanpa ia sadari, ia menatap gadis itu tanpa berkedip. Ia terlalu mengagumi segalanya yang ada pada Shion. Ia suka ketika gadis itu mengedipkan matanya dengan perlahan saat ia sedang fokus pada sesuatu, membuat bulu matanya yang letik terlihat sangat manis.
Neji mengalihkan pandangannya keluar jendela ketika ia hampir tak bisa lagi mengontrol dirinya untuk tidak menarik Shion ke dalam pelukannya.
"Selesai." Kata Shion cukup pelan.
"O-oh." Jawab Neji singkat. Ia masih mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri sementara gadis yang membuat ia membara justru tidak menyadari apapun.
.
.
.
Flashback
Shion memandang bayangan dirinya sendiri di cermin berukuran besar dan bergerak-gerak gelisah dalam pakaiannya yang super mini. Ia tak habis pikir. Ia tau betapa brengseknya kakak laki-laki yang menjadi keluarga satu-satunya saat ini. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa kakaknya itu akan tega menjual dirinya untuk bekerja di bar hanya karena kakaknya terlilit masalah hutang.
Ini adalah hari ketujuh-nya. Meksi kakaknya meyakinkan dirinya bahwa yang harus ia lakukan hanyalah mengantarkan minuman pada pelanggan dan terkadang mungkin hanya perlu menemani mereka, tetap saja Shion merasa khawatir. Ia tidak pernah berada di tempat-tempat malam yang glamor seperti ini sebelumnya, tapi ia tau tempat ini pasti berbahaya.
Tapi apalagi yang bisa ia lakukan? Shion bertahan dengan susah payah selama 6 hari terakhir. Ia harus mengumpulkan uang, tetap menjaga dirinya dengan baik di tempat ini dan kabur setelah ia punya kesempatan. Tapi Shion selalu bertanya-tanya, kapan kesempatan itu akan datang?
Shion baru saja akan keluar dari tempat yang ia sebut sebagai kamar dan mulai bekerja saat dua orang pria paruh baya menyeruak masuk. Shion membelalakkan matanya dengan panik. Kedua pria itu terus melangkah maju, memojokkan Shion yang tidak punya tempat untuk pergi lagi.
Seorang pria yang agak gemuk melepaskan dasinya, melemparkannya dengan kasar ke sudut ruangan sementara pria lain yang agak jangkung mendorong Shion hingga terbaring diatas tempat tidur kecilnya. Mereka mencengkram tangan Shion dengan erat agar Shion tak lagi meronta sementara tangan mereka yang lainnya sibuk menyentuh Shion.
Shion menjerit, bahkan teriak saat merasakan tangan-tangan yang menjijikkan menyentuh wajah dan lehernya. Shion tak berhenti berteriak meski ia tidak tau apakah akan ada orang yang mendengarkannya karena suara musik dibar yang sangat keras.
Suara berdebam keras terdengar samar-samar ditelinga Shion. Baru saja ia merasakan tangan dingin entah milik pria yang mana menyentuh pahanya dan bersiap untuk menyentuh lebih ke atas, sekarang Shion justru tidak merasakan apapun. Tangannya yang sekarang tidak lagi dicengkram tidak bisa digerakkan karena ia terlalu lemah.
Kedua pelupuk matanya tertutup perlahan saat ia melihat bayangan samar seorang pria yang jauh lebih muda dari kedua pria itu berjalan ke arahnya, meneriakkan sesuatu yang tidak bisa lagi ia dengar.
Hal terakhir yang ia rasakan adalah kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang menggigil saat pria yang mendobrak masuk dan telah membuat dua orang pria paruh baya itu tak sadarkan diri mendekapnya dengan erat.
.
.
.
Shion terbangun dengan tiba-tiba dan langsung terduduk ditempat tidurnya saat kejadian semalam yang terasa bagaikan mimpi buruk benar-benar menghantui alam mimpinya. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin dan menjijikkan itu disekujur tubuhnya yang membuat ia yakin bahwa kejadian semalam benar-benar nyata.
"Kau sudah bangun?" Sebuah suara yang membuat gadis itu terhenyak. Dari arah pintu, seorang pemuda dengan pembawaan diri yang tenang berjalan menghampiri Shion. Barulah disadari gadis itu bahwa sekarang dia berada disebuah kamar yang cukup mewah. Wajah Shion berubah tegang saat Neji menjulurkan tangannya, bermaksud menyentuh kening Shion untuk melihat apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak.
Melihat wajah Shion yang semakin pucat, Neji mengurungkan niatnya. Ia bisa mengerti kalau sekarang gadis itu masih ketakutan.. Neji menatap Shion cukup lama tanpa memecahkan kesunyian mereka sementara Shion sendiri terlalu takut untuk berbicara.
"Hutang kakakmu sudah ku lunasi, atau bisa dibilang aku telah membelimu. Apa kau punya tempat yang bisa kau tuju?" Tanya Neji akhirnya. Shion menggelengkan kepalanya perlahan. Semakin ia melihat ke dalam mata Neji, semakin ia merasa seperti terhipnotis oleh karismanya.
Flashback End
.
.
.
Neji duduk di ruang OSIS Sasuke sambil menunggu anggota Konoha Boys muncul. Neji mengusap keningnya saat ia mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dan menyelamatkan Shion. Bayangan tubuh rapuh Shion yang terlihat semakin lemah masih membuat Neji mengerutkan keningnya.
Ia ingat ketika ia tidak sengaja melewati kamar Shion saat sedang mencari Naruto yang memaksanya untuk datang ke bar itu tapi justru Naruto sendirilah yang menghilang tiba-tiba. Dia mendengar suara teriakan Shion dan tanpa pikir panjang langsung mendobrak masuk. Ia memukuli dua orang pria yang seumuran dengan Ayahnya hingga babak belur dan tak sadarkan diri.
Sampai sekarang ia masih tidak mengerti, kenapa waktu itu dia melakukan hal itu? Dia tidak suka kekerasan, tapi dia justru melakukannya untuk seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal saat itu.
"Neji, ada apa?" Sai berjalan masuk ke ruangan diikuti Sasuke dan Shikamaru. Tak berapa lama kemudian Naruto mengekor dibelakang. Neji meluruskan posisi duduknya, membuang jauh-jauh pikiran tentang Shion untuk sementara waktu.
"Tentang geng Kumo High School." Ujar Neji singkat.
"Kumo-team?" Tanya Shikamaru dan Naruto serentak. Neji mengangguk lemah.
"Kenapa dengan mereka?" Sasuke memicingkan matanya.
"Apakah mereka mengirimkan surat tantangan?" Tebak Sai.
"Tidak, akan lebih baik kalau mereka mengirimkan surat tantangan secara terbuka. Tapi ada beberapa anak buah kita yang melihat Ginkaku dan Kinkaku berkeliaran di sekitar sekolah kita. Kurasa mereka sedang memata-matai kita." Jelas Neji sesingkat mungkin.
"Untuk apa?" Naruto mengedipkan matanya dengan polos.
"Pasti mereka ingin balas dendam karena kita mengambil alih Yoninshu-team minggu lalu."
"Benar, menurutku memang karena itu. Tapi kalian harus ingat bagaimana liciknya mereka. Aku tidak yakin kalau yang mereka incar adalah kita." Ucap Neji lagi.
"Maksudnya, mereka mengincar orang-orang disekitar kita?" Tanya Sai tidak percaya. Neji mengangguk dengan mantap.
"Untuk kasus Sasuke dan kau, kurasa mereka sudah tau siapa yang harus mereka incar. Untuk Shikamaru, jaga Temari dengan baik. Kita tidak tau sudah sampai mana informasi tentang hubungan kalian yang mereka dapatkan."
Shikamaru terlihat was-was dan mengangguk dengan tidak terlalu fokus. Ia terlalu sibuk memikirkan Temari. Ia tidak takut pada Kumo-team, ia juga yakin ia bisa menjaga gadisnya. Tapi dia tidak bisa selalu berada didekat Temari selama 24 jam dan itulah yang membuat dia khawatir.
"Kalau aku?" Tanya Naruto penasaran.
"Kau cukup kendalikan hormon-mu dan berhenti bermain dengan para gadis sebelum kita menyelesaikan mereka. Kita tidak tau ide licik macam apa yang mereka rencanakan, mungkin saja mereka menjebakmu melalui seorang gadis. Dan kami tidak mau mengalami kegagalan konyol." Cerca Sai pada Naruto membuat Sasuke dan Shikamaru tertawa keras.
"Ingatlah pesanku, jaga gadis kalian dengan baik." Neji tersenyum kecil dan keluar dari ruang OSIS.
.
.
.
"Kau tidak perlu menungguku hingga semalam ini." Neji berjalan masuk ke rumahnya. Ia memutuskan untuk membantu perkerjaan Sasuke, kalau tidak ia takut Sasuke justru akan mengamuk karena stres. Makanya sekarang ia pulang cukup larut.
Shion yang awalnya duduk di depan pintu segera berdiri begitu melihat Neji. "Mereka tidak membiarkanku mengerjakan pekerjaan apapun karena takut anda akan memecat mereka. Jadi yang bisa kulakukan hanya menunggu hingga anda pulang." Jelas Shion sambil membersihkan debu dari celananya.
"Istirahat lah." Pinta Neji. Ia berjalan masuk lebih dulu, diikuti Shion di belakangnya.
"Anda ingin saya menyiapkan makanan? Atau air panas untuk mandi?" Tanya Shion yang mengekor di belakang tuannya saat menaiki tangga. Ia tidak bisa melakukan apapun seharian karena Neji tidak ada di rumah. Dan karena sekarang pemuda itu sudah pulang, ia berharap setidaknya ada sesuatu yang bisa ia kerjakan. Ia tidak ingin mendapatkan tempat tinggal gratis dan justru tidak melakukan apa-apa, ia merasa seperti sedang mendapatkan keuntungan.
Langkah Neji terhenti dan ia membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba membuat Shion mau tidak mau juga harus menghentikan langkahnya. Pijakan kaki Shion di anak tangga tidak terlalu mantap. Tubuhnya berayun pelan untuk mencari keseimbangan. Neji menyelipkan tangannya di pinggang gadis itu dan menariknya dengan erat, menjaga tubuh Shion agar tidak terguling jatuh dari tangga. Shion berkedip dengan cepat setelah melihat kedekatan mereka.
"Aku memerintahkanmu untuk beristirahat." Ucap Neji dengan tegas meskipun suaranya lebih terdengar seperti bisikan. Nafas hangatnya menyapu permukaan wajah Shion, membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat—dalam artian yang baik. Shion mengangguk dengan sangat perlahan. Ia masih terpana dengan suara lembut Neji dan tatapannya yang seperti menembus masuk ke setiap sel-sel otaknya.
Neji melepaskan Shion dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Shion meletakkan tangannya di depan dada, merasakan detak jantungnya yang masih belum berdetak normal. Ia berlari ke ruang makan dengan cepat, mencoba mencari air untuk menenangkan dirinya. Ia memandang ke sekeliling dapur. Ia melihat sebuah botol berisi air bening dan segera meneguknya dengan cepat.
.
.
.
Neji keluar dari kamarnya menggunakan pakaian yang santai. Dari ekor matanya, ia melihat Shion terduduk dikoridor. Kepalanya tertunduk sementara punggungnya bersandar di pintu kamarnya sendiri. Neji menghampiri gadis itu dengan panik.
"Shion-san? Kau baik-baik saja?" Neji mengguncang tubuh Shion dengan pelan. Gadis itu mendongakkan wajahnya dan menatap tuannya dengan matanya yang sayu
"Kepalaku sakit sekali. Semuanya terasa berputar-putar…"Oceh Shion tidak jelas. Neji mengendus pelan, mencium aroma alkohol dari nafas Shion.
"Kau minum alkohol?" Tanya Neji tidak percaya. Shion membelalakkan matanya dan menggeleng tanpa henti.
"Aku hanya minum sebotol air putih! Tapi tiba-tiba kepalaku jadi sakit.." Oceh gadis itu lagi. Neji terkekeh pelan dan menepuk puncak kepala Shion dengan lembut. Shion terlihat sangat lucu saat ini. Tidak pernah Neji melihat Shion yang bersikap seperti ini sebelumnya, jadi dia agak menikmatinya.
Neji menggendong Shion ke dalam dekapannya dan membuka pintu kamar gadis itu, tapi terkunci. "Di mana kunci kamarmu?" Neji agak menundukkan wajahnya untuk menatap Shion.
"Aku tidak tahu!" Shion mengerucutkan bibirnya, bertingkah seperti anak-anak. Neji kembali tertawa pelan.
"Tidurlah di kamarku malam ini." Ucap Neji yang wajahnya masih tertempeli sebuah senyuman hangat.
"Hmmm." Shion bergumam pelan, melingkarkan kedua tangannya di leher Neji dengan erat. Ia membenamkan wajahnya dileher Neji. Senyum diwajah Neji menghilang digantikan dengan ekspresi canggung. Neji berdeham pelan untuk mengusir rasa canggung dari dirinya sendiri.
Pemuda itupun membuka pintu kamarnya dengan perlahan, meletakkan Shion diatas tempat tidur king size miliknya dan bersiap untuk beranjak pergi. Baru saja Neji akan melepaskan tangan Shion yang melingkar dilehernya, Shion justru—entah mendapat kekuatan dari mana—menarik Neji.
Dengan sigap, pemuda itu menghentakkan kedua tangannya di samping tubuh Shion sebelum ia menindih tubuh gadis mungil itu. Shion membuka matanya dengan perlahan. Balas menatap Neji yang melihatnya tanpa berkedip. Ia kembali menarik Neji, menempelkan bibir mereka menjadi satu. Mata Neji pun terbelalak lebar.
Ia memang pernah membayangkan bagaimana rasanya mencicipi bibir gadis itu, dan bayangan itu tidak hanya menghantuinya sekali, tapi disetiap kesempatan ketika ia melihat Shion atau berada di dekatnya. Dan sekarang, hal itu menjadi kenyataan.
Shion memejamkan matanya, melumat bibir Neji dengan pelan meski Neji yakin Shion sama sekali tidak berpengalaman sebelumnya.
Neji masih membeku di tempatnya, ia tidak membalas ciuman Shion, tidak juga menolaknya. Ia hanya terhanyut dengan perdebatan dirinya sendiri. Haruskah ia menghentikannya atau justru menikmatinya?
Lidah Shion menjilati bibir bawah Neji dengan lembut, membuat Neji hampir kehilangan kendalinya. Tangan kanan Shion turun perlahan-lahan dari leher ke dada dan menyusup masuk ke dalam kaos hitam Neji, meraba kulit pemuda itu yang membuatnya mau tak mau mendesah pelan. Kedua tangan Neji meremas selimut dengan erat, tidak membiarkan dirinya sendiri untuk menyentuh Shion. Tapi apa yang Shion lakukan padanya benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat.
Neji ikut memejamkan matanya, mengeluarkan lidahnya untuk membalas perlakuan Shion. Baru saja lidah mereka akan saling bertautan, Neji segera menarik dirinya sendiri. Kali ini Shion tak lagi menghalanginya karena gadis itu hanya bergumam pelan, terhanyut dalam tidurnya meninggalkan Neji yang masih terbakar seorang diri. Neji menenangkan nafasnya yang masih memburu dan memaki dirinya sendiri. Sedetik saja dia terlambat mengontrol dirinya, maka habislah sudah.
Neji mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan kasar. "Lain kali aku tidak akan membiarkan Sai menyimpan alkohol dalam bentuk apapun di rumahku." Gumam Neji pelan sebelum ia merebahkan dirinya di sofa.
.
.
.
Shion berjalan dengan santai ke arah sekolah. Ia bangun agak terlambat hari ini dan begitu ia siap untuk berangkat ke sekolah, Ebisu mengatakan bahwa tuannya telah pergi lebih dulu dan memintanya untuk mengantar Shion. Meskipun Ebisu telah bersikeras untuk mengantarnya, Shion dengan keras kepala menolak. Ia ingin berjalan dengan santai, memiliki waktu lebih lama untuk berpikir dengan tenang.
Kepala Shion masih sedikit pusing karena minuman yang ia kira air putih kemarin. Ia tidak berhenti bertanya pada dirinya, apakah ada sesuatu yang terjadi semalam? Kenapa ia seperti merasakan kehangatan tubuh Neji menyelimutinya? Meski samar-samar, ia yakin sesuatu terjadi semalam.
Shion melihat gerbang sekolah dan mendesah pelan. Ia akan bertemu dengan Neji sebentar lagi padahal ia masih belum bisa mengingat apa yang sudah ia lakukan semalam.
Sebuah tangan yang besar mendekap mulutnya dari belakang. Shion pun terperanjak. Ia meronta, mencoba berteriak bahkan memukuli orang yang mendekapnya dan terus menyeretnya semakin menjauh dari gerbang sekolah.
.
.
.
Neji menatap meja Shion yang kosong. Jam masuk telah lewat, tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan gadis itu. Mungkin saja Shion memutuskan untuk tidak masuk sekolah karena kepalanya yang sakit. Ada sedikit kelegaan yang menghampirinya karena ia tidak perlu melihat Shion di kelas. Ia sendiri masih tidak tau apakah ia bisa terus bersikap seperti biasa jika melihat wajah Shion selalu mengingatkannya pada kejadian semalam.
Neji duduk dengan tenang di kelasnya sambil menunggu Iruka-sensei masuk ke kelas. Hp nya bergetar pelan diatas mejanya. Ia pun membaca sebuah pesan masuk dan membelalakkan matanya.
Iruka-sensei yang baru saja masuk saat Neji berdiri dengan tiba-tiba dan menerobos keluar tanpa mempedulikan apapun. Naruto menatap sosok sahabat yang ia kenal dengan baik itu. Ia tau sesuatu yang buruk terjadi, karena Neji tidak pernah terlihat sepanik itu.
Naruto mengikuti Neji keluar dari kelasnya dan berlari turun ke lantai dasar. Mobil Neji sudah melaju dengan cepat keluar dari lingkungan sekolah tanpa sempat dicegah Naruto. Dengan nafas tersengal-sengal, Naruto menghubungi ketiga sahabatnya dan mereka untuk berkumpul di ruang OSIS Sasuke.
.
.
.
"Apa kau yakin?" Tanya Shikamaru tidak percaya. Masih mencoba mengatur nafasnya, Naruto hanya mengangguk pelan.
"Apakah mungkin ada hubungan dengan keluarganya?" Sai mencoba menebak-nebak, tapi menggelengkan kepalanya sendiri. Ia ingat orangtua Neji pernah mengalami kecelakaan pesawat dan dinyatakan hilang dan Neji tetap bersikap tenang sampai orangtuanya ditemukan.
"Mungkinkah …" Sasuke menggantungkan kalimatnya. Naruto, Sai dan Shikamaru menatap Sasuke dengan serentak. Seketika itu juga sebuah pemikiran yang sama melintas dibenak mereka.
"Kumo-team!" Teriak mereka berbarengan.
"Benar! Aku tidak melihat Shion di kelas!" Teriak Naruto setelah menyadari absennya Shion di kelas pagi tadi.
"Sial! Mereka benar-benar menggunakan cara kotor!" Cerca Shikamaru yang langsung bangkit dari duduknya dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Sai, lacak keberadaan Neji menggunakan gps." Sasuke menatap Sai yang mengangguk dan segera mengotak-atik komputer di meja Sasuke.
Pandangan Sasuke teralih pada Shikamaru dan Naruto secara bergantian. "Shikamaru, kumpul kan beberapa orang-orang untuk membantu. Dobe, siapkan kendaraan. Aku yang akan mengurus izin kalian." Shikamaru dan Naruto mengangguk dengan cepat dan keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.
Sasuke berdiri dibelakang Sai, ikut memperhatikan layar komputer. Sai membalikkan tubuhnya dan menatap Sasuke. "Mobil Neji berhenti di dekat pelabuhan. Di sana ada gudang kosong yang tak terpakai lagi. Kurasa di sana."
Sasuke mengangguk pelan. "Hn, Bersiap-siaplah."
Sai beranjak dari tempat duduknya dan bersiap untuk keluar dari ruangan. Suara Sasuke yang memanggil namanya menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh ke samping untuk melihat Sasuke.
"Kau yakin aku tidak perlu ikut dengan kalian?" Tanya Sasuke ragu. Ia tidak bisa berpangku tangan begitu saja kalau sampai sesuatu terjadi pada Neji ataupun Shion —orang yang penting untuk Neji. Sai tersenyum hangat, meyakinkan mereka akan baik-baik saja tanpa Sasuke.
.
.
.
Neji menghentikan mobilnya dan keluar segera setelah ia sampai ditempat yang diberitahukan oleh Darui. Beberapa orang bawahan Kumo-team terlihat berjaga-jaga di depan gudang. Begitu melihat Neji mendekat, mereka bersiap-siap untuk menyerang Neji tapi Shii dan Omoi muncul dan menghentikan mereka. Omoi mendekati Neji dan tersenyum sinis.
"Darui dan gadis itu sudah menunggumu di dalam." Ucap Omoi. Neji menatap mereka selama beberapa saat. Tapi ia tau ia tidak punya banyak waktu untuk mengurusi masalah kecil seperti itu. Yang terpenting saat ini adalah Shion. Ia harus menyelamatkan gadis itu sebelum mereka bisa melakukan hal yang tidak ia inginkan.
.
.
.
Shion duduk di tengah-tengah gudang kosong dengan tubuhnya yang terikat kencang di kursi kayu yang ia duduki. Tangannya terikat ke belakang sementara mulutnya menginggit segumpal kain yang membuat dia tidak bisa berteriak.
Ketakutan jelas terpancar di wajah gadis itu yang memucat. Darui berdiri di belakangnya, menyeringai puas saat ia melihat Neji datang seorang diri seperti yang ia inginkan.
Baru saja Neji maju selangkah, Ginkaku dan Kinkaku muncul dan menghalanginya untuk mendekati Shion. Ginkaku mengarahkan tinjunya ke arah Neji yang dengan sigap menghindari serangannya. Neji merundukkan tubuhnya, menggunakan kakinya untuk membuat Ginkaku terjatuh.
Kinkaku berlari dengan cepat, ikut mengarahkan tinjunya pada Neji yang belum benar-benar memperhatikan datangnya serangan. Neji menoleh dengan cepat, memutar tubuhnya sendiri hingga membelakangi Kinkaku. Neji menarik tangan Kinkaku dan membanting tubuhnya diatas Ginkaku.
Dengan cepat Neji mendekati Shion dan Darui sebelum lainnya sempat menghalanginya lagi. "Yang kau inginkan adalah aku, jadi lepaskan dia, Darui." Ucap Neji dengan garang.
"Sayang sekali aku tidak mau melepaskannya. Aku bisa bersenang-senang dengan gadis-mu segera setelah aku menghabisimu." Darui menyeringai, menggerakkan jari-jarinya ke garis rahang Shion yang menegang karena takut. Ia menunduk, menempelkan wajahnya di wajah pucat Shion yang sedang ketakutan.
Ginkaku dan Kinkaku kembali berdiri dan menyerang Neji. Ia tidak benar-benar bisa berkonsentrasi untuk menghabisi kedua orang dihadapannya karena matanya tak bisa lepas dari Darui. Dia tidak ingin Darui melakukan hal yang lebih gila lagi pada Shion.
Neji memegang pundak Ginkaku, mengarahkan lututnya ke perut musuhnya dan menendangnya dengan keras hingga membuat Ginkaku terhuyung-huyung.
"DON'T TOUCH HER WITH YOUR DIRTY HANDS, BASTARD!" Teriak Neji dengan sangat keras saat ia melihat Darui masih saja menggerak-gerakkan jarinya di wajah Shion.
"Kalau begitu berhentilah memukuli mereka. Biarkan mereka memukulmu, maka aku tidak akan menyentuh gadis ini." Darui mencoba membuat kesepakatan dengan Neji. Ia tau Neji tidak pernah ikut dalam duel manapun selama ini. Yang ia tau Neji hanyalah otak yang merencanakan strategi yang harus digunakan oleh Konoha Boys untuk memenangi sebuah duel. Tak pernah ia pikirkan bahwa Neji ternyata juga bisa bertarung.
Neji menghentikan gerakannya, ia membiarkan Ginkaku dan Kinkaku memukulnya tanpa perlawanan. "Seharusnya sejak awal kau tidak ikut campur. Seharusnya kalian cukup puas dengan apa yang kalian miliki saat ini. Ini adalah balasan karena kalian mengambil sekolah kekuasaan kami." Darui melihat Neji dipukuli oleh temannya dengan senang hati. Shion berteriak dengan keras meski suaranya teredam oleh kain yang ada dimulutnya.
"Shut up, bitch!" Darui menggeram kesal mendengar gadis itu yang bergumam tidak tenang. Darui menampar Shion dengan kuat hingga membuat pipi gadis itu memerah. Tapi rasa perih itu tidak sebanding dengan yang dirasakan Neji sekarang.
"I SAID DON'T TOUCH HER!"
"Darui! mereka datang!" Teriak Shii yang berlari masuk dengan panik.
"Aku yang akan mengurus Neji, kalian halangi mereka sebelum aku menghabisinya." Perintah Darui yang langsung dituruti oleh ketiga pemuda itu, meninggalkan Neji yang sudah penuh dengan luka tergeletak begitu saja.
Darui mendekati Neji lalu menundukkan wajahnya dan menginjak perut pemuda yang ada di hadapannya dengan kuat, membuat Neji berteriak keras saat rasa sakit menghantam rusuknya. Neji memegangi kaki Darui dengan kedua tangannya, ia mengerahkan semua sisa tenaga yang ia miliki saat ini untuk menarik musuhnya hingga terjatuh.
Apapun yang terjadi, ia harus menyelamatkan Shion. Neji segera memutar posisi, duduk diatas Darui setelah tubuh musuhnya itu terjatuh dilantai. Neji melayangkan tinjunya diwajah Darui sekuat mungkin.
Setelah beberapa pukulan, Darui berhasil menyingkirkan Neji. Tubuh Neji terhempas jauh hingga menabrak dinding gudang dengan suara gaduh. Darui pun dipenuhi dengan amarah.
Dia tidak terima karena Neji berani memukulnya, menyisakan beberapa memar diwajahnya hanya karena beberapa pukulan. Ia kembali menghampiri Neji, menarik kerah kemeja Neji dengan kasar dan memaksanya berdiri. Ia memukuli perut Neji berkali-kali, membuat tulang-tulang Neji yang sudah remuk semakin sakit.
Neji meraih kepalan tangan Darui, memelintirnya sekuat mungkin dan menendangnya ke tumpukkan kotak kayu. Nafasnya semakin berat sementara kakinya tak lagi bisa menopang berat tubuhnya. Neji bersimpuh pada kedua lututnya, memperhatikan Darui yang masih mencoba untuk berdiri.
"NEJI!" Neji mendengar seseorang berteriak. Dengan sikap was-was Neji menoleh ke sumber suara yang justru membuatnya bernafas lega saat ia melihat Naruto, Sai dan Shikamaru berdiri di pintu gudang.
"Sial! Dia benar-benar minta dihajar!" Amuk Shikamaru setelah melihat Neji yang bersimbah darah.
"Untuk kali ini, ku izinkan kau untuk menghajarnya habis-habisan." Imbuh Sai yang ikut kesal melihat sahabat mereka diperlakukan seperti itu. Shikamaru dan Naruto segera menghampiri Darui yang masih mencoba untuk berdiri dari tumpukan kotak kayu.
"Neji, kau tidak apa-apa?" Sai menghampiri Neji dengan panik.
"Shi-Shion… Shion…" Bisik Neji terbata-bata sebelum ia kehilangan kesadarannya.
.
.
.
Tanpa perlu membuka matanya, Neji bisa mengasumsikan bahwa ia sedang berada di rumah sakit melalui bau obat-obatan yang menyeruak masuk ke indera penciumannya.
"Dia masih belum bangun? Kami semua akan ke cafetaria sebentar." Neji mendengar suara Sai. Setelah hening sesaat, ia mendengar pintu yang terbuka lalu tertutup kembali dan suasana yang hening. Neji membuka matanya yang terasa berat dengan perlahan.
"Anda sudah sadar? Akan kupanggilkan dokter!" Ucap Shion dengan cepat begitu ia melihat Neji terbangun. Pemuda itu menahan pergelangan tangan Shion. Shion memalingkan wajahnya untuk menatap tuannya yang menggelengkan kepalanya sebagai isyarat ia baik-baik saja.
"Apa yang terjadi kemarin?" Tanya Neji.
"Ada sekelompok orang menculik saya dan mereka terus memukuli anda—"
"Bukan, setelah teman-temanku datang?" Potong Neji.
"Semuanya baik-baik saja. Teman-teman Neji-sama menyelamatkan kita." Neji menghela nafas pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke wajah gadis itu. Ia menggerakkan jari telunjuknya, menandakan kepada Shion untuk mendekatinya. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Shion yang masih agak memerah.
"Apakah (pipimu) masih sakit?" Sorot mata Neji menandakan penyesalan. Ia tidak benar-benar bisa melindungi Shion dari tangan kotor Darui dan itu membuat sangat geram sampai sekarang. Cairan dingin menggesek permukaan kulit tangan Neji.
"Maaf. Karena saya, anda jadi terluka seperti ini. Padahal anda sudah menolong saya banyak sekali, tapi saya tetap saja menyusahkan anda. Maaf…" Isak Shion sambil menyeka airmatanya yang tidak bisa berhenti menetes.
Neji menurunkan tangannya dari pipi Shion hingga ke pergelangan tangannya lalu meremasnya dengan pelan.
"Jangan merasa bersalah. Tidak ada yang tau kapan kesialan akan menimpa diri kita, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri." Sergah Neji dengan lembut. Selain ia masih merasakan sakit ditubuhnya, ia juga tidak ingin membuat Shion tambah merasa bersalah jika dia menaikkan suaranya.
"Tapi… Tapi kalau sejak awal Neji-sama tidak mengizinkan saya untuk bekerja di rumah anda, anda tidak akan jadi seperti ini. Kurasa sebaiknya saya segera keluar dari rumah anda… Saya—"
"Keluar dari rumahku? Lalu kau bisa ke mana? Tinggal di jalanan? Atau membiarkan kakakmu yang tidak bertanggungjawab itu kembali menjualmu ke bar?" Hentak Neji. Hanya dengan membayangkan kemungkinan Shion keluar dari rumahnya membuat darahnya terasa mendidih.
"Sa—saya bisa menyewa rumah kecil, mencari pekerjaan baru dan menghidupi saya sendiri mulai saat ini. Saya hanya tidak ingin terus me—"
Lagi-lagi Neji memotong pembicaraan Shion. Ia menarik tangan gadis itu dengan kuat untuk memaksanya terduduk ditepi tempat tidurnya. Ia merengkuh wajah Shion dengan cepat dan menciumnya.
Kedua mata Shion membelalak lebar. Baginya, ini adalah pertama kalinya ia berciuman—dengan Neji. Tapi tidak tau mengapa, ia seperti pernah merasakan kehangatan yang diberikan Neji sebelumnya.
Tangan kanan Neji memeluk pinggang Shion dengan erat. Ia semakin menarik gadis itu mendekat, menghabiskan jarak yang tersisa diantara mereka. Meskipun saat ini beberapa tulangnya yang patah masih menimbulkan nyeri di sana sini, tapi gadis itu selalu bisa membuatnya melupakan segalanya. Ia menggigit bibir bawah Shion dengan pelan. Ia segera menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Shion setelah gadis itu membuka mulutnya sedikit.
Merasakan lidah Neji di dalam mulutnya membuat Shion terkesiap pelan. Ia menekan tangannya yang bersandar di dada Neji dengan agak keras tanpa ia sadari, membuat Neji meringis dan menghentikan ciuman mereka karena luka di tubuhnya yang kembali terasa berdenyut-denyut.
"Ma—maaf!" Ucap Shion panik setelah sadar apa yang ia lakukan. Neji menyentuh dadanya, mengelusnya dengan pelan untuk mengusir rasa sakitnya.
"Apa aku… membuatmu takut?" Tanya Neji ragu. Gadis itu pun menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya dan menggelengkan kepalanya.
Neji meraih dagu Shion dan memaksa gadis itu untuk mendongaknya. "Jangan pernah mengatakan bahwa kau akan pergi. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku. Untuk selamanya."
"Tapi—"
"Jika kau pikir kehadiranmu selalu mencelakaiku, maka kepergianmu akan lebih dari itu." Neji menatap Shion dengan tegas. Neji menggigiti bibir bawahnya, terlihat ragu apakah dia harus mengatakan hal yang selama ini ia pendam atau tidak.
"Shion-san, aku menyukaimu…" Neji menghentikan kata-katanya untuk mengamati reaksi Shion. "Jadi, kumohon jangan pergi."
"Ne—Neji-sama. Kau baik-baik saja? Aku akan memanggil dokter untuk melihat keadaanmu sekarang." Shion tidak bisa percaya apa yang baru saja ia dengar dan memutuskan bahwa Neji sedang mengigau saat ini.
"Aku serius. Kenapa kau tidak mempercayai kata-kataku? Karena status sosial kita?" Shion mengangguk.
"Karena masa lalu mu?" Shion lagi-lagi mengangguk.
"Tapi yang kusukai adalah kau, Shion. Bukan status sosial ataupun masa lalumu. Aku mungkin tidak romantis seperti pria lainnya, tapi aku berani bersumpah aku akan selalu melindungimu lebih dari siapapun." Neji menatap Shion dalam-dalam. Hati Shion terasa hangat mendengar kata-kata Neji. Ia sendiri yakin kalau Neji akan selalu melindunginya dan akan menghargainya lebih dari apapun.
Shion terus menatap Neji tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia masih tidak tau apa yang harus ia katakan pada Neji. Ia takut akan mengatakan hal yang salah dan justru membuat dia menyesal seumur hidup.
"Jangan berpikir terlalu banyak. Apakah kau benar-benar ingin meninggalkanku?" Shion menggelengkan kepalanya dengan pelan tapi mantap.
"Apakah aku memiliki tempat khusus dihatimu?" Shion terdiam agak lama sebelum ia mengganggukkan kepalanya. Senyuman diwajah Neji merekah perlahan-lahan. Senyuman yang baru pertama kali ini dilihat Shion, senyuman yang mampu membuatnya luluh dalam hitungan detik.
"Boleh aku menciummu?" Neji mendekatkan wajahnya ke arah Shion, berbisik pelan saat bibir mereka hampir bersentuhan. Sebagai jawaban Shion memejamkan matanya. Ia tersenyum kecil dan kembali melumat bibir Shion dengan pelan. Sebelum Neji sempat mengubah ciuman manis mereka menjadi lebih menggebu-gebu, pintu ruang inap Neji terbuka lebar.
"Kau memperingatiku untuk tidak menyentuhnya, tapi lihat apa yang kau lakukan padanya sekarang!" Omel Naruto begitu masuk dan melihat Neji dan Shion berciuman. Sai, Shikamaru dan Ino berlari kecil untuk melihat apa yang membuat Naruto berteriak-teriak tidak karuan.
Neji menggerutu pelan yang hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri setelah 'kegiatan'mereka terganggu.
"Datanglah ke bar ku malam ini. Kau bisa mencari 'mangsa' mu di sana." Sai menepuk pundak Naruto dan terkekeh pelan.
"Bagus, sekarang kalian bertiga sudah punya pacar. Dan Shikamaru tentu saja dengan si Temari itu. Kenapa hanya aku yang sendirian!?" Gerutu Naruto dengan membuat ekspresi sedih diwajahnya.
"Berhentilah bersikap dramatis. Kalau kau sampai terikat oleh seorang gadis, itu berarti keajaiban." Timpal Shikamaru yang tidak mau ketinggalan untuk mengejek Naruto. Neji dan Sai terkekeh pelan saat Naruto memukul kepala Shikamaru.
"Berhentilah memerintahkan ini dan itu padaku! Dan harus berapa kali kukatakan kalau dia itu teman baikku!?" Suara Sakura dari luar membuat ruangan Neji menjadi hening. Mereka semua menajamkan pendengaran mereka untuk mendengar apa yang lagi-lagi membuat Sakura dan Sasuke bertengkar.
"Kau tidak seharusnya memeluk dia kalau dia hanya teman baikmu!" Cerca Sasuke tidak mau kalah.
"Urgh, terserah kau sajalah!" Sakura menghentakkan langkahnya dan masuk ke ruangan Neji.
"Jangan dekat-dekat dengannya kalau kalian tidak sengaja bertemu lagi, mengerti?" Tukas Sasuke kesal.
"Kenapa aku harus mendengarkan kata-katamu, huh? Berhenti mengaturku!"
"Kau lupa kalau kau harus bersikap manis padaku? Kita sudah membuat kesepatakan, Haruno Sakura." Sasuke memelankan nada suaranya agar tidak ada yang bisa mendengarkan kata-katanya karena ia tau mereka telah menjadi pusat perhatian sekarang.
Sakura menggerutu kesal dan bergumam mengiyakan. Sasuke tersenyum puas dan masuk ke dalam ruangan Neji tanpa mempedulikan tatapan dari teman-temannya. Ia pun menghampiri Neji untuk menanyakan keadaannya.
"Kalian bisa bertengkar juga?" Ino menyikut lengan Sakura.
"Dia yang selalu mengajakku bertengkar." Tukas Sakura masih merasa marah karena Sasuke tadi menariknya pergi begitu saja padahal ia sedang berbicara dengan teman yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Kau juga sih. Sudah tau punya pacar, kenapa kau memeluk laki-laki lain? Dihadapan dia pula." Cibir Ino. Sakura menatap Ino dengan sinis. Kenapa sekarang Ino justru ikut menyalahkan dirinya?
"Memangnya salah kalau aku memeluk Sarori-nii? Dia sudah seperti kakakku sendiri dan kami sudah lama tidak bertemu, wajarkan kalau aku merindukannya?"
"Kak Sasori!? Dia sudah kembali dari Suna?" Ino memekik tertahan dan menatap Sakura dengan tidak percaya. Semua amarah Sakura terhadap Sasuke menguap begitu saja saat ia melihat antusiasme Ino dan mengingat Sasori saat mereka bertemu di cafetaria rumah sakit tadi.
"Hmm, dan dia semakin tampan!"
To Be Continue …
A/N: Gomen kalo author pada chap ini membuat pair khusus NejiShion. Author bakalan buat pair khusus untuk yang lainnya, dikarenakan pair yg author buat juga berhubungan dengan cerita inti SasuSaku. Jadi tolong kalian maklumi (bow ke semua readers). Thank's bagi kalian yg sudah membantu meralat. Thank's juga yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~
Thanks to:
RanCherry, luxianapmega, zarachan, yencherry, nkaalya, Arashasha, syahidah973, mantika mochi, Kiki Kim, Frizca A, t-chan, Jamurlumutan462, echaNM, 1, Luca Marvell, Ciisiichuabbykireiina454, Mustika447, UzumakiIsana, ongkitang, Frency Atagawa, Annis874, williewillydoo, Nakata Airi
Salam kecup buat reviewer
Miko Yuuki
