The Pervert Glasses

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Angst, Friendship

WARNING!

TYPO, OOC, EYD hancur, banyak kata-kata yang kasar, Rate M (SemiLemon)

"Apa menurutmu Neji akan baik-baik saja?" Tanya Shikamaru yang duduk dihadapan Sasuke di cafetaria. Sasuke mengangkat pundaknya, bergumam pelan yang terdengar seperti semoga saja.

"Aku masih sedikit kesal. Kalau saja waktu itu kita datang lebih cepat." Geram Naruto dari sebelahnya.

"Sudahlah, tidak ada gunanya menyesal. Lebih baik berharap Neji baik-baik saja. Aku mau kembali ke ruang inapnya sekarang. Mau ikut?" Tanya Sai yang sudah berdiri dan membantu Ino untuk ikut berdiri dengannya. Naruto dan Shikamaru mengangguk bersamaan dan mengikuti Sai serta Ino.

"Kau mau ikut juga?" Tanya Sasuke pada Sakura. Sakura mengangguk dengan cepat dan berdiri. Dia tidak tau kenapa saat Sasuke mengajaknya menjenguk Neji dia sama sekali tidak menolak. Padahal dia sama sekali tidak dekat dengan Neji. Tapi yang jelas Sakura menolak untuk mengakui kalau penyebabnya adalah karena dia ingin bersama dengan Sasuke.

"Sakura? Haruno Sakura?" Panggil seorang pemuda yang berdiri beberapa langkah di belakang Sakura dan Sasuke. Sakura membalikkan badannya. Menatap pemuda itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Pemuda dihadapannya tersenyum lebar membuat Sakura akhirnya mengenali pemuda itu.

"Sasori-nii?" Tanya Sakura agak ragu. Pemuda yang dipanggil Sasori itu menganggukkan kepalanya.

"Ya Tuhan, Nii-chan! Aku sangat merindukanmu!" Teriak Sakura yang langsung berlari ke arah Sasori dan memeluknya dengan erat. Sasori terkekeh pelan, balas memeluk Sakura dan membelai rambut Sakura dengan pelan.

"Nii-chan juga sangat merindukanmu." Balas Sasori dengan lembut. Sasuke bergeming di tempatnya berdiri sekarang. Tubuhnya seperti terbakar, ingin sekali dia menghampiri kedua orang itu, melepaskan pelukan Sakura darinya dan langsung memukuli pemuda yang tidak ia kenal. Tapi Sasuke menghilangkan pikiran itu jauh-jauh.

Sasori menangkap sosok Sasuke dari ekor matanya dan jelas ekspresi wajah Sasuke terlihat tidak senang. Ia pun melepaskan pelukannya dan menatap Sakura lalu Sasuke secara bergantian.

"Kau tidak mau memperkenalkan kami?" Tanya Sasori.

"Oh.." Sakura memalingkan wajahnya untuk melihat Sasuke yang akhirnya mendekatinya dan berdiri di sampingnya.

"Sasuke, ini Sasori-nii, temanku sejak kecil. Dan Sasori-nii, ini—" Belum sempat Sakura menyelesaikan perkenalannya, Sasuke memotong kata-kata Sakura dan melingkarkan lengannya di pinggang Sakura, agak membuat Sakura terperanjat kaget.

"Aku Sasuke, pacar Sakura." Ucap Sasuke tegas. Sasori membuka mulutnya membentuk huruf O begitu mendengar penjelasan Sasuke.

"Tidak kusangka Sakuraku yang polos ini sekarang sudah punya pacar." Seolah tidak mempedulikan kehadiran Sasuke, Sasori mengacak rambut Sakura dengan santai.

Sasuke pun mendengus kesal.

Sakuraku? Batin Sasuke dengan kesal. Yang diingat oleh Sasuke adalah bahwa Sakura itu miliknya, dan hanya miliknya bukan milik pria asing yang baru saja menunjukkan batang hidungnya.

"Oh iya, Aku harus pergi ke suatu tempat, sampai ketemu lagi Sakura." Sasori berjalan pergi dan melambaikan tangannya pada Sakura yang menatap kepergian Sasori dengan wajah sedih, membuat Sasuke semakin kesal.

"Sakura, jangan berani kau menemuinya lagi." Tukas Sasuke. Sakura menaikkan sebelah alisnya mendengar perintah Sasuke. Dia memang tau Sasuke itu adalah makhluk teregois yang pernah ia temui. Tapi Sasuke sudah melewati batas jika dia melarang Sakura untuk berteman dengan siapapun, terlebih lagi teman sejak kecilnya yang sudah lama tidak ia lihat.

"Haruno Sakura, apa kau mendengarku?" Cerca Sasuke saat mereka berjalan menuju ruang inap Neji.

"Berhentilah memerintahkan ini dan itu padaku! Dan harus berapa kali kukatakan kalau dia itu teman baikku!?" Sakura meninggikan suaranya, terlalu kesal dengan sikap seenaknya dari Sasuke

"Kau tidak seharusnya memeluk dia kalau dia hanya teman baikmu!" Cerca Sasuke tidak mau kalah.

"Urgh, terserah kau sajalah!" Sakura menghentakkan langkahnya dan masuk ke ruangan Neji.

"Jangan dekat-dekat dengannya kalau kalian tidak sengaja bertemu lagi, mengerti?" Tukas Sasuke kesal.

.

.

.

"Mau ke tempat biasa?" Ajak Sakura saat dia dan Ino baru saja keluar dari kelas.

"Tidak bisa, Sai mengajakku pergi, gomen." Ucap Ino dengan penuh penyesalan. Dia tidak ingin menelantarkan teman-temannya hanya karena sekarang dia sudah berpacaran. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Sai karena dia sendiri ingin berduaan dengan Sai.

"Tsk, baiklah." Sakura melipat kedua tangannya, berpura-pura marah pada Ino tapi langsung terkekeh sedetik kemudian.

"Kurasa sebaiknya aku langsung pulang. Toh Hinata juga pasti tidak bisa kuajak karena dia harus mengikuti kursus pianonya."

"Aku harus menemui Sai di ruang OSIS, tidak apa-apa kau keluar sendiri?" Sakura memutar bola matanya.

"Memangnya akan ada orang yang menculikku? Sudahlah, selamat bersenang-senang dengan Sai." Goda Sakura yang membuatnya mendapatkan pukulan ringan dikepalanya.

Sakura keluar dari gerbang sekolahnya, bersiap berbelok saat seseorang tiba-tiba saja menutup matanya, membuat pandangannya menjadi gelap seketika. Sakura menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Yakushi Kabuto, aku tidak ingin bermain denganmu." Ucap Sakura sedatar mungkin. Sakura mendengar suara tawa, tapi jelas itu bukan milik Kabuto. Sakura menurunkan tangan yang menutup matanya dan berbalik untuk melihat Sasori berdiri di sana dengan senyuman manisnya.

"Siapa lagi itu Yakushi Kabuto? Kupikir pacarmu Sasuke?" Ejek Sasori. Sakura tidak mempedulikannya ejekan Sasori karena terlalu senang ia bisa melihat sahabatnya lagi.

"Nii-chan! Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Sakura bersemangat.

"Apa lagi kalau bukan menemui adikku yang manis ini, huh? Tapi jangan katakan itu pada Ino, dia akan cemburu." Ucap Sasori dengan nada bercanda. Sakura ikut terkekeh pelan.

"Tenang saja. Sekarang dia tidak ingin menjadi adik manismu lagi karena dia terlalu sibuk dengan pacarnya."

"Huh? Sejak kapan adik-adikku mulai pacaran?" Sasori menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ah, apa kau sibuk hari ini? Kau tidak keberatan kan menemani nii-chan seharian?"

"Tentu saja tidak! Bahkan kurasa sehari saja tidak cukup untuk melepaskan rinduku padamu nii-chan." Sakura mengikuti Sasori ke mobilnya dan duduk di kursi penumpang setelah Sasori membukakan pintu untuknya.

.

.

.
Sasuke duduk seorang diri di ruang bawah tanah yang ia datangi beberapa hari lalu saat dia memukuli Kabuto. Ia menatap tiap sudut ruangan itu, mengingat bagaimana ia selalu merasa senang setiap kali Kabuto dan adiknya berlarian ke seluruh penjuru ruangan. Ia mengingat senyuman hangat milik satu-satunya gadis yang pernah bersama dengan dia dan Kabuto di ruang bawah tanah ini dan ia sangat menyukainya karena hal itu bisa memberikan kebahagiaan untuknya.

Semuanya terasa aneh. Tidak terasa nyata karena semua kenangan itu menjadi buram diingatannya. Tapi juga tidak tidak seperti mimpi karena ia masih bisa mengingat sentuhan gadis itu di tangannya. Semuanya terlalu membingungkan baginya.

Suara derap langkah yang melambat menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Kabuto berdiri diambang pintu, menatap Sasuke dengan tidak percaya. Mungkinkah ini pertanda bahwa persahabatan mereka bisa kembali seperti semula?

Sasuke menghentikan kontak mata mereka dan berdeham pelan, ia merasa sangat canggung. Ia pun beranjak dari sofa dan berjalan keluar, tapi Kabuto mencengkram lengannya dengan erat.

"Kupikir semuanya sudah berakhir, tidakkah seperti itu?" Tanya Kabuto. Terbersit rasa kecewa dalam suaranya. Ternyata ia masih belum mendapatkan kembali sahabat berharga yang pernah ia miliki.

"Menyingkirlah, Kabuto." Tukas Sasuke datar.

"Aku tidak bisa kehilangan sahabatku hanya karena seorang gadis, aku tidak bisa." Gumam Kabuto.

"Kubilang menyingkirlah." Tukas Sasuke sekali lagi, mencoba menahan semua emosinya yang kembali mulai meluap.

"I CAN'T!" Teriak Kabuto yang akhirnya benar-benar membuat kesabaran Sasuke habis.

Sasuke menghempaskan cengkraman tangan Kabuto dan langsung meninju pipi kanan Kabuto membuat pemuda itu goyah. Tapi tidak seperti ketika Kabuto membiarkan Sasuke memukulinya begitu saja saat mengambil hp Sakura, kali ini Kabuto balas memukul Sasuke hingga Sasuke tersungkur. Sasuke membulatkan kedua matanya, tidak menyangka bahwa Kabuto akan membalas pukulannya. Ia segera berdiri, meraih kerah kemeja Kabuto dan mendorong paksa Kabuto hingga merapat ke dinding dan menatapnya dengan sinis.

"Menjauhlah dari hidupku, Yakushi Kabuto. Dan bawa pergi adikmu yang tidak pernah kembali itu!" Desis Sasuke. Ia kembali melayangkan beberapa tinjuan ke wajah Kabuto. Kabuto menendang perut Sasuke, mendorong tubuh Sasuke hingga terbaring dilantai setelah pertahanan diri Sasuke agak goyah. Ia duduk diatas perut Sasuke, membalas tinjuan yang tadi ia dapatkan.

"Kau boleh membuang adikku sejauh kau mau—karena dia memang pantas diperlakukan seperti itu. Tapi jangan pernah memintaku untuk menjauh dari hidupmu!"

"Kau tidak tau apa yang kurasakan jadi kau tidak berhak untuk bicara apapun!" Balas Sasuke dan mengubah posisi mereka, membuat Kabuto tergeletak dilantai dan memukulinya, tidak terlalu kuat karena tenaganya sudah terkuras untuk berteriak dan melindungi dirinya dari pukulan Kabuto.

"Aku tau! Aku sangat tau apa yang kau rasakan karena kehilangan adikku—orang yang kau sayangi! Tapi aku kehilangan dua orang sekaligus di saat yang bersamaan—kau dan adikku—dan kau tidak pernah sekalipun berpikir betapa menderitanya hidupku tanpa kalian berdua di sisiku!"

Sasuke menghentikan pukulannya dan tertawa sinis. Ia pun merebahkan tubuhnya disamping Kabuto dan mengatur nafasnya yang berantakan. Sasuke menatap langit-langit selama beberapa menit sama seperti yang dilakukan oleh Kabuto.

"Aku juga… kehilangan dua orang penting dalam hidupku." Ucap Sasuke lirih. Kabuto tersenyum kecil. Ia tidak perlu menatap lurus ke dalam mata Sasuke untuk tau bahwa apa yang dikatakan Sasuke adalah yang sebenarnya. Ruangan itu hanya dipenuhi dengan deru nafas mereka yang masih memburu satu sama lain sebelum akhirnya mereka tertawa bersamaan begitu saja. Membayangkan betapa konyolnya mereka berdua.

.

.

.

Sakura duduk di sebuah café terbuka dihadapan Sasori dan terus menatap Sasori tanpa berkedip. Sasori balik menatap Sakura dengan bingung.

"Aku sedang mengamati wajahmu. Kau sudah banyak berubah. Kau lebih kurus sekarang." Ucap Sakura seolah mengerti kebingungan Sasori. Sasori tersenyum tipis dan mengusap tengkuknya dengan tidak nyaman.

"Yah, memang. Akhir-akhir ini berat badanku turun terus." Sasori menurunkan tangannya yang tadi mengusap tengkuknya dan kembali meletakkannya diatas meja.

Sakura menangkap sesuatu dibalik lengan jaket yang dikenakan Sasori dan menyingkapnya tanpa bisa dicegah Sasori. Sakura terkesiap pelan. Ia melihat bekas luka yang cukup dalam di pergelangan tangan Sasori. Sasori menarik tangannya dan menyentuh bekas lukanya dengan gugup.

"Jangan katakan kalau luka itu… seperti apa yang kupikirkan?" Tanya Sakura was-was. Sasori menatap lurus ke depan, melihat kedua mata Sakura terbelalak lebar. Ia membuka mulutnya berniat mengatakan sesuatu, apapun itu. Tapi tidak ada yang bisa ia suarakan. Tidak ada penyangkalan ataupun penjelasan yang bisa ia berikan.

"Nii-chan, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Benarkah kau mencoba untuk…" Sakura menghentikan kata-katanya saat sesuatu terasa menyumbat kerongkongannya, membuat ia tidak nyaman. Pandangan Sakura kembali ke pergelangan tangan Sasori di mana bekas luka itu tertinggal.

"Bunuh diri?" Lanjut Sakura lirih.

Sasori mendesah pelan. Ia tidak bisa mengelak lagi. Ia bisa saja berbohong. Tapi diantara beratus-ratus orang yang ia kenal, ia tidak ingin membohongi Sakura seorang.

"Benar, aku memang pernah mencoba untuk bunuh diri." Aku Sasori akhirnya. Sakura tidak mengatakan apapun, hanya menatap Sasori dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Sasori sendiri.

"Gomen, aku tau hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah. Tapi aku memang sangat lemah saat itu. Semuanya tiba-tiba saja berubah dalam hidupku." Sasori menghentikan kata-katanya, menelan air liurnya dengan pelan.

"Orangtuaku berpisah tanpa memberitaukan apapun padaku, keluarga yang menjadi kebanggaanku tidak ada lagi. Dan tidak seorang pun yang bisa kuandalkan saat itu, aku benar-benar takut, Sakura. Semuanya warna dalam hidupku tiba-tiba menghilang dan berganti kelabu." Kedua mata Sasori mulai berair ketika dia mengingat apa yang terjadi padanya setahun lalu, masa-masa di mana dia benar-benar sangat terpuruk.

"Tapi kau punya aku, nii-chan. Kau bisa berbagi denganku, bukannya justru tidak memberi kabar sama sekali sejak setahun terakhir. Dan bagaimana dengan Yamato-nii? Genma-nii? Mereka adalah teman-temanmu yang selalu siap untuk berdiri dipihakmu. Dan aku yakin izumo-nii pasti akan memakimu habis-habisan karena bertindak konyol pada nyawamu sendiri." Desis Sakura. Sasori terkekeh pelan dan mengangguk.

"Memang, dia menceramahiku panjang lebar kemarin." Sasori tersenyum tulus. Dia memang menyesalinya, kenapa waktu itu dia begitu gegabah dan ingin mengakhiri hidupnya dengan mudah? Dan ia sangat berterima kasih pada Tuhan karena masih memberinya kesempatan untuk merasakan betapa bersyukurnya dia memiliki hidupnya saat ini.

"Dan bagaimana dengan pacarmu, Sasori-nii? Bukankah seharusnya dia bisa menjadi kekuatanmu untuk bertahan?" Tanya Sakura ingin tau. Ia ingat Sasori sering menceritakan tentang pacarnya saat mereka masih saling berkomunikasi. Wajah Sasori yang ceria tiba-tiba berubah drastis. Dia tak lagi memberikan senyum termanisnya untuk Sakura.

"Sudah berakhir, semuanya sudah berakhir." Ucap Sasori lirih.

"Karena sekarang aku sedang mencintai seorang wanita yang hatinya tertambat pada pria lain."

"Nii-chan, maaf. Apakah pertanyaanku kembali membuatmu sedih?" Sakura menautkan alisnya, menyesal atas apa yang ia tanyakan.

"Tidak. Aku sudah tidak menyesali perpisahan kami lagi. Toh sekarang aku di kelilingi oleh teman-teman dan orang yang kusayangi, aku akan baik-baik saja."

.

.

.

Sasuke memandangi wajahnya di cermin sekali lagi untuk memastikan tidak ada memar diwajahnya akibat pukulan Kabuto karena dia tidak ingin Tuan dan Nyonya Haruno bertanya tentang lukanya. Kecuali keningnya yang sedikit tergores dan bisa ia tutupi dengan rambut, bagian wajah lainnya terlihat baik-baik saja. Ia pun menghembuskan nafas lega.

Sasuke turun ke dapur dan langsung disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera. Setelah pertengkaran konyolnya dengan Kabuto yang menguras seluruh tenaganya, sekarang dia benar-benar kelaparan.

"Perlu bantuan okaasan?" Tanya Sasuke dengan sopan pada Nyonya Haruno yang sedang menuangkan sup ke dalam mangkuk.

"Tidak perlu, makan malamnya baru saja selesai kusiapkan." Jawab Nyonya Haruno dengan sebuah senyuman hangat khas seorang ibu. Sasuke memperhatikan pakaian Nyonya Haruno yang terlihat sangat rapi dan sudah bisa menduga kalau Nyonya Haruno akan pergi—lagi—malam ini.

Padahal baru dua hari yang lalu Tuan dan Nyonya Haruno pulang dari liburan mereka di Iwa. Diam-diam Sasuke merasa iri melihat pasangan suami-istri yang terus terlihat mesra itu karena dia sendiri tidak bisa melihat kemesraan itu dari orangtuanya—Ibunya telah meninggal sejak ia masih kanak-kanak.

"Okaasan akan pergi, jadi tolong jaga rumah dan Sakura ya." Ucap Nyonya Haruno seperti biasa sambil melepaskan celemeknya yang disambut dengan anggukan dari Sasuke yang sudah tidak sabar untuk makan.

"Dan katakan pada Sakura untuk memanaskan sup nya sebelum ia makan." Ucap Nyonya Haruno lagi yang kali ini membuat kening Sasuke berkerut.

"Sakura belum pulang?" Tanya Sasuke ragu.

"Tadi siang dia menelpon dan mengatakan dia akan pulang agak larut karena Sasori baru pulang dari Suna dan mengajaknya jalan-jalan." Jawab Nyonya Haruno yang tidak menyadari perubahan suasana hati Sasuke.

Setelah sedikit berbasa-basi, Nyonya Haruno pergi untuk menemui suaminya dikantornya.

Sasuke menyuapkan nasi ke dalam mulutnya bahkan tanpa menambahkan lauk apapun. Setelah beberapa suapan, Sasuke menghentakkan sumpitnya ke atas meja dengan geram. Perutnya yang tadi berteriak-teriak kelaparan sekarang menguap begitu saja, ia merasa sangat kenyang dan tidak bisa menelan makanan apapun untuk dicerna di dalam perutnya.

"Haruno Sakura, kau menantangku, huh?" Sasuke mengacak rambutnya sendiri dengan geram dan beranjak naik ke lantai dua, tak lagi mempedulikan makan malamnya. Alih-alih masuk ke kamarnya sendiri, Sasuke justru masuk ke kamar Sakura dan berbaring diatas tempat tidur Sakura sambil menunggu gadis itu pulang.

Ia mendengar deru mesin mobil terhenti di depan rumah dan segera beranjak ke jendela untuk melihat siapa yang turun dari mobil.

Sasori turun dari mobilnya dan dengan cepat memutari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Sakura. Sakura terkekeh pelan.

"Kau tidak perlu melakukan hal itu, nii-chan." Tukas Sakura lembut.

"Kenapa? Aku suka membukakan pintu untukmu." Balas Sasori santai.

"Kau tinggal di mana sekarang?" Tanya Sakura lebih serius karena dia tau Sasori kembali ke Konoha karena tidak ingin hidup dengan salah satu orangtuanya.

"Jangan mengkhawatirkanku. Yamato dengan senang hati menampungku di rumahnya." Sasori mengacak rambut Sakura dengan pelan.

"Hmm. Gomen, aku tidak bisa menemanimu di saat-saat terburuk dalam hidupmu." Sakura maju selangkah dan memeluk Sasori. Meski ia tidak bisa selalu berada di sisi Sasori untuk memberinya semangat, tapi ia ingin Sasori tetap ingat bahwa dia akan selalu menemaninya. Sasori balas memeluk Sakura, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang darinya. Ia pun melepaskan Sakura setelah mereka cukup lama berdiam diri dalam posisi itu.

"Tenanglah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku akan menemuimu lagi secepatnya. Masuklah, cuacanya mulai dingin." Sasori mendorong Sakura masuk ke dalam rumah dan segara masuk ke mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan cepat.

Sasuke menggertakkan giginya dengan erat. Meski ia tidak bisa mendengar percakapan Sakura dan Sasori, tapi dia bisa melihat dengan jelas apa saja yang Sakura dan Sasori lakukan dan itu kembali membuatnya panas, sama seperti ketika dia melihat mereka berdua di cafetaria rumah sakit.

Sasuke duduk di tepi tempat tidur Sakura. Kedua jarinya saling bertautan sementara ia mendaratkan tangannya diatas kakinya dan menundukkan wajahnya. Ia benar-benar kesal. Tidak pernah ia merasa sekesal ini sebelumnya hingga rasanya ia bisa meledak detik itu juga.

Sakura masuk ke dalam kamarnya, terlonjak pelan karena sama sekali tidak menduga Sasuke ada di dalam kamarnya.

"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Tanya Sakura bingung, masih berdiri diambang pintu. Sasuke mendongakkan wajahnya, menatap Sakura dengan sinis yang berhasil membuat Sakura bergidik ngeri.

"Bukankah aku sudah memperingatimu untuk tidak dekat-dekat lagi dengan pemuda itu?" Tanya Sasuke yang masih berusaha menjaga agar nada suaranya tidak meninggi. Kerutan diwajah Sakura berkurang sedikit demi sedikit setelah dia mengerti bahwa yang dimaksud oleh Sasuke adalah Sasori.

Sakura menghela nafas pelan merasa lelah karena harus menjelaskan hal ini berulang kali pada Sasuke, meski ia sendiri masih tidak yakin kenapa dia harus menjelaskannya pada Sasuke.

"Dia itu teman baikku. Dan kami sudah lama tidak bertemu. Jadi jangan halang-halangi aku untuk dekat dengannya." Kata Sakura mencoba untuk tidak berteriak di wajah Sasuke.

"Tapi aku sudah melarangmu untuk tidak memeluknya lagi. Kau melanggar perintahku, Sakura. Dan kau harus dihukum." Ucap Sasuke sengit.

"Tidak! Berhenti mempermainkanku, Uchiha Sasuke. Apa kau tidak cukup bersenang-senang selama ini, huh?" Tanya Sakura tajam yang berhasil membuat Sasuke terhenyak. Tidak pernah Sakura bersikap sekeras ini sebelumnya. Tidak sebelum Sasori muncul kembali.

Sasuke mengatupkan rahangnya dengan erat, menahan keinginan dirinya sendiri untuk menarik Sakura saat ini juga. Sasuke membiarkan kesunyian melanda mereka selama beberapa detik hanya agar dia bisa menenangkan dirinya. Sakura bergeming ditempatnya berdiri, terus memperhatikan Sasuke, menanti apa yang akan dikatakan pemuda itu selanjutnya.

"Fine. Kau bisa lihat namamu terpajang di papan pengumuman besok." Sasuke mengangkat pundaknya dan berjalan melewati Sakura.

'Tunggu!" Teriak Sakura sambil menahan pergelangan tangan Sasuke.

"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan tentang hal itu?" Tanya Sakura tidak percaya. Sasuke melirik Sakura dengan tajam dan tersenyum sinis.

"Kau tidak bersikap manis padaku. Dan kau menolak hukumanmu, jadi jangan salahkan aku kalau aku membatalkan kesepakatan kita." Sakura memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

Beberapa waktu yang lalu Sasuke mengakui bahwa mereka pacaran dan sekarang Sasuke akan mengatakan pada seluruh sekolah bahwa mereka tinggal serumah? Apa yang akan dipikirkan oleh teman-temannya? Sakura tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

"Baiklah, kau menang Uchiha Sasuke. Katakan apa yang kau mau." Ucap Sakura pasrah setelah ia memikirkan dengan baik segala resiko yang akan ia terima.

Sasuke tersenyum tipis, senang karena senjata terakhirnya masih ampuh untuk membuat Sakura menuruti kata-katanya. Ia memutar tubuhnya hingga ia bisa menatap Sakura. Ia pun meletakkan kedua tangannya di pinggang Sakura dengan lembut, agak membuat Sakura terkesiap padahal ini sudah ke-sejuta kalinya Sasuke menyentuh dia seperti itu.

"Kiss me." Bisik Sasuke dengan suara agak serak. Sakura membelalakkan matanya, benarkah Sasuke baru saja menyuruh dia untuk menciumnya? Ia menahan nafasnya selama beberapa detik.

Permintaan Sasuke memang tidak pernah ada yang normal bagi Sakura. Sakura terlihat ragu, apakah dia harus menurutinya? Tapi toh ini bukan kali pertamanya. Meski dengan mengingat kejadian-kejadian itu agak membuat Sakura kesal, tapi kenyataanya mereka memang sudah sering melakukannya. Jadi apa yang membuat hal ini berbeda sekarang? Ia hanya akan menempelkan bibirnya pada Sasuke selama beberapa detik, setelah itu semuanya akan selesai, Sasuke tidak akan lagi mengganggunya.

Sakura berjinjit diujung jari-jari kakinya agar ia bisa menyejajarkan wajahnya dengan Sasuke sementara pemuda itu sendiri ikut menundukkan wajahnya, memudahkan Sakura untuk meraihnya.

Seperti yang telah direncanakan, Sakura menempelkan bibir mereka selama beberapa detik, tapi saat ia ingin melepaskan diri, Sasuke justru menahannya. Ia menarik Sakura semakin mendekat, melumat bibir Sakura dengan ganas. Sakura membuka matanya saat lidah hangat Sasuke menjilati bibirnya. Sasuke menggigiti bibir bawah Sakura dengan pelan, tidak ingin melukai gadis itu, tapi juga ingin agar gadis itu membuka mulutnya.

Sakura kembali memejamkan matanya, terlalu lemas dengan perlakuan Sasuke. Ia membuka mulutnya, memberikan celah kecil bagi Sasuke, tapi dengan lincahnya Sasuke bisa menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Sakura. Ia meremas pakaian Sasuke dengan erat agar ia tidak kehilangan tenaganya untuk berdiri.

Sasuke melangkah maju dengan sangat perlahan, memaksa Sakura untuk melangkah mundur, membuat gadis itu menabrak pinggiran tempat tidur dan terjatuh diatasnya masih bersama dengan Sasuke yang enggan untuk menghentikan ciuman mereka.

Lidahnya menyenggol lidah Sakura sebelum ia menghentikan ciuman mereka. Sakura menatap Sasuke dengan nafasnya yang tersengal-sengal, sama seperti Sasuke. Sasuke menundukkan wajahnya, ia menyibakkan rambut Sakura ke sisi lain sebelum ia membenamkan kepalanya di balik leher Sakura.

Sakura bisa merasakan cairan hangat dari dalam mulut Sasuke menyentuh permukaan lehernya. Meski sekarang ia sudah agak terbiasa dengan kegemaran Sasuke yang senang sekali menciumi lehernya, tetap saja Sakura masih merasa berdebar-debar karenanya.

"Sa-Sasuke, hen.. aahhhh…tikan!" Sakura mendesah tanpa ia sadari saat pemuda itu menggigiti kulit lehernya. Ia pun mencengkram lengan Sasuke dengan keras untuk menghentikan dirinya sendiri mengluarkan suara-suara aneh lainnya saat Sasuke menjilati tempat yang ia gigit tadi. Sasuke mengangkat kepalanya, melihat bekas kemerahan di leher Sakura yang merupakan hasil karyanya dengan seringaian puas.

"Kau adalah milikku, jadi jangan mendekati pria lain dan membuatku cemburu." Ucap Sasuke pelan.

"A-apa?" Tanya Sakura lagi. Kata-kata terakhir Sasuke membuat dia ragu. Sasuke tertawa pelan mengetahui bahwa Sakura sekarang sedang meragukan pendengarannya sendiri.

"Kau tidak salah dengar. Don't make me jealous again, babe.." Sasuke menyapukan ibu jarinya diatas bibir Sakura yang agak bergetar pelan setelah mendapatkan sentuhan jarinya. Ia pun mendekatkan wajahnya ke arah Sakura tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya dari gadis itu. Ia ingin melumat bibir Sakura lagi, menjelajahi setiap ruang dalam mulutnya hingga ia rasa ia tidak akan pernah bosan untuk melakukannya setiap saat. Tapi suara teriakan Tuan dan Nyonya Haruno dari ruang tamu yang memanggil mereka berdua untuk turun membuatnya mengumpat pelan.

Padahal orangtua Sakura biasanya selalu pulang lebih larut. Tapi kenapa mereka justru pulang secepat ini disaat ia baru saja mau memulai kesenangannya?

Sasuke dan Sakura menuruni anak tangga satu per satu hampir berdampingan.

Sasuke melihat sesosok pria yang ia kenal setelah ia berada di anak tangga terbawah.

"Ayah?" Tanya Sasuke lebih kepada dirinya sendiri. Ia melihat ayahnya sedang tertawa bersama Tuan Haruno sementara Nyonya Haruno sendiri tidak kelihatan.

"Oh, Sasuke. Bagaimana kabarmu?" ayahnya berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Sasuke untuk merangkul pundaknya dan menepuk punggungnya dengan pelan.

"Ayah, kau sudah kembali ke Konoha dan sama sekali tidak mengabariku?" Tanya Sasuke yang tidak mempedulikan pertanyaan ayahnya.

"Ayah baru saja pulang hari ini dan langsung ke sini untuk menjemputmu. Meninggalkanmu seorang diri di rumah yang sama sekali asing bagimu selama hampir sebulan pasti benar-benar menyulitkanmu." Ucap ayahnya dengan nada suaranya yang kebapakan.

"Tidak juga, aku cukup senang." Sasuke bergumam sangat pelan agar tidak ada yang mendengarnya. Pandangan Tuan Uchiha teralih pada Sakura yang berdiri hampir di samping anaknya. Ia memperlihatkan senyum lebar dan hangat miliknya yang membuat dia terlihat sangat mirip dengan anaknya.

"Dan kau pasti Haruno Sakura, kan? Terima kasih menjaga anakku dengan baik. Dia pasti selalu menyulitkanmu, kan?"

"Ya." Itulah yang ingin dijawab Sakura. Tapi sebagai seorang gadis yang sopan Sakura hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.

Setelah sedikit berbasa-basi, Tuan Uchiha meminta Sasuke untuk membereskan barang-barangnya. Sakura berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan Sasuke yang berjalan bolak-balik di dalam ruangannya untuk mengemasi barang-barangnya.

Akhirnya ia pun bisa bebas dari kejahilan Sasuke. Ia tidak perlu lagi takut teman sekolahnya akan tau kalau mereka tinggal bersama. Harusnya dia merasa senang. Tapi tidak, karena sesungguhnya ia mulai merasa kehilangan. Sama seperti kamar ini yang akan dikosongkan beberapa menit lagi, rumahnya juga akan terasa kosong hampir setiap malam karena sekarang hanya tinggal ia seorang diri.

Sakura menundukkan wajahnya, tidak ingin membayangkan hal-hal aneh seperti Sasuke akan tinggal di rumahnya selamanya. Ia mendongak dengan cepat saat ia merasakan sebuah tangan yang hangat merengkuh pipinya.

"Kau sedih karena aku tidak lagi tinggal di sini?" Sasuke menyeringai, nada suaranya jelas terdengar sangat menyebalkan, tapi Sakura tidak bisa merasa kesal lagi. Rasa sedih dan kecewa lebih mendominasi dirinya saat ini. Seringaian diwajah Sasuke menghilang begitu ia melihat sorot kesedihan dimata Sakura. Ekspresi Sasuke melembut.

"Kita masih bisa bertemu di sekolah kan? Kita berpacaran, kau ingat?" Tanya Sasuke lembut. Sakura memalingkan wajahnya dengan canggung. Apakah ekspresi wajahnya bisa terbaca dengan sangat jelas?

"Aku tidak sedih karena kau tidak tinggal disini lagi. Aku justru senang karena tidak harus bertemu denganmu" Ucap Sakura tanpa ia pikirkan lebih dulu. Kata-kata itu keluar begitu saja dan dia agak menyesalinya. Bagaimana kalau Sasuke marah dan benar-benar tidak mau bertemu dengannya lagi?

Sasuke tertawa pelan, mengacak rambut Sakura dan mengambil barang-barangnya keluar.

"Sampai jumpa besok." Bisiknya pelan. Sakura tidak menoleh untuk menatap Sasuke ataupun membalas kata-kata Sasuke karena sekarang dia sedang sibuk untuk menenangkan detak jantungnya sendiri.

Ia menempelkan telapak tangannya yang kecil ke pipi meronanya yang terasa memanas. Ia terus tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum ia turun untuk mengantar Sasuke dan Tuan Uchiha bersama orangtuanya.

.

.

.

Sakura menggerutu sepanjang langkahnya. Bukankah Sasuke mengatakan 'sampai jumpa besok' sebelum dia pulang? Tapi kenyataannya Sakura belum melihat Sasuke sama sekali hari ini bahkan sampai jam pulang sekolah.

Entah sudah berapa kali dia ke toilet dalam satu hari ini hanya karena ingin melewati ruangan OSIS dan melihat Sasuke. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa melihat Sasuke karena Sasuke sama sekali tidak ada di ruang OSIS. Saat jam makan siang pun, Sasuke tidak ada di kantin, tidak juga di atap gedung di mana biasanya dia sering menghabiskan jam makan siangnya.

Ada di mana pemuda satu itu?

Sakura menunduk, memandang kerikil yang ada di depannya dan menendangnya dengan geram.

"Dasar pembohong. Aku bahkan tidak mendengar suaranya yang menyebalkan itu." Omel Sakura tidak ada henti-hentinya.

"Suara siapa yang menyebalkan?" Sebuah suara berbisik ditelinga Sakura sambil menghembuskan nafas hangat ke leher Sakura dengan tiba-tiba yang mau tidak mau membuat Sakura melompat kaget. Orang itu terkekeh, berjalan memutar ke depan Sakura yang sekarang tengah mengelus dadanya karena terkejut.

"Kau seperti hantu." Omel Sakura yang masih merasa kesal dengan pemuda yang ada dihadapannya. Kening Sasuke berkerut samar-samar sebelum kerutan itu menghilangan saat digantikan senyuman.

"Gomen, tadi siang aku terjebak di ruang guru bersama Kurenai-sensei karena dia memintaku untuk membantu mengoreksi hasil ulangan." Jelas Sasuke setelah ia sadar apa yang menyebabkan Sakura jadi sewot-sewotan seperti ini. Sakura memberengutkan wajahnya, berpura-pura kalau bukan itu yang membuat dia kesal setengah mati.

"Jadi, mau kuantar kau pulang?" Tanya Sasuke datar. Sakura melirik ke sana kemari untuk melihat kendaraan Sasuke, tapi dia tidak melihat ada kendaraan apapun yang ada di dekat Sasuke.

"Aku tidak bawa kendaraan, tapi aku bisa menemanimu jalan kaki. Kau keberatan?" Tanya Sasuke lagi.

"Oh, tidak. Kupikir kau bawa kendaraan." Sakura menggelengkan kepalanya.

"Apa orangtuamu keluar lagi malam ini? Boleh aku datang dan makan malam di rumahmu?" Tanya Sasuke setelah Sakura mengangguk sebagai jawaban.

"Kau mau makan ramen?"

"Tidak, aku yang akan masak makan malam dan kita bisa belanja bahan-bahannya sekarang. Bagaimana?" Tawar Sasuke. Sakura menatap Sasuke dengan curiga. Bagaimana bisa pemuda yang selalu bertindak seenaknya ini memasak? Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?

Sasuke dan Sakura berjalan berdampingan hingga ke halte bus disaat yang bersamaan saat bus tiba. Untungnya bus tidak begitu ramai hingga Sakura dan Sasuke bisa dapat tempat duduk dua dari belakang.

"Kau kecewa karena aku tidak bawa kendaraan?" Tanya Sasuke tiba-tiba, kalau saja Sakura tidak nyaman naik bus.

"Kenapa aku harus kecewa? Aku sudah sering naik bus kok." Jawab Sakura cuek. Sakura memutar posisi duduknya dan agak menghadap ke arah Sasuke. Sakura menatap Sasuke selama beberapa detik, ada yang ingin ia tanyakan tapi ia tampak agak ragu. Pantaskah jika ia bertanya? Maukah Sasuke menjawab pertanyaannya?

"Apa yang ingin kau tanyakan?" Sasuke ikut memutar posisi duduknya.

"Hmm, bukankah orang-orang seperti kalian biasanya lebih suka naik kendaraan kalian yang mewah?" Tanya Sakura akhirnya.

"Kalau aku bawa kendaraan, aku tidak akan bisa menghentikan diriku untuk tidak ngebut-ngebutan. Jadi, lebih aman jalan kaki atau naik bus. Aku kan tidak bisa memaksa supirnya untuk ngebut." Sasuke terkekeh pelan diikuti Sakura.

.

.

.

"Sayuran yang ini?" Sakura mengangkat seikat sayur ditangannya dan menunjukkannya pada Sasuke yang mendorong troli disampingnya. Sasuke mengernyit dan mengambil sayuran itu dari tangan Sakura lalu meletakkannya kembali.

"Sayuran itu tidak segar." Ucap Sasuke singkat. Sakura kembali mengangkat seikat sayuran lainnya dan menunjukkannya pada Sasuke, tapi lagi-lagi Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Pfftt, bagaimana kau bisa jadi istri yang baik kalau kau bahkan tidak bisa membedakan antara sayur yang segar dan tidak." Ejek Sasuke. Sakura memberengut setelah mendengar kata-kata Sasuke.

Sakura berjalan dengan cepat, tidak mempedulikan Sasuke yang memanggil namanya dan berlari agak kesusahan karena masih harus terus mendorong troli.

"Hei, jangan ngambek. Aku tidak keberatan walau kau tidak bisa membedakan antara sayur yang segar dengan yang tidak asalkan kau bisa memuaskanku." Ucap Sasuke dengan seringai nakalnya setelah ia berhasil mengejar Sakura. Sakura memberikan tatapan mautnya yang sama sekali tidak memberikan efek apapun pada Sasuke.

"Mesum" Gumam Sakura sambil melipat kedua tangannya. Ia berbelok di bagian rak daging untuk membeli ayam karena Sasuke bilang dia akan memasak Chicken Katsu sebagai makan malam mereka.

"Sakura? Astaga! Benarkah itu kau!?" Tanya sebuah suara yang terdengar sangat antusias. Sakura dan Sasuke mendongak untuk melihat pemilik suara yang heboh itu. Alis Sasuke saling bertautan melihat seorang pemuda yang tidak ia kenal menyapa Sakura.

"Izumo-nii!" Panggil Sakura setelah ia mengenali pemuda itu. Sasuke melirik ke arah Sakura, mengamati gadis itu kalau saja dia berlari ke sana dan memeluk pemuda itu seperti yang dia lakukan pada Sasori. Tapi Sakura tidak melakukannya karena Sakura masih terus berdiri di samping Sasuke.

Izumo berjalan mendekati Sakura, sama sekali tidak menyadari kehadiran Sasuke disamping Sakura.

"Kau tidak mau memberikan pelukan untuk nii-san mu yang tampan ini?" Izumo merentangkan kedua tangannya, tersenyum lebar pada Sakura. Sakura bergerak-gerak tidak tenang di tempatnya berdiri. ia melirik ke arah Sasuke yang masih menatap Izumo dengan tajam.

Izumo mengernyit, menanti kenapa Sakura tak juga memeluknya padahal mereka tidak pernah lagi bertemu sejak kepindahan Sasori ke Suna.

Mengambil inisiatif terlebih dahulu, Izumo melangkah maju, bersiap untuk membenamkan tubuh mungil Sakura ke dalam dekapannya.

Sasuke melepaskan troli yang ia pegang dan berdiri di depan Sakura, menghalangi Izumo untuk menyentuh Sakura. Belum sempat Izumo mendekap Sakura, seseorang menarik kemejanya dari belakang dan membuat ia melangkah mundur.

"Hey!" Bentak Izumo pada orang yang menariknya. Sasori muncul dari balik punggung Izumo dan tertawa kecil melihat pemuda yang sekarang sedang merapikan kemejanya.

"Jangan ganggu dia, nanti pacarnya marah." Ucap Sasori dengan nada setengah mengejek yang membuat wajah Sakura memanas.

"Huh?" Tanya Izumo bingung. Izumo menatap Sasuke dan Sakura bergantian selama beberapa waktu sebelum akhirnya sebuah pemikiran masuk ke dalam benaknya.

"Oh, jadi pria ini pacarnya? Kupikir hanya orang lewat saja tadi." Sahut Izumo cuek. Sasuke hanya bisa memutar bola matanya mendengar kata-kata Izumo. Orang lewat macam apa yang terus berdiri di sana dan tidak bergerak?

"Maaf mengganggu waktu berdua kalian. Akan kubawa satu ini ke tempat yang aman sebelum dia mengganggu kalian." Sasori menarik tangan Izumo yang masih mengomelinya. Sasori menghentikan langkahnya sebelum dia melewati Sakura.

Ia menatap Sasuke dari balik pundak Sakura selama sesaat yang dibalas oleh Sasuke. Ia pun kembali menatap Sakura dan tersenyum kecil.

"Aku akan menghubungimu lagi nanti. Dan jangan khawatir, nii-chan akan baik-baik saja." Sasori meyakinkan Sakura karena ia masih bisa melihat sorot kekhawatiran dari wajah Sakura. Sakura mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya setelah ia tak lagi bisa melihat sosok kedua pemuda itu.

"Sakura." Panggil Sasuke sambil menyenggol pelan lengan Sakura. Sakura bergumam pelan dan mendongak untuk menatap Sasuke.

"Mau cemilan?" Sasuke mengangkat sekotak biskuit entah dari mana yang tidak diketahui Sakura dan menyodorkannya ke hadapan Sakura. Sakura mengerjap beberapa detik sebelum mengangguk.

Sasuke meletakkan biskuit tersebut di dalam troli dan tidak berhenti sampai di situ saja. Sasuke memasukkan beberapa kotak biskuit serupa ke dalam troli dan cemilan-cemilan lainnya. Sakura membulatkan matanya. Troli mereka yang tadinya kosong sekarang hampir penuh dengan semua cemilan yang diambil oleh Sasuke.

"Astaga! Kenapa kau ambil banyak sekali? Kita tidak akan bisa memakan semuanya." Omel Sakura geram. Ia mengeluarkan beberapa cemilan dari dalam troli, meletakkannya kembali ke rak sementara Sasuke terus berjalan dan meraih cemilan lainnya lalu memasukkannya ke troli.

Gadis itupun menggerutu keras pada Sasuke yang masih tidak peduli. Seberapa banyak pun Sakura mengeluarkan cemilannya, Sasuke akan memasukkan cemilan lainnya, membuat Sakura sibuk setengah mati.

Sasuke tersenyum puas. Dia lebih suka melihat Sakura mengomel seperti ini daripada memikirkan pemuda lain tepat di depan wajahnya.

"Uchiha Sasuke, berhenti mengambil cemilan-cemilan itu terus dan bantu aku untuk mengembalikannya!" Teriak Sakura akhirnya setelah ia tidak tahan melihat tingkah Sasuke. Sasuke mengangguk setelah merasa puas dan yakin Sakura memang tak lagi memikirkan Sasori.

"Baiklah, aku akan membantumu." Sahut Sasuke dingin. Pemuda itu berdiri di belakang Sakura, meletakkan cemilan yang sengaja ia ambil di rak teratas agar Sakura tidak bisa meraihnya.

"Selesai!" Ucap Sakura senang. Sakura memutar tubuhnya tapi langsung membeku ditempatnya berdiri saat ia melihat wajah Sasuke tepat diatasnya. Sasuke menatap Sakura dengan lembut, berbeda dengan tatapan jahilnya selama ini dan hal itu agak membuat Sakura gugup.

Sasuke mendekatkan wajahnya ke Sakura, merengkuhnya dalam hitungan detik dan melumat bibir Sakura dengan pelan. Sakura memejamkan matanya dengan cepat, merasakan bibir Sasuke menyapu bibirnya. Gadis itu tidak meronta sama sekali meski ia tau ia bisa saja melepaskan diri dari Sasuke saat ini karena Sasuke sama sekali tidak mendekapnya. Tapi ke mana perginya akal sehat miliknya saat ini?

Sasuke baru saja akan memperdalam ciumannya saat mereka mendengar suara roda troli yang berderu semakin kencang, menandakan sang pemilik troli sedang berada di dekat mereka. Sontak Sakura mendorong tubuh Sasuke dan langsung berbalik, berpura-pura melihat cemilan yang ada di rak untuk menghilangkan kegugupannya. Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memperhatikan kegugupan gadisnya sambil terkekeh pelan.

"Yang benar saja! Kenapa akhir pekan seperti ini aku harus bersama denganmu juga?" Omel sebuah suara diikuti deru troli yang tadi didengar oleh Sakura.

"Kau pikir aku juga senang? Asal kau tau saja, aku punya kencan penting malam ini. Tapi karena orangtuamu mengusulkan makan malam ini, aku terpaksa harus membatalkannya." Gerutu suara lainnya, seorang pria.

"Ini salahmu. Kenapa kau tidak membatalkan pertunangan konyol ini?"

"Kalau aku bisa melakukannya, pasti kulakukan. Tapi aku tau dengan pasti, pertunangan ini tidak akan bisa diganggu gugat. Jadi, Hyuuga Hinata, suka atau tidak suka aku akan terus menempel padamu." Naruto menyeringai senang melihat wajah Hinata yang memberengut.

"Hinata?" Panggil Sakura agak keras saat ia mendengar nama sahabatnya. Sedetik kemudian, dua sosok orang yang tadi suaranya di dengar oleh Sakura berbelok ke tempat Sakura berdiri.

Sasuke mengangkat kedua alisnya saat melihat Naruto dan Hinata jalan bersama meskipun seperti yang didengar dari ucapan-ucapan mereka sebelumnya, mereka sedang ribut.

"Ya Tuhan!" Hinata melompat pelan saat melihat Sakura memicingkan matanya dan mendekati dirinya. Naruto memukul keningnya sendiri lalu menundukkan wajahnya dan membenamkannya diatas pegangan troli.

"Bersedia memberitahukanku apa maksud dari pembicaraan kalian tadi?" Tanya Sakura sengit.

Naruto bersiul pelan, melihat ke sisi lain dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Sakura. Naruto menarik mundur trolinya, bermaksud melarikan diri. Tapi entah sejak kapan Sasuke sudah berdiri di belakang Naruto, membuat pemuda itu tak sengaja menabrak tubuh atletis Sasuke.

"Aku juga ingin tau." Sasuke tersenyum penuh arti pada Naruto. Naruto dan Hinata saling bertukar pandang dan mengerang bersamaan.

To Be Continue …

A/N: Gomen kalo author telat update nya, dikarenakan jaringan internet ngadat 3 hari berturut2 Hinggg T.T. Thank's juga yg sudah mendukung fanfict ini, yg sudah mereview dll. Silahkan tinggalkan jejak dan tanyakan apa saja di kolom review ^.~

Tambahan: "KALAU KALIAN MEMANG TIDAK SUKA DENGAN FF SAYA MENDING GAK USAH DIBACA, THANKS."

Thanks to:

Guest, nkaalya, achi, echaNM, mantika mochi, elzakiyyah, luxianapmega, Kirara967, UzumakiIsana, Ciisiichuabbykireiina454, t-chan, Rastafaras uchiha, Annis874, UchiHaruno Sya-Chan, nurvi-chan, AkagamiShimura27, hanazono yuri, Jamurlumutan462, zarachan, ongkitang, Uchiha Pioo , Sipembaca, , frensi, Moe-chan, , otaku

Salam kecup buat reviewer

Miko Yuuki